Hai^^/. Ai kembali lagi lho~. Nah sebelumnya, Ai mau mengucapkan terimakasih dulu, untuk para reviewer baru, atau reviewer yang sudah lama mengikuti ff ini. Ai senang uwaa. Ada beberapa hal yang ingin Ai sampaikan, di bawah saja ya/?. Happy Reading minna^^

LONG KISS GOODBYE

CHAPTER 8

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

WARNING : ALUR YELLOW FLASH/?

Story begin…

Kushina dan Minato duduk bersama Hinata didepan ruang UGD. Kushina tak henti hentinya menangis. Begitu juga Hinata. Gadis itu merinding menatap darah yang membanjiri bajunya.

Darah kekasihnya.

Pintu ruang UGD terbuka. Kabuto keluar dengan keringat membanjiri pelipisnya. Kabuto terlihat begitu lelah.

"Apa lagi sekarang, Kabuto?" Minato berdiri menghadap dokter tersebut. Kabuto mengisyaratkan Minato untuk ikut dengannya. Minato mengikuti Kabuto, diikuti Kushina dan Hinata.

-Kabuto's Room-

"Naruto telah banyak berusaha," ujar Kabuto pada Minato dan Kushina yang duduk di hadapannya. Hinata berdiri.

"Akhirnya terjadi. Paru parunya sudah tertutup sepenuhnya. Sakit yang dirasakan Naruto tadi, bisa dikatakan setara dengan dilindas truk. Udara tak dapat lagi masuk dalam paru-parunya. Ia bertahan. Namun, selanjutnya, ia harus terus memakai selang oksigen di hidungnya," jelas Kabuto.

"Maafkan aku, jika ini lancang. Namun, ia sudah tak lama lagi, Minato-san, Kushina-san. Sebaiknya kita semua bersiap," lanjut Kabuto. Hinata menutup mulutnya. Menahan tangisan pedihnya.

"TIDAK!" Kushina menjerit. Pipinya kembali dibanjiri airmata. Sungguh, wanita ini lelah. Ia rela menukarkan apapun, untuk menyelamatkan anaknya. Minato merengkuh istrinya.

Hinata keluar dari ruangan Kabuto. Ia menutup wajahnya, dan menangis tertahan.

'Kami-sama, jangan ambil Naruto-kun,' Hinata terus menangis. Tangisnya makin pilu, mendengar jeritan Kushina dari dalam ruangan Kabuto.

-Ruang UGD, 14.30-

Naruto membuka matanya perlahan.

Putih.

Aroma obat.

Naruto berusaha membuka matanya lebih lebar lagi. Ia mendapati Hinata yang ada disebelah kirinya, dan ibu juga ayahnya yang berada di sebelah kanannya.

Ia merasakan hidungnya dihembus. Oh, selang oksigen. Ia teringat, saat menelfon Hinata tadi, ia mengomel karena gadis itu terlambat. Namun, tiba tiba, ia tak dapat menarik nafas. Seperti ada yang menekan kuat hidungnya, dan menyumpal mulutnya. Ia tak bisa bernafas sama sekali. Lalu ia ingat, mulutnya memuntahkan darah, dan setiap kali ia memuntahkannya, sakit yang luar biasa mendera dadanya.

"Kaa- san-," panggil Naruto pelan. Serentak, tiga orang itu langusng menoleh pada Naruto.

Kushina tersenyum bahagia, wanita itu menangis lagi. Ia membingkai wajah Naruto dengan tangannya.

"Sayangku- ukh-" Kushina memeluk anaknya. Tak terkatakan betapa bahagianya ia sekarang. Minato tersenyum.

Naruto tak sanggup menggerakkan tangan kanannya yang dipenuhi infus. Entahlah infus apa saja itu. Ia memeluk kepala ibunya dengan tangan kiri.

"Aku baik-baik saja," Naruto tersenyum. Ia melemparkan senyum pada gadisnya dan ayahnya. Hinata menangis lagi. Namun, gadis itu dapat menahan sesenggukannya.

Kushina melepas pelukannya.

"Hinata-chan, bajumu kotor," Naruto meraih tangan Hinata, dan menariknya mendekat. Pemuda itu memeluk Hinata dengan tangan kiri.

"Tolong, jangan menangis. Aku sedang tidak bisa menghiburmu," Naruto berkata pelan dengan segenap tenaganya.

Hinata mengangguk. "A-aku menangis ba-bahagia ka-karena Naruto-kun b-bangun," jawab Hinata sesenggukan. Naruto tersenyum. Ia tahu gadisnya bohong.

Naruto melepaskan pelukannya.

Ia melihat Kushina menangis. Ia melihat ayahnya menahan tangis. Sungguh, lebih baik ia tak bangun tadi daripada melihat hal ini.

"Sudah tak lama lagi, ya?" tanya Naruto entah pada siapa. Kushina menoleh.

"Apa ma-maksudmu?" tanya Kushina balik.

"Hidupku," Naruto tersenyum pahit. Kushina menggeleng pelan sambil terus menangis.

"Jangan- jangan berkata begitu. Kaasan mohon. Kaasan tidak akan mengikhlaskanmu pergi," Kushina menggenggam tangan Naruto. Naruto terkekeh.

"Ayolah, aku saja ikhlas, kok" ujar Naruto mantap.

Hinata menangis. Ia tahu, Naruto sudah terlalu banyak berjuang.

-Kamar Rawat Naruto, 18.00-

"Kau tahu tidak, kenapa aku tidak suka di UGD? Bau obatnya menyebalkan," ujar Naruto panjang lebar pada Hinata. Naruto sudah dipindahkan kembali ke kamar rawatnya, lengkap dengan tabung oksigen yang dapat dibawa bawa, beserta selang dihidungnya. Minato mencari makan malam untuk mereka, dan Kushina mengambil baju Naruto dari laundry.

Hinata tersenyum menanggapi Naruto. Walau hanya di rumah sakit, Naruto tetap punya banyak hal untuk dibagi dengan gadis ini.

"Sepertinya dirumah sakit memang bau obat, Naruto-kun. Dan semua baunya menyebalkan," Hinata terkekeh. Naruto cemberut.

"Huh. Hidungku sensitif tahu. Dan sekarang suka gatal, karena selang jelek ini meniup terus terusan. Haah sebal," Naruto kembali bawel.

"Naruto-kun.." Hinata mengelus pipi Naruto. "Itu kan untuk kebaikan Naruto-kun,"

Naruto makin cemberut.

"Tadi siang kau terlambat karena tambahan pelajaran apa?" tanya Naruto mengalihkan pembicaraan.

"Bahasa Inggris," jawab Hinata

"Hah? Ibiki sensei?" Naruto tercengang. Hinata mengangguk. Naruto menyipitkan matanya.

"Dia kan malas mengajar. Kenapa tiba-tiba memberi tambahan? Hm, aku curiga.." Naruto menoel pipi Hinata.

"Kau bukan jalan bersama laki-laki lain kan?" introgasi Naruto. Hinata terkejut.

"Te-tentu saja tidak! Naruto-kun ini," ganti Hinata yang memajukan bibirnya. Naruto terkekeh.

"Bercanda kok," Naruto mancubit pipi Hinata gemas. "Uh, tembam sekali. Kyaa lucu," Naruto mencubit makin bringas. Hinata mengaduh.

"Engg- sakitttt-" Hinata memegang tangan Naruto, berusaha melepaskannya. Namun, Naruto malah mencubit pipi Hinata yang sebelahnya lagi.

"Melar. Melar. Melar. Melar," Naruto mengunyel-unyel pipi kekasihnya. Naruto tertawa.

"Lucu sekali. Kau seperti adonan kue," Naruto masih tertawa. Hinata cemberut, dan membiarkan Naruto mencubit pipinya. Hatinya begitu senang dan tenang, melihat tawa Naruto.

Kami-sama, tegakah kau pisahkan mereka?

-0000-

"Hinataaa~ aku sudah habiskan makan malamku nih. Beri aku hadiah~" Naruto merengek manja pada gadisnya yang tengah membereskan bekas makan Naruto.

"Naruto-kun ingin apa?" tanya Hinata.

"Ke taman. Bosan disini," jawab Naruto. Hinata ingin menolak, ia takut, terjadi sesuatu pada Naruto saat diluar ruangan.

"Kabulkan. Atau aku tak mau makan lagi besok," tegas Naruto melihat gelagat Hinata yang sedang mencari alasan untuk menolak.

"Ba-baik baik," Hinata mengalah. Gadis itu mengambil kursi roda Naruto, membantu Naruto naik ke kursi roda, dan menggantungkan tabung oksigen di belakang kursi roda itu. Gadis itu mendorong Naruto ke taman rumah sakit. Tempat dimana ia ditolak waktu itu.

"Aku rindu dunia luar," ujar Naruto miris saat sampai di taman. Hinata tersenyum. Gadis itu mengelus bahu Naruto.

"Dunia luar juga merindukan Naruto-kun," Hinata tersenyum. Naruto melihat sebuah pohon yang berbunga. Entah bunga apa itu. Namun, bunga itu indah dimata Naruto.

"Hinata, tolong dekatkan aku ke pohon itu," tunjuk Naruto pada pohon tersebut. Hinata mendorong Naruto mendekati pohon itu.

Naruto memetik salah satu bunga yang ada di tempat rendah. Naruto menoleh pada Hinata.

"Menunduk," perintah Naruto.

Hinata menunduk. Ia tak mengerti maksud Naruto. Kemudian, Naruto memasangkan bunga itu pada telinga Hinata.

"Cantik," Naruto mengelus pipi Hinata lembut, dan menatap Hinata penuh kasih sayang. Hinata tak memerah seperti biasanya. Kali ini, gadis itu menahan tangis.

Haruskah ia kehilangan pemuda ini?

Haruskah ia melepas pemuda yang sangat dicintainya ini?

Naruto heran melihat Hinata yang diam.

"Hinata-chan tidak suka bunga ya?" tanya Naruto. Hinata menggeleng kuat.

"Aku suka. Suka sekali. Terimakasih, Naruto-kun," Hinata tersenyum. Tanpa dapat ia kendalikan, airmata jatuh dari pipinya.

Naruto tersenyum. Ia tahu, bukan hanya ia yang menderita. Namun gadis ini juga. Naruto menyeka airmata Hinata.

"Hinata-chan.." panggil Naruto lembut. Hinata menatap Naruto.

"Waktu kita sebentar lagi.. Hinata-chan, aku sudah tak dapat merasakan tangan kananku," ujar Naruto. Hinata makin menangis.

"Sebentar lagi aku akan pergi. Jauuuuhh sekali. Tapi aku yakin, disana aku akan bahagia. Tak merasakan sakit lagi. Tapi, aku tak mau bahagia sendiri. Aku mau, Hinata-chan juga bahagia. Kaasan tousan juga bahagia. Kalian semua bahagia, walau aku tak bersama kalian lagi," Naruto mengelus rambut gadisnya. Hinata terus menangis deras.

"A-aku mau ikut Na-naruto-kun," ujar Hinata. Naruto menangguk.

"Iya, kita akan bertemu disana. Tapi, aku izin pergi kesana duluan ya," Naruto tersenyum lagi. Ia ikhlas, jika Kami-sama memanggilnya. Namun, ia takkan tenang jika gadis ini belum ikhlas sepertinya.

Hinata memeluk leher Naruto erat. Seakan takkan melepaskannya. Ia tak rela, cinta pertamanya pergi, meninggalkannya selamanya. Naruto memeluk gadis itu dengan tangan kirinya.

"Maafkan aku. Aku kekasihmu, namun tak bisa memeperlakukanmu seperti sepasang kekasih pada umumnya. Kita tak pernah kencan, tak pernah nonton bioskop bersama. Aku hanya merepotkanmu. Aku egois, memintamu terus disampingku, padahal aku akan segera pergi meninggalkanmu," ujar Naruto lagi. Ia takut, sangat takut tak sempat berkata perpisahan pada gadis ini. Ia takut, sebentar lagi, mulutnya pun tak mampu berujar.

"Tapi jujur, aku betul-betul menyayangi Hinata-chan. Aku bahagia. Sangat bahagia Hinata-chan selalu ada disini," lanjut Naruto.

Hinata sudah tak sanggup berkata kata. Tangisnya makin deras.

"Kami-sama mempertemukan aku dan Hinata-chan, untuk suatu alasan. Jadi kalau kita dipisahkan, pasti juga untuk suatu alasan. Hinata-chan percaya kan?" tanya Naruto. Padahal ia yakin, gadis itu sudah sesak airmata. Dan tak sanggup menjawabnya lagi.

"Hinata-chan, waktu pertama kali tahu tentang penyakitku, aku sedih. Aku berpikir, takdir begitu jahat padaku. Namun setelah aku berpikir lagi, jika tak seperti ini, aku takkan dekat dengan Hinata-chan, dan tidak akan memiliki Hinata-chan seperti ini,"

"Aku juga takkan melihat sebetapa pedulinya Teme dan Sakura padaku. Aku juga takkan melihat jelas kasih sayang orangtuaku padaku. Aku juga takkan menghargai setiap tarikan nafas di hidupku,"

"Hinata-chan, aku bersyukur atas hidupku yang singkat dan aku ikhlas jika aku harus pergi. Kapanpun itu. Jadi tolong, kau juga ikhlas, ya? bantu juga orangtuaku, terutama Kaasan. Jangan buat aku tidak tenang, meninggalkan badan yang sangat menyakitkan ini," Naruto mengeratkan pelukannya. Ia dapat merasakan anggukan kepala Hinata di pundaknya. Naruto tersenyum.

"Aku bersyukur, kita bertemu," tambah Naruto.

Hinata melepaskan pelukannya. Gadis itu menatap Naruto.

"Aku lebih bersyukur, Naruto-kun-" Hinata tak dapat menghentikan airmatanya.

"Terimakasih telah membalas perasaaanku. Terimakasih," Hinata menggenggam tangan Naruto erat, sambil menangis deras.

Gadis itu tahu, dari awal ia jatuh cinta pada pemuda ini, ia akan segera berpisah juga dengan pemuda ini.

Dari awal bertemu pun, ia tau suatu saat harus mengatakan selamat tinggal pada Naruto. Namun, tak pernah ada waktu yang tepat untuk mengucapkan selamat tinggal, kan?

Ia tak menyangka, cintanya begitu singkat. Namun, ia dapat tersenyum, karena cintanya ini, sarat akan perjuangan bersama, penderitaan bersama, tangis, tawa, dan tentu saja..

Kebahagiaan yang sederhana.

"Aku mencintaimu, Hinata-chan,"

Hinata mengangguk, namun tetap menunduk.

"Aku juga, Na-naruto-kun,"

Cinta mereka, indah kan?

Kami-sama, lihat mereka. Apakah tak ada kesempatan, untuk membuat mereka tetap bersatu? Apa tak engkau berikan jalan, agar mereka tak saling mengucapkan perpisahan yang menyayat hati masing masing?

Naruto tersenyum. Pemuda itu memejamkan matanya, kemudian menunduk. Tangan besar pemuda itu mendadak melemah. Membuat si gadis mengangkat wajahnya.

"NARUTO-KUN?! NARUTO-KUN!" jerit Hinata

Oh, apa lagi ini, Kami-sama?

TBC

Haihaiii. Syukurlah, ternyata memang tidak lebih dari 10 chapter. Chapter 9, akan jadi chapter terakhir dari fict ini. Terimakasih banyak untuk kalian semua yaa. Ai tak mampu membalas kebaikan kalian/? Dan aku akan update cepat, karena Ai pengen cepet cepet lunasin fic ini sebelum sekolah. Hehe. Untuk review, semuanya Ai balas di chapter akhir saja ya. semoga kalian tetap sabar menunggu chapter selanjutnya. Terimakasih banyak *bow* Ai pamit. See u^^