LONG KISS GOODBYE
CHAPTER 9
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
WARNING : acak acakan, gaje/?
Story begin..
-Naruto's POV-
Aku membuka mataku perlahan. Ini bukan dirumah sakit.
Dan hey, aku bisa merasakan kaki ku. Aku menggerakkan kaki ku perlahan.
Hell- bergerak!
Aku mencoba juga menggerakkan tangan kananku. Dan dapat bergerak! Apa ini? Aku dimana?
Aku menatap tangan kananku, yang dulu sering menjadi pencetak skor terbesar selama pertandingan. Indahnya dulu. Betapa aku tidak mensyukurinya. Aku tersenyum miris.
Aku mendudukkan badanku. Melihat sekeliling.. dan. Astaga, aku tau ini dimana.
Ini halaman rumahku. Apa-apaan ini. Apa ini mimpi? Aku berdiri dan menepuk nepuk pantatku yang kotor. Apa ini sebenarnya? Aku tidak mengerti. Kenapa aku tiba-tiba ada disini?
"NARUTO! Habiskan dulu makananmu! Jangan berlarian, nanti muntah!" suara yang aku kenal. Suara ibuku! Aku menoleh, dan mendapati ibuku sedang mengejar bocah kecil berumur sekitar 4 tahun. Dan bocah itu adalah..
Aku?
"Nalu tidak mau mam-" aku yang berumur 4 tahun itu terus berlarian di halaman. Dan ibuku tetap mengejarku sambil membawa mangkuk makanan.
Ayah duduk di depan pintu sembari tertawa melihatku dan ibuku.
Aku tersenyum. Aku teringat masa lalu. Dulu aku bukan bocah yang sulit makan. Namun, aku ingat. Setiap hari minggu, saat kaasan dan tousanku libur, kaasanku pasti akan full mengasuhku seharian. Termasuk menyuapiku makan. Jadi, yaah- aku sedikit nakal, agar kaasanku makin lama bersamaku. Indahnya, berlarian dan melihat tawa tousan dan kaasanku. Setahun terakhir ini, hanya kesedihanlah yang aku lihat.
Sepertinya, ini adalah perjalanan flashback yang Kami-sama berikan padaku.
Aku berjalan keluar halaman. Sepi. Tak ada orang lalu lalang. Langkahku begitu ringan. Dan aku tak merasa lelah. Aku sampai di gerbang sekolah SMP-ku.
Aku masuk kedalam gedung besar itu. Langkahku langsung menuntunku ke kelasku dulu. aku membuka pintu kelas. Dan..
"BAKA NARUTO! Aku lelah mengajarimu. Sasuke, bantuuu~" terdengar teriakan Sakura. Aku melihat Sakura, Sasuke dan diriku yang saat itu masih duduk di bangku SMP.
"Hn, kau saja. Aku takut membunuhnya kalau mengajarinya yang terlalu bodoh itu," jawab Sasuke. Aku kembali tersenyum. Betapa bersyukurnya aku, memiliki sahabat yang menerimaku walau aku kelewat bodoh.
Aku menutup pintu kelasku. Tempat dimana aku bertemu dengan sahabatku.
Aku keluar dari sekolah itu. Aku benar benar merasa senang, merasakan kakiku yang nyatanya sudah tidak dapat bergerak, dapat bergerak dengan ringan disini. Aku tak sadar, aku telah sampai di samping minimarket, tempat aku pertama kali bertemu dengan kekasihku, Hinata.
"Beraninya kau!" dan- buggh! Satu hantaman telak mendarat di dadaku yang sedang berusaha menyelamatkan Hinata. Dan aku memuntahkan darah. Lalu aku dan Hinata sampai di suatu lapangan, dan Hinata menidurkanku di pahanya.
Aku hampir pingsan saat itu, aku tak ingat sempat tidur di paha gadisku. Aku tersenyum senang.
Sudah kuduga, gadis itu memang berhati mulia.
Aku kembali berjalan. Hal ini, seperti rekaman masa laluku dengan orang orang penting di hidupku. Aku menyadari, dulu, aku betul betul sempurna. Dapat berjalan, berlari, bermain basket, hidup normal. Namun, aku sering sekali tak menghargainya. Menganggap hal itu biasa saja. Bahkan sering mengeluh.
Namun sekarang, aku menyadarinya. Dan jika waktu dapat diulang, aku akan menghargainya sebaik-baiknya.
Aku sampai di rumah sakit tempat aku dirawat. Ini- bukan bagian dari masa lalu, kan?
Aku termenung. Ah-iya! Jika sekarang aku disini, artinya tubuh asliku sedang tidak bangun kan?
Aku ingat, saat di taman bersama Hinata, mendadak tubuhku lemas. Sangat lemas. Sampai aku tak sanggup mengangkat kepalaku lagi. Aku mendengar samar-samar Hinata meneriakkan namaku. Ah- begitu rupanya.
Aku naik sampai ke tempatku dirawat. Orang lalu lalang di rumah sakit, namun tak menyadari keberadaanku. Aku melihat ibuku ada di sebelah kanan ranjangku, dan Hinata di sebelah kiri. Mereka berdua tertidur. Sasuke dan Sakura ada disofa. Sakura tertidur di pundak Sasuke. Sasuke bersandar pada tembok. Ayahku, menggelar tikar dan tertidur disana. Nah, ini bukan flashback. Itu tubuhku, sedang terbaring.
Dulu aku tak percaya jika roh dan badan jasmani bisa terpisah. Namun sekarang aku percaya.
Aku menarik nafas dalam dalam. Sepertinya, ini memang akan menjadi akhir dari hidupku. Aku telah melihat kembali semua kejadian-kejadian penting dalam hidupku. Dan akhirnya aku dapat berkata..
Aku bersyukur hidup di dunia ini. Sungguh bersyukur.
Mungkin jika aku mati nanti, aku akan ada di dunia ini. Dunia yang terpisah dari orang orang yang aku cintai. Dimana aku tak dapat berbicara pada mereka, menyentuh mereka. Namun aku tak akan merasakan lagi sakit yang sungguh menyiksaku. Jika sakit itu datang, aku benar benar memilih bunuh diri. Sakit- sangat sakit.
Namun, aku merasa ada yang mengganjal. Aku sudah berpamitan pada Hinata, tapi tidak dengan orangtuaku dan sahabatku. Aku tersenyum miris. Mungkin, alasan kenapa aku belum benar benar pergi dari dunia ini adalah, aku belum berpamitan pada seluruhnya. Aku tak akan mati damai kalau belum berpamitan.
Aku kembali menatap tubuh asliku yang terbaring lemah itu. Lenganku kedunya ditusuki jarum infus. Entah cairan apa saja yang dimasukkan dalam tubuhku. Dadaku dipasang beberapa alat. Pelipisku juga. Dan dimulutku, terdapat selang kecil. Entah apa guna selang itu.
Aku merasa mengantuk. Nah, mungkin ini saatnya aku kembali ke tubuhku, berpamitan, lalu aku akan benar-benar..
Pulang.
-End of Naruto POV-
Ruangan tempat Naruto dirawat begitu sepi. Selain semuanya terlelap, tapi juga karena begitu pedihnya aura ruangan itu.
Akhirnya, pemuda itu tak tersadar. Persis vonis dokter. Detak jantungnya berjalan, namun matanya terkunci. Entah kapan pemuda itu akan sadar. Naruto dinyatakan koma.
Sasuke dan Sakura yang mendengar hal itu segera datang. Mereka memilih bermalam disitu, karena besok juga sudah mulai libur musim dingin.
Mata Kushina dan Hinata terlihat sembab. Pastilah, dua perempuan itu menangis tiada henti. Mungkin jika bisa, dalam tidurpun mereka masih akan menangis.
Hinata tertidur pulas, sampai lengan kecilnya disenggol pelan. Hinata sedikit terusik. Namun ia tak terbangun.
Lama kelamaan, senggolan itu makin berasa. Hinata akhirnya membuka matanya. Gadis itu terkejut, saat mendapati mata Naruto terbuka setengah.
"Na-naruto-kun?" Hinata memanggil nama Naruto. Memastikan apakah pemuda itu mendengarnya. Naruto tersenyum pada gadis itu. Hinata hampir menangis lagi. Kekasihnya sadar!
Kushina ikut terbangun. Ia ikut terkejut mendapati putranya sadar.
Ya, Naruto sadar!
"Hinata-chan! Panggil Kabuto!" Kushina langsung berdiri dan mengelus rambut anaknya. Hinata baru akan berlari, saat melihat Naruto menggeleng lemah.
"Tidak perlu dokter," ujar Naruto. Kushina dan Hinata termangu.
"Naruto sadar?" Sakura yang terlihat masih mengantuk menghampiri ranjang Naruto. Dan benar saja, pemuda itu sadar. Mata pemuda itu telah membuka seluruhnya, namun masih sayu
"Sasuke-kun, bangun! Hei, kenapa tidak langsung panggil dokter?" tanya Sakura. Naruto kembali menggeleng.
"Aku- sebentar saja kok," Naruto berujar sebisa mungkin. Jika ia tidak ingat ia bisa mati jika oksigen di hidungnya terlepas, pemuda itu bersumpah akan menghancurkan oksigen ini. Mengganggunya bicara saja.
Minato ikut terbangun. Ia juga terkejut melihat putranya sadar. Namun ia sedikit banyak mengetahui, bahwa Naruto sadar hanya untuk satu hal.
Berpamitan.
Karena Minato tahu, badan Naruto tak lebih dari sebuah robot yang ditopang mesin sekarang.
"Se-sebentar apa, Naruto? Kau bicara apa sih?" Kushina berlinang airmata. Namun nalurinya berkata, bahwa anaknya sudah terlampau lelah.
Naruto menarik nafas dalam-dalam.
"Kaasan, Tousan. Mendekat-" Naruto mengisyaratkan Sasuke dan Sakura serta Hinata untuk minggir. Minato dan Kushina mendekat pada putra mereka. Harta yang benar benar berharga bagi mereka.
"Kaasan, tousan.." panggil Naruto. Naruto berusaha tersenyum. Setitik airmata mengalir dari matanya.
"Iya sayang?" Kushina terus mengelus rambut anaknya. Mungkin ini saat saat terakhir, ia dapat melihat dan menyentuh putranya.
"Terimakasih ya.. selama ini telah merawatku baik baik. Aku tumbuh dengan baik, dan tampan seperti ini," Naruto sedikit bergurau. Membuat Kushina tersenyum ditengah tangis pedihnya.
"Terimakasih, untuk 16 tahun yang sangat indah. Aku tak sanggup membalas kebaikan kaasan dan tousan, walau dengan seluruh materi di dunia ini. Aku sering nakal, mungkin aku pernah membuat kalian pusing karena kelakuanku.." ujar Naruto lagi. Minato ikut meneteskan airmatanya. Putra yang begitu ia cintai, sekarang tengah berpamitan dengan pedihnya.
"Tapi yang aku ingin kaasan tousan percayai, aku begitu mencintai kalian. Dan itu tak akan pernah berubah, sampai kapanpun. Kapanpun," Naruto kembali menitikkan airmatanya. Kushina tak sanggup membalas. Ia hanya terus menangis.
"Terimakasih, kalian telah berjuang agar aku bisa sembuh. Namun, sepertinya, aku tak bisa bertahan lebih dari ini.." Naruto memejamkan matanya. "Aku tidak ingin menyerah, tapi aku harus menyerah," lanjut Naruto lagi.
Kushina memeluk anaknya. Tangisnya meledak. Ia benar-benar paham, akan sakit yang dirasakan putranya ini.
Minato mengecup dahi anaknya.
"Kaasan, tousan. Aku pamit ya," Naruto tersenyum. ia memeluk kaasannya, untuk yang terakhir kali.
"Baiklah. Tousan juga mencintaimu," Minato meneteskan airmata, yang bahkan belum pernah dilihat siapapun. Ia benar benar terluka.
"Baiklah-" Kushina mengangkat kepalanya. Ia tersenyum. Kushina menyeka airmatanya.
"Kita akan bertemu lagi, suatu saat ya?" Kushina menepuk nepuk kepala Naruto. Ia tidak akan pernah ingin melihat anaknya pergi lebih dulu darinya. Namun ia tahu, anaknya sudah mencapai akhir.
Pasangan suami istri itu telah ikhlas.
"Sasuke, Sakura-chan~" panggil Naruto dengan suara konyol. Sakura yang telah berlinang airmata, mendekati Naruto. Begitu pula Sasuke, yang tetap berusaha tenang, walau raut sedihnya nampak. Minato dan Kushina menyingkir.
"Hei- bodoh," panggil Sasuke. Naruto memajukan bibirnya.
"Dasar menyebalkan. Hei, untuk kalian. Terimakasih banyak ya. Aku sadar, aku punya banyak teman, namun tidak untuk sahabat," Naruto terkekeh. Tawanya terlihat menyedihkan, melihat badannya yang tak dapat hidup tanpa alat bantu.
"Baka- Naruto baka!" maki Sakura sambil menangis. Naruto tersenyum kecil. Ya, inilah cara Sakura mengungkapkan kasih sayangnya.
"Iya, aku memang baka, Sakura-chan. Heh, pantat ayam teme, jaga dia. Jangan biarkan ia dicolek yang lain," goda Naruto. Sebetulnya, ia tahu, kalau kedua sahabatnya ini adalah sepasang kekasih. Namun, mereka terpaksa menyembunyikannya. Sasuke tak ingin Sakura dilabrak-dimusuhi-ditubiri.
"Ya- ya," jawab Sasuke. Ia begitu prihatin pada temannya ini.
"Sampai jumpa ya, Sakura-chan, Sasuke teme," Naruto melemparkan senyumannya. Membuat Sakura menangis makin keras.
"Sampai jumpa," Sasuke menepuk bahu Naruto. Kedua sahabat itu saling melemparkan senyum.
Senyum perih dari sebuah perpisahan.
Sasuke dan Sakura mundur. Naruto tersenyum pada Hinata yang matanya membengkak.
"Kemari-" Naruto mengisyaratkan pada Hinata. Hinata mendekat perlahan. Ia tak sanggup. Tinggal menghitung menit, kekasihnya akan pergi.
"Hei- matamu bengkak. Kau jadi jelek," Naruto tersenyum. Hinata tak mampu berhenti menangis.
"Hinata- hey. Dengarkan aku," Naruto berusaha membuat gadis itu mendengarnya.
"Aku sudah berpamitan padamu sebelumnya, kan?" tanya Naruto. Hinata mengangguk.
"Nah, kisah cinta kita singkat ya. namun, aku benar-benar menyayangimu. Aku sempat berpikir, kenapa Kami-sama begitu jahat, mempersatukan kita dan akhirnya memisahkan kita dengan cara yang sadis seperti ini. Aku marah. Marah pada keadaan. Marah pada nasib yang kejam.. namun aku tau, semua terjadi karena alasan.." Naruto menggenggam tangan Hinata.
"Kami-sama telah mengirimkan seseorang, yang lebih mirip malaikat, untuk mencintaiku, disisa hidupku," Naruto tersenyum. Hinata tak mampu membalas senyuman itu. Ia lelah memalsukan senyuman.
"Maaf, aku harus pergi duluan. Hinata, tetaplah bahagia, untukku. Ya?" pinta Naruto. Hinata menyeka airmatanya.
"Naruto-kun j-juga ya?" Hinata meminta balik. Naruto mengangguk. Airmatanya kembali menetes.
Andai ada jalan lain untuk tetap bersama gadis ini, dan membuat gadis ini bahagia, sesulit apapun itu, Naruto bersedia menempuhnya.
Namun tak ada jalan. Inilah garis takdir.
"Hei- lepas aku dengan senyuman dong," Naruto tertawa kecil. Hinata kembali memaksakan senyumnya. Memenuhi permintaan akhir Naruto.
"Nah. Sudah saatnya," Naruto tersenyum. airmata kembali mengalir, kali ini lebih deras. Nyeri di dadanya mulai kembali. Nyeri yang begitu menakutkan.
"Hinata-" Naruto menarik kepala Hinata mendekat dengan tangan kirinya yang sudah ikut kebas seperti tangan kanannya.
Naruto menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu, sembari memejamkan matanya. Hinata sedikit terkejut, namun kemudian ikut memejamkan matanya. Memeluk leher pemuda yang dicintainya, untuk terakhir kali. Ciuman pertama dan terakhir sepasang kekasih itu.
Perlahan, nafas Naruto yang tadi sempat dirasakan Hinata, tak terasa lagi. Tangan Naruto yang menarik kepala Hinata, jatuh bebas. Hinata menangis. Menangis deras. Menyadari, bahwa pemuda yang tengah diciumnya..
Telah tiada.
Pergi meninggalkannya.
Untuk selama-lamanya.
Ciuman panjang itu, menandai perpisahan mereka. Mengakhiri perjuangan mereka di dunia ini. Perpisahan dari kisah cinta yang begitu singkat.
Hinata menarik bibirnya dari bibir Naruto. Mengelus kepala kekasihnya yang telah tak bernyawa. Nampak begitu tenang wajah Naruto.
"Arigatou, Naruto-kun. Oyasuminasai. Sampai bertemu lagi" bisik Hinata pada telinga Naruto. Airmatanya jatuh ke pipi pemuda itu.
Hilang sudah penderitaan pemuda itu. Rasa sakit yang luarbiasa yang selalu mendera badannya, rasa sakit perasaannya melihat orangtuanya menangis. Rasa sakit kehilangan kebahagiaan masa remajanya. Rasa sakit melihat gadisnya menangisinya. Perjuangannya berakhir dengan indah, walau menyedihkan juga.
Nah, selamat jalan, Naruto. Kau bahagia sekarang, kan?
Saat lahir ke dunia ini, aku tak mengerti tujuanku hidup
Yang aku tahu, aku bangun, menjalankan aktivitas, dan kembali tidur.
Aku tak menghargai setiap tarikan nafasku. Aku tak menghargai seluruh berkat di hidupku.
Sampai akhirnya, saat semuanya akan direbut, baru aku sadar, hidupku begitu berharga.
Akhir hidupku memang menyedihkan.
Namun juga sarat akan kebahagiaan.
Jika aku diberi kesempatan sekali lagi, aku takkan menyia-nyiakannya.
Dan aku tau, Kami-sama mencintaiku, maka ia memanggilku lebih cepat.
Begitu juga orangtuaku, sahabatku dan kekasihku.
Sekarang, aku telah lepas dari penderitaanku.
Dan aku dapat merasakan kebahagiaan sempurna sekarang.
Walau jika boleh, aku akan memilih habiskan waktu lebih banyak dengan orang yang kucintai, sih.
Namun, semua orang pasti akan mati. Hanya waktunya berbeda.
Jadi, hargai hidup kalian, ya?
-Uzumaki Naruto, 16 tahun-
Long Kiss Goodbye, The End
YES TAMAT UHUY *digampar* nah, akhirnya selesai sudah fic yang pernah terdampar 2 tahun lebih ini. Terimakasih kalian setia mengikutinya. Aku benar benar bahagia. Nah, aku sudah lunasi hutangku ya, jadi jika berkenan, tinggalkan jejak kalian di kotak review/? TERIMAKASIH BANYAK untuk reader yang mereview, atau reader yang hanya membaca saja. Atau melihat saja. Untuk ending, maaf yang sempat menginginkan happy ending. Inilah ending yang telah aku rencanakan dari awal. Nah, sampai bertemu dilain waktu ya, terimakasih banyak! Mungkin jika ada ide, akan aku buat after storynya/? /apa/
sign
Aizuka nami
