Our Confused Relationship 6

Cast : Kim Jongin, Oh Sehun, Xi Luhan, Kim Minseok, Wu Yifan, Kim Joonmyeon, and other

Pair : Kaihun/Sekai

Genre: Romance, Drama

Rating: T

Disclaimer : Cerita murni milik saya. Dan Yesung asli memiliki saya.

Summary: Ketika dua seme dinikahkan dan ketika sang uke berhasil merebut dominasi malam pertama mereka.

Warning: Sho-ai, BoysLove, B X B, Mpreg, Typos, dan author masih dalam masa pembelajaran.

Don't Like Don't read, and No Bashing

Jongin menghela nafas panjang. Satu jam telinganya nyaris pengang akibat wejangan super panjang dari enam orang tua beda kepribadian yang dengan seenak lubang pusar mereka masuk secara bersamaan di indera pendengarannya. Bahkan jantungnya hampir saja loncat melalui mulutnya saat ibu kandungnya yang setengah evil itu menepuk keras punggungnya yang bahkan masih di penuhi lebam. Ok, untuk itu semua, Say Thanks for our great boy Xi Luhan.

Huft, pria berkulit tan itu kemudian menatap kearah istrinya yang kini menekuk wajahnya dengan kedua tangan ia sedekapkan di dada, merajuk. Apa lagi coba. Padahal ia yang kena marah tapi kenapa malah bocah itu yang marah. Cih, kurang menyebalkan apa lagi coba hidupnya yang indah ini.

"Hey, Sehuna"

Sehun hanya melirik kearah Jongin sebelum kemudian memilih membenamkan kepalanya di samping bocah tan itu. Kepalanya ia tumpukan ke paha Jongin, persis seperti kucing centil milik mamanya yang sedang setres setelah di tolak cintanya oleh Bangshin. Hwad?

"Haishh", Jongin mulai mengeluh, "Kenapa kau yang seperti paling menderita disini? Berhenti menunjukkan ekspresi monyet terlantarmu itu, okey. Astaga!"

"Anakmu yang setres dan aku ikutan setres", Sehun menjawab dengan suara besar teredam. Terkadang mood anak itu benar-benar bergantung pada mood Jongin, percayalah. Mood ibu hamilnya memang agak aneh.

Jongin menghela nafas sebelum menarik-narik kecil rambut Sehun, "Bangunlah! Bantu aku berdiri"

Sehun mengangkat kepalanya lalu menatap Jongin yang tangannya sudah meraih kruknya, "Kau mau apa?"

"Sudahlah jangan cerewet atau kau akan semenyebalkan mama dan ibu"

"Kau menghina mamaku!", Sehun berdiri sambil menuding Jongin nyalang.

"Ya, dan ibuku", Jongin menggerakkan kakinya dan duduk dengan kaki yang menggantung, "Berhentilah mengoceh dan bantu aku turun, Kim teridiot"

Sehun memutar bola matanya malas, siapa yang membuat marga agungnya jadi 'Kim' coba, dia kan? Dasar tak tau diri, "Kau yang Kim dan aku Oh", bocah zombie itu menggerutu dengan tangan yang menyangga tubuh Jongin agar bisa berdiri sendiri.

"Ya ya ya, Oh teridiot"

'Mati kau Kim', andaikan ia tak hamil dan moodnya dipengaruhi mood suaminya, mungkin sudah dimakinya bocah dekil menyebalkan itu. Huh. Lagipula ia takut ada karma season dua, "Terserah kau saja tuan jenius".

Jongin mulai menggerakkan tangan dan kakinya. Bocah itu berjalan pelan layaknya keong dengan Sehun yang mengekorinya, "Sebenarnya kau mau kemana?", Sehun bertanya sok asik, padahal dalam hati dongkol setengah mati.

"Makan, aku lapar"

Sehun menaikkan sebelah alisnya heran, "Buburmu bahkan belum kau sentuh dan kau mengajakku keluar untuk makan?"

"Lalu aku sekarat lagi karena keracunan lumpur?"

Sehun memutar karamelnya malas, "Kau berlebihan. Bubur sayur itu sehat"

Jongin melirik kearah Sehun yang sudah menyamakan langkahnya, "Kau harus mencobanya dan aku jamin anak kita akan lari dari perutmu sangking ngerinya dengan rasa lumpur menjijikkan itu"

Sehun menghela nafas panjang lagi, "Hnn", jengah. Males debat.

Mereka berjalan tanpa sepatah katapun sampai akhirnya mereka sampai di cafe yang ada di rumah sakit itu. Jongin duduk dengan Sehun yang membantunya sebelum bocah zombie itu ikut duduk, "Kau mau pesan apa?", Jongin bertanya dengan tangan meraih buku menu.

Sehun ikut meraih buku yang serupa lalu membukanya, "Ermm, Ayam goreng. Minumnya, Bubble tea rasa coklat".

Jongin mengangguk-angguk sebelum memanggil pelayan, "Ayam goreng 3 porsi, sama greenteanya dua", lalu menutup buku menunya

"Ada yang lain?"

"Ti—"

"Bubble tea ku!", Sehun memekik memotong perkataan Jongin. Oh, belahan jiwanya dilupakan, terkutuklah kau Jong.

"Tidak sampai kau melahirkan", Jongin melihat ke arah pelayan lagi, "Itu saja".

"Baiklah, mohon tunggu sebentar", pelayan itupun pergi setelah menundukkan kepalanya singkat.

"Jong! Bubble teakuuuuuuu", Sehun berkata dengan nada super memelas, mata bocah itu berkaca-kaca dengan bibir sedikit bergetar. Ok, mood Jongin yang sepertinya baik membuatnya tak bisa marah sekarang dan akhirnya ia hanya bisa memelas dengan ekspresi menderita.

Jongin menghela nafas, tangan bocah itu memegang sebelah pipi Sehun lembut, "Bubble tea tidak sehat, Sehun. Pikirkan anak kita, jangan hanya lidahmu saja", Jongin versi dewasa dan wejangannya. Aishh, berapa banyak sebenarnya kepribadian Jongin itu.

"Baiklah", Sehun berkata pelan sambil mengusap perutnya. Berharap layaknya semua ibu agar anaknya tumbuh sehat di dalam sana. Hoo, manis sekali.

Jongin tersenyum puas, tangannya lalu mengusap surai madu Sehun, "Good Boy!"

Tak berselang lama, makananpun datang, "Selamat menikmati", ucap seorang pelayan yang membawa pesanan lalu pergi.

Jongin mengambil dua piring dan mulai menikmati ayamnya. Ya Tuhan, tukang makan.

"Jong, kau mau menghabiskannya sendirian?", Sehun menatap jijik nafsu makan Jongin yang super itu.

"Aku lapar", balas bocah dekil itu dengan nada setengah teredam ayam.

Sehun mengerut lebih jijik lalu mulai mengambil ayamnya dan menggigitnya, memakannya dengan kunyahan lambat khasnya yang memang kalau makan agak lelet.

"Dikunyah Sehuna, jangan di emut", Jongin menyindir gaya makan Sehun yang sebenarnya nampak kayak bayi yang hobi mengemut nasinya.

Bocah zombie itu merengut, "Aku tidak mengemutnya, dekil", lolos sudah umpatannya. Hahahaha. Dalam hati bocah itu tertawa sadis.

Jongin memutar bola matanya malas, "yayaya terserah"

Hening—

Ting—

Takk—

Slurpp—

Uhukk—

Prakk—

Meong—

"Apa ini!", Sehun memekik horor kearah cangkir minumannya. Oh my—, menurut lidah cadelnya, isinya tak lebih dari secangkir air cucian piring, dan si dekil itu memberi minum air cucian piring kepadanya?

"Itu Greentea", Jongin menjawab santai tanpa mengalihkan kegiatannya dari makan besarnya.

"Kenapa rasanya —", Sehun speechless. Lidah anak itu terjulur jijik.

"Kau harus menambahkan gula dulu jika ingin manis. Rasanya agak aneh tanpa gula bagi pemula", Tangan kiri Jongin yang tidak memegang ayam menyodorkan sebuah cangkir kearah Sehun yang duduk di depannya.

Pipi atas Sehun berkedut lengkap sengan pertigaan nyasar di jidatnya, "Kenapa tidak bilang dari tadi, hitam!", bocah berkulit pucat itu mengambil cangkir berisi gula batu itu dari tangan Jongin dengan kasar lalu memasukkan dua kotak gula ke cangkir tehnya.

"Ku kira kau tak suka manis", Jongin berkilah, padahal aslinya murni karena dia lupa.

Sehun merengut, "Padahal Bubble tea manis, Cheese Cake manis, Susu pisang manis, err apa lagi yaa, pokoknya semua yang kusukai itu manis-manis?", protesnya, "Tapi itu tidak terhitung kau yang jelek".

Jongin Sweatdrop, "Terserah".

**Keys13th**

Lupakan bagaimana mereka sarapan tadi. Mari kita move on dan beranjak ke siang hari terik yang rasanya bisa semakin membuat kulit Jongin yang sudah—err jangan bilang dekil karena ia hitam sexy— kecoklatan semakin mengenaskan—alias gosong.

"Yuhuu... Anak tampan mama!", Heechul memasuki ruang inap Jongin. Pria cantik yang masih pecicilan di umurnya yang sudah menginjak kepala 4 itu berteriak heboh yang menghasilkan delikan sebal dari Kris yang datang bersamanya.

"Ma, ini rumah sakit. Jangan berisik, okay", hampir saja Kris menabok punggung mamanya itu, 'dan ingat umur', bisiknya kemudian dalam hati. Tak kuat mental mengungkapkan secara blak-blakan.

Heechul balas mendelik, "Berisik", Kris langsung menatap mamanya itu datar. Sialan, dia malah balik dikatai berisik.

"Jadi bagaimana kabar putra mama hari ini, eum?", Heechul menghampiri Jongin yang duduk di kantilnya. Tangan halusnya lalu mengusap rambut tebal Jongin sayang.

Jongin tersenyum, "Jauh lebih baik", jawab pria tan itu sekenanya.

"Oh ya!", Heechul berbalik dan menatap ke arah Kris yang kini duduk di sofa yang ada di bangsal itu, "Mana oleh-oleh mama, Kris?".

Kris menatap malas mamanya sebelum menyerahkan sebuah buntalan kresek tanpa banyak bicara.

"Ini mama bawakan kue untukmu", tangan wanita itu dengan cekatan membuka buntalan kreseknya dan mengeluarkan sebuah kotak transparan berisi tart coklat, "Ini mama yang buat sendiri, lhoo", ucapnya girang dengan nada bangga.

Jongin menatap kue itu dengan mata berbinar bak puppy. Oh God! Apa itu keju? Selain maniak ayam, bocah itu ternyata juga pecinta keju. Ah tidak! Tepatnya dia tukang makan.

"Ma", Sehun yang ikut berbinar menatap coklat-coklat pengundang nafsu makannya menarik-narik ujung pakaian mamanya yang berdiri tepat di sampingnya —posisinya duduk sekarang, "Apa Sehuni boleh minta juga?", ucapnya tanpa mengalihkan tatapannya ke arah gumpalan coklat lezat itu.

"Tidak", balas Heechul dengan singkat, padat, jelas, dan sadis.

Sehun langsung menatap mamanya dengan pandangan yang tak bisa di jelaskan. Begitu datar, sampai-sampai membuat Heechul lupa bagaimana bocah itu lahir ke dunia, "Tidak boleh?", kini raut kecewa mendominasi membuat mama bocah zombie itu gelagapan. Padahal niatnya kan cuma mengerjai, kok jadi dia yang salah tingkah sih.

"A.. Sehuna, bukan begitu maksud mama. Err gimana ya?", Heechul semakin gelagapan, terlebih mata putra bungsunya itu mulai berkaca-kaca.

"Mama tidak sayang Sehuni lagi?", Mampus. Heechul mati gaya. Speechless. Mulutnya mangap nutup kayak ikan.

Jongin menatap Sehun datar. Drama lagi eoh? Cih, dosa apa dia punya istri gila macam Kim Sehun. Akhirnya ia membuka tutup tartnya lalu menyendoknya, "Buka mulutmu!", perintahnya menyodorkan sendok penuh tart ke mulut Sehun.

Sedangkan bocah zombie itu langsung menatap benda yang kini berada di depan hidungnya, aroma coklat khas yang harum menggelitik indra penciumannya yang membuatnya girang seketika, "Aemm", bocah itu langsung menyambar isi sendok itu dengan suara khas anak kecil, "Enak! Hihihi".

Heechul menghela nafas lega. Hampir saja ia lari ke balkon lalu menerjunkan dirinya tadi. Anaknya itu—, astaga. Faktor hamil kali ya. Kris sendiri yang menatap wajah panik mamanya melega langsung terkekeh kecil, "Apa kau ketawa-ketawa! Ngetawain mama ya?", Kris kicep. Kena sembur lagi deh.

"Sehuna", Heechul memanggil Sehun yang menerima satu suapan besar lagi dari Jongin.

Sehun mendelik ke arah Heechul. Oww! Masih marah rupanya, "Haishh, apa-apaan matamu itu! Mama kan cuma becanda"

Sehun melengos tak peduli, sedikit banyak membuat nurani Heechul tergores, "Yah! Jangan gituin mama! Mama minta maaf, oke".

Sehun menatap mamanya lagi, "Apa sihh ma? Mama tidak lihat aku sedang makan?"

Heechul mendelik, "Anak kurang ajar! Mama sumpahi anakmu sebandel dirimu kalau sudah lahir nanti".

Sehun melotot, "Yahh ma!"

Plup

Jongin menyumpal mulut Sehun dengan suapan besar, "Berisik", sedikit takut sumpahan mamanya itu terwujud, kan dia juga yang repot nanti. Orang dia bapaknya.

Sehun mendelik, "Diham khau dekhil".

"Mama mau tanya apa?", Jongin menengahi sambil menyuap potongan kecil ke dalam mulutnya.

"Apa kalian sudah menemui dokter kandungan?"

Jongin mengerjab dengan sendok menggantung di mulutnya, "Belum, aku belum memikirkannya", dan kembali menyendokkan satu suapan untuk Sehun.

"Lagian nyaam mama kepengen tau saja, nyaam kalau mau, kan tinggal minta saja ke papa"

Heechul melotot horor

Kris cekikikan

Jongin memakan kejunya

Plakkk

"Apa kau bilangggggg!"

"Ya ma, Sakit!"

Plakk

"Ini yang kau bilang sakit?"

"Yakk Yakk Yakk! Stopp ma!"

Plakk Plakk Plakk

"Rasainnnn"

"Huweee Jongin!"

Plupp

Sekali lagi Jongin menyumpal mulut Sehun dengan satu suapan besar, "Berisik".

Penulis Sweatdrop, tinggalkan mereka.

**Keys13th**

Jongin menatap bosan ke arah Sehun yang tampak menikmati buku pelajarannya. Entah benar-benar membacanya atau malah jangan-jangan di baliknya ada komiknya. Sepertinya memang iya kalau melihat bocah itu membacanya dengan raut wajah menahan tawa.

Pria tan itu memutar bola matanya jengah, "Keluarin aja Hun, ngga usah di tahan-tahan".

Sehun melirik Jongin sewot, "Terserah aku", lalu kembali pada bacaannya.

Penasaran, Jongin mencondongkan tubuhnya ke dalam buku yang di pegang Sehun, mengintip. Dan benar saja, ada komiknya di balik buku fisika itu. Lagian, orang gila mana yang belajar fisika kok sama cekikikan, "Apa itu yang kau baca?"

"Matamu buta?"

Jidat Jongin berkedut, "Yang ada di dalam buku FISIKA", pria tan itu menekankan kata FISIKA. Tidak terima dikatai buta.

"Oh!", bocah itu manggut-manggut, "Ngomong dong", Sehun melempar buku Fisikanya ke ranjang Jongin dan nampaklah sebuah manga bergambar dua orang anak laki-laki berambut biru muda dan satunya merah gelap membawa bola basket di masing-masing tangan mereka, "Punya mata kan? Lihat sendiri!".

Jongin merengut tak suka, "Aku suamimu!", hardiknya sok tegas.

Sehun mendelik, "Siapa bilang? Kau yang isteriku, dekil".

Jongin ikut mendelik sebal. Sedikit heran juga, padahal isterinya itu begitu manis seharian tadi. Tapi kenapa sekarang kembali ke sifat aslinya, "Kepalamu terbentur tiang infus ya?"

"Tidak!"

"Pasti tidak sengaja terbentur dada suster sexy"

"Aishh! Bisakah kau tutup mulut sialmu itu dan biarkan aku menyelesaikan komikku"

Jongin menggumamkan beberapa cibiran yang hanya dia yang mengerti artinya. Cih, kalau begini jadi dia lagi yang kelihatan kayak uke. Yang dia sesalkan, kenapa terkadang Sehun terlihat begitu manly. Haishh, Sialan. Bangsat. Sialan. Brengsek. Sialan. Keparat.

Hening

Hening

Hening

"Jong", Jongin menguap sambil mengalihkan tatapannya ke arah Sehun, "Aku ingin mengecek kandunganku", Sehun sedikit menunduk dan ketika ujung matanya melihat perubahan mimik Jongin, bocah itu langsung melanjutkan kata-katanya dengan cepat, "Aahh... Maksudku, kau tau sendiri Luhan kadang juga salah, dan dan—"

"Aku mengerti, kita ke dokter kandungan sekarang", Jongin mengambil kruknya membuat Sehun memelototkan matanya dengan mata melirik jam dinding di sana, "Kau benar-benar buta atau jangan-jangan buta angka!", Sehun mencak-mencak menujuk jam yang memang menunjukkan tengah malam.

Jongin menatap Sehun malas, "Memangnya kenapa? Dokter kandungan buka 24 jam"

"Tapi—"

"Sudahlah, mau atau tidak!"

Sehun mendelik, nada Jongin begitu sewot tadi, "Ya ya ya, kita berangkat", Sehun berdiri lalu melangkah keluar. Jongin mengikutinya dengan langkah keongnya lagi.

"Haishh, Lama sekali", Sehun berbalik menghampiri Jongin lalu menyeretnya.

"Yakk Yakk Yakk! Sakit Hun, pelan-pelan"

"Bodo amat"

Singkat cerita, mereka sampai juga di depan dokter kandungan. Dokter itu berwajah sedikit manis dan banyak tampannya sangar pula, tapi di mata mantan seme macam Sehun tentu manisnya lebih terlihat. Sehun berbinar dan Jongin hampir menabok wajah datar istrinya itu.

"Jadi, siapa yang hamil?", dokter itu menaikkan kaca matanya yang melorot dengan jari telunjuknya.

"Dia", baik Sehun maupun Jongin menunjuk satu sama lain.

Dokter ber-name tag Hwang ZiTao itu mengerutkan ujung alisnya bingung, "Jadi, kalian berdua yang hamil?"

"Tidak, hanya dia yang hamil", Jongin menyambar sebelum Sehun sempat mengangguk, "Saya suaminya", dan Sehun mulai menggerutu. Tamat sudah image manly-nya di depan dokter manis.

Dokter Hwang manggut-manggut, "Baiklah tuan uke Kim, bisa mengikuti saya?".

Sehun menaikkan sebelah alisnya, 'panggilan macam apa itu?', lalu berdiri mengikuti dokter dengan mata kucing—panda itu, 'Mungkin dia blesteran kucing dan panda', batin Sehun sinting.

Sehun di bimbing untuk tiduran di satu-satunya kantil di sana. Jongin berdiri di samping sang dokter. Melihat dokter muda itu menekan-nekan dada istrinya dengan stetoskop, "Sebaiknya anda mengurangi kegiatan anda dan jangan sampai kelelahan maupun stres. Itu sangat berpengaruh pada janin anda", pria itu kemudian melepaskan stetoskopnya sebelum menyiapkan sebuah alat dan mulai menyingkap perut Sehun, "Anda bisa melihat janin anda dengan alat ini", lalu berucap dengan tangan mengoleskan gel ke perut Sehun.

Sehun bisa merasakan rasa dingin menyapa kulit perutnya. Ia juga merasakan sebuah alat keras menggerayangi perutnya, " Itu janin anda", Sehun tersentak sebelum menatap ke arah monitor yang menampilkan bidang datar seperti kerucut, di dalamnya ada sebuah benda bulat yang mendiami tepat di tengah, "Anda bisa melihatnya? Itu janin anda. Kalau dilihat dari bentuknya, saya perkirakan janin anda berusia menginjak empat minggu", dan Sehun hanya menatapnya takjub. Begitu indah sampai rasanya ia ingin membuatnya langsung besar hingga bisa cepat lahir dan bisa langsung ia peluk.

"Jong! Dia puteraku", Sehun berucap tanpa mengalihkan tatapannya ke monitor.

"Ya, dia puteriku", jawab Jongin yang sama terpakunya.

Sehun menatap Jongin sengit, "Pu-te-ra-ku"

Jongin mendeathglare Sehun, "Puteriku, Hun"

"Aku yang melahirkannya, jadi aku yang menentukan dia laki-laki atau perempuan dan aku ingin dia laki-laki"

"Tidak-tidak. Aku yang menyumbang pipp terbanyak, jadi aku yang menentukannya dan aku ingin dia perempuan"

"Tidak bisa begitu! Aku menyumbang banyak pipp juga"

"Kau hanya menyumbang satu"

"Tanpa satu itu, pipp banyakmu tidak ada gunanya! Dasar kakek tua!"

"Apa Kau bilang!"

"Kakek tua dekil budeg"

"Yakk Sehuni, kau yang kakek tua. Zombie!"

"Oh ya? Masa? Bukannya kau yang blahh blahh blahh"

"Jidatmu kinclong! Kau seharusnya sadar bahwa kau itu blahh blahh blahh blahh"

Kali ini sang dokter yang Jawdroped maksimal. Apa mereka bertengkar dengan kata-kata tidak senonoh? Astaga, Tuhan!

—ToBeContinued or End—

No Comment. Sangking frustasinya gue yang terserang WB, gue ngga tau harus bilang apa selain, maaf sebesar-besarnya atas keterbengkalainya fanfic ini. Hiks, maafkan saya #Bow. Maaf untuk typosnya, dan maaf untuk segalanya. Review jika anda berkenan #terjuninDiriKeKolamRenangnyaYesung

Balas review:
Sebagian udah gue bales di PM ya? Ini yang tidak pakai akun saja.

Guest : Iya ini di lanjut. Hiks, maaf lama ya.. Thanks reviewnya :)

Oh Yuugi: He'eh. gpp. Kkamjong kan hidup untuk menderita #ditabok

Jongin itu anak Kyuhyun dan Siwon. Kecelakaan gitu. Kalau anaknya Kyuhyun sama Yesung itu Minseok. Ya begitulah. Gue pikir-pikir emang rada ribet #plakk

Thanks udah review :) untuk Chap 1-3 juga ya :)

girlcho: Annyeong jg. Gue juga mantan siders tapi juga udah engga. hehehe
Jangan ah, nanti kamu frustasi lagi,hohoho. Iya ini di lanjut. Thanks untuk reviewnya :)

andrea park: Boleh, tentu saja. Tapi e-mailmu mana, baby? Thanks untuk reviewnya :)

numinevil: He'eh. Ini di lanjut. Maaf ya updatenya lama. Thanks untuk reviewnya :)

taohun: He'eh. Ini di lanjut. Maaf ya ngga bisa cepet. WB berat gue #alasan #LOL Thanks untuk reviewnya :)

kaihunismystyle: Maaf udah lama lagi TT..TT makasih untuk pujiannya #sokMaluMalu. Menantu kesayangan emang mau di apain #LOL di tabok Kyuhyun iya. hihihi. Thanks untuk reviewnya :)

Pasha Kaihun: He'eh. Ini udah di lanjut. Thanks untuk Reviewnya :) Thanks juga reviwnya untuk Chap. 4

guest1: He'eh ini di lanjut. Maaf ngga bisa kilat yaa, hehehe #nyengir Thanks untuk reviewnya.

Lulu Auren: Woaahh.. Kamu ya yang neror gue sampe di fic sebelah kan. Hahaha. Gue suka gaya lu men.. #cengengesan

Maaf ya lama lagi #nyengir

Iye tetep di maraih tuh, wejangan panjang. Hihihi

Tau tuh si Sehun, hahaha. Gue bahkan ngga kuat mental ngebayangin dia jadi janda anak satu yang melankolis abis #LOL

Thanks untuk reviewnya :)

Kaihun: He'eh. Ini dilanjut. Maaf ya tapi kalo ngga bisa kilat. Thanks untuk reviewnya :)

Miss: Bilang aja kangen sama authornya. Ngga usah di tahan-tahan gitu #plakk

Hahaha, bukannya lebih cepet yang ada makin lama. Maaf ya, maafin gue. Udah blank maksimal soalnya. hehehe

Thanks utuk revienya :)

kihae forever: Hahaha mana ada kata murka untuk menantu tercinta yang ada malah tambah di manja#LOL thanks untuk reviewnya :)

Udah semuanya belom? Yang belum bisa PM gue yaa.. hehehe
Protes aja, gpp kok. Siapa tau jadi temen.

Akhir kata, Review Pleaseeeee~~~~~

Sign

Ghazy