Our Confused Relationship 9

Cast: Oh Sehun, Kim Jongin, Kris, Suho, and other

Pair: KaiHun/SeKai

Genre: Romace, Drama

Rating: T

Disclaimer: Cerita ini murni milik saya. Tapi semuanya untuk bersama, kecuali Yesung. LoL.

Summary: Ketika dua seme dinikahkan dan ketika sang uke berhasil merebut dominasi malam pertama mereka. BL, MPREG, RnR. Kaihun/SeKai.

Warning: Sho-ai, BL,BoyXBoy, Mpreg,Cerita aneh, OOC, Buruk, jelek, absurd, Alur ga jelas dan masih dalam pembelajaran, miss Typos.

**Keys13th**

Jongin menatap kalender di tangannya. Sebentar lagi liburan musim dingin tiba. Akan lebih baik apabila ia bekerja seharian penuh dan mendapatkan gaji penuhnya dari pada sekarang. Kandungan Sehun juga sudah menginjak 7 bulan yang artinya sekitar dua bulan lagi akan lahiran―ya semoga saja tidak ada hal-hal buruk yang membuat kelahirannya maju dan berbahaya. Tapi, kalau di pikir-pikir pada usia kehamilan tua akan sangat beresikonya jika meninggalkan Sehun sendirian di rumah. Gimana kalau istrinya terpeleset kulit pisang terus melahirkan tiba-tiba, coba. Menghela nafas pelan, satu solusi hinggap di kepalanya. Tangan bocah itu lalu mengambil ponselnya yang bergetar. Di lihatnya layar ponsel yang menampilkan icon pesan baru.

Yo Jongin! Pulang sekarang! Aku membuatkan tumis daging saus alpukat untukmu. Tidak atau bantahan atau ku laporkan pada ayah.

Chef Ganteng Sehun

Jongin menghela nafas panjang sekali lagi. Hobi baru istrinya nambah satu lagi, memasak. Dan percaya atau tidak, itu mengerikan.

.

.

.

"Aku pulang"

"Selamat datang"

Ya Tuhan! Istrinya yang berbakti. Lihatlah bagaimana bocah itu menyambut kepulangan Jongin, sudah sekalem bu Mikoto yang menunggu pak Fugaku pulang dinas. Tapi tidak tau kenapa perasaan Jongin yang mulanya damai minta ampun langsung tiba-tiba was-was setengah mati.

"Kau pulang, sayang?", Oh God! Panggilan kematian.

"Err, Y-ya", bahkan Jongin sampai ragu untuk menyaut.

Senyum Sehun mengembang lima senti ke samping. Tangannya meraih tangan Jongin sebelum menyeret bocah dekil itu ke dapur rumah mereka. Mendudukkan Jongin di salah satu kursi meja makan sebelum langsung menyajikan sepiring bubur hijau dengan benda hitam-hitam berbentuk kotak kecil yang mengambang kayak lalat.

Jongin mengerjabkan matanya empat kali dalam sedetik sebelum melotot dan lupa cara berkedip, "A-apa ini, Hun?"

Sehun meringis senang, "Tumis daging dengan saus alpukat".

Jongin speechless. Dia kira istrinya masak lumpur dari belakang rumah, "Dagingnya?"

"Itu!", tampang Sehun kembali datar saat menunjuk benda-benda hitam kecil yang berenang bebas di lautan lumpur hijau, "Di tumis dengan mentega dan ku buat sedikit garing".

Jongin nyaris megap-megap kehabisan nafas, 'Itu gosong, buka garing, keparat!', dan sebagai suami yang baik, bocah itu hanya menjerit-jerit dalam hatinya.

Bocah dengan warna kulit yang semakin gosong dan dakian―Baiklah, dia jarang mandi juga demi bekerja untuk anaknya― itu mengambil sesendok bubur hijaunya sebelum memasukan benda itu ke dalam mulutnya, 'Jus alpukat yang di beri garam, merica, dan sedikit arang', batinnya semakin nelangsa.

"Bagaimana?", Jongin bersumpah, di balik suara tanpa nada istrinya tersimpan dewa kematian yang berniat mencabut nyawanya sekarang juga. Bocah itu hanya melirik Sehun sekilas sebelum mengendikkan bahunya ―sok acuh. Pada nyatanya yang ada di otaknya hanya menghabiskan racun terbaru ala Sehun sebelum ia benar-benar mati kena serangan jantung.

"Gahhhhhh!", Jongin bernafas lega ketika penderitaannya akhirnya berakhir, "Habis!", girangnya sembari melempar sendoknya ke piring bekasnya tadi. Di raupnya air putih yang di sediakan Sehun sebelumnya dan meneguknya rakus.

Sehun menyeringai, "Good boy", di usaknya rambut Jongin kemudian.

Jongin mendelik, "Yakk! Yakk! Yakk!"

Yang bersangkutan hanya mengangkat bahunya acuh. Tangan bocah itu lalu mengambil seri terbaru manganya sebelum larut ke dalam dunianya.

"Hun", Sehun hanya menggumam pelan, "Err. Bagaimana menurutmu kalau sementara kita pindah".

Sehun sedikit melirik Jongin yang hanya menatapnya sambil berpangku tangan malas, namun tak lama karena detik selanjutnya bocah zombie itu kembali menikmati manganya, "Kemana?".

"Ke rumah ayah dan daddy".

Sehun menurunkan manganya dan menatap Jongin dengan sebelah alis yang naik, "Kenapa tiba-tiba?"

"Sebentar lagi liburan musim dingin. Aku mau akan minta part time-ku jadi full time ke ayah"

"Lalu?"

Jongin menarik nafas panjang, "Usia kehamilanmu sudah tua―"

Kalimat Jongin terputus dengan seruan menyebalkan Sehun, "―Aku tidak tua, dekil!".

Jongin menatap Sehun datar, "Yang ku maksud usia kehamilanmu, bukan umurmu!"

"Oh, ngomong dong"

Sabar Jongin, sabar, "Karena itu, kita pindah"

"Karena apa?", Sehun menatap Jongin sok polos.

Jongin sedikit mendesis sebal, "Jangan memotong ucapanku, pucat!"

"Baiklah, lanjutkan"

Jongin menghela nafas panjang untuk menetralkan emosinya, "Karena itu, aku rasa kau butuh pengawasan lebih―", Jongin melotot ke arah Sehun ketika bocah zombie itu berniat memotong kalimatnya.

"Baiklah, lanjutkan".

"―di rumah ayah ada ibu dan mommy yang akan menjagamu dan memenuhi kebutuhanmu dan bayi kita, jadi aku akan lebih tenang meninggalkanmu"

"Seperti mau mati saja?", Sehun berucap dengan wajah cueknya. Oke, itu menyebalkan.

Jongin hanya bisa melotot keki, "Yakk, jaga bicaramu! Memangnya kau mau ku tinggal mati, hah?", menyeringai, "Aku jadi ingat kejadian enam bulan lalu. Kau bahkan tidur di ketekku!".

Sehun mendumal, "Tau gitu ku biarkan saja kau membusuk di taman. Dasar tidak tau terima kasih".

Jongin terkekeh pelan. Bocah itu kemudian bangkit, didekatinya Sehun yang duduk di seberangnya sebelum memeluk bocah itu dari belakang, "Terima kasih", lalu mengecup pipi Sehun dengan lembut.

**Keys13h**

"Apa kau yakin sudah semuanya?", Sehun mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan Jongin.

"Susu hamil?"

"Hn"

"Vitamin dari dokter?"

"Hnn"

"Baju hamil?"

"Hnnn"

"Oh ya! Pinku-pinku?"

Sehun menatap Jongin datar, "Ada di tanganmu".

Jongin mengerjab, menatap polos boneka di tangannya lalu nyengir lebar, "Oh ya. Hehehe", menyerahkan boneka berwarna pink itu ke Sehun, "Baiklah. Ayo berangkat!", bocah itu lalu menstarter motornya dan menjalankan motornya dengan Sehun yang ada di boncengannya.

.

.

.

"Huwaaa! Anak Ibu! Selamat datang!", kedatangan mereka di sambut heboh oleh Kyuhyun. Pria manis istri Jongwoon itu langsung lari dan menerjang Sehun yang bahkan baru turun dari motornya.

"Biarkan Sehun bernafas dulu, Kyu. Kau ini tidak sabaran sekali", di belakang Kyuhyun Hangeng datang dengan senyum teduhnya, "Bagaimana kabarmu dan baby, sayang", pria itu lalu mengelus rambut coklat Sehun.

Sehun hanya tersenyum tipis, "Kami baik, tentu saja".

"Bu, mom! Sehun belum tidur siang!", teriak Jongin yang langsung membuat Sehun menggerundel dalam hati.

Sehun men-deathglare Jongin yang hanya menatapnya tak peduli, 'Dasar sialan. Dekil tak tau diri. Padahal aku udah keliatan keren tadi, malah balik jadi bayi lagi. Memangnya siapa yang butuh tidur siang, coba. Aku kan sudah gede'.

"Matamu itu. Tidur sana!", Jongin balik metot. Jengah dengan pelototan Sehun yang dicuekin saja malah menjadi-jadi.

"Jong!", tegur Kyuhyun yang membuat Sehun langsung menyeringai penuh kemenangan, "Jangan galak-galak sama istri. Contoh itu ayahmu, sama istri nurut. Menghargai uke gitu".

"Yups, mama benar", Sehun sendiri mengangguk-ngangguk mengiyakan aja, 'kecuali bagian istri dan uke', tambahnya dalam hati. Tetep saja ngga mau ngalah soal posisi.

"Kalau itu memang ayah saja yang takut sama ibu", Kyuhyun melotot.

Hangeng yang paling normal hanya menahan tawanya, "Sudah sudah. Jongin benar, sebaiknya kita masuk. Anginnnya dingin", lalu menggiring Sehun yang kembali pada tampang flatnya yang tak acuh dan Kyuhyun dengan wajah masamnya.

**Keys13th**

Sehun merebahkan tubuhnya ke kasur yang dulunya milik Jongin dan sekarang sudah dikuasainya. Sedang pemilik kamarnya sendiri malah mbabu. Mendidekasikan hidupnya pada istri hamilnya dengan menata kebutuhan Sehun ke tempat yang menurutnya pas.

"Hey, upik abu", khe, lebih baik daripada dipanggil 'budak'.

"Ya, raja agung Sehun", Jongin memanggil malas.

Sehun langsung menatap Jongin tajam, "Panggil aku yang mulia Kaiser Emperana Sehun pertama, upik abu dekil"

Jongin yang semula menghadap lemari untuk mengemasi bajunya dan Sehun menoleh ke arah dengan wajah datar, 'Dia yang ganti-ganti julukan seenak pusarnya lalu aku yang dia sewoti?', batinnya sebal, "Baiklah yang mulia Kaisar Emeprana Sehun pertama".

"Kaiser Jong bukan Kaisar, dan Emperana bukan Emeprana"

Jongin nyinyir sambil kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, "Terserah kau saja yang mulia agung raja iblis".

Sehun membulatkan matanya, "Wauuuu! Kau tau nama itu terinspirasi dari nama raja iblis?".

"Tidak", Jongin berdiri, tangannya lalu menutup almari yang sudah ia tambahi dengan beberapa potong baju sebelum menyusul Sehun merebahkan tubuhnya di samping bocah itu, "Kau yang seperti iblis".

Sehun yang kali ini nyinyir, "Cih, dekil menyebalkan".

Jongin tersenyum kecil. Bocah itu menyampingkan tubuhnya sebelum memeluk istri hamilnya dengan mata tertutup, "Tidurlah".

Sehun terdiam. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar dengan nuansa krem yang ditempatinya dengan pandangan kosong. Tak beberapa lama helaan nafas panjang ia keluarkan perlahan. Wajahnya ia alihkan pada wajah suaminya yang nampaknya sudah tertidur.

"Jong"

"Hmm"

Mendengan gumaman Jongin, Sehun malah terdiam. Pandangannya kembali ia alihkan ke langit-langit. Namun tak beberapa lama, ia kembali membuka suaranya, "Menurutmu, aku ini bagaimana?"

"Hmmhhh", sepertinya Jongin memang sudah setengah sadar, "Kau ini―", Jongin menggantung kalimatnya, terlihat jelas kalau dia berusaha terjaga untuk meladeni pertanyaan Sehun, "―Istriku", sautnya lagi dengan nada pelan kemudian.

"Apa kau menyayangiku?", Sehun tidak tau kenapa tiba-tiba ia ingin menanyakan hal-hal yang menurutnya konyol seperti ini. Bawaan orang hamil kali. Cari perhatian.

"Menurutmu?"

"Mana ku tau", Sehun menyaut dengan nada jengkel. Jongin pikir dia bisa baca pikiran orang apa!

"Dengar―", Jongin membuka matanya. Menatap Sehun dari samping dengan pelukannya yang sedikit ia eratkan, "―Kau ibu dari putra-putriku. Kau istriku. Apa menurutmu yang membuatku tidak menyayangimu, coba?"

"Jadi kau menyayangiku?", Sehun menatap terkejut pada Jongin.

Jongin menaikkan sebelah alisnya heran, "Memangnya kenapa?".

"Tidak, aku kalah taruhan dari Baekhyun berarti".

'Shit!'

Sehun menyeringai. Bocah itu lalu mengecup bibir tebal Jongin yang memasang wajah masamnya, "Aku bercanda, Ayah"

Jongin mendelik melihat Sehun terkekeh dengan manly-nya, "Zombie keparat".

Sehun tertawa kecil. Di eratkannya pelukan Jongin lalu dipeluknya leher Jongin gemas, "Hey Ayah, jangan cemberut! Kau membuatku ingin memakanmu"

"Ngomong-ngomong, kau mencekikku, Hun."

"Ouch, Sorry. Sengaja"

**Keys13th**

Sehun mengerjabkan matanya. Menatap langit-lagit berbeda dari yang hiasa ia lihat setiap bangun tidur, 'Oh! Rumah ayah ya?', pandangannya lalu ia alihkan kesamping kiri untuk menemukan wajah jelek Jongin saat tidur. Bocah zombie itu mencebil, "Kenapa aku bisa menikahi alien hitam aneh ini sihh", dumelnya. Tangannya lalu menyingkirkan lengan Jongin yang melingkari dadanya sebelum bangkit dan memilih keluar kamar saja.

Dengan nyawa yang separuh terkumpul, bocah itu kemudian melangkahkan kakinya ke ruang tengah dan langsung di sambut keributan duo bapak yang sedang nonton bola. Merasa tertarik, akhirnya bocah itu mendekat dan mendudukkan diri di karpet sambil menyandar kaki sofa. Menghela nafas pelan, karena merasa capek berjalan dengan menggendong anaknya di perut, bocah itu lalu mengambil remot dan dengan santainya merubah chanel bola menjadi anime, "Ya Tuhan! Kenapa masih di episode ini!", keluhnya menatap televise yang menayangkan anime yang dia kira sudah jauh dari episode yang terakhir ia lihat, "Yahh! Yang ini sihh aku sudah nonton di Youtube. Tapi ngga papalah, daripada tidak ada yang bisa diliat".

Siwon menatap Jongwoon, begitupun Jongwoon menatap Siwon. Kedua bapak dari Jongin itu menyelami orbsidian satu sama lain sebelum mendesah kecewa.

'Padahal tadi hampir gol', gumam Jongwoon kecewa.

"Ayah mengatakan sesuatu?", Sehun memutar kepalanya. Menatap ke Jongwoon yang duduk di sofa tempat ia bersandar sebelumnya.

"Ahh! Tidak tidak. Lanjutkan saja", saut Jongwoon panik dan langsung cemberut sesaat setelah Sehun kembali memutar kepalanya ke depan.

"Ahh, baiklah", Sehun menyeringai. Sebenarnya ia dengar, tapi apa pedulinya? Hahahahaha.

"Aku pulang!", Minseok yang datang langsung nimbrung dan duduk di sebelah Sehun.

"Luhan datang!", dan jangan lupakan pacar sok manly yang nempel kayak lalat dengan gorengan, "Oh! Hai ayah mertua, daddy mertua, dan ipar triplek", bocah itu lalu ikut mendudukkan diri di samping Minseok.

"Yoo Luhen!", saut Jongwoon dengan nada malasnya yang biasa

"Hey Juga Lu", kali ini Siwon yang tiba-tiba ketularan malasnya Jongwoon.

"Hnn", dan yang terakhir, sisanya. Tebak sendiri!

"Kalu lihat tadi?", Minseok menolehkan wajahnya ke samping kirinya sambil tertawa, "Aku tidak percaya orang secantik Ren bisa mencetak gol sekeren itu"

Luhan menyaut tawa Minseok, "Apa ku bilang, dia itu berbakat. Aku tidak salah kan memilih anggota".

"Ahhh. Aku menyesal memilih Yonghwa, kelihatannya saja keren. Menggiring bola saja tidak bisa, memalukan. Mangkanya hanya Minhyuk yang mau sama dia", Minseok mulai menggerutu.

Tawa Luhan semakin lebar, "Tapi masih kerenan aku juga saat nyatak gol".

Siwon dan Jongwoon semakin pundung. Sialan, tidak tau apa kalau mereka lagi galau masalah bola.

"Lu", Jongwoon memanggil dengan aura pekatnya.

"Ye?", Luhan menoleh dengan tampang bloonnya.

"Aku menolakmu sebagai menantuku", dan sebiji meteor jatuh menimpa kepala Luhan.

Sehun menyerinyai, 'Rathain', batinnya cadel.

**Keys13th**

Jongin berjalan masuk ke ruang makan dengan tampang bangun tidurnya. Bocah itu menguap lebar dan mendudukkan dirinya di samping Sehun, "Selamat pagi".

Plakk

"Pagi kepalamu itu", Sehun menggerutu setelah menggeplak kepala Jongin sadis.

"Malam sayang", Hangeng datang lalu mencium pipi Jongin.

"Malam, Mom", bocah hitam menjawab malas sambil semangku kepanya yang rasanya pengen lepas saja sangking ngantuknya.

Sehun mencium pipi kiri Jongin, "Malam, baby", ucapnya dengan nada mengejek.

Jongin memilih tak peduli dan merebahkan kepalanya ke meja makan.

"Jong, jangan tidur. Waktunya makan", Kyuhyun datang dengan sepanci sup dan mendudukkan dirinya di samping Jongwoon.

Jongin mengangkat kepalanya, "Capek", keluhnya.

Siwon menatap putra tunggalnya iba. Tangannya ia gunakan untuk mengelus kepala bocah itu, "Kau tidak perlu bekerja sekarang, Jong! Daddy dan Ayahmu masih sanggup membiayaimu dan baby. Masih ada papa Sehun juga yang pasti juga akan membantu".

"Tidak", dengan nada cueknya Jongin menjawab, "Dia anakku. Bukan anak Daddy, Ayah, atau, Papa. Kalau aku tidak belajar mencari uang dari sekarang, bocah diperut Sehun akan mirip Papanya dan akan membangkangku seenak udelnya", jeda, "Selain itu, Sehun akan menjadi-jadi dan aku akan berakhir seperti ayah dan papa yang takut pada istrinya sendiri".

Jongwoon mendelik, "Kurang ajar", pria itu melempar sebuah irisan wortel ke arah Jongin.

"Oh ya! Apa kau sudah menyiapkan nama untuk baby?", Minseok bertanya antusias. Bahkan bocah itu sampai mencondongkan tubuhnya kedepan tanpa sadar.

"Belum", Jongin mulai mengambil sesuap nasi yang tadi diambilkan Kyuhyun, "Aku belum memikirkannya.

"DaeBong", saut Sehun, "Aku maun namanya DaeBong!"

"Jelek", saut Jongin dengan nada tanpa dosanya, "Hilangkan 'Bong'nya".

Sehun mendelik, "mana ada nama Cuma 'dae' doing?"

"Kim Dae? Tidak buruk", Jongin menganguk-anggukkan kepalanya.

"Maksudmu Oh DaeBong?", Sehun merasa tidak terima, "Aku papanya!"

"Choi Dae", Siwon ikut nimbrung.

"Itu anakku dad, bukan anakmu", Jongin melotot ke arah Siwon sebal.

"Tapi tidak ada yang mau bermarga 'Choi' di sini, relakan saja", Siwon Kekeuh.

"Kim Dae"

"Tidak! Yang benar Oh DaeBong"

"Choi Dae"

"Kim Dae"

"Oh DaeBong"

"Choi Dae"

Perdebatanpun akhirnya terjadi. Suasana makan yang harusnya tenang berubah ricuh. Dan Minseok si biang masalah hanya memakan makanannya santai, "Aku Cuma Tanya, kenapa mereka seserius itu?"

"Ahh.. Abaikan saja", Kyuhyn menyaut dengan tampang malas.

-TBC-

A/N: Maaf lama T_T pendek pula #pundung

Gue ngeblank. Bayangin dehh, punya ide tapi kaga tau cara ngungkapinnya. Lagipula kalo udah masuk kuliah tu bawaannya mau mikir males #Plakk mangkanya ini mumpung libur gue lanjut #nyengir.

Oh ya, ngebosenin ngga sihh? Gue berusaha bikin feel romance, kaga tau dehh bakal ngena atau malah ngebosenin, hhehehehe. Maap ya kalau malah bikin ngantuk.

Maaf ga bisa bales reviewnya. Gue pengen cepet-cepet post dan kelar. Hehehehe.

Thanks banget buat semua readersku, baik yang siders, yang udah review, fav, n follow. Pokoknya thanks banget.

Maaf kalau tulisan gue masih banyak kekurangan dan tidak sempurna, hehehehe. Typos juga mohon maklum ya.

Akhir kata, Review pleaseeeeee

Sign

Ghazy