CHAPTER 2 ( Menjadi Maid!? Jangan Bercanda! )
Hari ini hari Sabtu, aku memutuskan untuk jalan-jalan. Apartemenku menjadi tempat yang membosankan saat tidak ada kegiatan yang berarti.
Aku berkeliling kota tanpa tujuan, hingga akhirnya sampailah aku di pinggir kota. Ada kompleks perbelanjaan di sana. Aku tidak mengerti mengapa pemerintah tidak memindahkannya ke tengah kota.
Tempat itu cukup ramai untuk sebuah tempat di pinggir kota. Aku berkeliling, tempat ini menarik juga. Tapi hari semakin siang dan aku mulai lapar. Aku menemukan cafe maid. Tanpa pikir panjang aku masuk.
Cafe ini menarik, desain elegan mendominasi cafe ini. Ditambah para maid nya yang imut dan ramah. Saat aku masuk, aku disambut oleh seorang maid. Aku kenal dia, teman sekelasku.
"Sasha?" aku memanggil namanya.
"Atsuko-chan," wajah Sasha terkejut saat melihatku.
"Kau imut Sasha, dengan pakaian maid itu," aku tersenyum.
Sasha tersenyum "Terima kasih nona, anda ingin me-"
"Atsuko?" aku mendengar seseorang menyebut namaku. Aku menoleh ke asal suara itu. Perempuan berambut coklat memakai kacamata menghampiriku.
'Siapa dia? Aku tidak ingat pernah bertemu dengannya.'
"Apa kita pernah bertemu?" tanyaku, menaikkan satu alis.
"Ahh, gomen na salah orang. Tapi kau mirip sekali dengan temanku dulu. Bahkan nama kalian sama," perempuan itu memberi isyarat kepada Sasha untuk meninggalkan kami berdua.
"Bisa kau ikut aku sebentar," perempuan itu mengisyaratkan aku untuk mengikutinya. Apa aku akan kena hukuman? Tapi aku hanya memuji Sasha, lagi pula Sasha tidak keberatan aku puji. Dasar empat mata sialan.
Perempuan itu membuka pintu kantornya. Mempersilakanku untuk duduk.
"Jadi, apa kau butuh pekerjaan Atsuko?" tanyanya.
Aku menaikkan satu alisku.
"Aku bahkan belum tahu namamu, atau aku akan memanggilmu empat mata sialan," aku memicingkan mata.
Perempuan itu terbahak-bahak. Memukul-mukul meja sambil memegangi perutnya.
"Kau... mengingatkanku pada si pendek itu, ha ha ha."
"Si pendek? Jangan bilang kalau dia juga memanggilmu empat mata sialan. Hmph tidak buruk juga si pendek itu," aku menyeringai.
"Aku Hanji Zoe, pemilik cafe maid ini. Kita kesampingkan soal si pendek itu. Jadi, kau butuh pekerjaan?" tanya Hanji.
"Jangan bilang kalau aku harus jadi maid dengan memakai pakaian penuh renda sialan yang menjijikkan." aku memicingkan mata "Jangan bercanda."
"Kami kekurangan maid, kalau tidak mau ya sudah. Padahal bayarannya cukup tinggi untuk anak SMA sepertimu," Hanji beranjak dari kursinya.
Mataku melebar. Kemudian berlari menghentikan Hanji.
"Berapa bayarannya?" tanganku menghalangi pintu.
Hanji mengacungkan angka 3.
"Tiga Ven? Itu tinggi? Untuk beli kudapan saja kurang," aku menyilangkan tangan di dadaku.
"3000 Ven, sayang..."
"3000?! Jangan bercanda."
"Untuk apa aku bercanda, jadi bagaimana?" tanya Hanji.
Sunyi.
Aku mengarahkan mataku ke segala arah. Kebiasaan saat sedang gugup. "B-baiklah, aku terima kalau bayarannya 3000 Ven," tanganku memegangi kepala belakangku.
Hanji menyeringai lebar. Aku bersumpah melihat aura-aura gelap di sekitarnya.
"Ke-kenapa ada aura gelap di sekitarmu?" aku berjalan mundur, menjauh darinya.
Hanji tertawa pelan, lama kelamaan semakin keras. Aku berjalan mundur makin menjauh darinya.
"Atsuko... akhirnya. AKHIRNYA! Huahahahahahah."
'Huwaa, aku harus kabur!'
Aku mengambil ancang-ancang, bersiap untuk kabur. Tetapi Hanji sudah memegang pergelangan tanganku.
"Akhirnya, aku menemukan boneka yang bisa aku dandani," kepala Hanji menunduk.
"EHHHH."
"Ehhemmm, maaf atas gangguan tadi. Let's get serious now."
Aku menghela nafas. Hanji memang sudah gila, lebih cocok aku panggil empat mata sialan.
"Kau bisa mulai besok, tetapi hari ini aku akan mengajari dasar- dasar menjadi maid," Hanji mengeluarkan sesuatu dari laci besar yang ada di kantornya. Aku melihat baju maid pink dengan renda- renda putih.
"Lebih baik aku mati dari pada memakai itu," aku menunjuk baju itu dengan tatapan jijik.
"Apa karena warnanya? Hmm... kau suka warna apa?" Hanji mengacak- acak laci besarnya itu mencari sesuatu.
"Hitam."
Siiingg...
Hanji menatap tajam ke arahku.
"Dengar, kau itu anak perempuan. Aku tidak pernah menjumpai gadis yang menyukai warna hitam, bagaimana kalau warna lain?"
"Hitam bukan warna favoritku, tapi aku pikir untuk mengurangi kesan menjijikkan dari baju itu, aku pilih warna hitam."
# # #
"Selamat datang tuan," aku membungkuk dan memaksakan senyum semanis mungkin.
"Hhhh, Atsuko. Jangan memaksakan senyum. Kau terlihat umm... menjijikkan? Lebih baik menjadi diri sendiri saja," Hanji mengomentariku dari kursinya.
"Wha- kau menyebutku menjijikkan?!" aku menyeringai. "Bagaimana kalau, selamat datang di negeri sialan tuan, saya harap anda tidak mimisan selama kunjungan, orang tua mesum."
"Hei, kita sedang serius di sini. Dan perbaiki cara bicaramu itu. Kau itu manis sekali Atsuko, terutama setelah aku mendandanimu dengan baju maid itu. Mungkin pelanggan yang datang bisa dibuat mimisan olehmu." Hanji berdehem. "Maksudku menjadi diri sendiri adalah kau tidak perlu senyum dibuat-buat, siapa tahu kau punya karakter unik tersendiri."
"Hhh, oke. Selamat datang tuan," aku mencoba sekali lagi.
"Itu terdengar lebih baik. Pertahankan, besok kau bisa mulai bekerja. Pukul 10 tepat kau sudah harus di sini," Hanji beranjak dari kursinya. "Oh, iya. Atsuko, kuncir rambutmu persis seperti ini besok."
"Kalau aku menguncirnya di sini bagaimana? Aku tidak mau menghancurkan reputasiku saat di perjalanan aku bertemu teman sekolahku."
"Setuju, kau boleh pulang."
