CHAPTER 3 (Si Pendek dan Si Cebol Sialan)
"Hai Ma!" seruku melambaikan tangan ke arah smart phone ku. Yup! Mamaku menghubungiku via video call.
"Hai sayang. Apa kabar? Sehat kan? Sepertinya kau sedang berjalan, mau kemana?" Mama menghujaniku dengan banyak pertanyaan. Tidak mengherankan karena belakangan ini aku belum menghubungi Mama.
"Aku baik, sehat se sehat unicorn penendang pantat."
Mama tertawa dibuat-buat. "Atsuko, Mama tidak suka lelucon kasarmu. Perbaiki cara bicaramu, dan kau belum menjawab pertanyaan Mama yang terakhir."
Aku mendesah, sedikit jengkel dengan Mamaku yang cerewet ini. "Aku mau kerja."
"Haaah?! Kerja? Dimana? Gajinya berapa?"
Aku memegangi kepalaku, menggelengkannya. "Ma, enggak usah khawatir. Aku kerja di cafe maid pinggir kota. Gajinya 3000 Ven. Pemiliknya baik, sangat baik sampai menjadikanku boneka untuk didandani."
"Hahahaha. Baiklah jangan nakal. Mama dan Kenta akan mengunjungimu secepatnya. Take care honey..."
"Oke Ma."
Saat aku mengakhiri pembicaraan dengan Mama, cafe tempatku bekerja sudah kelihatan. Aku berlari masuk lewat pintu belakang.
Aku berjalan menuju loker. Mengganti baju dengan pakaian maid sialan itu. Sepertinya aku harus berhenti menyebut pakaian itu 'sialan' atau 'menjijikkan' karena aku akan terus memakainya selama bekerja di sini.
"Atsuko-chan! Kau bekerja di sini juga?" Sasha menghampiriku yang beranjak ke pintu. "Kau manis sekali! Dengan baju maid dan rambut dikuncir setengah." Sasha mencubiti pipiku.
"Dengar Sasha, hanya kau, orang dari sekolah yang tahu aku bekerja sebagai maid. Jangan bilang kepada siapapun, atau reputasiku akan hancur," kataku dengan nada datar.
"Baiklah! Jadi aku orang spesial yang tahu rahasia terbesar sang gadis tomboy Atsuko-chan!"
"Sampai jumpa di depan Sasha," aku berjalan ke cafe.
Aku berjalan menuju pintu dan dalam perjalanan aku berusaha menyapa karyawan lain. Hampir sampai di pintu, aku merapikan bajuku sedikit.
Clingg...
'Yosh pelanggan pertamaku. Semangat Atsuko, Semangat!'
"Selamat datang tuan," aku membungkuk, sedikit mengintip siapa pelanggan pertamaku.
'Sial! Cebol itu pelanggan pertamaku! Gawat.' aku menelan ludah. 'Aku harus bersikap manis, si cebol itu tidak boleh tahu kalau aku kerja di sini.'
Aku mengantar si cebol ke mejanya. Menyodorkan menu.
"Hari ini kami punya menu spes-"
"Aku tidak butuh menu sialan ini, antar aku ke empat mata sialan. Brat Maid," cebol itu melempar menunya ke arahku.
Aku hampir naik darah. Dia memanggilku brat (anak nakal)! Ok tarik napas, hembuskan.
"Apakah yang anda maksud Hanji- san, tuan?" aku berbicara semanis mungkin.
Ia memicingkan mata dan menyondongkan tubuhnya ke arahku. "Apa harus ku ulangi, maid sialan?"
'Maid sialan katamu?! Kau cebol, pendek, sok keren padahal enggak keren!' aku mengepal tanganku yang berada di samping tubuhku.
"Mari saya antar tuan."
Aku berjalan beberapa langkah di depan cebol. Sunyi, aku tidak tahu harus ngomong apa! Syukurlah pintu kantor Hanji- san mulai terlihat.
'Sial, aku tidak tahu namanya. Kuharap si cebol ini tidak protes.'
"Hanji- san! Umm... ada yang mencarimu."
Pintu kantor Hanji- san terbuka. "Hei, pendek! Akhirnya kau sampai juga. Masuk, masuk."
'Pendek? Jangan- jangan si pendek yang dibilang Hanji- san kemarin si cebol ini' aku terpaku di tempat, membayangkan berbagai macam kemungkinan aneh yang terjadi kalau Hanji- san sampai menyebut namaku.
"Ah, Atsuko- chan. Kau juga masuk," Hanji- san membuka pintu kantornya selebar mungkin.
'Sial! Hanji- san menyebut namaku. Tuhan, jangan biarkan cebol tahu kalau aku kerja disini...'
"Eh, a-anu. Kenapa aku harus masuk juga?" tanyaku dengan nada suara semanis mungkin.
"Masuk sajalah."
"Dasar empat mata sialan..." gumamku.
Si cebol itu melirikku. Aku menatapnya. Sekilas ia menyeringai seperti orang bodoh. Ada apa dengannya?!
"Aku mendengarnya Atsuko- chan," Hanji- san duduk di kursinya.
Aku menggembungkan pipi.
"Oi, cewek sialan," cebol itu memanggilku.
"Aku punya nama CEBOL SIALAN!" aku tidak sengaja berteriak dan itu sudah pasti membongkar identitasku. Spontan aku menutup mulutku dengan tangan.
'Ouchh... Bodohhh! Kenapa aku harus keceplosan? Bodoh kau Atsuko! Bodoh!'
"Kau pikir kau dapat menyembunyikan identitasmu dengan bertingkah sok manis, Atsuko Lent?" tatapannya yang dingin menatapku.
"Oooh, kalian sudah kenal satu sama lain? Apa kalian pacaran? Levi tidak pernah menggoda gadis sebelumnya. Kau yang pertama Atsuko- chan," Hanji- san menaikkan kakinya ke atas meja, alisnya bertautan terkesan sedang menggodaku, umm... kami berdua.
"Kami enggak pacaran. Siapa juga yang mau pacaran sama dia, cebol sialan," aku meliriknya sebal.
"Atsuko- chan, aku sering mendengar kalimat ini. Jika kau membenci seseorang, lama kelamaan kau akan jatuh hati dengannya," Hanji- san tersenyum mengejek.
"Enggak mungkin aku suka sama dia! Udah cebol sok keren lagi."
"Aku akan membunuhmu jika kau terus memanggilku cebol," suara dingin Levi menusuk telingaku.
"Salah siapa kau tidak mau memberitahu namamu? Aku sudah memperingatkanmu kalau kau tidak memberi tahu namamu, kau akan ku panggil cebol sepanjang waktu!" seruku.
"Ehheemm. Jadi, bisa kita mulai urusan kita di sini?" Hanji-san berdehem.
"Tch, kau membuang waktuku."
"Atsuko- chan, dia si pendek yang ku ceritakan kemarin. Namanya Levi Ackerman. Pendek, dia Atsuko."
Aku memutar bola mataku. "Hanji- san, aku mau kerja. Aku tidak ingin membuang waktuku di sini bersama cebol itu," aku keluar membanting pintu kantor Hanji- san.
# # #
Levi's P.O.V
Atsuko membanting pintu kantor empat mata sialan. Aku merasa sedikit bersalah padanya. Tapi dia begitu manis saat sedang marah.
"Kantormu benar-benar tempat yang paling kotor, empat mata sialan."
Hanji menggembungkan pipi. Membuatku jijik.
"Maaf kalau kantorku tidak memenuhi syarat kebersihanmu pendek!" Hanji berdehem. "Tidak ada waktu untuk bercanda."
...
"Oi pendek, dia benar- benar Atsuko pacarmu kan?" Hanji menurunkan kakinya. Wajahnya benar- benar serius.
...
"Levi, kita harus melindunginya. Aku merasa anggota Polisi Militer itu mulai mengincarnya."
"Aku tahu."
