CHAPTER 4 (Battle Basket)

Reader's P.O.V

"Hai Mikasa!" aku melambaikan tangan ke teman satu klub ku.

Mikasa menoleh. Tersenyum saat aku melambai. Ia menghampiriku.

"Atsuko, kamu sudah lihat hasil mid test di aula?" tanya Mikasa.

"Eh, hasilnya sudah keluar?"

Mikasa memberiku isyarat untuk mengikutinya. Sekarang ini jam olahraga, dan guruku ijin. Mikasa dan cebol sekelas, mereka juga sedang jam olahraga. Gurunya sedang cuti hamil, jadi kelasnya digabung dengan kelasku saat pelajaran olahraga.

"Sepi ya?"

Mikasa hanya diam. Bola matanya bergerak mencari nama di deretan kertas yang sudah ditempel di papan. Aku mencari namaku juga, dari ranking paling bawah.

"Mana ya?" jariku bergerak ikut mencari namaku. "Ah, ketemu."

Aku terpaku. Tak percaya apa yang barusan aku lihat.

"A-aku rangking dua..."

'Bagaimana bisa aku rangking 2?! Biasanya aku selalu rangking 1. Mari lihat orang sialan yang sudah merebut posisiku.'

Levi Ackerman

Mataku melebar. Tanganku mengepal. Wajahku merah padam. Nafasku tidak beraturan. Mikasa melirikku.

"Ada apa Atsuko?"

"KENAPA CEBOL SIALAN ITU RANGKING SATU?! KENAPA AKU LEBIH BODOH DARI DIA?! SIAL!" aku berteriak sekencang- kencangnya, kepalan tanganku mendarat di tembok aula.

Mikasa menutup telinganya.

"Tenanglah Atsuko."

"BAGAIMANA AKU BISA TENANG SAAT AKU LEBIH BODOH DARI CEBOL ITU?!"

"Oi, cewek sialan. Akhirnya kau mengakui bahwa kau itu BODOH," Levi berdiri di ambang pintu aula menatap langsung ke arah mataku.

Aku mengambil langkah besar- besar, menghampiri cebol itu. Aku menarik kerah baju olahraganya.

"Aku tantang kau main basket istirahat nanti di lapangan basket luar," aku melepaskan cengkramanku dari kerahnya. Mata abu- abu Levi memicing, wajahnya mendekat.

"Aku terima tantanganmu, cewek sialan," badannya berbalik, punggungnya menjauh dari pandanganku.

"Atsuko," Mikasa menepuk bahuku.

Aku meliriknya dengan tatapan dingin.

"Berjuanglah. Buktikan kau lebih baik dari Levi."

Aku mengacungkan jempol.

"Tentu saja, aku akan berjuang! Aku tidak pernah kalah one on one sebelumnya."

# # #

Angin musim gugur berhembus meniup apa saja yang menghalangi. Aku berdiri menunggu cebol sialan untuk menunjukkan batang hidungnya. Aku mulai kedinginan. Sial!

Seseorang berjalan ke arahku. Menenggelamkan kedua tangannya ke dalam saku. Wajahnya seperti biasa tanpa ekspresi.

"Kau membuang waktuku, cebol sialan."

"Bisa kita mulai? Hanya orang bodoh sepertimu yang ingin tanding di tengah-tengah musim gugur begini."

"Berhenti mengeluh!" aku menarik nafas, berusaha bersabar."Oke, aku jelaskan peraturannya. Waktu istirahat tinggal 45 menit. Waktu tanding kita 30 menit. Yang terbanyak mencetak skor sampai babak berakhir, dia yang menang. Setuju?" aku menjelaskan aturannya.

Cebol itu mengangguk. Dengan cepat ia menggulung lengan bajunya. Memasang tampang 'Bring it on, cewek sialan. Dan jangan buang waktuku.'

'Hmph, jangan meremehkanku cebol sialan! Akan ku buktikan, aku pasti menang!'

"Baiklah, aku mulai duluan."

Aku mendribble bola, mencoba melewati cebol yang menghadangiku. Cebol itu sangat cepat, dia merebut bolanya dariku.

"Wha-" aku berlari untuk merebut bolanya lagi. Tapi, sial! Dia terlalu cepat. Dia berhasil mencetak skor.

"itu 2," cebol menyeringai.

"Jangan lengah cebol!" aku merebut bola yang baru jatuh dari ring. Melemparnya langsung ke ring lawan. Dan... beruntung, bolanya masuk.

"Itu 3."

Beberapa bola kemudian...

"Cebol, kita seri. Waktu tinggal 20 detik. Kita akhiri saja, aku akui, kau hebat," aku berdiri di depan cebol yang sedang mendribble bola.

Tiba- tiba cebol melewatiku dengan kecepatan tinggi. Refleks aku mengejarnya.

Krek!

"Aww..."

Cebol itu berhasil memasukkan bola 3 detik sebelum babak berakhir. Skor 5-7. Aku menyeringai.

"Levi, kau yang pertama kali mengalahkanku dalam one on one. Selamat," aku mengulurkan tangan.

Levi berjalan ke arahku. Menjabat tanganku. Aku tersenyum.

"Kita belum berkenalan secara resmi. Aku Atsuko, Atsuko Lent. Aku akui kemampuanmu."

"Levi, Levi Ackerman."

"Lain kali aku tidak akan kalah Levi," aku berjalan. "Aw."

Aku hampir terjatuh. Mungkin kakiku sedikit terkilir.

"Oi, cewek sialan. Kakimu terkilir kan? Aku antar ke UKS," Levi menghampiriku.

Aku mendesis. "Hmph, padahal aku sudah mengakui kemampuanmu tapi kau masih memanggilku cewek sialan? Tidak usah, aku bisa ke UKS sendiri," aku berjalan tertatih- tatih.

"Wha-" aku merasa badanku diangkat ke udara.

"Jangan keras kepala," Levi menggendongku seperti pengantin membuat wajahku merah mendadak.

"Oi, turunkan aku. Malu- maluin! Aku bisa jalan sendiri! Oi, Levi!"

Levi diam. Mata abu-abunya mengarah lurus ke depan. Membawaku ke UKS. Beberapa orang melihat kami dengan tatapan aneh. Arrggh aku tidak tahan lagi!

"Cebol eh Levi! Turunkan aku!"

"Aku bilang jangan keras kepala. Diam saja."

Aku mulai merasa aneh dengan tatapan orang- orang. Aku merasa wajahku semakin memanas. Levi sialan! Tanpa aku sadari, wangi teh hitam yang menenangkan dari Levi tercium oleh hidungku. Aku juga merasakan tangan kuatnya menggendongku. Saat sedekat ini, aku baru menyadari bahwa Levi ternyata lebih maskulin dari yang terlihat dan membuatku merasa aman dalam dekapannya.

"Oi, cewek sialan udah nyampe UKS," Levi menendang pintu UKS, sehingga sedikit terbanting.

Aku mengedipkan mata. Kenapa aku mikirin Levi? Bodoh! Levi berjalan ke arah salah satu tempat tidur, kemudian membantingku di atasnya.

"Wha- kau memperlakukan orang sakit seperti itu?!" seruku.

"Tch, akhirnya kau mengakui bahwa kau sedang sakit."

Yuki-sensei masuk ke UKS berbarengan dengan bel masuk.

"Kakinya terkilir," Levi membalikkan badan dan menghilang di tikungan koridor. Mungkin dia kembali ke kelas. Yuki-sensei tersenyum padaku.

"Pertandingan yang menarik, Atsuko," Yuki- sensei mengambil obat dari almari obat.

"Huh?"

"Kau bertanding one on one dengan Ackerman kan?" Yuki-sensei mengoleskan minyak urut ke kakiku.

Mataku melebar. Pipiku memerah.

"W-well, bisa dibilang begitu," aku menghindari tatapan mata Yuki-sensei.

Wajah Levi muncul di pikiranku. Kenapa tiba-tiba aku membayangkan wajahnya?! Sialan! Kampret!

Yuki-sensei mengambil perban kemudian menutupi lukaku dengan perban.

"Dulu aku juga sepertimu."

"Sepertiku?" aku kebingungan.

"Dulu aku tomboy sepertimu, suka berkata kasar."

"Benarkah?"

Yuki-sensei mengangguk. "Ah, sudah selesai. Kau harus jalan pelan- pelan kalau tak mau lukamu memburuk."

"Atsuko, bolehkah aku mengepang rambutmu?" Yuki-sensei berdiri mengelus rambutku.

"Tapi, bel masuk sudah berbunyi dari tadi," aku hendak berdiri, tetapi dicegah oleh Yuki-sensei.

"Tenanglah, guru biologi ada urusan mendadak, dua jam terakhir kosong. Stay here with me," Yuki-sensei mengembalikan obat ke tempat semula.

"So, bolehkah aku mengepang rambutmu?"

Aku terdiam, sedikit ragu dengan tawaran Yuki-sensei.

"Umm...tapi sebelum pulang, rambutku aku kuncir kuda lagi ya?"

Yuki-sensei tersenyum kemudian mengangguk.

Beberapa kepangan kemudian...

"Nah, sudah selesai. Atsuko kau manis sekali! Seperti putri dari negeri dongeng."

"Aku yakin aku terlihat menjijikkan," gumamku.

"Kau terlihat manis sayang. Jangan menghina diri sendiri," Yuki-sensei menaruh sesuatu di kepalaku.

"Apa ini," aku sedikit menunduk, bola mataku berusaha melirik ke atas.

"That's flower crown, a gift from me to beautiful little princess."

"Terdengar menjijikkan."

Kringg!

"Ah, itu bel pulang. Sensei harus pergi. Take care on your way home, princess," Yuki-sensei melambaikan tangannya padaku. Aku tersenyum membalasnya.

Tiba- tiba Levi masuk, aku hampir serangan jantung dibuatnya.

"Oi, ketuk dulu. Kaget aku," aku mengelus dada.

"Ada apa dengan penampilanmu?" Levi bertanya, dengan wajah tanpa ekspresinya.

"Ah, Yuki-sensei yang mengepangnya. Menjijikkan bukan?" aku melepas flower crown dari kepalaku.

"Tidak, kau cukup manis."

Nafasku tertahan sesaat. Semua darahku mengalir ke pipiku mengakibatkan pancaran warna merah. Aku langsung menunduk, tidak percaya apa yang barusan Levi bilang.

"A-apa?"

"Tidak ada alasan aku harus mengulangi perkataanku," Levi berjalan ke arah pintu UKS. "Akan ku antar kau pulang. Cepatlah atau akan ku tinggal."

Aku menguncir satu rambutku dengan asal, tidak melepas kepangan Yuki-sensei. "Ah, aku bisa pulang sendiri. Lagi pula sebelum pulang aku mau mampir ke mini market, aku kehabisan beberapa bahan."

Levi berjalan ke arahku, mendekatkan wajahnya ke wajahku hingga hidung kami hampir menempel. "Tch kau cewek paling keras kepala yang pernah aku temui, apapun alasanmu aku tidak akan mengubah keputusanku cewek sialan," ia berbisik.

Wajahku memanas, nafasku tertahan. Tanpa pikir panjang aku mengangguk.

"Bagus, cepatlah atau akan ku tinggal."