CHAPTER 5 (Disaster Festival)
"Where the hell is your apartement?" Levi mulai terlihat jengkel. "Kau bilang apartemenmu dekat sekolah."
Aku mendesah keras. "Sepertinya tadi aku sudah bilang kalau aku mau mampir belanja di mini market. Itu apartemenku sudah kelihatan."
Levi memutar bola matanya. "Just hurry up, you shitty brat."
"SHITTY BRAT YOU SAID? At least say my name once. Bahkan aku mencoba berhenti memanggilmu cebol," seruku saat kami tiba di mini market dekat apartemenku.
"Hurry the hell up cewek sialan," Levi memberiku tatapan dingin yang menyeramkan, seperti... tatapan ingin membunuh.
"Umm... a- shh... kau pulang saja, rumahku sudah dekat. I can walk by myself," kataku sedikit terbata.
"No, I will walk you home. Benar- benar sampai apartemenmu," Levi berjalan menuju pintu mini market. "Jangan buang waktuku, cepatlah ambil kebutuhan sialanmu dan pulang."
"O-oke."
Beberapa belanjaan kemudian...
"Yosh! Ayo pulang!" seruku hampir melompat, tapi Levi menekan bahuku.
"Dasar bodoh, kau lupa kalau kakimu terkilir? Cewek bodoh."
Aku mendesah. "Hhh, ku rasa aku harus mencoba terbiasa dengan semua panggilanmu."
"Terserah, cepatlah kau cewek bodoh."
"Iya iya..."
Aku dan Levi berjalan menuju apartemenku. Aku berjalan sedikit tertatih- tatih, but that's fine. Levi helped me though.
Aku menelan ludah saat melihat ada tangga di apartemenku.
'Sial, aku lupa soal tangga itu.'
Tiba- tiba Levi mengambil belanjaanku dan berjalan menaiki tangga, kemudian menaruh belanjaanku di depan pintu apartemenku.
"A-ahh, arigatou. Kamu boleh pulang, karena kita sudah benar- benar di apartemenku."
...
Levi melemparkan pandangan dinginnya kepadaku. Membuatku merinding.
"J-jangan memandangku seperti itu! Aku merinding tahu!"
Levi berjalan ke arahku. Menatap mataku langsung dengan pandangan dinginnya.
"Jangan melih- ahhh"
Aku merasa badanku diangkat ke udara. Sepertinya ini Deja vu, atau perasaanku saja?
"Oi! Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri! Levi!" kakiku menendang-nendang udara, tanganku menutupi wajahku yang mulai memanas.
"Diamlah atau kau akan jatuh."
Ini terjadi lagi. Mengapa Levi tiba-tiba menjadi baik? Bagaimana aku membalas kebaikan Levi?
Tap Tap Tap
Tinggal beberapa langkah lagi menuju pintu apartemenku. Arrghh! Kenapa waktu terasa berjalan lambat?
"Buka pintu apartemenmu, akan ku bawa masuk belanjaanmu," Levi menurunkanku di depan pintu apartemen.
"Eh?" aku celingak-celinguk.
"Buka pintunya cewek bodoh."
"Oh- a- iya. Pintunya!" aku merogoh kantongku mencari kunci.
'Tuhan! Kenapa aku gugup begini?'
Kriek...
Aku membuka pintu apartemenku lebar-lebar, membuat bau vanilla menyebar keluar apartemenku.
Levi memindahkan belanjaanku ke dalam apartemen. Aku berdiri sambil melepas alas kakiku.
"Arigatou na Levi! Kau banyak membantuku hari ini. Beritahu saja kalau kau butuh bantuan."
Levi mengangguk, kemudian entah ini perasaanku saja atau bagaimana tapi aku melihat senyum tipis dari wajah Levi yang biasanya tanpa ekspresi.
"Wha- kau terse-"
Levi menempelkan bibirnya ke bibirku, melumatnya. Aku dapat merasakan lembut dan hangat dari bibirnya. Aku yang belum berpengalaman dalam hal ini hanya berdiri terpaku dengan mata membelalak.
Akhirnya Levi melepaskan kecupannya dari bibirku. Meninggalkan sensasi hangat di bibirku. Dengan seringai, ia berbalik menuju pintu.
"Kau manis tidak peduli bagaimana penampilanmu," setelah berkata begitu, ia menutup pintu dan menghilang dari pandanganku. Meninggalkanku sendirian dengan rona merah di pipiku.
'Di-dia menciumku?! Ke-kenapa? Eh ahhh, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.'
# # #
"Atsuko, tenanglah. Kita bisa memikirkan cara lain agar dia mau bicara," Hanji mengguncangkan tubuhku yang mulai memanas.
Pria yang sudah hampir mati itu menyeringai melihat perdebatan kami.
"Temee, akan kubunuh kau!" aku mengepalkan tanganku, nafasku mulai tidak beraturan.
"Atsuko, tenanglah!" Levi menatap langsung ke arahku dengan wajah tanpa ekspresinya. Tetapi aku bisa melihat dia mulai panik walaupun tidak mengekspresikannya.
"Arrggh! Lepaskan aku!" aku memberontak, mendorong Hanji hingga hampir terhempas ke dinding.
"Bicaralah atau kau akan ku bunuh," aku mencengkram pria yang kami siksa itu. Pria yang hampir mati karena tidak mau berbicara tentang rahasia yang disembunyikan kerajaan.
"Aku tidak akan mengkhianati raja walaupun nyawa taruhannya."
Aku mendaratkan kepalan tanganku ke arahnya. Pria itu terhempas jauh sekali hingga tubuhnya menatap dinding.
"Atsuko! Apa yang kau lakukan?!" Hanji berteriak, menghampiri pria itu.
Aku tersadar. "Are? Apa yang barusan aku lakukan?"
"Kau membunuh pria ini. Sekarang polisi militer pusat pasti mengincar kita."
# # #
Festival sekolah hari ini. Semenjak hari itu, aku selalu menghindar dari Levi, terutama dari tatapan matanya. Entah kenapa setiap melihatnya, wajahku selalu memanas dan jantungku bergetar hebat. Arrggh lupakan. Ada festival yang harus ku urus.
"Atsuko-chan! Ada pesanan lagi, cafe kita makin ramai!" seru Sasha.
"Haik haik, aku datang."
Kelasku, kelas 2-3 membuka cafe. Aku bertugas memasak, entah apa yang dipikirkan teman-temanku sehingga menaruhku di bagian memasak. Tapi ya sudahlah, aku juga bisa memasak.
Ada yang unik dari cafe kelasku. Yaitu... ada musik! Bukan lagu yang dinyanyikan artis melainkan lagu yang dinyanyikan aku dan teman-temanku. Jadi, beberapa hari sebelum festival kami diminta untuk mengumpulkan lagu yang kami nyanyikan sendiri untuk digabungkan. Unik menurutku, tapi aku enggak begitu yakin sama suaraku.
"Atsuko, shift mu sudah selesai. Keliling festival sana! Aku yang nggantiin."
"Oke, jaa ittekimasu!"
Aku berjalan menuju pintu, hampir menabrak seseorang.
"Ah, warui na," aku mengadahkan kepala, melihat orang yang hampir ku tabrak. "Senpai?"
"Ah Atsuko. Kebetulan, kakimu sudah sembuh?" tanya Ralph senpai, seniorku di klub karate.
"Sudah, aku bahkan bisa menendang wajahmu senpai!" seruku.
"Perkataan kasar seperti biasa ya? Aku lega kau sudah sembuh. Oh iya, temui aku di belakang sekolah pukul 4 nanti. Ada sesuatu yang mau ku bicarakan."
"Eh, kenapa tidak kita bicarakan sekarang?" tanyaku.
"Kau lihat, aku mau menikmati festival ini dulu dan aku masih ada shift siang ini di rumah hantu kelasku."
"Oh, ya sudah. Jaa ne senpai," aku melambaikan tangan kemudian keluar.
"Oi cewek sialan. Kau ingin membuatku lumutan?"
Aku menoleh ke asal suara itu.
'Ack, Levi. Duh pake ketemu dia segala lagi. Kabur Atsuko, Kabur!'
Aku membalikkan badan, berusaha kabur dari Levi. Tapi, Levi sudah mencengkram pergelangan tanganku, kuat sekali cengkramannya.
"Kau mau kabur kemana?" tanya Levi dengan tatapan dinginnya yang tajam.
"Ehh- etto anu..." aku merasa wajahku memerah, berusaha menghindari tatapan matanya. Entah kenapa saat aku melihat Levi aku teringat akan kecupan itu, teringat akan hangatnya bibir Levi.
"Ahh, Atsuko-chan! Pendek!" suara itu datang entah darimana. Aku mencari asal suara itu. Ternyata Hanji-san.
'Safe!Arigatou Hanji-san! Kau menyelamatkanku!'
"Apa yang kau lakukan di sini?" Levi melepaskan cengramannya dan tatapannya. Ia menatap Hanji-san.
"Tidak sopan! Aku kan berkunjung ke festival kalian. Be grateful, aku kan ikut meramaikan festival kalian," Hanji-san menggembungkan pipi.
"Hentikan itu. Kau membuatku jijik," Levi, dengan suara nada datarnya mengejek Hanji-san.
"Justru wajah tanpa ekspresimu yang membuatku jijik!" Hanji-san dan Levi berdebat. Chance! Aku harus kabur.
"Atsuko-chan, mau kemana?" Hanji-san memegang kepalaku. "Aku baru saja sampai, setidaknya bawalah aku berkeliling."
...
Tiba-tiba ada suara pengumuman. Memangnya ada pengumuman apa di hari festival?
"Kami akan memutar lagu yang dinyanyikan gadis tomboy sekolah, Atsuko Lent. Suaranya bagus sekali, hampir mirip dengan penyanyinya. Langsung saja kita dengarkan lagunya yang berjudul Yoru no Uta!"
"Eh? EHHHH!?"
Musik mulai mengalun. Suaraku mulai terdengar. Terdengar di seluruh sekolah.
"Akan ku hajar klub siaran! Akan ku hajar mereka," aku mengambil langkah besar- besar, menuju ruang siaran.
Hanji-san cepat-cepat mencegahku. Mengunci kedua tanganku. Sial aku tidak bisa bergerak.
"Empat mata sialan! Lepasin aku! Aku mau menghajar mereka, lepasin!" aku memberontak.
"Tapi aku mau mendengar nyanyianmu. Dan... suaramu merdu sekali!" Hanji-san mengeratkan kunciannya, dengan mata terpejam ia menikmati lagu.
"Lepasin!" kakiku menggila, menendang-nendang udara.
"Oi, cewek sialan. Tenanglah," Levi berdiri di depanku, dengan tatapan matanya mengarah langsung ke mataku.
"AKU ENGGAK MUNGKIN TENANG. SUARAKU TERDENGAR DI SELURUH SEKOLAH. MANA MUNGKIN AKU TENANG?!" aku berteriak sejadi-jadinya.
"Bagaimana kalau aku bilang kalau aku suka suaramu. Suaramu merdu dan menenangkan."
Dheg
Nafasku tertahan. Wajahku merona merah. Seluruh tubuhku berhenti menggila seperti anjing yang mendengar perintah majikannya. Levi menyeringai.
"Aku suka suaramu, biarkan aku mendengarkan lagunya sampai habis."
Badanku melemas hingga terlepas dengan sendirinya dari kuncian Hanji-san. Aku duduk sambil memeluk lututku, menenggelamkan kepalaku di dalamnya.
# # #
Aku berlarian di koridor. Akhirnya aku kabur dari kegilaan Hanji-san. Ia mencoba memakaikanku gaun sialan yang ia dapatkan dari klub menjahit.
Aku terengah-engah seperti orang gila. Akhirnya Hanji-san sudah tak nampak.
'Dasar empat mata sialan. Untuk apa dia membuang uangnya untuk gaun sialan?'
Aku melihat jam tanganku.
"Aw, sial aku telat. Senpai pasti sudah menunggu dari tadi," aku langsung dash menuju belakang sekolah.
"Atsuko, akhirnya kau datang juga," Ralph-senpai menghampiriku yang masih terengah-engah.
"G-gomen senpai. Hah hah hah, aku habis kejar-kejaran tadi."
"Kesini, mendekatlah," senpai memberi isyarat dengan tangannya supaya aku mendekat. Aku melangkahkan kaki mendekat ke Ralph-senpai.
"Di sini sepi ya?"
Grep
Ralph-senpai memojokkanku ke dinding, mengurungku dengan kedua tangannya di samping kepalaku.
"Senpai? Apa yang kau lakukan?" keringat dingin mulai meluncur ke pelipisku.
"Membalaskan dendam kawan lamaku yang sudah meninggal," Ralph-senpai terlihat sedang merogoh sesuatu dari sakunya.
Aku meluncurkan tinju ke Ralph-senpai. Tetapi dengan tangan besar dan kuatnya, ia mengunci kedua tanganku dengan hanya satu tangan. Badanku tidak bisa bergerak, pikiranku blank, dan tenggorokanku kering.
"Bersiaplah merasakan sakit yang dirasakan kawanku, pasukan pengintai," Ralph-senpai menodongkan pisau ke daguku.
'Ugh, seseorang tolong aku. Levi!'
Pisaunya berubah posisi tepat mengarah ke jantungku.
"LEVI!"
