CHAPTER 6 (The Truth Behind My Dream)

"LEVI!"

BRUK!

Levi datang, ia meninju Ralph-senpai. Pisaunya terlempar jauh. Aku takut setengah mati sampai tidak bisa bergerak, yang bisa ku lakukan hanya menonton.

Levi menghajar Ralph-senpai, tetapi Ralph-senpai juga tidak mau kalah. Terjadilah pertengkaran, tetapi entah kenapa Levi terlihat sangat marah. Dan semakin banyak ia mendaratkan tinju, semakin kuat pula tinjuan itu. Sampai akhirnya Ralph-senpai kabur entah kemana.

Aku masih tidak bisa bergerak, dan nafasku tidak beraturan.

"Atsuko, kau baik-baik saja?" Levi berlari ke arahku dengan luka lebam di tangan kanan dan wajahnya, mulutnya juga mengeluarkan sedikit darah.

"Le-Levi! Aku takut sekali, aku takut!" entah mengapa aku memeluk Levi, menangis dalam pelukannya.

Aku menangis sejadi-jadinya, menuangkan semua ketakutanku lewat air mata dan mempererat pelukanku.

"Tenanglah, sekarang sudah aman. Aku sudah menghajarnya," Levi membalas pelukanku, lebih erat.

# # #

Author's P.O.V

"Oi pendek!" Hanji menampakkan dirinya dari tikungan bangunan.

Dengan nafas terengah-engah, ia tersenyum melihat kamu dan Levi berpelukan. Namun ekspresi Hanji berubah melihat ada yang aneh dari adegan tersebut.

"Levi, Atsuko! Ada apa? Kenapa Levi babak belur? Kenapa kau menangis Atsuko?" Hanji berlari menghampiri kalian.

Levi menatap Hanji. "Polisi militer baru saja menyerang Atsuko. Sepertinya mereka sudah membuat pergerakan."

"Hiks... hiks... apa hiks... itu po-polisi hiks... militer hiks...?" tanyamu yang masih menangis tersedu-sedu.

"Akan ku jelaskan nanti. Yang terpenting sekarang membawa Levi ke UKS," Hanji memasang ekspresi serius. Benar-benar serius.

Kamu mencoba mengatur nafas kemudian angkat bicara.

"Aku yang akan mengurus Levi, salahku Levi jadi terluka," kamu melepaskan pelukan, matamu menjelajahi luka di badan Levi. "Hanji-san pulang saja, pasti kau sudah lelah. Biar aku yang urus."

"Tapi-"

"Biar aku yang urus Hanji-san. Aku tidak perlu mengulang perkataanku kan? Seperti yang kau lihat, aku tidak terluka sama sekali."

"Kau yakin?"

Kamu mengangguk, memasang wajah seriusmu. Mungkin ini wajah paling serius yang pernah kamu ekspresikan.

"Baiklah. Ini, hadiah dariku, aku tidak memaksamu untuk memakainya. Tapi, terima saja," Hanji menyerahkan tas berisi gaun kepadamu.

"Arigatou na Hanji-san."

Hanji melangkah meninggalkan kalian berdua. Levi melirik ke arahmu.

"Ayo ke UKS."

Kamu menarik tangan Levi. Tapi, Levi menolak untuk berjalan mengikutimu.

"Kenapa Levi?" kamu membalikkan badan, menatap langsung matanya.

"Bawa aku ke apartemenmu, aku yang akan menjelaskan tentang polisi militer dan lainnya," kata Levi dengan nada datar seperti biasanya.

"Dan yang lainnya? Masih ada yang lainnya?"

Levi hanya diam, satu-satunya hal yang ia lakukan hanya membalas tatapanmu. Tapi kamu dapat merasakan bahwa tatapannya bukan tatapan dingin, melainkan tatapannya lembut dan... penuh perhatian.

Tanpa sadar kamu mengelus rambutnya, perlahan tanganmu bergeser ke pipinya mengelusnya. Air mata tiba-tiba meluncur dari matamu. Kamu sendiri pun tidak tahu mengapa kamu menangis.

"Are? Ada apa dengan air mata sialan ini?" kamu menyeka air mata yang mulai mengalir menuruni pipi.

Tangan Levi dengan lembutnya mengelus rambutmu, namun ekspresinya tetap tidak berubah, dingin.

"Menangislah di apartemenmu jika kau tidak ingin reputasimu hancur."

# # #

Reader's P.O.V

"Levi, keberatan jika kau menceritakannya sekarang?" aku hampir selesai mengobati luka lebam Levi.

Yeah, sekarang aku dan Levi ada di apartemenku. Luka Levi tidak terlalu berat, hanya beberapa luka lebam.

...

"Levi, aku mulai merasa aneh. Mengapa kau tidak menggerakkan tangan kirimu daritadi? Tangan kirimu baik-baik saja kan?" aku memegang pergelangan tangan kiri Levi.

"Yeah, tangan kiriku baik-baik saja. Aku tidak akan membuang waktu, akan ku ceri-"

Karena diliputi rasa penasaran dan rasa curiga, aku memegang pergelangan tangan kiri Levi erat-erat menjaganya agar ia tidak menggerakkan tangan kirinya.

"Apa yang kau lakukan cewek sialan?" Levi terlihat jengkel.

Aku membalik tangan kiri Levi. "Oh Tuhan, ada luka sayat. KENAPA KAU MENYEMBUNYIKANNYA?"

"Aku tidak merasa harus memberi tahumu."

"Tapi, ini luka terparah dari lukamu yang lain! Kalau infeksi bagaimana? Kau akan membuatku repot!" aku cepat-cepat mengelap luka Levi dengan kompres air hangat.

"Aku tidak menyuruhmu mengobatiku."

"Diamlah, kau membuatku muak," aku mengompres luka itu dengan hati-hati. "Bagaimana bisa kau mendapat luka ini?"

"Tidak ada alasan bagiku untuk memberitahumu."

Aku mendesah. "Dengar, ini bukan saatnya untuk berdebat. Aku sedang mengkhawatirkan mu kau tahu?" aku berkonsentrasi membalut luka Levi dengan perban.

...

"Tentang polisi militer, kau harus berjanji tidak akan menyesali apapun," Levi, matanya menatapku.

"Hm hm, sebelum itu aku mau tanya tentang sesuatu."

"Tentang apa?"

"Ah sudah selesai," aku mengecup luka Levi. "Sakit, sakit pergilah!"

Mata Levi melebar, seakan tak percaya apa yang barusan aku lakukan. Refleks, aku menutup mulutku dengan tangan.

"G-g-g-gomenn, a-anu aku tidak bermaksud melakukannya. I-itu kebiasaan, dulu adikku, Kenta sering bertengkar dengan temannya. Setiap selesai mengobati lukanya, aku selalu melakukan hal itu. Go-gomen na Levi, aku benar-benar tidak sengaja," aku berjalan mundur sejauh mungkin dari Levi, berharap ia tidak melihat semburat merah yang muncul di pipiku.

Levi, memandangi lukanya sesaat. Kemudian, tersenyum. Ini bukan seringai bodohnya yang biasa, melainkan benar-benar sebuah senyuman yang terlukis di wajahnya.

"Oi, cewek sialan kemarilah!"

"A-a-a-a-ku b-bisa du-"

"Kemarilah, cepat!"

Aku menggerakkan kakiku perlahan, sedikit ragu apakah aku harus melangkah maju atau tidak.

'Bagaimana ini? Tapi, mungkin ia hanya ingin menjitak kepalaku karena telah melakukan itu. Tenang Atsuko, mungkin dia hanya ingin melakukan itu.'

Aku melangkah maju, hingga akhirnya aku benar-benar di depan Levi.

"Berlututlah," kepala Levi menunduk entah kenapa.

Aku berlutut, mungkin ia memang ingin menjitak kepalaku.

"Aku akan menghukumu atas apa yang kau lakukan tadi," Levi, menatap kearahku.

Levi mendaratkan bibirnya ke bibirku. Kehangatannya menyebar membuat wajahku memerah seketika.

"Rasakan itu cewek sialan. Soal tadi, kau mau tanya apa?"

Aku masih berlutut, terkejut atas 'hukuman' tiba-tiba Levi.

"Kau terlihat seperti orang bodoh. Duduklah, kau mau tanya apa?"

Aku berusaha bersikap biasa saja walaupun jantungku bergetar hebat. Aku duduk di seberang Levi.

"Aku mau tanya soal mimpi yang belakangan ini muncul. Mimpi aneh, dan sedikit mengerikan."

"Mimpi?"

Aku mengangguk. "Aku, kau, dan Hanji-san berada di sebuah ruangan. Dinding ruangan itu penuh cipratan darah, ada juga alat penyiksaan. Dan di ruangan itu ada satu orang lagi, seorang pria yang sekarat," aku berhenti sejenak.

Aku melihat Levi terkejut. Belum pernah ia menampakkan ekspresi seperti itu.

Aku menarik nafas. "Aku terlihat sangat marah dan sangat ingin membunuh pria itu. Tetapi Hanji-san mencegahku, dan aku malah mendorongnya hingga terhempas, tubuhnya hampir menyentuh tembok. Aku mencengkram pria itu, memaksanya untuk berbicara. Tapi, ia bilang ia tidak akan mengkhianati raja. Walau kau terlihat tenang, aku tahu kau panik dan bingung apa yang harus kau lakukan. Aku meninju pria sekarat itu hingga tewas."

...

Hening sejenak. Levi menarik nafas kemudian bicara. "Mimpimu itu bukan sekedar mimpi, itu bisa dibilang sebuah memori. Memori dari kehidupan sebelumnya. Dan itu berkaitan dengan apa yang ingin aku jelaskan."

"Memori dari kehidupan sebelumnya? Berarti aku benar-benar menyakiti Hanji-san, dan aku benar-benar membunuh orang itu?"

Levi diam sejenak, keraguan terlukis di wajahnya.

"Nee, Levi?"

"Orang itu adalah polisi militer pusat, orang yang menyembunyikan rahasia kerajaan. Kau, aku, dan Hanji adalah pasukan pengintai. Kami mati-matian mencari informasi yang berkaitan dengan Titan, dan informasi itu juga berhubungan dengan kerajaan. Ia tidak mengaku walau sudah disiksa. Ralph dan Yuki adalah rekan orang itu. Setelah mereka tahu orang itu mati, mereka murka dan memburu pasukan pengintai. Kau ingat?" Levi, mata tajamnya menatap ke arahku.

Aku menggeleng. "Hanya mimpi itu, tapi aku tidak merasa pernah mengalaminya."

Hening.

"Tunggu, kau bilang Ralph dan Yuki? Jangan bilang kalau Ralph-senpai dan Yuki-sensei?" aku memukul meja yang berada di depanku.

"Kalau kau sudah tahu, jauhi mereka. Mereka akan menyakitimu, seperti apa yang Ralph lakukan tadi."

"Bahkan Yuki-sensei? Tidak mungkin! Ia selalu baik kepadaku," aku menundukkan kepala.

"Kalau begitu, apa kau ingat hari itu?" Levi, ekspresi wajahnya melunak.

"Hari itu?"

"Ya, hari itu. Kau dan aku tidak akan melupakannya. Kau tidak ingat?"

Aku menggeleng. "Aku tidak tahu apa yang terjadi, aku tidak ingat semuanya. Tahun berapa itu?"

"800-an"

Aku mendesah. "Akan ku coba menging-"

Smart phone ku tiba-tiba berdering. Ternyata video call dari Mama.

"At-chan! Bagaimana kab-" Kenta memotong pembicaraan Mama, wajahnya memenuhi layar sekarang.

"Nee-chan!"

"Hai Ma, hai Kenta!"

"Ara, At-chan sayang. Itu siapa?" Mama menunjuk ke arahku. Umm, sepertinya ke arah belakangku.

Aku menengok ke belakang. Levi berdiri di belakangku, dengan wajah tanpa ekspresinya mengintip pembicaraanku dengan Mama dan Kenta.

"Apa yang kau lakukan di situ?"

"Tidak ada, hanya ingin berdiri saja di sini."

"Nee-chan, itu kan-" Mama menutup mulut Kenta.

"Heheheh," Mama tertawa dibuat-buat. "Pokoknya akhir pekan ini Mama dan Kenta akan mengunjungimu. Mama juga akan mengajak tunanganmu kesana, Daah At-chan!" Mama mengakhiri video call.

"Tunangan?" aku berpikir sejenak, aku tidak ingat pernah bertunangan. "EEEEHHHH! T-t-t-t-t-tunangan, jangan-jangan Mama mau memperkenalkanku dengan dia!"

"Tunangan eh?" Levi duduk di sebelahku, menyeringai seperti orang bodoh.

"K-k-kenapa?" wajahku memerah seketika, otakku memutar memori beberapa tahun yang lalu.

# # #

"At-chan!" Mama memanggilku.

"Kenapa Ma?" aku duduk di samping Mama.

Mama tersenyum bahagia sambil mengelus rambutku. Lama-lama Mama terkekeh.

"Mama tu kenapa sih?"

"Kamu dan anak temannya Papa dan Mama dijodohkan. Kita sebut saja tunangan ya,"

Mataku melebar. "Ma, siapa orang sialan yang dijodohkan denganku? Pokoknya dia enggak boleh seorang pengecut atau pecundang atau orang yang ada maunya atau-"

"Dia orang yang sempurna, saat umurmu 16 tahun Mama akan memperkenalkannya denganmu."

"Eeehhhh, aku enggak boleh tahu orangnya sekarang?" aku memelas.

"Sebelum umurmu 16 tahun kau tidak boleh mengetahui apa-apa tentangnya."

# # #

"SIAL! Aku akan bertemu orang itu akhir pekan ini setelah sekian tahun aku tidak boleh mengetahui apa-apa tentangnya?!" aku mengacak-acak rambutku.

"Kau benar-benar terlihat seperti orang bodoh," Levi menyentil keningku.

"Aw..." aku mengelus keningku. "Kau bodoh!"

"Pulanglah Levi! Aku- arrggh! Aku akan meninju tunangan bodohku itu saat dia berkunjung, aku-" nafasku mulai tidak beraturan. Dari awal aku tidak suka perjodohan itu, apalagi aku tidak boleh mengetahui identitasnya sampai umurku 16 tahun.

"Oke, aku pulang," Levi menunjukkan seringai paling bodohnya dan menghilang seiring pintu menutup.

"Dasar cebol sialan! Bodoh!"