CHAPTER 7 (Akhir Pekan yang Sibuk)

Aku terbangun dari tidurku. Mimpi aneh itu muncul lagi. Setiap mimpi itu muncul, aku selalu ingat tentang cerita Levi. Aku telah membunuh orang. Aku sudah muak dengan kenyataan itu.

Prang!

Aku terloncat dari tempat tidurku. Suara itu berasal dari balkon kamarku. "Siapa itu?!" aku berteriak.

Aku terpaku, tenggorokanku kering, keringat dingin memenuhi dahiku saat aku melihat siluet orang di balkonku. Ada dua orang di sana.

Aku menelan ludah, memberanikan diri mendekat ke jendela. "Siapa itu? Jangan jadi pengecut dan lawanlah aku!"

Tap tap tap

Siluet itu pergi. Melompat dari balkonku. Dengan gemetaran, aku mengintip dari gorden. Kosong, tidak ada orang di sana.

"Apa itu perampok?" aku menghela nafas. "Ya sudah, syukurlah mereka pergi."

# # #

Hari ini Mama dan Kenta berkunjung. Aku sedang memasak masakan kesukaan Kenta, kari pedas dan sepertinya aku akan membuat pie blueberry vanilla juga.

Ting tong!

"Oh, aku kira mereka sampai satu jam lagi," aku berlari menuju pintu, sudah tidak sabar bertemu dengan Mama dan Kenta, dan... aku ingin meninju wajah tunanganku.

"Hai Ma-" aku terkejut melihat orang di balik pintu. "Are, Levi? Apa yang kau lakukan di sini?"

"Hanya ingin berkunjung, aku bosan di rumah," Levi langsung nyelonong masuk. "Hari ini aroma vanilla berganti menjadi aroma kari pedas, huh?"

"Oh tidak kare nya!" aku berlari super cepat menuju dapur. "Huh, safe!"

"Apa kau datang kemari untuk menghancurkan akhir pekanku yang sudah hancur?" aku meraih tepung dari kitchen set. "Arrgh, sial! Aku harus mengambil kursi."

Tangan Levi meraih tepung dengan mudahnya. "Bisa dibilang begitu."

"Wow, ternyata cebol sepertimu bisa juga mengambil tepung yang bahkan aku tidak bisa mengambilnya, huh?"

"Tentu saja aku bisa, karena aku 10 cm lebih tinggi darimu. Dan seharusnya yang kau panggil cebol adalah dirimu sendiri," Levi menyentil dahiku, lagi.

"Aku memanggilmu cebol karena kau terlalu pendek di kalangan laki-laki, aku perempuan, tidak dihitung," aku mengambil bahan lain dari kulkas.

Ting tong!

"Siapa lagi itu? Orang yang datang untuk menghancurkan akhir pekanku yang sudah hancur?" aku mendesah.

"At-chan sayang... Mama rindu sekali sama kamu," Mama langsung memelukku.

"Yo, nee-chan!" Kenta berdiri di samping Mama, tubuh tinggi dan kokohnya menyender di ambang pintu.

"Akhirnya orang yang menghancurkan akhir pekanku datang juga," aku membalas pelukan Mama.

"Hei, itu tidak sopan! Mama dan Kenta sudah datang jauh-jauh lho! Bahkan Mama membawakanmu hadiah," Mama menyodorkan sebuah kotak.

"Jangan bilang ini baju imut sialan yang Mama pilihkan untukku," aku menaruh kotak itu di meja tamu. "Are? Aku kira Mama akan memperkenalkanku dengan tunangan sialan yang Mama bicarakan."

"Iya Ma, aku hanya melihatnya di foto. Jangan membuatku penasaran juga!" Kenta duduk di sofa, menaikkan kakinya di meja.

"Hmm... Mama dan dia berjanji untuk bertemu di apartemenmu langsung. Mungkin dia sedikit terlambat."

Tiba-tiba Levi muncul dari dapur, menenggelamkan tangannya di kantong celana dan dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasa.

Kenta meloncat dari kursi, menunjuk Levi "Bukankah itu orang yang di foto Ma?"

Aku dan Mama menoleh ke arah Levi. "Hmph, tidak mungkin Kenta. Dia hanya cebol sialan yang ikut-ikutan menghancurkan akhir pekanku," aku menyilangkan tangan di dada.

"Hush, Atsuko! Tidak sopan memanggil tunanganmu dengan sebutan cebol sialan. Ya kan nak Levi?"

Mataku melebar, kaget setengah mati setelah mendengar ucapan Mama. "EEEHHHH! D-d-d-d-dia t-t-t-t-tunanganku? BOHONG!" aku merasakan wajahku memerah seperti tomat masak.

"Untuk apa Mama bohong. Syukurlah kalian sudah kenal satu sama lain. Apa kalian sudah pacaran?" dengan polosnya Mama berkata seperti itu.

Kenta menghampiri Levi, Kenta yang tingginya 180 cm terlihat seperti ayah Levi. Tangannya menepuk kepala Levi. "Aku tidak percaya tunangan nee-chan secebol ini."

"Kenta! Jaga omonganmu!" Mama terlihat jengkel.

"Kenta, kau akan dibunuhnya jika berbicara seperti itu," aku berjalan menuju dapur, melarikan diri dan berusaha menyembunyikan rona merah di wajahku.

"Owh, aku akan mengakuimu jika kau mau tanding one-on-one denganku."

Levi mendongak, mata tajamnya menatap Kenta. "Kau sama bodohnya dengan kakakmu, kau ingin bertanding di tengah musim dingin?" dengan suara dinginnya, Levi menyusulku ke dapur.

"Eh? Nee-chan pernah tanding denganmu? Nee-chan itu hebat, terutama dalam one-on-one, nee-chan pasti menang," kata Kenta dengan bangga.

"Tidak juga, kakak tersayangmu kalah dan kakinya terkilir."

"Uso, Nee-chan kalah? Tidak mungkin! Nee-chan menantang semua laki-laki di SMP nya dulu, dan nee-chan selalu menang. Bahkan aku yang kapten basket di SMP saja dikalahkan olehnya."

"At-chan, mengobrolah di ruang tamu, biar Mama yang meneruskan," Mama mengambil alih dapur, mendorongku ke ruang tamu. Memaksaku duduk di sofa.

"Ne, nee-chan. Benarkah apa yang dibilangnya?" Kenta duduk di seberangku, menyilangkan tangannya di dada.

"Yahh, i-itu shhh. Emm..." aku mengalihkan pandanganku dari Kenta.

"Jadi itu benar ya?"

"Aku kan belum bilang!" seruku.

"Kau akan mengalihkan pandangan ke arah lain dan berbicara terbata-bata saat kau mencari alasan nee-chan," Kenta mendesah.

"Ne, Levi-nii mau main ToD?" Kenta menatap Levi.

"Cho-chotto! Kenta, kenapa kau memanggil Levi dengan sebutan Levi-nii? Dia bukan kakakmu!" aku sedikit kesal, merasa bahwa Kenta telah direbut Levi.

"Kenapa nee-chan? Levi-nii kan juga akan menjadi kakakku. Kakak iparku," Kenta menggodaku.

"Oh, diamlah Kenta!" aku membuang muka, menyembunyikan semburat merah di pipiku.

"Ne, Levi-nii?"

"Aku tidak ingin bermain permainan bodoh sialan itu," Levi menatap tajam ke arah Kenta, dengan wajah tanpa ekspresi, seperti biasanya.

"Makan malam siap! Ayo kemarilah anak-anak!" Mama memanggil dari ruang makan.

Kenta yang pertama berlari menuju meja makan.

"Oi cewek sialan!" Levi memanggilku.

Aku menoleh. "Nani?"

Untuk sesaat Levi memandangi wajahku. "Kau terlihat kelelahan, kurang tidur, dan pucat. Ada apa?"

Hening.

"Ahh~ itu cuma perasaanmu kok, aku sehat! Sesehat unicorn penendang bokong!" seruku sedikit melompat.

Levi tetap melempar pandangan dinginnya kepadaku. Sepertinya dia curiga. Aku cepat-cepat berjalan menuju ruang makan, meninggalkan Levi yang masih menatapku.

"Ah, at-chan. Ini sudah mengganggu Mama daritadi. Kau terlihat kelelahan dan pucat. Apa yang terjadi?" tanya Mama sembari memotong pie.

"Haruskah aku memberi tahunya?" aku menjatuhkan kepala ke meja makan.

"Harus! Karena aku Mamamu, aku berhak tahu apa yang terjadi pada anakku," Mama menatapku tajam.

Aku mendesah. "Yaa~ semalam ada orang di balkon kamarku, sepertinya perampok. Dan aku hanya terjaga sampai pagi. Hanya itu."

Mama terbelalak. "Hanya itu kau bilang? Mama dan Papa yakin telah memilihkan apartemen di daerah yang paling aman di kota."

"Entahlah, mungkin orang iseng yang melompat di balkonku. Nyatanya, mereka tidak membobol masuk apartemenku," aku mengambilkan Kenta kari pedas.

"Sepertinya Mama harus menyewa bodyguard untukmu," Mama duduk dengan memegangi kepalanya.

"Atau, aku bisa memasang ranjau. Hahaha!"

"Atau aku bisa mengawasimu," Levi yang daritadi diam tiba-tiba angkat bicara.

# # #

Aku mendengus keras.

'Sepertinya aku terlalu tertekan, dan stress. Arrghh! Aku bodoh sekali! Kenapa aku membunuh orang itu? Dan... Levi, dia selalu rela terluka demi aku. Aku tidak mau ada orang yang terluka karena kesalahanku...'

Aku mengacak-acak rambutku. Frustasi. Tiba-tiba angin musim dingin berhembus, membuatku menggigil.

"Kau memang cewek terbodoh, kenapa kau di luar tanpa memakai mantel, huh?" Levi keluar dari apartemenku, menemaniku di balkon depan sekarang.

Aku menghela nafas. "Yaaa~ aku memang cewek bodoh. Tapi kau lebih bodoh! Kenapa kau menawarkan diri mengawasiku? Mama jadi setuju kan? Kau itu sudah terlalu banyak menolongku tahu! Sampai kau terluka."

"Lagipula hanya sampai kau tertidur," Levi melihat ke bawah, entah ia memerhatikan apa.

"HANYA?! Apa kau vampir atau makhluk nocturnal ? Bagaimana kalau terjadi sesuatu kepadamu? Kau juga manusia, kau butuh tidur. Bagaimana kalau aku tidur dini hari?" aku menghujani Levi dengan protesanku.

Levi melingkarkan tangannya di pinggulku. Mendekatkan wajahnya ke wajahku, tatapan matanya melunak.