CHAPTER 8 (Hari Itu...)

Levi melingkarkan tangannya di pinggulku. Mendekatkan wajahnya ke wajahku, tatapan matanya melunak.

"Kau bilang akan meninju wajah tunanganmu, mengapa kau tidak melakukannya?" Levi berbisik, nafasnya hangat menyapu kulitku. Mengabaikan protesanku.

"A-aku..."

"Kau juga belum menjawab pertanyaanku tadi. Mengapa kau terlihat kelelahan?"

"I-itu... aku sudah menjawabnya saat makan malam tadi," aku mengalihkan pandangan dari Levi.

"Kau tidak menjawab 2 pertanyaan, Atsuko," wajah Levi semakin mendekat, hidung kami hampir menempel.

"A-aku, aku- a-aku sedang tidak mood meninju orang. Dan aku tertekan atas apa yang aku lakukan di kehidupan sebelumnya," aku berbisik, memberanikan diri menatap Levi. Aku merasakan wajahku menghangat.

"Aku tidak bisa menerima jawabanmu yang pertama, tidak masuk akal. Kemarin kau bersemangat ingin meninju tunanganmu. Tidak mungkin mood mu langsung berubah," Levi menyeringai, ia sedang menggodaku!

'Aduh... kena aku! Duh...'

"Mungkinkah kau telah jatuh hati kepadaku, Atsuko?" wajahnya semakin mendekat, bibir kami hampir bersentuhan.

Aku terpaku, benar juga apa yang dikatakan Levi. Kenapa aku jadi tidak ingin meninju tunanganku? Ada apa denganku? Bagaimana jika tunanganku orang lain? Apakah aku tetap akan meninjunya?

Wajahku merah total, nafasku tertahan seiring Levi menempelkan bibirnya ke bibirku. Melumatnya. Aku memilih memejamkan mata, tidak berani menatap Levi.

CEKREK!

"WAI! Aku dapat fotonya! Aku dapat fotonya! Mama! Lihat ini Ma!" Kenta kabur dari pintu, meloncat-loncat seperti orang gila.

Levi melepas kecupannya. Aku bersumpah melihat rona merah di pipinya. Tapi dia langsung memasang wajah tanpa ekspresinya, pura-pura melihat pemandangan.

"A-A-A-A, KE- KENTA! KESINI KAU!" aku berteriak, masuk ke apartemen. Mengejar adikku yang jahil itu.

"Tangkap Ma!" seru Kenta melempar kamera ke Mama yang sedang nonton TV.

"E-eh! Kenta! Kenapa sih? Kalau kameranya rusak gimana?" Mama memarahi Kenta.

Kenta menggendongku ke bahunya. "Kenta! Turunkan aku! Ma... jangan lihat fotonya!"

"Buka Ma! Aku berhasil mendapat foto yang menarik," Kenta menyeringai. "Nee-chan! Nanti jatuh! Jangan nendang-nendang dong!"

Levi masuk apartemen, menutup pintunya. Kemudian kabur ke kamar tamu.

"Levi! Tolong aku..." kakiku menggila, menendang udara.

Levi mengabaikanku. Yup! Dia kabur.

"Ara, foto yang bagus Kenta. Omedetou At-chan!" Mama terkekeh melihat foto itu.

"Benarkan Ma? Fotonya bagus sekali," Kenta menurunkanku. Aku memanjat sofa, menjitak kepalanya.

Aku berlari ke kamarku, dengan kepala tertunduk. Arrghh! Akhir pekanku benar-benar hancur!

# # #

"Mou... aku sudah muak dengan mimpi aneh ini!" aku menendang kerikil yang ada di pinggir jalan. Aku pulang kerja, hampir sampai apartemen.

"Ditambah lagi mimpi baru semalam, apa itu yang dimaksud Levi 'hari itu'?" aku mendesah, membuka pintu apartemenku.

Aku mendapat mimpi baru semalam. Aku dan sekelompok orang sedang berkuda, memakai baju aneh dan alat aneh juga. Ada pedang di dalam alat itu. Seorang pria (aku berasumsi bahwa dia komandannya) memerintahkan kami untuk berpencar sesuai formasi.

Aku memisahkan diri sesuai formasi, ditemani beberapa orang. Ada Levi juga di kelompokku, tapi aku tidak melihat Hanji-san. Tiba-tiba ada Titan, uhh... ada 3 datang ke arah kami. Aku menggila, tanpa pikir panjang aku menggunakan alat aneh itu untuk membunuh 3 Titan itu.

Aku sungguh ceroboh, aku berhasil membunuh 1 Titan tapi, salah satu menangkapku. Titan itu membuka mulut, mencoba memasukkanku ke dalam mulutnya. Aku melihat Levi membunuhnya. Aku terjatuh, tetapi Levi ditangkap oleh Titan yang lain dan... ugh. Itu terjadi begitu cepat, Titan itu meremas Levi, memasukkannya ke dalam mulut.

Aku terpaku, air mata mengalir menuju pipiku. Aku berteriak sejadi-jadinya. Dan saat itulah aku terbangun.

"Hari itu, huh? Aku yakin yang dimaksud Levi adalah hari kematiannya. Entah mengapa aku begitu yakin, arrggh! Mengapa aku harus bereinkarnasi?" aku mengacak-acak rambutku.

Aku duduk di sudut kamarku. "Aku ini pengecut sekali. Selalu meminta bantuan Levi, sampai Levi terluka. Padahal semuanya masalahku, Levi tidak perlu ikut campur."

...

Aku berjalan menuju balkon kamarku, menatapi Matahari terbenam dengan semburat jingganya yang indah.

BUK!

Aku memukul dinding. Nafasku sedikit tidak beraturan. Air mata tiba-tiba meleleh dari mataku.

"Hiks... gomen na Levi. Aku memang cewek bodoh yang tidak pantas berdiri di sampingmu. Aku berjanji akan menjauhimu dan akan bertarung sendiri mulai sekarang."

Aku membiarkan air mataku meleleh sejadi-jadinya. Entah mengapa ada perasaan tidak rela, tidak ingin jauh di dalam dadaku. Perasaan ini seperti tidak ingin aku jauh-jauh dari Levi.

Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. Menyeka air mataku. "Aku tidak boleh jadi pengecut. Aku akan menjadi wanita yang pantas untuk berdiri di samping Levi."

# # #

Aku berjalan menghampiri Yuki-sensei yang sedang berjalan di koridor.

"Sensei!" aku memaksakan senyumku, melambaikan tangan kepadanya.

"Ah, Atsuko-chan. Ada apa?"

GREP!

Tiba-tiba seseorang mencengkram pergelangan tanganku. Aku mengerang kesakitan. Ia menarikku ke dekapannya. Aku mendongak.

"Levi? Apa yang kau lakukan?!" aku memberontak, mencoba melepaskan diri darinya.

Levi menatapku dingin. Menyeretku menjauh dari Yuki-sensei.

"Aw, Levi! Sakit! Apa yang kau lakukan?" aku masih mencoba melepaskan cengkramannya.

Levi melepaskan cengkramannya. Menatapku dingin, aku bisa merasakan bahwa Ia sedang marah.

"Yang seharusnya bertanya itu aku. Kenapa kau mendekati Yuki?" nada suara Levi meninggi. Ia benar-benar marah.

Aku mengerutkan keningku. Menatap Levi tajam. "Levi, aku mendapat mimpi lagi. Dan aku yakin mimpi inilah yang kau maksud 'hari itu'."

Mata Levi melebar. Ekspresinya melunak.

"Benarkah?"

Aku mengangguk kuat. "Oleh karena itu, aku tidak mau membuatmu terluka lagi. Jadi mulai sekarang jangan dekati aku, jangan menyelamatkanku, jangan memprotes setiap tindakanku, karena mulai sekarang... aku akan bertarung sendiri."

Aku melangkah pergi. Berlari menjauhi Levi. Aku menengok ke belakang, Levi mengejarku.

"Jangan mengikutiku!"

"Atsuko! Berhenti sekarang juga! Jangan mengatakan hal gila ataupun melakukan tindakan gegabah, kau dengar?" Levi semakin mendekat.

Aku mengabaikannya. Dengan menambah kecepatanku, aku berhasil melarikan diri darinya.

# # #

Levi P.O.V

Atsuko sudah tidak nampak dari pandanganku. Aku mencari ke seluruh penjuru sekolah, hasilnya nihil.

"SIAL!" aku mendaratkan tinjuanku ke dinding. Nafasku tidak beraturan.

"Dia bilang dia ingat hari itu. Mengapa dia malah menjauhiku? Mengapa Ia bilang ingin bertarung sediri? KE****T!"

'Aku akan mengunjunginya malam ini. Seperti akhir-akhir ini, aku selalu mengawasinya sampai Ia tertidur. Pasti Ia ada di rumah sekarang. Tenang diriku, nanti malam aku akan mengawasinya lagi seperti biasa.'

Tiba-tiba aku berpikir hal yang tidak masuk akal.

"Tidak mungkin Atsuko akan kabur malam ini. Dia tidak mungkin kabur... kan?"