CHAPTER 9 (Pertarunganku)

Reader's P.O.V

Aku berlari menyusul Yuki-sensei. Yuki-sensei sedang duduk di taman, memainkan ponselnya.

"Yuki-sensei!" aku berteriak.

Yuki-sensei menoleh. "Ara Atsuko-chan. Kau mengikutiku daritadi?"

"Anu, sensei. Apa Sabtu ini anda ada acara?"

Sesaat Yuki-sensei kebingungan. "Um... tidak. Ada apa Atsuko-chan?"

"Bisakah kita bertemu di sini besok Sabtu?"

Jantungku bergetar hebat. Sabtu ini aku akan memulai pertarunganku. Mungkin juga Sabtu ini akan jadi hari terakhirku di dunia ini.

Yuki-sensei tersenyum, tapi aku bisa lihat itu senyum palsu. "Boleh,"

"Syukurlah, sampai jumpa besok Sabtu sensei! Saya pulang dulu!" aku mebalikkan badan, berlari sekencang-kencangnya menuju apartemenku.

Jantungku masih bergetar hebat, air mata rasanya memaksa keluar dari mataku. Aku cepat-cepat menyekanya.

'Aku tidak boleh menangis! Lagipula aku sendiri yang memutuskan hal ini. Aku harus berani, aku harus berhasil jika ingin terus melihat dunia ini, dan... Levi.'

KRIEK...

Aku menghempaskan diri ke sofa. Mendesah keras sebagai ungkapan kelelahanku hari ini. Sebenarnya kalau bisa aku ingin berteriak, tapi aku... tidak bisa.

Ting tong!

Aku mendesah. Malas sekali rasanya membukakan pintu. Akhirnya aku hanya diam, menghiraukannya.

"Atsuko? Kau di dalam?" suara Levi menggema di telingaku.

Brak! Gedebuk!

Aku berlari menuju pintu, menguncinya dan duduk di belakangnya. Jantungku berdebar-debar mendengar suara Levi. Sedikit lega rasanya dia datang.

Aku menggelengkan kepala kuat-kuat.

'Kau sudah berjanji akan menjauhi Levi, Atsuko. Jangan langgar janjimu! Jangan melanggarnya! Nanti Levi bisa terluka lagi!'

"Atsuko? Aku tahu kau ada di dalam. Bukalah pintunya," nada suara Levi lembut sekali, belum pernah dia seperti ini.

"PERGI!" aku berteriak. "PERGILAH! JANGAN DATANG LAGI!"

"Atsu-"

"AKU MEMBENCIMU!" nafasku mulai tidak teratur, air mata kembali melimpah keluar dari mataku. "PERGILAH!"

Hening...

Dari balik pintu, aku dapat mendengar nafas Levi. Terdengar seperti... menahan tangis. Levi menahan air matanya!

Air mataku tidak berhenti keluar. Apa yang telah ku lakukan? Berteriak seperti itu, membuat Levi terluka lagi. Luka di hatinya.

"Na, Atsuko," Levi memanggilku.

Aku tetap tidak menjawab, aku memeluk lututku, menenggelamkan kepala dan menagis sejadi-jadinya.

"Kau bilang kau ingat hari itu kan?" Levi berhenti sejenak. "Apa yang kau ingat?"

Tubuhku memanas. "PEDULI APA AKU DENGAN HARI ITU? PERGILAH! AKU TIDAK INGIN BERURUSAN DENGANMU LAGI!"

'Levi, maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu. Aku... aku... aku hanya tidak ingin melibatkanmu ke dalam masalahku. Sejujurnya, aku lega kita dijodohkan. Aku lega kita bertemu. Aku lega bisa... mencintaimu. Oleh karena itu, maafkan aku...'

Hening.

Tiba-tiba aku mendengar Levi menarik nafasnya dalam-dalam.

"Baiklah kalau itu yang kau inginkan. Aku tidak akan mengganggumu lagi," aku mendengar langkah kaki yang semakin sirna seiring berjalannya waktu. Levi sudah pergi.

"Hiks...hiks... gomen na, Levi..." air mata tetap mengalir deras menuju pipiku. Aku tetap duduk di sana, tidak bergerak sedikitpun. Sedikit menyesali apa yang barusan aku lakukan kepada Levi.

# # #

"Hai Ma!" aku menghubungi Mama via video call.

Mama melenguh. "Apa yang telah terjadi kepadamu Atsuko?"

"Aku baik-baik saja, Ma..." aku memaksakan senyum.

"Tidak tidak tidak. Tidak ada yang baik darimu, kantung mata itu, wajahmu pucat seperti mayat, kamu kelelahan, sangat sangat kelelahan. Kamu seperti sedang stress."

Aku mendesah. "Dengar Ma, aku hanya ingin mengucapkan sesuatu."

Mama memasang wajah bingung. "Mama tidak ingin men-"

"Maafkan aku jika selama ini selalu membuat Mama repot, selalu berkata tidak sopan, tidak membanggakan Mama, dan maafkan aku karena telah menjadi gadis yang bodoh."

"ATSUKO! Mama belum selesai bicara!" Mama terlihat sangat marah.

Aku menghiraukan Mama. "Jaga diri baik-baik ya Ma, jaga Kenta juga, dan Papa. Hidup bahagia ya. Ini mungkin terakhir kali Mama melihat Atsuko," air mata mulai mengalir menuju pipiku. "Atsuko sayang Mama, sayang Kenta, sayang Papa juga. Dan... sayang Levi. Atsuko sayang kalian semua. Jangan lupain Atsuko ya!"

"Atsuko, apa yang kau-"

Aku mengakhiri video call, me-non aktifkan smart phoneku. Aku menyeka air mataku.

"Sudah waktunya," aku mengunci pintu apartemen. Menyandang tasku dan berjalan menuju taman.

Semenjak hari itu, aku berhenti kerja di cafe. Levi juga menghilang dari sekolah. Ia juga tidak datang lagi ke apartemenku. Tidak ada yang tahu Levi di mana. Tapi aku sedikit lega, dengan begini Levi tidak akan terluka lagi.

Tap tap tap

Aku hampir memasuki taman. Aku melihat Yuki-sensei duduk di bangku, memandangi langit. Perlahan, aku mendekati Yuki-sensei.

"Anu, sensei?" aku duduk di sampingnya.

Yuki-sensei terloncat dari bangku. "Ah, Atsuko-chan... kau mengagetkanku," Yuki-sensei mengelus dadanya.

"Eh, gomenasai," aku menundukkan kepala.

"Ah, tidak apa-apa santai saja. Mau crepe? Aku membuatnya sendiri," Yuki-sensei menyodorkan crepe itu kepadaku.

"Aduh, sensei. Malah repot-repot. Enggak usah, makasih."

"Tch."

Aku memandang Yuki-sensei. Hanya perasaan ku atau kata 'tch' memang terlontar dari mulut Yuki-sensei? Yuki-sensei tersenyum, dan lagi... itu senyum palsu.

"Sensei, berhentilah tersenyum. Aku tahu itu senyum palsu."

Yuki-sensei melenguh. Kemudian terkekeh. "Kau memang peka, Atsuko."

"Aku datang kemari untuk bertarung," aku menundukkan kepala.

BET!

"Mmmmmm..." aku memberontak sekuat tenaga. Tapi percuma saja, orang ini terlalu kuat. Ia membekap mulut dan hidungku dengan sapu tangan.

"Mmmmmm!" aku masih memberontak. Yuki-sensei menyeringai.

"Kerja bagus Ralph," Yuki-sensei mengacungkan jempol kepada orang yang membekapku.

Perlahan aku mengadahkan kepala, melihat wajah orang itu.

'Ralph-senpai...'

Ugh, aku mengantuk sekali. Apa yang mereka taruh di sapu tangan ini? Obat tidur? Obat penenang? Agh, kepalaku mulai pening. Mataku berat sekali.

"Mmmmmmm..." tenagaku perlahan menghilang.

Pandanganku kabur. Aku mencoba meninju Yuki-sensei.

"Hmph, tinjuan macam apa itu?" Yuki-sensei menyingkirkan tanganku.

'Tidak berguna. Tenagaku benar-benar hilang. Dan... agh kepalaku sakit.'

# # #

'Gaahhh... kepalaku sakit, ughhh... badanku sakit semua...'

Aku perlahan membuka mata. Dengan sakit di seluruh badan, aku memandangi sekitarku. Aku melenguh. Badanku... tubuhku... Dan, aku duduk di kursi kayu, dengan tangan dan kaki terikat.

"Jadi, akhirnya kau bangun juga huh?"

Aku melenguh, menengokkan kepalaku ke asal suara itu.

"Aww..."

Yuki-sensei, Ia berdiri di sudut ruangan. Wajahnya 180° berbeda dari sebelumnya. Ekspresinya... terlihat jahat. Ia menyeringai.

"Bagaimana rasanya tubuhmu? Sakitkah? Inilah yang dirasakan Sanes dulu, pria tak berdosa yang kalian bunuh. Rasakan!" Yuki-sensei, muncul dari kegelapan sudut ruangan membawa pisau. "Aku akan membuatmu merasakan apa yang dirasakan Sanes. Huahahahahaha."

Tubuhku gemetaran, aku takut sekali. Aku melihat sekali lagi tubuhku yang menyedihkan. Sepertinya saat aku pingsan, mereka menyiksaku sampai banjir darah seperti ini. Dengan suara gemetar, aku angkat bicara.

"Sepertinya kau bersenang-senang, huh? Kau pikir aku akan diam saja seperti orang bodoh?" aku menyeringai. "Aku akan bertarung. AKU AKAN BERTARUNG!"