CHAPTER 12 (Memori yang Hilang part 2)
"Kau bersemangat sekali ya," perempuan itu tersenyum. "Tapi berjanjilah padaku kau tak akan menyesali apapun saat aku menampilkan memorimu. JANGAN SESALI APAPUN! Mengerti?"
Tanpa pikir panjang aku mengangguk. Walaupun aku sedikit ragu apakah aku bisa tidak menyesali sesuatu di masa lalu.
CTIK!
Perempuan itu menjentikkan jarinya lagi. Dunia putih kanvas ini mulai menampilkan memoriku.
"Ingat ini?" perempuan itu menatapku.
Aku mengamati memori itu. "Ini kan mimpiku. Kita membunuh Sanes. Kenapa kau memperlihatkannya lagi? Aku-"
"Eitss... jangan sesali apapun. Kau hampir menyesali kejadian ini, kan?"
"Apa yang terjadi kalau aku menyesalinya?" tanyaku.
"Kau tidak perlu tahu. Yang jelas semua akan jadi berantakan dan megerikan," nada suara perempuan itu menakut-nakuti.
"Baiklah..." aku mengamati lagi kejadian itu.
"Sudah cukup, mari kita ke memori selanjutnya," perempuan itu menjentikkan jarinya lagi.
"Bisakah kau jangan menunjukkan memori pahit seperti tadi? Aku bisa menyesalinya tanpa sadar," aku memegang tangan perempuan itu, memasang ekspresi memelas.
"Itu masalahmu,"perempuan itu menatapku. "Aku hanya menunjukkan memori penting saja. Tidak peduli itu pahit atau tidak. Dengan menunjukkan memori-memori ini, kau akan mengingat semuanya."
"Tch, pelit sekali. Lagipula kau juga ikut merasakan akibatnya jika aku menyesal, kan? Itu juga menjadi masalahmu."
"Tidak, itu masalahmu. Aku hanya menonton dari dalam dirimu," perempuan itu menunjuk sesuatu. "Ingat itu?"
Aku menoleh ke arah memori itu.
# # #
Krieek...
Aku dan Kapten Levi memasuki ruang bawah tanah di HQ. Aku tidak tahu itu ruangan apa, yang jelas ruangan itu kotor dan pengap.
"Jangan tutup pintunya," Kapten Levi membongkar-bongkar barang-barang.
"Ya, Kapten? Ada apa?" aku menutup pintu itu.
Kapten Levi menoleh, ekspresinya berubah, Ia marah. "Bodoh! Kenapa kau tutup pintunya?!"
"Eh? Kenapa jika saya tutup?" aku memasang ekspresi bingung.
"Pintunya tidak bisa dibuka dari dalam. Sekarang kita terjebak, terimakasih Lent," Kapten Levi memutar bola matanya, sepertinya Ia kesal.
"Ahhh... gomenasai Kapten!" aku gugup. Sekarang aku terjebak di dalam ruangan pengap dengan pria paling dingin di dunia. Bagus sekali.
Aku mencoba membuka pintu itu.
"Ukh!" aku mengerahkan seluruh tenagaku.
Kapten Levi melirikku. "Percuma, pintunya macet. Hanya bisa dibuka dari luar."
"Aku memang bodoh..." gumamku.
Aku duduk menyandar dinding, meluruskan kakiku. "Hanji-san, tolong aku..."
"Tch, berisik," Kapten Levi menghampiriku, kemudian duduk di sebelahku.
Aku menengok ke arah Kapten Levi, sepertinya Dia cuek. Tapi, masih banyak ruang di sini kenapa Dia memilih duduk di sebelahku?
Tiba-tiba Kapten Levi menyandarkan kepalanya di bahuku. "Anu... Kapten?"
"Diam saja."
Aku merasakan wajahku menghangat, nafasku tertahan, dan jantungku bergetar kencang.
'Ada apa denganku? Kenapa rasanya aneh begini?!'
Aku melirik Kapten Levi, Ia tertidur. Ekspresi wajahnya damai, dan imut. Tidak, tidak, tidak! Apa yang ku pikirkan? Dia kan atasanku.
Kriek...
"Levi? Atsuko? Kenapa kalian lama sekali?" seseorang muncul dari balik pintu.
"Hanji-san! Syukurlah, kau memang malaikat penyelamat."
Hanji-san melenguh, Ia terlihat kaget. Kemudian Ia menyeringai. "Ow, maaf sudah mengganggu..." Hanji-san menutup lagi pintunya.
"HANJI-SAN!" seruku.
"Akan ku bukakan satu jam lagi, tenang saja..." suaranya terdengar semakin menjauh.
"Akh, sial!" aku melirik Kapten Levi, Ia masih tertidur.
"Hahhhhh..."
# # #
Aku bisa merasakan wajahku memanas. "Itu- itu- itu."
Perempuan itu menyeringai. "Tak perlu gugup. Kau ingat, kan?"
Aku mengangguk. "Waktu itu, Hanji-san memang benar-benar kembali satu jam kemudian."
"Hahahahaha, aku juga tahu. Aku kan selalu ada di dalam dirimu. Dan waktu itu kupikir Kapten itu menyukaimu. Karena, kau tahulah dia kan manusia paling dingin, aneh kan tiba-tiba berlaku seperti itu?"
Wajahku memerah. Perempuan itu tertawa keras. "Kau terlihat bodoh saat ini. HAHAHA."
"Diamlah, sialan!" seruku membalikkan badan.
"Ehem, oke oke kita lanjut ke memori selanjutnya. Kau siap?" perempuan itu tiba-tiba memasang wajah serius.
"Kau tidak perlu menanyakannya."
CTIK!
Perempuan itu menjentikkan jarinya lagi, dan memori muncul di hadapan kami.
"Ingat ini?" tanyanya dengan nada suara serius.
Aku mengamati memori itu, entah kenapa kepalaku kembali sakit dan... aku mempunyai perasaan tidak enak.
"Ini kan..."
# # #
"MAJU!"
Hari ini aku kesal sekali, entah kenapa. Padahal hari ini ekspedisi di luar tembok, kenapa aku malah kesal begini. Rasanya aku ingin membunuh semua Titan yang ku temui, padahal aku tahu aku tidak mungkin melakukan itu.
Aku mengarahkan kudaku menuju arah kanan, seperti yang direncanakan Komandan sebelumnya. Kami akan berpencar sesuai formasi. Di depan, ada 3 Titan. Aku berniat membunuh mereka sekaligus.
Crak!
Aku berhasil membunuh satu Titan. Yosh, masih ada dua lagi!
Grep!
Salah satu Titan menangkapku.
"Ugh..." aku tidak bisa menggunakan pedangku, tanganku ada dalam genggaman Titan juga. Sial!
Crak!
Aku melihat Levi membunuh Titan itu. Titan itu jatuh, aku pun juga ikut terjatuh.
Grep!
Titan yang satunya menangkap Levi, menyengramnya dan memakannya. Itu terjadi begitu cepat. Dan... aku hanya bisa duduk menonton dengan berlinang air mata.
"AAAAAAAA!"
# # #
'Levi...' aku menangis sejadi-jadinya.
"Memang seharusnya aku tidak bertemu denganmu. Karena aku, kau selalu terluka kau..."
Perempuan itu langsung menoleh ke arahku, Ia terkejut. "Kau- kau baru saja menyesalinya, kan?"
Aku melenguh, menutup mulutku dengan tangan. Tiba- tiba semuanya berguncang.
"Oh tidak..." perempuan itu terjatuh.
"Ada apa ini?!" aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Guncangan itu semakin kuat, perempuan itu tiba-tiba menghilang dan dunia putih kanvas berubah menjadi tempat gelap.
# # #
Kenta P.O.V
Aku berlari sekencang-kencangnya saat mendengar kondisi nee-chan memburuk tiba-tiba. Dari kejauhan aku melihat Mama sedang menangis dan Papa menenangkannya. Ada Levi-nii juga.
"Hah...hah...hah..." nafasku tersengal-sengal. "Nee-chan, apakah Dia akan baik-baik saja?"
Levi-nii menoleh, kemudian mengalihkan pandangannya ke pintu ICU. Aku menatap Levi-nii, Ia duduk di kursi roda, memakai pakaian rumah sakit. Semenjak hari itu, Levi-nii selalu terlihat murung.
"Ini sudah 2 minggu, selama itu kondisinya stabil. Kenapa sekarang tiba-tiba seperti ini?" aku mendengar Levi-nii bergumam.
Ya, nee-chan sudah 2 minggu dirawat. Ia kehilangan banyak darah dan koma sampai sekarang. Tubuhnya luka berat. Tetapi, selama itu kondisinya stabil, kenapa sekarang tiba-tiba kondisinya memburuk?
Levi-nii juga terluka, Dia sempat tak sadarkan diri selama 5 hari. Tapi sekarang kondisinya membaik.
"Nee-chan, berjuanglah," bisikku.
