CHAPTER 13 (Don't Regret It)

Reader P.O.V

"AAAAAAAAA!" aku berteriak sejadi-jadinya.

"BIARKAN AKU KELUAR DARI TEMPAT INI!" seruku.

Aku merasakan bulir-bulir air mata berjatuhan. Aku berusaha menyekanya, tapi air mata tetap terus berjatuhan. Entah mengapa rasanya aku ingin menangis.

"Hiks hiks hiks."

"Mungkin ini memang tempatku sekarang. Aku memang pantas mendapatkan ini."

Aku memutuskan untuk duduk. Tiba-tiba memori-memori tentang Levi muncul di pikiranku.

"Mengapa saat ini aku mengingatnya?!" aku memeluk lututku. "Aku memang manusia terburuk yang pernah ada."

Tempat ini gelap sekali, aku tidak bisa melihat apapun. Yang ku lakukan hanya duduk dan merenungi kesalahanku.

"Levi... gomenasai..."

Air mata kembali berjatuhan. Lama-kelamaan aku tidak tahan berada di sini. Aku... aku ingin bertemu Levi. Tiba-tiba aku ingat perkataan Levi.

"I Love you, I'll protect you cewek sialan."

"Levi..." aku menyeka air mataku. "Maafkan atas keegoisanku, tapi aku ingin sekali bertemu denganmu lagi Levi."

Tiba-tiba secercah cahaya terlihat dari kejauhan. Aku melenguh, ada apa lagi kali ini? Tanpa pikir panjang aku menghampiri cahaya itu. Mencoba menyentuhnya, tiba-tiba cahaya itu semakin terang.

"Ugh," aku melindungi mataku.

Aku mengedipkan mata beberapa kali.

Dunia ini menjadi dunia putih kanvas lagi, dan menampilkan memori lain.

"Hah?! Memori lainnya?" gumamku. "Kumohon, jangan tampilkan memori pahit."

# # #

Tok tok tok!

Aku mengetuk pintu kantor Kapten Levi. Eren bilang Kapten Levi memanggilku. Sebenarnya ada apa ya? Apa aku akan dihukum membersihkan kamar mandi?

"Nama dan urusan," terdengar suara dari dalam.

"Atsuko Lent. Anda memanggil saya Kapten," aku menegaskan suaraku.

"Masuk!"

Kriekk...

"Duduklah," Kapten Levi menaikkan kakinya ke atas meja.

Tanpa ragu aku duduk di hadapan Kapten Levi. Aku mengalihkan pandangan ke bawah, ragu apa yang harus ku katakan. Tunggu... aku tidak perlu mengatakan apapun, kan? Lagi pula yang memanggilku ke sini kan Kapten Levi sendiri.

Tiba-tiba aku merinding. Tiba-tiba juga muncul perasaan aneh. Aku celingak-celinguk, dan memergoki Kapten Levi sedang menatapku. Pandangan kami bertemu, aku memasang ekspresi bingung.

"Anu... Kapten?" aku memberanikan angkat bicara.

Kapten Levi menyeringai. Sebelumnya dia selalu memasang wajah tanpa ekspresinya, kenapa sekarang Ia menyeringai?

Aku berdiri, entah mengapa tubuhku bergerak dengan sendirinya. Aku menghampiri Kapten Levi.

'APA YANG KU LAKUKAN?! BODOH! DUDUK LAGI, DUDUK!'

Tubuhku tidak mau menurut. Sekarang aku berdiri di sampingnya. Kapten Levi masih menatapku.

'Ugh...'

Tiba-tiba tanganku memegang dahi Kapten Levi.

'APA YANG KU LAKUKAN?! BODOH! JANGAN SENTUH DAHINYA!'

Grep!

Kapten Levi tiba-tiba menggenggam pergelangan tanganku. Aku melenguh. Apa yang terjadi dengan Kapten Levi? Apa Dia mabuk?

Kapten Levi menarikku, aku jatuh tepat di pangkuannya. Pandangan kami bertemu. Aku merasakan wajahku memanas.

"Gomenasai Kapten," aku berusaha berdiri.

"Jangan bergerak, diam dan jangan ubah posisimu."

DHEG!

Aku yakin wajahku sekarang semerah tomat. Kapten Levi mendekatkan wajahnya. Semakin dekat, semakin dekat.

"Kau tahu Atsuko, aku menyukaimu. Karenamu, aku jadi gila."

'APAAAAA?!'

Jantungku bergetar hebat, aku ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa!

Kapten Levi melepas ikat rambutku, membelai rambutku. Aku hanya duduk terpaku, tidak bisa bergerak satu mili pun. Wajahnya mendekat, semakin mendekat hingga hidung kami menempel.

"Mengapa kau tidak menjawab Atsuko?" bisik Kapten Levi.

Aku menelan ludah. Memang benar sejak aku dan Kapten terjebak di ruangan itu, aku perlahan menyukai Kapten Levi. Tapi... aku enggak siap untuk ini!

"Aku- anu..." akhirnya kata-kata keluar dari mulutku.

"Aku akan menghukumu jika kau tidak menjawab. Ku beri waktu 3 detik."

'Bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan?! Arrggh!'

3

2

1

"Aku juga menyukaimu Levi!" seruku. Spontan, aku menutup mulutku.

Kapten Levi tersenyum, Ia menempelkan bibirnya ke punyaku. Mataku melebar, ini... aku- aku belum siap!

Pada akhirnya aku memejamkan mataku, meleleh dalam kecupan Levi. Kecupan itu berlangsung selama beberapa saat. Hingga akhirnya Levi melepaskan kecupannya.

Kami saling memandang.

Krieek...

"Pendek?" seseorang tiba-tiba membuka pintu.

Kami berdua menoleh bersamaan. Aku terkejut melihat orang itu, spontan aku berdiri dan menjauhi Kapten Levi.

"Ooohhh... apa yang kalian lakukan? Kalau begitu nanti aku datang lagi," Hanji-san tersenyum jahil. "Maaf sudah mengganggu..."

Pintu tertutup. Kapten Levi menampakkan ekspresi biasanya. Aku bingung, apa yang harus ku lakukan sekarang?

"Kemarilah!" Kapten Levi tiba-tiba memanggilku.

Aku terkejut, dengan sedikit ragu aku menghampiri Kapten Levi.

"Tadi kau memanggilku Levi, kan? Kau tahu memanggil atasan dengan namanya itu tidak sopan," Kapten Levi menyeringai. "Aku akan memberimu hukuman."

# # #

Rona merah menghiasi pipiku. Aku tersenyum melihat memori itu. Sekarang, aku ingat semuanya. Pasukan pengintai, Titan, prajurit ke-104. Aku ingat semuanya.

"Levi, memang seharusnya aku tidak perlu menyesali pertemuan kita. Maafkan aku Levi. Aku- aku ingin bertemu denganmu sekarang juga. Aku... merindukanmu."

Tiba-tiba diriku yang lain muncul. Kebahagiaan menghiasi wajahnya.

"Kau ingin kembali ke duniamu, kan?" perempuan itu menghampiriku.

"Tentu saja aku ingin! Tapi bagaimana caranya keluar dari sini?"

Perempuan itu memegang pundakku. "Pejamkan matamu, buat harapan. Harapan itu harus kuat, kalau tidak kau tidak akan bisa kembali ke duniamu."

"Harapan?"

Perempuan itu mengangguk. "Ayo, tunggu apa lagi? Lakukan sekarang!"

Aku berjalan mundur, sedikit menjauh dari perempuan itu. Memejamkan mataku.

'Aku ingin kembali ke duniaku. Aku ingin bertemu lagi dengan Levi, dengan Mama, Papa, juga Kenta. Ku mohon, bawa aku kembali ke duniaku. Aku berjanji akan ku lindungi mereka dengan sekuat tenaga. Bawalah aku kembali! Bawalah aku kembali!'