CHAPTER 14 (The End)
"Ukh..." aku membuka mataku perlahan. Aku memandang sekitarku, sepertinya ini di... ruang inap?
Aku melenguh saat melihat seseorang yang tertidur di sampingku. Ia duduk di kursi, kepalanya berada di tempat tidurku.
"Levi..." aku berlinangan air mata. Tanganku mengelus rambutnya, perlahan.
"Maafkan aku karena selalu merepotkanmu, maafkan aku atas segalanya," gumamku. Aku tidak peduli apakah Ia mendengar perkataan ku atau tidak.
"Hmmmhhh..." Levi terbangun.
Aku menatapnya, bulir-bulir air mata berjatuhan. "Kapten..."
Spontan Levi menoleh ke arahku. "Atsuko..."
Aku tersenyum walaupun air mata masih berjatuhan. Kami saling pandang beberapa saat. Tanpa sadar aku bergumam.
"Kau tahu Atsuko, aku menyukaimu. Karenamu aku menjadi gila."
Mata Levi melebar. Aku menutup mulut dengan tanganku.
"Kau... kau ingat hari itu?"
Aku mengangguk. "Waktu itu aku salah paham tentang hari itu, aku- aku kira yang kau maksud hari itu adalah hari ekspedisi sialan itu."
"Mana mungkin aku mengingat-ingat ekspedisi sialan itu?"
Hening.
"Ini sudah 4 bulan semenjak hari itu," Levi angkat bicara.
"Maksudmu hari dimana Yuki dan Ralph menangkapku?"
Levi mengangguk. "Dua minggu setelah hari itu, kondisimu tiba-tiba memburuk. Aku takut sekali, takut akan kehilanganmu. Tapi, sebuah keajaiban terjadi. Saat dokter keluar dari ICU, Dia bilang keajaiban telah terjadi. Katanya kondisimu menstabil dengan sendirinya."
Aku menunduk. 'Sudah 4 bulan?'
"Na, apa yang kau lihat saat koma?" Levi memegang tanganku.
Aku menarik nafas. "Pertama, aku bertemu kau. Setelah itu aku bertemu diriku yang lain, Ia menunjukkan memori-memori dari kehidupan sebelumnya kepadaku," aku menatap Levi. "Itu tidak penting. Yang penting sekarang aku bisa bertemu denganmu lagi."
Levi terlihat sedang memikirkan sesuatu, aku terus menatapnya. "Bagaimana kalau akhir pekan ini kita jalan-jalan?" Levi menghindari pandanganku.
"Maksudmu kencan?"
Aku melihat semburat merah muncul di pipi Levi. Aku terkekeh melihatnya.
"Jangan menggodaku cewek sialan!"
Aku menggembungkan pipi. "Mou, kau masih saja memanggilku begitu... Tapi aku suka!"
Levi tersenyum. "Jadi, bagaimana?"
"Tentu saja! Kau menjemputku di apartemenku, pukul 10.00 pagi. Ok?" kataku kegirangan.
Levi menempelkan dahinya ke punyaku. "Kau memang cewek terbodoh dan tercerewet yang pernah ada."
Aku terkekeh. "Bagaimana? Boleh ya? Ya?" kataku manja.
"Ii yo," sekarang hidung kami menempel.
Aku menempelkan bibirku ke bibir Levi. Levi sempat kaget, tapi kemudian Ia melumat bibirku.
CEKREK!
Aku dan Levi melepaskan kecupan kami dan menoleh bersamaan ke arah pintu. Terdengar langkah kaki berlarian menjauhi ruanganku, entah seseorang atau beberapa orang, yang jelas dia membiarkan pintu sedikit terbuka.
"Siapa orang bodoh yang melakukan itu?!" Levi merengut, wajahnya terlihat kesal.
Rona merah menghiasi pipiku. "Mungkin- mungkin itu Kenta lagi."
Levi berdiri. "Akan ku hajar orang bodoh itu."
Brak!
Levi menutup pintu dengan kasar. Siapapun orang yang melakukannya, dia adalah orang terbodoh di dunia. Aku terkekeh sendiri, entah kenapa aku geli melihat reaksi orang tadi yang langsung berlari setelah mencuri foto.
Krieek!
"Atsuko?" Mama membuka pintu dengan tergesa-gesa, wajahnya sumringah. Papa mengikuti di belakangnya.
Aku menoleh. "Mama... Papa..."
Mama berlari ke arahku, memelukku dengan erat. "Atsuko..." aku merasakan tetesan air hangat membasahi bahuku.
Aku membalas pelukan Mama. Entah mengapa air mataku ikut mengalir menuju pipiku. Papa hanya tersenyum di samping Mama.
"Mama lega kau sudah siuman Atsuko. Jangan pernah membuat kami khawatir lagi! Mengerti?" Mama mengelus rambutku.
Aku mengangguk. Mama melepaskan pelukannya. "Dimana Levi?"
"Dia- dia tadi-"
"Atsuko! Aku membawa orang-orang bodoh pengganggu," Levi melempar dua orang ke dalam ruanganku.
Aku, Mama, dan Papa menoleh ke arah Levi.
"Jadi mereka orang bodohnya?" kataku dingin.
Hanji-san dan Kenta terkekeh. "Aku dapet fotonya lagi..." Kenta mengayunkan kamera.
"Kerja bagus, nak!" Hanji-san menepuk pundak Kenta.
"Berkat bantuanmu, Hanji-san!"
"Apa apaan kalian?! Hapus!" seruku.
Kenta menjulurkan lidahnya kepadaku. Hanji-san melakukan hal yang sama. Apa apaan mereka?!
"Mama dan Papa keluar dulu ya, mau nyari cemilan," Mama dan Papa keluar ruangan. Sekilas aku melihat Mama tersenyum menggodaku.
"MAMA! APA APAAN SIH?!" wajahku mendadak merah.
Setelah Mama dan Papa keluar. Levi langsung angkat bicara.
"Oi, orang-orang bodoh!"
Kenta dan Hanji-san menoleh.
KRETEK!
"Ingin ku hajar?"
Aku terkekeh. Senang rasanya bisa kembali lagi. Dan, aku mendapat satu pelajaran dari semua ini, yaitu jangan terlalu memikirkan masa lalu, pikirkan masa depan dan terus maju.
THE END
