Aku sedikit mengerti apa maksud kota Omelas itu seperti apa. Sebuah kota penuh dengan kebahagian tapi menyimpan banyak rahasia yang mencekam dan menyedihkan, sulit untuk dijelaskan di kehidupan yang sekarang ini. Aku mungkin bisa menjelaskan bahwa kota pada jaman sekarang pun memiliki rahasia yang terpendam sangat jauh di dalamnya.

Kota Omelas yang penuh dengan senyuman yang tak pernah mati, hingga sang penulis menuliskan kesedihan kota tersebut, anak kecil yang di kurung di bawah kota. Dengan lantai kotor, gelap, dan benar – benar aku tak bisa menjelaskannya, hanya kesedihan yang bisa kuberitahukan pada kalian apa yang terjadi dalam cerita pendek itu. Apa kalian pernah berpikir bahwa kota itu adalah diri kalian penuh dengan kesedihan tanpa seseorang yang mengetahuinya. Sedikit mengenaskan.

Anak tersebut terlihat seperti enam orang tapi sebenarnya ada sepuluh orang. Mereka hanya terdiam tapi tidak dengan yang satu ini, ia selalu meminta tolong. "I will be good," it says. "Please let me out. I will be good!" They never answer. The child used to scream for help at night, and cry a good deal, but now it only makes a kind of whining, "eh-haa, eh-haa," and it speaks less and less often. It is so thin there are no calves to its legs; its belly protrudes; it lives on a half-bowl of corn meal and grease a day. It is naked. Its buttocks and thighs are a mass of festered sores, as it sits in its own excrement continually.

Ia meminta tolong, tapi tidak ada seorang pun yang melihat dirinya. Dalam cerita itu memang beberapa orang tahu tapi orang yang tahu itu tidak menanggapinya atau menolong mereka. Dan ada orang yang benar – benar tidak peduli dengan anak – anak tersebut.

Aku hanya mengambil sedikit kutipan dari cerita itu saja, karena cerita itu benar – benar cukup sedih.

Aku tidak akan mengupas terlalu banyak tentang Omelas lagi.

.

.

Hal selanjutnya yang akan kukatakan yaitu, sudut pandang dari BTS sendiri, mengapa mereka terlalu melankolis untuk menanggapi kehidupan yang sedang mereka jalani? Tak cukup dengan kebahagiaan yang sedang mereka rasakan sekarang.

Kalau dipikir, mereka itu sedang merasakan kesesihan, mereka sedang meminta tolong kepada kita, karena kitalah kebahagiaan mereka. Mereka meminta tolong bahwa mereka sedang terkurung dalam kesedihan, seperti yang terjadi dalam ruang bawah tanah di Kota Omelas. Mereka minta tolong kepada kita agar mereka bisa bebas dari kegelapan bawah tanah yang sedang mereka rasakan.

Apa pernah hal itu terbesit dari pikiran kalian?

Tidak sekalipun kan.

Jujur, aku merasa sedih karena mereka harus mengatakan ini secara tersirat. Aku harus menuliskan ini, karena agar kalian tahu isi hati mereka, aku bukan seorang peramal yang akan tahu masa depan seperti apa. Maaf jika ini terlalu basa – basi, tetapi aku harus menjelaskan kepada kalian dengan rinci.

Apa kalian ingin tahu mengapa Jimin membawa sepatu, lalu di belakang sana ada laut luas.

Setelah melihat Spring Day, aku tahu kalau mereka ingin kebahagian seperti di musim semi. Musim bahwa bunga sakura akan mekar dengan hebatnya, warna merah jambu di mana – mana seperti pipi mereka yang sedang kedinginan, mereka hanya ingin kebahagiaan karena mereka sedang bersedih.

Apa aku harus mengingatkan kalian dengan Taehyung saat di prologue hwa yang yeon hwa, bahwa ia loncat dari atas ke laut. Lalu aku akan mengingatkan kalian pada trailer Wings, bahwa Taehyung, tidak memakai sepatu sama sekali. Apa sepatu yang di genggam Jimin adalah sepatu Taehyung? Apa aku salah dengan teori itu?

Karena aku memiliki teori yang jauh berbeda dari kalian. Aku bersyukur kalau kalian mau membaca teori abal ini.

Kurasa aku ingin mengingatkan kalian bahwa Jimin ingin memberitahu Jungkook bahwa Taehyung ada di sana, dengan genggaman sepatu itu. Tapi apa boleh buat, aku tidak boleh mengatakan bahwa Taehyung benar – benar mati, saat loncat ke laut itu.

Mengapa aku tidak mengatakan bahwa itu sepatu milik Jin, karena jika dilihat, kalau engkau sedang tidur, ataupun sedang di tempat tidur, lebih baik kau lepas alas kakimu.

Lagi pula, kita mengenal Jin sebagai dewa yaitu Abraxas, kan.

Aku akan membahas sepatu yang di gantung di dahan – dahan pohon, yang berarti kematian seseorang agar orang itu masuk ke surga, karena ia sudah tidak di bumi lagi.

Aku ingi mengajak kalian untuk tidak terlalu tenggelam dengan teori – teori lainnya, karena akan membuat otak kalian semakin bingung, karena mulailah berpikir yang sederhana, dan mulai banyak membaca buku.