Sasuke terbiasa dengan perilaku orang yang sering kali terkesan semena-mena terhadapnya. Menganggapnya serba bisa, hingga melimpahkan semua tugas berat kepadanya. Dalam tugas teori maupun praktek. Kadang hingga melampaui batas kewajaran. Memang mengganggu dan menyusahkan, tapi apa boleh buat.
Dan tidak ada satu orang pun yang pernah mengucapkan hal seperti itu kepadanya, tidak pernah—walau hanya sekali pun, dengan senyum setulus itu.
"Anak baru itu… menarik juga."
.
.
.
Sweets, Secrets, and Chains
Summary: Seorang murid pindahan yang selalu ceria, polos, dan terlihat simpel, ternyata tidak seperti apa yang dilihat orang-orang. Ada satu rahasia yang dimilikinya... Rahasia yang tidak diketahui oleh sahabatnya sekalipun. / "Aku harus segera pulang!" Dia bersikeras; berusaha menemukan celah untuk pergi. / "Atau apa?" / "…Atau?" / SN. School-life AU. Shounen-ai. Chapter 1 updated.
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Main Character(s): [Sasuke U. & Naruto U.]
Rated: T for inappropriate contents
Genre: romance, drama & slice of life
Warning: typo(s), contains -too much- drama (you may get sick of it www), OOC, alur kecepetan, etc.
Enjoy~
.
.
.
Chapter 1: "Nice to Meet You" and "Until We Meet Again"
"Ekstrakulikuler? Apa itu?"
Kiba sama sekali tidak bisa mempercayai apa yang sedang di hadapinya.
Bel istirahat berbunyi beberapa menit yang lalu. Kiba langsung menghampiri murid penyandang rekor itu, yang tempat duduknya diposisikan di belakang Sasuke. Dia hendak membahas apa saja—benar-benar apa saja yang sedang ada dalam pikirannya. Entah jika itu berarti membahas film serial yang sedang populer, atau bahkan koleksi majalah porno terbaru miliknya. Dan tiba-tiba dia teringat sesuatu,
Sosok Kakashi yang tampak cuek dan membosankan menjelaskan, "… dia telah memenangkan berbagai penghargaan. Apa saja ya… aku lupa. Tapi ya begitulah. Dia anak cerdas yang sering mencetak prestasi."
Lalu tiba-tiba rasa penasaran itu tumbuh begitu saja.
"Naruto, kau yakin tidak mengetahui arti kata itu?" Kiba agak syok mendengar reaksi yang diberikan pemuda berambut pirang di hadapannya.
"Yah, kalau dipikirkan baik-baik, kurasa itu semacam pelajaran di luar jam pelajaran? Aku tak tahu, aku dulu home-schooling. Bisa kau jelaskan padaku?" Naruto meminta, wajahnya tak kalah terlihat penasaran seperti Kiba.
"Wow, home-schooling ya… Aku penasaran kenapa," Kiba berbisik, sepertinya sedang berbicara kepada Sasuke yang hanya berdiam diri di mejanya. "Jadi ekstrakulikuler itu, yang bisa kau singkat menjadi ekskul—atau kita biasanya menyebutnya klub, seperti yang kau bilang tadi, hanya saja ini bukan pelajaran. Semacam program tambahan di luar jam pelajaran."
Naruto memasang wajah memelas—memohon Kiba untuk bersedia menjelaskannya lebih lanjut kepadanya. Sepertinya dia tidak dapat menerima
"Jadi ya begitu." Kiba mengangkat bahu. "Misalnya kau ikut klub basket, maka setiap hari yang ditentukan, kalian latihan untuk mengikuti kejuaraan. Eh, omong-omong, katanya kau sering mencetak prestasi. Dalam bidang apa? Apa tidak sulit, mengingat kau hanya sekolah di rumah?"
Ketika Kiba mengungkit hal itu, rasa penasaran yang tak tertahankan menelusupi batin Sasuke. Tanpa dia sadari, dia menoleh ke belakang untuk melihat wajah Naruto yang sedang tersipu.
"Sering mencetak prestasi, ya… Rasanya keren disebut seperti itu." Naruto tertawa kecil; menggaruk pipinya gugup. "Sebenarnya tidak begitu juga. Aku memiliki hobi melukis, dan kadang aku mengirimnya ke galeri di kota-kota besar. Aku memang pernah memenangkan beberapa kompetisi, tapi itu tidak banyak. Hanya sekali-dua kali."
"Sebenarnya tidak begitu apanya? Itu keren sekali!" Kiba memuji; matanya bersinar. "Kau tahu, aku yakin Sasuke di sini bahkan tidak bisa menggambar Fujisan. Hahaha."
Sasuke menyikut Kiba; memaki dalam hati.
"A-aku juga nggak bisa gambar gunung Fuji kok!" Tiba-tiba Naruto bangkit dari duduknya. Wajahnya merah padam, dan dia tidak berani mengangkat wajahnya untuk bertatapan dengan kedua teman barunya.
… "Teman"?
Sasuke menunduk, menepuk dahinya. Murid baru ini sepertinya kelewat baik. …Atau mungkin yang lebih tepat, keterlaluan polosnya. Sasuke yakin, bukan untuk bersikap jahat, bahwa ini bahkan pertama kalinya Naruto berbicara dengan seseorang sebaya dengannya.
"Naruto, kau tidak perlu membela orang seperti ini," ujar Kiba; agak terkejut dengan reaksi yang didapatkannya. Naruto yang sadar apa yang baru saja dia lakukan langsung kembali duduk. "Yah, selain itu, kurasa kita harus memasukanmu ke Klub Seni. Kau berbakat di bidang itu, dan kau pasti akan mengharumkan nama sekolah."
"Eh… Aku tidak yakin. Tapi kalau kau bilang begitu, aku tak keberatan," Naruto berkomentar. "Sepertinya akan menyenangkan!"
"Kalau begitu, sudah diputuskan. Kau akan ikut Klub Seni!" Kiba menepuk tangannya, mengambil kesimpulan. "Kita akan daftar sekarang juga. Oh ya, di kelas ini, ada siswa yang berbakat dalam seni juga, sama sepertimu. Namanya Sai, tapi… kurasa dia sedang sibuk—dia tak ada di kelas."
"Bukan sedang sibuk, bodoh. Ini jam istirahat, mungkin dia ke kantin atau ruang klub," Sasuke menyindir.
"Oh, kau mengingatkanku! Apa kau lapar, Naru-chan? Ah, kau tidak keberatan kupanggil begitu, kan?" Kiba sepertinya senang sekali dengan teman barunya. Dia tak sadar terus melompat dari satu topik ke topik lainnya.
"I-iya, tak apa," Naruto kelihatan agak gugup; menggaruk belakang kepalanya.
"Kau tak apa? Aku takkan memanggilmu seperti itu kalau kau memang tidak mau," ujar Kiba seraya memandang wajah Naruto perhatian.
Naruto langsung menggeleng. "Tak apa! Aku juga boleh memanggilmu Kiba dan Sasuke langsung, kan?" Dia tersenyum riang. "Oh ya, setelah dibahas lagi… Aku memang agak lapar. Hehe."
"Kalau begitu ayo ke kantin," kini giliran Sasuke angkat suara, berkata seraya beranjak dari tempat duduknya. "Kau bilang kau lapar. Aku juga. Dan aku yakin Kiba di sini tanpa sadar menahan laparnya karena belum sarapan tadi pagi. Kurasa dia terlalu senang memiliki mainan baru."
"Kau—" Kiba baru saja hendak beranjak dari posisinya untuk menghajar Sasuke—dia tidak terima dia dan teman barunya dilecehkan seperti itu!—ketika dia merasa sesuatu seperti melilit perutnya. "A-aduh! Sakit!"
"Kubilang juga apa," Sasuke menghela nafas sambil menepuk kepala Kiba, "orang ini lemah sekali terhadap penyakit pencernaan, tapi begitu keras kepala bahwa dia tidak begitu."
"Karena aku memang tidak begitu!" Kiba, separuh menjerit, menepis tangan Sasuke kasar. "Sialan kau, Suke-chan. Minta maaf sekarang juga!"
Rahang Sasuke mengeras. Tangannya terangkat. "Panggil aku sekali lagi dan akan kupastikan kau—"
"Uchiha-san, tolong hentikan!" Naruto tiba-tiba menengahi, dalam sepersekian detik dia berdiri dan menangkap tangan Sasuke sebelum Sasuke berhasil menyentuh bahkan sehelai rambut Kiba. "Kau keterlaluan. Aku tidak keberatan kalau kau menganggapku hanya sebagai mainan, tapi aku yakin Kiba tidak begitu."
Tatapan mereka beradu. Sasuke terkejut bukan main. Naruto tak terlihat seperti dirinya beberapa menit yang lalu—kini dia terlihat begitu serius dan tak terlihat seperti orang yang lemah seperti yang dibayangkan Sasuke.
Sasuke lantas menarik tangannya.
"Kiba, kau baik-baik saja? Aku punya obat maag, kau bisa meminumnya lalu kita bisa makan siang bersama," Naruto berkata dengan lemah lembut; tangannya mengelus bahu Kiba. Lalu dengan cepat, dia segera membuka tas sekolahnya dan mengeluarkan P3K.
Sasuke dan Kiba—keduanya sama terkejutnya. Bukan hanya karena sisi lain dari Naruto yang baru saja mereka ketahui, tapi anak ini juga cukup aneh untuk membawa benda seperti itu ke sekolah.
"A-ah, maaf merepotkan Naruto." Kiba patah-patah menerima obat yang diberikan Naruto. Bahkan Naruto, dengan polosnya, hendak memberikan air minumnya jika tidak segera Kiba tolak. "Tidak perlu—aku bawa sendiri. Lagipula itu bisa terhitung sebagai indirect kiss, kau tahu!?"
Naruto hanya diam seraya mengulum senyumnya—dia sama sekali tidak pernah berpikiran seperti itu.
"Terima kasih, Naru-chan. Kau benar-benar menolongku," ucap Kiba sambil tersenyum lebar. Naruto membalas senyumannya dengan senyuman riang—seperti mengabaikan Sasuke yang beberapa menit yang lalu baru dibentaknya.
"Kau mau makan? Aku sebenarnya membawa bento. Kita bisa memakannya bersama-sama," ujar Naruto—masih dengan nada riang. "Ah, kalau Kaichou-san mau ikut juga nggak apa-apa. Kebetulan aku bawa porsi ekstra hari ini."
"Aku tidak butuh. Lebih baik idiot ini yang memakannya, dari pada dia tewas karena penyakitnya kambuh." Sasuke menatap Kiba datar; mendengus.
Naruto mengernyit, tapi tangannya tidak berhenti dari merogoh tasnya sekali lagi untuk mencari tempat makannya. Dalam hati, dia bertanya-tanya mengapa ketua kelas yang satu ini begitu suka mengejek anggota kelasnya sendiri. Ah, tapi itu bukan urusannya.
Nah, ini dia. Naruto menaruh kotak pipih berlapiskan furoshiki berwarna jingga di atas meja.
"Itadakimasu!"
"Bento-nya enak sekali, Sasuke. Kau harus menyesal menolaknya dengan kasar seperti itu," Kiba berbisik. Tangannya tidak berhenti menyikut Sasuke, dan dia tak ada hentinya menyindir Sasuke. Bahkan walaupun sekarang mereka berada di koridor sekolah, dan bel tanda jam Kegiatan Belajar-Mengajar di sekolah telah berdenting beberapa menit yang lalu.
"Aku tidak menyesal membeli yakisoba-pan sebagai makan siang," Sasuke berkata datar. Mencoba sekeras mungkin untuk tidak menaikkan volume suaranya, karena Naruto, yang berada beberapa langkah di belakang mereka, bisa mendengarnya. Sekalipun dia benar-benar ingin menjahili Kiba, tapi bisa gawat jika Naruto mendengarnya memancing keributan dengan teman masa kecil Sasuke itu lagi.
"Well, sebenarnya sudah jelas kau menyesalinya. Kau pikir aku tidak melihat ekspresimu ketika Naruto membuka tutup kotak makannya?" Kiba tertawa geli. Sasuke tersenyum sinis; mengepalkan tangannya. Tahan, Sasuke. Tahan.
"Ah, Naru-chan, kenapa kau jauh sekali, berjalan di belakang sana? Ayo ke sini," Kiba berujar riang seraya menarik Naruto ke jarak kosong antara Sasuke dengannya. Hanya kedok, Kiba jelas-jelas melihat kepalan tangan Sasuke barusan.
"Ehehe… Kurasa aku belum terbiasa," ucap Naruto gugup; menggaruk pipinya.
"Maka biasakanlah. Dia suka menyentuh orang," Sasuke berkata. Sekenanya, karena dia tahu pasti kebiasaan Kiba mengingat dia adalah teman masa kecilnya. Tapi dia tidak menyadari seaneh apa kata-katanya hingga dia melihat ekspresi terkejut di wajah Naruto.
Kiba sadar, tapi memilih mengabaikannya. "Oh, lihat! Itu ruang seni, dan pintunya terbuka."
"Kukira kita menuju ruang guru untuk mengurus formulir pendaftaran." Naruto kebingungan; menatap ke arah Sasuke seolah menuntut penjelasan.
"Sai. Kau akan menyukainya. Dia ketua sekaligus orang yang membina klub seni," Sasuke menjelaskan, "Dia berbeda dari kebanyakan orang. Dialah yang mengurus semua keperluan klub, tak ada asisten maupun seksi-seksi. Kebanyakan orang menganggapnya sinis. Itu juga alasan mengapa banyak anggota dan guru yang dulu adalah pembina klub mengundurkan diri. Eh… Tidak juga. Kurasa itu juga karena dia melihat bakat Sai sebagai anggota, pengurus, sekaligus ketua. Supervisor-nya adalah Kakashi-sensei. Hanya beliau yang bersedia."
"Kau jahat sekali dengan semua opinimu itu," Kiba mencibir.
"Dia sahabatku. Jadi diamlah," Sasuke berkata seraya menyikutnya.
"Cukup adil," kata Kiba. Dia sudah mengenal baik watak pemuda di sampingnya ini. Baik dan buruknya. Walaupun lebih dominan ke sifat buruk.
Sasuke menghentikan langkahnya. Mereka sudah tiba di depan ruang seni. Pintunya yang terbuka lebar membuat mereka bertiga dapat melihat langsung ke dalamnya. Seorang pemuda sendirian tengah berdiri di depan salah satu easel dengan kanvas yang masih kosong.
"Sai," Sasuke memanggil. "Selamat siang. Kulihat kau sedang sibuk di sini."
"Klubku sudah penuh. Aku kira kau sudah tahu itu, Kaichou," Sai langsung memotong ke inti pembicaraan. Bahkan dia tidak menoleh sedikitpun ke arah mereka. Alis Kiba berkerut. Naruto tertegun. Sasuke melangkah maju tak terima.
"Aku belum mengatakan apapun," Sasuke berjalan mendekati Sai.
Sai membalikkan tubuhnya. Menatap Uchiha muda dari mata ke mata. "Baiklah. Lalu?"
"Ada yang perlu kubicarakan denganmu. Empat mata. Tidak di sini. Tidak di depan mereka," Sasuke berkata cepat dengan volume terendahnya. Matanya menatap wajah pucat Sai; berharap dia akan setuju.
"Sasuke-kun, ini—" Sai hendak menggeleng, tapi Sasuke langsung memotongnya,
"Kumohon, Sai. Kali ini saja," Sasuke memohon, tapi tatapannya masih datar dan dingin seperti biasa. Tidak merujuk seperti orang yang sedang memohon sama sekali. Sai menghela nafas pelan. Menoleh ke belakang Sasuke untuk melihat Kiba dan Naruto hanya diam memperhatikan mereka berdua.
"Naruto-kun, kan?" Sai bertanya. Bibir pucatnya bergetar setiap kali dia berbicara.
"A-ah, iya!" Naruto membungkuk. "Sasuke bercerita banyak tentangmu. Mohon bantuannya mulai dari sekarang, Sai-san…"
"Heh, begitu." Sai tersenyum miris sambil melirik Sasuke, walaupun lebih terlihat seperti sebuah seringai. Sasuke diam, mengangkat bahu. Jadi, Uchiha itu membicarakannya. Pasti bukan hal baik. "Baiklah kalau begitu, Naruto-kun. Kau adalah anggota klub ini mulai dari sekarang. Mohon bantuannya, oke?"
"Baik, Kaichou!"
Sai mengulum senyumnya. Sasuke punya teman seperti ini… sangat mencurigakan. Wataknya berbeda jauh, bisa dibilang hampir seratus delapan puluh derajat, tapi pasti ada satu hal yang menyatukan mereka…
"Begitu saja?" Kiba berbisik; melongo. Tak butuh selembar kertas untuk menulis data yang dibutuhkan, hanya dengan berbicara sedikit dengan ketuanya, lalu langsung diterima?
"Kalau begitu, Sai, kami undur diri dulu," Sasuke berkata sambil menghadap pemuda berkulit pucat yang lebih pendek darinya dua-tiga senti.
Sai mengangguk, tersenyum ramah seraya mengatakan, "Sampai nanti." Membiarkan ketiga pemuda itu berjalan pergi dari ruang klub seni tanpa menutup pintunya. Walaupun bisa dibilang, itu memang kebiasaan tak lazimnya.
Selepas kepergian ketiga pemuda itu, senyum segera hilang dari wajahnya. Wajahnya mengeras—dalam sekejap berubah menjadi serius, dengan alisnya yang sedikit mengerut. Dia lantas segera mengambil secarik kertas dan pulpen; menuliskan dua patah kata di sana, menyusun satu nama.
"Uzumaki Naruto."
"Sepertinya kau begitu dekat dengannya, Sasuke," Kiba berkomentar. Mereka dalam perjalanannya kembali ke kelas untuk mengambil tas. Repot sekali, padahal tadi Sasuke sudah mengusulkan untuk membawa tas agar bisa langsung pulang.
"Teman SMP. Lagipula sudah seharusnya aku dekat dengan semua anggota di kelas kita," Sasuke berkata sembari mengalihkan pandangannya.
"Jadi? Bagaimana caranya kau bisa membujuknya?" tanya Kiba; mengernyit penasaran. "Setahuku Sai selalu mengadakan seleksi super ketat untuk bisa masuk ke klubnya. Tapi tadi, dia bahkan tidak meminta Naru-chan untuk berbicara sama sekali."
Sebelum Sasuke berhasil menjawabnya, tiba-tiba Kiba memotong sambil menarik Naruto ke sampingnya, "Tunggu! Naru-chan, sudah kubilang untuk tidak berjalan di belakang kita! Kita ini teman. Dan kau harus mendengar orang ini untuk menjelaskan akal-akalan liciknya untuk membujuk orang sedingin Sai."
Naruto tertawa kecil, walaupun di mata Sasuke, Naruto lebih terlihat seperti sedang meringis.
"Jadi, bagaimana?" kini giliran Naruto yang bertanya. Sepertinya dia juga penasaran.
Sasuke terkekeh, menggeleng.
"Ayolah!" Kiba tertawa keras; menyikut Sasuke. "Kenapa kau begitu merahasiakannya? Tidak seperti kami akan ingin melakukannya untuk membujuk orang sedingin itu. Walau kami mungkina akan melakukannya terhadapmu."
"Jangan-jangan Sasuke-san memberi sesuatu sebagai gantinya kepada Kaichou?" Naruto asal menebak.
Kiba langsung mengangguk menimpali. "Ooh, sebagai bayaran, begitu maksudmu?"
Naruto mengangguk. "Mungkin Sasuke-san tahu apa yang sedang Kaichou inginkan. Jadi akan membelikannya sebagai hadiah… Mungkin? Seperti itu kah?"
"Ahaha, tidak mungkin sedangkal itu, Naru-chan!" Kiba menepuk bahu Naruto. "Sasuke dan Sai ini tipe orang yang sama. Dua-duanya dingin. Jadi, tidak mungkin Sai akan menerima sogokan dari orang tak berperasaan seperti Sasuke."
Naruto mengangguk-angguk. "Oh ya, kegiatan klub itu… bagaimana?"
"Eh?" Kiba memasang pose berpikir. "Pada dasarnya, semuanya sama. Setelah kegiatan KBM di sekolah selesai, kau diwajibkan ke ruang klub. Mungkin kau harus bertanya kepada Sai untuk lebih jelasnya."
"Pulang sekolah?" Naruto terpaku. Langkahnya terhenti. "Tapi aku tidak bisa. Aku ada… melakukan pekerjaan sambilan. Bahkan hari ini… seharusnya aku…"
"Oh. Wew, seharusnya kita memberitahunya dari awal, Sasuke." Kiba bingung menatap Sasuke. Yang ditatap hanya diam—sepertinya berpikir, sebelum akhirnya berkata,
"Kubilang, Sai orang yang berbeda. Dia mengatur semua keperluan klubnya sendiri," Sasuke mulai menjelaskan. "Dia mungkin sinis dan dingin, tapi dia orang yang berperasaan, Kiba. Tapi sekali kau adalah orang yang dianggap 'kawan' olehnya, dia akan menjadi orang pengertian. Jika kau menjelaskannya kepada Sai besok, Naruto, mungkin dia akan memberikan kelonggaran padamu."
Naruto mengangguk pelan, agak menunduk. Kiba hanya diam. Mendengar Sasuke menjelaskan tingkah laku seseorang benar-benar membuatnya takjub. Atau merinding ngeri. Entahlah.
Mereka pun tiba di depan kelas 11-4. Sasuke berhenti melangkah setelah menggeser pintu kelas. Sekolah sudah sepi, kelas pun sudah kosong. Hanya tersisa tiga tas yang tersisa di atas meja kelas itu.
"Aku tiba-tiba jadi malas bergerak," Sasuke berkata; mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas dengan tatapan kosong. "Kiba, ambilkan tasku."
"Eh, kau tidak bisa melakukan itu!" Kiba protes, tapi ekspresinya langsung berubah ketika Sasuke mengacungkan jari telunjuknya di depan wajahnya seraya berkata,
"Kukira kau penasaran bagaimana caranya aku membujuk Sai."
"Siap, Bos!"
Naruto hendak berjalan mengikuti Kiba untuk mengambil tasnya, tapi Sasuke menahannya.
"Biar Kiba yang mengambil tas kita." Sasuke menghela nafas ketika melihat Naruto yang patah-patah mengangguk.
Kelas terlihat indah dengan gorden yang diterpa hembusan angin dan sinar jingga mentari sore; membuatnya terlihat seolah berkilauan. Sosok Kiba kembali dengan membawa tiga tas yang disanggul di kedua bahunya. Sasuke hendak mengambil tasnya, tapi Kiba menolaknya mentah-mentah.
"Biar kubawakan. Punyamu juga, Naru-chan." Kiba sepertinya penasaran sekali. Jarang sekali dia mau melakukan pekerjaan kasar yang Sasuke berikan dengan senang hati.
Bibir Sasuke tertarik ke atas; membentuk sebuah senyuman. Lantas mulai melangkah diikuti dengan kedua temannya di kedua sisinya. "Baiklah, kau sendiri yang bilang begitu."
Kiba mengangguk. "Jadi, bagaimana? Sai tak mau mungkin menerima sesuatu yang murahan. Apa yang kau berikan pasti benar-benar keren dan berharga, sampai dia tidak bisa menolak."
"Atau jangan-jangan," Naruto menyela; wajahnya dipenuhi dengan cengiran, dan pikirannya dipenuhi dengan ide gila, "Sasuke-san berjanji akan mengajaknya kencan? Ke restoran mewah, misalnya?"
Naruto hanya tersenyum simpul menanggapi Kiba yang tertawa dengan sangat keras. Beberapa murid yang masih ada di koridor sekolah bahkan menoleh untuk melihat sumber suara. Tapi Kiba mengabaikan mereka, malah berseru, "Astaga, itu gila! Sekalian saja ajak dia ke taman hiburan! Aku tahu, ada taman hiburan yang baru dibuka di pusat kota. Kenapa kau tidak sekalian mengajaknya ke sana, Sasuke?"
"Kau tahu apa, kurasa itu ide bagus."
Kini giliran Kiba terbatuk keras. Naruto hanya melotot mendengar respon singkat dari Sasuke.
"Apa?" Kiba bertanya setelah batuknya pada akhirnya reda. "Kau tidak sedang serius kan, Sasuke? Aku dan Naru-chan hanya bercanda tadi."
"Aku tahu. Aku serius." Sasuke menyeringai. Dia jelas menyukai ekspresi aneh yang dibuat oleh kedua temannya itu. Jarang sekali dia melihat hal seperti ini, dia harus memanfaatkannya sebaik mungkin. "Aku sangat serius. Eh, apa perlu kubawa dia ke rabuho di akhir kencan kami? Tunggu, menurutmu… apa Sai seorang tachi atau—"
"CUKUP!" Kiba menjerit; kali ini tak ada orang di sekitar mereka karena mereka sudah berada di luar lingkungan sekolah—jalanan yang sepi karena sore hari sudah menjelang. Kedua tangannya yang dia gunakan untuk menutup kedua telinganya ternyata tidak untuk mengisolasi kata-kata yang diucapkan Sasuke. "Sialan kau, Sasuke. Kau pasti hanya bercanda."
Sasuke hanya menanggapi dengan tersenyum simpul.
"Sasuke-san hanya bercanda? Aku sempat kaget tadi…" Naruto menghela nafas lega. Wajahnya yang sempat memerah perlahan tadi kembali ke warna semula.
"Tapi aku serius soal mengajaknya ke restoran. Tidak mewah, tapi mungkin akan lebih simpel," Sasuke berpikir. "Bagaimana café kedengarannya?"
"Itu bagus," Naruto menjawab dengan polosnya.
"Sial, aku pasti akan gila kalau terus bergaul dengan kalian," Kiba mengumpat pelan. Disambut dengan tawa pelan Naruto. Naruto sepertinya benar-benar suka menertawakan hal-hal remeh. Entah begitu, atau dia hanya senang dengan kedua teman barunya.
"Oh, aku belok di sini," Naruto tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. Mereka tiba di sebuah perempatan jalan.
"Eh, benarkah?" Kiba bertanya bingung. "…Pekerjaan sambilan?"
Naruto mengangguk.
"Kalau begitu… selamat t—"
"Kumohon, jangan katakan itu," Naruto tiba-tiba memotong. Wajahnya memucat, dan peluh mengalir dari dahinya. Alisnya terangkat, dan ekspresinya jelas-jelas memberitahu Kiba dan Sasuke bahwa dia merasa takut. Entah kenapa dia membuat ekspresi seperti itu.
"Naruto benar. 'Selamat tinggal', itu sudah seperti kita takkan bertemu lagi saja, Kiba," Sasuke menengahi; menatap Kiba yang salah tingkah. "Sampai jumpa besok, Naruto."
Naruto terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk. "Sampai jumpa besok, Kiba. Sasuke-san." Lantas, mulai berjalan menjauh setelah melambaikan tangannya ke arah Sasuke dan Kiba yang masih berdiam diri di tempat.
"Ayo pulang." Sasuke melanjutkan langkahnya.
"Tapi, Sasuke, arah itu kan…"
"Bukan urusan kita," Sasuke berkata tegas. Kiba yang berjarak beberapa meter belakangnya tertegun, perlahan mulai ikut berjalan. Tanpa berkata apapun lagi, menyejajarkan langkah mereka.
Sasuke, entah perasaan macam apa yang berkecamuk dalam dadanya. Dia tak tahu. Penasaran? Cemas? Tapi kenapa? Memangnya dia sendiri peduli?
Hah, 'peduli'.
Naruto memang orang yang baru dia kenal hari itu. Sasuke bahkan tak benar-benar mengetahui seluruh wataknya, kebiasaannya. Terlebih, Sasuke sudah berjanji kepada dirinya sendiri agar tidak akan pernah 'peduli' dengan apapun—siapapun lagi. Tapi, jika begini jadinya, bukankah ini berarti 'peduli'?
Arah itu, tak ada restoran atau pertokoan, seperti tempat di mana seorang siswa SMA mencari pekerjaan sambilan pada umumnya.
Hanya ada perumahan, dan beberapa gedung—
—gedung hotel.
= TO BE CONTINUED =
A/N:
Kembali lagi sama Midaa.
Sebelumnya, saya minta maaf sebesar-besarnya atas keterlambatan update fanfic ini, beberapa hari kemarin saya sakit, dan otak serta wi-fi di rumah saya sulit untuk diajak berkompromi (_ _) Dan serius, saya nggak pernah menyangka akan mendapatkan apresiasi yang begitu banyak dan menyenangkan dari kalian semua. Terima kasih banyak! (membungkuk)
Lanjut, yang pertama ingin saya bahas, mengenai judul. Saya awalnya niat ngasih judul "Nice to Meet You" and "Until We Meet Again", tapi kemudian saya sadar kalau judulnya kepanjangan. Jadi saya ganti ke "Hajimemashite" to "Sayonara", yang sebenarnya arti secara harfiahnya cukup berbeda; lebih ke "Salam Kenal" dan "Selamat Tinggal". Aduh saya bingung, tapi ah sudahlah.
Kemudian mengenai chapter ini, pendapat saya sendiri, mungkin agak kepanjangan, dan alurnya agak terlalu cepat. Saya mengakui. Dan di chapter ini, sosok Naruto mulai kelihatan misteriusnya. Mungkin kalau dilihat-lihat lagi, agak OOC kalau Naruto seperti itu ya.
Jadi untuk menghindari saya mengritik tulisan saya sendiri lebih lanjut (tertawa gugup), saya pikir kritik dan saran dari kalian tentu akan banyak membantu. Jadi mohon bantuannya (membungkuk).
Lanjut, membalas review. Saya hanya akan membalas review yang sekiranya membutuhkan jawaban.
lemonade: dibilang 'dark' sih, saya rasa nggak begitu. Walaupun fanfic ini memang mengandung unsur SM, tapi saya rasa ini nggak begitu berlebihan…
ClariessEden: eh… maaf, saya nggak ngerti apa maksudnya (_ _)
Siti583: singkatan dari Korupsi, Kolusi, Nepotisme. Pokoknya semacam penyimpangan dalam perekrutan anggota. Misal, karena karena membayar, atau karena ada koneksi—kerabat misalnya. Lebih lengkapnya bisa dicari di mbah google atau buku PKn/IPS (tertawa)
versetta: wkwk… Saya sengaja buat prolognya pendek. Tapi sekarang udah cukup panjang, kan?
Dan untuk beberapa orang yang memiliki pertanyaan, fanfic ini SasuNaru, kan? Jawabannya, iya. Chapter kemarin saya akhiri dengan Sasuke-san yang blushing karena… hanya untuk menunjukkan bahwa Sasuke-san tertarik sama Naruto-kun. Saya nggak bermaksud sama sekali untuk membuat seolah Sasuke-san yang berada di bawah, maaf (tertawa gugup).
Oke, saya rasa segini sudah cukup. Saya benar-benar menghargai setiap dari kalian yang telah menyempatkan diri untuk membaca, bahkan bersedia untuk me-review (yang -maaf- tidak bisa saya sebutkan maupun balas satu per satu _;;), favorite, serta follow. Itu berarti banyak bagi saya.
Sekian dari saya. Terima kasih banyak.
Salam hangat,
Sakaguchi Midaa.
