"Kumohon, jangan katakan itu."

Naruto yang tiba-tiba memotong Kiba yang hendak mengucapkan salam perpisahan. Sosoknya yang membelakangi sinar matahari terlihat agak buram, tapi walaupun begitu, Sasuke bisa melihat wajahnya yang tiba-tiba memucat, dan peluh mengalir dari dahinya. Alisnya terangkat, dan ekspresinya jelas-jelas memberitahu bahwa dia merasa takut.

Dia membuat ekspresi itu karena satu alasan.

Alasan yang boleh jadi Sasuke tahu pasti.

.

.

.

Sweets, Secrets, and Chains

Summary: Seorang murid pindahan yang selalu ceria, polos, dan terlihat simpel, ternyata tidak seperti apa yang dilihat orang-orang. Ada satu rahasia yang dimilikinya... Rahasia yang tidak diketahui oleh sahabatnya sekalipun. / "Aku harus segera pulang!" Dia bersikeras; berusaha menemukan celah untuk pergi. / "Atau apa?" / "…Atau?" / SN. School-life AU. Shounen-ai.

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Main Character(s): [Sasuke U. & Naruto U.]

Rated: T for inappropriate contents

Genre: romance, drama & slice of life

Warning: typo(s), contains -too much- drama (you may get sick of it www), OOC, alur kecepetan, etc.

Enjoy~

.

.

.

Chapter 2: Because It's How We Are

Jam di dinding kelas menunjukkan pukul delapan lewat lima belas ketika Kiba melangkah memasuki ruangan. Hampir seluruh siswa di kelas sudah hadir, beberapa sibuk dengan urusannya sendiri. Manik Kiba langsung menemukan sosok Sasuke di pojok kelas, melempar pandangan ke luar jendela. Senyum perlahan terbentuk di bibirnya.

"Selamat pagi, Sasuke!" sapa Kiba riang; menggantung tasnya di samping meja. Yang disapa tidak menjawab, bahkan tidak bereaksi sedikit pun. Masih menatap kosong entah apa itu di luar jendela dengan hembusan napas yang teratur, seolah dia tidak mendengar sapaan Kiba yang sebenarnya bisa didengar bahkan dari koridor di depan kelas. Iseng, Kiba mengatakan, "Met pagi, Sasu-sayang."

"Apa-apaan," Sasuke bereaksi spontan, melirik Kiba dengan tatapannya yang begitu tajam menusuk, andai Kiba tidak terbiasa diperlakukan seperti itu.

"Oh, kau masih hidup rupanya," Kiba terkekeh, menghempaskan diri ke atas kursinya. "Habis tadi kau diam saja, kupikir sisa-sisa kehidupanmu yang menyedihkan sudah memutuskan untuk meninggalkan tubuhmu."

Sasuke menatap Kiba, tidak mengerti. Bukan, bukan karena maksud dari ucapan Kiba yang begitu sinis terhadapnya, tapi karena dia tidak merasa hidupnya menyedihkan, seperti apa yang dikatakan Kiba. Entah dari mana pemuda penyandang marga Inuzuka itu berakhir menyimpulkan hal itu, tapi seorang Uchiha Sasuke jelas merasa hidup dengan kehidupan terbaik yang bisa jadi tidak bisa dimiliki oleh orang lain. Dalam bidang akademik maupun sosial. Dalam hal yang menyangkut keluarga maupun teman-temannya.

Entah dia berpikir positif, atau hanya narsis tingkat dewa.

"Aku mendengarmu tadi," Sasuke akhirnya berkata, lantas membalas ucapan Kiba tak kalah sinis, "Aku hanya tidak mengira kau mengharapkan balasan dariku. Kukira kau sudah terbiasa diperlakukan seperti ini."

"Heh, begitu." Kiba menyandarkan punggungnya pada jendela. "Asal kau tahu, aku tak pernah mengharapkanmu untuk membalas sapaanku, bahkan yang terbodoh sekalipun. Biasanya, kau takkan melakukan hal itu sekalipun aku memanggilmu dengan sebutan yang paling kau benci. Kau bahkan tidak tahu kalau ini bukan pertama kalinya aku memanggilmu seperti itu, karena biasanya, kau tidak peduli. Jadi, entah hari ini kau memang memutuskan untuk lebih terbuka pada teman-temanmu atau kau sedang melampiaskan amarahmu padaku."

"Melampiaskan apa?" Sasuke mengernyit heran. Sungguh, dia bingung dari mana Kiba bisa menyimpulkan berbagai hal yang salah tentangnya. Dan ternyata, dia mengakui, pendapatnya mengenai Kiba salah besar. Kiba ternyata bisa berpikir hingga sedemikian rumitnya, hanya saja mengenai hal-hal sepele yang tidak patut mendapatkan perhatian, bukan pelajaran-pelajaran di sekolah yang berkali-kali lipat lebih pentingnya. Sayang sekali dia menyia-nyiakan kemampuan menguntungkan itu.

"Amarahmu, Suke-chan," Kiba menjawab, mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja Sasuke. Sasuke face-palmed, lantas Kiba yang melihatnya melanjutkan, "Maksudku, sesuatu yang bersangkutan denganmu membuatmu memutuskan untuk peduli. Mungkin, hanya mungkin, kau terus menerus berpikir tentangnya, tapi tidak menemukan solusi. Dan kau frustasi karenanya."

"Aku tidak—"

"Kau bisa membantahnya sesukamu, Sasuke, tapi aku tahu pasti apa yang terjadi. Aku bisa melihatnya dalam dirimu. Dengan jelas," Kiba berkata; terlihat seolah cuek, tapi sesuatu di dalam Sasuke memberitahunya kalau Kiba hanya memancingnya.

Sasuke menghela napas. Peduli amat dengan Kiba dan semua omong kosong yang dia ucapkan, tapi dia memang harus membicarakan sesuatu dengannya.

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu, Kiba," belum Sasuke mengatakan apa yang hendak disampaikannya, Kiba cepat memotong,

"Nah, begitu!"

Sasuke mendengus. "Bukan mengenai apa yang bersangkutan denganku. Justru, hal ini tidak ada sangkut pautnya denganku." Di titik ini, Kiba mengernyit bingung, maka Sasuke langsung melanjutkan, "Mengenai Naruto. Apa yang terjadi kemarin. Aku merasa seperti ada yang aneh dengannya, aku terus memikirkannya sepanjang malam."

"Mengenai pekerjaan sambilannya?" tanya Kiba; langsung ke inti. Sasuke mengangguk pelan; Kiba lantas menghela napas panjang. "Sasuke, aku tahu kalau kau tahu kalau berpikir yang tidak-tidak itu bukanlah hal yang baik, apalagi terhadap orang yang tak kau kenal dengan pasti. Tapi aku juga tahu, sebagai teman—dan ketua kelas, kau merasa semua hal tentang Naruto yang merupakan anggota kelas adalah urusanmu. Aku juga merasakan hal yang sama. Well, tidak mengenai 'ketua kelas' itu, tentu saja. Tapi intinya… ada baiknya jika kita menghindari ikut campur dengan urusannya. Jika itu hanyalah urusannya seorang, maka biarkan saja begitu. Orang luar seperti kita… tak pantas campur tangan."

"Kau terdengar seperti Kakashi-sensei," Sasuke berkomentar.

"Aku setuju. Kurasa aku membiarkan orang itu mempengaruhiku," Kiba mengangkat alisnya. "Sialan. Tapi kau mengerti maksudku, kan?"

Sasuke mengangguk. Walaupun dalam hati, separuh dari dirinya menolak mentah-mentah ide Kiba untuk berdiam diri dan membiarkan pemuda Uzumaki itu mengurus urusannya sendiri. Sasuke, untuk alasan yang tak dia ketahui, merasa campur tangannya dalam urusan kali ini adalah hal yang perlu.

Dia merasa perlu melindungi seorang Uzumaki Naruto.

Kenapa? Dia tak tahu, tapi dia merasa akan mendapatkan jawabannya suatu saat nanti.

Pintu kelas terbuka, sosok Naruto melangkah memasuki kelas setelah kembali menggeser pintu, menutupnya rapat-rapat.

"Oh, Naru-chan, selamat pagi," sosok Kiba menyapa dengan riangnya; melambaikan kedua tangannya ke arah Naruto. Seolah sudah melupakan bahwa beberapa detik yang lalu, dia dengan Sasuke sedang membicarakan si pemuda pirang.

Sasuke cepat-cepat kembali memasang ekspresi dan bersikap seperti biasanya. Sebisa mungkin berakting normal. Naruto tak boleh sadar akan pembicaraan dengan Kiba sebelumnya. Apa yang akan menjadi reaksinya jika dia mengetahuinya? Sasuke bisa-bisa dijauhi, dan Sasuke tidak mau hal itu terjadi.

"Selamat pagi juga, Kiba, Sasuke-san," Naruto membalas sembari melangkah mendekati mejanya. Lantas menggantung tasnya di samping meja. "Aku rasa kalian datang cukup pagi… Bukankah homeroom baru akan dimulai setengah jam lagi? Eh, setidaknya itu yang mereka katakan kepadaku."

"Kurasa Kakashi-sensei belum memberitahumu. Homeroom tidak dimulai jam sembilan di kelas ini, Naru-chan. Di sini, homeroom dimulai jam sembilan kurang lima belas," Kiba menjelaskan dari tempat duduknya yang berselang satu meja dari tempat duduk Naruto. Berselang seorang Uchiha Sasuke yang tampaknya jengkel dengan percakapan sepele kedua temannya. "Kakashi-sensei sengaja datang lebih pagi, soalnya kalau lebih siang, dia keburu mager, dan telatnya bisa lebih dari satu-dua jam. Jadi semacam tindak pencegahan."

"Oh, syukurlah aku masuk lebih pagi, kalau begitu." Naruto tertawa ringan.

"Omong-omong, kau sudah menyalin jadwal pelajaran, kan?" Bagus sekali basa-basinya, Sasuke berpikir. Kiba memang berbakat membanting setir topik pembicaraan. Yang harus dilakukan Sasuke sekarang adalah mengalir, bersikap seperti sebagaimana dia harus bersikap.

"Soal itu… Aku hanya baru sempat menyalin untuk jadwal pelajaran untuk hari kemarin dan hari ini." Naruto mengambil buku catatannya dari dalam tas. "Keberatan jika aku meminjam catatan jadwalmu, Kiba?"

"Punya Sasuke aja, lebih lengkap," Kiba menjawab dengan jari telunjuknya menunjuk Sasuke yang sedang menguap.

"Maksudnya 'lengkap' itu lebih rapi, Naruto," Sasuke mendengus, kemudian bibirnya membentuk sebuah seringai; menatap Kiba iseng. "Atau siapa yang tahu kalau ternyata selama ini Kiba tidak memiliki catatan sama sekali."

Kiba tersenyum, menunjukkan kepalan tangannya ke arah Sasuke.

"Heh, memangnya kau berani?"

"Aku memang berani!"

"Sudah, sudah…," Naruto menengahi debat kekanakan kedua temannya. Kiba mendengus, sementara Sasuke hanya mengangkat bahu. "Sasuke-san, bisa kupinjam catatanmu? Hanya kalau kau tidak keberatan, tentunya…"

Sasuke segera mengeluarkan buku catatannya dari dalam tas sekolahnya, lantas tanpa banyak omong, memberikannya kepada Naruto. "Di situ semuanya lengkap, dari jadwal pelajaran sampai jadwal piket kelas. Pokoknya, semua yang kau butuhkan tertulis di sana."

"Wah, wah… Jangan bilang sampai semua kebiasaan guru juga kau tulis," Kiba berkomentar, menatap Sasuke sinis.

"Lihat saja sendiri." Sasuke membalas tatapan Kiba, tak kalah sinis.

Naruto yang penasaran lantas mulai membuka lembar demi lembar buku bersampul biru dongker itu. Kiba, beranjak dari duduknya, ikut memperhatikan dari belakang Naruto. Sementara si pemilik buku hanya diam dalam duduknya sambil menunggu kedua orang itu untuk bereaksi.

"Sial, dia tidak mungkin bersungguh-sungguh…" Kiba menatap Sasuke dan buku itu bergantian; tidak percaya. "Sas, kau bahkan menulis pada jam berapa guru sedang berada di mana. Jangan bilang ini kesimpulanmu setelah menguntit mereka."

"Agak… mengerikan," Naruto tertawa gugup. Melihat wajah datar Sasuke—yang sebenarnya memang seperti itu dari sananya, tapi karena masih belum terbiasa, Naruto malah menganggapnya sebagai ekspresi ketidak sukaan Sasuke terhadapnya. Maka dia dengan cepat meralat, "Ta-tapi ini pasti akan sangat membantuku, jadi aku akan meminjam buku ini. Terima kasih banyak, Sasuke-san."

"Hn," Sasuke menggumam, membalik tubuhnya dan kembali fokus pada kegiatannya—tidak melakukan apa-apa.

Kiba, kesal dengan sikap (yang baginya) sok keren Sasuke, mendengus, lantas kembali ke tempat duduknya. Naruto langsung sibuk dengan catatannya setelah Kiba meninggalkan mejanya.

"Hei, Sasuke, aku tidak pernah tahu kau memiliki catatan seperti itu," Kiba berbisik kepada Sasuke. Merendahkan volume suaranya agar tak didengar oleh Naruto.

"Oh ya?" Sasuke bertanya seolah dia penasaran, tapi nadanya datar sekali.

Kiba memelototi Sasuke jengkel. Tapi ekspresi itu tak bertahan lama di wajahnya, dia segera menggantinya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jangan bilang… kalau kau ternyata baru mencatat itu tadi malam karena tahu Naruto akan membutuhkannya."

Sasuke menyeringai.

"Jangan bilang kalau kau mau melakukan semua itu demi Naruto."

"Hmph." Sasuke memejamkan matanya. "Siapa yang tahu."


"Kau masih di sini, Sai."

Sasuke melangkah memasuki ruangan dengan pintu yang selalu terbuka itu. Mendapati sosok seorang pemuda yang sedang berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke jalan raya di depan sekolah. Hari ini masih musim semi, jalan sekolah terlihat indah dengan kelopak sakura yang berguguran di atasnya.

Sang pemuda berkulit pucat menoleh perlahan, namun tak berniat membalas ucapan dari Sasuke sama sekali. Dia menarik tangannya yang sebelumnya sedang menyentuh permukaan kaca jendela.

"Kau belum pulang," Sasuke melanjutkan. Memutuskan untuk mengatakan basa-basi terlebih dahulu sebelum mereka masuk ke inti pembicaraan.

Di lain pihak, Sai bukanlah orang yang suka berbasa-basi. Matanya membuat kontak Sasuke, tapi hanya untuk beberapa detik sebelum dia kembali mengalihkan pandangan ke luar jendela. "Naruto-kun baru saja mampir ke sini beberapa saat yang lalu."

"Maksudmu 'beberapa saat yang lalu' itu 'beberapa jam yang lalu', Sai. Naruto izin untuk mampir ke sini saat istirahat makan siang," Sasuke mengoreksi, melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah lima jam berlalu. "Apa waktu tidak berpengaruh padamu di sini?"

Sasuke begitu frustasi ingin membuat orang di hadapannya membuka mulut. Dia tidak seperti ini dulu, ketika mereka masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Berapa tahun yang lalu, tidak sampai tiga tahun. Apa orang memang bisa berubah secepat itu menjadi sosok yang seratus delapan puluh derajat berbeda?

"Sai, aku—"

"Naruto-kun dan Inuzuka-kun sudah menunggumu untuk pulang bersama, bukan?" Sai tiba-tiba memotong; kembali membanting setir pembicaraan. "Pulanglah. Kau bisa mendapatkan yang kau ingin aku untuk lakukan besok atau lusa, tapi pekerjaan sambilan Naruto-kun tidak bisa ditunda."

"Kau… percaya padanya?" Manik hitam kelam Sasuke membulat sempurna. Tangannya lantas meraih tangan pucat Sai dan menariknya. "Sai, dia jelas menyembunyikan sesuatu. Apa kau tidak melihatnya?"

Sai menghela napas, menggeleng pelan. "Tidak seperti itu. Aku belum bisa menyimpulkan apapun; ada beberapa hal yang harus kupastikan, dan aku membutuhkan bukti, lebih banyak lagi," ujarnya, perlahan melepaskan tangan Sasuke dari tangannya. "Karena itu, kau harus pulang sekarang. Naruto tidak boleh curiga kepadamu, walaupun sebenarnya kurasa dia tidak akan pernah berpikir harus mencurigaimu. Dia tak memiliki alasan, maka biarkan seperti itu."

Sasuke mendengus, tampaknya tidak begitu suka dengan apa yang baru saja didengarnya. Tapi Sai boleh jadi benar, dia harus sedikit menjaga jarak, lalu jika saatnya sudah tepat—

"Permisii. Sasukee!" Suara cempreng Kiba memotong pikiran Sasuke. Kedua pemuda yang sedang berada di dalam ruangan lantas segera menoleh ke asal suara. Di ambang pintu, Kiba berdiri sambil memegang dua tas—satu disanggul rapi di bahu, yang satu lagi di seret, sementara Naruto berusaha memegang tas yang sedang diseret oleh Kiba dengan benar.

"Kukira aku sudah menyuruh kalian untuk menunggu di loker."

Menyuruh, Naruto menggaris bawahi. Naruto masih terlalu asing untuk mengenal watak seorang Uchiha yang diturunkan pada Sasuke, sedang orang seperti Kiba yang sudah hidup bertahun-tahun bersama Sasuke tentu sudah menganggapnya seperti makanan sehari-hari.

"Kau memang sudah meminta kami untuk menunggumu di loker," Kiba berkata cuek, mengulangi—dengan revisi, sebagian besar kata yang diucapkan Sasuke sebelumnya. Sasuke ingin menepuk dahinya, tapi memaksa untuk menahan diri. Sementara Sasuke-Kiba yang memang sudah biasa dengan debat kusir, Naruto di sisi lain berusaha untuk mencari alasan. Sasuke kelihatannya marah, tapi Kiba santai sekali. Padahal Naruto sudah mengingatkannya sebelumnya.

"Lalu kenapa kau tidak melakukannya?" Sasuke menangkat kedua alisnya. Tapi dia segera melanjutkan ketika dia melihat Kiba hendak menjawab pertanyaannya, "Itu pertanyaan retoris, Kiba."

"Oh. Begitu," Kiba mengulum kembali kata-kata yang sebelumnya hendak dia ucapkan. "Omong-omong, walaupun sepertinya kau merasa tidak membutuhkan jawabanku, aku akan tetap menjawab, karena kau membutuhkan penjelasan dariku, Sasuke."

Sasuke tidak terlihat tertarik, apalagi Sai yang dari tadi seolah diabaikan eksistensinya; Naruto hanya diam, takut-takut melirik ke Sasuke yang memasang tampang datar. Kiba menarik napas dalam-dalam.

"Tadi aku ngobrol sama Naru-chan. Dia cerita kalau dia suka makanan manis, jadi kupikir kita bisa mampir ke toko kue di perjalanan pulang," Kiba menjelaskan, mengambil kesimpulan dari beberapa jam ocehan dan paksaan tak perlu darinya kepada Naruto untuk mengetahui kegemaran sang pemuda pirang. "Nggak jauh kok, Sas, tenang aja. Naru-chan juga nggak keberatan."

Sasuke mengernyit. Naruto? Tidak keberatan? Bukankah dia harus pergi bekerja?

"Jika kau bilang begitu." Tapi pada akhirnya, Sasuke memutuskan untuk mengalir; dia mengangkat bahu, lalu melempar pandangannya pada pemuda di sampingnya. "Kau ingin ikut, Sai?"

"Oh. Ooh, benar! Sai juga boleh ikut. Aku tak tahu apa yang Sasuke berikan padamu, tapi kurasa itu berarti sesuatu. Sementara aku, kurasa aku hanya bisa memberikan ini sebagai ganti karena telah menerima Naruto dengan baik di klub ini," Kiba menangkupkan kedua tangannya. "Atau, kalau kau tak mau menganggapnya seperti itu, karena jujur, aku merasa agak kasar, aku punya ide lain. Anggap saja kau sedang kencan berdua dengan Sasuke, bagaimana?"

Di titik ini, Sai tersedak, lantas terbatuk keras. Sasuke memelototi Kiba, yang hanya membalasnya dengan mengangkat bahu. Sengaja sekali, Kiba pasti ingin balas mengerjainya.

"Ah, kupikir itu akan bagus sekali!" Naruto berkomentar; kepala ketiga pemuda selain dirinya di ruangan itu langsung menoleh ke arahnya, menatapnya terkejut. "Maksudku… agak sepi di sini kan, Kaichou?"

Sasuke hanya diam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

Sai tersenyum tipis. "Aku menghargai tawaranmu, Inuzuka, tapi ada yang harus kulakukan saat ini," ujarnya kemudian. "Kalian bisa melakukan banyak hal menyenangkan bertiga."

Kiba mengangkat bahu. "Kau sendiri yang bilang begitu." Dia memutar bola matanya kesal. Dia gagal menerapkan taktik yang kemarin berhasil Sasuke lakukan terhadap Sai. Jika dia menolak kencan secara terang-terangan, entah apa yang diberikan Sasuke kepadanya. "Ya sudah. Ayo pergi, Naru-chan."

Naruto mengekori Kiba berjalan ke luar ruangan.

Suasana ruangan itu hening untuk beberapa menit, sebelum Sai jatuh ke dalam tawa yang sangat keras. "Kencan? Kau serius, Sasuke-kun?" Dia berusaha menahan tawa ketika menanyakannya. Sasuke hanya diam—tak mau menanggapi, tapi jelas bahwa dia menyembunyikan kekesalan terhadap pemuda Inuzuka yang baru saja mempermalukan dirinya itu. "Apa sih yang kau katakan pada mereka?"

"Kafe di seberang toko buku Jalan K nomor 9, Sabtu sore. Dan tolong jangan banyak omong." Tanpa banyak omong lagi, Sasuke melangkah pergi. Meninggalkan si pemuda berkulit pucat yang sedang menertawakan kebodohannya di ruangan dengan pintu yang selalu terbuka itu.

Sasuke memacu langkahnya secepat mungkin untuk mengejar kedua sosok temannya yang sedang berada di gerbang sekolah. Dilihatnya Kiba yang sedang bersandar pada dinding kokoh gerbang bersungut-sungut. Naruto berusaha menghiburnya berkali-kali, terlihat hanya dari tampangnya.

"Aku tak percaya dia menolak tawaranku." Kiba mendengus kesal, mulai melangkah ketika Sasuke sudah dekat dengan mereka. "Apa sih yang kau berikan? Apa itu sesuatu yang tak bisa aku maupun Naru-chan miliki? Hah? Jawab aku, Sasuke!"

"Kau yang tidak membiarkanku menjawab pertanyaanmu sendiri, bodoh!" Sasuke meninju bahu Kiba pelan, kemudian berkata, "Lagipula aku sudah memberitahu kalian sebelumnya. Dia sahabatku, dan dia tipe orang yang akan melakukan apapun sebisanya demi temannya. Sampai memikirkan aku kencan dengan Sai, pikiran kalian benar-benar aneh."

Naruto menyejajarkan langkahnya dengan Kiba dan Sasuke; menatap keduanya bergantian. Sepertinya masalah ini di luar urusannya, tapi entah kenapa dia penasaran. "Kalau begitu kami minta maaf, Sasuke-san."

"Aku tak mau minta maaf!" Kiba membantah.

"Kurasa candaan kami keterlaluan. Pasti itu menyinggungmu," Naruto melanjutkan.

"Cih!" Kiba mengacak rambutnya frustasi. "Aah, pokoknya kau harus membayarnya, Sasuke! Traktir aku dan Naru-chan!"

"Tapi kupikir seharusnya kita yang traktir Sasuke-san, Kiba. Kita yang salah."

"Kita tidak salah!"

Naruto mengulum kata-katanya. Kiba keras kepala sekali. Tidak ada gunanya memaksa, kalau begini jadinya. Naruto melirik Sasuke; yang dilirik sedang menghela napas panjang. Sepertinya Sasuke sudah memaklumi tabiat buruk Kiba.

"Aku tahu! Kalau begitu aku saja yang traktir," ucap Naruto tiba-tiba; membuat terkejut kedua pemuda di sampingnya. Kiba melongo, sedang Sasuke, walaupun memasang wajah datar, entah apa yang ada dalam pikirannya. "Aku juga bawa tabunganku hari ini, jadi itu pasti bukan masalah."

"Ini bukan masalah uang, Naru-chan," Kiba berkata, kemudian menunjuk Sasuke, "Kalau soal uang, orang ini punya banyak. Walaupun kita beli makanan paling mahal sekalipun, uangnya takkan habis. Eh, benar juga! Aku akan membuatnya bangkrut! Kalau perlu sampai harus menjual rumahnya sendiri! Hahaha!"

Sasuke mengernyit. Sepertinya kebodohan telah mengambil alih otak temannya ini. "Dasar bodoh, tentu saja hal itu takkan terjadi," ucapnya dengan percaya diri. "Kalaupun aku memang bangkrut, aku takkan menjual rumahku. Kau sepertinya lupa kalau aku memiliki tingkat kepintaran yang berada jauh di atasmu, Kiba."

Sial, Kiba mengutuk. Dia benar-benar melupakan hal itu. Dan—cukup, Sasuke. Kau cukup bilang kalau kau jenius. Tidak usah bawa-bawa 'tingkat kepintaran' apalah itu.

"Omong-omong, toko kue yang kau bilang ini… seperti apa, Kiba?" Naruto bertanya; membanting setir topik pembicaraan. Sepertinya dia mulai belajar keahlian itu dari tukang ngeles nomor satu di daftar Sasuke, Kiba.

"Sebenarnya aku belum pernah ke sana sih, tapi aku sering lewat di depannya pulang-pergi sekolah," jawab Kiba, berpikir. "Aku juga memang tak tahu banyak soal makanan manis, tapi aku tahu beberapa. Sasuke tak perlu ditanya, dia tak suka makanan manis. Kalau kau, Naru-chan?"

"Eh…" Naruto terdiam untuk beberapa saat, menunduk. "Saat aku bilang aku suka makanan manis… maksudku sejenis permen, Kiba. Waktu masih kecil dulu, aku biasa dikasih permen oleh kakakku. Jadi kurasa kebiasaan memakan permen tinggal bersamaku sampai sekarang, haha. Aku bahkan membawa beberapa sekarang."

Kiba mengangguk-angguk. Sasuke berpikir, tipe orang seperti apa yang suka membawa permen ke mana-mana?

"Oh, aku jadi teringat. Aku sebenarnya ingin memberikan ini untuk kalian berdua." Naruto merogoh sakunya, mengeluarkan dua buah permen berbungkus warna-warni, lantas memberikannya kepada kedua temannya. "Ini sebagai tanda terima kasihku atas kebaikan kalian mau menjadi temanku."

"Mou, kau tak perlu melakukannya, Naru-chan!" Kiba tiba-tiba memeluk Naruto. Walaupun dia bilang begitu, tapi pada akhirnya dia mengambil permen di tangan Naruto. "Tapi terima kasih banyak! Ayo jadi teman kelas yang baik selama setengah tahun ini!"

"Aku tak suka manis, Naruto," Sasuke menolak uluran permen dari Naruto. Naruto ragu-ragu kembali memasukan permennya ke dalam saku seragamnya.

"Sebenarnya… sebenarnya aku menantikan pergi ke toko kue bersama kalian berdua," ujar Naruto, terdiam sebentar. Kepala Kiba dan Sasuke segera tertoleh ke arahnya. Perubahan atmosfir yang tiba-tiba ini terasa janggal. "Tapi ada yang harus kulakukan sore ini. Karena itu kalau bisa, kita langsung pulang setelah beli ya."

Sasuke memutuskan untuk angkat suara, "Katakan dengan jujur, apa kau diizinkan ke toko itu sekarang?" dia bertanya. Menatap lawan bicaranya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kalau kau nggak bisa juga nggak apa-apa. Aku bisa membelinya hari ini lalu kubawa ke sekolah besok pagi untukmu."

"Aku… diizinkan kok," jawab Naruto. Sasuke bisa melihat Naruto menggigit bibir, dan tubuhnya yang bergetar.

"Naru-chan, pekerjaan itu penting lho," Kiba mengingatkan. Jika memang benar Naruto harus pergi ke pekerjaan sambilannya setiap pulang sekolah, itu bukan masalah. Jelas seseorang bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan bisa gawat jika tidak bisa menghasilkan uang, bukan?

Tapi… sebenarnya apa pekerjaan sambilannya itu?

"Aku tahu. Tapi hari ini bukan masalah pekerjaan sambilanku." Naruto menggeleng. Dalam sekejap, ekspresi aneh lenyap dari wajahnya. Berganti dengan senyum riangnya, seperti biasa. "Jam kerjaku hari ini memang lebih sore daripada biasanya, makanya dari awal aku bisa ikut kalian. Tapi aku tetap harus masuk, jadi kuharap ini tidak akan berlangsung lama."

"Aku mengerti," Sasuke merespon, setelah beberapa menit jatuh dalam keheningan. "Tapi sebenarnya, ada hal yang ingin kupastikan denganmu, Kiba. Soal tujuan kita sekarang."

"Hah? Ada apa?" Kiba menatap Sasuke bingung. Baru beberapa saat yang lalu, mereka membahas perihal penting mengenai Naruto, kenapa tiba-tiba beralih kepadanya begitu saja? Atau, Sasuke hanya ingin mengganti topik pembicaraan?

"Toko kue yang kau bilang itu… ada di mana?" Sasuke bertanya. Matanya menatap lurus ke depan, entah sedang apa yang sedang dia tatap.

"Di jalan dekat rumahku. Aku kira kau sudah pernah melihatnya," jawab Kiba. "Memangnya ada apa?"

"…toko di situ," Sasuke menggumam tak jelas. Terpaksa mengulangi kalimatnya ketika dia melihat wajah Kiba yang seolah menuntut penjelasan. "Nggak ada toko kue di situ. Padahal kau lewat situ tiap hari. Matamu rabun, ya?"

"Eh? Masa?" Kiba membuat wajah kipa. "Eh, iya! Yang ada di situ kan…"

"Ada apa?" Naruto memasang ekspresi bingung ketika melihat wajah tak mengenakkan kedua temannya. Sasuke hanya menunduk, sementara cengiran di wajah Kiba seolah mengindikasikan sesuatu yang buruk.

"Si bodoh satu ini," Sasuke berkata; bahkan tanpa perlu menyebut namanya, Naruto sudah tahu, "salah menganggap kedai makanan berat dengan toko kue. Padahal bedanya jauh sekali."

"Ma-maaf." Kiba membungkuk dalam-dalam, pertama kalinya Naruto melihat Kiba bersungguh-sungguh seperti itu. "Aku memang salah mengira. Walaupun begitu, kalau apa yang dikatakan temanku benar, maka kita tidak akan rugi datang ke sana. Kau akan menyukainya, Naru-chan."

"…Kalau begitu, begini pun tak apa," ujar Naruto pelan; tersenyum tipis. "Aku akan tetap menikmatinya… pergi ke tempat di luar sekolah bersama kalian berdua."

"Naru-chan, kau begitu baik!" Kiba mengangkat tangannya untuk merangkul Naruto.

"Oi, oi. Sudah cukup kontak fisiknya. Kita sudah sampai," ujar Sasuke; terdengar datar sekali, tapi jelas dia tidak suka Kiba yang terlalu dekat dengan Naruto. Ketika Kiba masih belum melepaskan tangannya dari Naruto, Sasuke lantas menghentikan langkahnya dan memisahkan mereka berdua. "Kita sudah sampai. Sepertinya kalian tidak mendengarku barusan."

"Iya, aku dengar!" Kiba mendecih kesal, kemudian mempercepat langkahnya untuk memimpin masuk ke kedai itu. Sementara Naruto dan Sasuke berada dalam suasana canggung berjalan mengekorinya."Permisi!"

"Selamat datang!"

Kedai itu tak bisa dibilang besar, tapi juga tak bisa dibilang kecil. Dengan kayu yang kokoh menopang atap berwarna cokelat tua dan lampu yang tergantung di langit-langit setiap beberapa meter, kedai itu jelas sukses besar. Kedai dengan papan kayu besar bertuliskan 'Ichiraku Raamen' itu selalu ramai oleh pengunjung, bahkan jika bukan sedang jam makan yang seharusnya sepi seperti sekarang ini.

Walau baru beberapa saat yang lalu mereka tiba, Kiba sudah berhasil menarik perhatian si pemilik kedai, dan berbicara seolah mereka sudah lama saling mengenal. Padahal sebenarnya sebelumnya, si pemilik kedai menatap sekitarnya dengan tatapan sangat serius, yang jelas bisa membuat beberapa orang tertentu tiba-tiba menjadi gugup.

Termasuk Naruto.

"Apa Kiba selalu seakrab itu dengan orang asing?" tanya Naruto sambil menunjuk Kiba, menatap Sasuke dengan tatapan heran. "Sepertinya Kiba orang yang ramah kepada siapapun."

"Dia memang begitu," Sasuke menjawab singkat. Kemudian ketika di melihat Kiba memberikan instruksi untuk mendekat dengan bahasa tubuh, Sasuke pun berjalan mendekati mereka berdua. Diikuti oleh Naruto di belakangnya.

"Jii-chan, ini teman-temanku, Sasuke dan Naruto," Kiba memperkenalkan, lantas Sasuke dan Naruto menjabat tangan pria paruh baya di hadapan mereka.

"Kiba-kun baru saja menceritakan kedatangan kalian ke sini." Pria itu terkekeh. "Salah mengira dengan toko kue ya? Haha, aneh-aneh saja anak muda zaman sekarang."

"Mou, Jii-chan, sudahlah!" Kiba menyikut pria itu, merasa canggung dengan kedua temannya yang kini sedang menatapnya—Sasuke masih dengan tampang datarnya seperti biasa, sedang Naruto hanya tersenyum simpul yang dipaksakan. "Jadi, Jii-chan, tolong jangan buat aku terlihat buruk di mata mereka berdua. Buat mereka terkesan!"

"Kau bisa mengandalkanku, Kiba-kun." Pria itu tersenyum. "Kalau begitu, aku pergi dulu."

"Baik. Terima kasih banyak, Jii-chan," Kiba berkata dengan senyum lebar di wajahnya. Lantas, setelah pria itu pergi, mengalihkan pandangannya ke arah Sasuke dan Naruto yang duduk di kedua sisinya. "Orang yang benar-benar baik. Ramah sekali kepada pengunjungnya."

"Atau terpaksa meladeni kau yang terlalu berisik," komentar Sasuke sinis; bertopang dagu pada meja.

"Ayolah, ini tidak seburuk itu!" Kiba tertawa sambil menepuk bahu Sasuke pelan. Kemudian mengedarkan pandangannya. "Lagipula, kalau kata temanku benar, walaupun tidak seperti kelihatannya, ini kedai raamen terenak di kota ini."

"Maksudmu 'teman' itu siapa?" tanya Naruto; memiringkan kepalanya beberapa derajat ke samping, lantas menatap Kiba dengan tatapan bingung.

"Shikamaru, ketua kelas sebelah," jawab Kiba antusias. Setelah sekian lama, akhirnya dia mendapatkan respon yang menyenangkan dari temannya. Tidak seperti Sasuke yang biasanya hanya diam saja. "Aku, dia, dan teman kami yang satu lagi, Choji, sering jalan-jalan bareng, sambil kadang mencoba masakan dari berbagai restoran dan kedai. Tapi waktu mereka ke sini, aku lagi sakit. Sebenarnya waktu itu, mereka habis membesukku, lalu pada akhirnya, mereka terdampar ke sini."

"Sepertinya mereka orang yang menyenangkan," komentar Naruto, "Enaknya punya banyak teman…"

Kiba terdiam untuk beberapa saat; merasa canggung. Tapi atmosfirnya akan terasa aneh jika terus menerus begini. "Jangan begitu, Naru-chan. Aku dan Sasuke kan temanmu. Hanya kita bertiga saja juga sudah cukup kok." Ekspresi Kiba lantas berubah ketika dia melanjutkan, "Tapi kalau kau mau… aku bisa mengenalkanmu kepada teman-temanku yang lain. Aku akan dengan senang hati melakukannya untukmu, Naru-chan."

"Eh? Benar, tidak apa?" Naruto menatap Kiba dengan mata berbinar-binar. Melihat reaksi seperti ini, tentu saja Kiba tidak memiliki pilihan lain.

"Um. Tentu saja."

"Pesanan datang." Salah seorang pelayan menyediakan tiga mangkuk raamen di hadapan ketiga sahabat itu masing-masing. Lantas dengan cekatan, menaruh sumpit beralaskan tisu di samping setiap mangkuk. "Maaf Tuan tidak bisa berlama-lama menemani kalian, ada hal lain yang harus dia kerjakan."

"Ah, nggak apa-apa," Kiba menjawab santai. "Tolong sampaikan terima kasih banyak kepadanya nanti, kalau kau sempat."

"Baik."

Setelah pelayan itu pergi, Kiba mengalihkan pandangannya pada Naruto. "Naru-chan, kau pernah makan raamen sebelumnya, bukan?"

"Sebenarnya, aku dilarang untuk memakan selain masakan rumahan…," ujar Naruto gugup sambil memandang semangkuk besar raamen di hadapannya. Dia yakin, dia pasti tidak akan bisa menghabiskan itu. Tidak dalam waktu yang tersisa.

"Oleh siapa? Ibumu?" Kiba terkekeh, lalu mematahkan sumpit Naruto menjadi dua bagian dan menaruhnya di genggaman tangan Naruto. "Cobalah. Kau pasti akan ketagihan. Choji tak mau berhenti membicarakan betapa enaknya raamen di sini."

"Tapi, Kiba…"

"Ayolah, coba sedikit saja. Aku dan Sasuke takkan memberitahu siapa-siapa. Janji," bujuk Kiba; menoleh ke arah Sasuke untuk mencoba meyakinkan Naruto, "Ya kan, Sasuke?"

"Sebenarnya aku lebih memilih untuk membiarkan Naruto melakukan apa yang dia mau jika aku jadi kau, Kiba. Dia punya hak, dan kau tidak bisa memaksakan kehendakmu," Sasuke berujar santai; mematahkan sumpitnya, lantas mulai melahap jatah raamen miliknya.

"Kau ini…" Kiba memelototi Sasuke. "Aku butuh dukungan, bukan pendapat pribadimu."

Sasuke hanya mengangkat bahu acuh tak acuh.

"Kalau dengan begitu kau akan senang… aku akan melakukannya," tiba-tiba Naruto berkata, sembari menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sasuke dan Kiba langsung menoleh ke arahnya; menatapnya terkejut walau tidak bisa melihat wajahnya. Naruto kemudian membenarkan posisi sumpit dalam genggamannya, lalu menggulung mie dengannya. Sempat berhenti beberapa detik untuk membulatkan tekadnya, lantas pada akhirnya memasukan gulungan mie itu ke dalam mulutnya.

Dengan kondisi seperti ini, tak heran jika seseorang akan merasa aneh dan canggung. Terutama jika, walau tidak sengaja, pikiran mereka memikirkan berbagai hal yang tidak pantas yang tidak ada sama sekali hubungannya dengan memakan semangkuk raamen.

Sangat aneh, terutama jika seorang Uchiha Sasuke-lah yang memikirkannya.

"Bagaimana rasanya?" Kiba menyikut lengan Naruto dengan senyum sumringah di wajahnya. Kiba, dalam kondisi secanggung apapun, dapat mencairkan suasana. Itu sudah menjadi bakatnya dari kecil. Tidak seperti Sasuke yang masih membeku dan tenggelam dalam pikiran kotornya.

"Enak. Enak sekali," Naruto menjawab sambil membalas senyum Kiba. Dia terlihat senang, syukurlah. "Terima kasih sudah membawaku ke sini, Kiba… Sasuke-san."

"Tunggu, Naru-chan. Ada yang menetes di sudut bibirmu," Kiba berkata sambil menunjuk wajah Naruto, yang secara otomatis langsung gelagapan. Sasuke, walaupun sudah tersadar, hanya bisa terdiam ketika Kiba melanjutkan, "Mau aku seka untukmu?"

"Ah, tidak usah," Naruto menjawab cepat, langsung menyeka ujung bibirnya yang agak basah karena kuah raamen. Sial bagi Sasuke, pikiran kotornya membuat scene di hadapannya melambat dan terlihat seolah erotis.

Entah apa yang pikirannya pikirkan.

Tiba-tiba, suatu dering ponsel yang berasal entah dari mana membuyarkan semua khayalan Sasuke. Yang dia lihat kemudian adalah sosok yang tadi sedang menguji imannya sedang merogoh saku seragamnya dengan cepat, lantas izin untuk pergi dan mengangkat panggilan itu sebentar.

"Kira-kira siapa ya? Bosnya kah?" Kiba menghela napas panjang sambil bertopang dagu. Tapi melihat lawan bicaranya hanya melamun sambil memperhatikan sosok Naruto yang sedang menjawab telepon di luar kedai, dia kemudian berkata iseng, "Oi, Sasuke. Kalau kau terus menatapnya seperti itu, kau bisa kehilangan kendali lho."

"Apanya?" Sasuke menatap Kiba tajam.

"Tatapanmu kepada Naruto tadi," Kiba menjawab di tengah tawa gelinya, "Siapapun juga tahu kalau kau sedang berpikiran yang aneh-aneh."

"Tutup mulutmu." Sasuke melepar tisu ke arah Kiba. Tepat sekali ketika Naruto kembali dari luar setelah menjawab teleponnya.

"Maaf, aku harus pergi sekarang," ujar Naruto; agak tergesa ketika dia mengambil tasnya dari atas bangkunya. Lantas terdiam ketika dia teringat sesuatu. "Soal pembayarannya—"

"Kau tak perlu khawatir. Sasuke yang membayar semuanya," potong Kiba, melambaikan tangannya santai seolah tak menyadari tatapan penuh dengan aura membunuh dari Sasuke. "Pekerjaan itu penting, Naru-chan. Jangan sampai terlambat."

Senyum merekah di wajah Naruto yang sempat terlihat khawatir. "Terima kasih banyak untuk hari ini, Kiba, Sasuke-san. Terima kasih untuk semuanya."

"Nggak usah sungkan. Kita kan teman."

Setelah mendengar salam sampai jumpa dari Kiba, Naruto lantas melangkah keluar dari kedai raamen. Tatapan Sasuke mengikuti punggungnya yang menjauh dan menghilang di tikungan jalan. Sementara Sasuke sibuk dengan kegiatannya, Kiba asyik melanjutkan makannya. Dia belum makan dari tadi karena memerhatikan Naruto makan. Oh, omong-omong, Naruto tidak sempat menghabiskan jatah makanannya—baru separuh, sisanya dengan senang hati dihabiskan oleh Kiba.

"Sas, kau yang bayar, kan?" tanya Kiba memastikan. Dua mangkuk sudah habis, tinggal Sasuke yang bahkan belum menghabiskan setengahnya.

"Iya," Sasuke menjawab singkat. Dia terlalu sibuk memikirkan hal lain, karena itu tanpa banyak bicara, langsung mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang 100 yen dan memberikannya kepada Kiba. Menyuruhnya untuk membayar kepada si pelayan.

"Oi. Bengong mulu. Nanti kesurupan lho," ujar Kiba sembari mengibaskan tangannya di depan wajah Sasuke. Sasuke yang tersadar langsung menatap Kiba, bukan dengan tatapan heran atau kesal—seperti biasanya, tapi dengan tatapan kosong. "Aku udah bayar, dan sekarang mau pulang. Sampai kapan kau mau melamun?"

"Ayo." Sasuke beranjak dari duduknya, tangan kanannya cepat mengambil tas sekolahnya dari bangku.

Arloji yang melingkar di pergelangan tangan Sasuke menunjukkan pukul 6, satu jam setelah jam mereka pulang sekolah, ketika Sasuke mengantar Kiba ke rumahnya. Walaupun sebenarnya Kiba sudah mengingatkannya kalau itu tidak perlu, tapi Sasuke entah kenapa begitu bersikeras. Berbeda dari Sasuke yang biasanya—cuek dan berpikiran'peduli setan Kiba sampai ke rumahnya atau tidak'.

Sudah lima belas menit Sasuke hanya berbaring di atas tempat tidur di kamarnya, menatap kosong langit-langit. Matanya menolak untuk terpejam,

Sasuke menarik napas dalam-dalam; menenggelamkan wajahnya dalam selimutnya.

Ada yang harus dia pastikan besok.

= TO BE CONTINUED =

A/N:

Sebagai pembaca, saya tahu betapa menyebalkannya cliffhanger itu. Tapi nggak ada cara lain, chapter ini terlalu panjang. Dan kalau digabungin sama chapter depan, words-nya bisa sampai 9k+, jadi terpaksa saya potong (;_;)

Jadi ada revisi ya…. Dulu saya pernah bilang fanfic ini cuma bakal sampai chapter 2 atau 3, tapi kayaknya fanfic ini baru bisa selesai di chapter 4 atau 5. Itupun belum termasuk epilog.

Dan maaf saya baru update lagi. Saya ingin menerapkan update chapter setiap seminggu sekali, dan sebenernya chapter ini memang udah selesai dalam waktu satu minggu itu, tapi terusnya malah bingung gimana kelanjutannya, jadi makan waktu lagi buat mikir (;_; ) gomen ne~

Oke, sudah cukup basa basinya. Untuk balasan beberapa pertanyaan di kotak review:

choikim1310: wow, banyak sekali pertanyaannya .-. mengenai pair lain, saya kurang yakin ada karena saya pengen fokus ke SasuNaru. Tapi ada hint ShikaKiba kan tadi www

kyuubi no kitsune 4485: maaf, saya agak buru-buru (_ _) Sai bukan tokoh antagonis kok. Selebihnya, semoga chapter depan bisa menjawab pertanyaan kamu, jadi tunggu ya (winkwink)

Mrs. Tara Fujitatsu: AAA! Saya di-review sama author terkenal! (fanboy screams) terima kasih banyak sudah menyempatkan diri me-review! Maaf alurnya kecepetan, saya berusaha memperlambat alurnya di chapter ini (tapi kayaknya nggak kerasa ya www) semoga Senpai suka!

Okiniiri-Hime: eeh… maaf, bikin bingung ya? Saya pengen buat sosok Sasuke-san sebagai orang yang bisa diandalkan, walaupun dia kelihatan dingin. Dan… sebenarnya, Sasuke-san bukan idola sekolah di sini. Saya tahu biasanya begitu, tapi saya pengen buat sesuatu yang berbeda…

hanazawa kay: terima kasih banyak! Hubungan Sai sama Sasuke resmi cuma sebatas teman, kok!

zhiewon189: pas saya baca review kamu, saya langsung tersadar. Saya seolah membuat Sasuke-san terlalu mudah tertarik kepada Naruto-kun! (headtowalls) Terima kasih sudah membantu, selanjutnya saya akan lebih berhati-hati!

mifta cinya: saya juga merasa Kiba aneh banget sampai ngucapin 'selamat tinggal' begitu (facepalmed) w

Afh596: Sasuke-san blushing lihat senyum Naruto-kun. Saya blushing lihat review kalian (/) /slapped

BlackCrows1001: mereka resmi teman sekarang! Tapi tidak lebih… saya rasa.

kartika1314: terima kasih banyak! Dan selamat, kamu berhasil berpikir positif! (www)

November With Love: terima kasih! Udah mulai masuk kok, cuma mungkin puncaknya di chapter depan. Tunggu yaa!

Oke, kurang lebih segitu…

Terima kasih banyak untuk yang sudah mengapresiasi fanfic ini; semua review, favorite, follow, bahkan view sekalipun, saya sangat menghargainya! Tapi maaf saya tidak bisa membalas semua review satu per satu (menunduk)

Baiklah, saya harap kalian suka chapter ini! Beberapa pertanyaan masih belum terjawab, tapi kemungkinan besar akan dijawab di chapter selanjutnya. Jadi mohon tunggu kelanjutannya!

Sekian dari saya. Terima kasih banyak! (smiles)

Salam hangat,

Sakaguchi Midaa