POLYP

Declaimer :

Member NCT milik Tuhan Yang Maha Esa da orang tua mereka masing-masing. Aku hanya meminjam nama gak lebih.

Rated : M (Cuma cari aman)

Genre : Supranatural

Pair : TaeYu (Yang lain menyusul)

Warning :

Fic ini mengandung tema BxB dan typo yang bertebaran. Fic ini tidak menyangkut ajaran dari agama manapun, ini hanya sebuah imajinasi author maaf jika ada yang tersinggung. Jika tidak suka lebih baik klik tombol close saja.

.

.

Yuta mengerjabkan matanya begitu cahaya matahari tak sengaja masuk melalui celah gorden biru di kamar yang di tempatinya saat ini. Tenang saja ini bukan kamar Taeyong, rumah ini terlalu besar untuk diisi satu kamar saja. Benar, Yuta tidur di kamar tamu, di kamar ini pula ia akan tinggal untuk sementara waktu sampai sayapnya benar-benar pulih.

KRUKKK. Wajahnya memerah saat mendengar perutnya berbunyi dengan keras. Tentu saja ia lapar bagaimanapun juga ia tetap makhluk hidup yang masih bisa bernapas dan tentunya membutuhkan asupan makanan. Ia bukan makhluk sejenis vampire yang bisa menahan lapar sampai berminggu-minggu tanpa meminum darah. Dan faktanya Yuta itu polip bukan vampire. Yuta menyingkap selimut berwarna putih itu, turun dari ranjang dan berjalan ke arah dapur. Bunyi di perutnya semakin kencang saat ia mencium bau masakan dari arah dapur. Yuta mempercepat langkah kakinya, ia sampai di sana dan mendapati Taeyong yang sedang memasak dan sudah rapi menggunakan seragam sekolahnya. Yuta mendudukkan dirinya di salah satu kursi meja makan dan menatap Taeyong dengan senyum mengembang. Pemuda manis itu bertopang dagu sambil memejamkan matanya guna meresapi aroma masakan yang sepertinya akan terasa sangat lezat. Yuta bersyukur ia bisa beradaptasi dengan manusia yang lain, jadi ia tidak akan terlihat kikuk nanti saat memegang sendok dan garpu seperti tokoh duyung dalam drama yang ditontonnya semalam.

" Kau sudah bangun?" Yuta membuka matanya dan mengangguk dengan antusias. Tak perduli dengan pertanyaan basa-basi Taeyong karena seluruh eksistensinya kini hanya berpusat pada makanan entah apa namanya itu Yuta juga tidak tahu, yang jelas berwarna merah. Taeyong meletakkan dua piring nasi putih di depan meja dan menaruh semangkuk besar tteobokkie di tengahnya. Ia mengisyaratkan kepada Yuta untuk segera memakan sarapannya sebelum pemuda manis di hadapannya membuka suara. " Tidak boleh. Sebelum makan kita harus berdoa dulu supaya Tuhan memberkati apa yang kita makan." Nasihat Yuta. Taeyong menghela napas dan mengangguk patuh. Ia memejamkan matanya sesaat untuk merapalkan doa dan kembali membuka matanya begitu selesai. Ia menatap Yuta yang kini tengah meniupi tteobokkie yang memang masih panas. Taeyong tersenyum saat melihatnya, pemuda di depannya ini sangat menggemaskan. Taeyong mengambil sendok dan memulai sarapannya sama seperti yang Yuta lakukan.

" Enak."

" Benarkah?" Yuta hanya mengangguk dan kembali memakan sarapannya. Senyum ceria mengembang di wajah manisnya. Taeyong memakan sarapannya seraya mengamati wajah pemuda manis di depannya ini. Entah kenapa tteobokkie yang biasanya terasa pedas kini menjadi sangat manis. Taeyong mengernyit heran, ia tidak salah memasukkan bumbu kan? " Kau mau pergi sekolah? Apa aku boleh ikut?" Taeyong meletakkan sendoknya dan meminum air putih yang ada di di depannya. Ditatapnya Yuta yang kini memandangnya dengan pandangan berharap. Taeyong menghela napas, ia ingin mengatakan sesuatu tapi ia bingung bagaimana cara mengatakannya.

" Tidak bisa."

" Kenapa tidak bisa?" Taeyong menghela napas lagi. Ia menatap Yuta tepat ke dalam matanya, mencoba memberi pengertian sekaligus meresapi keindahan mata sejernih tetesan air yang baru pertama kali dilihatnya ini.

" Aku tidak mungkin mengatakan pada pihak sekolah kalau umurmu bahkan sudah lebih dari 100 juta tahun Yuta. Ya walaupun fisikmu terlihat seperti pemuda berumur 17 tahun tapi tetap saja mereka bisa menganggapku gila dan yang lebih penting kau perlu surat pindah dan surat-surat lain dari sekolah sebelumnya agar kau bisa sekolah. Memang kau punya? Tidak kan?"

" Umurku bukan 100 juta tahun tapi 430 juta tahun kalau kau ingin tahu."

" Tetap saja tidak bisa." Yuta menundukkan kepalanya, raut wajahnya terlihat sangat sedih sekarang. Entah kenapa Taeyong jadi merasa sangat iba, tapi mau bagaimana lagi ini sudah menjadi peraturan wajib dari lembaga pendidikan yang telah ditetapkan oleh pemerintah di seluruh dunia. Untuk kali ini Taeyong benar-benar tidak bisa membantu. " Maaf ya." Yuta mengangguk dan tersenyum walau sedikit di paksakan. Ia tidak mau membuat Taeyong merasa bersalah karena ini semua salahnya, lagipula ia tak mau menyusahkan Taeyong. Ia yang sudah meminta permintaan tidak masuk akal itu.

" Aku berangkat dulu. Ini nomor ponselku jika ada apa-apa padamu kau bisa menelponku dengan telpon rumah. Kau juga bisa memakai pakaianku yang lain, ambil saja di kamarku tidak perlu sungkan. Mengerti?" Yuta mengangguk mengerti, ia terus menatap kertas yang dipegangnya dengan pandangan polos. Taeyong tersenyum, ia mengacak surai abu Yuta yang masih tenggelam dengan kertas bertuliskan nomor ponselnya. " Aku berangkat. Jaga dirimu baik-baik." Taeyong pergi meninggalkan Yuta yang hanya bisa melambaikan tangannya. Yuta melipat kertas itu menjadi berukuran lebih kecil dan menaruhnya di atas meja. Ia menggumamkan sesuatu dan kertas itu kini terurai menjadi partikel yang bahkan tak bisa dilihat dirinya sendiri. " Begini lebih baik. Terimakasih Tuhan, aku bersyukur sekali punya daya ingat yang tinggi jadi aku tidak perlu kertas itu lagi." Katanya seraya bertepuk tangan. Satu fakta lagi yang belum Yuta katakan pada Taeyong. Kalau bangsa polip bisa dibilang seorang Aerokinesis sekaligus Psychokinesis , dan Invisible selain kelebihan seperti sihir, daya ingat dan kecerdasan yang terlampau tinggi. Tapi Yuta tidak akan pernah berani memainkan Taeyong karena Taeyong itu orang baik. Dan sampai kapanpun Yuta tidak akan menjahili orang baik. ' Tuhan bisa mengutukku.' Yuta bergidik ngeri dengan pikirannya. Menjadi imortal saja sudah Yuta anggap sebagai kutukan. Bagaimana jika Tuhan benar-benar mengutuknya? Tidak akan, Yuta tidak akan membiarkan itu. Yuta berjanji akan menjadi 'orang' yang benar-benar baik.

" Aku harus ikut Taeyong sekolah juga. Aku juga mau sekolah supaya lebih pintar lagi tapi bagaimana ya?" Yuta memutar otaknya, ia harus mencari cara apapun agar ia bisa sekolah di sekolah Taeyong. Sepertinya ia melupakan fakta bahwa sesungguhnya ia tidak perlu sekolah karena otaknya bahkan bisa disejajarkan dengan manusia berotak jenius sekalipun. " Aku tahu." Pekiknya begitu mendapati ide brilian yang tiba-tiba hinggap di kepalanya. Yuta tersenyum sangat lebar, sepertinya Taeyong akan sangat terkejut nanti.

.

.

Taeyong melangkahkan kakinya dengan tenang menuju kelasnya, mengabaikan teriakan-teriakan heboh dari segorombolan murid perempuan yang berjejer rapi di samping kiri dan kanannya. Taeyong mendengus, ia sangat membenci ini. Taeyong sangat tidak suka dipuja dan diberlakukan bak seorang pangeran kerajaan seperti yang mereka lakukan, karena itu semua penghinaan menurut Taeyong.

" Taeyong hyung tunggu." Taeyong menoleh dan mendapati Winwin yang sekarang ini tengah berlari ke arahnya. Taeyong tersenyum dalam hati tapi tidak dengan wajahnya maupun tatapan matanya. Sampai kapanpun Taeyong tidak akan pernah teerang-terangan tersenyum di depan orang lain, yang membuat Taeyong heran, kenapa ia bisa tersenyum sebegitu bebasnya saat bersama Yuta? Taeyong menatap pemuda yang 2 tahun lebih muda itu dengan tatapan malas, setidaknya ia punya teman dan itu lebih baik dari pada berjalan seorang diri dengan puluhan manusia bergender perempuan berjejer di sampingnya.

' Menjijikkan.' Batinnya. " Wah seperti biasa hyung sangat populer." Taeyong hanya mendengus, populer katanya? Siapa juga yang ingin menjadi populer? Taeyong bahkan tidak sudi mengucapkan kata itu secara langsung karena ia sudah sangat sering mendengarnya dan itu membuatnya muak.

" Berhenti mengatakan hal konyol." Katanya datar. Winwin tertawa hambar dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, entah kenapa ia merasa sangat kikuk sekarang. Ya, sebenarnya ia sudah sangat terbiasa dengan perkataan tajam Taeyong tapi tetap saja mulutnya ini selalu melontarkan kata-kata yang paling dibenci Taeyong seperti populer salah satunya.

" Maaf hyung aku lupa. Oh iya hyung, nanti malam aku dan Jaehyun akan menginap di rumah hyung. Boleh kan? Besok kan hari minggu hyung." Taeyong mengangguk, sepertinya ia tidak ingat jika ia sedang menyimpan seorang polip di rumahnya. " Tunggu. Apa katamu tadi?" sepertinya Taeyong memang tidak sadar dengan apa yang Winwin katakan atau telinganya yang memang salah dengar? Taeyong tidak tahu dan sejujurnya ia juga tidak mau tahu. " Besok kan minggu, jadi nanti malam aku dan Jaehyun akan menginap di rumah hyung, jangan melarang kami. Mana bisa kami membiarkan hyung meratapi nasib seorang diri?"

" Tidak boleh."

" Eh? Tapi tetap saja aku akan dat – "

" Cepat masuk kelasmu, aku pergi dan jangan membantahku." Dan Winwin hanya bisa menatap salah satu hyung kesayangannya itu dengan pandangan heran. Winwin bahkan belum sempat menyelesaikan omongannya dan Taeyong lebih memilih pergi begitu saja? Winwin tahu Taeyong itu aneh tapi untuk hari ini Taeyong bahkan terlihat lebih aneh dari biasanya. Kernyitan tampak jelas di kening Winwin, alisnya bahkan menekuk tajam. " Aku akan tetap datang lihat saja. Jaehyun juga pasti akan setuju." Gumamnya dan akhirnya pemuda China itu memasuki kelasnya yang sudah cukup ramai.

.

.

Yuta mengobrak-abrik isi lemari pakaian Taeyong guna mencari baju yang dirasa pas untuknya. Dan sial sekali semua baju Taeyong berukuran besar. Yuta menghela napas, ia mengambil kemeja merah panjang dan celana pendek selutut dan memakainya secepat mungkin. Yuta tersenyum saat menatap pantulan dirinya dari cermin besar yang berada tepat di samping lemari pakaian Taeyong. " Tidak heran, aku sangat tampan." Gumamnya percaya diri. Yuta berjalan ke arah meja belajar Taeyong. Membuka laci dan mendapati banyak sekali kertas HVS di sana. Yuta tersenyum lebar, mencari kertas ternyata tidak sesulit ini, ia tidak perlu mencarinya ke toko alat tulis dulu karena Yuta agak cenderung pemalas masalahnya. Yuta mendengus, meratapi nasibnya sebagai sesorang dari bangsa polip yang tidak memiliki kemampuan menciptakan benda seperti bangsa duyung. Tapi apa boleh buat, ia hanya perlu membuat kertas itu penuh dengan tulisan-tulisan yang akan membantu dalam rencananya nanti, dengan bantuan sihir tentu saja.

" Aku butuh seragam dan orang tua. Bagaimana ya? Untuk seragam tidak masalah tapi bagaimana dengan orang tua? Aku bukan jin yang bisa berubah bentuk." Keluhnya, tanpa sengaja matanya menatap seperangkat komputer yang ada di meja tepat di samping meja belajar Taeyong. Kedua meja itu menyambung jadi Yuta tidak perlu susah-susah berjalan karena ia hanya perlu menggeser tubuhnya.

" Manusia memang cerdas mereka bisa menciptakan kotak menyebalkan ini tapi tetap saja aku lebih cerdas. Tuhan, semoga saja mereka memberikan informasi sedetail mungkin di sini." Gumamnya. Yuta itu suka sekali memuji kepandaian orang lain, namun ia juga sangat suka membanggakan dirinya sendiri. Yuta merasa sangat bersyukur, hidup beratus juta tahun membuatnya tidak buta akan teknologi. Yuta menghidupkan komputer yang untungnya sudah tersambung dengan saluran wifi dan mulai berselancar di interner. Mencari informasi tentang SM Senior High. Maaf saja, tadi sebelum Taeyong pergi Yuta sempat membaca tulisan dilambang sekolah yang ada di jas sekolah yang Taeyong kenakan, dari situlah Yuta tahu Taeyong sekolah dimana.

" Wow sepertinya sekolah orang kaya. Tidak heran sih jika melihat rumahnya saja sudah sebesar ini." Yuta menatap kagum foto bangunan sekolah itu, terlihat sangat megah dan luar biasanya webside yang dibukanya ini menyediakan gambar dengan format 4D, jadi Yuta bisa melihatnya dari segala sisi. " Ah ketemu. Bodoh sekali kenapa mereka menyediakan regristrasi pindah sekolah secara online? Bukankah hanya ada pendaftaran online untuk siswa tahun pertama saja? Haha ini akan sangat mudah, aku tidak perlu membawa orang tua palsu." Yuta benar-benar sangat senang, ia segera mengisi regristrasi, melampirkan semua scan data yang telah dimanipulasinya dengan bantuan sihir, melampirkan foto dan semua persyaratan yang lain. Yuta ingin tertawa, ini sangat menyenangkan, membuat adrenalinnya terpacu. Membodohi manusia bodoh memang hobinya. Karena Yuta mengangap semua orang bodoh kecuali Teyong dan orang-orang yang baik, karena Taeyong baik dan orang baik pasti cerdas menurut Yuta. " Selesai. Aku bisa mengejutkan Taeyong hari senin nanti ahahaha."

TBC

Astaga ini random ya? Maafkan saya~ aku ngetiknya gak terlalu panjang takut kalian pada bosen karena gak abis-abis bacanya. Aku lagi kena WB T.T. Chap ini focus ke Yuta yang mau ikut sekolah Taeyong itu aja. Aku ijin hiatus sampai beberapa waktu jadi aku update ini cepet, aku mohon maaf ff yang lain akan terbengkalai. Tapi setelah aku hiatus aku janji akan lanjut semuanya kok. Cukup itu aja yang ingin aku katakan. Jangan kangen ya XD

Terimakasih untuk JenTababy, Johntenny, Kim991, Park RinHyun-Uchiha, Miftah Jannah, liaoktaviani. joaseo, Unnayus, Yuyu arxinn, Kenyutil, ParkHara1997, Kalsium, CaraTen, kiyo, guntz21, A. Tsam. Jangan lupa Read and Reviewnya XD