POLYP
Declaimer : Member NCT milik orang tua mereka masing-masing, SM Entertainment dan Tuhan Yang Maha Esa. Saya hanya meminjam nama tidak lebih.
Pair : Taeyu (yang lain menyusul)
Genre : Fantasy/Romance
Rated : M (untuk jaga-jaga)
Warning : Fic ini mengandun dan typo yang sangat luar biasa.
...
Winwin dan Jaehyun menatap orang di depan mereka ini dengan disertai kening yang berkerut dalam. Sebenarnya mereka memang tengah mengamati Yuta yang saat ini sedang memakan setoples biskuit coklat dengan ekspresi gembira. Oh, jangan lupakan susu coklat di depannya. Entah saking laparnya atau bagaimana, Yuta bahkan tak menawari Jaehyun dan Winiwin. Membuat Taeyong selaku pemilik rumah ingin sekali memukul kepala mereka satu persatu.
Kedua pemuda dengan kadar ketampanan yang berbeda itu mencoba unntuk mengabaikan bagaimana imutnya wajah Yuta saat ini walaupun itu agak sedikit sulit, karena yang menjadi perhatian utama mereka berdua adalah sepasang sayap lebar berwarna putih layaknya sayap merpati di balik punggung pemuda manis yang lebih tua beratus juta tahun dari mereka itu.
Tenang saja, mereka ada di rumah Taeyong saat ini. Jadi mereka semua tak perlu takut akan orang-orang yang mungkin akan heboh saat melihat wujud asli Yuta. Taeyong juga sudah mengunci pintu rumahnya jadi semuanya aman terkendali.
Jaehyun memegang satu bulu sayap Yuta yang tampak mencuat. Sungguh, demi apapun Jaehyun tak pernah memegang bulu sehalus itu. Bulu burung merpati sungguhan saja tidak sehalus milik Yuta, Jaehyun seperti sedang memegang udara, tak merasakan apapun. Karena gemas, Jaehyun mencabutnya. Hingga membuat sang pemilik bulu terkejut.
PLAK. " SAKIT BODOH." Yuta menjitak kepala Jaehyun yang saat ini mengelus kepalanya dengan bibir mengerucut tak terima. Enak saja, Jaehyun kan tidak sengaja kenapa harus dipukul? Begitu pikirnya.
Winwin mengambil bulu yang telah Jaehyun cabut dan mengamatinya dengan wajah berbinar, Winwin mengendusnya dan penciumannya tiba-tiba merasa penuh. Ini sungguh ajaib, bulu sayap Yuta memiliki bau yang harum.
Kening Winwin tampak mengerut tampak memikirkan sesuatu yang memang agak sedikit janggal. Winwin penasaran, apa pemuda manis berumur sangat tua itu memang selalu melumuri sayapnya dengan minyak? Atau menyemprotnya dengan parfum super mahal setiap waktu? Namun, melihat keadaan Yuta yang sepertinya tidak memiliki apapun kecuali pakaian pemberian Taeyong sepertinya tidak mungkin.
Memangnya untuk membeli parfum apalagi yang berharga mahal, Yuta mendapatkan uang dari mana? Membuat uang sendiri? Tapi Yuta sendiri bilang hanya bangsa duyung yang dapat menciptakan benda, sedangkan Yuta adalah polip bukan duyung.
" Lemon? tidak, vanilla? Sepertinya juga tidak, coklat? Sebenarnya ini bau apa sih? Kenapa enak sekali?" Winwin mengerang frustasi. Membuat Yuta, Jaehyun dan Taeyong menatap pemuda tampan cenderung imut itu dengan pandangan heran.
Lihat saja, Winwin tengah mengacak rambutnya sambil mengendus bulu sayap Yuta dengan rakus. Entahlah, tapi mereka bertiga entah kenapa merasa horor sendiri, karena Winwin terlihat seperti orang gila yang mendapatkan mainan baru saat ini.
" Oh ya ampun." Yuta merebut bulu itu dari tangan Winwin, dan menggenggamnya sampai hancur tak berbentuk.
Yuta baru ingat, saat ia berada dalam wujud manusia dan wujud polip akan mengeluarkan aroma yang sangat berbeda. Polip memiliki aroma memabukkan yang terlalu pekat, terutama pada area sayapnya. Tapi tidak dengan wujud manusianya. Yuta sendiri juga bingung kenapa bisa seperti itu. Yuta pernah mencoba mencium sayapnya sendiri saat ia berada dalam wujud manusianya. Dan reaksinya sama seperti Winwin.
" Yah hyung kenapa diambil?"
" Kenapa? Tidak boleh?" Tanya Yuta ketus. Pemuda manis itu menatap sengit Jaehyun dan Winwin secara bergantian. Membuat dua orang pemuda itu menggaruk tengkuknya tak mengerti.
Well, mereka kan hanya ingin melihat sayap Yuta, siapa tahu mereka boleh menyimpan bulunya walau sehelai saja untuk dipajang di kamar. Kan lumayan punya barang antik.
" Jangan pernah berpikiran untuk memajang buluku." Kata Yuta dengan penekanan dalam kalimatnya, membuat dua pemuda berkaki panjang itu tersenyum tanpa dosa. Yuta memang tidak bisa membaca pikiran, tapi ekspresi Jaehyun dan Winwin sangat jelas sekali. Yuta jadi kesal.
" Kalian kapan pulang?"
" HIEEEEEEE TAEYONG HYUNG MENGUSIR KAMI?"
" Memang."
" Bilang dong kalau ingin berduaan saja dengan Yuta hyung, dasar pelit. Padahal aku dan Winwin kan dongsaeng kesayangan Yuta hyung." Taeyong menatap dua orang itu datar.
Entah kenapa setiap kali bertemu mereka berdua Taeyong ingin sekali meninju wajah mereka satu persatu. Apalagi untuk keadaan seperti sekarang ini. Jujur saja, Taeyong merasa kalau otaknya agak sedikit panas.
" Tapi ini sudah jam 5 sore loh adik-adik ku yang manis. Kalian tidak takut dimarahi orang tua kalian?" Winwin dan Jaehyun saling menatap, dan menatap wajah Yuta setelahnya dengan ekspresi kosong.
Sepertinya Yuta benar, mereka sudah berada di rumah Taeyong selama dua jam hanya untuk melihat sayap Yuta dari dekat dengan durasi lama. Itupun mereka memaksa Yuta memperlihatkan sayapnya tadi karena rasa penasaran mereka yang memang dari dasarnya terlalu tingggi.
Mereka berdua mengambil ponsel di saku celana saat ponsel mereka berbunyi secara bersamaan, dan membaca pesan dari orangtua mereka secara bersamaan pula, membuat kepala Yuta pusing karena dua pemuda itu membaca pesan dengan volume yang cukup keras.
" Pulang yuk Win."
" Ya sudah kita pulang."
Setelah mengatakan itu mereka berdua bangkit dan berjalan ke arah pintu yang terkunci. Jaehyun membukanya dengan kunci yang memang sengaja Taeyong tinggalkan di sana, dan mereka pergi begitu saja setelah pintu kembali tertutup tanpa mengatakan sepatah katapun.
" Dasar kurang ajar." Ujar Taeyong.
Yuta terkekeh kecil melihat ekspresi Taeyong yang entah sejak kapan terlihat tak enak dipandang seperti itu.
Yuta bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya ke arah kamar mereka berdua. Iya kamar mereka berdua, ingat kan Taeyong memaksa Yuta sekamar dengannya setelah kedatangan Jaehyun dan Winwin saat menginap kemarin?
" Mau mandi?" Tanya Taeyong.
" Iya."
" Boleh ikut?"
" Fuck you Lee Taeyong." Umpat Yuta seraya meninggalkan Taeyong yang tertawa keras, dengan langkah terhentak.
.
.
Yuta mengerucutkan bibirnya seraya melihat Taeyong yang tengah memasak nasi goreng kimchi untuk menu makan malam mereka.
Yuta ingin sekali membantu tapi Taeyong melarang. Padahal kan Yuta sangat ingin membantu, membantu mengiris bawang misalnya, tapi tetap tidak boleh. Kata Taeyong, Yuta tidak boleh terluka, karena persediaan obat merah Taeyong sedang habis.
Alasan yang sangat tidak masuk akal, Yuta kan habis mengecek isi kotak p3k milik Taeyong kemarin. Seingat Yuta obat merahnya masih dua botol. Ya sudahlah Yuta tidak mau membantah Taeyong, kalau Taeyong marah kan Yuta yang repot. Lagipula Yuta sudah berjanji tidak akan mengusili Taeyong karena Taeyong kan orang baik.
Yuta menekuk alisnya saat Taeyong berbalik hanya untuk menatapnya dan tersenyum padanya. Yuta melengos, pokoknya Yuta sedang kesal. Taeyong pikir Yuta tidak bisa memasak apa? 'Dasar menyebalkan.' Pikir Yuta.
" Kau kenapa?"
Yuta tak mengindahkan pertanyaan Taeyong dan lebih memilih untuk menyantap sepiring nasi goreng kimchi yang Taeyong letakkan di depannya. Mata Yuta berbinar sesaat, namun pemuda manis itu dalam sekejap merengutkan wajahnya.
" Tidak enak." Ujar Yuta tiba-tiba, membuat Taeyong seketika menatap ke arahnya.
Terlihat Yuta yang sedang mengunyah makanannya dengan tatapan sengit yang ditujukannya pada Taeyong. Taeyong mengangkat alisnya tak mengerti, kemudian menyendok sesuap nasi di piring Yuta. Enak seperti biasa.
" Dari segi mana tidak enaknya?"
" Pokoknya tidak enak." Jawab Yuta sambil mengerucutkan bibirnya.
Pemuda manis itu menyuapkan nasi ke dalam mulutnya sendiri dengan mata yang masih menatap Taeyong sengit. Oh, sepertinya Taeyong mengerti.
" Marah ya tidak diajak memasak?"
" Siapa juga yang marah? Tidak kok."
" Hoo~ begitu?"
Yuta mengabaikan Taeyong dan mulai memakan makanannya lagi. Yuta ingin cepat-cepat tidur masalahnya. Alasan lainnya karena ia tak ingin mengatakan pada Taeyong kalau masakannya enak.
" Katanya tidak enak kok habis?"
Yuta tak jadi memakan suapan terakhirnya, dan kembali menaruh sendok itu di meja. Yuta menatap Taeyong dengan tatapan datar, entah kenapa moodnya jadi hancur. Yuta memundurkan kursi, lalu berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar, meninggalkan Taeyong sendiri yang hanya dapat tersenyum kecil tanpa mengatakan sepatah katapun.
Pemuda tampan berwajah anime itu menatap sesondok nasi yang tak jadi dimakan Yuta. Taeyong menelan ludah paksa, ia melirik kesegala arah untuk memastikan keberadaan Yuta yang sepertinya memang pergi ke kamar sekarang. Taeyong mengambil sendok itu, dan memakan makanan yang tertinggal di sana.
Taeyong mengunyahnya sepelan mungkin, pemuda tampan itu bahkan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi sambil memejamkan matanya. Mencoba meresapi rasa makanan yang terasa berbeda, lalu menelannya.
" Wow ini menegangkan." Pemuda itu menuang air ke dalam gelas dan meminumnya dalam sekali tenggak.
" Ini jauh lebih nikmat dari yang aku bayangkan." Gumamnya. Taeyong tak pernah tahu jika sendok bekas makan orang lain akan menambah cita rasa masakannya. Taeyong rasa, ia akan makan dengan sendok yang telah Yuta pakai nanti.
Taeyong mencuci piring bekas makan mereka berdua dengan senyum lebar mengembang di wajahnya. Senyum itu terlalu lebar, tampan memang, namun cenderung mengerikan karena tatapan tajamnya memancarkan semacam kilatan kasat mata. Secara normal, Taeyong merasa senang, hanya saja ia tak pandai mengatur ekspresinya sendiri sehingga tak enak dipandang seperti sekarang ini. Gila kan?
" Tsundere hah? Lucu juga." Taeyong terkekeh pelan.
Taeyong melangkahkan kakinya ke arah kamarnya dengan senyum yang masih terkembang di wajah tamannya. Namun senyum di wajah Taeyong menghilang saat pemuda tampan itu melihat Yuta yang saat ini justru bermain dengan cahaya lampu di atas sana, bukannya tidur. Sepertinya pemuda manis itu sedang bosan.
" Tidur!" Perintah Taeyong, namun Yuta mengabaikannya.
Pemuda manis itu mematikan dan menghidupkan lampu dengan cara menjentikkan jarinya, Yuta melakukannya berkali-kali dan itu membuat Taeyong jengah. Jujur saja, penglihatannya agak sedikit buruk, namun Taeyong masih bisa mengatasinya.
" Yuta tidur!"
" Tidak mau."
" Ini sudah malam."
" Pokoknya aku tidak mau."
Taeyong menghela napas pelan. Pemuda tampan itu membaringkan tubuhnya di samping Yuta, dan menyelimuti tubuh mereka berdua.
Yuta menghentikan kegiatannya saat merasakan tangan kirinya di genggam oleh Taeyong. Dan menoleh ke arah pemuda tampan itu hendak protes. Namun ia mengurungkan niatnya begitu melihat senyum di wajah Taeyong. Yuta mengalihkan pandangannya, entah kenapa Yuta merasa horor saat melihatnya, namun sepertinya wajahnya tak bisa berbohong.
" J-jangan tersenyum seperti itu. Kau terlihat semakin mengerikan."
Taeyong terkekeh, ia yakin sekali bahwa ia melihat wajah Yuta memerah sampai telinga. Ah sial, kenapa jadi semakin imut begini? Entah Taeyong harus mengumpat atau bersyukur saking gemasnya.
NYUT. " Sakit ih." Yuta memukul tangan Taeyong yang senantiasa mencubit pipinya dengan keras.
Yuta mengerucutkan bibirnya kesal, sungguh ia paling tak suka jika seseorang mencubiti pipinya karena jujur saja rasanya sakit. Biarpun bukan manusia kan Yuta tetap makhluk hidup yang bisa merasakan sakit.
Yuta bergeser, mengambil guling dan meletakkannya tepat di antara mereka, sebagai pembatas. Taeyong mengulurkan tangannya untuk menyingkirkan guling itu, namun lagi-lagi Yuta memukul tangannya.
" Tidak boleh menyentuh area kekuasanku."
" Hah? Kenapa bisa begitu?"
" Pokoknya tidak boleh."
" Inikan kamarku."
" Kalau begitu aku tidur di kamar tamu saja."
" Tidak boleh, kau tetap tidur di sini."
" Kalau begitu jangan protes kalau aku menaruh guling di tengah."
" Baiklah aku tidak akan protes lagi." Taeyong menghela napas pelan. Untuk sementara waktu ia akan menuruti kemauan Yuta, walau ingin sekali ia memeluk tubuh ringkih itu. Tapi mau bagaimana lagi, si cantik sedang merajuk saat ini.
" Ya sudah selamat malam." Kata Taeyong, lalu memejamkan matanya.
.
.
Taeyong mengerjakan matanya saat cahaya matahari menembus gorden kamarnya. Ia ingin sekali bangun dan mandi namun ia mengurungkan niatnya saat merasakan pelukan erat di tubuhnya.
Taeyong menoleh ke samping dan mendapati tubuh Yuta yang meringkuk sambil memeluknya. Taeyong terkekeh kecil, pemuda tampan itu memiringkan tubuhnya agar berhadapan dengan Yuta, dan menatap wajah polos pemuda manis itu. Imut sekali.
Taeyong mengelus pipi putih dengan rona kemerahan itu. Sial, pipi itu terasa sangat halus. Apa semua polip memiliki pipi sehalus ini? Ini bahkan sama halusnya dengan kulit bayi. Begitulah yang ada di pikiran Taeyong.
Taeyong tak tahan untuk tak menempelkan bibirnya di pipi lucu itu dan Taeyong benar-benar melakukannya. Ah sial, Taeyong ingin melakukannya lagi namun tak jadi.
" Ireona." Ujar Taeyong seraya menepuk pelan pipi Yuta, namun pemuda cantik nan manis itu masih memejamkan matanya, si manis justru semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Taeyong, membuat senyum Taeyong semakin mengembang. Sepertinya telat berangkat sekolah sekali saja tak masalah.
Taeyong masih mengamati wajah itu. Sungguh, Taeyong berani bersumpah bahwa ia tak pernah menemukan laki-laki secantik ini. Yuta benar-benar cantik dan manis. Taeyong jadi semakin gemas.
" Engh." Yuta mengerang pelan saat merasakan usapan di pipinya semakin lembut. Pemuda manis itu masih memejamkan matanya, sepertinya ia masih bermimpi indah sampai enggan membuka mata. Taeyong tersenyum melihatnya.
" Manis sekali." Taeyong jujur, bukankah ia tadi sudah bilang kalau Yuta sangat cantik dan manis?
Taeyong heran saja, kenapa makhluk seindah Yuta harus diincar oleh organisasi gelap yang Taeyong sendiri tak tahu apa namanya. Sebenarnya apa tujuan mereka? Taeyong akan menyelidikinya nanti, jika ia mendapat sedikit petunjuk. Taeyong tak ingin gegabah.
Taeyong mengeratkan pelukannya pada tubuh Yuta dan ikut memejamkan matanya, sepertinya mereka harus membolos hari ini. Karena posisi ini terlalu nyaman, Taeyong enggan melepaskannya walau hanya sejengkalpun. Sepertinya Taeyong lupa kalau Yuta bahkan baru dua hari ini masuk sekolah.
.
.
BUK. " Kenapa kau tidak membangunkanku? Jahat sekali." Yuta memukul bahu Taeyong berkali-kali begitu ia bangun dan menengok jam di atas nakas yang telah menunjukkan pukul 10 pagi.
Mereka sudah sangat telat, percuma saja kalau mereka masuk saat ini. Tidak hanya dihukum, mereka pasti akan mendapatkan poin keburukan dan langsung disuruh pulang jika mereka berdua masih nekat untuk masuk sekolah sekarang.
Yuta turun dari ranjang dan mengerucutkan bibirnya. Pemuda manis itu menatap Taeyong sengit dan pergi ke arah kamar mandi. Tentu saja Yuta ingin mandi, memangnya Yuta ingin apa?
" Yuta." Yuta mengabaikan panggilan Taeyong dan segera menutup pintu kamar mandi. Yuta tak perduli, Taeyong mau berteriak seribu kalipun Yuta tak perduli.
Salah Taeyong sendiri kenapa tak membangunkannya? Sudah tahu kalau Yuta itu murid baru. Kalau sonsaengnim bertanya macam-macam besok pada Yuta bagaimana? Memangnya Taeyong mau membantu? Kelas mereka saja berbeda.
Yuta menyalakan shower setelah ia menanggalkan seluruh pakaian yang semula melekat di tubuhnya. Pemuda manis itu mengamati berbagai sabun, shampoo dan benda lain yang Yuta tak ketahui namanya.
Yuta jadi bimbang antara ingin menggunakan sabun beraroma jeruk atau mint. Yuta sedikit heran, sejak kapan Taeyong membeli sabun beraroma jeruk? Seingat Yuta kemarin hanya yang beraroma mint saja. Akhirnya Yuta memutuskan untuk memakai sabun beraroma jeruk.
TOK TOK. " Masih lama mandinya?" Tanya Taeyong dari luar.
Yuta tak menjawabnya, jujur saja ia masih marah dengan Taeyong. Salah Taeyong sendiri sih tidak membangunkan Yuta.
" Yuta."
" Ya ampun sebentar Tae-KENAPA KAU BISA MASUK?"
" Kau tidak mengunci pintu." Wajah Yuta memerah sempurna.
Ia tidak tahu bahwa ia seceroboh itu sampai lupa mengunci pintu. Yuta segera mengambil handuk yang tersampir didekatnya dan segera memenyelimuti tubuhnya dengan handuk besar itu. Yuta bersyukur handuk itu bisa menutui seluruh tubuhnya walau hanya sebatas paha, namun setidaknya ini lebih baik daripada tidak memakai apapun.
Yuta segera berlari keluar, mengabaikan Taeyong yang baru sadar dengan apa yang baru saja dilihatnya.
" Sial, pemandangan indah apa itu?" Seingat Taeyong, ia sudah tiga kali ini melihat Yuta tanpa busana.
Taeyong menampar wajahnya pelan. Sial, kenapa harus pemandangan indah itu muncul di pikirannya? Sepertinya Taeyong harus pergi ke gereja nanti, itupun kalau ia ingat. Kalau tidak ya sudah.
Taeyong membalik tubuhnya dan mengikuti Yuta yang kini telah berakaian lengkap dan berjalan ke arah dapur. Sepertinya pemuda manis itu lapar, Taeyong juga sih tapi tidak terlalu karena entah kenapa ia merasa kenyang. Padahal seingatnya ia tak memakan apapun pagi ini.
" Hah kosong?" Gumam Yuta.
Taeyong mendekati pemuda manis itu, dan ikut melihat isi kulkasnya yang memang hanya terisi beberapa potong es batu, sekotak keju, dua botol soda dan sebotol air putih. Situasi yang merepotkan, roti dan telurpun Taeyong tak punya.
" Aku lapar."
" Delivery mau?"
" Tapi aku tidak suka makanan cepat saji Taeyong, itu tidak sehat tapi aku lapar." Yuta merengut dan Taeyong menghela napas pelan.
" Terus aku harus bagaimana?" Tanya Taeyong. Pemuda manis itu tampak memikirkan sesuatu entah apa itu, dapat Taeyong pastikan kalau pemuda manis itu sedang menimang keuntungan dan kerugian jika perut rampingnya diisi oleh makanan berlemak.
" Ya sudahlah makanan apa saja yang penting aku kenyang." Katanya, setelah itu Yuta berjalan ke arah ruang tengah meninggalkan Taeyong yang lagi-lagi hanya dapat menghela napas pelan. Sungguh, manjanya Yuta itu lebih parah daripada Winwin dan Taeyong harus mulai terbiasa untuk kedepannya.
Setelah memesan makanan, Taeyong mengambil dua kaleng soda dan membawanya ke ruang tengah. Di depan TV, Yuta tampak sedang asik menonton acara reality show mingguan yang ditampilkan oleh salah satu chanel yang paling terkenal di Korea.
" Membosankan aku bahkan tidak tertawa."
" Ya sudah sini remotnya, aku ganti."
" Apa tidak ada film sekeren Naruto? Aku rindu Sasuke~" Ingatkan Taeyong untuk tak menciumnya sekarang juga.
Akhirnya mereka memutuskan untuk menonton berita. Sebenarnya Taeyong mulai mengantuk karena menonton berita dan drama adalah hal yang paling membosankan menurutnya. Tapi saat Taeyong ingin menonton vearity show yang sempat mereka tonton tadi, Yuta melarangnya.
" Tunggu Taeyong." Yuta menatap berita yang sedang ditayangkan dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Entah kenapa Taeyong merasa perasaannya tak enak, ia tak begitu jelas mendengarkan isi beritanya namun ia sempat membaca judul berita yang mereka tonton saat ini.
Penampakan malaikat jatuh dikawasan kota Seoul, Korea Selatan. Sabtu, 4 Maret 2017.
Dengan disertai foto buram yang memang menampakkan sesosok makhluk seukuran manusia dengan sayap putih besar terjatuh dari langit, tidak begitu jelas, namun Taeyong tahu siapa malaikat jatuh yang dimaksud itu. Karena makhluk itulah yang jatuh di kolam renangnya dan sedang duduk di sampingnya saat ini.
" Yuta." Panggil Taeyong, namun orang yang dipanggilnya masih menatap TV dengan tatapan kosongnya, bahkan setelah acaranya berganti.
" Taeyong-ah aku..." Yuta menundukkan kepalanya dalam. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang
" Ketahuan ya?"
" Tidak Yuta, jangan berpikiran buruk seperti itu. Apa kau tidak melihat beritanya tadi? Berita itu bilang penampakan malaikat jatuh bukan polip. Tenang saja oke."
" Tapi itu di Seoul Taeyong. Dan rumahmu juga di Seoul."
" Seoul itu luas Yuta."
" Tapi aku takut Tae."
" Ssstt sudah jangan dipikirkan lagi." Taeyong menarik bahu Yuta dan merengkuhnya. Sungguh, Taeyong juga merasa takut sekarang. Taeyong juga takut Yuta dalam bahaya. Taeyong terlalu takut, belum genap seminggu mereka bertemu dan Taeyong tak mau berpisah dengan Yuta begitu saja.
Taeyong mengeratkan pelukannya. Yuta memang tidak menangis, pemuda manis itu hanya diam, hanya saja tubuhnya bergetar, menandakan kalau pemuda manis itu sedang dilanda ketakutan yang sangat mendalam sekarang.
" Aku akan melindungimu, aku janji. Tolong percaya padaku."
.
.
Pemuda tampan bertubuh tinggi itu melangkahkan kakinya dengan pelan. Ditatapnya kertas berisi alamat rumah teman sekolahnya yang entah kenapa tidak masuk dihari keduanya masuk sekolah tanpa memberikan keterangan apapun.
Pemuda tampan itu berhenti di depan rumah besar keluarga Lee. Pemuda tampan itu mengernyitkan keningnya, sedikit ragu dengan alamat yang dibawanya. Karena seingatnya rumah ini adalah rumah dari Lee Taeyong yang terkenal dingin itu.
Pemuda itu menghela napas pelan, membuka gerbang yang dengan cerobohnya tak terkunci, dan memasuki area pekarangan rumah yang ia akui memang cukup asri. Pemuda tampan itu berhenti tepat di depan pintu besar yang tertutu rapat. Pemuda tampan itu mulai ragu, apa tidak ada orang di rumah ini? Rumah ini terlihat sangat sepi.
Pemuda itu memencet bel sebanyak tiga kali. Namun tak ada seorangpun yang membukanya. Saat pemuda itu hendak berbalik, terdengar suara lembut yang baru dua hari ini didengarnya menyapa indera pendengarnya, seketika ia menghentikan langkahnya.
" Johnny?"
Pemuda tampan bernama Johnny itu tersenyum begitu mendapati sang pemuda manis bersurai coklat teman barunya, Yuta berdiri di ambang pintu. Sial, pemuda manis itu terlihat bersinar.
" Ayo masuk dulu."
" Tidak perlu Yuta. Aku hanya ingin memberikan ini saja kok. Jung sonsaengnim memberikan banyak sekali catatan, aku takut kau tertinggal jadi aku menyalinkannya untukmu. Apa kau sakit?" Tanya Johnny saat melihat kulit putih Yuta yang terlihat agak memucat.
" Iya aku sedang sakit, lainkali aku akan membuat surat ijin. Terimakasih banyak ya kau baik sekali."
Johnny tersenyum karena ia melihat sesuatu dipunggung pemuda manis itu. Oh, mungkin jika orang lain yang melihat Yuta, mereka tak akan melihat apa-apa. Tapi Johnny punya penglihatan yang sedikit berbeda.
" Sama-sama, oh ya aku pulang dulu sepertinya sebentar lagi hujan."
Yuta mengangguk dan mengatakan terimakasih sekali lagi yang hanya dijawabi Johnny dengan kekehan ringan dengan disertai tepukan pelas di kepala Yuta.
Lalu pemuda tampan itu pergi dengan disertai senyum tipisnnya. Senyum tipis yang terlihat sangat tampan namun memiliki berjuta makna jika dilihat lebih teliti.
" Sayap yang indah, sayang sekali tidak disembunyikan dengan baik." Pemuda tampan itu mengeluarkan ponselnya, mengetik beberapa pesan sebelum kembali melanjutkan langkahnya.
Johnny merasa senang, terlalu senang malahan. Sepertinya hari-harinya ke depan akan terasa semakin menyenangkan. Karena ia telah mendapatkan objek baru. Objek berupa makluk purba yang sangat berharga dan langka, makhluk yang sudah dinantinya sejak dua tahun yang lalu.
Johnny berjanji, ia akan memusnahkannya dan menyatukannya bersama dengan debu. Seperti yang pimpinan Black Sider inginkan. Menghancurkan polip dan mahluk sebangsanya. Karena mereka, bisa menghancurkan manusia normal suatu hari nanti.
.
.
TBC
I'm comeback. Ada yang kangen? Wkwkwkwk. Hiatusku gak lama-lama banget kan? Cuma sebulan XD Yah, aku gak terlalu jago bikin proses menuju konflik jadi ya udah begini aja. Aku tau ini pendek, tapi wb menyerang. Gimana dong? Btw, maaf ya kalau banyak typo soalnya aku gak edit gak bales revview juga gak sempet. Yaudahlah ya cukup basa-basinya.
Terimakasih untuk Driedleaves, kiyo, JenTababy, TenCara, Kim991, Park RinHyun-Uchiha, liaoktaviani. joaseo, Yeseul Nam, Min Milly, Vi Jimine, leejegun, chocopanda99, essens. Saya menerima kritik dan saran jadi jangan lupa read and review.
