"L'Amore, La Morte E Il Guidizio"
A Sengoku Basara Fanfic
Language: Bahasa Indonesia
Rate: M
Genre(s): Supernatural, Fantasy, Violence, Mature, Gender bender, Romance
Pairing(s): Mainly IeMitsun (additional: DateSana, ChikaNari, KojuSasu, SakoKatsu, KeiHan)
Uhum, kembali lagi dengan Kichikuri61—tes mic satu dua *tes mic*. Selamat datang di dunia "L'Amore, La Morte E Il Guidizio" ((ohok...cuih...susah bacanya!))
Seperti yang kalian lihat, saya agak sering apdet cerita akhir-akhir ini karena saya lagi dalam masa-masa stress makanya butuh penyegar seperti menulis fic sendiri ((Wong edan kamu, thor...Wong edan)). Dan yah—kehidupan di kampus lagi dalam masa-masa drop jadi ya—doakanlah saya agar saya sukses selalu *bow*
Euhm, tapi karena saya sedang aktif-aktifnya ngetik fic, bukan berarti saya akan apdet DEATH OPERATION, ya *tatap reader tajam dengan senyum lebar*. Karena saya masih berpegang teguh dengan peraturan saya yang dimana fic itu hanya akan saya apdet SETAHUN SEKALI.
Jadi...jangan berharap kalian bisa baca fic itu dengan segera *tatap kembali reader dengan horror-nya*.
Oke, sekian dulu untuk sekarang. Silahkan menikmati kisah ini, nfufu...
Warning: Gender bender, 2p!Characters. No like, no read, no blame. Too mature to be true. Rate 18+
Chapter 2: Illusion
"Kaa-san, kaa-san,"
"Ada apa, Mitsunari?"
"Apa itu iblis?"
"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu, Mitsunari?"
"Karena otou-sama seringbergugam tentang itu,"
"...Mitsunari sayang, iblis itu kebalikan dari kita,"
"Kebalikan?"
"Ya. Kita mengarah pada kedamaian dan kebaikan—Sedangkan mereka mengarah pada keburukan dan kehancuran. Yang namanya iblis itu—mereka haus akan kekuatan dan dosa,"
"Mengapa begitu, kaa-san?"
"Nfu, Mitsunari sayang. Kau masih kanak-kanak—tapi pertanyaanmu selalumembuatku terkejut,"
"Karena aku penasaran, kaa-san,"
"Dengarlah, Mitsunari sayang. Suatu saat nanti—kau akan mengerti—"
"Siapa iblis sebenarnya—"
"Nhh—" Mitsunari mulai membuka kedua matanya, "Ini...dimana?" tanyanya sambil bangun. Mitsunari panik ketika mengingat dirinya tidak berbusana lalu mengecek tubuhnya yang masih berpakaian lalu menghela napas lega. Mitsunari melihat ke bawah dirinya dan menyadari bahwa dirinya ada di atas sebuah ranjang tempat tidur.
"Anda sudah bangun rupanya, oujo-sama," seru sebuah suara. Mitsunari menoleh terkejut dengan suara yang memanggilnya. Dilihatnya seorang pria berpakaian ala butler berbadan sedang, berambut cokelat panjang di kedua sisi kanan dan kiri juga potongan rambut pendek di belakang, "Si—siapa kau?"
"Tadatsugu Sakai—pelayan dari Ieyasu-sama," sapa Tadatsugu membungkuk, "Ghoul Type,"
"Ghoul...?" tanya Mitsunari tegang.
"Sulit dipercaya—Ieyasu-sama akan memilih makhluk tak berdaya seperti anda," ucap Tadatsugu sopan membuka sarung tangannya perlahan dan mulai menunjukkan kuku-kuku jarinya yang tajam dan panjang, "Mungkin sebaiknya anda harus saya matikan, oujo-sama,"
"Matikan—" kedua mata Mitsunari terbuka lebar ketika ia melihat Tadatsugu sudah berada di depannya mengarahkan kuku-kuku tajamnya dekat wajah Mitsunari.
DEG
Jantung Mitsunari berdekat kencang. Kuku-kuku tajam Tadatsugu semakin mendekati wajahnya. "Cepatnya—!" bisik Mitsunari.
"Tadatsugu! Apa yang kau lakukan?!" teriak seseorang. Tadatsugu yang kehilangan konsentrasi melenceng dan menyakar pipi kiri Mitsunari dalam, "Argh!"
Tadatsugu memutar kepalanya pada sumber suara tersebut, dilihatnya Kojuuro yang sedang bersandar berdiri di dekat pintu kamar dengan Sasuke yang ia bopong di pundak kirinya.
"Katakura-sama," sahut Tadatsugu.
("Sasuke-neesama!") Mitsunari terkejut dalam hati.
"Cepat menjauh dari malaikat itu—sebentar lagi pertemuan akan dimulai," jelas Kojuuro singkat dan mulai melangkah keluar dari pintu kamar.
"Sayamengerti," Tadatsugu beranjak menjauh dari Mitsunari lalu memasang kembali sarung tangannya dan berjalan keluar kamar. Di dekat pintu kamar yang terbuka, ia terhenti sesaat, "Oujo-sama—di lain waktu nanti, saya akan membunuh anda. Tunggu saja," ucapnya sambil keluar menjauh dari kamar. Mitsunari yang mendengar ucapan Tadatsugu mulai ketakutan dan gemetar, "Membunuh...apa maksudnya?" bisik Mitsunari. "Duniaku dihancurkan—lalu disetubuhi Lucifer—lalu ini...UWAAAA!" Mitsunari dengan emosi tak stabil meraih vas bunga yang berada di atas meja dekatnya dan melemparnya ke dinding di hadapannya hingga pecah berkeping-keping. Mitsunari terdiam kemudian mulai meneteskan air mata dan menangis memeluk kedua lututnya tanpa menghiraukan perihnya luka di pipinya, "Kumohon...ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi,"
Sementara itu, di sebuah ruangan kosong yang besar hanya dihiaskan ratusan lilin dan sebuah meja bundar besar—beberapa petinggi iblis duduk melingkar mengisi penuh meja bundar besar tersebut. Diantara mereka—Masamune Date tipe Incubus, Sakon Shima tipe Samael, Keiji Maeda tipe Shinigami, Kojuuro Katakura tipe The Executioner atau Algojo. Hadir pula Nebiros beserta kedua pengawalnya. Dan yang tak tertandingi—Ieyasu Tokugawa sang Lucifer.
"Lucifer, tidak biasanya kau mengadakan rapat besar. Ada masalah?" tanya seorang petinggi iblis yang sudah berumur berambut putih terkuncir, berpupil merah, bertubuh sedang dan berotot, topless dan bertanduk besar dan berkaki bulu besar.
"Ada seseorang yang memberiku informasi menarik," jawab Ieyasu.
"Shimazu Yoshihiro—apa kau berusaha membujuk Lucifer untuk membocorkan informasi?" ejek Masamune yang duduk di seberang Shimazu.
"Masamune, kau lupa kalau Belphegor selalu begitu?" sahut Sakon yang duduk di sebelah Masamune.
"Eh—he's a Belphegor?" Masamune bertanya balik. Sakon menepuk wajahnya pasrah.
"Masamune—berhentilah bertingkah bodoh," tegur Keiji yang duduk di samping Ieyasu.
"Oi, Shinigami! Berhentilah menegurku!" protes Masamune.
"Hei, kalian! Bisakah kalian diam sebentar?!" teriak seorang pengawal Nebiros berbadan besar dengan jenggot menutupi seluruh dagunya dan mengenakan bandana putih, "Nebiros-sama tidak bisa tenang jika kalian terus berisik!"
"Oi—Bekinosuke! Just shut up, you Nebiros' puppet!" Masamune berteriak balik.
"Masamune!" omel Keiji.
"Tch—!" geram Masamune.
"Bekinosuke—tenanglah," tegur Nebiros pelan.
"Maafkan saya—Aniki," Bekinosuke menundukkan kepalanya pada Nebiros dan dibalas dengan anggukan dari Nebiros.
"Θα ξεκινήσουμε τώρα συνεδρίου μας (Kita akan mulai rapat besar ini)," ucap Kojuuro berdiri dari tempatnya yang berada di sebelah Belphegor.
"Ieyasu-sama, kesukaan anda," Tadatsugu menghampiri Ieyasu dengan membawa tiga buah apel merah segar dan diletakannya oleh Tadatsugu di tempat Ieyasu.
"Terima kasih," ucap Ieyasu.
"Dengan senang hati," Tadatsugu melangkah mundur dan berhenti di belakang Ieyasu.
"Dimulai dari anda—Magoichi Saika—Succubus Type," panggil Kojuuro.
"Baiklah," seorang wanita berpostur sempurna berambut cokelat-oranye sebahu, berpupil merah dan hanya tertutupi tato di seluruh tubuhnya dan berekor panjang—bersayap dua dengan tanduk besar di kepalanya; beranjak dari tempatnya di sebelah Keiji, "Seperti yang kita ketahui, para malaikat yang sudah melewati eksekusi kebanyakan adalah malaikat-malaikat biasa—Tapi, apa kalian tahu? Mereka semua berbeda satu sama lain—bahkan pemimpin mereka sendiri," Magoichi memulai pembicaraan.
"Maksudmu—mereka bukan Angel biasa?" tanya Ieyasu.
"Benar sekali—" Magoichi melempar enam bola api ke tengah meja rapat. Enam bola api itu mulai terjajar dengan sendirinya—lalu menunjukkan enam wajah yang tidak asing bagi para iblis yang menghadiri eksekusi sebelumnya; Yukimura, Katsuie, Motonari, Sasuke, Hanbei dan Mitsunari, "Ah—mereka—" respon Ieyasu menatap keenam bola api itu tersenyum.
"Enam malaikat ini contohnya—pertama, Katsuie Shibata—walau tak mempunyai status kerajaan—Tipenya adalah tipe yang tidak bisa kita anggap remeh—Dia adalah tipe Jegudiel; MalaikatPenanggung Jawab dan Cinta dengan Penuh Belas Kasih—bagaikan seorang pendeta atau pastur," jelas Magoichi melebar bola api dengan wajah Katsuie muncul di dalamnya.
"Jadi—dia sebenarnya adalah malaikat pembawa kasih sayang, eh?" Ieyasu bertanya sambil meraih satu apel utuh lalu memakannya.
"Benar sekali, Lucifer-sama," balas Magoichi.
"Ooh~ Aku senang dapat mainan penuh kasih sayang seperti dirinya," Sakon tersenyum lebar.
"—Lalu ada Yukimura Sanada dan Sarutobi Sasuke—Mereka satu tipe seperti Shingen Takeda—Netzach—Malaikat yang Hidup Abadi," lanjut Magoichi melebar bola api dengan wajah Sasuke dan Yukimura muncul di dalamnya.
"Ah, sayang sekali Shingen sudah tidak hidup abadi lagi," Masamune tertawa.
"Masamune," tegur Keiji pada Masamune yang langsung diam.
"Kemudian, Motonari Mouri—Pahaliah—Malaikat pemberi kebijaksanaan, tekad dan ilmu pengetahuan. Kudengar, malaikat ini juga senang mengapresiasi seni—terutama musik; karena memang seperti itulah sifat mereka," ucap Magoichi.
"Ayaya~ Nebi-nebi beruntung sekali~Bisa dapat yang setipe," ujar Sakon bercanda.
"..." Nebiros tidak menghiraukan omongan Sakon dan hanya terdiam.
"Terakhir, Hanbei Takenaka dan Mitsunari Ishida—Erhm..." Magoichi terdiam sesaat.
"...Ada apa, nona Succubus?" tanya Ieyasu yang masih mengunyah apelnya yang sudah habis ¾ bagian.
"Cherubim—" ucap Magoichi terbata-bata, "Mereka adalah tipe Cherubim," Seketika seluruh petinggi iblis terkejut, tak terkecuali Ieyasu yang sedang menikmati santapannya tanpa sadar apelnya terjatuh ke tanah ketika mendengar penjelasan Magoichi.
"Cherubim katamu?!" Nebiros terkejut.
"Jangan bercanda! Cherubim sudah lama kita habisi!" protes Shimazu berdiri.
"Cherubim—Tak kusangka mereka masih ada," bisik Kojuuro agak terkejut.
"Tapi, bukankah Hideyoshi Toyotomi adalah tipe Phanuel, malaikat pertobatan dan harapan?" tanya Sakon yang ikut terkejut, "Kenapa anak-anak mereka bisa Cherubim?!"
"Oi—Lucifer! Kenapa kau bisa membiarkan mereka hidup?!" tanya keras seorang petinggi iblis.
"Lucifer! Cepat lakukan sesuatu!" ucap keras petinggi iblis lainnya.
Para petinggi iblis pun mulai protes pada pemimpin mereka. Sang pemimpin iblis hanya terdiam tak membalas pembicaraan mereka. Tadatsugu yang kesal berjalan ke sebelah Ieyasu dan berteriak, "κλείστε το στόμα σας! Εωσφόρος ο ίδιος δεν γνωρίζει τίποτα γι 'αυτό! (Tutup mulut kalian! Lucifer-sama sendiri juga tidak tahu apa-apa mengenai hal ini!)"
"Mungkin mereka lebih kepada keturunan dari ibu mereka," seru Keiji tiba-tiba.
"Eh?" seluruh petinggi iblis menoleh ke arah Keiji.
"Cherubim adalah tingkat malikat paling tinggi di Surga, bukan? Memang Hideyoshi dan Shingen-lah yang memimpin Surga—tapi sebelumnya, Surga dipimpin oleh kelompok Cherubim yang berkuasa sampai pada garis keturunan yang ke-17, sang ratu tidak melahirkan anak laki-laki—melainkan semua perempuan. Di saat itulah, Hideyoshi dan Shingen mulai bangkit," jelas Keiji.
"Aku juga pernah mendengarnya—dan untuk pertama kalinya dua raja diangkat memimpin Surga secara bersamaan—itu memang terdengar aneh, tapi kenyataannya mereka mampu menjalankan dunia mereka dengan baik," lanjut Kojuuro.
"Hanya saja—" Keiji terdiam.
"Ada apa, Shinigami?" tanya Masamune.
"Cherubim termasuk tipe yang berbahaya—" sambung Keiji, "Bila emosi dan perasaan seorang Cherubim tidak stabil, lingkungan mereka akan ikut terpengaruh,"
"Jadi, maksudmu—Cherubim sebenarnya bisa mempengaruhi stabil tidaknya kondisi di Surga?" tanya Nebiros, "Bila ada sesuatu yang mengganggu mereka, Surga pun ikut terkena dampaknya?"
"Ya—tidak hanya itu—Yang lebih berbahaya lagi adalah—mereka bisa menghancurkan Neraka jika mereka dibuat sangat tidak stabil. Apa kalian tidak ingat kejadian 300 tahun yang lalu? Dunia ini sempat hancur total namun Ieyasu-sama bisa mengatasinya. Karenanya, sebaiknya kita buat mereka tenang atau kita sendiri yang akan musnah," lanjut Keiji. Ucapan Keiji membuat seluruh petinggi iblis diam tak berkutik kecuali Ieyasu.
"Fuh..." Ieyasu tertawa kecil, "Ahahahahahahahahaha!" tawa Ieyasu mulai keras.
"I—Ieyasu-sama?" tanya Tadatsugu kebingungan melihat tuannya yang tertawa tiba-tiba.
"Ahahahahaha!" Ieyasu masih tertawa keras.
"Lucifer! Ini bukan candaan! Kita berbicara soal kelompok yang seharusnya sudah musnah!" seru Nebiros.
"Ahahaha—maaf, maaf—Hanya saja—ahaha—tidak kusangka aku bisa mendapat malaikat yang seharusnya punah—tapi ternyata mereka masih hidup," jelas Ieyasu yang masih tertawa.
"Lucifer-sama?" tanya Magoichi heran.
"Seorang cherubim—yang akan mengandung anakku—" Ieyasu meraih apel utuh lain lalu menjilatinya, "Aku benar-benar merasa terhibur saat ini,"
"Σταματάμε συνέδριο μας σήμερα (Kita akhiri rapat besar ini)," ucap Kojuuro. Para petinggi iblis beranjak dari tempat dan pergi menyebar.
"Nebiros-sama," panggil Kojuuro pada Nebiros.
Sang Nebiros tua menoleh ke arah Kojuuro, "...Ada apa?" tanyanya.
"Terima kasih kembali atas jasa anda yang telah membantu kami menciptakan pasukan perang—" ucapan Kojuuro dipotong oleh Nebiros yang mengangkat tangannya di hadapan Kojuuro, "Kuterima ucapanmu, Algojo. Tapi aku merasa tidak pantas diberi pujian seperti itu," Nebiros segera pergi meninggalkan Kojuuro diikuti dua pengawalnya.
"...Heh, anda memang tidak pernah berubah—Motochika Chosokabe-sama," bisik Kojuuro memandang Nebiros pergi menjauh.
"Oi, Saika! Sudah selesai bertugas? Tidak biasanya tugasmu selesai begitu cepat," tanya Masamune pada Magoichi.
"Diamlah, Date! Pria-pria sempurna sekarang semakin lama semakin menipis jumlahnya," jawab Magoichi yang melayang di sebelah Masamune.
"Ada apa dengan suami-suamimu? Mereka tidak memuaskan hasratmu?" ejek Masamune.
"Huh—mereka cepat merasa bosan," balas Magoichi kesal.
"Incubus, Succubus. Jangan menghalangi jalan orang seenaknya," tegur Keiji yang berdiri di belakang mereka.
"Tch—Keiji," ucap Masamune kesal.
"Maeda—" Magoichi melayang mendekati Keiji dan melingkarkan ekornya di tangan dewa kematian itu, "Bagaimana keadaanmu, sayangku? Tiap hari jadi pemarah begitu," tanya Magoichi dengan nada khawatir pada Keiji dengan tangan menyentuh kedua pipinya.
"Saika—berhentilah menggoda dewa kematian itu or you will—Gerkh! Kau bisa terbunuh," seru Masamune sambil memberi kode jari telunjuk yang digerakkan di depan leher dari kiri ke kanan.
"Kenapa begitu kesal, Date? Dewa kematian yang tampan ini tidak akan membunuhku seenaknya—selama aku akan mengandung anaknya. Benar, kan, sayangku?" Magoichi mengecup pipi Keiji.
"Kau mengandung lagi, Magoichi?" tanya Sakon menghampiri kawan-kawannya.
"Belum. Tapi suatu hari nanti—aku akan mengandung anak dari dewa kematian ini," Magoichi menggigit bibir bawah Keiji lalu menciumnya dengan penuh hasrat, "Mmnh—" Keiji hanya diam tak merespon.
"Wow, di saat seperti ini, Keiji masih bisa diam..." Sakon terpukau dengan sikap Keiji.
"Haha! Sakon, anakku—Begitulah kebanyakan dewa kematian—selalu diam tak peduli. Nah, Sakon. Bagaimana kalau kau bereskan dulu ular-ularmu?" ucap Shimazu menepuk pelan pundak Sakon.
"Ieyasu-sama," panggil Tadatsugu pada tuannya, "Sepertinya kita ada sedikit masalah,"
"Ada apa?" tanya Ieyasu pada pelayannya.
"Ini—mengenai istri anda, Ieyasu-sama—"
Ieyasu mendobrak pintu kamar dimana Mitsunari menetap diikuti Tadatsugu menyusul dari belakang. Dilihatnya oleh mereka, seluruh furnitur di kamar itu hancur berantakan—vas bunga hancur berkeping-keping, sarung bantal yang robek hingga bulu yang mengisinya berserakan dimana-mana, selimut serta hordeng jendela yang juga robek. Mitsunari berdiri terdiam menghadap jendela yang terbuka.
"Kumohon..." bisik Mitsunari dengan nada serak yang menandakan dirinya masih menangis, "Bunuh saja aku..."
"Oujo-sama—tenangkan diri anda—" Tadatsugu berusaha mendekati Mitsunari yang sedang tidak stabil.
"MENJAUH DARIKU!" Mitsunari meraih pecahan vas bunga yang berada di dekatnya dan ditodongkan pada Tadatsugu yang mendekatinya.
"Tadatsugu—" pinta Ieyasu.
"Mengerti, tuanku," Kulit Tadatsugu yang pucatmulai terkelupas perlahan hingga daging merah wajahnya mulai terlihat total. Kedua bola matanya mulai memerah dan meneteskan darah. Mulutnya terbuka lebar hingga robek mendekati telinganya, "SEPERTINYA—AKU—TIDAK—ADA—CARA—LAIN—SELAIN—MEMBUNUHMU—" ucap Tadatsugu dengan nada menyeramkan dan mulai menerkam Mitsunari.
Mitsunari yang ketakutan menyakar wajah Tadatsugu dengan pecahan vas bunga yang ia raih hingga wajah Tadatsugu terluka cukup dalam. Tadatsugu meraung keras dan menjatuhkan Mitsunari ke tanah dan mencekiknya, "Uargh—" rintih Mitsunari.
"θα έχετε την ευκαιρία να πεθάνουν! (Kau akan kubunuh!)" teriak Tadatsugu mencekik Mitsunari kencang.
"Aargh—lepas—" Mitsunari berusaha melawan namun Tadatsugu mencekiknya terlalu kuat, "Lepaskan—aagh—"
"Σας ανυπεράσπιστο πλάσμα! (Dasar makhluk tak berdaya!)" geram Tadatsugu.
Mitsunari yang semakin tidak stabil mencengkram wajah Tadatsugu kuat. Tadatsugu yang terkejut berusaha melepaskan tangan Mitsunari yang menyengkram wajahnya, "Urgh—!"
"Kubunuh kau—Augh!" Dada Mitsunari mulai terasa sakit. Mitsunari segera melepas cengkramannya dari wajah Tadatsugu lalu menyentuh dadanya yang bertanda merah menyala, "Aargh!" Mitsunari merintih kesakitan.
Tadatsugu berdiri lalu menoleh ke arah tuannya yang memperlihatkan tanda yang sama dengan Mitsunari di telapak tangan kanannya, "Ieyasu-sama—"
"Biar aku yang tangani dia—Kita ke kamarku," ucap Ieyasu pada Tadatsugu melangkah mendekati Mitsunari.
Tadatsugu kembali ke wujud semula. Wajahnya kembali menjadi normal dan ia segera menghampus darah yang berada di luka wajahnya dan segera berjalan keluar kamar, "Dimengerti, tuanku,"
"Aaargh!" Mitsunari yang kesakitan menggaruk dadanya yang sudah ditandai. Ieyasu berjalan mendekati Mitsunari lalu berlutut mendekati wajahnya, "Shh, Mitsunari...Tenanglah," bisik Ieyasu di telinga Mitsunari. Tubuh Mitsunari merinding mendengar suara Ieyasu berada dekat di telinganya.
"Uhh..." Mitsunari hampir kehabisan suara dan napas hinggatidak bisa membalas ucapan Ieyasu. Ieyasu mengangkat telapak tangan bertanda sama dengan Mitsunari dan meletakkannya diatas dada Mitsunari yang bertanda, "Sesak, bukan? Tanda yang berada di badanmu itu bisa memberimu rasa sakit yang luar biasa—Dan itu semua tergantung kemauanku," jelas Ieyasu.
"..." Mitsunari tidak membalas Ieyasu. Tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak.
"Kemarilah," Ieyasu merangkul Mitsunari yang lemah ke pelukannya dan membawanya keluar kamar.
Setibanya mereka di depan kamar Ieyasu, ranjang berukuran besar berseprai merah serta dinding-dinding retak serta langit-langit merah yang dihiasi lilin gantung menyambut kedatangan mereka. Di dalam kamar, Tadatsugu menundukkan kepalanya kepada Ieyasu yang masuk ke dalam kamar.
"Semua persiapan anda sudah selesai, tuanku," ucap Tadatsugu.
("Persiapan—") Mitsunari mulai merasa pusing ketika berada di dalam kamar sang pemimpin neraka, "Ba—bau apa...ini?" tanyanya lemah mencium bau yang tidak ia kenal.
Ieyasu tidak menjawab pertanyaan Mitsunari dan segera membaringkan Mitsunari yang lemah ke ranjang tempat tidur dan naik ke atas Mitsunari, "He...Hei..." Mitsunari semakin merasa pusing.
"Bagaimana perasaanmu, Mitsunari?" tanya Ieyasu membuka baju Mitsunari lalu melemparnya ke lantai. Tubuh telanjang Mitsunari terlihat jelas di hadapan Ieyasu.
"Ke...kenapa kau...melepaskan bajuku...?" tanya Mitsunari yang tidak kuat menahan rasa pusingnya," Aku...merasa...aneh..."
"Sepertinya aphrodisiac dari Magoichi-sama bereaksi dengan cepat seperti biasanya, Ieyasu-sama," jelas Tadatsugu.
"Aphro...disiac...?" tanya Mitsunari yang sudah tidak mampu bergerak, "Ah...kenapa aku...merasa—"
"Panas penuh dengan hasrat?" seru Ieyasu meremas dada bertanda Mitsunari. Mitsunari yang terkejut mulai mendesah, "Ahh—"
"Ieyasu-sama—Jangan bermain dengan istri anda yang sudah jelas terlihat tidak dalam kondisi yang bagus," tegur Tadatsugu.
"Tenanglah, Tadatsugu—" Ieyasu mendekati wajah Mitsunari lalu menjilati pipi Mitsunari yang terluka, "Sepertinya dia juga menikmatinya," Ieyasu menjilati darah yang berada di luka pipi Mitsunari dan meremas dadanya kencang hingga desahan Mitsunari terdengar keras. Tadatsugu hanya bisa menghela napas melihat tingkah tuannya.
Di lain tempat, Keiji yang membawa scythe sedang berjalan di tengah Neraka yang ramai dengan para iblis yang berkeliaran.
"χαιρετισμούς, θεός αγαπητέ θάνατο (Salam, Sang Dewa Kematian)," sapa para iblis yang ia lewati.
"καλή μέρα (Hari yang damai)," Keiji membalas mereka lalu berhenti di sebuah tempat yang terlihat seperti bar lalu masuk ke dalam. Bar yang ia datangi cukup santai, hanya dinding cokelat dan meja bar terhias di dalam tempat yang santai ini. Dilihatnya dua pengawal Incubus bertanduk besar, bersayap dua serta berekor panjang dan berujung tajam berdiri di depan pintu masuk khusus.
"Ah, Shinigami-sama, senang sekali bertemu anda kembali. Ada perlu apa?" sapa seorang Incubus bertubuh kurus dan berkacamata.
"Begitu pula denganku, Sama-no-suke. Masamune sudah menungguku di dalam," balas Keiji.
"Shinigami-sama, apa anda lupa dengan peraturan kita? Jangan membawa senjata kemari," tegur seorang Incubus bertubuh gemuk.
"Aku mengerti maksudmu, Magobe. Dan aku tidak akan menggunakan ini jika tak ada alasan penting," jelas Keiji.
"Perlihatkan tanda anda, Shinigami-sama," ucap Sama-no-suke. Keiji langsung membuka mantelnya lalu membuka kancing bajunya dan menunjukkan tanda bulu sayap hitam yang sama dengan Hanbei di dada kirinya.
"Silahkan masuk, Shinigami-sama. Hittou dan Sakon-niisan sudah menunggu anda," Sama-no-suke mengijinkan Keiji masuk ke dalam. Keiji melangkah ke dalam lalu disambut oleh Masamune dan Sakon yang dikeliling para succubus yang sedang menggoda mereka dan meja yang penuh dengan botol-botol dan gelas-gelas yang penuh dengan anggur. Bahkan ada pula yang sedang bersetubuh dengan mereka.
"Yo, Shinigami!" panggil Masamune yang sedang bersetubuh dengan salah seorang Succubus.
"Iyaaah~~ Masamune-sama~~ " desah Succubus yang disetubuhi Masamune.
"Hmph," balas Keiji dingin.
"Eh—Keiji lagi ngambek? Tuh kan, Masamune! Sudah kubilang jangan bercumbu di depan Keiji!" omel Sakon yang juga sedang bersetubuh dengan Succubus lain.
"Aaah~~ Sakon-sama~~~" desah Succubus lain.
"...Kalian berdua benar-benar yang terburuk," kritik Keiji pada Masamune dan Sakon.
"Heh, whatever," Masamune cuek lalu meneruskan aktifitas bercumbunya.
"Keiji, kau sudah apakan mainanmu?" tanya Sakon ditengah bercumbu.
"...Belum kusentuh," jawab Keiji.
"Wah—kita sama," ucap Sakon.
"Hmph," Keiji hanya diam.
"Masamune-sama~ Setelah ini giliranku ya~" ujar seorang Succubus.
"Hei! Masamune-sama sudah berjanji akan bercumbu denganku dulu!" omel Succubus yang lain.
("Bawahan dari Magoichi, kah? Kenapa wanita itu sungguh merepotkan?") bisik Keiji di hatinya.
CLAK
"...Rantai?" Keiji menoleh ke belakang dimana ia mendengar suara itu datang. Dilihatnya oleh Keiji, Yukimura dan Katsuie yang diam dikurung di dalam jeruji besi dan di rantai seluruh kaki dan tangan mereka, "Kau bercanda?" tanya Keiji.
"Nah," jawab Masamune yang sedang mencapai klimaks, "Shit! It's hot!"
"Masamune-sama~~~" Succubus yang disetubuhi Masamune juga sampai pada titik puncaknya.
"..." Yukimura dan Katsuie yang menyaksikan hanya terdiam di dalam kurungannya. Keiji memperhatikan mereka dengan penasaran, "...Mereka tidak berbicara?"
"Thanks to Sakon's poison—Mereka kami buat diam," jelas Masamune. Sakon hanya mengangguk.
"Oh..." balas Keiji tak berekspresi.
"Keiji-sama~" seru seorang succubus yang menghampiri Keiji lalu memeluknya, "Daripada memperhatikan dua makhluk menjijikkan itu—Bagaimana kalau kita 'bersenang-senang' saja~?"
"Itu benar, Keiji-sama!" seru succubus lainnya bermain dengan tubuh Keiji, "Dua makhluk itu tidak sepantasnya dipandang oleh Keiji-sama yang hebat ini~"
"Bersenang-senang...Ya?" Keiji mengalihkan pandangannya kembali pada Yukimura dan Katsuie yang dikurung, "Bagaimana...kalau kalian lakukan 'itu' dengan mereka, Masamune dan Sakon?" Keiji menyarankan.
"...! (Apa?!)" Katsuie dan Yukimura terkejut bisu mendengar kalimat Keiji. Mereka segera berpeluk gemetar dan mulai meneteskan air mata.
"What?!" tanya Masamune yang juga terkejut.
"Hee~? Kukira Keiji tidak suka dengan hal-hal erotis itu," sahut Sakon.
"Memang tidak," Keiji segera duduk di sofa di sebelah Masamune dan Sakon, "Tapi sepertinya akan lebih 'menyenangkan' jika kalian menodai kedua malaikat manis ini—Apalagi setelah mereka terkena racunmu, Sakon—Mereka takkan bersuara kecuali jika kalian melakukan 'itu' pada mereka. Jadi tidak sia-sia, bukan? Suara manis mereka tidak akan hilang," ucap Keiji sambil tersenyum lebar. Senyuman Keiji membuat Katsuie dan Yukimura semakin ketakutan.
Masamune dan Sakon saling bertukar pandang, lalu keduanya tersenyum lebar.
"Sounds great to me," Masamune menjilat bibirnya.
"Setuju juga," balas Sakon yang juga menjilat bibirnya.
Masamune segera beranjak dari kursinya sedangkan Sakon menghentikan bercumbunya dan kedua menghampiri kurungan besi tempat Yukimura dan Katsuie dikurung.
"Hey, there," sapa Masamune.
"Kalian ingin tahu sesuatu yang menarik?" tanya Sakon pada kedua malaikat tersebut.
Yukimura dan Katsuie semakin takut ketika Sakon dan Masamune menjulurkan lidah mereka dengan tanda yang sama dimiliki oleh Katsuie dan Yukimura: dua simbol hati dengan sayap sebelah kiri pada lidah Sakon dan sayap sebelah kanan pada lidah Masamune.
"Let's have some fun, shall we?!" teriak Masamune dan Sakon yang langsung menendang jeruji besi hingga rusak. Masamune dan Sakon masuk ke dalam dan menarik rantai yang mengikat Katsuie dan Yukimura dengan paksa dan menyeret kedua malaikat keluar dari jeruji.
"...! ...! (Lepaskan kami!)" Katsuie dan Yukimura meronta tak bersuara dan berusaha melawan kedua iblis yang menarik mereka.
"Haha—Lucu sekali melihat mereka meronta tapi tak ada yang bisa mendengarnya," Keiji tertawa.
"...! ...! ...! (Lepaskan aku, dasar iblis!)" Yukimura meronta dan memukul kepala Masamune dengan keras. Para succubus terkejut melihat kejadian itu.
"APA MAKSUDMU MENYAKITI MASAMUNE-SAMA KAMI?!" teriak mereka.
Keiji mengangkat tangannya di depan para Succubus, "Ini baru masuk ke bagian yang menarik,"
"Bastard!" Masamune yang kesal membanting keras Yukimura ke lantai lalu mencekik lehernya kencang. Yukimura yang bisu merintih kesakitan, "...! (Uargh!)"
"...! (Yukimura-sama!)" Katsuie bisu terkejut.
"...(Hiks...)" Yukimura menangis kesakitan.
"Sakit, bukan?" tanya Masamune mencekik kencang Yukimura hingga Yukimura semakin kesakitan, "HEI! JAWAB AKU!" teriak Masamune tertawa melihat Yukimura kesakitan.
"...! (Uarrgh!)" Yukimura bisu merintih kencang.
"Masamune, sepertinya dia sudah cukup kesakitan," ucap Sakon yang sedang membuka pelan baju Katsuie.
"...! (Ah—!)" Katsuie terkejut melihat bajunya yang mulai terbuka.
"Really?!" Masamune menjambak rambut Yukimura lalu menariknya kasar. Masamune mengangkat wajah Yukimura dan bertatapan dengan Yukimura yang menangis kesakitan dengan mulut yang berdarah dan leher yang memar, "Ah—kau benar, Sakon—My bad,"
"... (Kumohon...Lepaskan aku...)" Katsuie bisu menatap Sakon dengan tatapan memohon sambil menangis. Sakon tersenyum lalu menjilati air mata Katsuie, "Kau takkan bisa lari dariku, sayang," bisiknya dalam di telinga Katsuie. Katsuie bergidik mendengar suara dalam Sakon dekat padanya.
"...(Hiks...)" Yukimura menangis tertunduk. Keiji memperhatikan kedua malaikat yang menangis, "Hei, gadis-gadis kalian menangis," ucapnya, "Itu bukan cara Incubus dan Samael untuk mencari mangsa, bukan?"
Masamune dan Sakon terdiam dengan ucapan Keiji lalu saling bertukar pandang. Cukup lama mereka bertukar pandang lalu tersenyum lebar, "Tentu saja tidak,"seru mereka bersamaan.
Masamune membungkuk dekat ke wajah Yukimura, "Maaf atas tindakanku yang kasar tadi, sayang," Masamune mengecup pelan bibir Yukimura yang berdarah lalu melumatnya penuh hasrat, "Mmh—Damn—mmf—bibirmu manis sekali—" puji Masamune di tengah ciumannya dengan Yukimura.
"Tch—Masamune! Aku takkan kalah darimu!" Sakon mengangkat dagu Katsuie dan mengarahkan wajah Katsuie untuk berpas-pasan dengan wajah lalu mencium bibirnya dalam, "Mmh—"
"...! (Mmnh!)" Katsuie terkejut melihat Sakon yang menciumnya tiba-tiba dan melumatnya. Katsuie berusaha melepaskan tangan Sakon dari dagunya namun tak Sakon hiraukan protesnya. Ia segera meremas kencang dada Katsuie dan membuat Katsuie semakin terkejut, "...! (Mmh?!)"
DEG
Mulut Katsuie dan Yukimura yang dilumat oleh kedua iblis itu mulai mengalirkan darah. Katsuie dan Yukimura melepas ciuman mereka dan terjatuh lemah ke lantai merintih kesakitan sambil memegang leher mereka, "Aagh..." rintih mereka bersuara.
"Oh, wow," Keiji terkagum melihat kedua malaikat yang akhirnya bersuara, "Apa yang tadi kalian masukkan ke tubuh mereka?" tanyanya meraih gelas yang berisi anggur di meja.
"Bukan sesuatu yang spesial—" jawab Masamune dan Sakon bersamaan menjilat darah kedua malaikat yang baru saja mereka cium, "Hanyaracun,"
"Hyaa!" Masamune mengangkat tubuh Yukimura hingga dibuat merangkak, "Here, suck these," ucap Masamune memasukkan jari telunjuk dan tengahnya ke mulut Yukimura, "Mmffhh!"
"Kalau aku jadi dirimu, Masamune—" Sakon menjilati dua jari yang sama, "Aku akan memilih yang lebih praktis," Sakon kemudian mengangkat rok Katsuie dan segera memasukkan dua jarinya ke dalam daerah intim Katsuie.
"Aah!" Katsuie mendesah keras.
Para succubus yang menyaksikan hanya bisa terpana sementara Keiji menikmatinya sambil meminum anggur.
"Aku tidak pernah melihat Masamune-sama dan Sakon-sama seserius ini," bisik salah seorang succubus.
"Curangnya! Aku juga ingin diperlakukan yang sama!" protes succubus lainnya.
"Fuaah!" Kedua jari Masamune ditarik keluar dari Yukimura lalu dimasukkan oleh Masamune ke dalam daerah intim Yukimura, "Ah!" Jari yang masuk ke dalamnya membuat Yukimura mendesah.
"Fuh—aah—ah—haa—" Katsuie mendesah tanpa henti ketika Sakon bermain di dalamnya dengan jari-jarinya yang kasar.
"He—hentika—aah—" Yukimura juga mendesah dengan cara yang sama dilakukan oleh Masamune.
"Hei, Samael," panggil Masamune pada Sakon, "Bersih sekali—" Masamune mulai merasa panas.
"Ah—iya—" balas Sakon yang juga mulai panas, "Aku jadi tidak sabar untuk mengotorinya,"
"Huaa!" Yukimura dan Katsuie terkejut ketika Sakon dan Masamune menarik keluar jari mereka. Sakon mengangkat Katsuie yang sudah terkapar lemas dan menahannya dalam posisi merangkak. Katsuie memasang ekspresi takut pada Yukimura yang berada tepat di depannya. Yukimura juga memberi ekspresi yang sama pada Katsuie.
"Yukimura-sama..." bisik Katsuie.
Yukimura menundukkan kepalanya, "—Katsuie-dono," balas Yukimura.
"Uwaa!" Kedua malaikat terkejut ketika kaki mereka dibuka lebar oleh kedua iblis yang berniat mengotori mereka. Dirasa oleh mereka sesuatu yang licin dan besar berada di antara kedua kaki mereka.
"Ja—jangan—!" teriak Yukimura panik.
"Lepaskan—!" ronta Katsuie.
"δεν! (Tidak!)" Masamune dan Sakon langsung menyetubuhi Yukimura dan Katsuie.
"Aah!" Kedua malaikat meronta keras.
"δεν είναι καλό - σκατά, είμαι σε θερμότητα! (Ini bukan pertanda bagus—Sial, aku kepanasan!)" teriak Masamune.
"Ποτέ δεν αισθάνονται αυτό καλό πριν - Νιώθω σαν να θέλω να σκάσει, (Aku tidak pernah merasakan sesuatu seenak ini—Rasanya seperti ingin meledak)" desah Sakon.
"He—hentikan!" teriak Yukimura kesakitan.
"Ja—jangan tiba-tiba—!" ucap Katsuie setengah terkejut.
Masamune dan Sakon semakin memanas lalu memeluk kedua malaikat erat, "δεκάρα! (Sial!)" Tubuh Masamune dan Sakon mulai berubah wujud menjadi besar—Dua tanduk besar muncul di kepala Masamune serta ekor timbul di belakang pinggangnya dan segera melilitnya di kaki Yukimura. Kulit Sakon mulai terkelupas dan dua ekor ular mulai muncul di balik punggungnya dan segera megunci Katsuie erat. Kedua iblis menunjukkan gigi-gigi mereka yang tajam dan mata yang merah menyala juga kuku-kuku jari yang runcing. Katsuie dan Yukimura terkejut bukan main.
"A—apa?!" teriak Yukimura panik.
"He—Hentikan! Jangan terlalu dalam—!" Katsuie terkejut.
Para succubus yang menyaksikan kejadian itu terkejut. Keiji hanya melihatnya sebagai hal yang biasa.
"Ke—kenapa mereka bisa berubah begitu?" tanya salah seorang succubus.
"Kau ingin tahu?" Keiji meneguk anggurnya, "Itu pertanda bahwa mainan mereka sekarang adalah mainan yang sangat, sangat bagus," balasnya tertawa.
"HENTIKAN!" teriak Yukimura dan Katsuie.
"Onee-sama,"
"Hm? Ada apa, Yukimura?"
"Onee-sama, apakah iblis itu nyata?"
"...Pfft—"
"Onee-sama! Jangan tertawa!"
"Ahaha—maaf, maaf. Hanya saja—lucu sekali anak kecil sepertimu bertanya hal semacam itu,"
"Aku bukan anak kecil! Umurku sudah 5 tahun!"
"Itu masih kecil, Yukimura,"
"Uff—"
"Haha, jangan marah,"
"Onee-sama?"
"Yah—bisa dibilang, iblis itu hanya ilusi,"
"Ilusi?"
"Ya. Seperti mimpi buruk—Kita selalu mimpi buruk, bukan?"
"Un,"
"Tapi itu tidak akan pernah terjadi karena itu hanya mimpi. Tidak mungkin itu menjadi kenyataan,"
"Tapi, onee-sama, bagaimana kalau suatu hari mimpi buruk itu menjadi kenyataan?"
"Berarti ilusimu menjadi bencana bagimu,"
"Bencana seperti apa, onee-sama?"
"...Yukimura—Ini masih terlalu cepat untukmu. Suatu hari nanti, kau pasti akan mengerti—"
"Karena itu—berhati-hati lah, Yukimura,"
Pandangan Yukimura mulai samar-samar. Ia hanya bisa melihat ketika Masamune dan Sakon sudah kembali ke wujud asli mereka dan Katsuie yang sudah tidak sadarkan diri, ("Onee-sama...aku mulai mengerti—Bencana itu,") Yukimura menutup kedua matanya dan tak sadarkan diri.
TO BE CONTINUED
...*diam sesaat* APA YANG SUDAH KULAKUKAN?! YUKIMURA DAN KATSUIE—MAAFKAN AKU, SAYANG! AKU TAK BERMAKSUD-*memeluk erat Yukimura dan Katsuie* MASAMUNE DAN SAKON! KESAMBET APA KALIAN SAMPAI SEBEGITUNYA?! UAAAAAAAAAA TAK DISANGKA TAK DINYANGKA! *jedutin kepala di lemari*
Ihiks...oke...oke. R&R, please. Hope you guys enjoy it. Hiks, mau ngegalauin Yukimura ama Katsuie dulu disini *lap air mata*
Merasa bersalah,
Kichikuri61
