"L'Amore, La Morte E Il Guidizio"

A Sengoku Basara Fanfic

Language: Bahasa Indonesia

Rate: M

Genre(s): Alternate Universe, Supernatural, Fantasy, Violence, Mature, Romance, Gender Bender, Psychological

Pairing(s): IeMitsun as the main (Additional: DateSana, ChikaNari, SaKatsu, KeiHan, KojuSasu)

Malam semua—kembali dengan Kichikuri61 yang baru saja memasuki liburan dan berusaha untuk menyikat semua hutangnya (karena sudah ditagih banyak orang). Awalnya bingung juga, mau runding empat fanfic yang masih incomplete. Setelah hasil runding sama otak, akhirnya fic ini duluan yang akan saya buat apdetnya—karena idenya juga yang muncul duluan setelah selesai ujian.

Dan karena chapter ini chapter yang menurutku spesial, jadi pembukanya akan kusuruh Mitsunari, Katsuie dan Yukimura di fic ini yang akan membuka cerita ini. Enjoy~

Yukimura: "Mitsunari-dono, Mouri-dono bertanya apa kita akan mulai bercerita atau tidak,"

Mitsunari: "Bercerita tentang apa?"

Yukimura: "Itu—" *tunjuk judul yang ada diatas*

Mitsunari: *wajah mulai merah* "Ha—Haruskah kita bercerita?!"

Yukimura: "Atau kau mau Masamune-dono dan Sakon-dono yang bercerita?"

Mitsunari: *membayangkan Masamune dan Sakon tertawa puas dan lebar sambil bercerita* "Tidak. Mereka bisa saja menceritakan versi mereka sendiri..."

Yukimura: "Mitsunari-dono ini kenapa? Lagipula chapter sekarang ini bukan tentang kita,"

Mitsunari: " YU-KI-MU-RA! Pikirkan ini baik-baik—Aku sudah kena, begitu pula dengan kau dan Katsuie. Sekarang ini giliran Mouri, Sasuke-neesama dan oneesama sendiri!"

Yukimura: *syok* "O—oneesama?! Dan Hanbei-neesama juga?! Mouri-dono?!" *mulai nangis*

Mitsunari: "Makanya aku tidak berani bercerita!" *ikutan nangis*

Katsuie: "Kalau begitu, aku saja yang bercerita—Ya, oujosama-tachi?" *menenangkan Yukimura dan Mitsunari yang menangis*

Mitsunari & Yukimura: "KATSUIEEE!—KATSUIE-DONOOO!" *peluk erat Katsuie*

"Warning: Gender Bender, 2P!Characters, Alternate Universe, Rate 18+"


Chapter 3: Captivated

KLEK

"Nhh..?" Sasuke mengedipkan kedua matanya perlahan. Setelah kedua matanya terbuka seutuhnya, perlahan tubuh kakunya mulai beranjak dari lantai. Menyadari dirinya berada di dalam sebuah ruangan kosong yang gelap, Sasuke mulai panik ketakutan.

"Aku...dimana?" Sasuke melangkah mundur dan terkejut ketika belakangnya mengenai sesuatu seperti barisan besi panjang dan dingin. Sasuke menganalisa besi tersebut dan melihat ujung besi itu di atas berbentuk sedikit melengkung.

"...Ini... kurungan burung?" tanya Sasuke pelan.

"Benar sekali. Selamat datang di tempatku," seru sebuah di belakang Sasuke. Terlihat seorang pria yang ia kenal bersandar di dinding luar kurungannya sambil menyilang kedua tangannya dengan seekor burung gagak hitam di pundaknya.

"Kau—!" geram Sasuke marah.

"Aku punya nama. Namaku Kojuuro Katakura," ucap Kojuuro datar.

"Aku tidak peduli dengan namamu! Yang kuherankan, kenapa aku bisa dikurung seperti ini?!" amuk Sasuke menghantam kurungan burung yang menjebaknya, "Tidak punya tempat yang lebih baik untuk mengurung seseorang?!"

"Huh—berisik sekali," Kojuuro melangkah pelan mendekati kurungan Sasuke dan berhenti tepat di depan Sasuke dengan wajah mereka saling berdekatan, "Kau ingin tutup mulut berisikmu itu atau kau ingin aku menutupnya dengan paksa?"

"Menjauh dariku!" Sasuke mengeluarkan pedang di balik dress lalu menodongkannya ke arah Kojuuro, "Menjauh. Atau kepalamu akan kupenggal dengan ini,"

"Menakutkan sekali," puji Kojuuro berjalan menjauh dari Sasuke, "Tapi maaf saja, aku tidak akan mati dengan tidak hormat seperti ini. Aku punya reputasi—" ucapan Kojuuro terhenti ketika dadanya tertusuk pedang Sasuke hingga ujung pedang menembus keluar tubuhnya. Darah mulai keluar perlahan dari mulut dan tubuh Kojuuro, diikuti pedang Sasuke yang menusuknya juga mulai terlihat aliran darah. Sang algojo hanya tersenyum.

"Kaaak!" Burung gagak yang ada di pundak Kojuuro terbang dari pemiliknya.

"Apa—" Sasuke bertanya-tanya dan terkejut melihat algojo yang ia tusuk mulai hilang perlahan-lahan menjadi kumpulan bulu sayap hitam yang bertebaran. Sasuke menarik kembali pedangnya lalu mengenggamnya erat, "Hah—?!"

"Fuh," terdengar napas Kojuuro berada di dekat telinga Sasuke. Sang malaikat menoleh ke belakang dan melihat sang algojo senyum menyeringai. Sasuke kembali menodongkan pedangnya namun kedua tangannya tiba-tiba terikat rantai yang dibawa oleh sang algojo dan terangkat keatas hingga ia jatuh berlutut bersama pedangnya di hadapan sang algojo. Kojuuro yang masih tertawa mengangkat wajah Sasuke ke hadapannya.

"Sudah kubilang, aku punya reputasi," bisiknya sinis di telinga sang malaikat. Sang malaikat hanya bisa geram.

"Andai rantai ini terlepas, aku bisa mematahkan tulang lehermu dan kau akan menjadi makanan hewan peliharaanmu sendiri," umpat Sasuke kesal.

"Hoo, malaikat juga bisa bermain kasar ternyata," ucap Kojuuro dengan nada terkesan, "Aku terkesan, malaikat bermain kasar dan berani menghadapi tantangan dengan gagah berani," sambungnya mulai mengeluarkan sesuatu yang panjang dan berukuran sedang dengan tali tambang panjang yang ujungnya terikat dibalik mantelnya. Sasuke terdiam ketakutan melihat benda yang dikeluarkan Kojuuro adalah pecut.

"Mau kau apakan diriku...?" tanya Sasuke serak karena ketakutan.

"Mengajarimu displin, wahai malaikat hidup abadi," balas Kojuuro tertawa.


"Masamune dan Sakon—tadi itu sungguh pertunjukkan yang luar biasa," puji Keiji pada Masamune dan Sakon seiring dirinya berjalan keluar dari bar.

"Heh, don't mention it," Masamune tersenyum.

"Ayo, Keiji~ Giliran dirimu~" bujuk Sakon.

"Aku tidak tertarik," balas Keiji.

"Hee~" Sakon mengeluh kecewa.

"Keiji-sama!" seru sebuah suara dari kejauhan. Muncullah empat penunggang kuda dengan kuda-kuda mereka: merah, hitam, putih dan pucat; menghampiri Keiji di depan bar. Para penunggang kuda itu berhenti di depan Keiji lalu turun dari kuda mereka lalu memberi hormat pada sang Shinigami dengan telapak tangan kanan mereka diletakkan didepan dada kiri mereka. Keempat orang itu adalah seorang pria pucat berambut panjang abu-abu dengan mulut yang ditutup penutup besi, seorang pria dengan tubuh yang terbalut perban merah, pria berbadan besar berkumis dan berjenggot, juga seorang pria berambut cokelat kemerahan dengan tato merah di wajahnya; serentak berpakaian gelap tertutup dan memakai mahkota emas, menyapa Keiji dengan antusias, "Senang melihat anda sudah kembali dari misi, tuanku,"

"Tenkai...Gyobu...Muneshige...Fuuma—Tak usah repot menjemputku," balas Keiji.

"Oh~ Para penunggang kuda~ Senang bertemu kalian," sapa Sakon melambaikan tangan pada para penunggang kuda.

"Sakon, jangan asal menyapa para bawahan Keiji," bisik Masamune pada Sakon.

"Masamune-sama! Sakon-sama!" sapa para bawahan Keiji serentak.

"Lama tak jumpa, horsemen," sapa Masamune balik.

"Tuanku, saya dengar anda menangkap seorang malaikat. Selamat atas keberhasilan anda," ucap Muneshige pada tuannya.

"Simpan itu nanti, Muneshige. Kita akan segera kembali," potong Keiji.

"Ini kuda anda, tuanku," Tenkai membawa kuda hitam berkepala tiga dan berkaki kabut pada Keiji. Keiji menghampiri kudanya lalu mengelus lembut kepala mereka, "Hai, kalian. Lama tak jumpa," sapanya.

"Eh—Masamune, itu cerberus? Bukankah seharusnya cerberus itu seekor anjing?" bisik Sakon bingung.

"Sakon, kalau kau bertanya seperti itu, bisa-bisa kepalamu yang akan jadi kepala kudanya yang keempat," bisik Masamune membalas, "Lagipula, anjing itu sudah hell hound,"

"Mereka adalah Nightmare. Aku sendiri yang memberinya nama," Sakon dan Masamune terkejut panik ketika Keiji berbicara. Kelihatannya, pembicaraan mereka terdengar oleh sang Shinigami, "Mereka adalah kumpulan mimpi yang tidak diinginkan," sambungnya.

"O—Oh! Nama yang bagus, Keiji!" Sakon menjawab sedikit ketakutan.

"I—iya! Kudanya juga manis!" sambung Masamune tak kalah takut.

Keiji dan kudanya hanya menatap dua iblis itu dingin. Keiji segera naik ke atas kudanya lalu bergerak pergi dari bar diikuti keempat penunggang kuda bawahannya. Sakon dan Masamune hanya terdiam melihat Keiji yang pergi lalu membuang napas panjang saking tegang dengan situasi sebelumnya.

"Seram—itu seram sekali...Masamune," jelas Sakon menjatuhkan dirinya ke tanah.

"...Mau mati rasanya," Masamune juga ikut terjatuh ke tanah di sebelah Sakon, "Dia itu salah satu iblis paling berbahaya sekaligus menyeramkan,"

Sementara itu di lain tempat, Nebiros bersama kedua bawahannya tiba di sebuah rumah besar tua. Pintu masuk di hadapannya mulai terbuka dan disambut oleh dua anak kecil—anak laki-laki berambut hitam pendek dengan jambul dikuncir tengah diatas poni, berpakaian knicker hitam putih dan berdasi kupu-kupu hitam; juga anak perempuan berambut putih kepang-kuncir dua dan berpakaian dress rumbai berlengan pendek gelembung biru dengan pita mengikat di pinggangnya sambil membawa boneka beruang putih berdasi kupu-kupu merah.

"Selamat datang kembali, Motochika-jiisama~" sambut sang anak laki-laki.

"Ojiisama~" sang anak perempuan mengikuti.

"Aku pulang, Ranmaru, Itsuki," Motochika mengacak kepala dua anak yang menyambutnya.

"Ranmaru dan Itsuki anak baik~" ucap Itsuki senang.

"Kami menjaga rumah dengan baik~" sambung Ranmaru yang ikut senang.

"Ojiisama bawa hadiah? Mainan?" tanya Itsuki.

"Sudah kubawa tadi, bukan? Orang baru," Motochika mengelus kepala Itsuki.

"Tapi, ojiisama—Makhluk itu berisik sekali. Dia tidak bisa diajak bercanda," balas Itsuki sedih memeluk erat boneka beruangnya, "Tapi sudah aku dan Ranmaru urusi, jadi tidak masalah!"

"Ojiisama, boleh kubunuh makhluk itu?" tanya Ranmaru, "Dia berani melawan Itsuki. Makanya kami buat dia 'diam',"

"Jangan lakukan itu, Ranmaru. Kalau kau bersikap begitu, kau bukan anak baik," Motochika mengacak rambut Ranmaru.

"Lebih baik ojiisama yang membunuhnya, ya~" Ranmaru membalas tersenyum lebar.

"Aniki terlalu memanjakan mereka. Seperti anak sendiri," canda Bekinosuke pada tuannya.

"Bekinosuke-jisama~ Ayo kita main~" Itsuki meraih tangan Bekinosuke.

"Kalian pergilah bermain. Aku ingin menjenguk orang baru kita," ucap Motochika pada mereka.

"Kalau dia melawan, bunuh saja, ojiisama~ Dagingnya kita bagi bersama~" sahut Ranmaru yang mulai menjauh dari Motochika.

"Ojiisama! Jangan dengarkan Ranmaru!" sambung Itsuki.

Motochika hanya tersenyum pada Ranmaru dan Itsuki kemudian berjalan turun menuju ruang bawah tanah. Ia berhenti di depan sebuah pintu lalu membuka gagang pintu tersebut. Terlihatnya seorang malaikat terikat di dinding dengan rantai duri menusuk tubuh kecilnya dan kedua matanya ditutupi blindfold.

"Berani juga melawan anak-anak buahku," Motochika berjalan pelan menuju malaikat itu, "Bagaimana rasanya bermain bersama mereka—Motonari?"

"..." Motonari hanya terdiam sambil memalingkan wajahnya ke kiri.

"Jawab aku!" Motochika yang marah tiba-tiba mencekik leher Motonari. Motonari tertegan sesaat namun berusaha untuk tetap tenang. Motonari mengangkat wajahnya di depan Motochika.

"...Mati saja kau..." bisik Motonari mengejek pada Motochika sambil tersenyum.

"Jangan melawanku," Motochika mengangkat tongkatnya dan menekan ujungnya ke paha kiri Motonari yang bertanda hingga berdarah. Motonari merintih kesakitan, "Agh—"

"Inilah hukumanmu karena telah melawan anak-anak buahku," Motochika mulai menusuk ujung tongkatnya di paha Motonari, "Akan kuajari sopan santun pada malaikat tak tahu sikap sepertimu,"

"Henti—kan—ini sakit sekali!" Motonari meronta kencang dan mulai menangis. Air matanya mulai terlihat di balik blindfold yang menutupi kedua matanya, "Lepaskan, orang tua!"

"Panggil aku Nebiros!" Motochika menusuk dalam ujung tongkatnya dan membuat Motonari semakin meronta kesakitan, "Hentikan! Lepaskan aku, Nebiros—sama...Kumohon," ucap Motonari menyerah.

Motochika menarik pelan tongkatnya dari paha Motonari. Darah Motonari mulai mengalir deras dari pahanya yang terluka, "Uhh..." rintih Motonari pelan.

"Pahamu terluka—" Motochika meraba paha kiri Motonari yang terluka, "Sayang sekali bentuk indahmu jadi berantakan begini,"

"Hhh—" Motonari tertegan ketika merasakan sesuatu menjilati pahanya yang terluka, "Uhh—"

"Jangan bergerak," ucap Motochika masih menjilati paha Motonari yang berdarah. Motonari yang kesal mulai menendang Motochika di wajah dengan lututnya. Motochika terlempar cukup jauh hingga topengnya terlepas dari wajahnya. Motochika yang emosi mulai bangkit dan menarik ujung tongkatnya lalu ditariklah sebilah pedang. Motochika menebas blindfold yang menutupi kedua mata Motonari. Motonari yang penglihatannya mulai jelas melihat ketakutan melihat Nebiros yang berdiri di depannya—wajah tua berkerut dengan mulut berdarah juga mata kirinya yang hilang dan pipi kirinya yang retak akibat tertendang.

"Aargh!" Motochika mengiris telapak tangannya dengan pedangnya dan meneteskan darahnya ke lantai. Darah yang berceceran banyak di lantai mulai menggumpal menjadi beberapa onggokan daging dan berubah bentuk menjadi beberapa iblis berpakaian perompak. Motonari mulai merasakan tubuhnya bergidik merinding, "Tidak—"

"διάλειμμα της! ("Hancurkan dia!)" pinta Motochika menyimpan kembali pedang ke dalam tongkatnya lalu berjalan keluar membanting pintu.

"σίγουρο, αδελφός (Tentu saja, Aniki)," ucap para iblis perompak tertawa lebar.

"Nona malaikat—Jangan anggap remeh kami perompak," bisik salah seorang perompak meraba selangkangan Motonari.

"Hentikan!" Motonari berteriak.

"Jangan meronta, nona~ Nanti kau tidak akan menikmatinya," perompak lainnya meremas dua dada Motonari.

"Hentikan—HENTIKAN!" Motonari meronta kencang seiring para perompak mulai mengelilingi dirinya dan bermain dengan tubuhnya. Teriakan Motonari terdengar sampai keluar ruangan dimana Motochika yang sedang kesal berjalan pelan sepanjang jalan bawah tanah dengan wajahnya yang perlahan hancur. Dibelakangnya, muncul dua iblis berpakaian ala maid dan butler—sang butler berambut hitam pendek terkuncir tengah bawah sedangkan sang maid berambut hitam panjang dengan poni belah tengah berbentuk hati dan berpotong kotak.

"Ada yang bisa kami bantu, Motochika-sama?" tanya sang butler berjalan dibelakang mengekori tuannya sementar sang maid membantu tuannya melepaskan jubahnya.

"Tidak ada, Nagamasa. Untuk sekarang ini," balas Motochika.

"Makan malam sudah kami sediakan, Motochika-sama," seru sang maid melipat rapi jubah tuannya sambil berjalan.

"Terima kasih, Oichi. Ada kabar dari Lucifer?" Motochika bertanya.

"Lucifer-sama ingin anda datang ke tempatnya besok, Motochika-sama. Ini mengenai Tadatsugu yang mulai mengalami malfungsi," jawab Nagamasa.

"Ugh, bisakah dia mengurus Ghoul itu sendiri? Hanya karena aku yang menciptakan Tadatsugu bukan berarti aku harus memperbaikinya terus," bisik Motochika kesal.

"Apa kami harus membatalkan pertemuan itu, Motochika-sama?" tanya Oichi.

"Tidak perlu. Bilang padanya aku terima undangannya. Kalian bersama Ranmaru dan Itsuki ikut bersamaku besok," jelas Motochika pada kedua pelayannya.

"Dimengerti, Motochika-sama," Nagamasa dan Oichi membungkuk hormat pada tuan mereka.

"HENTIKAN!"

Motochika menjauhi ruangan tempat Motonari ditahan dan hanya tersenyum seiring mendengar teriakan sang malaikat.


"Hhh!" Hanbei membuka kedua matanya lebar karena terkejut akan perasaan aneh yang muncul dalam dirinya.

"Kyaa~ Dia bangun!" teriak seorang perempuan berpakaian serba cokelat baju hangat dan bercelana karet panjang dan sepatu boots hitam, bertelinga dan bercakar kucing juga berekor panjang mundur menjauh dari Hanbei.

"...Eh?" Hanbei mulai bangkit dari tidurnya dan melihat sekitar. Hanbei terdiam ketika melihat sekelompok perempuan bertelinga dan bercakar kucing dan berekor duduk mengelilinginya di dalam sebuah ruangan seperti ruang studi di kediaman sedang bergaya Eropa, "Dimana...ini?" tanyanya sambil melihat sekitar. Dirinya dikelilingi ratusan lemari penuh berisi buku dan dokumen serta meja studi yang tepat berasa di sisi kirinya.

"Nyaaw~ Dia bangun~" perempuan lain berwujud setengah kucing menyahut.

"Hei, hei. Bagaimana kalau kita ajak dia bermain?" bujuk iblis perempuan lainnya.

"Hei, jangan bercanda! Sekarang ini dia adalah tahanan Keiji-sama!" seru seorang perempuan berwujud setengah kucing berambut panjang hitam kuncir belakang dengan satu helai dibiar menggerai di wajahnya dan berpakaian serba cokelat baju hangat dan bercelana karet panjang dan sepatu boots hitam; menyilang kedua tangannya dan berdiri di depan Hanbei dengan wajah kesal.

"Siapa kalian...?" tanya Hanbei yang masih tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

"Perkenalkan, kami adalah Nekomata," ucap iblis perempuan kucing berambut hitam terkuncir melangkah mendekati Hanbei.

"Dan iblis ini adalah Naotora Ii-sama~ Pemimpin kami dan bawahan terpercaya dari Keiji-sama~" sahut salah seorang Nekomata lain.

"Hmph, jadi Keiji-sama ingin makhluk seperti ini?" Naotora mendekatkan wajahnya dengan Hanbei lalu menelitinya perlahan, "Lemah sekali," Naotora mengangkat wajah Hanbei dengan tangan di dagu Hanbei.

"Keiji-sama...?" tanya Hanbei pelan.

"Aku kembali—" sahut Keiji dari luar.

"Keiji-sama~" para Nekomata kecuali Naotora berlari keluar dan mengerumuni Keiji.

"Kalian...berhentilah mendorongku..." protes Keiji seiring berjalan ke dalam kediaman dikeliling Nekomata.

"Keiji-sama~ Selamat datang kembali~" sambut para Nekomata semangat meringkuk manja pada tuan mereka.

"Kalian para nekomata—jangan ganggu Keiji-sama..." ucap Muneshige.

"Oi, kalian! Beri jalan pada Keiji-sama!" bentak Naotora pada kelompok Nekomata. Para iblis kucing itu berlari ketakutan sekeliling lalu memberi jalan pada Keiji dan keempat penunggang kuda bawahannya, "Maaf atas ketidaksopanan mereka, Keiji-sama," Naotora meminta maaf sambil membungkuk.

"Bagaimana keadaan malaikat itu?" tanya Keiji.

"Dia sudah sadar ketika anda tiba, Keiji-sama," Naotora berjalan ke samping Keiji dan membiarkan Keiji melihat Hanbei yang terbangun menatap wajah Keiji dan mulai merasa bulu kuduknya berdiri.

"...Kau...?" tanya Hanbei dengan suara bergetar ketakutan.

"KEIJI-SAMA BUKAN 'KAU'! DIA PUNYA NAMA! KEIJI MAEDA-SAMA! SANG DEWA KEMATIAN!" protes salah satu Nekomata.

"Benar sekali! Makhluk bodoh sepertimu memang tidak kenal betapa hebatnya Keiji-sama!" seorang Nekomata lain menjambak rambut Hanbei.

"Agh—hei, lepaskan...! Aku memang tidak tahu—Hei...!" rintih Hanbei pelan berusaha melepaskan tangan yang menjambak rambutnya.

"Hei, kalian berdua—Lepaskan dia," Keiji mengelus leher mereka hingga mereka kembali manja dengan tuan mereka. Nekomata yang menjambak Hanbei melepaskan jambakannya dan memeluk Keiji bersama Nekomata lain.

"Keiji-sama~" ucap kedua Nekomata ceria.

"Jadi...ini malaikat yang anda tangkap, Keiji-sama? Huhu, dia memang terlihat manis sekali..." seru Tenkai ketika ia melihat Hanbei. Hanbei yang melihat Tenkai mulai ketakutan.

"Tenanglah, oujo-sama. Tenkai memang orang yang seperti itu. Dia adalah seorang pale rider. Aku Muneshige Tachibana, seorang white rider," Muneshige memperkenalkan dirinya pada Hanbei, "Lalu, yang penuh perban ini adalah Yoshitsugu Ootani, seorang red rider—dan yang terakhir, Kotaro Fuuma, seorang black rider," Yoshitsugu hanya tersenyum sementara Fuuma mengangguk pelan.

"Riders...Kalian adalah empat penunggang kuda Neraka?" tanya Hanbei.

"Hebatnya—kita lumayan terkenal di Surga rupanya," ucap Tenkai.

"Penaklukan oleh White Rider—Perang oleh Red Rider—Kelaparan oleh Black Rider—dan Kematian oleh Pale Rider. Itulah simbol kalian," jelas Hanbei.

"Keiji-sama punya malaikat yang jenius," bisik Muneshige terkesan.

"Jangan mudah terkesan, Muneshige," sahut Yoshitsugu yang berdiri di sebelahnya.

"Kalian—aku ingin berbicara dengan malaikat ini. Boleh tinggalkan kami berdua sebentar?" tanya Keiji pada para bawahannya.

"Baiklah, tuanku," hormat para penunggang kuda pada tuan mereka.

"Baiklah~ Keiji-sama~" ucap para Nekomata.

Para Nekomata berubah wujud menjadi sekelompok kucing liar dan berlarian keluar diikuti para penunggang kuda yang membantu mereka keluar meninggalkan tuan mereka dan tahanannya.

"...Anu...kenapa aku bisa berada disini...? Dimana...adikku?" tanya Hanbei pelan pada Keiji namun tak dibalas.

"...Hei—" Hanbei terdiam ketika Keiji mengeluarkan sycthe-nya dan ditodongkan padanya. Hanbei sedikit terkejut namun berusaha untuk tetap tenang.

"Adikmu bersama dengan Lucifer-sama sekarang," jawab Keiji, "Tidak ada lagi yang bisa kau lakukan,"

"Kumohon—biarkan aku bertemu dengan adikku—" kalimat Hanbei terpotong ketika Keiji mendorongnya keras hingga menabrak meja dan membuat punggungnya memar, "Agh!"

"Jangan melawan," Keiji mengangkat wajah Hanbei dengan ujung scythe, "Kalau kau ingin terus hidup,"

Hanbei hanya diam tak berani melawan sang shinigami. Keiji menatap Hanbei dalam-dalam lalu mengangkat ujung scythe ke sisi wajah Hanbei, "...Wajah Hideyoshi Toyotomi..." Dinginnya besi scythe di wajahnya membuat Hanbei bergidik.

"Hhh—" Hanbei memalingkan wajahnya karena bergidik akibat sentuhan besi di wajahnya. Ujung scythe tak sengaja mengiris pipinya hingga berdarah, "Ah..."

Keiji mendekati wajah Hanbei, "Sungguh disayangkan," lalu menjilati luka di wajahnya. Terkejut, sang malaikat mendorong jauh shinigami yang menjilati lukanya dan menatapanya ketakutan, "...Menjauhlah dariku..."

"Darahmu...lumayan juga," Keiji menjilati mulutnya yang terdapati darah Hanbei. Hanbei yang emakin takut bangkit dan berlari menjauh meninggalkan Keiji jauh ke dalam kediamannya. Keiji hanya terdiam melihat Hanbei yang kabur darinya. Ia segera bangkit dan mulai muncul dua bayangan lain berdiri di antaranya—dirinya yang berganda.

"βρείτε την (Cari dia)," pinta Keiji asli.

"κατανοητή (Dimengerti)," Dua bayangan Keiji mulai menyebar dan mengejar Hanbei. Keiji asli berlari ke dalam kediamannya, "Aku akan menemukanmu," bisiknya sambil tersenyum lebar.


"Ieyasu-sama, ada pesan dari Motochika-sama. Beliau berkata akan datang besok menemui anda," seru Tadatsugu berdiri di luar kamar tuannya.

"Baiklah," sahut Ieyasu yang sedang duduk di kasurnya membelai Mitsunari yang tertidur pulas berbalutkan selimut.

Tadatsugu hanya diam melihat tuannya yang sedang membelai malaikat tahanannya, "Ieyasu-sama, Cherubim itu—"

"Ya, aku tahu—mereka berbahaya. Sampai kejadian 300 tahun lalu hampir merenggut nyawaku," jawab Ieyasu masih membelai Mitsunari, "—Maka dari itu, aku harus membuatnya tenang," yang kemudian mendekati pundak halus Mitsunari. Sang Lucifer mulai menghirup dalam aroma tubuh Mitsunari,

"Wangi Lavender. Serasi sekali dengannya,"lalu mengecupnya lembut.

"Nhh..." Mitsunari bernapas pelan dalam tidurnya dan sedikit menggerakkan pundak karena untuk sesaat ia merasakan kehangatan di pundaknya namun kembali tertidur pulas. Ieyasu sempat berhenti sesaat memastikan Mitsunari kembali tertidur lalu kembali mengecup pundaknya.

"Hyaaa!"

"...!" Tadatsugu menoleh ke belakang ketika merasakan suatu bisikan dari belakangnya, "Ieyasu-sama..."

"Tenanglah, Tadatsugu," Ieyasu masih mengecup pundak Mitsunari, "Itu hanya sang algojo,"


"Masamune...Apa yang akan kita lakukan pada mereka?" tanya Sakon sambil melihat Katsuie dan Yukimura yang terbaring di lantai sedang tertidur pulas.

"Get them back to their cage—Oi, Kanbee! Matabee! Menjauhlah dari tahanan tuan kalian!" protes Masamune marah ketika melihat dua ular Kobra milik Sakon melilit leher dan paha Katsuie.

"Sssshaaa!" ular yang melilit leher Katsuie mendesis marah pada Masamune. Masamune menatap ular itu tajam hingga ular tersebut mulai ketakutan dan bergerak mundur perlahan.

"Ayo, ayo—Kanbee—" Sakon meraih ular yang melilit di leher Katsuie, "dan Matabee—Kemarilah," lalu meraih ular yang melilit di paha Katsuie. Dua ular Kobra itu mulai bergerak menuju tangan Sakon dan melilit di kedua lengannya.

"Heh, that will do—" Masamune menoleh ketika merasakan suara bisikan di dekat rambutnya, "Hei, kau dengar itu, Sakon?"

"Uwaaa!"

"Apa—" Sakon terdiam ketika juga merasakan suara bisikan berbisik di dekat telinganya, "Ya—aku dengar itu. Seseorang berteriak keras,"

"Hah...Dasar Kojuuro. Kalau ingin menyiksa, jangan buat satu Neraka mendengarnya," ucap Masamune kesal melipat kedua tangannya.

"Masamune, itu bukti bahwa Kojuuro-san sangat berkuasa di teritorinya," sahut Sakon mengelus kepala dua ular Kobrayang juga bawahannya.


"Aaaagghh!" Sasuke meronta keras seiring tubuhnya dicambuk kencang oleh Kojuuro dengan pecut. Seluruh tubuhnya mulai menunjukkan luka memar dan merah yang dirasa sakit hebat.

"Sudah cukup?" tanya Kojuuro melilitkan tali pecut di telapak tangannya.

"...Kau gila..." geram Sasuke menahan rasa sakitnya.

"Aku tidak bisa mendengarmu," Kojuuro kembali mencambuk Sasuke kencang, "Bicaralah lebih keras,"

"HENTIKAAN! SAKIT SEKALI!" Sasuke kembali meronta, "HENTIKAN!"

Kojuuro berhenti mencambuk Sasuke dan melempar pecut sembarang tempat. Ia tertawa melihat tubuh Sasuke yang penuh dengan luka dan sang malaikat yang tidak kuat menahan rasa sakitnya, "Hahaha! Lihatlah dirimu! Kurasa jika kaummu masih hidup, mereka sudah pasti akan membuangmu,"

"..." Sasuke mengigit bibir bawahnya kencang hingga berdarah demi menahan rasa sakitnya dan memalingkan wajahnya dari Kojuuro.

"Hei," Kojuuro meraih wajah Sasuke paksa menatap dirinya, "Aku belum selesai,"

"Eh—" Sasuke terkejut ketika Kojuuro mengangkat roknya dan membuka lebar kedua kakinya, "Ha—!"

"Diamlah," Kojuuro mulai mendekap erat Sasuke dan mulai membuka resleting celananya dan menonjolkan alat vitalnya. Kojuuro mulai tegang seiring dirinya mulai masuk ke dalam Netzach tahanannya.

"Lepaskan! Uwaah—" Sasuke terkejut ketika merasakan sesuatu yang besar masuk ke dalam dirinya paksa, "Keluarkan itu! Keluarkan!" rontanya menangis sambil melawan Kojuuro dengan memukulnya.

"σκάσε! (Diam!)" geram Kojuuro kesal memasuki Sasuke sepenuhnya paksa.

"Aaaaah!" Sasuke berteriak memeluk Kojuuro erat karena tubuhnya merasa penuh secara mendadak. Darah mulai mengalir dari selangkangannya karena dirinya dimasuki secara paksa, "Hentikan—hentikan—" mohon sang malaikat menangis.

Kojuuro yang melihat Sasuke menangis langsung tertawa lalu mengecup mata kanannya, "αυτό είναι όλο. Αυτό είναι το πρόσωπο (Itu dia. Itulah wajah yang kuinginkan)," bisik Kojuuro bergerak tiba-tiba.

"Aah!" desahan mulai keluar dari mulut Sasuke.

"Terus perlihatkan wajah itu," bisik Kojuuro terus bergerak di dalam Sasuke, "Menangislah. Menderitalah,"


Motochika yang mulai tenang kembali berjalan ke bawah menuju ruang bawah tanah. Ia berjalan menuju ruang dimana Motonari ditahan. Diraihnya gangnam pintu itu dan dibukanya perlahan. Terlihat Motonari yang terbaring lemah penuh dengan memar dan tanda bekas "pelajaran" yang ia alami. Motochika berjalan menghampiri Motonari yang diam terbaring di lantai dengan darah yang merupakan bekas onggokan daging beberapa anak buah Motochika tadi berceceran di seluruh lantai.

"Mereka tidak melakukan apapun di antara kedua kakimu ini?" tanya Motochika seenaknya sambil berlutut membuka rok Motonari dan melihat selangkangannya.

"..." Motonari yang lemah tidak mampu membalas Nebiros yang berada di hadapannya.

"Tetap disitu seperti gadis pintar," Motochika mendekati selangkangan Motonari dan mulai menjilatinya.

"...Hhn..." Motonari mendesah kecil.

"Disini sungguh hangat," Motochika terus menjilati selangkangan Motonari lalu merenggangkan kedua kakinya lebar perlahan, "Bau yang menggoda," lalu kembali menjilati daerah privasi Motonari.

"Uhh..." Motonari berkedut pelan merasakan lidah Motochika yang terus bergerak di dalam selangkangannya, "Aah..." desahnya perlahan mulai jelas.

"Tampaknya kau sudah siap," Motochika membuka resletingnya dan perlahan masuk ke dalam Motonari, "Sial—sempit sekali," ucapnya terus masuk perlahan.

"Ah—Aah—" Motonari mendesah menggaruk lantai merasakan sensasi aneh muncul dalam dirinya.

"αυτό είναι ένα καλό κορίτσι (Itulah gadis baik)," bisik Motochika tersenyum lebar melihat Motonari yang menangis.


"Hah—Hah—!" Hanbei berlari mengelilingi kediaman Keiji demi menghindari kejaran shinigami yang mengincarnya. Di balik dinding, Hanbei bersandar sesaat untuk mengatur napasnya yang tak teratur.

"Hah—sepertinya dia tidak ada—HYAAA!" Hanbei berteriak ketika melihat Keiji berdiri tepat di depannya dan mendorongnya keras. Shinigami yang berdiri di hadapannya terjatuh dan berubah menjadi kabut hitam tebal yang perlahan menghilang.

"Apa?!" Hanbei kemudian menoleh ke belakang dan melihat dua shinigami yang sama mengejarnya. Ketakutan yang semakin jadi, Hanbei kembali berlari menghindari kejaran shinigami.

"HAHAHA! JANGAN MENGHINDAR DARIKU, HANBEI TAKENAKA!" suara Keiji terdengar bergema di seluruh sudut ruangan dan kediaman. Hanbei yang sangat ketakutan menutup kedua telinganya selagi berlari dari kejaran shinigami, "Hentikan—Kumohon, hentikan," bisiknya sambil menangis.

"HAHAHA! AHAHAHAHA!"

Hanbei yang berhenti di sebuah ruang yang hanya dengan penerangan tiga lilin bergegas masuk ke dalamnya dan bersembunyi dari sang shinigami. Rasa takutnya semakin menjadi ketika melihat isi ruang tersebut: iron maiden, koleksi pisau yang digantung di dinding, seuntas tali panjang yang tergantung melingkar di seluruh dinding ruangan, dan sebuah sawhorse.

"Ruangan apa ini?!" bisik Hanbei pelan menutup mulutnya syok sambil bersandar di pintu.

JLEB

"KYAAAA!" Hanbei berteriak terkejut melihat ujung scythe tepat di sebelah lengan kanannya menebus pintu ruangan dan berlari mendekati koleksi pisau. Shinigami di hadapannya menendang pintu ruangan hingga hancur dan berjalan menuju Hanbei. Langkah keras sang shinigami terus membuat malaikat tipe Cheribum itu tak berdaya. Hanbei meraba dinding ketakutan dan tanpa ia sadari, di tangannya sudah terdapat pisau silver kecil.

"Jangan lari!" Hanbei yang menyadari Keiji dengan cepat menghampirinya secara spontan mengangkat pisau di tangannya dan menusuk perut Keiji agak dalam. Malaikat itu panik bukan main melihat apa yang terjadi.

("Apa yang kulakukan?!") bisiknya terkejut buru-buru melepas pisau kecil dari cengkramannya, ("Aku membunuhnya!") dan terjatuh ke lantai dalam keadaan syok lalu menangis sambil memeluk lutut.

Keadaan pun hening saat Hanbei merasa heran karena tak ada darah yang mengalir dan sangshinigami yang diduga sudah terbunuh berubah menjadi kabut hitam sama seperti sebelumnya dan menghilang. Hanbei segera bangkit dan melihat sekeliling, "Apa...yang barusan terjadi?"

"KAU TAKKAN BISA LARI DARIKU, HANBEI!"

Suara yang kembali bergema membuat Hanbei kembali takut dan berlari keluar ruangan, "HAHAHA! AHAHAHAHA!" tawa Keiji bergema di seluruh sudut.

"Hentikan...HENTIKAN!" Hanbei berteriak sambil berlari ketakutan. Ia mulai menuju sebuah lorong dengan beberapa pintu saling berhadapan. Hanbei mulai mendekati beberapa pintu dan berusaha membuka namun sebagian besar terkunci. Menuju sebuah pintu dengan hiasan mawar merah, Hanbei berharap pintu tersebut tidak terkunci. Menyadari harapannya terkabul, pintu itu tak terkunci, Hanbei dengan senang membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya. Rasa senangnya kembali jatuh ketika ia memasuki ruangan dengan ranjang putih besar berhiaskan kelopak mawar merah, juga lantai yang dihamburi bunga mawar merah. Hanbei kemudian terhenti ketika menemukan sebuah bulu sayap putih di atas ranjang lalu meraihnya, "..." sang malaikat terdiam dalam rasa penasaran.

"μην αγγίζετε αυτό! (Jangan sentuh itu!)" sang shinigami berteriak di belakangnya lalu mendekap mulut Hanbei dan membantingnya ke ranjang sambil mencekiknya, "Μην τολμήσεις να αγγίξουμε ! (Jangan berani sentuh benda itu!)" amuknya mencekik sang malaikat kencang.

"MFFH!" Hanbei berusaha melepaskan cengkraman Keiji dari mulutnya namun tenaga sang shinigami terlalu kuat untuk dilawannya.

Keiji melepas paksa bulu sayap yang diraih Hanbei lalu menekan Hanbei kencang di ranjang, "MFFH!" Hanbei terus berusaha melepaskan cengkraman Keiji yang menutupi mulutnya.

"Ugh!" Keiji melepas cengkramannya dari mulut Hanbei, "Uhuk uhuk!" Hanbei terbatuk berusaha mengambil napas lalu meraba lehernya yang terasa bekas cekikan. Sang malaikat menoleh tak sengaja bertemu pandang dengan Keiji diatasnya dan keduanya saling berpandang satu sama lain.

"εγώ θα σας σκοτώσει ...(Aku akan membunuhmu...)" bisik Keiji mengangkat rok Hanbei dan membuka lebar kedua kakinya. Hanbei terkejut hingga loncat dan berusaha kabur namun tertahan oleh dekapan Keiji dari belakang. Sang malaikat bergidik ketika merasakan sesuatu yang besar mulai masuk ke dalam dirinya diantara selangkangannya, "εγώ θα σας σκοτώσει! (Aku akan membunuhmu!)" Keiji berteriak sembari masuk ke dalam Hanbei.

"HYAAA!" Hanbei mendesah kencang dan mencengkram pundak Keiji, "Aaah!"

"Aku akan menghancurkanmu, Hideyoshi!" ucap Keiji sambil tertawa kencang dan terus mendorong ke dalam Hanbei hingga selangkangan Hanbei mulai mengalirkan darah dan mengotori ranjang putih bersih yang mereka tempati.

"Hentikan—aah—hentikan—" Hanbei memohon sambil menangis.


Berpindah lokasi, di sebuah ruangan gelap yang terbuat dari tumpukan batu bata dan hanya menyediakan satu jendela kecil di paling atas ruangan, seorang malaikat sedang duduk bersimpuh menatap jendela diatasnya. Malaikat itu berambut putih panjang dengan bagian sebelah kirinya yang terkepang dan terdapat jepit rambut berbentuk bunga mawar putih, berpakaian dress panjang hingga telapak kakinya tak terlihat dan bersayap enam. Malaikat itu terus membiarkan angin berhembus di dekat dua telinganya.

"Aah—Ahh! Hentikan! Hentikan!"

"...Algojo..." bisik malaikat itu.

"Aah—Nebiros—aah—"

"...Nebiros..." malaikat itu mulai meletakkan dua telapak tangannya menyilang di atas dadanya.

"Aah—hentikan!"

"...Shinigami," malaikat itu mulai menutup kedua matanya, "Hideyoshi...Shingen...Lindungilah kaum kita bersama ini...Maaf aku tidak bisa membantu banyak...Maafkan aku," ucapnya mulai menitikkan air mata.


Ieyasu memandangi langit merah neraka dari koridor kamarnya. Bulan purnama merah yang dikelilingi awan merah membuat suasana di neraka menjadi menyeramkan seketika.

"Φαίνεται πρώτο μας καθήκον είναι πλήρης (Sepertinya tugas pertama kita selesai)," bisik Ieyasu memasang senyum sinis.

Sementara itu, Masamune dan Sakon ikut menikmati bulan purnama di malam hari dari atap bar.

"αυτό είναι ενδιαφέρον (Ini sungguh menyenangkan)," ucap Masamune dan Sakon bersamaan.

Kojuuro bangkit dan berjalan keluar meninggalkan Sasuke yang sudah tertidur pulas dengan keadaan berantakan penuh dengan luka cambuk dan selangkangnya yang basah.

"ακόμα κι αν είστε έτοιμοι για το πρώτο έργο (Walau kita sudah selesai dalam tugas pertama ini)," seru Kojuuro menyambut burung gagaknya yang mendarat di pundaknya.

Keiji menatap Hanbei yang tak sadarkan diri di ranjang putih besarnya yang penuh dengan bercak merah darah.

"Έχουμε ακόμα πολλά πράγματα να κάνεις (Kami masih ada beberapa tugas penting)," ucap Keiji.

Motochika meraih topengnya yang terlempar di lantai lalu mengenakannya kembali—dan mengamati Motonari yang terbaring terlilit rantai dan hancur.

"Ο επόμενος στόχος μας είναι απλός (Tugas kami berikutnya mudah)," ucap Motochika tersenyum menyeringai."

"να τους σκοτώσει (Bunuh mereka)," ucap para iblis serentak, "τους σκοτώσει αργά (Bunuh mereka perlahan)," lalu tersenyum lebar di bawah sinar merah bulan.


"...Mereka sudah menghancurkan kaummu, Maria," seru seorang iblis berambut maroon panjang sepundak dan terkuncir hiasan emas dengan kedua tangan terbogol rantai panjang, berpakaian panjang ungu gelap tertutup dan bertudung juga berkumis, bersayap iblis dua belas buah dengan kondisi yang mulai layu; duduk menyilang di belakang malaikat yang ikut ditahan.

"Mereka baru menghancurkan mereka dari dalam," jawab malaikat yang bernama Maria itu, "Ini baru langkah awal mereka untuk menghancurkan rasku, Yoshiteru,"

"Tenanglah. Kaummu akan baik-baik saja," Yoshiteru berusaha menghibur. Maria menoleh pada Yoshiteru dan menangis, "Maafkan aku, Yoshiteru. Andai 300 tahun lalu aku tidak—Hiks..." ucapnya ditengah pecah tangisnya.

"300 tahun lalu bukan salahmu. Itu salahku—sebagai Lucifer sebelum Ieyasu Tokugawa—" jelas Yoshiteru sedih. Maria bangkit dan berlari menuju Yoshiteru dan segera memeluknya.

"Yoshiteru—ini salah kita—Dosa kita bersama," bisik Maria yang masih menangis di telinga Yoshiteru, "Dosa kita karena kita saling mencintai," Yoshiteru mengelus kepala Maria pelan lalu membalas pelukannya.

"Σ'αγαπώ, όμορφο λουλούδι μου (Aku mencintaimu, wahai bungaku yang indah),"


TO BE CONTINUED

...Oke, menurutku ini hancur banget. Hancur kelewatan. Lagi gak produktif...Padahal sudah masuk bulan liburan tapi ternyata makin gak produktif...*gegulingan* Nanti kalau ada inspirasi nyatok di kepala, di edit terus di post lagi *keluyuran*

Mitsunari: "Author..." *ngamuk* "APA YANG KAU LAKUKAN PADA ONEESAMA?!"

Yukimura: "Oneesama kau apakan, author-dono?!" *nangis*

Katsuie: "...Mereka lebih sadis dari kita..." *keringat dingin*

Dikejar uke-uke sendiri,

Kichikuri61