"L'Amore, La Morte E Il Guidizio"
A Sengoku Basara Fanfic
Language: Bahasa Indonesia
Rate: M
Genre(s): Alternate Universe, Supernatural, Fantasy, Violence, Romance, Mature, Gender Bender, Psychological
Pairing(s): IeMitsu as the main (Additional(s): DateSana, ChikaNari, KojuSasu, KeiHan, SaKatsu, Slight TeruMari)
Malam, semuanya. Kembali lagi dengan Kichikuri61 yang mulai sakit kepala karena kepikiran ide fic ini terus menerus. Karena sakit tak tertahankan, maka dari itu, saya akan melanjutkan cerita ini—lalu kemudian, melanjutkan hutang-hutang saya (dusta kamu ngomong doang, thor). Untuk chapter kali ini, kupersilahkan kepada Keiji, Motochika dan Sakon untuk membuka cerita ini. Silahkan, tuan-tuan.
Sakon: "Ayolah, Keiji! Lanjutkan ceritanya!" *memukul keras meja studi Keiji*
Keiji: "..." *diam tak membalas sambil membaca buku*
Sakon: "Nebiros-sama!" *menghampiri Motochika yang sibuk membuat Ghoul*
Motochika: "Ada apa, Sakon? Aku sedang sibuk..."
Sakon: "Lanjutkan cerita Kichikuri-san!" *nangis merengek*
Motochika: "Tidak," *lanjut membuat Ghoul*
Sakon: "Kepada Kichikuri-san, KENAPA AKU HARUS BERSAMA DUA MAKHLUK PENDIAM INI?!" *teriak kesal menjambak rambutnya* "Tunggu—" *melirik ke arah Keiji dan Motochika* "MEREKA ITU MUSUHAN!"
Keiji & Motochika: "SAKON, BISA DIAM TIDAK?!" *marah besar*
Sakon: *menangis sesegukan*"Ma...Maaf...Kalian...terlalu menakutkan..."
Keiji: *menghela napas pasrah* "Aku sedang membaca cerita ini agar bisa kuceritakan ulang,"
Sakon: *mulai bahagia* "Sungguh?! Aku ikut baca bersamamu, Shinigami~" *berlari lalu duduk sempit di sebelah Keiji*
Keiji: *sesak karena berdesakan* "Sakon—sempit! Orang tua, anda ingin ikut membaca?"
Motochika: *menggerakan tangannya berusaha membangkitkan Ghoul* "Aku ingin mendengarkan saja,"
Keiji: * bergetak kesal* "Baiklah. Begini ceritanya, Sakon—"
Warning: Gender Bender, 2P!Characters, Slight Shoujo-Ai & Threesome (Only for this chapter), Heavy Sexual Content & Violence
Chapter 4: Grave of Nightmare ~Teil eins~
"..." Mitsunari membuka kedua matanya pelan. Dirinya yang terbaring lemas di tempat tidur perlahan bangkit dan berputar merangkak, "...Agh!" Mitsunari merintih kesakitan ketika dirinya berusaha merangkak di tempat tidur. Dirasanya diantara selangkangannya sakit yang luar biasa dan sesuatu yang lengket keluar. Mitsunari mengangkat sedikit roknya lalu melihat sesuatu yang membuatnya mual: darahnya yang mulai membeku bercampur cairan bening yang tak ia kenal. Mitsunari terdiam sedih, dan ia mulai mengingat kembali kejadian sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
"...Ah..." Mitsunari menutup mulutnya terkejut dengan telapak tangannya karena akhirnya ingat akan kejadian itu. Benar-benar ingat. Cairan bening itu milik sang Lucifer, Ieyasu Tokugawa; yang berhasil menyetubuhinya. Mitsunari yang mulai menitikkan air mata terus menahan rasa sakitnya dan berusaha untuk berdiri dan berjalan keluar dari tempat tidur, "Aagh!" rasa sakit yang dirasakan Mitsunari terlalu kuat hingga tekadnya untuk beranjak pergi lemah.
"Oujo-sama, anda jangan banyak bergerak dulu," seru seseorang. Mitsunari yang terkejut mendengar suara itu menoleh ke belakang dimana suara itu berasal. Dilihatnya seorang laki-laki paruh baya berpakaian ala butler berkumis dan berjenggot putih tebal pendek, memakai lensa bertali di mata kirinya dan memakai bandana hitam memasuki ruangan membawa nampan dengan cangkir dan teko di atasnya. Mitsunari yang ketakutan berusaha menghindar dan bergerak mundur menjauh namun ia malah terjatuh ke lantai dari tempat tidur.
"Uagh!" Mitsunari merintih keras merasakan sakit yang luar biasa diantara selangkangannya.
"Oujo-sama!" lelaki tua itu segera menaruh nampan beserta cangkir dan tekonya diatas meja dan berlari menuju Mitsunari. Lelaki tua itu mengulurkan tangannya namun Mitsunari menampar tangannya keras.
"Aku tidak butuh bantuanmu!" amuk Mitsunari dengan nada sedikit sedih.
"Tapi, oujo-sama, anda pasti sakit sekali..." ucap lelaki tua itu.
"Sudah kubilang, aku tidak butuh bantuanmu, kakek tua!" amuknya kembali kini berusaha bangkit namun ia kembali terjatuh dan merintih kesakitan, "Aargh...!"
"Oujo-sama, kedua kaki anda bergetar—darah anda juga masih membekas disana. Izinkan saya untuk membantu anda," jelas lelaki tua itu berusaha menolong Mitsunari.
Mitsunari menatap marah lelaki tua itu, "...Bagaimana aku bisa mempercayaimu?" tanyanya pada lelaki tua.
"Apa anda masih menyebut seorang iblis adalah 'iblis' bila mereka berusaha membantumu?" tanyanya balik pada Mitsunari.
"Seorang iblis yang berusaha bersikap baik hanyalah kamuflase—ini hanyalah jebakan kalian untuk menerjang kami para malaikat," jawab Mitsunari dengan nada yang sangat marah.
"Oujo-sama, anda butuh bantuan atau tidak?" tanya pelan lelaki tua itu yang sangat ingin menolong Mitsunari. Mitsunari yang menyerah akhirnya membiarkan pria tua tersebut menolongnya. Dirangkulnya Mitsunari dan dibopongnya ke tempat tidur lalu diterlentangkan perlahan. Pria tua itu kemudian meraih teko lalu mulai menuangkan teh hangat ke dalam cangkir. Mitsunari hanya diam.
"...Kenapa kau membantuku?" tanya Mitsunari memulai pembicaraan.
"Anda sudah menjadi bagian dari Lucifer-sama. Maka dari itu, saya sangat menghormati anda," jawab pria tua itu memberikan teh dalam cangkir pada Mitsunari.
"Te...rima kasih..." Mitsunari menerima teh pemberiannya dan segera meminumnya perlahan hingga habis, "...Tuan—"
"Ujimasa Hojo. Itulah nama saya, Mitsunari-oujosama," ucap Ujimasa membungkuk hormat pada Mitsunari.
"Tuan...Ujimasa," panggil Mitsunari pelan, "Maafkan aku tak sengaja mengejek tuan..." sang malaikat meminta maaf.
"Tidak apa. Begitulah jika anda pertama kali tiba disini. Anda pasti merasa sangat ketakutan," jelas Ujimasa pada Mitsunari.
Mitsunari berusaha tersenyum, "Kenapa tuan—aku boleh memanggilmu tuan?" Ujimasa mengangguk, "Kenapa tuan ingin sekali menolongku tadi?" sambung Mitsunari.
"Saya bisa melihat rasa sakit yang anda alami ini, Mitsunari-oujosama," balas Ujimasa melebarkan selimut dan ditutupnya bagian bawah Mitsunari dengan selimut itu, "Memang tidak mudah untuk menerima semua ini. Saya bisa mengerti perasaan anda," sambungnya meraih cangkir teh Mitsunari yang sudah kosong.
Mitsunari terpesona mendengarnya, "...Mengapa demikian?" tanya Mitsunari.
"Saya sudah hidup selama bertahun-tahun, hampir 700 tahun lamanya. Jadi saya tahu banyak," Ujimasa mulai bercerita sembari membereskan cangkir teh dan teko, "Bagi saya, malaikat dan iblis itu adalah dua makhluk yang sama. Hanya saja sifat mereka saja yang berbeda. Karenanya, saya tidak bisa memihak pada satu sementara harus melawan pihak yang lain," Mitsunari terdiam mendengar ucapan Ujimasa.
"Tuan...baik pada kami walau malaikat sekalipun?" Mitsunari tertegan.
"Sudah saya bilang, baik anda, Lucifer-sama dan yang lainnya sama saja. Kalian semua seperti air dan minyak—sesama benda cair namun tak bisa bersatu," Ujimasa tersenyum hangat.
"Tuan Ujimasa...Apa yang terjadi bila Lucifer itu mengetahui anda menolongku?" sang malaikat bertanya dengan nada bersalah. Kepalanya tertunduk dan kedua matanya mulai mengalirkan air mata, "Aku—aku tidak layak mendapat pertolongan dari tuan,"
"Lucifer-sama sudah mengetahui sifatku ini, dan dia tidak terlalu mempedulikannya," Ujimasa memberikan Mitsunari sebuah sapu tangan putih, "Hapuslah air mata anda, oujo-sama. Tak pantas seorang malaikat berwajah cantik seperti anda menangis terus,"
"Terima kasih banyak, tuan Ujimasa..." Mitsunari mengambil sapu tangan pemberian Ujimasa dan segera menghapus air matanya.
"Baiklah, oujo-sama. Saya permisi dulu. Beristirahatlah yang baik," ucap Ujimasa berjalan keluar kamar. Mitsunari tersenyum kecil selagi Ujimasa keluar dari ruangan. Betapa bahagianya Mitsunari, walau berada di dunia yang sangat bertolak belakang, tapi ia dipertemukan dengan seorang iblis yang baik padanya.
"Senang berkenalan dengan anda, tuan Ujimasa," bisik Mitsunari.
Sementara itu, Ujimasa berjalan sepanjang lorong besar dengan kaca-kaca besar yang menampilkan pemandangan gelap dan berdarah Neraka. Langkahnya terhenti ketika ia melihat Ieyasu jauh di luar jendela, berada di koridor memainkan biola. Ujimasa yang masih memandang tuannya memasang ekspresi sedih,
"Anda tetap tidak berubah, Takechiyo,"
Ieyasu memainkan biola-nya berwarna maroon; bentuk menyeramkan dengan mulut bertaring pada jembatan biola, kepala biola yang bertanduk, lubang f yang bersayap serta busur yang tipis namun kuat seperti tulang belulang; dengan tenang dan sangat dihayati. Jari jemarinya mulai bergerak cepat di sekitar papan jari begitu pula dengan busur yang digeseknya—menciptakan melodi yang cepat. Melodi yang diciptakan bersatu dengan jiwa Ieyasu hingga tubuhnya juga ikut tergerak mengikuti melodi yang dimainkannya. Gerakan tangannya yang semakin cepat membuat melodi yang dimainkan semakin cepat dan terdengar tinggi dan pedih. Ieyasu terus bermain hingga Tadatsugu menganggu permainan biola-nya.
"Ieyasu-sama, Nebiros-sama sudah tiba," lapor Tadatsugu pada tuannya.
Ieyasu menghentikan permainan biola-nya. Dijauhkan dagunya dari penyangga dagu dan dipisahnya busur dari biola, "..." Ieyasu berjalan masuk ke dalam dari koridor dan melangkah sepanjang koridor diikuti Tadatsugu dari belakang. Dirinya menyadari Ujimasa berdiri di tengah koridor dekat jendela.
"Ujimasa," sapa Ieyasu.
"Takechiyo," sapa Ujimasa tersenyum.
"Ujimasa-sama! Kenapa anda berkeliaran disini? Seharusnya anda istirahat saja," seru Tadatsugu yang khawatir.
"Tadatsugu, sebagai seorang kepala butler, aku tidak bisa diam begitu saja. Aku harus bekerja juga," jawab Ujimasa.
"Tapi—" Tadatsugu semakin khawatir.
"Biarkan dia lakukan apa yang dia mau, Tadatsugu. Bagaimana keadaan Mitsunari?" tanya Ieyasu.
"Dia sudah bangun. Keadaanya membaik," jawab sang kepala butler itu, "Kudengar, sang Nebiros; Motochika Chosokabe, sudah tiba. Sebaiknya anda segera menemuinya, Takechiyo. Anda tahu persis bukan, sifat Nebiros itu seperti apa?" jelas Ujimasa pada Ieyasu.
"Dia tidak suka dibuat menunggu. Baiklah," respon Ieyasu menepuk pundak Ujimasa pelan, "Jaga dirimu baik-baik, Ujimasa," dan segera pergi meninggalkannya diikuti Tadatsugu.
Ujimasa memandang jauh Ieyasu dan melihat punggungnya, "Surga dan Neraka, hm?" bisiknya pelan, "Takechiyo, kau yakin dengan keputusanmu itu? Kau yakin malaikat Cherubim itu adalah 'satu-satunya' untukmu? Benarkah caramu itu untuk meraih hatinya? Takechiyo, bagaimana pendapatmu?"
Di sebuah ruang tamu dimana sofa-sofa besar tersusun rapi di tengah ruangan bercat merah maroon dan berbagai hiasan kepala hewan dari tulang belulang di atas dinding, Motochika dan para bawahannya sudah tiba. Motochika yang ditopang tongkatnya dengan tangan kiri; diikuti Ranmaru yang berdiri di sisi kiri Motochika dan Itsuki yang berdiri di sisi kanannya menggenggam erat tangan sang Nebiros dan boneka beruangnya, juga Nagamasa yang berdiri di belakang Itsuki dan Oichi berdiri di belakang Ranmaru.
Ieyasu yang memasuki ruang tamu diikuti Tadatsugu menghentikan langkahnya beberapa meter jauh dari tempat Motochika dan bawahannya berdiri. Senyum terpasang di wajah Ieyasu sedangkan Motochika hanya terdiam melihatnya.
"Baiklah, Nebiros," Ieyasu mengulurkan tangannya mengarah pada Tadatsugu sembari dirinya melangkah mendekati sofa dan segera duduk, "Periksa apa saja kerusakannya,"
Motochika melihat ke arah Itsuki yang memasang wajah sedih. Sang Nebiros mengangguk pada anak perempuan tersebut dan dilepasnya genggaman sang anak pada tuan yang menciptakannya. Motochika mulai berjalan ke arah Tadatsugu dan berhenti tepat dihadapannya, "..."
"Nebiros-sama," ucap Tadatsugu hormat.
"...Lukamu cukup dalam," jelas Motochika menganalisa wajah Tadatsugu yang terlihat tidak mengalami luka sedikit pun. Motochika mulai meletakkan telapak tangannya di wajah Tadatsugu dan mulai mencengkramnya kencang hingga kuku-kuku tajam jarinya menusuk wajah Tadatsugu. Rambut dan kulit pada tubuh Tadatsugu mulai meleleh perlahan hingga seluruh kulitnya hilang menyisakan onggokan daging merah seukurannya. Dilepasnya cengkraman tangan Motochika dari wajah Tadatsugu, terlihat wajah Tadatsugu yang menyisakan dua bola mata dan mulut yang lebar berhiaskan gigi dan taring yang tajam, "GRAAA! GRAAA!" Tadatsugu berteriak mengerikan.
"Darimana dia dapat luka seperti ini?" tanya Motochika, "Seperti bekas cakar yang cukup dalam di wajahnya—dan garis panjang akbiat tergores sesuatu yang sangat tajam,"
"Haha, itu luka akibat perlawanan Mitsunari padanya. Mitsunari menyakar wajahnya setelah ia menyayati wajah Tadatsugu dengan pecahan kaca," jelas Ieyasu tertawa, "Kenapa kau lelehkan seluruh kulit tubuhnya jika dia hanya punya luka di bagian wajah?" tanyanya balik.
"Aku harus memastikan tubuhnya tidak mengalami luka serius—karena aku tidak ingin melihat kreasiku gagal," jawab Motochika yang mulai menggerakkan jari telunjuk kanannya di depan wajah Tadatsugu. Daging wajah Tadatsugu yang terbuka karena luka mulai menggumpal perlahan dan menutupi bekas luka, "Malaikatmu cukup berbahaya juga, sampai berani melukai Tadatsugu di wajah," ucap Motochika mulai berjalan memutari Tadatsugu dan menganalisa tubuhnya.
"Begitulah—tapi itu yang membuatku tertarik dengannya. Seberapa bahayakah dirinya," balas Ieyasu menopang dagunya dengan telapak tangan kiri, "Bagaimana denganmu, Nebiros? Bagaimana kabar Pahaliah-mu?"
"Dia makhluk yang tidak mengerti sopan santun. Itsuki dan Ranmaru dibuatnya takut," jelas sang Nebiros masih mengitari Tadatsugu, "Kelihatannya tidak ada lagi luka serius," sahutnya selesai mengitari.
"Baguslah," balas Ieyasu, "Ingin uji coba?" tawarnya tiba-tiba pada Motochika.
"Huh, itu sudah pasti harus dilakukan jika ada Ghoul yang baru saja diperbaiki," Motochika mengepal cepat telapak tangan kanannya disaat bersama kulit dan rambut Tadatsugu kembali seperti semula, "Oichi, Nagamasa,"
"Dimengerti, tuanku," Oichi dan Nagamasa serentak bersama. Kedua tangan Nagamasa dan Oichi berubah bentuk menjadi senjata-senjata seperti pistol dan kapak pada Oichi serta dagger dan knuckles pada Nagamasa. Motochika melompat jauh ke belakang dan segera duduk di sofa sebelah Ieyasu. Ranmaru dan Itsuki yang mengerti dengan situasi yang terjadi berlari menuju Motochika dan duduk manis di kedua sisi tuan mereka.
"Tadatsugu," seru Ieyasu.
"Dimengerti, tuanku," Tadatsugu mengeluarkan beberapa pisau dapur dan dijepitnya diantara jari jemarinya.
"Lama tak jumpa, pengkhianat," ejek Nagamasa berjalan perlahan menuju Tadatsugu sementara Oichi terdiam di tempat dan membuat bunyi pada tangannya yang menjadi pistol dimana bunyi itu menandakan peluru sudah terisi.
"Aku tidak merasa demikian," balas Tadatsugu tenang, "Aku mengikuti Ieyasu-sama atas keinginanku sendiri," ucapnya mulai melempar seluruh pisau dapur dari tangan kirinya. Nagamasa melompat menghindar ke kanan diikuti Oichi melompat menghindar ke kiri. Kedua butler dan maid milik Nebiros mulai berlari menghampiri Tadatsugu. Tadatsugu melempar satu persatu pisau dapur dari tangan kanannya. Seluruh pisau dapur menusuk tubuh Oichi dari kepala hingga kaki. Gerakan Oichi terhenti dan dirinya berubah menjadi gumpalan darah. Nagamasa melompat tepat di hadapan Tadatsugu dan menusuk kepala Tadatsugu dengan dagger. Tadatsugu ikut berubah menjadi gumpalan darah dan bergerak ke belakang Nagamasa dan kembali membentuk tubuhnya. Tadatsugu meluruskan telapak tangannya, merubah kuku jari jemarinya menjadi tajam dan menusuk Nagamasa dari belakang punggung. Nagamasa yang tertusuk berubah menjadi gumpalan darah sementara gumpalan darah lain menggumpal di hadapan Tadatsugu dan berubah menjadi Oichi. Sang maid mengayunkan kapaknya dan menyerang Tadatsugu. Sang butler dari Lucifer berhasil menghindar lalu menghampiri Oichi dan menebas putus kepala dan kedua kaki Oichi dari tubuhnya. Badan Oichi terbelah menjadi tiga bagian dan kembali berubah menjadi gumpalan darah. Nagamasa yang berubah bentuk setengah jadi—hanya seonggok daging dengan kedua bola mata dan mulut juga gigi yang tajam, menerjang Tadatsugu melilitkan badan lembeknya pada butler bawahan Lucifer. Tadatsugu yang tidak bisa bergerak tidak waspada dengan gerakan Oichi yang kembali berubah bentuk menjadi tubuh asli dan menembakkan beberapa peluru pada Tadatsugu. Tadatsugu membuka mulutnya lebar dan memuntahkan cairan seperti minyak. Oichi dan Nagamasa terkejut melihat cairan yang keluar dari mulut Tadatsugu dan berusaha menghindar ketika peluru dan cairan tersebut mendekati satu sama lain.
DUAR
Ruang tamu Ieyasu hancur meledak di bagian tengah. Asap berhembus di seluruh ruangan hingga tidak terlihat apa yang terjadi dengan ketiga bawahan yang sedang bertarung. Puing-puing tembok dan langit-langit mulai berjatuhan. Ieyasu dan Motochika hanya diam menonton. Selang beberapa detik kemudian, Motochika mengangkat tangan kanannya dan kepala Oichi mendarat di atas tangannya.
"Oichi, kerahkan seluruh kemampuanmu. Uji coba sudah selesai," jelas Motochika pada Oichi yang kepalanya berada di tangannya. Oichi mengedipkan kedua matanya mengerti.
"Beritahu Nagamasa soal ini," sambung sang Nebiros melempar kepala Oichi kembali ke tengah asap ledakan. Ledakan pun kembali terjadi, Ieyasu dan Motochika hanya terdiam sementara Itsuki dan Ranmaru melompat ke depan mereka dan melindungi kedua iblis dengan tubuh mereka. Setelah dirasa keadaan membaik, Itsuki yang melindungi Ieyasu segera melompat ke arah Motochika dan kembali menggenggam tangan kanannya erat, "Kerusakan di ruang tamu kembali, eh?" ucap Motochika beranjak dari sofa.
"Tidak apa. Aku berniat untuk mendesain ulang ruangan ini," balas Ieyasu. Tadatsugu yang muncul dari balik asap melompat dan mendarat tepat di belakang Ieyasu, diikuti Nagamasa dan Oichi yang ikut keluar dari asap dan mendarat di belakang Motochika.
"Sudah selesai urusan kita, Lucifer?" tanya Motochika.
"Tentu saja, Nebiros," Ieyasu membalas dengan senyuman. Motochika segera meninggalkan Ieyasu dan Tadatsugu keluar diikuti bawahannya.
"Tadatsugu, kau tidak merasa rindu dengan tuan lamamu?" tanya Ieyasu pada pelayannya.
"Tidak. Tidak sama sekali, tuanku," jawab Tadatsugu.
"Meski dia yang membuatmu?" Tadatsugu terdiam sesaat dengan pertanyaan tuannya, "Tidak sama sekali, Ieyasu-sama. Saya mengikuti anda atas keinginan saya sendiri," jelas sang pelayan.
Ieyasu menepuk pelan pundak Tadatsugu dan sang pelayan dibuat terkejut karenanya, "Terima kasih, Tadatsugu," ucap pelan Ieyasu.
"Dengan senang hati, tuanku," balas Tadatsugu tersenyum.
Di lain tempat,
"..." Katsuie membuka kedua mata pelan. Dikedipkan kedua matanya berkali-kali. Ia melihat dirinya terkurung di dalam jeruji besi di tengah ruang minum. Katsuie terdiam ketika menyadari dirinya terkurung. Diamnya terpecah ketika dirasa tangannya digenggam oleh tangan yang lain. Katsuie menoleh dan dilihatnya Yukimura yang sedang tertidur menangis.
"..." Yukimura meneteskan air matanya dan bergumam tak bersuara. Dilihat oleh Katsuie dari gerakan mulutnya, Yukimura menyebutkan kata 'oneesama'. Melihat Yukimura yang menangis kesepian merindukan sang kakak, Katsuie mendekatkan pundaknya dan menyenderkan kepala Yukimura diatas pundaknya. Katsuie membelai lembut rambut dan pipi Yukimura demi menghibur sang Netzach muda. Yukimura terbangun dari tidurnya dan mengangkat wajahnya menatap Katsuie.
"...(Maaf telah merepotkanmu, Katsuie-dono)," ucap Yukimura bisu. Katsuie yang mengerti gerakan mulut Yukimura menggeleng, "...(Tidak apa, Yukimura-oujosama)," balasnya yang juga bisu lalu memeluk Yukimura erat dan dipeluk erat kembali Katsuie oleh Yukimura.
Katsuie melihat leher sang putri dengan luka lebam biru yang padat dan hidung yang berdarah. Jegudiel itu segera merobek kecil kain roknya dan dilapnya darah dari hidung Yukimura, "...(Maaf jika ini terasa sakit. Bagaimana dengan lehermu, oujosama?)" tanya Katsuie.
"...(Sakit sekali)," ucap Yukimura bisu menahan sakit di hidungnya.
"ότι είναι ξύπνιοι ήδη (Mereka sudah bangun)," seru seseorang di luar jeruji. Katsuie dan Yukimura terdiam ketakutan mendengar suaranya yang dalam dan lebih terdengar seperti mendesis. Dua bayangan mulai mendekati jeruji. Yukimura memeluk Katsuie ketakutan, Katsuie pun ikut memeluknya. Dilihat dari luar jeruji, dua pemuda: satu berbadan besar dengan tato spiral pada dada kirinya, berambut ikal hitam panjang terkuncir dengan kedua mata tertutup poni yang terpisah; dan satu lainnya berbadan kurus dengan tato spiral pada dada kanannya, berkepala botak pada bagian atas kepala, dan terdapat rambut hitam tipis terkuncir kecil di belakang. Keduanya berekor ular panjang bersisik hijau kecoklatan dan berkulit tipis dengan tekstur yang licin; membawa tombak dan perisai besi.
"φοβούνται εμάς, κύριε (Mereka takut pada kita)," ucap pemuda berkepala botak itu melihat kedua malaikat ketakutan di dalam jeruji, "Ke ke ke ke, wajah takut mereka terlihat menyenangkan sekali," tawanya membuat kedua malaikat semakin ketakutan.
"Matabee, jangan buat mereka takut atau Sakon-sama bisa membunuhmu," pemuda besar memperingatkan pemuda kurus bernama Matabee itu.
"Hei, Kanbee-sama, kita belum memperkenalkan diri," sahut Matabee, "Matabee Goto, Naga type," jelasnya pada kedua malaikat.
"Kanbee Kuroda, Naga type," sambung Kanbee.
"Kami adalah bawahan dari Sakon-sama," Matabee membelai pipi Katsuie dengan ekornya. Katsuie bergidik menjauh dibuatnya, "Ke ke ke ke ke, Jegudiel ini ketakutan sekali,"
"Mereka sudah sadar?!" teriak Sama-no-suke di belakang Matabee dengan sayap yang melebar dan ekor yang melingkar di kakinya, "Halo, nona Netzach," sapanya melambai pada Yukimura.
Yukimura dan Katsuie semakin ketakutan dengan kehadiran Sama-no-suke, "...(Menjauhlah dari kami)," ucap mereka bisu bersamaan.
"να καλέσω τους ηγέτες μας (Sebaiknya kita panggil ketua kita)," ucap Sama-no-suke pada Matabee dan Kanbee. Kanbee mengangguk pada Matabee dan bergerak ke dalam sebuah ruangan di ujung kiri ruang VIP sementara Matabee dan Sama-no-suke bersiaga di depan jeruji. Terdengarnya pintu yang terbuka dan tertutup kembali membuat kedua malaikat sangat ketakutan.
"Tidak apa, nona-nona," Sama-no-suke tersenyum pada kedua malaikat yang ditahan, "Kanbee-san sedang memanggil hittou dan Sakon-sama," jelasnya mulai senyum menyeringai dan menatap mereka tajam.
"...!" Yukimura dan Katsuie terkejut mendengar kedua nama itu.
Ieyasu berjalan ke dalam sebuah lorong bawah tanah dengan lilin sebagai penerangan. Ia melewati beberapa pintu penjara dan terdengarnya beberapa suara gelap dan kelam bahkan mengerikan dari setiap penajra yang ia lewati, kemudian berhenti di salah satu pintu penjara terletak di tengah lorong. Dibukanya pintu itu oleh Ieyasu dan terlihat Maria yang sedang tertidur di pangkuan Yoshiteru yang juga ikut tidur. Maria yang mendengar suara pintu terbuka terbangun dari tidurnya dan terkejut melihat kehadiran Ieyasu. Yoshiteru yang menyadari Maria terbangun membuka matanya dan juga terkejut dengan kehadiran tamu yang tak diundang. Yoshiteru yang panik namun berusaha untuk tetap tenang memeluk erat Maria yang mulai bergetar ketakutan, "Apa urusanmu kemari, Ieyasu...?" tanyanya dalam.
"Hanya mengunjungi kawan lama. Benar begitu, Adam?" balas Ieyasu tersenyum, "Bagaimana kabarmu dan kekasihmu? Masih terus meratapi masa lalu yang kelam?" tanyanya tajam pada sepasang kekasih terlarang yang menjadi tahanannya.
"Hentikan..." Maria menutupi kedua telinganya ketakutan. Yoshiteru mengelus pelan kekasihnya yang ketakutan dan mengecup kepalanya tenang, "Maria...sudahlah,"
"Ada apa, Eve? Menyesali perasaanmu pada Adam hingga dirimu dibuang dari Surga?" frontal Ieyasu dengan senyum yang semakin lebar, "Dirimu yang juga seorang Cherubim jatuh hati pada Adam yang dulu merupakan seorang Lucifer—"
"Hentikan...Hentikan!" Maria berteriak ketakutan.
"IEYASU! BERHENTILAH MENGGANGGU MARIA!" amuk Yoshiteru.
"DAN BAGAIMANA DENGANMU, ADAM?!" Ieyasu meninggikan suaranya, "KAU ADALAH LUCIFER! PEMIMPIN KAMI! DAN KAU BISA JATUH HATI PADA SEORANG MALAIKAT! ITUKAH CERMINAN SEORANG LUCIFER?! KARENA ULAHMU DAN MALAIKAT MENJIJIKAN ITU DUNIA KITA MENJADI KACAU 300 TAHUN LALU! KAU BUKANLAH LUCIFER! HANYALAH SEORANG KRIMINAL!" dan mulai berteriak pada Yoshiteru dan Maria.
"HENTIKAN!" Pupil mata Maria menghilang dan kedua bola matanya berubah warna menjadi merah darah. Keenam sayap putihnya berubah warna menjadi hitam dan terbentang lebar. Bayangan api muncul dari dalam kedua lengannya. Darah mulai mengalir dari kedua matanya, "BERANINYA BICARA KASAR PADA YOSHITERU!" amuknya yang sudah berubah wujud terbang menuju Ieyasu dengan tangan kanan bercakar tajam siap mencengkramnya.
"Sudah lama tidak melihat wajah itu," Ieyasu mengangkat tangan kanannya lurus ke arah Maria yang ingin mencengkramnya. Gumpalan bayangan hitam muncul dari telapak tangan kanan Ieyasu dan menerjang Maria dan menguncinya. Maria yang mengamuk dengan mudah menghancurkan bayangan hitam yang menguncinya namun ia tidak sadar dengan Ieyasu yang sudah berada di hadapannya dan menendang Maria di perut hingga sang Cherubim terbatuk darah. Maria terlempar jauh hingga menabrak dinding selnya hingga hancur. Ieyasu yang belum puas hanya menendang Maria mencengkram kuat leher Maria dan diangkat Cherubim itu tinggi dan mengakibatkan darah mengalir dari mulut Maria.
"Tidak—!" Yoshiteru meluruskan lengan kirinya yang terborgol rantai panjang menempel pada dinding ke arah Ieyasu dan mengendalikan sepotong kain panjang yang menghiasi gaun Maria. Dibuatnya kain itu melilit erat pada tangan Ieyasu yang mencengkram Maria kemudian ditariknya tangan Yoshiteru ke belakang sigap membuat tangan Ieyasu terputus dan membebaskan Maria. Kain yang melilit tangan Ieyasu mulai terbuka lebar dan membopong Maria yang lemah menuju Yoshiteru. Dirinya yang dipanggil Adam oleh sang Lucifer segera mendekap erat Eve kekasihnya, "Maria. Lihat aku, Maria. Lihatlah aku," bisiknya mengelus pipi Maria lembut.
Kedua mata Maria kembali menunjukkan pupilnya berwarna biru laut juga bola mata yang kembali menjadi putih, "...Yoshi...teru...?" panggil Maria yang kembali semula menjadi dirinya, "Λυπάμαι. Λυπάμαι πολύ...(Aku minta maaf. Aku sungguh minta maaf...)," bisiknya mulai menangis.
"Είναι εντάξει, πολυαγαπημένοι λουλούδι μου. Θα σ 'αγαπώ πάντα (Tidak apa, wahai bungaku yang indah. Aku akan selalu mencintaimu)," Yoshiteru berbisik di dekat wajah Maria lalu mengecup air mata sang malaikat. Maria memeluk erat Yoshiteru dan Maria dibalas yang sama oleh Yoshiteru.
"είδος σας θα πεθάνει, άγγελος. Να θυμάστε ότι (Kaummu akan mati, wahai malaikat. Ingat itu)," Ieyasu memperingatkan Maria bernada dingin. Tangan kanannya yang terputus kembali terbentuk setelah bayangan hitam mengitari lengannya. Ieyasu berjalan keluar penjara meninggalkan Adam dan Eve, seperti yang dipanggilnya, menutup pintu penjara keras.
"Οι Άγγελοι είναι ξύπνιος! (Para malaikat sudah terbangun!)" teriak salah seekor Incubus di luar jeruji. Katsuie dan Yukimura gemetar ketakutan melihat keadaan yang menjadi ramai setelah terbangunnya mereka diketahui oleh dua kelompok iblis yang menahan mereka. Para Incubus dan Naga terus berteriak dan tertawa kencang di luar jeruji.
"Γεια σου! Φέρτε τους στους ηγέτες μας! (Hei! Bawa mereka ke tempat pemimpin kita!)" seru seorang Naga.
"Baiklah~ Jika itu yang mereka mau," Sama-no-suke membuka pintu jeruji lalu menarik paksa rantai yang mengunci kedua tangan Yukimura dan Katsuie. Ditariknya mereka keluar membuat heboh kelompok dua iblis yang berkumpul. Yukimura dan Katsuie digiring oleh Sama-no-suke melewati kelompok dua iblis yang memasang wajah menakutkan pada mereka dan mengekori mereka dari belakang.
"Jadi mereka adalah para gadis yang 'diracuni' Masamune-sama dan Sakon-sama?" tanya Kanbee, "Tidak terlihat jelas wajah mereka dari dalam jeruji. Tapi tidak kusangka bisa secantik itu wajah-wajah mereka. Baik Masamune-sama dan Sakon -sama benar-benar dipilihkan malaikat-malaikat bagus oleh Ieyasu-sama," sambungnya mengangguk.
"Ke ke ke ke, aku tidak sabar dengan pesta ini," Matabee tertawa lebar. Kanbee dan Matabee berubah wujud menjadi dua ular kobra berukuran sedang dan melata ke dalam ruangan yang tadi dihampiri Kanbee mengekor Sama-no-suke yang sudah masuk membawa Yukimura dan Katsuie.
"..." Yukimura dan Katsuie tertegan melihat isi ruangan hanya terdapat satu ranjang berukuran sedang yang kumuh dan lilin sebagai penerangan. Sama-no-suke menggiring Yukimura dan Katsuie ke tempat tidur, "Naiklah, nona-nona," pinta Sama-no-suke.
Yukimura dan Katsuie yang ketakutan hanya bisa menuruti. Yukimura duduk di atas ranjang di sisi kanan sementara Katsuie duduk di sisi kiri. Sama-no-suke segera meninggalkan ruangan dan pintu ruang tertutup kencang begitu saja. Yukimura dan Katsuie sempat kebingungan hingga terdengar sebuah bunyi besi.
"...! (Apa yang terja—Hyaaaa!)" kedua malaikat terkejut ketika rantai yang mengunci tangan mereka bergerak dengan sendirinya. Rantai yang mengunci Yukimura terlilit dan mengunci sendirinya di kepala ranjang yang terbuat dari besi sementara rantai yang mengunci Katsuie terlilit dan mengunci sendirinya di pilar besi depan ranjang. Keduanya terjatuh berbaring di ranjang berlawanan arah. Yukimura berusaha melepaskan kedua tangannya namun usahanya sia-sia karena rantai yang menguncinya melilit kuat bila ia melawan.
"Thank you for your participation," seru seseorang di balik bayangan hitam berdiri di sebelah kanan pintu ruangan.
Dua ular kobra yang tadi masuk menuju seseorang di balik bayangan hitam berdiri di sebelah kiri pintu ruangan dan bergerak ke atas dari kedua kakinya dan melilitkan tubuh mereka di kedua lengannya, "Selamat datang di mimpi terburukmu, gadis-gadis kami tercinta," ucap orang itu tersenyum lebar.
Pupil Yukimura dan Katsuie mengecil, terkejut mendengar suara yang sangat familiar di telinga mereka. Masamune dan Sakon berjalan mendekati Yukimura dan Katsuie yang terikat di ranjang.
"Look at you," Masamune setengah membungkuk kemudian mengangkat dagu Yukimura dengan tangannya menatap wajah sang malaikat yang memasang ekspresi sangat ketakutan, "Sungguh ekspresi yang sangat, sangat cantik," bisiknya mendekatkan wajahnya dengan Yukimura lalu mengecup pipi sang malaikat. Pandangan Yukimura yang mulai memburam membuat tubuh Yukimura gemetar ketakutan. Masamune yang merasakan Yukimura gemetar ketakutan merangkak naik ke atas tubuhnya,
"Tidak apa, sayangku," Masamune menjilati leher Yukimura lalu mengecupnya, "A...uh..." Yukimura menangis ketakutan.
"...! (Yukimura-oujosama!)" teriak Katsuie bisu berusaha memanggil Yukimura.
"Percuma temanmu kau panggil," sahut Sakon mengangkat kaki kiri Katsuie, "Dia 'tenggelam' dalam halusinasi Masamune," jelasnya.
Katsuie yang kesel mengangkat kaki kanannya dan menendang keras Sakon di wajah. Dua ular kobra bawahan Samael mendesis marah bergerak cepat melilit kedua kaki Katsuie. Dibuka lebar kedua mulut mereka menusuk dalam taring berbisa di kedua pergelangan kaki malaikat yang berusaha melawan tuan mereka. Darah mengalir dari kedua Katsuie merintih bisu dan kedua kakinya terkapar lemas begitu saja.
"Otto—Kanbee, Matabee. Jangan marah begitu," ucap Sakon pada kedua Kobra-nya. Dua ular Kobra tersebut kembali melilitkan tubuh mereka di kedua lengan Sakon, "Tapi, terima kasih telah meringankan bebanku. Memang sedikit merepotkan—malaikat yang berusaha melawan itu," sambungnya tersenyum pada Katsuie.
Ia kembali mengangkat kaki kiri Katsuie dan menopangnya di pundak, "Ah, kelihatannya kau baru saja membuat Kanbee sangat marah. Lihatlah gigitan yang ia buat—sungguh dalam dan beracun. Terlihat menyakitkan sekali," bisik Sakon mengelus pipinya pada kaki Katsuie lalu menjilati luka Katsuie.
Malaikat tahanan Samael merintih kesakitan, "Uh—itte—"
"Aa—ah—" Yukimura merasa sesak dan susah berbicara. Tenggorokannya dirasa terjepit sesuatu di dalamnya.
"My my my, ada apa dengan suaramu?" tanya Masamune mengecup leher Yukimura.
"Sakit, bukan? Katsuie," tanya Sakon ditengah jilatannya.
Di luar ruangan, Sama-no-suke hanya tersenyum menghitung jari tengah, telunjuk dan jempolnya yang berdiri, "τρία ...(Tiga...)" ucapnya pelan.
Masamune dan Sakon membuka lebar mulut mereka. Dua taring tajam menepuk kulit halus leher Yukimura dan pergelangan kaki Katsuie.
"δύο ...(Dua...)" Dua taring tajam menusuk pelan menembus kulit dua malaikat malang.
"ένα! (SATU!)" Masamune dan Sakon mengigit kasar Yukimura dan Katsuie hingga leher Yukimura dan pergelangan kaki Katsuie mengeluarkan darah berjumlah banyak. Dua malaikat dibuat terkejut oleh gigitan mereka.
"UAARRRRRGGHH!"
"...!" Kedua mata Maria terbuka lebar. Yoshiteru yang menyadari Maria yang goyah bertanya pelan, "Ada apa?"
"...Netzach kecil...dan Jegudiel..Yukimura...Katsuie..." balas Maria terbata ketakutan. Yoshiteru memeluk erat Maria berusaha membuatnya tenang, "Tenanglah, Maria...Tenanglah,"
"Aku—aku hanya bisa mendengar teriakan mereka..." Maria mulai menangis di pelukan Yoshiteru, "Teriakan sakit mereka...Aku tidak bisa menolong mereka, Yoshiteru..." dicengkramnya jubah Yoshiteru kencang menahan tangis. Yoshiteru yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menenangkan Maria yang menyalahkan dirinya.
"Mereka akan selamat, Maria. Mereka pasti selamat,"
Di istana Lucifer, Tadatsugu berjalan membawa sebuah handuk kecil yang sudah dibasahi air menuju kamar Lucifer. Dimasukinya kamar itu, dan diletakannya handuk basah di atas laci dekat tempat tidur. Tadatsugu menoleh pada Mitsunari yang terbungkus seluruhnya dengan selimut, namun ia mulai heran ketika melihat selimut yang membalutnya bergerak bagaikan tubuh yang menggigil.
"Oujo-sama," panggil Tadatsugu menggoyangkan tubuh Mitsunari namun tak direspon, "OUJO-SAMA!" ditariknya paksa selimut yang membungkus Mitsunari. Tadatsugu sedikit terkejut melihat Mitsunari: tubuhnya panas berkeringat dan wajahnya memerah padam seperti tidak enak badan.
"...Ghoul..." panggil Mitsunari terengah-engah pada Tadatsugu, "...Apa yang terjadi padaku...Tubuhku panas sekali dan...entah kenapa rasanya—" Mitsunari memeluk tubuhnya sendiri dan menekuk kedua kakinya. Tadatsugu sempat heran namun mengerti apa yang terjadi pada Mitsunari, ("Jadi, yang kemarin Magoichi-sama berikan pada Ieyasu-sama bukanlah aphrodisiac—melainkan viagra,)" pikirnya sesaat.
"Uhh..." Mitsunari masih memeluk tubuhnya yang gemetar erat. Pose yang dibuatnya membuat Tadatsugu tergoda dan tertegan menelan ludah tak kuasa ingin segera menyentuhnya.
"Oujo-sama..." Tadatsugu menyipitkan matanya lalu mendekatkan wajahnya pada Mitsunari yang bertingkah aneh, "Sudah waktunya anda 'makan'," bisiknya mencium Mitsunari. Mitsunari berusaha melepas ciumannya dari Tadatsugu namun tenaga Ghoul itu melebihi kemampuannya. Menyerah, Mitsunari membiarkan Ghoul melumat habis mulutnya. Dilepasnya ciuman oleh Tadatsugu, ia mulai mendekati leher Mitsunari lalu mengecupnya.
"Ah!" Mitsunari spontan melingkarkan kedua lengannya di leher Tadatsugu dan membiarkan pelayan Lucifer bermain dengan tubuhnya. Tadatsugu melonggarkan tali tipis dari kedua pundak Mitsunari, membiarkannya terjatuh hingga badan atas Mitsunari terbuka menampilkan dua buah dada telanjangnya. Tadatsugu yang mulai tergoda menggerak pelan jari telunjuknya mengikuti bentuk dada Mitsunari, "Oujo-sama, anda berhasil menghasut saya untuk menikmati tubuh ini," bisiknya mengisap puting kiri Mitsunari dan mencubit puting kanannya. Mitsunari mendesah pelan merema rambut Tadatsugu.
"Oya oya, Tadatsugu," seru seseorang dari belakang, "Beraninya bermain dengan istriku tanpa sepengetahuan tuanmu ini," Tadatsugu menoleh terkejut dan melihat Ieyasu berdiri di depan tempat tidur melipat silang kedua tangannya memasang ekspresi kesal. Kedua alisnya turun lurus kebawah.
"I...Ieyasu-sama...!" Tadatsugu tak mampu memandang tuannya lama karena panik.
"Dan kau, Cherubim," Ieyasu melangkah pelan mendekati lalu menaikki tempat tidur di sebelah Tadatsugu lalu membelai wajah Mitsunari yang merah menggoda iman, "Betapa rendahnya dirimu sampai menggoda pelayanku,"
"Ie...yasu..." bisik Mitsunari pelan terengah-engah mencengkram lengan Tadatsugu.
"Baiklah, Mitsunari—" Ieyasu mendekatkan wajahnya di telinga kanan Mitsunari, "Siapa yang kau inginkan untuk memasuki tubuhmu?" bisiknya dalam.
"Hhh...!" Mitsunari yang dibuat takut berusaha menghindar namun ditahan kuat oleh Tadatsugu, "Jawab pertanyaan Ieyasu-sama," ucapnya tegas. Mitsunari yang ketakutan namun tubuhnya berhasil mengambil alih pikirannya, mengulur lurus. Tangan kanan Mitsunari meraih wajah Ieyasu sedangkan tangan kirinya meraih wajah Tadatsugu. Tadatsugu dan Ieyasu yang kebingungan saling bertukar pandang.
"...Kami berdua?" tanya Tadatsugu menoleh pada Mitsunari. Mitsunari tidak menjawab namun mengelus lembut pipi Ieyasu, "Kumohon...lakukan sesuatu..." bisik Mitsunari yang semakin terengah-engah.
Ieyasu yang mengerti maksud Mitsunari melirik pada Tadatsugu memberi kode. Tadatsugu yang mengerti perintah tuannya mengangguk. Dilepasnya tangan Mitsunari dari wajah mereka, sang tuan dan pelayannya mengecup leher Mitsunari di kedua sisi, "Kami akan memberimu kesenangan yang luar biasa, Mitsunari—Mitsunari-oujosama," bisik mereka bersamaan pada Mitsunari.
"Nggu—nffh!" Mitsunari tersedak sesaat mengisap alat vital Tadatsugu. Tadatsugu yang berlutut di depannya mendesah pelan sementara Ieyasu bermain di belakang bersama daerah privasi Mitsunari. Sang Lucifer terus mendorong masuk-keluar dalam Mitsunari hingga sang malaikat sempat mendesah kecil berkali-kali, "Mmhh—"
"Ah—Oujo-sama..." desah Tadatsugu meremas rambut Mitsunari, "Jangan terlalu keras menggigit saya—" sambungnya mendorong dalam mulut Mitsunari. Mitsunari dibuat terkejut merasa bagian dalam mulutnya penuh seketika.
"MMFFH!" Mitsunari mendesah mengambil Tadatsugu seluruhnya dalam mulutnya.
"Ah—Mitsunari, tempat ini selalu menyambutku dengan senang hati—" Ieyasu terengah pelan masih bergerak masuk-keluar Mitsunari, "Aah—Mitsunari—Mitsunari—" Ieyasu mendesah memanggil Mitsunari bergerak semakin cepat dalam Mitsunari.
"Oujo-sama—Oujo-sama!" Tadatsugu ikut mendesah dan bergerak di dalam mulut Mitsunari. Tempat tidur pun berdendang oleh ulah mereka dan membuat suara cukup keras dari gesekan kaki ranjang pada lantai. Mitsunari mendesah merasakan tubuhnya dimainkan dari depan dan belakang, "Mmhh! Mmffh!"
"Tadatsugu, putar balikkan badannya," pinta Ieyasu ditengah desahan.
"Dimengerti, tuanku," Tadatsugu menarik keluar dirinya dari mulut Mitsunari yang mulai terbatuk sesak, begitu pula dengan Ieyasu yang berhenti sebentar. "Uhuk uhuk—haah—ha—Hyaa!" Badan Mitsunari diputar balikkan menghadap Ieyasu dan bersandar di atas tubuh Tadatsugu.
"Oujo-sama—uhh—" Tadatsugu mulai masuk ke dalam Mitsunari melalu lubang duburnya. Mitsunari yang terkejut serta panik berteriak, "Aah!"
"Shh—shh, Mitsunari, tenanglah—" bisik Ieyasu mengecup pipi Mitsunari, "Tadatsugu hanya ingin bergabung bersama,"
"Ah—oujo-sama—sungguh nikmat berada di dalam tubuhmu ini," Tadatsugu mulai bergerak masuk-mundur dalam Mitsunari diikuti Ieyasu yang kembali bergerak dalam Mitsunari. Sensasi yang diberikan baik Tadatsugu dan Ieyasu berhasil merangsang tubuh Mitsunari yang ikut merasakan kenikmatannya. Mitsunari mendesah keras saat Ieyasu dan Tadatsugu bergerak cepat di dalamnya. Diremasnya rambut Ieyasu dengan tangan kirinya dan diremasnya rambut Tadatsugu dengan tangan kanannya.
"Tidak kusangka—aah—Mitsunari—kau sungguhlah malaikat rendahan—tubuhmu menyukaiku dan Tadatsugu yang ada di dalammu ini—" desah Ieyasu semakin cepat bergerak, "Aah—Mitsunari!"
"Oujo-sama—tubuhmu terus terangsang oleh kami—" bisik Tadatsugu terengah dekat telinga Mitsunari, "Aah—Mitsunari-oujosama!"
"Haa—hentikan—hentikan—aku sudah tidak tahan—" Mitsunari terengah meremas kuat rambut kedua iblis yang menyetubuhinya, "Hentikan—aah—"
"MITSUNARI! – MITSUNARI-OUJOSAMA!" Ieyasu dan Tadatsugu mendekap erat Mitsunari bersamaan dan melepaskan air mani mereka bersamaan di dalam Mitsunari. Mitsunari pun panik menjambak keras rambut Ieyasu dan Tadatsugu.
"AAAAAAAAAHHH!"
To Be Continued
Apa...yang baru saja...kulakukan pada Mitsunari sayang...? *nangis memojok* MITSUNARI! MAAFKAN AKU! *peluk erat Mitsunari*
Haha...hahaha..gak nyangka aja bakal bikin threesome...lalu slight fem!Katsuie dan fem!Yukimura...aduh...ada apa denganku? *nangis*
R & R dan krisar, ya?
Menangis di depan layar laptop,
Kichikuri61
