"L'Amore, La Morte E Il Guidizio"
A Sengoku Basara Fanfic
Language: Bahasa Indonesia
Rate: M
Genre(s): Alternate Universe, Supernatural, Fantasy, Violence, Mature, Psychological, Gender Bender, Romance
Pairing(s): IeMitsun as the main (Additional(s): DateSana, KojuSasu, ChikaNari, KeiHan, SaKatsu)
Selamat malam, wahai pembaca. Kembali lagi dengan Kichikuri61 yang semakin rajin update fanfic ini (dikarenakan ide cerita ini terus yang nempel di kepala). Untuk chapter ini, saya akan menulis dimana (menurut saya), para iblis adalah makhluk pemakan darah (atau mereka memang pada dasarnya suka darah?). Dan perhatian: CHAPTER INI ADALAH CHAPTER TERSADIS (menurut saya) KARENA UNSUR KEKERASAN YANG BERLEBIHAN DAN CRACK PAIRING YANG TIDAK MASUK AKAL. JADI, SAYA PERINGATKAN BAGI SIAPAPUN YANG TIDAK KUAT—DIPERSILAHKAN UNTUK MENINGGALKAN CERITA INI. KARENA SAYA TIDAK INGIN MENDENGARKAN KELUHAN KALIAN BILA KALIAN TIDAK SENANG. KALAU TIDAK SUKA DAN MASIH BACA, TANGGUNG SENDIRI!
Warning(s): Gender Bender, 2P!Characters, Slight Yuri and Threesome, Foursome (only for this chapter), Heavy Sexual Content, Gore and Violence, slight OOC (Due to stress for the characters and being forced to do something)
DON'T LIKE? THEN DON'T READ!
Chapter 5: Grave of Nightmare ~Teil zwei~
"Ara, Sakon dan Masamune," Magoichi muncul di depan ranjang tempat tidur melihat Sakon dan Masamune yang berusaha untuk menahan diri menghisap darah kedua malaikat mereka, "Kalian benar-benar kasar sekali. Darah mereka sampai mengalir begitu deras,"
"Aku tidak tahan—darah ini—" Sakon berusaha menahan dirinya di atas Katsuie yang tidak sadarkan diri, "Bau darah ini—aah—Katsuie—" Sakon membuka lebar mulutnya dan menusukkan taring tajamnya pada leher malaikatnya lalu menghisap darahnya rakus.
"Tidak—aku tidak merasa puas—" geram Masamune liar dengan mulutnya penuh darah Yukimura, "Angel's blood—It drives me crazy—" Masamune menusukkan taringnya di leher Yukimura dalam kemudian menghisap darahnya napsu.
Magoichi yang kesal karena dicuekki menjentikkan jarinya. Kumpulan tentakel mulai melilit di tubuh Yukimura dan Katsuie. Masamune dan Sakon yang sempat terkejut menoleh ke arah Magoichi dengan wajah kesal, "Tch!" geram mereka kesal.
"Baiklah, Saika. Apa maumu?" tanya Masamune marah beranjak dari tempat tidur.
"Menyerah, menyerah," Sakon beranjak dari tempat tidur mengangkat tangannya kesal, "Oke, Magoichi-san, ada sesuatu?" tanyanya pasrah.
"Kalian berdua ini—mentang-mentang dapat mainan baru langsung saja dimainkan terus sampai 'hancur'," ucap Magoichi terbang menuju Yukimura dan Katsuie, "Mereka tidur? Tidak sadarkan diri? Mati?" Magoichi menepuk pipi Yukimura.
"Tidak sadarkan diri. Mungkin terlalu lemas karena kekurangan darah," jawab Masamune menyilang kedua tangannya, "Spell it out, Saika,"
"Kalian lupa hari ini 'musimnya'?" tanya Magoichi yang kini bermain dengan leher Katsuie.
"Musim—" Sakon sempat bingung, "Musim apa...?"
"What season—Oh! Musim itu—" Masamune menggaruk kepalanya, "Aku lupa hari ini sudah masuk 'musim' itu, Sakon..." jelasnya.
"...Oh," Sakon mulai ingat, "Pantas saja wajah Magoichi sudah siap," goda Sakon membetulkan ikat pinggang celananya sembari mengedipkan matanya pada Magoichi.
"Heh, no wonder you're in heat, Saika," ucap Masamune membetulkan syalnya menjilati bibirnya, "Siapa dulu yang ingin kau 'layani'?" tanyanya pada Magoichi.
"Nfufu," Magoichi menoleh ke arah dua iblis itu dan terbang menuju mereka, "Aku senang dengan ingatanmu yang cukup tajam, Date. Tapi, sebaiknya aku melayani 'orang ketiga' terlebih dahulu," ucapnya langsung mencium bibir Sakon dan melumatnya kasar. Sakon mencium dalam Magoichi dan keduanya langsung terjatuh ke lantai. Tak peduli dengan rasa sakit yang ada, keduanya terus bermain dengan tubuh satu sama lain. Magoichi yang semakin tidak tahan segera membuka resleting celana Sakon dan memasukkan alat vitalnya ke dalam dirinya sendiri dengan posisi dirinya duduk di atas Sakon yang bersandar pada dinding, "Aah!" desah Magoichi.
"Magoichi-san, suara indahmu tidak berubah seperti biasanya," ucap Sakon terus bergerak masuk-keluar dalam Magoichi, "Tidak menyesal diriku ini menyetubuhi dirimu bertahun-tahun lamanya,"
"Begitulah sifat Samael—" Magoichi melingkarkan kedua lengannya di leher Sakon, "Aah—selalu merusak hubungan cinta orang lain—Dasar orang ketiga—Hyaa!" Magoichi terkejut ketika Sakon memasukinya lebih dalam.
"Sakon—jangan seenaknya mengambil dia sepenuhnya sendiri! Dia satu tipe denganku!" protes Masamune berdiri di belakang Magoichi.
"Kenapa—tidak bergabung saja—Masamune—" tanya Sakon yang masih bergerak dalam Magoichi, "Kau tahu Succubus senang jika ramai," sambungnya.
Masamune yang murung mulai tersenyum lebar, "Oh, right," ucapnya mulai berlutut dan membuka resleting celananya lalu ikut masuk ke dalam Magoichi. Magoichi sempat tertegan namun mulai terbiasa, "Ah—dua sekaligus—sudah lama tidak merasakannya—Aah!" desah Magoichi keras ketika Masamune mulai bergerak di dalamnya bersama Sakon. Ketiga iblis hina tersebut sibuk sambil bersenang-senang dengan satu sama lain, menghiraukan dua malaikat lemah yang terbaring di tempat tidur, kekurangan darah terlilit tentakel milik Magoichi.
Sementara itu, Kojuuro berjalan ke dalam kurungan tempat dimana malaikat tahanannya berada. Kojuuro terhenti di depan Sasuke yang tertidur pulas. Dibawa sebotol kecil berisikan air dingin bersamanya kemudian dibuka penutup botol tersebut lalu menumpahkan air dingin tersebut ke wajah Sasuke.
"UWAAA!" Sasuke berteriak bukan main. Dirinya langsung terlompat dan syok. Ia menoleh marah pada Kojuuro, "APA YANG KAU LAKUKAN?!" tanyanya keras dan marah.
"Bangunlah. Kita akan pergi," jawab Kojuuro dingin.
"Tunggu—kemana kita akan pergi—" ucapan Sasuke terhenti saat Kojuuro menarik kencang rantai yang mengalung di leher Sasuke dan membuat Sasuke merintih kesakitan, "Aagh!"
"Jangan banyak bicara. Yang pasti seseorang yang kau kenal," sahut Kojuuro. Sasuke terdiam kebingungan mendengarnya. "...Siapa?" bisiknya bingung.
Di lain tempat, Keiji bersama para bawahan Nekomata-nya sedang bersantai di ruang tamu. Keiji mengusap bulu masing-masing bawahannya sambil menikmati teh yang sudah dihidangkan sambil membaca buku.
"Naotora—" panggil Keiji ditengah membaca. Naotora yang dipanggil berjalan menuju Keiji dalam wujud kucing, "Miauw," Naotora mengeong pada tuannya.
"—Periksa keadaan malaikat itu. Bangunkan dia pelan-pelan," pinta Keiji. Naotora membelai manja kepalanya di telapak tangan tuannya. Keiji membelai kepala Naotora yang kemudian terjun ke lantai dan berjalan pelan menuju ruang bawah tanah. Naotora berhenti di sebuah ruangan dengan pintu yang tidak sepenuhnya tertutup yang terletak hampir paling ujung di lorong. Dengan tubuh kucingnya, Naotora dengan mudah masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia kemudian memanjat tempat tidur. Dilihatnya Hanbei yang tertidur pulas dengan napas yang agak sedikit berat karena kecapekan. Naotora berjalan menuju wajah Hanbei yang kemudian ditepuk pelan hidung Hanbei dengan bantalan kakinya yang empuk.
"Hmm...?" Hanbei membuka kedua matanya dan melihat Naotora dalam wujud kucing berbaring di depan wajahnya, "Miauw," Naotora mengeong pada Hanbei.
"...Eh!" Hanbei sedikit terkejut hingga hampir terlompat bangun. Naotora berubah wujud menjadi tubuh aslinya dan menyilang kedua tangannya, "Keiji-sama memanggil. Sebaiknya cepat bangun," ucap Naotora.
"...Ada apa..." tanya Hanbei dengan suara sedikit berat. Naotora menghiraukan pertanyaan Hanbei dan beranjak dari tempat tidur lalu berjalan keluar kamar, "Sebaiknya anda cepat bangun, Oujo-sama. Keiji-sama tidak suka dibuat menunggu—" jelas Naotora.
Hanbei sedikit menundukkan kepalanya bingung, "—Saya akan menunggu anda di luar," sambung Naotora tiba-tiba. Hanbei terdiam lalu berusaha untuk berdiri dari tempat tidur. Di luar kamar, Naotora dengan sabar menunggu Hanbei untuk keluar. Ia mengetahui sang malaikat tahanan tuannya sedikit kesulitan untuk keluar karena ia mendengar suara jatuh berkali-kali dari dalam kamar, namun hanya terdiam tak berbuat apa-apa. Naotora merenung untuk beberapa saat, "Malaikat itu—mirip sekali dengan—"
Hanbei pun akhirnya keluar dari kamar dengan kedua kaki yang sedikit gemetar dan bercak darah kering diantaranya. Naotora sedikit tertegan untuk sesaat namun kembali dingin, "Mari," ucap Naotora berubah wujud kembali menjadi kucing dan memimpin jalan keluar bersama Hanbei.
Sesampainya di ruang tamu, Hanbei terkejut melihat tamu yang hadir; salah satunya adalah wajah yang sangat familiar baginya, "Sasuke...!" panggilnya.
Keiji dan Kojuuro yang sedang berbicara satu sama lain menoleh ke arah Hanbei, "Sudah datang rupanya," ucap Keiji.
"Cherubim-mu terlihat terkejut sekali," sahut Kojuuro.
"TENTU SAJA DIA TERKEJUT KARENA MELIHATKU SEPERTI INI!" Sasuke meronta berusaha melepaskan dirinya yang diikat kencang oleh rantai. Hanbei hanya terdiam tidak berkata apa-apa melihat sepupunya dibawa dengan keadaan yang mengerikan dihadapannya, "Lepaskan Sasuke...Kumohon..." Hanbei memohon pada Kojuuro.
"Diam!" Kojuuro menarik rantai yang mengalungi leher Sasuke kencang. Sasuke pun merasa sesak, "Uhuk—uhuk!" batuknya keras.
"Sasuke!" Hanbei berusaha berlari menolong Sasuke namun karena lemahnya kedua kakinya ia tergelincir dan terjatuh ke lantai. Sasuke yang melihat kedua kaki Hanbei yang penuh luka lebam dan darah semakin mengamuk, "HEI, SHINIGAMI! APA YANG KAU LAKUKAN PADA HANBEI?!" amuknya pada Keiji.
"Uhh...tidak apa, Sasuke—Aku..ugh...baik-baik...saja..." balas Hanbei kesakitan.
"HANBEI! APA YANG DIA LAKUKAN PADAMU?! JELAS SEKALI KAU TIDAK TERLIHAT BAIK!" omel Sasuke pada sepupunya. Hanbei hanya menatap wajah Sasuke pasrah dan mulai menangis, "Uhh..."
"Lihatlah, dia baik-baik saja," seru Keiji dingin.
"APANYA YANG BAIK-BAIK SAJA?! KAU—BERANINYA BERKATA BEGITU!" Sasuke yang marah berusaha menghampiri Keiji namun ditarik oleh Kojuuro yang terus mengencangkan rantai lehernya, "Uagh!" Sasuke merintih kesakitan.
"Berisik sekali—Apa perlu kupotong mulut berisikmu itu?" ancam Kojuuro pada tahanannya. Sasuke hanya menatap marah Kojuuro. "Diam—Kau tidak tahu apa-apa tentang kami," ucap Sasuke marah.
"Ah, benar juga. Kami memang tidak tahu apa-apa..." sahut Keiji, "Tapi kami tahu satu hal pasti yang kalian tidak ketahui..." sambungnya dengan suara dalam.
"...A...apa maksudmu?" tanya Sasuke kebingungan.
Keiji terdiam sesaat lalu tersenyum lebar dengan tatapan wajah tajam, "Aku membunuh kedua ayah kalian di hadapan Mitsunari-oujosama—" serunya. Sasuke dan Hanbei terkejut mendengarnya, "Apa maksud ucapanmu itu?!" amuk Sasuke.
"Mitsunari—?!" Hanbei ketakutan bukan main.
"Tentu aku tidak lupa dengan wajahnya—wajah takutnya—menangisi kematian kedua raja—terlebih lagi—memeluk kepala ayahnya yang sudah kupenggal penuh dengan darah," lanjut Keiji dengan senyum yang semakin lebar dan menakutkan.
"TIDAK! OTOUSAMA!" Hanbei berteriak ketakutan meremas rambutnya.
"Otousama—" Sasuke menitikkan air matanya tiba-tiba, "DASAR PEMBUNUH!" amuknya menangis yang hanya dibalas Keiji dengan tawa.
"Itu adalah perintah Lucifer-sama. Tentu tidak boleh dilewatkan," ucapnya dingin membalas kedua malaikat yang menangis. Sasuke yang sudah emosi berat menggertak fokus pada Keiji, "KUBUNUH K—" belum sempat dirinya berlari menuju Keiji, perutnya ditonjok oleh Kojuuro hingga Sasuke terjatuh ke lantai.
"Sasuke!" teriak Hanbei ketakutan, "Sasuke! Sasu—" kalimat Hanbei terhenti melihat kaki Sasuke juga penuh bercak darah.
"...Sasuke...?" bisik Hanbei terkejut.
"Ugh..." Sasuke membungkuk kesakitan.
"Baru sadar rupanya, Hanbei-oujosama," seru Kojuuro jongkok di belakang Sasuke dan menarik rantai leher Sasuke kencang hingga sang malaikat sempat merintih, "Itu kulakukan demi membuat Sasuke diam, "lanjutnya mengangkat rok Sasuke hingga selangkangannya terlihat oleh Hanbei.
"LEPASKAN!" teriak Sasuke dengan wajah merah. Hanbei yang melihatnya terbengong terkejut, "...Jangan—" bisik Hanbei tidak jelas.
"Hm?" tanya Kojuuro kebingungan melirik Hanbei. Wajah sang Cherubim mulai berubah dari sedih menjadi sangat, sangat marah. Alisnya tertetuk ke bawah dan matanya menjadi tajam, "JANGAN SAKITI SASUKE!" teriak Hanbei marah pada Kojuuro.
Kojuuro dan Keiji mulai terkejut ketika melihat sesuatu yang aneh pada Hanbei—kedua bola matanya perlahan berubah warna menjadi merah, "Sial!" bisik mereka bersamaan.
"Jangan—" Hanbei berusaha bangkit dari lantai. Kedua bola matanya menjadi merah dan mulutnya menunjukkan taring-taring tajam, "JANGAN SAKITI SASUKE!" Hanbei yang mengamuk berlari ke arah Kojuuro yang menahan Sasuke erat. Hanbei mengepalkan tangan kanannya dan berusaha menonjok Kojuuro namun dihadang oleh Keiji yang menyenggol hingga menabrak lemari buku dan terjatuh lemas.
"Hanbei!" teriak Sasuke panik.
"Jadi inikah—kekuatan Cherubim bila mereka dibuat tak stabil? Merepotkan sekali," ucap Keiji berdiri jauh di depan Hanbei. Hanbei yang mengamuk kembali bangkit, "GRAAAA!" teriaknya liar.
"Keiji-sama!" para penunggang kuda berlari menghampiri tuan mereka.
"Horsemen! Dibelakang kalian!" teriak Kojuuro memperingatkan. Para penunggang kuda menoleh ke belakang mereka dan dilihatnya Hanbei yang mengamuk mengepalkan tangan kanannya dan siap menghajar mereka. Muneshige dengan cepat mengeluarkan panah dan busurnya mulai memanah ke arah Hanbei. Anak-anak panah yang dilepaskan Muneshige meleset tak mengenai sang malaikat yang mengamuk. Yoshitsugu pun mengeluarkan pedang dibalik mantelnya dan menyerang Hanbei pada bagian pinggang. Hanbei sempat mendapat luka gores kecil namun itu tak memengaruhinya dan menonjok keras Yoshitsugu dan Muneshige di wajah. Yoshitsugu dan Muneshige yang terjatuh segera ditolong oleh Fuuma dan Tenkai. Fuuma mengeluarkan neraca besi dan digoyangkan neraca itu. Tubuh dan gerakan Hanbei terdiam tiba-tiba dan sedikit bergetar, "Ugh!" Hanbei meronta berusaha bergerak namun dirasakan perlahan sakit luar biasa pada perutnya.
"Iblis pembawa neraca itu—apa yang dia lakukan...?" bisik Sasuke terkejut.
"Fuuma Kotaro adalah penunggang kuda yang cukup unik. Neraca itu adalah alat untuk mengukur langkanya pasokan makanan dan sumber daya alam—dan membuat lawannya terdiam bagai patung lalu perut mereka akan terasa kosong perlahan," jelas Keiji.
"Maksudmu—dia akan mati karena kelaparan?!" tanya Sasuke panik, "Hanbei! Jangan melawan!"
"Aaargh—Graaaa!" Hanbei semakin melawan. Tubuhnya perlahan mulai mengkerut, "HANBEI!" Sasuke berteriak memanggil sepupunya.
"Fufu, tamatlah anda sudah—Oujosama," Tenkai mengeluarkan scythe miliknya dan ditebasnya Hanbei pada bagian depan. Badannya pun terluka dan mengalirkan darah segar. Tubuh Hanbei perlahan kembali menjadi normal begitu pula dengan kedua matanya yang kembali berwarna ungu. Sasuke terdiam terkejut melihat Hanbei yang terluka.
"...Otou...sama..." bisik Hanbei perlahan terjatuh tak sadarkan diri ke lantai. Sasuke yang melihatnya menjadi marah dan mengangkat kaki kirinya berusaha menendang Kojuuro. Kojuuro yang menyadari aksi Sasuke menarik rantai leher Sasuke dan membenturkan keras kepalanya dengan Sasuke hingga jidat mereka berdarah. Kerasnya benturan membuat kepala Sasuke pusing berat dan terbaring tak sadarkan diri.
"Tidak apa dengan jidatmu itu, Kojuuro?" tanya Keiji berdiri disamping Kojuuro tiba-tiba.
"Heh, ini bukan apa-apa," balas Kojuuro. Keiji membentuk sebuah cahaya putih kecil dan diterbangkannya menuju jidat Kojuuro yang berdarah dan bersinar di sekitarnya. Sekejap, luka di jidat Kojuuro menghilang, "Terima kasih," ucap Kojuuro.
"Bukan masalah," balas Keiji melihat Hanbei dan Sasuke yang tidak sadarkan diri, "Apa yang harus kita lakukan pada mereka?" tanyanya kembali pada Kojuuro. Kojuuro terdiam tak balas namun meoleh pada Keiji. Keiji pun menoleh balik pada Kojuuro dan keduanya mulai tersenyum sinis satu sama lain.
Lain tempat kembali, Motochika mendatangi sebuah mansion tua dengan menara jam di tengah bangunan. Ia pun berjalan membuka pintu dan masuk ke dalam diikuti keempat bawahannya. Setelah masuk ke dalam, disambut dirinya dan para bawahannya oleh dua sosok yang berdiri di atas tangga besar: seorang pemuda berpakaian ala bandit; topless yang hanya ditutupi jaket kulit hitam tak berkancing dan memakai celana panjang serta boots panjang hitam, berkulit cokelat dengan wajah yang dilukis merah pada kedua pipinya, memakai ikat kepala putih dan berambut cokelat terkuncir lebar dan sasak. Dan seorang pemuda berambut kuning poni rata dengan kedua sisi yang melengkung diantara telinga, berpakaian kemeja putih lengan pendek, celana hitam pendek dan berkaos kaki putih serta bersepatu hitam, kedua tali hitam yang terpasang di kedua pundaknya dan memakai sarung tangan putih dan topi bundar hitam.
"Selamat datang di mansion Belphegor-sama—Motochika Chosokabe-sama, Sang Nebiros," sapa pemuda berambut cokelat tersenyum pada Motochika.
"Musashi Miyamoto—Seere Type. Izinkan aku bertemu dengan tuanmu segera," ucap Motochika.
"Tentu saja, Nebiros-sama. Tapi, apa anda sudah membawa 'bayarannya'?" tanya pemuda berambut kuning tersenyum.
"Bayaran? Apa maksudmu, Sorin Otomo—Admusias Type," tanya Motochika balik.
"Anda tahu peraturannya, Motochika Chosokabe-sama," ucap Sorin, "Kalau ingin mendapatkan informasi dari Belphegor-sama—anda harus siap dengan 'bayarannya'," jelasnya.
Motochika terdiam tak membalas. Diangkatnya lengan kanannya dan membuat gumpalan darah di hadapannya, "Bawa tahanan kita kemari," ucapnya.
Penjara bawah tanah Nebiros, Motonari sedang berbaring tertidur lelap. Dirinya kemudian merasa aneh dengan lantai tempat ia berbaring menjadi basah. Motonari terbangun dan dikejutkan oleh gumpalan darah yang berada di bawahnya, "A—apa-apaan ini?!" teriak Motonari panik berusaha melawan. Beberapa gumpalan darah tersebut membentuh sebuah lengan dan mendekap mulut Motonari hingga ia tidak bisa berteriak. Motonari berusaha meronta namun beberapa lengan berdarah lainnya mulai muncul dari gumpalan tersebut dan menarik tubuh Motonari ke bawah hingga ia tenggelam sepenuhnya ke dalamnya.
"Uwaa! Haah...haah..." Motonari keluar dari gumpalan darah dan berusaha mengambil napas karena sesak. Dirinya terdiam bengong ketika menyadari berada di hadapan Motochika dan bawahannya, "Dimana...ini...?" tanya sedikit sesak.
"Selamat datang di mansion-ku, Pahaliah," seru Yoshihiro yang berdiri di tengah tangga bangga menyambut kedatangan Motonari.
"Siapa kau dan—apa maumu?" tanya Motonari.
"Aku adalah Yoshihiro Shimazu, Belphegor Type," ucap Yoshihiro, "Tuanmu membawamu kemari karena dia menginginkan informasi penting," lanjutnya.
"Informasi—kau menukarkan tubuhku untuk informasi?!" amuk Motonari pada Motochika, "Menurutmu aku ini alat tukar, hah?!"
"Menurutmu kau itu apa di hadapan kami?" tanya Motochika kejam pada Motonari. Motonari terkejut dan memalingkan wajahnya tak percaya.
"Kejam sekali dirimu ini, Nebiros," Yoshihiro bertepuk tangan, "Tapi sebelum aku memberikan informasi menarik untukmu, ada kalanya kalau kau mengajak 'main' Sorin dan Musashi," ucapnya.
"Mudah saja. Oichi, Nagamasa. Bawa tahanan kita kemari dan jangan sampai ia kabur—Ranmaru, Itsuki, bersenang-senanglah," pinta Motochika pada bawahannya.
"Dimengerti, tuanku," Nagamasa dan Oichi melompat jauh dan mendarat di hadapan Motonari lalu menariknya paksa berdiri dan kembali melompat dan mendarat di belakang Motochika. Keduanya mengunci Motonari dengan kedua lengan mereka yang tangan mereka berubah menjadi senjata tajam, seketika Motonari terkejut dibuatnya. Sementara Itsuki dan Ranmaru ditinggal Motochika yang melamgkah mundur menjauh dari mereka, "Ojiisama—" panggil mereka sedikit ketakutan. Motochika hanya menggelengkan kepalanya sambil berbisik, 'Tidak apa. Bersenang-senanglah'.
"Sorin, Musashi," panggil Yoshihiro.
"Baiklah, Belphegor-sama," Musashi dan Sorin melompat dari belakang dan mendarat di hadapan tuan mereka. "Bermain dengan anak-anak kecil? Selera humor anda lucu sekali, Nebiros-sama," ejek Sorin mengeluarkan tongkat berukuran sedang.
"Jangan anggap remeh mereka, Sorin," sahut Musashi menarik pedang yang menggantung di samping kiri celananya, "Walau mereka hanya anak-anak—tapi mereka adalah Ghoul," sambungnya.
Ranmaru dan Itsuki tertunduk gemetar, "Hihi—AHAHAHAHA! AYO KITA BERMAIN, SEERE DAN ADMUSIAS!" tawa mereka kencang sambil berlari menuju Sorin dan Musashi.
"Tidak semudah itu," Musashi menghentakkan kakinya sekali. Hentakkannya membuat seluruh ruangan terdiam—termasuk orang-orang yang berada di ruangan tersebut terhenti gerakannya—dimensi waktu pun terhenti dibuatnya. Atmosfir ruangan pun ikut berubah menjadi kelabu negatif. Musashi mengeluarkan beberapa pedang dan dilemparnya pedang-pedang tersebut pada Ranmaru dan Itsuki. Pedang-pedang tersebut kemudian terhenti beberapa senti di hadapan Ranmaru dan Itsuki. Beberapa detik kemudian, seluruh ruangan pun kembali bergerak. Ranmaru dan Itsuki yang terkejut melihat beberapa pedang tepat di hadapan mereka pun menghindar jauh. Itsuki dengan wajah kejam sambil tertawa mengangkat cepat tangan kirinya, "Satoru! Gretel! Hansel! Mary!" Empat buah boneka dengan bentuk berbeda muncul di belakang Itsuki. Satoru; boneka beruang cokelat berpakaian kaos biru dan celana pendek hijau, Gretel: boneka kelinci putih berpakaian dress dan berpita hijau di telinga kirinya, Hansel: boneka kelinci putih berpakaian jaket dan syal cokelat, serta Mary: boneka kucing putih berpakaian dress kuning dengan pita biru di telinga kanannya. Keempat boneka tersebut membuka mulut mereka mengeluarkan ujung pipa pendek seperti mulut senjata api, "BUNUH MEREKA!" pinta Itsuki tertawa.
Keempat boneka Itsuki menembak ke arah Sorin dan Musashi. Sorin melaju di depan Itsuki melindungi Musashi dan mengangkat tongkatnya lalu muncul beberapa bayangan pemain orkestra dengan alat-alat musik seperti biola, harpa dan cello di belakang Sorin. "Inferno syposium!" Sorin mengayunkan tongkatnya dan para pemain orkestra mulai memainkan musik. Musik yang dimainkan sangatlah bising dan mengerikan hingga Motonari memejamkan kedua matanya kencang karena tidak kuat mendengarnya, ("Sakit sekali! Musik apa ini?!") bisik Motonari ketakutan. Not-not musik berwarna merah dan bercorak iblis mulai bermunculan dan berterbangan menuju tembakkan-tembakkan yang dikeluarkan oleh pasukan boneka Itsuki. Dihajarnya tembakkan-tembakkan tersebut oleh not-not musik yang diciptakan oleh bayangan-bayangan pemain orkestra Sorin.
"Lumayan juga, Admusias!" ucap Itsuki melepaskan boneka beruang putih yang ia peluk, "ALICE!" Boneka beruang bernama 'Alice' tersebut terbang di depan Itsuki dan membuka mulutnya mengeluarkan beberapa tembakan sama seperti boneka lainnya. Sorin kembali mengayunkan tongkatnya mengarahan not musik pada tembakan yang dilemparkan 'Alice'. Baik Sorin dan Itsuki terus bertarung dengan tawa di wajah mereka, "Hehehe—Ahahahahaha!"
Sementara itu, Ranmaru membungkuk dalam sedikit gemetar. Baju di belakangnya perlahan robek dan sayap berukuran sedang terbuat dari tulang belulang bercabang muncul. Dibentang lebarnya sayap tersebut lalu Ranmaru terbang melayang. "Heaaa!" Ranmaru mengepakkan sayapnya melemparkan butiran-butiran tulang kecil tajam pada Musashi.
"Percuma saja," Musashi meluruskan tangannya ke atas dan dimensi waktu pun terhenti kembali. Ia membuka lebar jaketnya—belasan senjata api muncul secara ajaib dan jatuh tertata rapi di antara dirinya. Diambilnya senjata api itu satu persatu menembakkan peluru melawan tulang-tulang kecil Ranmaru. Kumpulan peluru terhenti tepat di depan tulang-tulang kecil beberapa senti. Musashi kemudian melompat jauh dan waktu kembali bergerak—peluru dan tulang saling bertabrakan satu sama lain dan membuat ledakkan kecil. Ranmaru kembali mengepakkan sayapnya dan menyerang Musashi dengan tulang-tulang kecil. Musashi kembali menembakkan senjata api ke arah tulang-tulang Ranmaru.
"Hee—seperti itukah caramu, Musashi-san? Bermain dengan waktu seenaknya," ucap Ranmaru mendarat di lantai menghadap Musashi, "Sayang sekali kau tidak bergabung dalam pasukan perang tempo hari,"
"Aku? Bergabung dengan pasukan dari Motochika-sama? Berhentilah melucu," sahut Musashi dingin, "Masa kanak-kanakmu akan berhenti sampai disini," Musashi kembali menghentikan dimensi waktu dan meraih sniper rifle dari balik jaketnya. Ditembakkan beberapa peluru pada Ranmaru lalu beralih menembak ke arah Itsuki dan pasukan bonekanya.
"Musashi-kun, boleh kuberi sedikit penutup?" tanya Sorin mengayunkan tongkatnya menggerakan beberapa not musik di sekitar Ranmaru dan Itsuki. Sorin dan Musashi berdiri saling berlawanan dan meluruskan senjata mereka, "Sekarang kalian akan mati, Ghoul—Tidak ada gunanya melawan kami tanpa mengetahui kemampuan kami yang sebenarnya—Cancel!" teriak mereka serentak.
Waktu pun kembali bergerak. Ranmaru dan Itsuki terkejut melihat not-not musik melilit diantara tubuh mereka serta beberapa peluru mulai menembus tubuh mereka mengenai kepala, lengan, perut hingga kaki. Pasukan boneka Itsuki dibuat meledak hancur berkeping-keping hingga berjatuhan di sekitar lantai. Tubuh kedua anak kecil tersebut mulai mengalirkan darah dan perlahan terjatuh namun berubah menjadi gumpalan darah sebelum mengenai lantai.
"Apa?!" Musashi dan Sorin terkejut melihat apa yang terjadi. Gumpalan darah tersebut terbang mengelilingi Musashi dan Sorin yang kemudian berubah menjadi kelima boneka Itsuki lalu menggigit kencang Musashi dan Sorin hingga tidak bisa bergerak mulai dari pundak hingga kaki yang mengalirkan darah.
"Memang tidak mudah ya, Ranmaru-kun~" Musashi dan Sorin bergidik mendengar suara Itsuki di belakang mereka, "Yang namanya mengecoh lawan apalagi melawan iblis yang mampu mengendalikan waktu," sambung gadis kecil itu tertawa.
"Heh, senang sekali bisa menyamar menjadi boneka terlebih dahulu," sahut Ranmaru yang juga berada dibelakang mereka tersenyum, "Membosankan sekali jika kita bermain ketika waktu terhenti—dan disertai musik yang tidak mengenakkan," sambungnya.
"Kalian—!" Sorin dan Musashi menggertak kesal pada Itsuki dan Ranmaru yang hanya tersenyum sinis, "Trick or Treat, Oniisan-tachi?" ancam mereka dengan suara dalam bagai remaja.
"Haha! Fantastis! Sungguh luar biasa, Nebiros!" Yoshihiro bertepuk tangan keras menontonnya, "Musashi, Sorin. Kembalilah," lanjutnya. Itsuki membuka lebar kedua lengannya meraih pasukan bonekanya yang melepaskan gigitan mereka dari Sorin dan Musashi lalu memeluk Itsuki erat.
"Maafkan kami jika kalian terluka, Oniisan-tachi. Mereka tidak suka jika ada orang yang 'bermain' serius dengan mereka," ucap Itsuki meminta maaf pada Musashi dan Sorin.
"Tidak apa," Musashi mengacak rambut Itsuki, "Boneka-bonekamu itu memang berbahaya," lanjutnya tersenyum pada Itsuki. Itsuki tertawa balik membalas.
"Sorin-niisan! Musik macam apa tadi?! Merusak telinga sekali!" protes Ranmaru menutup kedua telinganya dengan jari kelingking. Sorin yang kesal mengamuk pada Ranmaru, "MUSIKKU MEMANG SEPERTI ITU! JANGAN BANYAK PROTES!" Ranmaru hanya menjulur lidah kesal tak menghiraukan Sorin.
"Baiklah, Nebiros. Kau menang. Akan kuberitahu beberapa informasi terbaru," jelas Yoshihiro pada Motochika. Motochika memberi kode pada Nagamasa dan Oichi untuk melepaskan Motonari. Setelah bebas, Motonari dirangkul oleh Motochika di pundaknya, "He—Hei! Turunkan aku!" protesnya kesal memukul Motochika.
"Berisik..." geram Motochika mendekap erat Motonari agar diam, "Bisakah kau diam untuk sebentar—sebegitu tidak inginnyakah kau mendengar kabar dari teman-temanmu?" tanyanya kesal. Motonari tertegan mendengarnya.
"Teman-temanku...?" tanya Motonari bingung. Motochika membanting Motonari di sofa dengan dirinya dan Yoshihiro berdiri di depan sang malaikat yang mulai ketakutan, "Apa maksudmu...Dimana teman-temanku?!" tangisnya mulai pecah.
"Sorin," panggil Yoshihiro.
"Saya mengerti," Sorin meraih tongkatnya dan mulai mengayunkannya anggun. Not-not musik mulai bermunculan dan berbaris memanjang di depan Motonari. Gadis berambut cokelat pendek itu agak bingung pada awalnya karena yang dilihat olehnya hanya not-not musik, namun ia mulai terkejut ketika not-not musik tersebut mulai menunjukkan gambar yang bergerak, "Uhh..." Motonari menutup mulutnya tak kuasa menahan air matanya. Terlihat olehnya: Yukimura dan Katsuie terikat di tempat tidur bersimbah darah, Mitsunari yang tak sadarkan diri dengan tubuh penuh dengan bekas gigitan, juga Hanbei dan Sasuke yang terbaring lemah di lantai.
Tubuh Motonari mulai gemetar sembari dirinya berlinangkan air mata. Yoshihiro menghapus not-not musik tersebut dan berkata, "Baiklah. Serahkan bayarannya,"
"Ba—Bayaran?!" tanya Motonari menangis, "Bayaran apa maksudmu?! Aku tidak ingin menyerahkan tubuhku begitu saja!"
"Baiklah, Motochika. Kau benar. Aku menyerah. Malaikatmu memang sulit diatur," ucap Yoshihiro mengangkat tangannya, "Kurasa akan lebih baik jika 'tuanmu' harus turun tangan," lanjutnya tertawa.
"Apa—" Motonari terdiam melihat lengannya diraih Motochika kemudian ditariknya kencang. Posisi Motonari kini berubah menjadi duduk diatas Motochika, "Tu—tunggu!" protesnya ketakutan.
"Kau hanya diam dan melihat saja, Yoshihiro Shimazu," jelas Motochika mengangkat rok Motonari. Motonari yang menyadarinya berusaha menutup kembali roknya namun kedua lengannya terkunci erat tiba-tiba oleh satu tangan Motochika.
"Baiklah, baiklah. Aku menurut saja," Yoshihiro tertawa sambil berjalan menjauh, "Lagipula, ini cukup adil. Kuberikan informasi menarik, dan harus dibayar setimpal," lanjutnya melirik pada Motonari yang ketakutan.
"Lepaskan aku—MFFFH!" ucapan Motonari terhenti ketika mulutnya dimasuki dua jari tangan Motochika, "DIAM!" amuk sang Nebiros. Motonari yang terkejut menatap mata Motochika ketakutan.
"Nebiros—Bukan, Motochika," panggil Yoshihiro, "Tangani dia dengan lembut—Agar tidak bisa kabur darimu," jelasnya.
"Ah—iya, benar juga," Motochika mulai tertawa lalu mengecup pipi Motonari, "Kalau kau mengamuk, itu akan membuatku semakin berbuat kasar padamu," bisiknya dalam di telinga Motonari. Motonari langsung bergidik mendengarnya.
"Kita mulai saja, Motochika," ucap Yoshihiro duduk di depan Motochika dan Motonari, "Cepatlah membayar," lanjutnya menyilang kedua kaki.
"Motonari," Motochika menggerakan tangannya menuju selangkangan Motonari hingga sang malaikat bergidik ketakutan, "Shh shh...tenanglah, Motonari," bisik Motochika.
"Mffh!" Motonari berusaha berteriak namun Motochika mendorong dalam dua jari tangannya, "Motonari—dengarkan aku. Jadilah penurut untuk sekarang. Aku akan baik padamu," ucap Motochika berusaha menenangkan Motonari.
("Bagaimana bisa aku menuruti orang yang menyetubuhiku dengan paksa?!") pikir Motonari menangis deras.
"Motonari—" Motochika menjilati telinga kanan Motonari, "Aku serius—Kau ingin hidup dan bertemu dengan teman-temanmu lagi, bukan?" lanjutnya. Mendengarnya, Motonari mendapati dilema—antara patuh dan tidak patuh. Motonari memikirkannya sambil membayangkan wajah bahagia teman-temannya.
("Katsuie...Yukimura...Sasuke-oujosama...Hanbei-oujosama...dan...Mitsunari...") Motonari yang sedih dan takut pun menyerah dan membuka kedua kakinya lebar memberi ruang pada tangan Motochika yang berusaha merabanya.
"Penurut sekali malaikatmu itu, Motochika," puji Yoshihiro memperhatikan selangkangan Motonari, "Warna yang bagus," godanya pada Motonari. Motonari hanya memalingkan wajahnya jijik dari Yoshihiro.
("Aku...aku sebenarnya tidak mau—") Motonari berpikir sambil menangis, ("Tapi demi teman-temanku, aku harus—") Motonari terkejut ketika merasakan jari Motochika masuk ke dalam dirinya, "AAH!"
"Tenanglah—ini tidak akan sakit," bisik Motochika memasuki jarinya dalam. Malaikat yang disekapnya berusaha menahan dirinya untuk tidak berteriak namun usahanya sia-sia karena jari Motochika sudah mengenai bagian terdalamnya, "Aagh!" Motonari berusaha melepaskan cengkraman Motochika yang mengunci kedua tangannya namun terkejut ketika merasakan sesuatu yang cair mengalir keluar darinya.
"Lihatlah. Tajamnya kuku kedua jari tanganku yang masuk ke dalam dirimu membuatmu berdarah dari dalam," bisik Motochika mengoles darah mengalir dari bagian vital Motonari dengan ibu jarinya. Malaikat muda yang disekap hanya bisa menangis merasakan bagian vitalnya mengalirkan darah dimainkan seenaknya oleh pria tua pengendali boneka.
"..." Motochika melepaskan cengkramannya yang mengunci kedua tangan Motonari dan terkejut karena tiba-tiba tangan kanan Motonari menarik kepalanya maju hingga wajah mereka sangat berdekatan, "...Cepatlah—Aku sudah tidak tahan...!" desah Motonari memohon sambil menangis pada Motochika.
"...Sorin. Musashi," seru Yoshihiro. Sorin dan Musashi segera membungkuk dan menghilang dalam sekejap. Sementara itu, Motochika melirik pada Nagamasa dan Oichi memberi kode untuk diberi waktu privasi. Nagamasa dan Oichi membungkuk lalu pergi bersama Ranmaru dan Itsuki. Kini, di ruangan tersebut hanya ada Yoshihiro, Motochika dan Motonari.
"Wow, Motochika. Dia sudah seperti bonekamu saja," komen Yoshihiro terpesona, "Andai aku bisa memiliki malaikat seperti dia," lanjutnya.
"Dia memang bonekaku," Motochika menarik pelan keluar jarinya lalu membaringkan Motonari di sofa sembari membuka resleting celananya. Ia diam sesaat di antara selangkangan Motonari dan masuk perlahan, "—Dan aku adalah tuannya," sambungnya memasuki penuh ke dalam Motonari.
"Aah!" Motonari mendesah keras saking terkejutnya hingga mencengkram pundak Motochika kencang, "Ah..uh...Ne...Nebiros...sama..." ucapnya lemas.
"Motonari..." Motochika melepas topengnya dan melemparnya ke atas meja di sebelah sofa tempat mereka bercumbu lalu mulai bergerak masuk keluar dalam Motonari, "Aah—ah!" Motonari mencengkram pundak Motochika sekaligus mendesah kencang. Sang malaikat merasa "hilang" untuk beberapa saat lalu kembali tersadar melihat wajah Motochika. Motonari mengangkat tangan kanannya dan meraih pipi Motochika yang retak lalu mengelusnya pelan.
"Maafkan aku—" bisik Motonari menghasut Motochika.
"..." Motochika meraih tangan kanan Motonari dan dipegangnya erat, "Jangan kau pikir aku bisa terhasut dengan kamuflase-mu!" Motochika mendorong kencang ke dalam hingga Motonari terjerit kesakitan, "Aargh!"
"Seseorang yang egois sepertimu—" Motochika menarik tangan Motonari mendekati mulutnya, "—Tidak pantas untuk dibebaskan begitu saja," lanjutnya membuka mulutnya lebar lalu menggigit tangan Motonari kencang hingga berdarah langsung.
"GYAAAAAAAAA!"
"Hah..!" Sasuke terkejut bangun merasakan dadanya tiba-tiba merasa sesak, ("Siapa...tadi...? Motonari...kah...?") pikirnya meremas rambut dan kepalanya pusing.
KRIEK
"Eh?" Sasuke merasakan lantai yang ia duduki empuk dan lembut lalu melirik ke bawah. Terdapati dirinya terbaring di sebuah ranjang putih besar. Melihat sekitar, dinding batu bata dan hanya disediakan penyinaran lilin. Sasuke menoleh ke kanan dan dilihatnya Hanbei yang terbangun, "...Sa—suke?" panggil Hanbei sedikit sempoyongan.
"Hanbei—kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke membantu Hanbei bangun, "Apa yang terjadi padamu...?"
"..." Hanbei menatap Sasuke kosong, "Apa maksudmu? Aku tidak mengerti..." tanyanya heran.
"Eh?! Kau tidak ingat sama sekali?!" Sasuke terkejut. Hanbei hanya memiringkan kepalanya bingung. Sasuke meraih dua pundak Hanbei sambil menggoyahkannya, "Sungguh kau tidak ingat apa-apa..?" tanyanya sekali lagi.
"Benar—Uhh! Pundakku sakit, Sasuke—" rintih Hanbei kesakitan.
"Maaf—" Sasuke melepaskan tangannya dari pundak Hanbei lalu terdiam melihat pundak sepupunya mengalirkan darah. Hanbei yang ikut melihat mulai gemetar.
"Ah—ini...sejak kapan?" tanya Hanbei mulai menangis, "Sasuke—katakan...apa yang terjadi padaku..." lanjutnya gemetar.
"Itu—"
"Oh, sudah sadar kalian?" seru Kojuuro di depan pintu kamar bersama Keiji yang bersender pada dinding.
"Kalian lagi—!" geram Sasuke melindungi Hanbei di belakangnya, "Apa mau kalian?! Belum puaskah kalian untuk menyiksa kami?!"
"Maaf—tapi kata 'menyiksa' itu sangat sia-sia di kosa kata kami," balas Keiji menggaruk kepalanya malas, "Untuk apa kami menyiksa makhluk memalukan seperti kalian?" Sasuke yang mendengarnya sudah terbakar emosi namun ditahan oleh Hanbei agar tidak mencari gara-gara.
"...Baiklah..." ucap Hanbei berusaha memberanikan diri.
"Kojuuro Katakura—Executioner Type—" sahut Kojuuro pada Hanbei.
"...Kojuuro-sama dan...Keiji-sama..." sambung Hanbei gemetar, "Apa yang kalian inginkan dari kami?" tanyanya.
Kojuuro dan Keiji bertukar pandang sesaat lalu kembali menghadap kedua malaikat tahanan mereka, "Kami sebenarnya ingin mempertemukan kalian—dengan aman dan sentosa," jelas Kojuuro.
"Sungguh?!" Sasuke dan Hanbei mulai tersenyum senang mendengar.
"Ya—" ucap Keiji sambil mengeluarkan kain diikuti Kojuuro melakukan hal yang sama, "Sayangnya kalian bersikap kasar pada tuan kalian—"
"E—" Sasuke dan Hanbei terdiam sesaat karena tiba-tiba Kojuuro dan Keiji hilang begitu saja dari hadapan mereka, "Di...dimana mereka...?" tanya Sasuke.
"Entahlah, Sasu—Hyaaa!" Hanbei terkejut karena penglihatannya mendadak gelap akibat seseorang menutup kedua matanya.
"Hanbe—MMFFH!" ucapan Sasuke terhenti ketika sebuah kain mengikat diantara kedua bibirnya. Kedua malaikat tersebut kemudian dipegang erat kedua tangannya lalu dibanting terlentang di atas tempat tidur. Sasuke sedikit menoleh ke atas melihat Kojuuro yang menindih dirinya.
"Sungguh perilaku yang memalukan ketika kalian tidak patuh pada tuan kalian—" ucap Kojuuro menindih kencang Sasuke. "Mmmffh!" Sasuke berusaha meronta.
"Sa—sasuke?!" tanya Hanbei terkejut.
"Kau tahu, Kojuuro? Bila ada peliharaan tidak patuh pada tuannya?" tanya Keiji yang menindih Hanbei keras, "Uuhh...!" Hanbei merintih kesakitan.
"Tentu saja, Keiji," balas Kojuuro yang mendekati wajahnya di telinga Sasuke diikuti Keiji melakukan hal yang sama pada Hanbei,
"Kami akan 'menghukum' kalian," bisik Keiji.
"Tenang saja—kalian akan 'dihukum'— sangat dekat satu sama lain," lanjut Kojuuro.
Sasuke dan Hanbei yang mendengarnya menjadi sangat, sangat ketakutan, "Hentikan! Kami mohon, hentikan!" teriak Hanbei.
"Mmffh—" Sasuke berusaha meronta namun tidak bisa akibat mulutnya yang ditutupi kain.
"Sasuke—kau lihat mereka?" tanya Kojuuro yang mendekap erat Sasuke menunjuk pada Keiji yang sedang menyetubuhi Hanbei dari belakang di hadapan mereka, "Lihatlah bagaimana Hanbei 'menelan' dalam Keiji—"
"Ah—hentikan—Aah!" Hanbei mendesah keras seiring Keiji bergerak di dalamnya.
"..." Sasuke hanya terdiam tak bisa berbuat apa-apa melihat sepupunya disetubuhi iblis dihadapannya. Ia hanya memalingkan wajah menghindari skenario yang tidak diinginkan.
"Heh, kenapa menghindar? Apa karena aku belum 'bergerak'?" tanya Kojuuro yang mulai bergerak di dalam Sasuke hingga Sasuke terbelak, "MMFFH!"
"Aah—Keiji-sama—Hentikan!" teriak Hanbei memohon.
"Hukumanmu belum usai," Keiji mendorong dalam hingga menyentuh bagian terdalam Hanbei, "Hyaa!" desahan Hanbei semakin keras.
"Mmmffh!" Sasuke meronta seiring Kojuuro bergerak di dalamnya. "Apa ini—kau semakin 'sempit', Sasuke—" bisik Kojuuro sedikit mendesah, "Ingin sekali kau kumasuki?"
"Mmmfh!" Sasuke bergidik merasakan Kojuuro menyentuh bagian terdalamnya.
"Hanbei—kenapa semakin lama semakin 'kecil'? Kau senang kumasuki dengan kasar?" tanya Keiji yang terus memasuki Hanbei.
"Bu—bukan—Ah!" jawab Hanbei setengah meronta.
"Hei, Keiji," panggil Kojuuro selagi bergerak di dalam Sasuke, "Kau tahu bagian menarik jika melihat dua malaikat 'dikotori' pada saat yang bersamaan?" tanyanya sinis.
"Ah—benar juga, Kojuuro—" Keiji mengangkat dagu Hanbei begitu pula dengan Kojuuro pada Sasuke.
"Kalian berdua—berciumanlah," pinta Keiji dan Kojuuro bersamaan.
"Apa?!" Hanbei terkejut mendengarnya juga Sasuke yang kedua bola matanya mengecil terkejut.
"Kalian ingin kami 'hukum' lebih keras—atau kami ringankan, hm?" tanya Keiji dingin mendorong lebih dalam pada Hanbei, "Aah—" Hanbei mendesah sambil menatap Sasuke yang masih terkejut. Keduanya merasa sangat ketakutan namun juga pasrah disaat yang bersamaan. Menyerah, Sasuke mendekati wajahnya pada Hanbei. Hanbei terdiam untuk beberapa saat lalu menarik lebar kain yang menutupi mulut Sasuke dengan giginya lalu mengecup lembut bibir Sasuke,
"...Sasuke..." ucap Hanbei pelan. Sasuke tidak merespon namun mulai mengecup bibir Hanbei. Keduanya kemudian mulai mencium bibir satu sama lain dengan saliva mereka yang mulai mengalir dari mulut masing-masing.
"Hanbei—mmhh—" bisik Sasuke di tengah ciumannya, "Ternyata mulutmu manis juga—"
"Nnhh—Kau juga—Sasuke—" Hanbei memainkan lidahnya di mulut Sasuke, "Rasanya—seperti buah beri—nnhh—"
Kojuuro dan Keiji yang melihatnya tersenyum lebar lalu mendorong sangat dalam ke dalam kedua malaikat mereka, "Gadis-gadis pintar,"
"AAH!" Sasuke dan Hanbei melepaskan ciuman mereka terkejut lalu meremas rambut kedua 'tuan' mereka kencang, "Keiji-sama!—Kojuuro-sama!" desah mereka keras.
"Bagaimana rasanya—mencicipi satu sama lain?" tanya Keiji dan Kojuuro menjilati leher kedua malaikat mereka, "Ahh—hangat sekali di dalam," ucap mereka sedikit mendesah.
"Uhhn—" Sasuke berusaha menahan diri untuk berteriak.
"Keluarkan saja suaramu sekeras mungkin," Kojuuro mulai menggigit leher Sasuke hingga berdarah, "AAH!" Sasuke dibuat teriak karenanya.
"Sasuke?!" Hanbei berteriak panik.
"Tenang saja, Hanbei—" Keiji membuka mulutnya lebar, "Aku juga ikut memberimu 'hadiah'," ucapnya langsung menusuk leher Hanbei dengan taringnya hingga berdarah.
"HYAA!"
Istana Lucifer; Tadatsugu sedang merapikan dasi dan jasnya, menghiraukan Mitsunari yang sedang tertidur pulas sementara tuannya sedang melihat keluar jendela dengan tubuh berototnya tak berbaju dan hanya mengenakan celana panjang.
"Saya permisi dulu, tuanku," ucap Tadatsugu melangkah keluar.
"Tadatsugu," panggil Ieyasu. Tadatsugu menghentikan langkahnya dan terdiam menoleh ke arah tuannya.
"Sekali lagi kau menyentuh dia tanpa izinku—" Ieyasu menoleh kepada Tadatsugu dengan tatapan tajam mengancam, "Aku tidak segan-segan untuk membunuhmu," lanjutnya.
Keadaan hening untuk beberapa saat hingga Tadatsugu kembali melangkah dan berjalan keluar kamar,
"Dimengerti, tuanku,"
TO BE CONTINUED
17 halaman—cukup memuaskan! Sudah lama tidak mengetik sepanjang ini (karena 10 halaman saja kuanggap sedikit. SEDIKIT SEKALI). Huaaa apa yang kulakukan pada karakter-karakter ini?! Lalu—Bruuh! Threesome-nya kacau! Sudahlah—suka-suka saya! Tapi—ini so far—kok-*gelindingan stress*Otak saya lagi kenapa ya ngetiknya ampe begini? *pusing* Lalu, battle Itsuki-Ranmaru vs Musashi-Sorin juga panjang sekali-4 halaman, ckckck. Cakep cakep...gelap *mojok* DAN TIDAK ADA BAHASA YUNANI SAMA SEKALI DI CHAPTER INI-Lumayan, hemat pikiran dulu (Karena nge copy-paste gugel trenslet di laptopku agak susah)! Oke, cukup sekian dulu.
R & R beserta KriSar-nya, pembaca! Sampai bertemu di chapter berikutnya!
Kompres kepala pakai plastik isi es,
Kichikuri61
