"L'Amore, La Morte E Il Gudizio"
A Sengoku Basara Fanfic
Language: Bahasa Indonesia
Rate: M
Genre(s): Alternate Universe - Angels and Demons, Supernatural, Fantasy, Mature, Violence, Psychological, Gender Bender, Romance
Pairings: IeMitsu as the main (Additional(s): DateSana, ChikaNari, KojuSasu, KeiHan, SaKatsu)
Warning(s): 2P!Characters, Heavy Sexual Content & Violence?
"Chapter 6: Reunion"
"Kemarin kau terlihat sangat menyeramkan, Keiji," Kojuuro berseru pada Keiji yang sedang berjalan bersama di sebuah hutan gelap yang dipenuhi pepohonan tak berdaun. Bulu sayap hitam yang tak terhitung jumlahnya berterbangan di sekelilingi kedua iblis kematian tersebut.
Keiji melirik pada sang algojo membalas ucapannya, "Hmph. Itu tidak seberapa," ucapnya sebentar memikul scythe di pundak kirinya. "Kau juga terlihat menyeramkan sekali, Kojuuro,"
"Heh, kita sebagai iblis kematian memang harus terlihat menyeramkan di depan mereka yang ingin dihakimi," balas Kojuuro tertawa pelan dan hanya dibalas diam oleh Keiji. Keduanya terdiam cukup lama selama berjalan hingga akhirnya Kojuuro memulai pembicaraan lebih dulu:
"Setelah kupikir-pikir—Malaikatmu mirip sekali dengan 'dia'," ucapnya.
Keiji melirik kembali ke arah Kojuuro, namun kini tatapan matanya yang terlihat tak peduli berubah menjadi tatapan tajam dan menakutkan seolah berkata: 'Jangan ucapkan itu'.
"Apa? Aku hanya membicarakan fakta," Kojuuro tertawa pelan, "Lagipula, 'dia' sudah mati, Keiji. Lupakan saja," lanjutnya kini serius pada dewa kematian itu. Sang dewa pencabut nyawa itu hanya diam tak membalas. Kedua matanya tertutupi poni yang terus berhembus akibat angin kencang yang muncul tiba-tiba dari arah berlawanan. Tak lama kemudian, mereka menemukan sebuah sungai panjang di ujung hutan tempat mereka menghentikan langkah. Dilihatnya seorang pria dan wanita berjubah cokelat panjang menutupi tubuh mereka berdiri di atas sebuah perahu tua cokelat kecil. Sebuah dayung terlihat digenggam erat oleh iblis wanita tersebut.
"Selamat datang di sungai Styx—Kojuuro-san dan Keiji," sapa iblis pria membuka tudungnya dan menunjukkan wajah mudanya dan penuh luka juga berambut cokelat pendek dengan bagian terkuncir di bagian belakang atas kepalanya dan berpupil merah, "Kalian ingin pergi kemana?"
"Toshi, kenapa kau harus bertanya lagi jika kau tahu tujuan kami?" Keiji menghela napas.
"Toshiie Maeda, Sang Charon—Tentu saja kami ingin pergi menuju tempat para pengoleksi jiwa," ucap Kojuuro mengingatkan iblis pria bernama 'Toshiie Maeda' itu.
"Haha! Tenanglah, Keiji. Aku hanya bercanda! Tidak perlu dibawa serius seperti itu," Toshiie tertawa lebar.
"Inuchiyo-sama, jangan terlalu banyak tertawa. Nanti suara anda bisa rusak," seru iblis wanita berambut cokelat sepundak terlilit bandana dengan pupil merah pada wajahnya, berdiri di belakang Toshiie, khawatir.
"Tenanglah, Matsu! Aku memang penuh dengan semangat!" Toshiie berusaha membuat Matsu untuk berpikir positif. "Nah, Keiji dan Kojuuro-san, serahkan bayaran kalian,"
Kojuuro melirik ke arah Keiji dengan tatapan bingung, "Hei, apa maksud dengan semua ini? Keluarga tetap minta bayaran?" tanyanya bingung pada kawannya.
"Begitulah," Keiji mengacak isi kantongnya berusaha mengeluarkan sesuatu. Toshiie sudah merasa tidak sabar bagai orang bermata hijau ketika mendengar suara koin-koin saling bertabrakan satu sama lain hingga mengeluarkan bunyi:
"CLING CLING"
Keiji mengeluarkan tiga buah koin tua silver bergambar dua jangkar dan satu tengkorak kepala, "τρίαοβολός νομίσματα. Είναι αυτό αρκετό? (Tiga buah koin Obolus. Apa ini cukup?)" tanyanya sambil menyerahkan ketiga koin tersebut pada Toshiie. Sang Charon meraihnya cepat dan tertawa bahagia melihat koin-koin tersebut kini berada di tangannya, "Tentu saja, Keiji! Untuk keponakan tercinta, apa yang tidak cukup~?" ucap Toshiie mengganggu Keiji. Sang dewa kematian yang mendengar ucapan pamannya langsung memasang wajah kesal.
"Inuchiyo-sama! Berhentilah mengganggu Keiji! Maafkan kami, Kojuuro-san—Sudah lama juga kami tidak mendapat pengunjung," Matsu membungkuk minta maaf pada keponakan beserta kawannya itu.
"Tidak apa, Matsu-sama. Suami anda memang orang yang penuh dengan semangat," balas Kojuuro tenang melirik Keiji yang masih kesal.
"Tapi tumben sekali, Kojuuro-san dan Keiji ingin mengunjungi para kolektor. Terutama setelah kemenangan Ieyasu-sama mengalahkan Hideyoshi Toyotomi dan Shingen Takeda. Kalian jadi sering datang ke sana," Matsu bertanya penasaran.
Keiji dan Kojuuro segera menaiki perahu mereka, "Sebentar lagi kami akan bertemu seseorang setelah ini, Matsu-neechan. Maka dari itu, kami sering berkunjung ke tempat para kolektor," balas Keiji pada bibinya.
Toshiie mulai menenggelamkan dayungnya ke dalam sungai lalu digerakkan pelan,
"απολαύσετε το ταξίδι σας (Selamat menikmati perjalanan)," ucapnya sembari perahu miliknya mulai bergerak dan berlayar dari tengah sungai.
"Eh?! Kalian menahan malaikat dari Surga?!" tanya Toshiie dengan sangat terkejut ditengah aktifitas mendayungnya. "Hebat sekali kalian—Apa mereka datang dari keturunan bangsawan?"
"Ya. Milikku adalah putri pertama dari Shingen Takeda sedangkan keponakan kalian ini mendapati putri pertama dari Hideyoshi Toyotomi," jelas Kojuuro sambil menunjuk ke arah Keiji.
Toshiie terkejut mendengar penjelasan Kojuuro, "Dua orang putri?! Tidak bisa dipercaya—" ucapnya terkagum-kagum masih mendayung.
"Siapa nama mereka? Sasuke Sarutobi dan Hanbei Takenaka, kah?" tanya Matsu yang duduk di hadapan kedua penumpangnya.
"Anda hebat sekali, Matsu-sama. Apa anda terus meneliti dunia kita yang terlalu ramai dan berisik penuh dengan jeritan menyiksa melalui kupu-kupu neraka?" Pujian Kojuuro membuat Matsu tersipu malu hingga wajahnya memerah.
"Ahaha, jangan memujiku begitu, Kojuuro-san," Matsu memegang pipi kanannya masih tersipu, "Memang benar saya dan Inouchiyo-sama jarang keluar dari sungai ini—Tapi seharusnya anda memuji Nouhime, bukan saya, karena ia telah menunjukkan dunia luar pada kami," lanjutnya.
"Baiklah, kita sudah sampai," Toshiie menghentikan perahunya tepat di depan sebuah pintu gerbang besar yang terbuat dari kayu. Di depan gerbang tersebut, seorang wanita berambut hitam yang dikonde berdiri dengan eloknya mengenakan gaun tanpa lengan berwarna hitam ditambah renda merah dengan kedua kaki yang terkotori tanah dirantai dan dikelilingi kupu-kupu hitam berterbangan di sekelilingnya. Wanita itu berjalan mendekati perahu Toshiie lalu bertekuk lutut hormat pada kedua iblis dihadapannya, "Kami menunggu kehadiran anda berdua, Keiji dan Kojuuro," sapa wanita tersebut.
"Senang bertemu kembali dengan anda, Hypnos-sensei," balas Keiji mengangkat kaki keluar dari perahu diikuti Kojuuro lalu berjalan cuek melewati wanita yang dipanggil 'Hypnos' itu.
"Guru—tidak perlu sesopan itu. Mari berdiri," Kojuuro membantu Nouhime berdiri lalu wanita itu tersenyum ramah pada Kojuuro, "Senang kau tidak lupa dengan gurumu ini, Kojuuro," Kojuuro membalas senyumannya dengan sama.
"Nou~ Jaga Keiji dan kawannya ini, ya~" teriak Toshiie dari atas perahu.
"Inuchiyo-sama, anda jangan sering mengganggu mereka," Matsu tertawa dari kejauhan.
"Huh, sejak kapan kita berteman?" sindir Keiji yang hanya dibalas dengan angkat bahu oleh Kojuuro.
"Aku tidak yakin," sang Algojo tertawa.
Nouhime memimpin jalan diikuti Keiji dan Kojuuro di belakangnya. Dibuka pintu gerbang oleh wanita yang dipanggil 'Hypnos' sebelumnya oleh salah seorang muridnya. Ruangan berukuran sedang yang hanya berisi rak-rak yang penuh dengan ribuan botol kaca berisi sebuah bayangan putih dan berwajah sedih sambil bersenandung isak tangis.
"Selamat datang di 'Hanakisou'," sapa Nouhime pada Keiji dan Kojuuro, "Semua arwah yang kalian cari ada pada kami," lanjutnya tersenyum.
Kojuuro melangkah masuk lebih dulu lalu diikuti Keiji dari belakang, "Hebat sekali, guru. Tempat ini tidak pernah berubah," ucapnya sambil memperhatikan botol-botol kaca yang tersusun rapi pada rak.
"Tentu saja, kalau tempat ini berubah—Aku bisa kebingungan untuk menyimpan seluruh botol kaca ini," seru seorang pria paruh baya; bertubuh besar mengenakan kemeja putih panjang dengan lengan bergelembung di dekat pergelangan tangannya dan memakai celana panjang merah dan bersepatu boots panjang hitam, berwajah tegas dan berkumis, juga rambut pendek cepak hitam dan terkuncil kecil di bagian atas belakang kepalanya; berduduk santai di semacam meja kerja terletak pada ujung tengah ruangan. Nouhime berjalan menghampiri pria tersebut lalu berpangku diatas pahanya dan menyandarkan tubuhnya pada pria yang ia duduki. Kupu-kupu yang berterbangan mengelilingi Nouhime akhirnya ikut berterbangan mengitari pria tersebut.
"Kazusanosuke-sama, saya merasa ngantuk sekali..." bisik Nouhime pelan pada pria itu. "Izinkan saya untuk—" Nouhime langsung jatuh tertidur di pundak sang pria.
Pria yang menjadi tempat tidur Nouhime itu hanya menghela napas pasrah, "Hhh—maafkan Nou. Tapi memang seperti inilah dirinya," jelas pria itu sambil mengelus lembut kepala Nouhime yang tertidur pada Keiji dan Kojuuro yang sedang melihat-lihat botol-botol kaca yang terpajang.
"Thanatos-sensei, anda tidak pernah membersihkan tempat ini?" tanya Keiji sedikit menyindir menggesekkan jarinya pada rak yang kemudian diketahui rak tersebut berdebu setelah melihat serbuk debu pada jarinya, "Tempat ini menjadi lebih berdebu sejak terakhir kali kami kemari,"
"Guru Nobunaga, hiraukan saja sindiran Keiji tadi. Keadaan dia sedang tidak baik," sambung Kojuuro. "Lebih baik anda menyanyikan lagu nina bobo pada istri anda itu,"
"Kau juga diam-diam menyindirku, Kojuuro—" balas Nobunaga tertawa, "Dan ada perlu apa kalian kemari? Beginikah kalian sekarang? Tidak rindu dengan guru kalian yang mengajari kalian sejak kalian masih muda?"
"Heh—Guru yang sekarang tambah tua—Buat apa dirindukan?" ejek Kojuuro sambil meraih satu botol kaca dan ditarik dari rak. Terlihatnya dari dalam botol, sebuah wajah yang memasang ekspresi menangis dan berteriak histeris kencang dihadapan sang algojo.
"Apakah itu 'Kasuga', Kojuuro?" tanya Keiji ikut meraih sebuah botol kaca berisi cahaya putih yang ikut memasang ekspresi dan teriakan yang sama seperti arwah yang disimpan di dalam botol kaca yang dipegang Kojuuro. "Kelihatannya dia tidak suka dengan kita. Karena 'Tsuruhime' merasa demikian dan terus berteriak padaku meminta dirinya untuk dikeluarkan," lanjutnya sambil menunjukkan botol kaca berisi jiwa berteriak histeris yang ia raih pada Kojuuro.
"που μου δωρεάν! που μου δωρεάν! (Bebaskan aku! Bebaskan aku!)" seru Nobunaga pada Keiji dan Kojuuro, "Itulah kalimat yang para arwah ini ucapkan,"
"Karena sekarang ruangan ini penuh dengan para malaikat yang sudah tercabut nyawanya," Keiji menyeringai, "Dan karena kita yang mencabut nyawa mereka—Kojuuro,"
Kojuuro membalas dengan tertawa sembari menaruh botol kaca berisi 'Kasuga' kembali pada rak, "Mereka marah. Heh, maaf saja—kami tidak merasa bersalah sama sekali," ucapnya di antara tawanya.
Para arwah yang terkunci di dalam botol-botol kaca tersebut mulai berteriak histeris kencang namun tak dihiraukan oleh duo pencabut nyawa itu. Keiji dan Kojuuro hanya diam sambil menyeringai para arwah yang tersimpan di dalam botol tersiksa lalu terdiam saat Nobunaga berteriak kencang ke seluruh ruangan, "σιωπή! (DIAM!)"
Suara kerasnya bergema di seluruh ruangan melawan teriakan histeris para arwah malaikat hingga akhirnya bisa meredam. Nouhime pun menjadi terbangun akibatnya namun kembali tertidur bersandar di kepala Nobunaga saat sang Thanatos menepuk lembut kepalanya hingga mengundang kembali rasa ngantuknya. Melihat Nouhime tertidur pulas di pundaknya, Nobunaga tak kuasa menahan dirinya mengecup pipi Nouhime lembut dengan kedua iblis tamunya yang hanya bisa menyaksikan.
"Jadi, bagaimana keadaan Surga?" tanya Nobunaga.
"Hancur lebur menjadi puing," jawab Keiji.
Nobunaga mengangguk. "Aku lupa-Siapa yang mengambil kendali para pasukan itu? Karena aku tidak yakin mereka kerja dibawah perintahmu, Keiji," Thanatos berambut hitam itu lanjut bertanya.
"Beberapa diantara mereka adalah Naga, Alp, Succubus, Incubus, Mothman, dan beberapa Ghoul milik Motochika Chosokabe-sama" balas Kojuuro, "Mungkin karena anda jarang keluar dari tempat ini, anda kurang tahu. Tapi, dia yang menciptakan seluruh pasukan perang,"
"Hoo- beberapanya milik pengendali boneka itu?" ucapnya menopang dagu di telapak tangan kirinya, "Sudah berapa lama aku tidak melihatnya. Rindu sekali. Hei, Keiji. Bawa dia kemari lain waktu,"
"Huh, mana mungkin aku akan mengajaknya kemari," Keiji langsung menolak.
"Apa? Bukankah dulu kau dan Motochika adalah teman dekat? Kojuuro, katakan sesuatu," Nobunaga mulai bingung setelah mendengar penolakan Keiji.
"Wah wah, guru. Sepertinya, bertambahnya usia diri anda membuatmu sedikit pikun," Kojuuro tertawa.
"Berhenti menyebut nama sialan itu, orang tua. Tubuhku merinding jijik mendengarnya," ketus Shinigami berambut cokelat panjang terkuncir itu kesal. "Kami permisi dulu," Keiji beranjak keluar dari ruangan.
"Tunggu dulu—" Nobunaga menaruh keras sebuah kantong besar yang sudah diikat, "Ini adalah dua tengkorak kepala Shingen Takeda dan Hideyoshi Toyotomi yang sudah Nou kuliti dan dilepas seluruh dagingnya. Anggap saja sebagai sebuah suvenir dari kami. Lalu ini—" Nobunaga mengeluarkan sebuah kantong kecil diberikan pada Kojuuro dan Keiji.
"Apa ini?" tanya Kojuuro.
"Makanan para Ghoul—Berikan saja setengah pada Nebiros dan sisanya untuk Lucifer," jelas Nobunaga. Keiji menekan pelan kantong tersebut—dirasanya sesuatu yang lembek dan basah menyentuh kulit jarinya.
"—Daging para malaikat," gumam Keiji kecil.
"Kujamin jika para malaikat melihat ini—tenggorokan mereka bisa luka akibat berteriak kencang," Guru Thanatos tertawa pelan, "Sebagian besar adalah daging dari kedua raja,"
"Para Ghoul tentu akan menyukai ini. Kami sangat berterima kasih—Guru Thanatos," Kojuuro membungkuk hormat sementara Keiji yang tidak menghiraukan kalimat gurunya langsung saja melangkah keluar ruangan.
"Keiji—dia sedang tidak bagus?" tanya Nobunaga penasaran melihat dewa kematian itu melangkah keluar.
"Ya—" balas Kojuuro memandang Keiji dari kejauhan, "Sikapnya sedikit aneh hari ini—"
"Maafkan aku—"
Kata itu mulai terbayang di kepala Kojuuro. Sang Algojo menyipitkan kedua mata berusaha kembali mengingat kata yang ia rasa mendengarnya beberapa saat lalu,
"Otousama—"
"Otousama...maafkan aku..."
Itulah kalimat yang Kojuuro dengar—saat dirinya melihat Keiji berdiri diam disamping malaikat tahanannya tertidur pulas dengan tubuh terbalut selimut putih dipenuhi bercak darah di dalam sebuah kamar di lorong bawah tanah. Sang algojo sendiri sedang membopong malaikat tahanannya yang tak sadarkan diri di pundak kiri.
Sang Shinigami tak berkata apapun, begitu pula dengan tubuhnya yang hanya diam berdiri tegap. Wajahnya tertunduk melihat malaikat tahanannya yang menangis dalam tidurnya, "Otousama..."
"Hei, Kei—" Kojuuro yang awalnya ingin memanggil Keiji berhenti berkata saat melihat tangan kiri sang shinigami tergerak ke atas. 'Mungkinkah ia ingin menampar malaikat itu karena terus menerus memanggil ayahnya? Atau dia tidak puas menghukumnya?' Kojuuro bergumam tiada henti melihatnya.
Namun, seluruh gumaman dan pikiran dia terhapus begitu saja ketika ia melihat sesuatu yang tidak diduganya—Keiji mengelus pelan wajah Hanbei dengan tangan kanannya lalu menghapus air mata sang malaikat yang mengalir. Sang Shinigami mulai bertekuk lutut masih mengusap lembut wajah malaikat yang tertidur pulas di hadapannya.
Bola mata Kojuuro membesar ketika melihat kejadian yang sangat tidak mungkin seharusnya itu terjadi—Keiji mendekatkan wajahnya dengan Hanbei lalu mengecup keningnya pelan.
"Tidurlah kembali,"
Itulah yang Keiji ucapkan.
Itulah yang membuat Kojuuro tertegan mendengarnya.
"...Ro...Juuro...Kojuuro!"
Kojuuro tersentak dari alam bawah sadarnya. Dirinya menoleh pada Nobunaga yang memasang wajah bingung.
Nobunaga menatap sang Algojo dengan heran, "Kau kenapa? Tiba-tiba melamun seperti itu," tanyanya.
Kojuuro menggelengkan kepalanya pelan, "Aku tidak apa-apa. Maaf karena tiba-tiba saja aku melamun. Aku permisi dahulu. Semoga hari anda indah, guru," Kojuuro melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Pintu di belakangnya perlahan menutup setelah Kojuuro benar-benar menapakkan kakinya di luar ruangan, meninggalkan Nobunaga dan Nouhime di dalamnya.
"αλλόκοτος (Aneh)," bisik Nobunaga pelan, "γιατί αισθάνομαι τόσο άβολα? (Kenapa aku merasa tidak nyaman?)"
"Nhh...Kazusanosuke-sama?" Nouhime terbangun dari tidurnya.
"Nou, kupu-kupuku yang indah—Παρακολουθήστε τους. Παρακολουθήστε κόλαση. Παρακολουθήστε τα πάντα. (Awasi mereka. Awasi Neraka. Awasi seluruhnya)" suruh Nobunaga mengangkat dagu Nouhime. Nouhime yang mendengar perintahnya tersipu malu. Kedua pipinya merona merah dan kedua matanya menatap mata sang Thanatos penuh arti.
"Όπως θέλετε, Κύριέ μου (Dengan senang hati, tuanku)" Kulit pada tubuh Nouhime perlahan-lahan mengelupas diikuti pakaiannya. Serpihan yang terlepas bertransformasi menjadi kupu-kupu hitam beraura ungu. Seluruh serpihan pada tubuh Nouhime terpecah menyebar dan berubah menjadi kelompok kupu-kupu hitam dengan jumlah banyak. Kelompok tersebut berterbangan di sekeliling Nobunaga lalu mulai berpencar keluar ruangan melalui pintu gerbang yang terbuka tiba-tiba. Kelompok kupu-kupu tersebut berterbangan melewati perahu yang dinaiki oleh Kojuuro, Keiji, Toshiie dan Matsu. Keempatnya yang melihat kelompok itu terkejut kagum.
"Nouhime!" seru Matsu. "Apa yang dilakukannya?"
"Nobunaga-kou mungkin memberinya perintah, Matsu," balas Toshiie. "Memberinya perintah untuk mengawasi Neraka,"
"Toshi, kelihatannya kemampuan mendayungmu semakin buruk. Kau membuatku menunggu terlalu lama. Jadi aku pergi dulu—" tubuh Keiji mulai dikelilingi asap hitam dan mulai tenggelam di dalamnya seutuhnya. Asap itu terangkat ke atas dan mengikuti kelompok kupu-kupu tadi.
"TUNGGU—KEI—" Kojuuro menepuk pundak Toshiie, mengalihkan perhatiannya dari Keiji memasang senyum. Tubuhnya juga ikut mengelupas dan berubah menjadi sekelompok burung gagak, berterbangan mengikuti kelompok kupu-kupu dan kumpulan asap hitam yang tebal.
"KEIJI! KOJUURO! KALIAN BELUM MEMBAYAR ONGKOS PULANGNYA!" teriak Toshiie sedih di tengah sungai bersama Matsu yang hanya tertawa.
Di lain tempat; Masamune beserta Sakon dan Magoichi terbang di atas bangunan Neraka menuju istana Lucifer. Pandangan Masamune teralihkan ketika melihat sosok rubah emas besar berekor sembilan dengan bel besar melingkari lehernya, menopang seorang malaikat bersayap empat di punggungnya. Sang Incubus yang penasaran turun mendekatinya.
"Masamune?" Sakon dan Magoichi mengikuti. Masamune mendarat tepat di depan rubah tersebut diikuti Sakon dan Magoichi. Rubah itu sedikit terkejut dengan kehadiran Masamune kemudian berkata,
"Bisakah kau minggir sedikit, Masamune-kun? Aku sedang membawa tahanan manis milik Katakura-kun ini,"
Senyum menyeringai mengembang langsung di wajah Masamune,
"Jangan melawanku, 'paman' sialan," ucapnya.
"Tentu tidak, Masamune-kun. Hanya mengajarimu sopan santun," balas rubah itu tertawa.
"Yoshiaki Mogami, sang Kitsune; sedang apa anda berkeliaran di luar?" tanya Magoichi penasaran.
"Oh, nona Succubus," rubah yang dipanggil 'Yoshiaki' itu menundukkan kepalanya, "Katakura-kun baru saja kembali dari tempat Maeda-kun. Lalu dia memberiku malaikat ini untuk dibawa pulang," jelasnya membalikkan tubuh malaikat tak sadarkan diri yang dibawanya dengan ekornya.
Sakon melihat baik-baik wajah malaikat itu, "Masamune, bukankah ini kakak dari Yukimura Sanada?"
"Benarkah?" Masamune mengangkat rok Sasuke melihat isi dibaliknya; terlihat bercak darah mengering diantara selangkangannya. "Wah, Kojuuro sudah menguasai 'surganya' sendiri," ucap Masamune mengangguk sambil meraba dua paha Sasuke lalu membuka kedua kakinya lebar.
"JANGAN SENTUH APA YANG SUDAH DIMILIKI KATAKURA-KUN!" Yoshiaki mengamuk mengibas ekornya hingga menghantam wajah Masamune. Masamune dengan cepat menahan ekornya dan dicengkram kuat,
"Oi, uncle. Aku bisa lakukan apa yang kumau!" Masamune tertawa masih mencengkram kuat ekor Yoshiaki.
"Hii—Masamune-kun—Sakit sakit sakit!" rintih Yoshiaki menangis.
"Makanya, jangan berani memban—HIIII!" kalimat Masamune terhenti ketika sebuah tangan memukul kepalanya keras. Masamune yang kesakitan berlutut mengusap kepalanya lalu menoleh ke belakang melihat dua sosok yang berdiri di belakangnya, dengan wajah kesal,
"KOJUURO! JANGAN MEMUKULKU SEENAKNYA!" teriak Masamune marah.
"Anda juga jangan bermain apa yang sudah menjadi milik saya—Masamune-sama," balas Kojuuro tenang yang berdiri di sebelah Keiji yang terdiam.
"Kojuuro-san~ Keiji-san~ Tepat sekali waktunya," sapa Sakon.
"Sayangku~" Magoichi melompat memeluk Keiji yang hanya dibalasnya dengan 'tch'.
"Katakura-kun—" Yoshiaki segera menunduk pada Kojuuro, "Maafkan pamanmu ini, terlambat membawa—"
"Tidak apa, paman. Kebetulan kami semua satu arah, jadi biar aku yang mengurusinya. Paman pulang saja," balas Kojuuro menarik syal Masamune.
"Hey hey, Kojuuro! It hurts!" protes Masamune.
"γιατί δεν κλείσει αυτό το βρώμικο στόμα σου? (Bagaimana kalau anda diamkan mulut kotor anda itu?)" tanya Kojuuro dengan tatapan mengancam. Masamune yang melihatnya langsung membatu tak berani melawan.
"Yosh, Yoshiaki-san. Kami permisi dulu," ucap Sakon menopang Masamune yang masih membatu di pundaknya lalu terbang diikuti Magoichi, Keiji dan Kojuuro. Kelimanya terbang menjauh dari Yoshiaki mendekati istana Lucifer. Yoshiaki yang melihat mereka dari kejauhan hanya menggelengkan kepalanya tersenyum pelan.
Sementara itu, di istana Lucifer; Mitsunari sedang tertidur pulas di kamar Ieyasu. Tubuhnya berkeringat dan ranjangnya sedikit lengket akibat 'aktifitas' yang dilakukannya kemarin bersama sang penguasa Neraka juga pelayan setianya. Di tengah keheningan, pintu kamar Ieyasu terbuka. Sosok pria paruh baya berambut hitam terkuncir mengembang dengan sedikit beberapa helaian putih, berpakaian suit hitam, berkemeja putih dan berdasi kuning juga bersayap enam dengan tato laba-laba di setiap sayapnya dan bersepatu hitam kesat; muncul di depan pintu kamar.
Sosok itu tersenyum sambil terus melangkah mendekati malaikat yang tertidur. Ia duduk di sebelah malaikat tersebut lalu mengusap rambut yang menutupi wajahnya.
"Wajah yang indah," ucapnya meletakkan jari telunjuknya pada bibir Mitsunari lalu digeraknya pelan mengikuti bentuk dari wajah menuju leher lalu tubuhnya. Dibukanya selimut yang menutupi tubuh telanjang Mitsunari yang indah, sosok itu terpana melihat tanda matahari merah pada dada kiri Mitsunari.
"Lucifer tentu menjagamu dengan baik, eh? Nona Cherubim," bisiknya meraba dada kiri Mitsunari yang bertanda dan mulai bermain dengan putingnya. Mitsunari yang tertidur sedikit mendesah.
"Sungguh makhluk yang disayangkan," sosok itu mengangkat punggung Mitsunari dengan lengan lain lalu mengusap wajahnya di dada telanjang malaikat yang dimainkannya, "Seharusnya makhluk sepertimu bersenang-senang dengan kaum yang sama, bukan dengan kaum berbahaya seperti kami," ucapnya yang kini menjilati putingnya lalu menghisapnya.
"Nhh..." Mitsunari mendesah dalam tidurnya, "Ha..."
"Andai aku bisa memiliki malaikat seindah dirimu—" sosok itu terhenti dengan aktifitasnya merasakan sebuah tangan besar bercakar mendekati pipi kirinya dari belakang. Ia menoleh ke belakang dan dilihatnya Ieyasu dengan lengan kanannya berubah menjadi lengan berukuran besar bercakar tajam dan terbakar.
"Oh, maaf jika aku mendekati malaikatmu, Ieyasu Tokugawa," serunya tertawa.
"Menjauh sebelum aku memenggal kepalamu—Hisahide Matsunaga, sang Beelzebub," ucap Ieyasu mengancam memasang senyum.
Iblis bernama 'Hisahide' itu melepas Mitsunari dari lengannya dan menidurkannya kembali dengan tenang lalu berdiri menjauh dari malaikat tahanan Lucifer. "Ayolah, Lucifer. Tidak bisakah kau berbaginya bersama denganku? Dia bisa menjadi tambahan koleksi haremku yang paling menarik," jelasnya sambil tertawa.
"Persetan dengan haremmu, Hisahide. Mereka hanya kumpulan serangga bau," sindir Ieyasu menurunkan lengan monsternya.
"Bau?" tanya Hisahide meletakkan ibu jarinya di depan bibirnya, "Jangan menyindir pasukanku. Itu adalah ciri khas mereka," jelasnya menutup kedua mata.
"Tentu saja—bau busuk yang mematikan. Bahkan bisa melelehkan dua ratus prajurit Surga jika mereka terlalu banyak menghirupnya," sambung Ieyasu.
"Sudah kuduga dari sang Lucifer, tapi—" Hisahide menjilat sedikit ibu jarinya, "Bau malaikatmu juga tak kalah menarik. Bau Lavender yang tenang—membuatku terhipnotis untuk menikmati keindahan tubuhnya," lanjutnya.
"Dia milikku, Beelzebub. Kau sentuh dia—Kubunuh dirimu," ancam Ieyasu tersenyum sinis sementara hanya dibalas tawa kecil oleh Hisahide.
"Ieyasu-sama!" Tadatsugu berlari dan berhenti di depan pintu kamar, "Sakon-sama, Masamune-sama, Kojuuro-sama, Keiji-sama dan Magoichi-sama sudah tiba," serunya.
"Hum? Nebiros belum tiba?" tanya Hisahide.
"Beliau berkata, dia sedang menuju kemari dari tempat Yoshihiro Shimazu-sama," jelas Tadatsugu.
"Belphegor—sepertinya dia memang tidak bisa datang," Hisahide mengangguk lalu melangkah keluar melewati Ieyasu, "Tenang saja, Lucifer—Εγώ δεν θα ενοχλήσει ξανά γλυκό άγγελο σας (Aku tidak akan lagi menyentuh malaikat manismu ini)" bisiknya lanjut berjalan keluar meninggalkan Ieyasu yang terdiam di dalam kamar.
"Ieyasu-sama?" panggil Tadatsugu.
"Ah—maaf, aku tiba-tiba terdiam. Beritahu para petinggi kita akan berkumpul di ruangan besarku," pinta Ieyasu pada Tadatsugu. Sang pelayan Ghoul membungkuk hormat dan segera pergi meninggalkan tuannya. Ieyasu menoleh pada Mitsunari yang tertidur lelap. Dirinya kembali terdiam hingga akhirnya melangkah keluar dari kamar.
"Yo, Lucifer! Lama sekali!" panggil Masamune bernada kesal duduk di meja pertemuan besar menyilang kedua lengannya dengan kedua kaki naik ke atas meja.
"Masamune, gaya dudukmu sopan sekali," sindir Sakon yang ternyata melakukan sama seperti Masamune.
"Kalian berdua memang tidak tahu aturan," protes Keiji yang hanya dibalas tawa oleh Masamune dan Sakon.
"Tadatsugu, ini pemberian dari Guru Nobunaga. Di dalamnya ada daging para malaikat—dengan porsi dua per tiga adalah daging para raja. Semoga kau suka," Kojuuro memberikan bungkus kecil pada Tadatsugu yang berdiri di dekat sebuah stand bar kecil di dekat pintu masuk ruangan.
Tadatsugu yang menerimanya bahagia sekaligus malu. Wajahnya sedikit merona, "Terima kasih banyak, Algojo-sama,"
Kanbee dan Matabee dalam wujud ular melihat bungkus yang diterima Tadatsugu mendesis berusaha mendekati. Namun karena mereka melilit di kedua lengan Sakon, sang Samael merasa kesakitan akibat kencangnya lilitan.
"Kanbee, Matabee! Jangan melilit lenganku terlalu kencang!" teriaknya yang sudah duduk berusaha menahan kedua ularnya.
Keiji yang sudah duduk tenang dihidangkan teh oleh Ujimasa,
"Silahkan, Keiji-sama. English Breakfast—kesukaan anda," ucap Ujimasa menuangkan teh ke dalam cangkir.
"Terima kasih, Ujimasa," Keiji meraih cangkirnya dan meneguk teh yang dihidangkan untuknya, "Rasanya tidak pernah berubah—Seperti ketulusan hati yang dituangkan ke dalamnya," puji Keiji.
"Teh ini memang seperti anda, Keiji-sama," sambung Ujimasa berjalan menuju stand bar diikuti Tadatsugu.
"Anda bisa saja, Ujimasa," Keiji perlahan tersenyum.
"Lalu Black Velvet untuk Sakon-sama," Ujimasa membuka kaleng Guinness dan menuang ¾ isinya ke dalam gelas champagne kemudian meraih sebuah sendok dan diputar balikkan posisinya lalu menuang ¼ champagne di atas bagian belakang sendok. Setelah selesai, diletakkannya perlahan Black Velvet yang baru saja dibuat Ujimasa di depan Sakon.
"Terima kasih, Ujimasa-san~ Sampai tahu aku sedang ada mood untuk meminum ini," puji Sakon bahagia.
"Itu memang minuman kesukaan anda, benar begitu, Sakon-sama?" tanya Ujimasa tertawa.
"Hei, Keiji! Kau mau?!" tawar Sakon pada Keiji mengangkat tinggi minumannya.
"Sakon, sudah berapa kali aku harus bilang padamu bahwa aku tidak minum alkohol," balas Keiji pasrah.
"Satu oz air jeruk nipis," Tadatsugu memeras jeruk nipis yang sudah dipotong ke dalam shaker, "Satu setengah sendok teh gula berkabohidrat—kemudian dua oz gin," lanjutnya terus menuangkan bahan-bahan yang disebutnya. Ia lalu mengambil pengocok gelas berwarna perak yang sudah diisi es lalu mengocoknya. Selang berapa detik setelahnya, dituangkan isi dari pengocok tersebut dengan keadaan es yang sudah meleleh total ke dalam gelas cocktail lalu memotong kecil bagian jeruk nipis dan dicelupkan ke dalamnya.
"Silahkan, Kojuuro-sama. Classic Gimlet sebagai ucapan terima kasih atas hadiah yang telah diberikan pada saya," ucap Tadatsugu menaruh segelas Gimlet yang baru saja dibuatnya.
"Tidak perlu berterima kasih padaku, Tadatsugu," Kojuuro tersenyum.
Pintu ruang besar terbuka tiba-tiba. Motochika melangkah masuk dibantu tongkat miliknya, diikuti Ranmaru dan Itsuki dari belakang.
"Lama sekali anda, Nebiros-sama," seru Kojuuro mengangkat kecil gelas berisi Gimlet miliknya.
"Aku menyuruh Oichi dan Nagamasa untuk membawa malaikatku pulang," balas Motochika yang duduk dengan Ranmaru menarik keluar kursinya dan Itsuki yang menopang tangannya agar bisa duduk.
"Apa yang kau lakukan di tempat Belphegor?" tanya Masamune duduk menopang dagu di telapak tangan kanannya.
"Hanya memberikan kabar buruk untuknya," jelas Motochika dibukakan mantelnya oleh Itsuki, "Dia cukup histeris melihat keadaan teman-temannya,"
"Orang tua, tangkap ini," Keiji melempar kantong kecil ke arah Motochika dan ditangkapnya kantong kecil itu oleh Itsuki.
"Apa ini?" tanya Motochika.
"Makanan untuk para bawahanmu. Setengahnya adalah daging kedua raja," jelas Keiji langsung mengelap tangannya yang habis melemparkan kantong berisi daging malaikat ke mantelnya.
Motochika menoleh pada Ranmaru dan Itsuki yang mulai mengalirkan air liur dari mulut mereka. Tidak bisa dipungkiri lagi, mereka sungguh menikmati bau potongan mayat itu.
"Thanatos-sensei juga bertanya kapan kau akan kembali datang ke tempat mereka," sambung Keiji.
"Kembali berkunjung ke sana...kah?" Motochika tertunduk kecil. "Entah kapan aku akan kembali ke sana,"
"Ojiisama! Datang saja kembali ke tempat Nobunaga-sama! Buatkan teman baru lagi untuk kami!" usul Itsuki.
"Benar sekali, Ojiisama! Buatkan kami teman baru!" Ranmaru mengangguk setuju.
"Haha, kalian kan sudah ada Motonari," Sang Nebiros tertawa.
"Tapi dia seorang malaikat! Dia lebih terlihat seperti boneka Ojiisama ketimbang teman baru!"Itsuki menggebungkan pipi kesal.
"Gin, Scotch, Lada Hitam—lalu Saus Tabasco—" Ujimasa mencampur semua bahan yang ia sebutkan ke dalam sebuah gelas kaca berukuran medium lalu mengaduknya perlahan. Selesai diaduk, ditaruh gelas tersebut di hadapan Masamune.
"Spicy Sandstrom untuk Masamune-sama—Anda semakin terlihat 'liar' saja," canda Ujimasa.
"Good point, Ujimasa," Masamune tertawa, "I like your style,"
Ujimasa tersenyum membalas Masamune lalu kembali menyibukkan dirinya membuat minuman. Ia memasukkan 2 ons gin beserta ¼ ons whiskey ke dalam mixing glass yang sudah diisi es. Dikocoknya gelas tersebut hingga seluruhnya tercampur lalu dituangkan ke dalam gelas berukuran medium yang kemudian diberi hiasan lemon twist di pinggir gelas dan dihidangkan di hadapan Nebiros,
"Nikmati Silver Bullet anda, Motochika-sama," ucap Ujimasa masih tersenyum.
"Terima kasih, Ujimasa," balas Motochika.
Tadatsugu mengeluarkan sebotol gin, tequila, rum, vodka dan whiskey berukuran sedang dan menuangkannya ke dalam mixing glass yang sudah disiapkan es di dalamnya. Ia kemudian menuangkan beberapa liter darah segar mengalir kemudian mengocoknya bersama. Setelah tercampur, ia menuangkan campuran tersebut ke dalam gelas cocktail dan dihidangkan pada tuannya.
"Silahkan minuman anda, Ieyasu-sama—Bloody Long Island," jelas Tadatsugu.
"Hisahide-sama, anda mau sekalian?" tawar Magoichi mengeluarkan botol bertuliskan Dom Perignon Rose berwarna hitam dengan aura pink dan dua gelas champagne.
"Romantis sekali, wahai Succubus-ku," puji Hisahide meraih satu gelas champagne lalu dituangkan isinya oleh Magoichi.
"Semuanya," Ieyasu mengangkat tinggi gelasnya, "Aku ingin berterima kasih atas kerja keras kalian semua—karena telah membantuku menghancurkan Surga beserta kedua raja mereka—kini tidak ada lagi tempat yang disebut Surga—kedua dunia sudah kita kuasai," ucapnya berpidato diikuti para petinggi iblis yang hadir ikut mengangkat tinggi gelas mereka,
"Γεια Σου (Bersulang)"
"Hei! Jangan kabur kau!" seorang iblis berusaha mengejar seorang remaja di balik mantel bertudung di tengah Neraka membawa sebuah kantong kecil, "Kembalikan makananku, bocah sialan!"
Remaja itu terus menoleh ke belakang melihat jarak antara dirinya dengan iblis yang mengejarnya. Sang iblis marah yang mengejarnya mengeluarkan pecut dan dipecutnya remaja itu dari belakang mengenai punggungnya.
"Uagh!" Remaja itu terjatuh ke tanah memeluk kantong yang ia pegang. Rasa panik tumbuh dalam dirinya ketika iblis yang mengejarnya mulai mendekatinya dan membuka tangannya ingin mengambil kantong yang dipegangnya.
"Bocah! Kembalikan makanan—UAGH!" Sang iblis yang ingin merebut kantong dari remaja itu terhantam kepalanya oleh dua tapak kaki bercakar kecil. Menoleh ke belakang, terlihat seekor rusa betina mengamuk.
"Y_Y!" Rusa itu menghantam kepala sang iblis sekali lagi hingga berdarah lalu mendorongnya ke tanah hingga kepalanya bocor mati. Iblis itu mati seketika.
"Hahh...hahh..." Remaja yang kelelahan itu mengambil napas perlahan, "Terima kasih banyak, Oyassan," ucap remaja itu mengelus kepala rusa yang dipanggilnya 'Oyassan'.
"Y_Y" Sang rusa mengusap kepalanya manja pada telapak tangan remaja itu. Remaja itu tertawa dibuatnya.
"Baiklah, Oyassan. Kau bisa menikmati 'makananmu'. Aku harus pergi," ucap remaja itu berjalan pelan meninggalkan Oyassan yang mulai melahap iblis yang dibunuhnya itu. Ia segera berlari pelan menuju pintu kecil istana Lucifer dan membukanya perlahan kemudian masuk ke dalam. Ia pun menuruni tangga dan berjalan di lorong bawah tanah tempat para tahanan dipenjarakan. Langkahnya terhenti di depan sebuah pintu penjara dan dibukanya pintu itu. Ia pun masuk, melihat Maria dan Yoshiteru sedang bermain dengan telapak tangan mereka satu sama lain.
"Otousama, Okaasama," panggilnya pada Maria dan Yoshiteru menghampiri mereka.
Keduanya menoleh terkejut pada suara yang memanggil mereka, "Dari mana saja kau ini?" tanya Yoshiteru khawatir.
"Aku ketahuan mengambil apel-apel ini dari seorang iblis. Untung saja Oyassan membantuku," jelas remaja itu membuka tudung mantelnya. Seorang remaja laki-laki bermata dan berambut cokelat bermodel sedikit keriting dibawah telinga tersenyum pada kedua tahanan yang didatanginya. Remaja laki-laki itu memberikan kantong kecil pada Yoshiteru, "Segar, dan baru dipetik oleh seekor Alp," jelasnya.
"Shikanosuke," Maria menyentuh pipi kiri remaja itu, "Sudah kubilang jangan berbuat gegabah," jelasnya.
"Aku mengerti, okaasama," Shikanosuke meraih tangan Maria dan mengelus pipinya di tangan sang ibu, "Tapi aku melakukan ini demi kalian berdua—wahai kedua orang tuaku,"
Maria menghela napas, "Jika itu yang terbaik untukmu, Shikanosuke. Apa kau terluka?" tanya sang ibu mengusap darah di pipi kanan sang anak.
"Maria, belakangnya terluka," seru Yoshiteru melihat belakang mantel Shikanosuke robek bersimbah darah. Sang ayah melepaskan mantel anaknya. Punggung bidang Shikanosuke bersimbol kepala tengkorak bertanduk setan di kiri dan bersayap malaikat di kanan mengalirkan darah terluka.
"Uhh...pasti ulah Alp tadi...pecutnya luar biasa sakit," rintih Shikanosuke kecil.
"Huhu, tentu saja kau bisa merasakan sakit, Shikanosuke-" Maria menempelkan telapak tangannya pada luka Shikanosuke dan segera mengobatinya. "-Meski kau berdarah iblis seperti ayahmu, tapi kau juga berdarah malaikat dari ibumu ini," sambungnya tersenyum.
"Shikanosuke, kau tidak melakukan yang aneh pada Alp itu, kan?" tanya Yoshiteru yang dibalas gelengan kepala oleh anaknya.
"Sebaiknya jangan melakukan sesuatu yang bisa memancing perhatian para iblis di sini-" sambung Yoshiteru mengusap pelan kepala anaknya. "Karena kau seorang Nephilim,"
"Oi, Lucifer. You don't have some music here?" tanya Masamune meneguk minumannya.
"Masamune, Lucifer itu tipe old-fashioned," sindir Sakon ikut meneguk minumannya.
"Incubus dan Samael, jangan samakan tempatku yang sunyi dan sepi ini dengan tempat ramai kalian yang penuh dengan bau alkohol dan wanita itu," balas Ieyasu tersenyum.
"Maafkan mereka, Lucifer-sama. Mereka memang seperti itu. Bahkan saat mereka masih kecil," ucap Kojuuro meneguk minumannya.
"Malang sekali nasibmu, Kojuuro. Karena harus mengurus mereka ketika kecil. Tapi di lain sisi, aku setuju dengan mereka, Lucifer-sama. Ruangan anda ini sungguh sepi tak ada hiburan," ucap Keiji.
"...Itsuki," seru Motochika.
"Ya, Ojiisama?" tanya Itsuki yang asik menghisap susu dalam gelasnya dari sedotan bersama Ranmaru.
"Mainkan Alice. Kelihatannya orang-orang tua ini merasa bosan tak ada hiburan," jelas Motochika meneguk minumannya.
"Aku dengar itu, Motochika," Hisahide tertawa pelan.
"Herm, anak kecil itu membawa hiburan? Hiburan seperti apa?" tanya Magoichi duduk di atas paha Hisahide.
Itsuki yang memeluk Alice segera melepaskannya ke udara, "Jukebox!"
Sebuah jukebox berwarna cokelat mendarat di dekat jendela ruangan, membuat terpana para iblis yang melihatnya. Motochika mengangkat tangan kirinya dan menggerakkan jari jempol dan telunjuknya. Tak berselang lama, permainan musik klasik pun dimainkan dari jukebox itu.
"Little Fugue in G Minor. Karya Bach," Motochika berkata.
"Aku tidak tahu kau juga suka Bach, orang tua," ucap Keiji sedikit terkejut.
"Kalian berdua memang lengket sekali dari dulu, kesukaan bisa sama seperti itu," tawa Ujimasa.
"Tch! Siapa yang lengket?" Motochika menolak mentah.
"Hei hei, kalian. Ayolah, masa pada teman dekat sendiri begitu?" sindir Hisahide meneguk minumannya dengan gelasnya di atas dua buah dada Magoichi.
"Hisahide-sama~ Itu menggelitik~" Magoichi sedikit mendesah.
"Huh...itu masa lalu. Yang berlalu biarkan berlalu, "balas Keiji dingin.
"Itu benar. Lagipula, siapa juga yang ingin berteman dengan SHINIGAMI?" Motochika meninggikan nadanya.
"Saya juga tidak akan pernah bekerja sama dengan orang seperti anda, tukang boneka tua," Keiji mengejek dengan wajah datar berhasil membuat Motochika emosi menyengkram gelasnya kuat.
"Motochika-sama, Keiji-sama. Jangan berkelahi di hadapan Ieyasu-sama," tegur Tadatsugu.
"Oh iya, Nebiros," panggil Hisahide meneguk minuman miliknya dengan Magoichi yang duduk di pangkuannya, "Kudengar kau membiarkan pasukanmu untuk 'menghukum' malaikatmu,"
"Hmph, dia memang tidak tahu sopan santun. Dia menakuti Ranmaru dan Itsuki juga melukai wajahku," Motochika meneguk sebentar minumannya lalu melepaskan topengnya menunjukkan pipinya yang retak parah.
"Haha! Kau memang pantas menerima itu, Nebiros!" Magoichi tertawa lebar. Ranmaru dan Itsuki yang melihatnya mulai terbakar amarah namun berusaha untuk tetap tenang. Itsuki sudah dari tadi mencengkram Alice erat sedangkan Ranmaru mengepal kedua tangannya.
"Ejeklah aku sesukamu, Sayaka," Motochika kembali memasang topengnya.
"Kau tahu, Nebiros? Aku menyesal tidur dengan orang tua sepertimu—Orang tua yang menyendiri," omongan Magoichi membuat Ranmaru marah. Ghoul anak laki-laki itu melepaskan sayap tulangnya dan terbang cepat menuju Magoichi melewati meja besar Ieyasu. Motochika yang mengetahuinya segera mengangkat tangan kanannya dan menarik ke belakang menghentikan gerakan Ranmaru dengan kedua tangannya siap mencengkram di hadapan Magoichi dan Hisahide.
"KUBUNUH KAU! NENEK SIALAN!" amuk Ranmaru dengan suara serak.
"RANMARU! HENTIKAN!" omel Motochika pada bawahannya.
"Ya ya, kau dengar itu, bocah sialan. Dengarkan apa kata tuanmu yang sudah berumur itu," sindir Magoichi.
"Hei, Magoichi. Jangan sindir mereka sembarangan. Kepalamu bisa terputus," ejek Sakon meneguk minumannya.
"Hisahide, istrimu baru saja membuat salah satu bawahan Nebiros marah," ucap Kojuuro yang hanya dibalas Hisahide dengan helaan napas pasrah.
"JANGAN MENGEJEK OJIISAMA SEMBARANGAN!" teriak Ranmaru masih mengamuk.
"RANMARU!" Ditariknya Ranmaru menjauh oleh Motochika kemudian didekapnya erat, "Sudahlah, Ranmaru. Biarkan saja mereka,"
"Tapi—Ojiisama—" protes Ghoul kecil mulai menitikkan air mata. Motochika menggelengkan kepalanya, "Tidak apa, Ranmaru," ucapnya mengelus lembut kepala bawahannya. Ranmaru yang terharu mulai menangis menyengkram mantel tuannya. Motochika terus mengusap kepalanya sambil berbisik, 'Sudahlah. Ini bukan salahmu,'
"Sungguh menyentuh sekali, Nebiros~" seru Magoichi berpura-pura terharu, "Tuan sampah sekaligus bawahannya yang juga sampah," lanjutnya berubah nada menjadi serius.
Sang Nebiros menatap Succubus itu lurus, "Jangan seenaknya membawa Ranmaru, Sayaka. Akulah yang pantas kau injak," balas Motochika tegar.
"Oh oh, sepertinya akan ada pertengkaran di sini," sahut Masamune tertawa sambil bertepuk tangan.
"Hmph, dasar tidak berguna," Keiji meneguk tehnya.
"Magoichi, tenangkan dirimu," tegur Hisahide menarik ekor Magoichi kemudian mengusapnya pelan.
"Bagaimana bisa aku tenang, Hisahide-sama—Jika ada SERANGGA berkeliaran di sini," Magoichi kembali menyindir dengan nada yang sekarang tinggi.
"Magoichi-sama—Sudahlah," Kojuuro yang sekarang menegur Succubus itu.
"Hei, jangan memerintahku, Algojo sia—"
"DIAM!" Ieyasu berteriak keras menggema hingga seisi ruangan terbuat diam olehnya. Tadatsugu dan Ujimasa yang berdiri di belakangnya hanya bernapas pasrah.
"Magoichi, tutup mulutmu atau kusuruh Tadatsugu untuk mengguntingnya. Motochika, buat diam bawahanmu itu atau hancurkan dia dan jangan bangkitkan dia kembali. Mengerti?" ancam Ieyasu pada Magoichi dan Motochika yang langsung terdiam ketakutan.
"Sudahlah, Ranmaru—" Motochika menenangkan Ranmaru yang akhirnya berhenti menangis sedangkan Magoichi kembali duduk di pangkuan Hisahide lalu menyandarkan kepalanya di pundak Beelzebub itu.
"Ini baru suasana tenang," Hisahide tersenyum mengelus pinggang Magoichi. "Tadi kita sampai dimana—Oh, Surga. Apa yang akan kau lakukan pada tempat itu, Lucifer?" tanyanya lanjut.
"Aku berniat untuk memperluas Neraka," jawab Ieyasu.
"Lucifer-sama, anda juga harus memerhatikan beberapa hal penting—" seru Keiji, "Di sana terdapat beberapa tempat suci—Dan pada saat perang, itu belum dihancurkan sepenuhnya,"
"Kalau begitu, hancurkan saja," balas sang Lucifer singkat.
"Anda yakin tidak lupa sesuatu?" lanjut sang Shinigami meneguk tehnya, "Di dalam beberapa tempat suci itu—terdapat beberapa patung besar para pemimpin Surga sebelum Shingen dan Hideyoshi. Kita tidak bisa menghancurkan patung-patung itu sembarangan—"
"Kedua raja itu sudah mati. Buat apa ada larangan untuk menghancurkan patung itu?" Nada Ieyasu mulai berubah menjadi marah.
Keiji meletakkan cangkir tehnya lalu menatap Ieyasu tajam, "Δεν έχουν σκοτώσει έναν από τους προγόνους (Kita belum membunuh salah satu pemimpin sebelumnya),"
Ieyasu beserta para petinggi iblis yang lain tertegan mendengar ucapan Keiji, tak terkecuali Tadatsugu, Ujimasa, Ranmaru dan Itsuki.
"Belum membunuh satu? Apa maksudmu?" tanya Masamune bingung.
"Keiji, Keiji," Sakon menggelengkan kepalanya, "Kita sudah membunuh seluruh pemimpin Surga. Mulai dari yang pertama sekali hingga Shingen dan Hideyoshi ini,"
"Jangan bodoh, Sakon," omel Keiji, "Kita melupakan satu orang. Dia adalah seorang joousama," sambungnya.
Ieyasu meneguk minumannya sedikit, terdiam mengingat sesuatu. Kedua pupil matanya mengecil menyadari satu hal,
"Kau benar, Keiji," balas Ieyasu, "Δεν έχουν σκοτωθεί Μαρία (Kita belum membunuh Maria),"
Seluruh petinggi iblis mulai menoleh ke arah Keiji yang menikmati tehnya. Keiji yang merasa diperhatikan berhenti meneguk teh,
"...Apa?" tanyanya heran.
"Keiji, informasimu selalu membuatku terkejut," ucap Ieyasu.
Keiji terdiam sesaat kemudian mulai berbicara, "Aku hanya meneliti mereka, Lucifer. Sekedar meneliti dan mempelajari kehidupan mereka. Itulah tugasku agar kita bisa menyerang mereka dari dalam,"
"Tunggu," Magoichi memainkan jari telunjuknya di dagu Hisahide, "Maria? Kenapa nama itu tidak asing untuk didengar?"
"Ah, Maria," seru Hisahide tiba-tiba, "Joousama dari Surga, eh?"
"Heh, orang itu," Masamune meneguk minumannya, "Dia adalah seorang malaikat yang katanya mengkhianati Surga, bukan?"
"Bukan 'katanya' lagi, Masamune," sambung Sakon. "Memang dia berkhianat,"
"Kurasa kita tidak perlu membunuhnya langsung," usul Kojuuro meneguk pelan Gimlet miliknya.
"Biarkan saja ia dan Yoshiteru mati membusuk perlahan," lanjut Motochika yang ikut meneguk minumannya.
"Shht! Nebiros! Have you forgotten something?!" tegur Masamune. Motochika melirik Masamune tidak mengerti.
"Di Neraka dewasa ini-dilarang bagi kita untuk menyebut nama pengkhianat itu,"
Katsuie membuka kedua matanya pelan. Dirinya terbangun dan berusaha duduk, memijit pelipisnya yang terasa pusing.
"... (Uhh...)" bisiknya dalam hati yang kemudian menoleh pada Yukimura yang juga terbangun dan berusaha duduk, "..." Sang Netzach berusaha mengucapkan sesuatu dan Katsuie panik dibuatnya.
"...! (Jangan bicara dulu, oujosama!)" seru Katsuie bisu menolong Yukimura yang mulai terhuyung lemah.
Yukimura tertawa kecil mendengarnya, "...(Kita memang tidak bisa bicara untuk saat ini)" ucapnya bisu sambil tersenyum; dimana Katsuie melihatnya sebagai senyum yang sangat, sangat menyakitkan.
Jegudiel muda itu menarik selimut yang berada dekat di kakinya kemudian merobek bagian kecil lalu mengusapnya di leher sang putri yang terluka, "...(Iblis yang melukaimu itu-Kejam sekali. Anda bisa saja mati di tangannya)" bisiknya pelan. Sang putri menggeleng kepalanya.
"... (Aku tidak apa, Katsuie-dono. Iblis yang menyiksa dirimu yang kejam. Kau juga bisa mati di tangannya. Maaf aku tidak bisa menjagamu)"
Katsuie memeluk Yukimura erat, menangis mendengar apa yang sang putri katakan, "...! (Hentikan, oujosama. Aku bersumpah untuk selalu menjagamu. Tindakkanmu saat melawan iblis yang berusaha menyakitimu sungguhlah berani. Kumohon, berhenti menyalahkan dirimu sendiri)"
Yukimura membalas memeluk Katsuie, "...(Terima kasih, wahai gadis pengantar surat)"
"Hiks..." suara Katsuie mulai terdengar. Yukimura menyadarinya, suara yang mereka miliki ini tidak akan bertahan lama. Kedua matanya berubah sayu dan pikirannya mulai tenggelam.
"Suara ini...Suara yang teracuni ini...Memang diciptakan untuk merasakan rasa sakit yang luar biasa..."
Dari kejauhan, beberapa pasang mata bersembunyi di balik pepohonan memerhatikan Katsuie dan Yukimura,
"Jadi, mereka adalah Jegudiel dan Netzach," seru sebuah suara.
"Yakin? Kurasa mereka bukan tipe malaikat seperti itu karena tubuh mereka terlalu lemah," balas suara lain.
"Patuhi saja perintah dari pimpinan. Sudah tugas kita untuk membawa mereka menghadap pimpinan kita," ucap suara lainnya.
"Miyoshi Trio, siap bertugas"
Kamar Hanbei Takenaka,
Sekelompok kupu-kupu hitam berkumpul menjadi satu dan membentuk sesosok wanita. Nouhime yang kembali menjadi wujud aslinya berjalan pelan mendekati Hanbei yang tertidur pulas. Dibaliknya wajah Hanbei mengarah pada Nouhime, ia segera melihatnya saksama.
"Bentuk wajah ini—bibir manis bagai berry ini—bulu mata ini—" Nouhime terbelak seketika seakan ia mengingat sesuatu yang sangat berpengaruh pada hidupnya,
"Kichou!"
Nouhime yang tiba-tiba terkejut terjatuh ke belakang menjauh dari Hanbei. Mulutnya tertutup rapat oleh kedua tangannya. Ekspresinya menunjukkan wajah yang sangat ketakutan.
"Kichou!"
"Hhh-" Nouhime bernapas berat seolah dirinya sesak, "Kau-Siapa kau sebenarnya?"
"Kichou, tolong sampaikan salamku pada Keiji-kun,"
TO BE CONTINUED
Halo semua, kembali dengan Kichikuri61 yang pada akhirnya punya mood untuk melanjutkan cerita ini. Tumben sekali saya menulis A/N pada akhir chapter karena—ya saya lupa *dihajar*
Harus saya akui, ini salah satu chapter yang saya rasa—kurang produktif, haha. Tapi entah di mata kalian seperti apa chapter ini. Dan, kaget bukan? Tidak ada adegan R-18 disini. Ya, sengaja kubuat demikian karena kasihan juga para tubuh malaikat itu kecapekan sehabis 'dikotori' oleh para iblis sialan itu *pundung*. Jadi kuberi mereka waktu istirahat. Namun, seperti yang kalian lihat, walau tidak ada adegan R-18 disini, chapter ini masih tergolong 'M' karena konten seperti minuman beralkohol dan kata-kata kasar yang ada di dalamnya.
Dan bersabarlah kalian karena di chapter berikutnya, akan ada omake khusus dari para butlers dan maid yang ingin berbagi info dengan kalian seputar minuman yang dihidangkan untuk para iblis ini. So, stay tuned!
Enjoy and R & R~
Ngantuk seharian,
Kichikuri61
