Chapter pertama update! Terima kasih sudah membacadan memberikan review pada bagian prolog-nya. Di chapter inilah perjalanan Hinata baru dimulai~ Semoga saja para pembaca sekalian menyukai chapter pertama ini.
Untuk Akari Yuka, terima kasih~ Tentu saja. Selamat membaca~
Untuk sebutsajanaruto, Arigatou~ Ini sudah dilanjut, selamat membaca.
Untuk yang lainnya, review kalian sudah aku balas lewat PM.
Selamat membaca~
::
::
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto-sensei
26 Days : Koi of Love © Hikaru-Ryuu Hitachiin
::
Pairing: Hinata Hyuuga & Naruto Uzumaki
::
Genre: Romance
::
Warning: Silahkan dibaca dan lihatlah kesalahan-kesalahan yang kapan saja bisa terjadi di fic ini. Yang pastinya Hinata agak sedikit OOC, itu menurutku.
::
Rated: T
::
~ Happy Reading ~
::
::
::
Aku pernah dengar, katanya kalau kita memiliki perasaan yang abadi, maka perasaan itu akan terbalas dan tersampaikan. Tapi~ Perasaan ini, akankah terbalas? Perasaan yang abadi, mungkinkah akan tersampaikan? Entah kenapa, aku ingin berkata. "Aku beruntung memiliki perasaan ini." kepada dirimu yang sangat kucintai.
Perasaan abadi, yang tidak akan pernah hilang selamanya.
::
::
◐ 26 Days : Koi of Love ◐
::
::
"Hinata!" teriakkan ini telah menghentikan langkah kaki Hinata. Dilihatnya gadis berkuncir kuda yang sedang berlari mendekatinya. Masih pagi tapi sudah bersemangat seperti begitu, hebat. Justru karena pagi, makanya perasaan masih ringan. Itulah yang membuatnya bisa bersemangat.
"Bagaimana?" pertanyaan ini tentu membuat Hinata bingung. Bukannya menyapa terlebih dahulu, ini malah bertanya pertanyaan yang membingungkan. "Oh iya, selamat pagi." sapaan yang begitu telat, pikir Hinata. Tapi inilah sifat sahabatnya, Ino Yamanaka.
"Selamat pagi," membalas sapaan Ino, Hinata hanya membalasnya dengan senyuman manis seperti biasanya. Ia belum menjawab pertanyaan Ino yang 'bagaimana' itu, karena dirinya sendiri masih tidak mengerti apa maksudnya.
"Jadi bagaimana?" ditanyakannya pertanyaan itu sekali lagi oleh Ino. Walau sudah bertambah satu kata, tapi Hinata tetap tidak mengerti. Memangnya Ino itu bertanya tentang apa sih? Bagaimana keadaanmu? Bagaimana perasaanmu? Bagaimana harimu? Ataukah bagaimana yang lainnya? Kalau bertanya setidaknya yang lebih jelas sedikit, agar orang yang ditanya mengerti.
"Hmm~ Bagaimana? Tekadmu sudah semakin kuat, 'kan?" pertanyaan yang kali ini baru dimengerti oleh Hinata. Belum lama ini Hinata memang bertekad untuk mencoba peruntungannya selama dua puluh enam hari.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka ke dalam sekolah, "Ya, dan aku sudah membawa makanan ikannya." seru Hinata dan mengeluarkan makanan ikan dari dalam tasnya, agar Ino dapat melihat kesungguhan Hinata.
Ino tersenyum mendengar seruan Hinata, semangat memang dapat mengalahkan apapun, walaupun itu adalah hal yang berat sekalipun.
"Yah~ Demi perasaanmu," perasaan yang abadi, suatu hari pasti akan memiliki kebaikannya tersendiri. Terbalas ataupun tidak terbalas, yang penting bahagia karena perasaan itu ada padanya.
"Iya, demi perasaanku." mempunyai perasaan seperti ini memang menyenangkan. Perasaan yang tidak muncul sembarangan, pada orang yang begitu berharga. Apalagi kalau orang yang kita sukai, memiliki perasaan yang sama.
"Kenapa sama perasaan Hinata?" mendengar suara yang tiba-tiba ini, Hinata dan Ino jadi terhenti seketika. Tidak ada langkah sama sekali, tadi kedengaran, 'kan? Dari suara saja, sudah ketahuan kalau itu adalah suara Naruto.
"Bu-bukan apa-apa kok!" mengetahui kalau Hinata akan diam seribu bahasa, jadi Ino yang menjawab pertanyaan Naruto. Tentu saja, Naruto mendengar bagian 'demi perasaan Hinata'. Jadinya Ino harus jawab langsung, dan jawaban Ino tadi hanyalah sebuah kebohongan belaka. Mana mungkin ia kasih tahu kalau perasaan Hinata yang menyukai Naruto.
"Oh~ Begitu ya?" tanyanya dengan nada tidak semangat. Naruto melihat Hinata, kemudian tersenyum setelahnya. "Aku duluan ke kelas ya," dipukulnya pelan pundak Hinata, dan pergi meninggalkan kedua gadis yang sedang bengong di tempat.
"Kenapa dengannya?" tanya Ino, ia tidak percaya dengan reaksi Naruto yang barusan. Biasanya juga pasti akan muncul sifat kekanakkan karena keinginannya tidak diberitahukan atau diberikan. Tapi yang tadi? Hanya nada tidak semangat yang dikeluarkannya.
Hinata memasukkan makanan ikan itu ke dalam tasnya lagi, "Mungkin marah karena tidak diberitahu," kemudian ia berjalan kembali. Ino yang tadi masih diam diri melihat Hinata berjalan, sekarang sudah menyusul Hinata.
"Bisa juga sih, tapi biasanya 'kan tidak seper..." Ino menghentikan ucapannya. 'Jangan-jangan~' pikiran Ino mulai berkeliaran kemana-mana. "Khe-khe-khe," Ino malah tertawa sendiri setelahnya.
Hinata yang melihatnya jadi heran sendiri. Pertama, menghentikan perkataannya. Kedua, tidak berbicara selama lima detik. Ketiga, ketawa dengan anehnya. "Ada apa?" tanya Hinata khawatir. Perubahan yang tiba-tiba itu memang membuat Hinata khawatir. Takutnya ada sesuatu yang masuk atau malah sedang demam.
"Tidak apa, aku hanya berpikir saja." balas Ino dan menarik tangan Hinata agar melangkah lebih cepat.
'Tidak panas,' pikir Hinata saat tangannya dipegang Ino. Kalau bukan sakit, kira-kira apa yang menyebabkan perubahaan itu ya?
'Naruto penasaran ya? Perasaan Hinata diberikan pada siapa? Dari wajahnya, mungkin ia kecewa karena memikirkan Hinata yang menyukai orang lain. Tenang saja, perasaan Hinata hanya untukmu kok.' Ino malah memikirkan hal yang belum tentu ketepatannya. Seenaknya saja ia menganggap kalau Naruto menyukai Hinata. Kalau salah bagaimana? "Benar gak ya?" tanyanya jadi tidak yakin.
Mengingat hari-hari yang ia lalui bersama dengan Hinata dan Naruto. Kejadian-kejadian yang tidak berhubungan dengan perasaaan cinta dan rasa suka. Saat Hinata jatuh, Naruto mengkhawatirkan Hinata dan membantunya berdiri. Gaya bicaranya, bagaikan seorang kakak yang mengkhawatirkan adiknya. Saat Hinata menangis, Naruto menghiburnya bagaikan seorang adik yang menghibur kakaknya. Kasih sayang yang diberikan olehnya pun, bagaikan kasih sayang orang tua. 'Jangan-jangan~' pikiran itu mulai berkeliaran lagi, tapi berbeda dengan pemikiran yang sebelumnya.
'Naruto menganggap Hinata seperti keluarganya sendiri!' Ino terhenti seketika, ia berbalik menghadap Hinata. Hinata pun menjadi heran kembali. Ino memegang pundak Hinata dengan wajah yang pucat. Ia syok dengan pemikirannya yang barusan!
"A-ada apa?" Hinata benar-benar tidak mengerti dengan sikap Ino saat ini. Sikapnya berubah-ubah terus selama beberapa detik! Benaran sakit ya? Atau ada yang miring? Atau malah salah makan?
"Sepertinya aku perlu ke suatu tempat, Hinata duluan ke kelas saja." setelah mengucapkan itu, Ino langsung lari meninggalkan Hinata dengan kecepatan penuh.
Hinata yang merasa bingung pun hanya dapat menghela napasnya. Kenapa kedua orang itu jadi sedikit aneh? Pertama Naruto, dan sekarang Ino. Padahal ini masih pagi, tapi mereka sudah memikirkan hal yang merepotkan.
"Ada apa ya?" dengan menyimpan rasa penasaran, ia pun berjalan sendirian ke kelasnya.
Sesampainya di kelas, ia melihat Naruto yang sedang merenung menatap langit-langit dari dalam kelas. Tempat duduk Naruto memang dekat dengan jendela, ia jadi dapat melihat keindahan luar. Tapi, ada yang aneh dengannya. Naruto tidak bersemangat! Di kelas juga masih belum ada siapa-siapa selain mereka berdua.
Hinata meletakkan tas miliknya di tempat duduk, dan mendekati Naruto yang sedang merenung itu. Lebih tepatnya mungkin bengong, "Naruto," Hinata pun memanggil Naruto. Tapi selama beberapa detik, tidak ada balasan darinya.
"Bengong ya?" tanya Hinata tidak percaya. Seorang Naruto bisa bengong! Niat Hinata kini seperti Naruto, ia akan menghitung berapa lama Naruto bengong. Diambilnya ponsel dari dalam tas dan dibukanya aplikasi stopwatch. Dimulailah perjalanan waktu~
Lima menit kemudian, Naruto sadar dari keadaannya. Matanya langsung menangkap sosok Hinata yang begitu dekat dengan dirinya. Ia jadi kaget! Tidak sengaja ia menghentakkan tubuhnya sendiri ke belakang. Seterusnya, kalian tahu apa yang terjadi.
Kursi yang diduduki Naruto pun miring ke belakang, dan... BRUAK! Suara hantuman antara kursi dan lantai, ditambah dengan berat badan Naruto.
"A..duh..duh," rintihan kesakitan keluar dari mulut Naruto. Ia memegang kepalanya yang terbentur oleh lantai. Tidak menyebabkan luka dalam, hanya saja dapat membuat seorang Naruto kesakitan.
Hinata yang awalnya duduk dengan santai kini berdiri dan mendekati Naruto. "Naruto tidak apa-apa?" tanyanya khawatir, terlihat dari raut wajah Hinata.
Dengan segera Naruto merubah posisi yang memalukan itu jadi enak dipandang. Naruto terduduk di lantai yang disebelahnya masih ada kursi yang terjatuh. "Yah~ Lumayan," balas Naruto. Ia menempatkan kedua tangannya di kedua betisnya. Melihat Hinata yang bersimpuh dan khawatir dengan keadaan Naruto. Naruto tersenyum, ia senang karena Hinata mengkhawatirkan dirinya.
"Ano... Aku mau tanya. Sebenarnya Naruto memikirkan apa?" pertanyaan ini tentu membuat Naruto kaget. Secara spontan Naruto mundur, membuat jarak antara dirinya dengan Hinata.
"A-Aku tidak memikirkan apa-apa," balas Naruto sedikit gagap diawal. Tapi Hinata tahu kalau itu hanyalah sebuah kebohongan. Kalau tidak memikirkan apa-apa, kenapa bengong seperti itu?
"Kalau tidak memikirkan apa-apa, kenapa bengong selama lima menit?" Naruto kaget. "Dihitung!?" tanya Naruto tidak percaya.
Hinata mengangguk, "Aku tidak pernah melihat Naruto seperti ini," lanjut Hinata. Bagi Hinata, Naruto yang sedang tidak bersemangat itu merupakan sebuah keanehan.
"Yah~ Sebenarnya aku memang sedang memikirkan sesuatu sih." Naruto memalingkan wajahnya, menghela napasnya, dan kemudian melihat ke arah Hinata kembali. "Aku memikirkanmu," ucapnya kemudian.
Blush~ Hinata jadi malu, dan wajahnya memerah. Bagaimana tidak? Dirinya dipikirkan oleh Naruto! Orang yang disukainya! Memangnya Naruto memikirkan apa tentang Hinata? Eh? Tapi memikirkan hal buruk atau hal bagus ya? Bagaimana malah memikirkan hal yang tidak enak?
"A-Aku?" tanya Hinata tidak percaya. "Iya," balas Naruto dan mendekatkan dirinya kembali ke Hinata. "Memikirkan perasaanmu," jarak diantara mereka hanya sekarang hanya tersisa tiga puluh senti.
"Perasaanku?" tanya Hinata tidak percaya kembali. Memangnya ada apa dengan perasaan Hinata? Jangan-jangan Naruto memikirkan ucapannya dengan Ino tadi.
"Perasaanmu, kamu berikan pada siapa?" dengan nada sendu, Naruto sedih jika perasaan itu diberikan pada orang yang salah.
"Aku..." hampir saja, Hinata terhipnotis oleh sorot mata Naruto. Hampir saja, karena mata itu, Hinata memberitahukan hal yang sebenarnya pada Naruto.
"Aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri, aku tidak ingin kamu memberikan perasaan itu pada orang yang salah."
DEG! Jantung seakan berhenti berdetak. Mata yang membuat Hinata terhipnotis itu, mendadat menjadi gelap gulita. Dianggap sebagai adik sendiri? Orang yang disukainya, menganggap dirinya adik? Apa yang akan kalian lakukan jika kejadian ini terjadi pada kalian? Rasanya benar Hinata mau menangis saat itu juga. Tapi~
"Selamat pagi!" suara dobrakan pintu membuat kedua orang yang sedang duduk di lantai ini langsung berdiri.
"Oh~ Sudah ada yang datang ya? Selamat pagi Hinata," sapa pria dengan tato segitiga terbalik ini.
"Hei~ Aku tidak disapa?" gerutu Naruto. Masa hanya Hinata saja? Memangnya ia tidak kelihatan apa? Makanya tidak disapa seperti itu.
"Oh~ Baiklah. Selamat pagi," balas Kiba dengan cepat. Walaupun begitu, Naruto sudah menganggap kalau Kiba sudah telat.
"Ano... Aku permisi keluar ya," tanpa menunggu jawaban dari keduanya, Hinata langsung keluar dari kelas itu.
Naruto dan Kiba yang melihat itupun jadi heran. "Ada apa dengannya?" tanya Kiba dan melihat Naruto. "Entah," Naruto yang tidak mengerti pun hanya dapat menjawab seperti itu.
Kiba tidak dapat berkata apa-apa lagi. Yang ia rasakan, ada sesuatu masalah yang sedang terjadi pada Hinata saat itu. Rasanya, ia mau menghilangkan masalah itu.
"Ah! Sudahlah~ Mumpung masih pagi, ayo kita main Kiba!"
~ I ~
˚°◦ ◦°˚ ◐ 1st Day ◐ ˚°◦ ◦°˚
~ I ~
Hinata terhenti, ia tidak bisa melangkahkan kakinya lagi setelah itu. 'Aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri, aku tidak ingin kamu memberikan perasaan itu pada orang yang salah.' Ia mengingat kembali ucapan itu. Ternyata, walau hanya diingat saja, masih dapat membuat hati sakit.
"Kenapa?" tanyanya tidak percaya. 'Aku tahu Naruto berkata seperti itu untuk kebaikanku. Tapi kenapa ya?' batin Hinata tergerak. Apakah perasaan Hinata akan sia-sia? Dianggap seperti adik sendiri, oleh orang yang disukai. Padahal Hinata tidak menginginkan hal itu. Apa karena sudah sering bersama sebagai teman masa kecil, maka kata 'adik' muncul pada diri Hinata?
Semakin banyak orang yang berlalu-lalang disana, tapi Hinata tidak tahu mau melakukan apa setelah ini. Kalau ke kelas, pasti ada Naruto. Orang yang saat ini belum mau ditemuinya terlebih dahulu. Ia mengeluarkan kalungnya, dilihatnya batu itu lekat-lekat.
"Apakah benar? Perasaan abadi, yang tidak mudah hilang ini, akan terbalaskan?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Diam dua menit, "Sudahlah~" ia pun kembali ke kelasnya. Tidak mau berlama-lama bermuram durja, ia harus melakukan kegiatan hari ini dengan semangat. Tidak usah pikirkan hal itu dulu, pikirkan hal yang lebih penting saja. Belajar lebih pending daripada urusan percintaan.
Tidak lama setelah Hinata masuk kelas, guru yang mengajar pun masuk. Akhirnya dimulailah kegiatan guru dan murid seperti biasanya.
Teeeeng~ Suara dencingan lonceng pertanda istirahat sudah dikeluarkan. Akhirnya istirahat pun tiba, disini Hinata mulai beraksi. Dikeluarkanya kotak bekal dan makanan ikan miliknya. Lalu berjalan menuju Ino.
"Langsung kesana ya?" Hinata mengangguk sebagai jawabannya untuk Ino. "Ayo~" dengan kekuatan dan kecepatan yang penuh, Ino pun langsung menarik Hinata dan berlari dengan semangatnya. Sedangkan Naruto terheran-heran melihat Hinata ditarik oleh Ino untuk berlari.
Sesampainya disana, Hinata dan Ino langsung menyiapkan tempat yang enak untuk duduk dan makan. Mereka membersihkan daun-daun yang menghalangi bangku yang terbuat dari semen itu, dan meletakkan kotak bekal disana. Memang taman sekolah jarang ada yang mendatanginya, jadi terkesan sepi. Pertama-tama yang Hinata lakukan adalah memberi makan ikan koi putih.
"Dimakan ya," setengah genggaman makanan ikan yang diberikannya. Ia melihat, ikan koi itu langsung melahap makanan tersebut. Hinata hanya dapat tersenyum, melihat ikan koi putih itu.
Setelah itu, ia kembali pada kotak bekalnya. Ternyata disana Ino sudah melahap seperempat bekal miliknya sendiri. Cepat sekali~
"Bagaimana?" tanya Ino setelah ia menelan makanannya. "Sudah," balas Hinata dan membuka bekalnya sendiri. Mereka berdua makan disana sampai habis. Setelah sepuluh menit, makanan keduanya pun habis.
Keduanya mendekati kolam ikan itu, "Ino~ Perasaan yang abadi itu, apakah akan terbalas?" pertanyaan yang tiba-tiba ini tentu membuat Ino tersentak. Perasaan abadi? Maksudnya gimana?
"Perasaan yang sudah bertahan lama ini, tidak pernah hilang." Ino mengerti, ia juga pernah merasakan apa yang pernah dirasakan Hinata. Itu sangat menyakitkan saat perasaan ini tidak terbalaskan.
"Hinata~ Kalau menurutku sih, ada saatnya perasaan itu akan terbalas. Menunggu saja, pasti ada kebahagiaan yang datang." disini, Ino bagaikan penasihat masalah percintaan Hinata.
Memang, jujur Hinata tidak terlalu mengerti tentang yang namanya cinta. Ia hanya dapat merasakannya, belum pernah mencobanya. Bagaimana menjalankannya? Apakah banyak hari-hari yang menyenangkan? Atau hari-hari yang menyedihkan? Kalau dilihat, mungkin keduanya ada.
"Yah~ Naruto menganggapku sebagai adiknya sendiri," Hinata meletakkan kotak bekalnya di paha, seperti tidak ada niat untuk melahapnya lagi. Ia memberitahukan apa yang didengarnya tadi pagi pada Ino. Tepat dengan dugaannya, Ino syok di tempat. Pemikirannya ternyata benar!? Tapi apakah benar seperti itu?
"Mm.. Begini lho Hinata, aku tidak terlalu mengerti tentang permasalahan cintamu dengan Naruto. Mungkin memang agak susah dibandingkan denganku, tapi sepertinya kamu harus lebih berjuang dibandingkan denganku." inilah pemikiran Ino.
Menjadi teman semasa kecil itu, memang menyusahkan. Tidak semudah yang dipikirkan, karena setelah sekian lama bersama, akhirnya malah muncul perasaan itu. Sedikit memalukan, mengingat semua apa yang pernah mereka lalui. Merasa tidak nyaman, karena perasaan yang belum tersampaikan itu.
"Iya,"
~ I ~
˚°◦ ◦°˚ ◐ Abadi ◐ ˚°◦ ◦°˚
~ I ~
From: Kuda Poni Cerewet ( Ino Yamanaka )
Subjeck: Pemberitahuan!
Text
Hei~ Kamu sudah tahu belum? Hinata hari ini pulang malam. Mungkin sekitar jam tujuh baru pulang dari sekolah.
Begitu kagetnya saat Naruto membaca sms ini, "Apa!?" teriaknya tidak percaya. Ia langsung berkumur-kumur, berlari dan mengambil jaket. Ia keluar dari dalam kamar apartemennya, "Kenapa tidak kasih tahu sih?" tanyanya kesal.
Sekarang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Jarak apartemen dan sekolah tidak jauh, hanya memerlukan dua puluh menit saat berjalan santai. Kalau berlari, sepuluh menit sudah sampai. Saat ini, Naruto sedang berlari menuju sekolahnya. Mana mungkin ia tidak mengetahui kalau Hinata pulang malam!?
"Si Ino juga, kenapa tidak kasih tahu dari tadi sih? Dasar," gerutunya sambil terus berlari. Ia terus berlari, tidak ada jeda sama sekali.
Sepuluh menit berlari, akhirnya ia sampai di gerbang sekolah. Nafasnya terengah-engah, Naruto terhenti seketika untuk mengatur nafasnya. "Sekarang dimana itu anak?" setelah nafasnya sudah teratur, sekarang ia kembali berlari untuk mencari Hinata di dalam sekolah.
Di kelas tidak ada, di ruang OSIS pun tidak ada. Di tempat yang biasanya didatangi oleh Hinata juga tidak ada, akhirnya Naruto menuju taman sekolah. Matanya terbelalak melihat sosok Hinata yang sedang jongkok sambil melihat kearah kolam ikan.
"Hinata!" panggilnya sedikit berteriak.
Hinata yang mendengarnya pun langsung kaget, ia berdiri dan melihat Naruto yang berlari mendekatinya. "Naruto?" tanyanya tidak percaya. Masa Naruto ada disana? Menggunakan piyama, itu baju untuk tidur, 'kan?
"Kenapa tidak kasih tahu kalau kamu pulang malam?" tanya Naruto memegang kedua pundak Hinata. Hinata hanya melihat, kalau Naruto sedang mengkhawatirkannya.
"Aku tidak mau merepotkan Naruto," jawab Hinata jujur. Sungguh~ Melihat Naruto yang seperti itu, ia beranggapan bahwa dirinya memang sudah merepotkan Naruto.
Naruto merasakan lemas pada kakinya, ia terhuyung jatuh ke bawah. Memegang kepalanya, "Yang penting kamu baik-baik saja," ucapnya setelah itu. Memang ia sangat mengkhawatirkan Hinata, takut kalau ada apa-apa.
Pernah sekali, hampir saja Hinata mendapatkan bahaya. Untung Naruto secepatnya datang menolong Hinata. Sejak saat itu, ia jadi tidak bisa membiarkan Hinata pulang sendirian saat malam hari.
"Anu.. Maafkan aku," Hinata tahu kalau perbuatannya ini memang salah, jadi ia meminta maaf.
Naruto menghela nafasnya, ia pun berdiri kembali. "Yah~ Tidak apa," balas Naruto. "Sebenarnya apa yang kamu lakukan?" tanyanya kemudian.
"Aku memberi makan ikan," Hinata kembali berjongkok, melihat ikan koi hitam yang sekarang berenang disekitar kolam itu.
Naruto juga ikutan jongkok, "Ini ikan yang kamu maksud?" Hinata mengangguk. "Indah ya," lanjut Naruto. Hinata tersenyum, "Aku jadi tidak punya alasan untuk memarahimu deh," Naruto tertawa tipis. Hinata yang melihatnya pun jadi bersemu karena pancaran wajah Naruto yang begitu mempesona.
Selama lima menit mereka melihat keindahan itu, tidak ada yang berbicara sama sekali. Mereka terlalu asyik melihat pemandangan yang luar biasa itu. Pantulan bulan berada didalam kolam, ikan koi hitam yang bergerak kesana-kemari itu jadi seperti dapat membelah bulan.
"Sudah waktunya pulang, aku akan mengantarmu sampai rumah." Naruto berdiri, begitu juga Hinata. Sepertinya memang sudah waktunya untuk pulang, tidak baik gadis pulang terlalu malam.
Apartemen Naruto dan rumah Hinata tidak terlalu jauh, jaraknya hanya dua puluh meter saja. Kalau berjalan, hanya diperlukan waktu lima menit. Karena jarak rumah mereka yang tidak terlalu jauh itulah, yang membuat mereka dapat bertemu waktu kecil. Pertemuan di persimpangan jalan~
Ditengah jalan, Hinata malah penasaran kenapa Naruto tahu kalau dirinya pulang malam. Tahu dari mana kalau ia akan pulang malam? Jangan-jangan dari Ino~ Tapi kalau memang benar, ia bersyukur karena dapat melewatkan hari yang menyenangkan bersama dengan Naruto.
"Naruto~ Terima kasih," kali ini Naruto dibuat bingung oleh Hinata. Ini anak kenapa tiba-tiba mengucapkan terima kasih gitu? Tidak ada hal yang ia lakukan untuk Hinata.
"Buat apa?"
"Sudah mau mengantarku pulang," jawab Hinata.
Naruto berdehem, "Ini kewajibanku, 'kan sudah kubilang beberapa kali. Jadi tidak usah berterima kasih seperti itu." ucapan ini sudah diucapkannya beberapa kali. Walaupun begitu, Hinata masih ingin mengucapkannya.
"Tapi kenapa Naruto tahu kalau aku masih ada di sekolah?" akhirnya ditanyakan juga apa yang membuatnya penasaran. Kalau memang Ino yang memberitahukannya, besok ia akan berterima kasih pada Ino.
"Aku dapat sms dari Ino. Lagian kenapa kamu tidak kasih tahu sih kalau kamu pulang malam?" sekarang Naruto balik bertanya, ia tidak suka kalau Hinata tidak memberitahukan hal itu. Padahal Naruto sangat menanti hari-hari pulang bersama dengan Hinata.
"Tadi 'kan sudah dikasih tahu," ucapan ini membuat Naruto memundurkan ingatannya beberapa menit yang lalu. Ia mengingatnya, karena Hinata tidak mau merepotkan Naruto.
"Pasti ada alasan yang lain," tapi selain alasan itu, Naruto tahu, pasti ada alasan yang lain. Hanya saja, belum diberitahukannya pada Naruto.
"Tidak ada kok," saat ini, Hinata belum mau memberitahukan hal ini pada Naruto. Pasti nanti Naruto akan menganggap Hinata seperti anak kecil, karena mempercayai hal seperti begituan.
"Ya sudah," Naruto dapat memakluminya, mungkin suatu saat Naruto akan mengetahuinya. Tapi, kenapa Hinata memberi makan ikan saat malam hari juga? Bisa 'kan memberinya saat siang hari, diberikan jatah lebih gitu. Jadi yang ada diotaknya itu ditanyakan pada Hinata.
Hinata agak bingung jawabnya, tapi memberitahukannya sedikit mungkin tidak apa. "Soalnya sepasang ikan itu keluarnya sendiri-sendiri, koi putih saat siang hari, dan koi hitam saat malam hari." jawaban Hinata belum menjawab pertanyaan Naruto. Kenapa tidak dikasih sekaligus saja makanannya? Pasti ada alasan lain, pasti memang ada.
Tapi saat Naruto bertanya kembali, Hinata malah tidak menjawabnya. Jadi dibiarkan saja hal itu dulu. Tapi kalau sudah keterlaluan, ia yang akan mengambil tindakan sendiri.
Akhirnya~ Sampai juga mereka di rumah Hinata. Tidak lupa disambut dengan wajah sangar sang ayah dan sang kakak Hinata Hyuuga, Hiashi Hyuuga dan Neji Hyuuga.
"Kenapa anakku pulangnya bisa jam segini?" tanya Hiashi melotot. Tidak kalah dengan Hiashi, Neji hanya berwajah datar tapi sangat bermakna. "Kau bawa kemana adikku ini?" tanyanya. "Selamat malam," sedangkan Hanabi hanya bertingkah biasa-biasa saja.
"Itu~ Hari ini Hinata pulangnya malam karena ada urusan di sekolah." jawab Naruto seperti biasanya, tidak takut dengan tatapan dua orang itu. Karena ia sudah kebal, sudah lebih dari seratus kali ia mendapatkan hal seperti tadi.
"Iya ayah," ia juga harus memberitahukan hal yang sebenarnya. Ia tidak mau Naruto kena marah karena perbuatannya sendiri.
"Ya sudah, pulang sana." Hiashi pun mengusir Naruto dari rumahnya. Naruto hanya memanyunkan bibirnya karena diperlakukan seperti mengusir binatang saja.
"Tunggu Naruto!" penahanan Hinata sukses menghentikan langkah Naruto. "Terima kasih," Naruto menyengir dan berlalu dari tempat itu.
Hari pertama pun selesai~ Semuanya berjalan lancar, tidak ada halangan apapun. Hari ini pun dijalani dengan menyenangkan. Kira-kira bagaimana dengan hari yang berikutnya ya? Apakah akan selalu lancar seperti dengan hari ini? Kejadian selalu berubah-ubah tiap detiknya.
'Kira-kira perasaanku terbalas tidak ya?'
::
::
◐ To Be Continue ◐
::
::
Chapter satu berakhir! Bagaimana? Berikan pendapat kalian melalui kotak review. Terima kasih sudah membaca chapter ini sampai akhir. Sampai bertemu di chapter berikutnya~
Thanks To:
- Cicikun
- Kaoru-Kagami Yoshida
- Amu B
- Akari Yuka
- sebutsajanaruto
- rijalharits
Jaa~
V
V
V
