Chapter dua update! Terima kasih sudah membaca dan memberikan review pada chapter sebelumnya. Mohon maaf apabila fic ini masih memiliki banyak kesalahan. Mudah-mudahan saja, kalian menyukai chapter ini.

Untuk Hasegawa: Arigatou~ Terima kasih atas pujiannya. Selamat membaca~

Untuk blackschool, anna. fitry, SP, oxcidxhAnNISA : Arigatou~ Ini sudah dilanjut. Selamat membaca~

Untuk me yuki hina : Arigatou~ Haha~ Iya, masih sebanyak itu. Tapi aku akan mencoba untuk tidak terlalu lama meng-update-nya. Selamat membaca~

Untuk yang lainnya, review kalian sudah aku balas lewat PM. Selamat membaca~

::

::

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

26 Days : Koi of Love © Hikaru-Ryuu Hitachiin

::

Pairing: Hinata Hyuuga & Naruto Uzumaki

::

Genre: Romance

::

Warning: Silahkan dibaca dan lihatlah kesalahan-kesalahan yang kapan saja bisa terjadi di fic ini. Yang pastinya Hinata agak sedikit OOC, itu menurutku.

::

Rated: T

::

~ Happy Reading ~

::

::

::

Memikirkan tentang kata 'bebas', aku kurang mengerti dengan kata itu. Apakah aku bebas? Aku tidak seperti burung-burung yang bisa terbang kesana-kemari. Aku menjalani hari-hari dengan kegiatan yang telah ditentukan. Walaupun aku merasa 'bebas', tapi 'bebas' yang kurasakan itu berbeda.

Mungkin, 'bebas' yang kurasakan itu, berbeda dengan apa yang kubayangkan.

::

::

26 Days : Koi of Love ◐

::

::

"Hinata, bangun." Hinata menggeliat karena mendengar suara bising di telinganya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, sampai sadar sudah ia seutuhnya.

"Kak Neji, sudah kubilang kalau masuk kamar ketuk pintu dulu." awalnya memang kaget ia melihat Neji di kamarnya, tapi bagaimana pun juga Neji kakaknya, jadi tidak masalah. Tapi kalau laki-laki lain tiba-tiba ada di kamarnya, sudah pasti Hinata akan berteriak.

Hyuuga Neji, kakak laki-lakinya ini sekarang berada tepat disebelah tempat tidur Hinata. Kejadian seperti ini memang sudah menjadi kebiasaan baginya, jadi ia tidak kaget sama sekali. Sejak SD kejadian 'kakak membangunkan sang adik apabila sempat' ini sudah berlangsung. Neji sudah biasa membangunkan Hinata, benar-benar kakak yang baik. Tapi yang tidak baik adalah, masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Bagaimana kalau Hinata sedang ganti baju saat itu? Yah~ Untungnya kejadian seperti itu tidak pernah terjadi.

Umur Neji dan Hinata memang tidak terlalu jauh, hanya berbeda setahun saja. Sejak kecil mereka juga sudah bersama, mandi bersama pun merupakan hal yang biasa (saat masuk kelas satu SD sudah tidak pernah lagi). Tapi sekarang mereka sudah beranjak menjadi lebih dewasa, tidak bisa melakukan hal seperti dulu lagi.

Tidak peduli dengan ucapan Hinata, Neji hanya menyuruh Hinata untuk bersiap-siap. Kalau sudah bangun tapi masih diselimuti oleh selimut itu, rasanya masih setengah sadar saja. Jadi Neji menyuruh Hinata untuk mencuci mukanya terlebih dahulu. "Hari ini tidak ada yang namanya 'bebas', jadi segeralah bersiap." setelah mengucapkan itu, dan dirasa tidak ada kerjaan lagi, Neji keluar dari kamar Hinata.

"Hoaam~" Hinata menggeliatkan tubuhnya, merenggangkan setiap tubuhnya yang kaku karena tidak bergerak semalaman. "Sudah pagi saja," ia turun dari kasurnya, dan merapikan semua yang berantakan. Lalu melipat selimut karena sudah tidak dipakai lagi olehnya.

Lalu ia beranjak ke meja belajarnya, memasukkan makanan ikan untuk jatah hari ini. "Hari kedua ya?" dengan wajah senangnya, ia memasukkan makanan ikan itu dan menutup tasnya. Sesuai dengan perintah sang kakak, selanjutnya ia mencuci muka agar terlihat lebih segar.

Hinata berhenti melakukan kegiatannya saat ia melihat pandulan dirinya di cermin. Ia melihat cerminan dirinya di kaca. "Bebas ya? Kata 'bebas' yang kurasakan, ternyata berbeda dengan apa yang kubayangkan." ia menjalani hidup yang sudah ditentukan sejak kecil. Sekolah, belajar, dan hal lain yang sudah ia tentukan. Kata Neji benar, tidak ada waktu untuk melakukan yang namanya 'bebas'.

Hinata juga baru menyadarinya saat menonton film kemarin malam, tentang kebebasan. Kebebasan yang sebenarnya, menjalani hidup dengan keinginan sendiri. Tapi Hinata, masih menjalani hidup dengan apa yang sudah ditentukan. Selama ini, Hinata selalu merasakan apa yang namanya 'bebas' itu. Bersenang-senang dengan teman dan yang lainnya. Tapi ternyata 'bebas' yang selama ini dirasakannya, berbeda dengan apa yang dibayangkannya. 'Bebas' dengan arti yang berbeda~

"Haa~" ia menghela nafasnya. Yang penting menjalani hidup dengan bahagia dan tidak lupa tersenyum. Itulah yang memotivasi Hinata selama ini.

Selesai mencuci muka dan berpikir, ia mengeringkan wajahnya yang basah menggunakan handuk kecil yang digantung tidak jauh dari sana. Kemudian berjalan menuju seragam yang tergantung disebelah lemari pakaian, dan berganti baju. Setelah selesai, ia menyisir rambutnya dan memakai wewangian biar terlihat dan tercium lebih segar. Setelah semuanya telah usai, ia mengambil tasnya dan turun untuk menemui keluarganya.

Di ruang makan, ia sudah melihat keluarganya sedang duduk. Mereka semua sedang menunggu Hinata, mereka akan sarapan. "Ayo sarapan," ajak Hanabi. Sarapan hari ini dibuat oleh Hanabi, karena ini jatah Hanabi untuk memasak.

Hinata menaruh tas sekolahnya dibawah meja, kemudian ia duduk disana. Sarapan dengan tenang dan tidak ada yang bicara sama sekali. Mengingat kata 'bebas', ia jadi kepikiran dengan sepasang ikan koi itu.

Sudah berapa lama mereka tidak bebas? Sudah berapa lama mereka terkurung dalam kolam itu? Ternyata, kata 'bebas' itu bukanlah hal yang biasa. Karena, 'bebas' yang kita lakukan, berbeda dengan kata 'bebas' yang sebenarnya.

'Bebas itu, sebenarnya seperti apa ya?'

Selesai makan, semuanya mulai merapikan piring. Hinata membantu Hanabi cuci piring, ia yang mencuci dan Hanabi yang mengelapnya. Selagi melakukan tugasnya, mereka sambil berbicara.

"Hanabi~ Menurutmu bebas itu seperti apa sih?" tanya Hinata. Ia mau tahu apa kata 'bebas' menurut adiknya.

"Bebas ya? Aku tidak pernah berpikir bebas itu seperti apa." jawaban Hanabi tentu tidak menjawab pertanyaan Hinata. Kenapa selalu saja ada jawaban yang tidak menjawab pertanyaan? Padahal sudah dijawab, tapi itu bukan jawaban yang diinginkan.

"Begitu ya? Apa Hanabi pernah berpikir, bebas itu menyenangkan?" tanyanya lagi.

Hanabi mengelap piring sambil melihat wajah Hinata, "Tidak~" jawaban ini tentu membuat Hinata jadi tertawa memaksa. "Tapi menurutku, itu menyenangkan. Melihat burung-burung yang dapat terbang dengan bebasnya di angkasa, ikan-ikan yang berenang di lautan lepas, itu membuatku sedikit iri." Hanabi termenung mengingat kebebasan yang ia pikirkan itu.

"Yah~ Kakak juga merasakan itu." kadang kala, Hinata juga pernah merasa iri dengan burung-burung dan ikan-ikan. Saat membuka jendela, ia pernah mau memegang burung yang sedang mendarat di jendelanya. Tapi ternyata, burung itu langsung dapat terbang melesat dengan cepatnya. Ia begitu mudah untuk bebas, karena burung memang bebas.

"Apakah Hanabi pernah berpikir, adakah manusia di dunia ini yang bebas?" pertanyaan tentang 'bebas' banyak ditanyakan oleh Hinata. Karena ia masih belum mengerti dengan kata 'bebas' yang sebenarnya.

"Maksud kakak?" Hanabi yang tidak mengerti dengan pertanyaan Hinata pun meminta untuk membuat pertanyaan yang lebih jelas.

Hinata berpikir, bebas yang ada dalam bayangannya seperti ini. "Dapat melakukan semua keinginan tanpa aturan dan peraturan yang ditetapkan." jelasnya.

"Tidak," Hanabi menaruh lap yang sudah tidak terpakai itu, Hinata juga sudah selesai mencuci. Sekarang Hinata terfokus saja jawaban Hanabi. "Kenapa?" menurut Hanabi, manusia tidak dapat melakukan semua yang diinginkan. Tanpa aturan dan peraturan yang ditetapkan, tidak bisa terlepas dari yang namanya aturan-aturan.

Hanabi melihat Hinata, "Karena, semua manusia di dunia ini, tidak ada yang bebas." jawabnya dengan tampang datar. Kemudian pergi dari sana meninggalkan Hinata yang sedang berpikir dengan ucapan Hanabi.

"Manusia itu, tidak ada yang bebas ya?"

~ II ~

˚°◦ ◦°˚ ◐ 2nd Day ◐ ˚°◦ ◦°˚

~ II ~

"Aku pergi~" setelah mengucapkan ini, Hinata langsung jalan menuju sekolahnya. Lima menit berjalan, ia sudah sampai di jalan besar. Dipersimpangan inilah ia bertemu dengan Naruto.

"Eh," sepasang mata Hinata melihat Naruto yang lewat dan berhenti karena melihat sosok Hinata. Awalnya Naruto memang kaget karena kemunculan Hinata yang tiba-tiba ada dibelokan. "Pagi Hinata," tapi ia senang juga karena bisa bertemu dengan Hinata.

Naruto tersenyum saat menyapa Hinata, "Pagi," balas Hinata. Pagi-pagi seperti ini, Naruto sudah membuat Hinata terpesona. Entah bagaimana jika setiap saat ia bersama dengan Naruto. Bisa-bisa hari-harinya penuh dengan rasa terpesona yang besar.

Mereka pun berjalan kembali, yang awalnya sendiri sekarang jadi berdua. "Tumben bisa bertemu ya," ucap Naruto memulai pembicaraan.

"Iya, tumben Naruto lebih cepat berangkatnya." lanjut Hinata. Biasanya mereka memang tidak pernah berangkat bareng, karena Naruto yang malas bangun pagi. Datang ke sekolah pun saat waktu sudah tersisa lima menit lagi.

"Iya, ada urusan." tapi karena ada urusan, jadinya Naruto bangun lebih pagi. Entah urusan apa itu, Hinata mau tahu. Tapi ia tidak mau bertanya, karena nanti malah dibilang mau tahu saja. Banyak nanya~

Diam sementara, "Hari ini pulang malam lagi?" sampai pertanyaan dari Naruto telah ditanyakan. Hinata bingung mau membalas apa, tapi sepertinya ia memang harus jujur.

"Umm.. Ya," walaupun ragu-ragu, Hinata tetap menjawab pertanyaan itu. Lagian tidak mungkin tidak menjawab pertanyaan tersebut.

"Ada apa lagi?" tanya Naruto kembali. Naruto bingung, tumben sekali Hinata pulang malam. Biasanya Hinata paling tidak suka kalau pulang malam, tapi ini malah mau banget pulang malam. Apalagi alasannya hanya hal yang sepele, "Kasih makan ikan," inilah sebuah alasan yang membuat Naruto tidak dapat percaya.

"Aku 'kan sudah pernah kasih tahu, kasihnya siang saja. Dengan jatah yang dibanyakin," Naruto memang sudah memberikan saran yang baik, tapi tetap saja saran itu tidak mau diterima oleh Hinata.

"Aku tidak mau," Hinata selalu menolaknya. Walaupun sudah berkali-kali Naruto memaksa, Hinata malah menolaknya dengan tegas dan semakin tegas. Padahal baru kemarin mulai memberikan saran yang oke.

"Hee~ Susah dikasih tahu ya," ini harusnya Naruto yang susah dikasih tahu, tapi sekarang malah kebalikannya. "Biarin," mendengar ini, Naruto menghela nafasnya.

"Malam-malam berbahaya," inilah alasan Naruto tidak membiarkan Hinata pulang malam. Apalagi sendirian~

"Aku bisa melindungi diriku sendiri," walaupun Hinata seperti itu, tapi sebenarnya Hinata memiliki kekuatan tersendiri. Kalau dalam keadaan terdesak, tanpa sadar Hinata akan mengeluarkan kemampuannya itu.

"Tapi Hinata, kamu ini tetap seorang gadis." Naruto juga pernah melihat Hinata mengeluarkan kekuatannya saat sedang terdesak, dan itu cukup untuk melindunginya. Tapi tetap saja, Naruto tidak dapat membiarkan itu.

"Aku tidak peduli," mendengar Hinata yang tidak peduli pada dirinya sendiri ini malah membuat Naruto kesal. "Apa sih alasannya sebenarnya?" selain itu, Naruto juga tahu ada alasan yang tersembunyi yang dirahasiakan oleh Hinata.

"Alasan apa?" pura-pura tidak mengerti, Hinata malah bertanya balik. "Sampai-sampai membuatmu seperti ini," ucapan Naruto sedikit membuat Hinata menyesal. Sampai kapan ia harus merahasiakannya?

"Mungkin Naruto belum boleh tahu." tapi untuk saat ini, Hinata tidak bisa memberitahukannya. Mungkin tunggu rahasianya sudah hampir terbongkar, baru ia akan memberitahukan hal yang sebenarnya.

"Yah~ Baiklah~ Kalau itu maumu, aku akan menemanimu kembali." tidak ada pilihan lain selain menerimanya. Naruto pun memutuskan untuk menemani Hinata kembali. Tidak ada salahnya juga melihat pemandangan yang indah.

"Eh~ Tidak usah! Nanti bakalan merepotkanmu," dengan nada yang dipercepat, sampil menggoyangkan kedua tangannya ke arah yang berbeda. Hinata menolak rasa baik yang diberikan Naruto~

"Tidak kok," tapi Naruto tidak merasa kerepotan, ini keinginannya sendiri. Jadi ia tidak merasa repot sama sekali, mumpung tidak ada kerjaan yang merepotkan.

"Tidak usah," sekali lagi Hinata menolak, "Mana bisa begitu," dan sekali lagi Naruto memaksanya. "Tapi..." susah bagi Hinata untuk menolaknya, karena Naruto yang tetap saja memaksanya.

"Tidak ada tapi-tapian, kamu tidak akan pernah bebas dariku." setelah mengucapkan itu, Naruto langsung berjalan lebih cepat mendahului Hinata.

"Ba-Baiklah~" Hinata yang tidak bisa menolaknya juga hanya dapat menerimanya dengan pasrah.

Mengingat kembali kata-kata Naruto, 'kamu tidak akan pernah bebas dariku.' itu juga membuatnya teringat kembali dengan kata-kata Hanabi tadi pagi. 'Karena, semua manusia di dunia ini, tidak ada yang bebas.' itu malah menambah sedih Hinata.

'Aku tidak bebas ya?'

Sebenarnya Hinata mau bebas yang seperti iapa? Apa benar yang dikatakan Hanabi? Semua manusia tidak ada yang bebas. Apakah Hinata termaksud?

Saat sampai di sekolah, Hinata langsung ke tempat Ino dan berterima kasih padanya. Karena Ino sudah membuat kemarin menjadi malam yang indah. Melewati hari bersama dengan orang yang disukai itu, memang menyenangkan. Setelah itu bel berbunyi dan dimulailah pelajaran yang membosankan.

Saat istirahat, ia kembali menuju ke kolam ikan itu. Seperti biasa, hanya koi putih saja yang keluar. Kapan ya mereka bisa keluar bersama? Pasti akan terlihat lebih indah, saat mereka bersama. Saat ini Hinata pergi sendirian kesana, karena Ino sedang ada tugas.

"Kalau diibaratkan, koi putih ini Naruto ya?" mengingat kembali ucapan Naruto kemarin malam, sosok putih adalah Naruto. Sosok hitam adalah Hinata, sosok yang tidak dapat bersama dengan Naruto.

"Bersama ya?" Hinata mengeluarkan kalung magatama hitam yang dipakainya. Didekatkannya pada koi putih itu, pasti akan seperti ini jika bersama.

Selain itu, sesuai dengan perjalanan koi ini. Hinata dan Naruto juga tidak bersama. Apakah akan terus-terusan seperti ini? Kalau bersama, pasti akan berbeda. Terasa lebih menyenangkan~

"Apakah perasaan ini akan tersampaikan padanya?" Hinata menyebarkan makanan ikan itu disetiap kolam. Melihat koi putih itu sedikit demi sedikit memakannya.

"Kamu sudah berapa lama disini?" bukannya bodoh atau apa bertanya pada binatang. Tapi, Hinata agak prihatin dengan kebebasan ikan ini. Harusnya, mereka bebas di lautan yang luas dan indah.

"Kamu juga tidak bebas ya? Sama sepertiku," Hinata jongkok di sisi kolam, melihat lekat-lekat kolam itu. "Dasarnya tidak terlihat. Apakah koi hitam berada disana? Sedang tidur?" Hinata menghela nafasnya.

Memikirkan hal ini, sudah berapa lama koi ini terperangkap didalam kolam? Sudah berapa lama mereka menjaga sekolah ini? Sudah berapa lama mereka tidak bebas? Mendengar cerita dari Ino yang didapatkan dari neneknya Ino, mungkin sudah sangat lama. Mungkin, disinilah kebebasannya.

Hinata tersenyum, ia dapat merasakannya. Kebebasan itu memang susah untuk didapatkan. Walaupun tidak bebas, pasti akan ada sisi menyenangkannya. Hanya saja, tidak sesuai dengan perkiraan yang ada. Kata 'bebas' itu, memang sulit diartikan.

Hinata berdiri kembali, mungkin sudah cukup sampai disini. Hinata senang dapat bertemu lagi dengan si putih. Melihatnya makan, sambil ia bercerita. Ia beruntung mengetahui hal ini dari Ino, karena ia jadi punya tempat untuk menenangkan diri. Yang selalu dapat menerima keluh kesahnya~

Walaupun ia hanya menceritakannya pada seekor ikan, tapi itu sudah cukup baginya. Melihat ikan putih itu, sudah seperti melihat Naruto. Seperti yang pernah dibilang Naruto, sosok putih itu memang mirip Naruto.

"Sampai bertemu besok siang,"

~ II ~

˚°◦ ◦°˚ ◐ Bebas ◐ ˚°◦ ◦°˚

~ II ~

Hari sudah gelap, Naruto dan Hinata sekarang berada di kolam itu bersama. Naruto memandang koi hitam itu dengan lekat, "Katanya ada sepasang ikan koi yang melindungi sekolah ini. Ini ya?" pertanyaan Naruto membuat Hinata melihat Naruto sebentar, kemudian memalingkan wajahnya kembali.

Bukannya Hinata sudah pernah kasih tahu hal itu pada Naruto ya? Tapi untuk mencari aman, Hinata cukup mengangguk saja. Daripada nanti Naruto malah mengingat kejadian yang sudah lama itu dengan waktu lama, jadi dirinya mengangguk saja. Karena ia tahu, Naruto tidak mudah mengingat kenangan lalu.

"Katanya sepasang, ini cuma ada satu ekor doang. Yang satunya lagi kemana?" tanya Naruto kembali. Sebenarnya Hinata malas untuk menjawab pertanyaan Naruto, karena ia sedang asyik menyaksikan keindahan didepan matanya. Akan lebih menikmati pemandangan jika menatapnya tanpa berbicara. Tapi tentu saja Hinata harus membalas pertanyaan itu, "Tidur," balas Hinata singkat. "Bercanda ya?" tanya Naruto tidak percaya. Ia mana mungkin mempercayai hal semacam itu. Ikan itu tidak bisa tidur kali!? Yang berpikir seperti itu salah. Ikan itu, kalau tidur matanya terbuka. Abaikan ini~

"Aku tidak bercanda. Pada awalnya, aku juga tidak percaya. Tapi saat melihat yang sebenarnya, aku jadi percaya." balas Hinata menceritakan kejadiannya belum lama ini. Kemudian ia memberikan makanan itu pada koi hitam yang saat ini keluar.

"Yah~ Padahal kalau muncul bersamaan akan lebih terlihat indah." ucap Naruto kecewa. Disisi lain, Hinata tersentak mendengar ucapan Naruto. Pemikiran Naruto sama dengan pemikiran Hinata. Jadi Hinata setuju saja dengan ucapan Naruto yang ini.

"Mungkin kalau mereka bersama, akan jadi seperti ini ya?" Naruto mengeluarkan ponselnya, strap magatama putih menggantung dengan indahnya diatas koi hitam.

Hinata tertawa singkat, bahkan tingkahnya yang ini pun juga sama seperti dengan Naruto. Apakah dengan ini, mereka benar-benar akan bersama? Melihat Hinata yang tertawa, Naruto jadi merasa aneh. Tingkahnya barusan aneh ya?

"Kenapa tertawa? Kalau dilihat, tingkahku yang sebelumnya memang aneh sih." Naruto menyadari kalau tingkahnya aneh, jadi ia hanya pasrah ditertawakan seperti itu oleh Hinata. Ia tidak bisa marah, karena itu hanya akan menyakiti hati Hinata. Tentu akan berbeda kejadiannya jika orang yang menertawakannya itu bukan Hinata. Ia malah akan berteriak karena kesal ditertawakan seperti itu.

Hinata menggeleng, "Bukan seperti itu kok, aku malah memikirkan hal yang sama dengan Naruto." ia pun memberitahukan hal itu pada Naruto, agar Naruto tidak merasa dipermalukan. "Pemikiran kita sama ya?" mengetahui itu, entah kenapa Naruto jadi senang. Ia tertawa sendiri sambil melihat kolam.

"Oh iya~ Apakah Naruto pernah berpikir, mereka berada di tempat seperti ini. Bebas?" Naruto menyernyitkan sebelah matanya, menjelaskan pertanyaan Hinata dalam pemikirannya. Setelah dimengerti, akhirnya ia dapat membalas pertanyaan Hinata dengan lancar.

"Kalau menurutku, tidak." Naruto kemudian merubah posisinya jadi berdiri. "Harusnya mereka dapat berenang dengan bebas di lautan yang luas. Tapi ini malah berada di kolam yang sekolah dengan ukuran yang kurang luas." kemudian ia melihat bintang-bintang malam yang sudah semakin banyak keluar. "Aku pikir, mungkin ada alasan tertentu mereka disini. Seperti yang kudengar, mungkin mereka menjaga sekolah ini." Hinata yang melihat Naruto ke atas terus merasa capek pada bagian lehernya. Ia jadi ikut-ikutan berdiri agar rasa itu tidak terlalu lama terjadi padanya.

"Kalau memang seperti itu, mana bisa mereka bebas, itu menurutku. Tapi kalau menurut mereka, mungkin saja inilah kebebasannya." jelas Naruto panjang lebar. Ia memegang kepalanya, "Mungkin sulit dimengerti, aku saja tidak tahu apa yang barusan kuucapkan." sambil cengengesan karena tidak mengerti dengan ucapannya sendiri.

Tapi Hinata dapat mengerti setiap kata yang diucapkan oleh Naruto, bebas yang mereka rasakan memang berbeda dengan yang mereka bayangkan. Mungkin memang seperti itu yang dirasakan kedua ikan koi itu. Bebas menurut bayangan mereka adalah, berenang di lautan. Tapi bebas yang mereka rasakan adalah, menjaga sekolah.

Membuat pembicaraan baru, tapi dengan topik yang berbeda. "Menurut Naruto, apakah Naruto bebas? Kalau menurutku, aku tidak bebas. Pada awalnya, aku berpikir kalau aku ini bebas. Tapi saat mendengar kata-kata Hanabi dan Naruto, aku jadi berpikir kembali. Aku ini, tidak bebas." Naruto berpikir, "Kata-kataku? Kata-kata Hanabi?" tanyanya tidak mengerti. Memang kata-kata yang mana ya? Naruto jadi mengingat-ingat lagi kejadian sebelumnya.

"Aku tidak bisa bebas darimu, semua manusia di dunia ini tidak ada yang bebas. Yah~ Dari sini aku baru sadar, aku tidak bebas." Hinata menceritakan semua pikirannya hari ini. Tentang kata 'bebas' yang belum dimengerti olehnya. Tentang bebas menurut Hanabi, dan tentang kebebasan yang tidak didapatkan olehnya.

"Gimana ya? Awalnya aku berpikir, aku ini juga bebas. Tapi..." Naruto menghentikan kata-katanya, dan itu membuat Hinata tambah penasaran. "Ternyata tidak," inilah jawaban Naruto. "Karena bebas yang kurasakan, ternyata berbeda dengan apa yang kubayangkan. Sama seperti dengan sepasang koi yang tinggal di kolam ini." disini Naruto benar-benar menunjukkan sosok dewasanya. Naruto tersenyum singkat, tapi ada rasa lega juga disana. Baru kali ini ia dapat berbicara sedewasa dan setenang mendiang ayahnya.

Yang awalnya Hinata tidak mengerti, akhirnya ia dapat mengerti semuanya. Apa yang terjadi, biasanya memang tidak sesuai yang dibayangkan. "Jadi menurutku, yang dikatakan Hanabi itu memang benar." setuju dengan kata-kata Hanabi, Naruto menunjukkan rasa setujunya dengan memberikan jempol pada Hinata. Mungkin setelah sampai di rumah, Hinata akan memberikan jempol itu pada Hanabi.

'Semua manusia memang tidak bebas ya?'

Naruto mengambil tas yang dibiarkan tergeletak dipinggir kolam, "Sudah! Ayo kita pulang," ajak Naruto. Hinata juga sudah mengambil tas-nya, ia juga sudah siap untuk pulang. Sudah terlalu lama ia berada disana~

"Bertemu lagi besok malam ya," pamit Hinata. "Besok pulang malam lagi?" Hinata mengangguk, "Baiklah~ Kalau begitu besok aku akan menemanimu kembali." keputusan yang sudah dibuat Naruto itu, kadang selalu ia tepati.

Naruto mulai melangkahkan kakinya, "Naruto tidak sibuk? Besok 'kan Naruto akan berlatih bersama klub atletik," tapi langkahnya terhenti karena ucapan Hinata.

"Besok kamis ya? Sampai lupa~" Naruto memukul kepalanya sendiri dengan raut wajah yang tidak dapat diartikan. "Iya, jadi tidak usah." Hinata juga tidak mau merepotkan Naruto.

"Kenapa begitu? Latihan selesai jam enam, jadi aku bisa menemanimu." Naruto malah merasa disingkirkan, padahal ada waktu buat menemani Hinata. Apa Hinata tidak suka terus-terusan bersama dengannya?

"Bukan begitu alasannya~ Pasti setelah latihan, tenaga Naruto terkuras habis. Jadi sebaiknya cepat pulang dan beristirahat," bukan masalah tidak suka kehadiran Naruto, malahan Hinata sangat suka. Hanya saja, setelah berolahraga pasti akan menguras tenaga.

"Tidak bisa~ Ini sudah menjadi keputusanku. Sebagai orang yang lebih tua, cuma dua bulan lebih ditit sih. Aku harus melindungimu," mendengar ini, Hinata tertunduk. 'Aku apa dimata Naruto ya?' batinnya sedih.

"Kalau itu keputusan Naruto, baiklah." Ia berjalan kembali dan meninggalkan sepasang ikan yang satunya sedang tidur, dan yang satu lagi sedang bertugas.

Dari sinilah Hinata mengetahui sebuah fakta. Walau dicoba sekeras dan seberusaha apapun, kita tidak akan bisa mendapatkan bebas yang sesuai dengan bayangan kita.

'Aku tidak bisa mendapatkan bebas yang kuinginkan ya?'

::

::

To Be Continue ◐

::

::

Chapter dua selesai! Bagaimana chapter yang bertemakan 'bebas' ini? Sebenarnya aku juga kurang mengerti sih, tapi aku mencoba mendeskripsikannya sesuai dengan kemampuanku saja. Tapi bagaimana fic-nya? Berikan pendapat kalian ya. Terima kasih sudah membaca chapter ini sampai akhir.

Oh ya, mungkin untuk chapter berikutnya, akan sangat lama dalam peng-update-an, mungkin bisa sekitar satu bulan. Dikarenakan diriku sudah kelas tiga, sehingga di minggu-minggu ke depan akan begitu banyak ujian yang menanti. Mohon dimengerti kalau update-nya bakal sangat lama ya~ Tapi mudah-mudahan, para pembaca tetap senantiasa menunggu dan menanti fic ini.

Akhir kata, sampai berjumpa di chapter berikutnya.

Thanks To:

Kaoru-Kagami Yoshida, Hasegawa, sebutsajanaruto, blackschool, me yuki hina, Amu B, burritown, Cicikun, Rijalharits, anna. fitry, SP, ranggagian67, oxcidxhAnNISA

Jaa~

V

V

V