MUSIM PANAS
.
.
Digimon Adventure Fanfiction Presented by InfiKiss
Digimon Adventure © Akiyoshi Hongo
.
Summary :
Kumpulan drabble tentang Musim Panas. Juga tentang persahabatan tiga orang sedari kecil yang penuh dengan janji-janji sederhana mereka. Yagami Taichi, Ishida Yamato, Tachikawa Mimi dan panas yang mereka jalani setiap tahunnya.
Antara perasaan yang kelak pun tumbuh; jatuh cinta, cemburu, kecewa, patah hati, bahagia juga tangis.
.
.
MUSIM PANAS KESEMBILAN
Jam sebelas siang.
Senyum ceria sudah terpatri di wajah Yagami remaja tersebut. Sudah hampir satu jam dia berada di Bandara Haneda, menunggu pesawat yang datang dari Amerika tandang ke daratan Jepang. Dan Taichi tahu, sudah waktunya perpisahan panjang mereka kini diakhiri ketika surel itu datang seminggu yang lalu. Pesan singkat yang mengatakan bahwa 'dia' akan kembali ke Jepang untuk jangka waktu yang tak ditentukan.
Kemeja berkerah hitam itu melekat pas di tubuh tinggi sang pemain bola SMU Odaiba tersebut. Seperti kebiasaannya, kacamata karet melingkar di atas kepala. Sambil menggosok-gosokkan dagu dan sesekali melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan, Taichi menghitung mundur. Berharap dia yang ditunggu segera menghampiri.
Detak anomali tak wajar menginterupsi. Saling bersinkronisasi dengan hiruk-pikuk Bandara siang itu—juga suara-suara panggilan yang terdengar dari mesin pengeras. Debaran yang semakin menderu seakan mencekik tenggorokan Taichi, membuat perutnya melilit tanpa sebab. Tapi ini bukan perasaan yang mengganggu. Bisa ditebak karena senyum terus terpasang di wajahnya. Seperti guratan itu telah lama dilukis di bibirnya dan tak pernah pudar sekali saja.
Bagai purnama merindukan mentarinya. Ia begitu merindukan sosok yang kini tengah ditunggu.
"Coba tebak," Seiring dengan gelap yang menyergap pandangan, suara itupun terdengar.
Sepuluh jemari kini sudah membentengi kedua mata Taichi. Begitu jelas ia bisa menghirup aroma stroberi yang menyusup masuk ke cuping hidung. Lalu suara kekehan ringan dari belakang tubuhnya seolah menggelitik di pendengaran. Suara itu memang terdengar agak berbeda dan mungkin Taichi agak sulit mengenalinya. Tapi Taichi tahu, hanya satu orang yang akan melakukan hal kekanakkan macam ini terhadapnya.
Pemuda itu tak segera menjawab. Alih-alih, ia justru meraih kedua tangan berjemari lentik itu dan menurunkannya dari pandangan. Taichi menoleh, tersenyum tipis ke hadapan gadis yang berdiri di belakangnya.
Gadis itu tampak seratus delapan puluh derajat berbeda dari yang ada di ingatan Taichi. Jika dulu sosoknya tampak mungil dan cengeng, juga tak bisa melakukan apapun selain merajuk manja. Sosok yang sekaran justru tampak hebat dan lebih kuat. Rambut coklat panjang yang Taichi faforitkan telah berubah warna menjadi merah muda dengan hiasan bintang-bintang kecil menempel. Yang biasanya memakai sepatu kekanakkan, sekarang mengenakan boots dengan heels tinggi (meski tetap Taichi yang lebih tinggi darinya). Dan yang tadinya mengenakkan baju ala tuan puteri di negeri dongeng, kini memilih kemeja biru yang melekat pas ditubuhnya dengan paduan rok pendek berpelipit.
Sungguh berbeda.
"Yo..." sapanya lembut.
"Ohisashiburi, Taichi-kun..."
"Kau kelihatan..." cantik, "...sehat, Mimi." Taichi ingin tertawa dengan kata-kata yang mampir di benaknya.
Mimi tersenyum lagi. Kali ini tangannya tak bisa diam, ia agak berjinjit agar bisa mengacak rambut cokelat Taichi sesuka hati. Tentu saja kelakuannya membuat taichi memberengut kesal. "Dan kau kelihatan sangat keren, lho!"
Musim panas kesembilan; pertemuan setelah berpisah.
~OoOoOoO~
Tak banyak yang berubah di Odaiba di manik hazel gadis muda Tachikawa tersebut. Meski lima tahun ia lewati di negeri yang berjulukan Paman Sam, ternyata keindahan Jepang tak pernah bisa ditandingi oleh apapun. Mimi selalu merindukan suara dengung tonggeret di musim panas, juga es serut pinggir jalan yang menjadi menu faforitnya sepulang dari sekolah dulu. Jangan lupakan betapa banyaknya festifal yang digelar di musim panas. Mimi merindukan caranya memakai Yukata dan rasa manis permen apel juga taiyaki.
Ah, terlalu banyak yang membuatnya rindu.
Salah satunya; melodi lembut dari harmonika tua Yamato.
"Didengar berkali-kalipun, aku tak pernah merasa bosan dengan permainan harmonikanya." Sora menewarang lurus ke atas panggung dimana terdapat sosok Yamato dan tiga pemuda lainnya sudah bersiap dengan alat-alat musik mereka. Hingar-bingar penonton yang bersorak meneriaki nama pemuda itupun melenyapkan suara Sora sehingga Mimi ataupun Taichi harus menajamkan pendengarannya masing-masing.
"Dia benar-benar berbeda kalau dilihat dari sudut seperti ini." Sora menambahkan.
"Seperti melihat artis idola, ya. Aku tak pernah tahu kalau Yamato sepopuler ini. Well, dia memang cukup terkenal waktu SD dulu. Tapi setiap berkirim e-mail dengannya, Yamato tak pernah mengatakan bahwa ia memiliki banyak penggemar gila." Mimi terkekeh geli sendiri sambil tetap fokus menatap Yamato yang mulai memainkan gitarnya. Seiring permainan lagu didendangkan, jeritan histeria para fans semakin mengerikan.
Taichi mungkin sudah tak sanggup lagi ada disana. Jika bukan untuk menemani kedua sahabatnya, ia sudah pasti memilih lari saat memasuki pintu utama tadi.
"Gila," bisiknya ditelan riuh penonton.
"Mimi-chan, apa di Amerika kau bertemu cowok seperti Yamato? Yang keren—maksudku. Hehe~"
Sontak Mimi tertawa. "Ya, Tuhan! Asal kau tahu, Sora. Pria di Amerika benar-benar mengagumkan semuanya. Tinggi, putih, keren dan stylish. Pokoknya hebat."
"Waah~" Sora tersenyum kecil. Meski berusaha menunjukkan sikap terpana, toh tetap saja terbaca bahwa ia sama sekali tak terlalu peduli dengan fisik yang Mimi paparkan. "Kalau begitu, kau pasti punya banyak pacar disana? Sehabis dari Amerika, Mimi kelihatan berbeda sekali."
Pembicaraan ditengah euforia itu terdengar oleh Taichi dan membuatnya menyimak meski tak menanggapi. Jujur saja, pertanyaan terakhir Sora memang sempat melintas di pikirannya saat kemarin mengobrol dari bandara Haneda menuju rumah Nenek dan Kakek Tachikawa. Tapi Taichi tak bernyali menanyakannya.
"Aku tidak memiliki satu pacarpun..."
Taichi menghela nafas lega.
"...karena aku lebih menyukai cowok Jepang." Dan Mimi tertawa renyah sambil menoleh ke arah Taichi.
~OoOoOoO~
Natsu no Cafe, sebuah cafe kecil di pinggiran jalan menjadi tempat persinggahan keempat remaja itu malam ini. Odaiba tak seramai Tokyo memang. Tapi tetap saja semakin malam kota kecil itu akan semakin ramai. Musik-musik dan lampu toko yang berwarna-warni menjadi pemandangan tersendiri bagi penduduk kota. Aroma hangat dua cangkir capucino dan manisnya dua gelas teh vanilla menjadi teman mengobrol mereka berempat saat ini.
"Joe Senpai benar-benar sibuk menjelang ujian musim gugur nanti."
"Sedang Koushiro benar-benar tidak bisa datang karena banyak proyek yang harus ia selesaikan. Bahkan komputer lebih penting daripada aku."
Sora terkekeh mendengar celetukan Mimi. "Dan ujiannya Joe Senpai pun lebih berharga daripada kamu, Mimi. Juga konser Yamato. Mimi ternyata nomor dua." Tawanya meledak seketika. Bukan hanya Sora, Yamato sendiri tak bisa menyembunyiikan ekspresi geli di parasnya.
Sedangkan yang menjadi bahan ledekan hanya mengerucutkan bibir. "Tapi Taichi-kun mau repot-repot menjemputku."
"Uhuk—" Korban berikutnya. Taichi yang hendak menyesap teh vanilla sontak tersedak. "Eh? Apa hubungannya denganku!" Setengah hatinya tak rela jika namanya diikut-sertakan di pembicaraan mereka. Setengah hati lainnya takut kalau-kalau detak tak wajar di dadanya bisa terdengar ke udara.
"Itu karena anak ini yang paling menganggur." Yamato menarik pundak Taichi dan mengacak rambutnya.
"Hei! Aku kapten tim sepak bola. Aku juga punya banyak kegiatan!"
"Tapi toh kau selalu ada waktu kemana-mana, Taichi-kun." Sora semakin tertawa dibuatnya. "Kau sering main ke game centre atau sekedar membaca komik seharian di rumah sepanjang musim panas. Kegiatan apanya?"
Sungguh, wajah Taichi kini seperti kepiting rebus. Antara mendongkol dan malu sukses dibuat oleh kedua sahabat karibnya itu. Yang paling membuatnya jengkel ialah gadis berambut pink yang duduk disamping Yamato ikut geli menertawainya.
'Sial,' Taichi mengumpat dalam hati. "Terserah kalian, deh." Lalu memutuskan untuk ngambek.
.
.
"Payah. Jadi bahan lelucon itu payah."
"Oh, ayolah berhenti menggerutu." Mimi tersenyum kecil sambil menepuk pundak Taichi pelan.
Jam sembilan malam merupakan waktu perpisahan mereka. Bagaimanapun, Taichi, Yamato dan Sora masih terikat status sebagai siswa SMA. Berada di atas jam sepuluh di malam hari sudah bisa dikatakan melanggar peraturan sekolah. Berbeda dengan Mimi yang dewasa di Amerika, berkeliaran hingga tengah malam merupakan hal biasa yang ia lakukan sepanjang SMP dulu.
Seperti yang dijelaskan di surel singkat Mimi, selama ia kembali ke Jepang ia akan menetap di rumah Kakek dan Neneknya. Dan tentu siapapun ingat bahwa rumah Kakek-Nenek Tachikawa itu bersebelahan dengan apartemen keluarga Yagami tinggal.
Sebuah gedung berlantai lima sudah tampak di ujung tanjakan yang mereka tapaki. Hanya beberapa meter lagi saja. Jujur, dalam hati sedikit muncul perasaan bahwa Taichi enggan sampai ke tempat tinggal mereka dalam hitungan menit. Ia masih ingin menikmati waktu berdua bersama Mimi. Kemarin, ketika Mimi kembali, Taichi hanya sempat menjemputnya dan mengobrol sebentar sebelum akhirnya Mimi menjadi piala bergilir yang harus ke rumah beberapa kerabat di sekitar Odaiba. Kalau besok, Taichi sudah ada jadwal latih tanding sepak bola dengan SMU lain. Jadi tak bisa menemani Mimi.
"Besok..."
Mimi melirik Taichi sekilas. "Ya? Besok Taichi-kun ada jadwal latih tanding sepak bola 'kan?"
Taichi mengangguk malas. "Jadi aku tak bisa mengantarmu jalan-jalan seperti hari ini."
"Tak masalah." Satu kibasan tangan dan jawaban simpel entah kenapa membuat sekelebat rasa sakit bercokol di dada Taichi. "Besok aku akan bersama Yamato-kun."
Yamato, ya...?
"Besok kami mau ke SD Odaiba. Aku benar-benar kangen sama sekolah. Jadi Taichi-kun tak perlu bingung."
"A-hahaha..." Taichi hanya bisa tertawa getir. "Baiklah." Lalu menunjukkan cengir ceria seperti biasanya. Satu tangannya secara reflek sudah mampir di puncak kepala Mimi dan menepuknya lembut.
Mimi terkesiap. Gerakan mereka berdua terhenti. Bagai waktu yang membatu, kini sepasang manik hazel masing-masing saling bertemu dalam satu garis lurus. Tidak ada angin yang berhembus. Hanya beberapa kendaraan saja yang lewat silih berganti, menyiram kedua insan itu dengan cahaya temaram lampu mobil yang berwarna putih.
Seolah angin menerbangkan aroma stroberi yang familiar bagi Taichi. Ia ingin sekali merengkuh tubuh itu ke dalam pelukannya dan tak mau melepaskan apapun yang terjadi.
Mimi tertawa. "Seperti waktu kecil, ya. Taichi-kun sering sekali menepuk kepalaku begitu."
Kalimat singkat yang membawa kehangatan di sekujur tubuh Taichi. Membuat bibir tipis pemuda itu menunjukkan satu lengkungan tulus seperti rembulan dengan sinarnya yang lembut. "Aku selalu menyukainya," caraku menepuk kepalamu—juga dirimu, "seolah kau itu Adikku, lho."
"Huh." Senyum Mimi pudar, digantikan ekspresi cemberut kekanakkan. "Aku 'kan bukan Adik taichi-kun."
Dan Taichi hanya terkekeh pelan.
Jika saja ia memiliki keberanian mengatakan apa yang tadi sempat melintas dipikirannya. Akankah Mimi membalasnya dengan rasa yang sama?
~OoOoOoO~
Deru mesin motor berkesinambungan dengan mesin mobil lain di sepanjang jalur Odaiba. Melawan angin musim panas yang menyengat ketika matahari mengibarkan kemampuannya di seluruh belahan bumi bagian Timur. Mimi duduk di belakang Yamato dengan helmet putih melindungi kepala. Memeluk erat pinggang pemuda itu tanpa mengucap apapun karena menetralkan debaran unik di dadanya.
"Sebentar lagi sampai. Tapi kurasa kita terlambat!"
"Huh?" Butuh sedikit meninggikan suara untuk bicara ketika sedang berkendara. "Apa pertandingannya sudah selesai?"
Yamato mengangguk di depan. Diputar kemudi motornya ke kanan saat menemui sebuah pertigaan jalan. Kini jalur yang mereka lintasi sudah mulai sepi dari kendaraan besar dan Yamato pun mulai menurunkan kecepatan karena rambu-rambu yang dipasang di pinggir melarang pengemudi berkendara di atas 40 kilometer per jam.
Mereka mulai menaiki jalan utama menuju SMU Odaiba. Disana, Yamato benar-benar mengemudikan motornya lambat-lambat. Sedangkan Mimi memilih menikmati pemandangan yang tersaji di kiri dan kanan jalan dimana pohon-pohon Sakura berbaris memagar trotoar dengan batangnya yang kokoh dan dedaunan yang rimbun.
"Masih sama." Guraunya pelan.
Mimi selalu jatuh cinta dengan jalan setapak menuju sekolah. Apalagi jika di musim semi dimana Sakura itu akan bermekaran sempurna. Biasanya dia dan teman-teman akan mengumpulkan bunga-bunga Sakura jika berguguran dan membawanya pulang untuk dijadikan aroma terapi saat mandi air panas.
Sakura mungkin hal utama yang membuatnya rindu kampung halaman.
Motor Yamato dihentikan tepat di depan gerbang SMU Odaiba. Karena ini liburan musim panas, tentu saja yang datang ke sekolah hanya mereka yang memang ada kegiatan tambahan. Dari gerbang saja Mimi sudah bisa melihat lapangan olah raga yang penuh dengan penonton dari sekolah juga sekolah lain yang menjadi lawan tanding.
Hiruk pikuk disana terdengar sampai gerbang.
"Sepertinya sudah selesai."
"Benar-benar terlambat. Apa Yamato-kun akan masuk juga?" tanya Mimi kepada Yamato.
Pemuda itu tersenyum kecil sambil menggeleng. "Aku hanya mengantarmu kesini seperti permintaanmu 'kan? Lagipula..." Kalimatnya terhenti dengan ekspresi ragu-ragu. "Ya, Sora sedang menungguku."
DEG—!
"Sora?"
Yamato mengangguk. "Apa kau tidak tahu kalau aku dan Sora..." Sekali lagi Yamato memberikan jeda di kalimatnya. Yamato memang bukan tipikal pemuda yang peka, tapi ia juga merasa canggung jika menjelaskan tentang hubungan pribadi meskipun di depan sahabatnya.
"Mimi! Yamato!"
Teriakan nyaring Taichi memutus pembicaraan keduanya. Mimi dan Yamato sama-sama menoleh ke arah dalam sekolah dimana Taichi dengan seragam kesebelasan sepak bola SMU Odaiba sudah berlari menghampiri. Nafasnya terengah-engah dan keringat membasahi wajah hingga leher. Ditambah handuk basah yang sengaja disampirkan di sekitar pundaknya. Meski ia tampak kelelahan, jelas kelihatan kedua manik cokelatnya berkilat senang.
"Kalian datang? Eh, tapi sudah selesai. Kami menang!"
"Waah! Hebat!" Mimi menepuk tangan dan sejenak melupakan pembicaraannya dengan Yamato. "Aku bangun agak telat jadi kami terlambat. Padahal aku ingin sedikit mengejutkan Taichi-kun."
Mengejutkan?
Oke, Taichi tahu lagi-lagi jantungnya berdetak cepat. Tak perlu repot-repot datang saat masih bertanding. Melihat gadis itu disini seusai pertandingan pun membuat Taichi kaget dan bahagia di saat yang bersamaan.
Jadi... "Terima kasih," Taichi hanya bisa tersenyum kecil meski di dalam hati ia sungguh ingin meraih tangan Mimi dan menggenggamnya tulus.
"Oke!" Yamato menghentikan momen manis Yagami dan Tachikawa. Dia sudah menyalakan lagi mesin motor besar kebanggaannya dan tersenyum simpul. Entah kenapa ia merasa berdosa jika berada disana terlalu lama. Karena meski Taichi tak pernah mengatakan apapun, Yamato tentu bisa membaca perasaannya dengan jelas.
Mereka besar bersama.
"Aku pergi duluan. Sampai nanti malam. Kita akan berkumpul dengan yang lainnya di rumah Sora. Bye!" Secepat angin yang bertiup semilir, pemuda pirang itu langsung melesat meninggalkan kedua temannya yang terpekur dalam diam.
Mimi menatap punggung berjaket hitam itu yang semakin jauh. Masih ada segenggam rasa penasaran menelisik pikiran. Tentang Yamato dan Sora, juga sesuatu yang belum diketahuinya. Ditambah sedikt gelisah dikarenakan perasaan unik yang menggelayut di dada.
Disampingnya, Taichi melirik Mimi. Membaca ekspresi yang tergambar di wajah polosnya.
Dia cemburu. Mimi yang menatap lekat punggung Yamato yang bahkan sudah menjauh membuat Taichi cemburu...
"Mi,"
"Hmm?"
"Apa perasaanmu dengan Yamato...masih belum berubah?"
Mimi tidak serta merta menjawab pertanyaan Taichi. Gadis itu menyampirkan rambut yang menggelitik pipi karena tertiup angin. Sambil menghela nafas, gadis itu menjawab ringan tanpa beban, "Seperti yang kukatakan kemarin; aku menyukai cowok Jepang."
Senyum Taichi pun terpasang getir untuknya.
~OoOoOoO~
Ini adalah sebuah kejadian kecil di usia mereka yang masih kanak-kanak. Di musim panas, setiap kali selesai bermain di hutan, Taichi dan Yamato senang sekali duduk-duduk di sebuah toko kelontong milik Nenek tua di dekat ladang di pinggir jalan. Meski untuk sekedar beristirahat sambil menikmati es serut dingin atau menunggu Joe dan Koushiro sebelum akhirnya anak-anak itu melanjutkan petualangan menangkap kumbang atau serangga lain di hutan.
Hari itu Taichi, Yamato, Joe dan si kecil Koushiro duduk-duduk sambil menikmati es potong kacang hijau. Menunggu Sora dan Mimi yang katanya akan menyusul. Anak perempuan selalu membutuhkan waktu yang lama jika ingin pergi bermain—begitu yang mereka tahu.
"Lihat, lihat. Orang-orang akan menyiapkan festifal Odori untuk lusa, lho. Kalian akan datang?" Joe bertanya semangat saat menunjuk kearah lima pemuda dewasa yang membawa papan-papan kayu berjalan melewati toko kelontong.
"Ung~ Kalau Mama dan Papa mengizinkan, mau ikut ikut."
"Koushirou 'kan masih kecil, jadi belum boleh pergi ke festifal." Taichi tertawa meledek. "Lagipula rumahmu paling jauh dari lapangan."
"Hey, aku juga sudah besar! Hanya beda dua tahun dari Taichi-san." Gerutu Koushirou kesal sambil menggigit besar-besar es potong miliknya. Rasa dingin meleleh di kerongkongan dan membuatnya mengernyitkan kening.
Joe terbahak, "Pelan-pelan. Menelan bulat-bulat es itu nggak baik,"
"Ah, mana Sora dan Mimi?" Pertanyaan yang diucap Yamato menarik perhatian ketiga anak laki-laki lain yang sepertinya mulai bosan menunggu. Pasalnya, ini sudah hampir setengah jam. Anak-anak membenci menunggu jika mereka hendak pergi bermain.
Joe menaikkan kacamata yang merosot dari hidungnya, "Mau ditinggal saja?"
"Jangan!" Taichi menyela panik. Kedua tangannya bergerak-gerak melarang usul Joe untuk disetujui. Taichi ingat betul tahun lalu ia dan Yamato pernah kehilangan Mimi di hutan saat kedua anak laki-laki itu meninggalkannya mencari serangga. Dan Taichi berjanji tak akan pernah meninggalkan Mimi lagi. "Bahaya. Bahaya. Bagaimana kalau mereka berdua nekat masuk ke hutan dan tersesat?"
Sangkalannya masuk akal. Joe bersedekap sambil mengangguk-angguk setuju. "Benar juga. Tapi ini terlalu lama—"
"Ah, itu mereka!" Tiba-tiba Koushirou menunjuk ke arah sisi jalan dimana ada dua orang gadis kecil berjalan buru-buru menyusuri jalan. Namun saat mereka berempat memperhatikan lebih seksama, keempat anak itupun terkejut dengan apa yang mereka lihat.
Sora dan Mimi, berjalan dengan pakaian kotor seperti terjatuh entah dimana. Dan Mimi menangis sesengukkan dengan satu tangan digandeng oleh Sora.
"Waaa!" Joe orang pertama yang berlari menemui kedua gadis itu. "Apa yang terjadi? Sora, Mimi-chan? Kok berantakan begini? Kalian jatuh dimana!" Panik. Sebagai anak yang paling tua, terkadang Joe seolah memiliki tanggung jawab terhadapa semua teman-temannya.
Sora mengangguk. "Kami memotong jalan tapi malah tersasar di hutan lalu terjerembab di semak belukar." Taichi, Yamato dan Koushirou sudah sampai dihadapannya dengan ekspresi panik yang berbeda-beda.
Sora pun melirik ke samping dimana Mimi masih menangis. "Dan Mimi-chan tidak mau berhenti menangis..."
"Mimi terluka?" Taichi menghampirinya dengan cemas.
"Huaaa... Sakit! Kakiku sakit!"
"Huh?" Yamato yang pertama melihat ke arah kaki Mimi. Dan memang ditemukan sedikit darah yang mengalir di lutut anak perempuan itu. Ujung celana Mimi juga agak robek. Anak itu pun berjongkok sambil untuk memperhatikan. "Ada luka..."
Sora membulatkan mata. "Eh? Tadi belum kelihatan! Apa karena berjalan kesini lukanya jadi melebar?"
"Bisa jadi."
"Harus segera diobati! Eh? Eh?" Joe menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari Taichi namun tak ditemukan. "Mana Taichi?"
Tak satupun yang memperhatikan kemana anak itu pergi.
Yamato yang masih berlutut di depan Mimi segera merogoh ke saku celana pendeknya dan mengeluarkan sapu tangan. Dengan hati-hati, anak itu membersihkan darah yang tampak di luka Mimi hingga benar-benar tak tampak debu disana. Sora, Koushirou dan Joe hanya memperhatikan sedangkan Mimi mulai sedikit tenang meski masih terisak sambil meringis sakit saat lukanya disentuh.
Lagi-lagi dari saku celananya Yamato mengeluarkan sesuatu. Kali ini plester luka. Siapa yang mengira kalau Yamato membawanya? Tanpa banyak bicara ditempelkan plester itu untuk menutupi luka Mimi. Anak itu pun tersenyum bangga dengan kebaikannya setelah menolong sahabatnya.
"Sudah." Dia kembali berdiri. "Paling tidak darahnya sudah berhenti, kok. Ditutup plester agar tidak infeksi. Apa Mimi mau pulang saja?"
"Tidak mau. Aku mau main..."
"Teman-teman!" Taichi ternyata berlari dari arah toko kelontong sambil melambaikan tangan. Jelas sekali ia tergesa-gesa saat sampai di depan sahabatnya. Nafasnya tersenggal-senggal. "A-aku beli plester. Luka Mimi-chan..." Kalimatnya terhenti saat melihat ke arah lutut Mimi yang sudah diplester.
"Ah, Yamato membersihkannya dan memplester luka Mimi-chan." Sora yang menjawab.
"Eh?"
"Terima kasih, Yamato-kun." Mimi memandangi pemuda itu bahagia. "Aku berhutang budi." Agak berlebihan, tapi untuk anak-anak mereka tentu tak memikirkan jauh apa arti kata-kata tersebut. Yamato pun hanya tersenyum sambil mengusap-usap kepala Mimi seolah gadis itu adiknya sendiri.
Diam-diam Taichi memasukkan plester tadi ke kantung celana pendeknya. Ada sebersit rasa kecewa bersemayam disana untuk pertama kalinya. Pertama; kecewa karena dia tidak bisa diandalkan oleh Mimi. Kedua; karena tatapan takjub itu ditunjukkan kepada Yamato bukan untuknya.
Tapi Taichi memangnya bisa apa? Anak kecil tak akan paham makna perasaan semacam itu.
Tapi sekarang, ketika dirinya sudah dewasa, Taichi begitu membenci perasaan seperti ini. Setiap ia menemukan bahwa gadis yang ada disisinya lebih sering membicarakan Yamato dibanding dirinya sendiri atau seperti apa tatapan yang dilayangkan untuk gitaris populer itu, Taichi tahu sebersit cemburu akan mampir di dadanya. Mengalahkan debaran manis yang selalu terasa setiap ia bersama Mimi.
Taichi memang tak yakin kapan rasa cinta itu tumbuh, tapi rasa cemburu ternyata sudah lebih dulu ia kenal jika bersama gadis dari Tachikawa tersebut.
"Mimi..." Panggilnya pelan dan Mimi menoleh menatapnya.
"Ya, Taichi-kun?"
"Besok aku tidak ada kegiatan. Apa kau mau berkencan seharian denganku?"
Kedua mata Mimi membulat sempurna. Jika yang mengatakan hal itu adalah laki-laki lain yang tidak terlalu dikenal, Mimi sudah biasa. Tapi hari ini berbeda. Yagami Taichi lah yang memberi penawaran untuk berkencan. Sahabatnya sedari kecil yang selalu bersikap seperti pemimpin diantara yang lainnya.
Mimi tak bisa langsung menjawab. Angin memonopoli atmosfir diantara mereka. Tatapan tajam Taichi entah kenapa memberi sensasi berbeda di dada. Seperti masuk dan berusaha membaca pikirannya. Padahal dalam ingatan Mimi, tatapan itu biasanya selalu tampak ceria dan kekanakkan. Jadi sejak kapan Taichi memiliki mata setajam itu?
Berkencan dengan Taichi Yagami...
Musim panas kesembilan mereka; tawaran untuk bersama?
.
.
to be continued~
A/N :
Waaahh aku senang karena ada yang bersedia membaca story ini. ^^ ayo ramaikan fandom digimon untuk menyambut Digimon Adventure Tri spring mendatang! Here the next chap. Selamat membaca semuanya~ ^^
