Chapter tiga update! Akhirnya setelah sekian lama tidak update dikarenakan ulangan menumpuk. Sekarang, di hari yang mendekati hari libur ini, chapter "Cahaya" telah muncul! BANZAI~! #jduar
Hari ini sekolah daku sedang mengadakan class meeting, bagaimana kelas pembaca sekalian? Stop bicarain masalah duta, terima kasih sudah menunggu chapter ini terbit. Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dan lama dalam peng-update-an. Semoga para pembaca semua menyukai chapter ini.
Untuk rijalharits, itu memang benar. Bebas itu hanya sebuah khayalan saja. Selamat membaca~
Untuk Kaoru-Kagami Yoshida, Haha~ Kenyataannya emang seperti itu. Ini sudah lanjut, selamat membaca.
Untuk Hasegawa, terima kasih banyak. Bukan 3 SMP, tadi udah SMK. Tua, 'kan? #plak
Selamat membaca~
Untuk blackschool, ini sudah dilanjut. Selamat membaca~
Untuk Durara, rajin sekali dihitung. Aku saja tidak menghitungnya sama sekali. Huahaha~(?) Tapi karena itu memang temanya, pasti memang banyak kata-kata itu. Ini sudah update, selamat membaca.
Untuk burritown, ini sudah dilanjut kok. Selamat membaca~
Untuk oxcid, tak apa, ini sudah di next. Selamat membaca~
Untuk ligong, maaf kalau lama update-nya. Selamat membaca~
Untuk mochachocholata, terima kasih. Sebenarnya aku juga kurang mengerti dengan kata itu, tapi kujelaskan saja sesuai pengetahuanku.
Kenapa saat ini aku tidak membalasnya lewat PM? Itu karenakan diriku saat ini lagi hemat kouta (#plak) jadinya aku balas disini saja semuanya. Tak apa, 'kan? Nah~ Tidak perlu basa-basi lagi, selamat membaca.
::
::
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto-sensei
26 Days : Koi of Love © Hikaru-Ryuu Hitachiin
::
Pairing: Hinata Hyuuga & Naruto Uzumaki
::
Genre: Romance
::
Warning: Silahkan dibaca dan lihatlah kesalahan-kesalahan yang kapan saja bisa terjadi di fic ini. Yang pastinya Hinata agak sedikit OOC, itu menurutku.
::
Rated: T
::
~ Happy Reading ~
::
::
::
Aku pikir, dia memang seperti cahaya. Selalu menerangi diriku dengan senyum dan candanya. Menjadi pusat yang selalu kulihat dari banyaknya orang. Cahaya yang berada ditengah-tengah, itu pikirku. Suatu hari, apakah diriku akan memiliki cahaya yang seperti Naruto?
Yang jelas, duniaku yang dulunya gelap. Kini berubah menjadi dunia yang penuh dengan cahaya kasih sayang.
::
::
◐ 26 Days : Koi of Love ◐
::
::
"Gorden jendelanya dibuka ya, biar sinar matahari masuk dan membunuh kuman-kuman." setelah mengucapkan itu, Hanabi langsung membuka gorden jendela yang masih tertutup.
Sinar mentari pagi yang masuk membuat mata Hinata silau, "Selamat pagi Hanabi, hoaaam." sapa Hinata disusul dengan suara menguap. Ia merenggangkan badannya yang kaku, "Selamat pagi kak," sapa Hanabi balik.
Selain Neji, membangunkan Hinata disaat-saat tertentu juga merupakan rutinitas bagi Hanabi. Kata Neji dan Hanabi, melihat wajah Hinata yang baru bangun tidur itu menyenangkan, dan Hinata tidak mengetahui itu. Jadinya jatah membangunkan Hinata dibagi dua dengan cara suit. Lupakan itu~
Sekarang, Hinata turun dari ranjangnya dan berjalan menuju wastafel. Kemudian ia mencuci muka dan menyikat gigi. Setelah selesai, ia berjalan menuju Hanabi kembali. "Masih jam enam, masih punya waktu." ucap Hinata pada dirinya sendiri.
Hanabi melihat kakaknya heran, "Mau buatkan bekal buat kak Naruto ya?" tanyanya langsung. Hinata yang mendengar itu pun langsung tersentak kaget. Bagaimana dia tahu!? batinnya berteriak.
"Kalau gitu aku temani ya kak," niat baik Hanabi diterima Hinata. Mereka langsung turun ke bawah dan menuju dapur untuk memasak sarapan dan tentunya bekal untuk Naruto.
Satu per satu bahan dikeluarkan, mulai dari sosis, telur, sayur, dan berbagai macamnya. Pertama Hinata dan Hanabi membersihkan sayur-sayuran, kemudian menggoreng telur dan sosis. Saat sesi memotong sayur-sayuran, ada pertanyaan yang membuat Hinata tersentak kembali.
"Kak Hinata suka sama kak Naruto ya?"
Hampir! Hampir saja pisau yang dipegang olehnya mengenai jari telunjuknya. Hinata langsung menghentikan acara memotongnya, takutnya kalau diteruskan akan ada kejadian yang lebih parah. Jadi sesi memotong ini diambil oleh Hanabi, "Biar aku yang ambil alih," Hanabi langsung menunjukkan kelihaiannya memotong.
Kalau Hinata, ia jadi dibagian menggoreng. Ia jadi merasa tidak berguna saat ini, biasanya Hinata 'kan jadi orang yang memasak tanpa ada luka. Diam sementara, Hinata tidak tahu harus membalas pertanyaan Hanabi seperti apa.
"Masalah pertanyaan tadi. Kenapa Hanabi bisa memperkirakan hal itu?" tanya Hinata. Sebelum dirinya menjawab 'iya', ada yang harus dipastikannya terlebih dahulu.
"Aku penasaran," sambil memotong, Hanabi menceritakan rasa penasarannya. "Aku selalu melihat kak Hinata yang menggenggam batu pemberian kak Naruto saat sedih. Mungkin karena batu itu pemberian kak Naruto, kak Hinata jadi merasa dekat dengannya." Hinata bengong melihat adiknya. Memangnya terlihat ya? Lagian kapan Hanabi melihatnya menggenggam batu magatama tersebut?
"Umm... Itu memang benar," balas Hinata. Kalau adiknya tahu mungkin tidak apa, karena Hanabi pasti akan mendukung percintaan kakak-kakaknya. Tapi kalau sampai Neji dan Hiashi yang tahu, pasti Naruto akan dikerjai habis-habisan.
"Memangnya kak Naruto punya sebuah kelebihan yang bisa membuat kak Hinata terpesona ya?" sambil bicara sambil bergerak, Hanabi sudah menyelesaikan sesi pemotongan. Sayuran yang sudah dipotong itu langsung ditumis olehnya.
Hinata juga sudah selesai menggoreng, ia meniris sosis dan telur agar minyaknya keluar. "Menurutku, Naruto seperti cahaya." tidak mengerti maksud kakaknya, Hanabi jadi melihat kakaknya dengan wajah penasaran.
"Yah~ Walaupun hari gelap, tapi dia bagaikan cahaya yang menerangi kegelapan itu. Atau misalnya, didalam kerumunan orang. Naruto itu bagaikan cahaya yang berada ditengah-tengah. Sangat berbeda jauh denganku," Hanabi mendengarkan cerita kakaknya dengan serius. Jadi seperti itu pandangan Hinata terhadap Naruto.
"Kalau menurutku, kakak yang berada didekat bersama dengan kak Naruto itu, sudah seperti cahaya." mendengar itu, Hinata jadi merasa aneh. Hinata juga seperti cahaya? Tidak mungkin.
"Kak Hinata selalu dapat tersenyum dan tertawa dengan riang bersama dengannya. Yah~ Walau melihat kebahagiaan kalian berdua membuatku sedikit kesal. Kenapa tidak aku saja yang dapat membuat kakak tersenyum seperti itu. Walaupun kadang kak Naruto suka membuat kak Hinata menangis juga. Tapi~ Masa orang yang berada dekat dengan cahaya, bukan cahaya juga?" lagi-lagi, Hinata mendapatkan sebuah masukan dari Hanabi.
"Maksudnya?"
"Ya, ibaratkan bulan dan bintang. Kak Naruto adalah bulan, dan kak Hinata adalah bintang. Bulan dan bintang sama-sama mengeluarkan cahaya yang indah. Jadi, mana mungkin yang sesuatu yang dekat dengan cahaya, tidak bercahaya juga." Hinata mengerti. Tapi apakah memang seperti itu?
"Menurutku Naruto bagaikan mentari, matahari. Bukan bulan," matahari dan bulan itu memang beda. Keluar disaat yang berbeda, dan waktu yang berbeda. Jadi tidak mungkin akan keluar bersama, seperti sepasang koi itu.
"Kalau menurut kak Hinata, kak Naruto adalah matahari. Tapi menurutku, kak Naruto adalah bulan. Karena kalau matahari, tidak ada yang menemaninya. Kecuali awan yang kadang-kadang berubah-ubah, tidak tetap." sebenarnya Hinata kurang mengerti dengan ucapan Hanabi. Mungkin karena masih dibawah umur, makanya susah menjabarkan kalimat dengan benar.
"Jadi begini ya? Kalau diibaratkan, orang yang kita sukai itu, adalah satu hal yang lebih bercahaya dibandingkan dengan yang lainnya. Jadi fokus kita hanya pada orang itu," meski berbeda dengan ucapan Hanabi yang tadi, setidaknya Hinata bisa sedikit mengerti dengan pemikirannya sendiri.
"Kak, kalau hal itu ditanyakan pada anak kecil sepertiku. Mungkin tidak dapat dipastikan ketepatannya lho," Beres sudah mereka mempersiapkan sarapan dan bekal.
Sekarang mereka meletakkan makanan jadi itu diatas meja makan. Hinata melihat adiknya dengan tampang tertawa kecil, "Hanabi 'kan adikku, mana mungkin aku tidak mempercayai ucapan adik sendiri." ucapnya.
Hanabi tersenyum singkat, "Begitu ya?" tanya Hanabi dan selang beberapa detik ia melihat Hinata yang tersenyum. Kemudian ia mulai beranjak untuk memanggil Hiashi dan Neji untuk sarapan. Ia malah memikirkan kakaknya dengan sosok cahaya itu.
'Kak Hinata itu, memang membutuhkan cahaya disampingnya. Kuharap, kak Naruto akan selalu bersama dengannya.'
~ III ~
˚°◦ ◦°˚ ◐ 3rd Day ◐ ˚°◦ ◦°˚
~ III ~
"Hei~" sebuah panggilan itu telah menyadarkan Hinata dari lamunannya.
"Naruto? Kok disini?" tanya Hinata saat melihat orang yang menyapa itu adalah Naruto.
Naruto berjongkok disebelah Hinata, kemudian ia melihat ikan koi putih. "Mau lihat si putih," jawabnya sambil tersenyum.
Hinata yang melihat Naruto jadi merasa silau. Apalagi ditambah dengan terpaan sinar matahari, Naruto benar-benar terlihat bercahaya saat itu. Seakan pandangan Hinata tidak bisa lepas dari Naruto.
"Jadi ini ya koi putihnya," Naruto menunjuk koi putih tersebut, Hinata mengangguk untuk memperlengkap ketepatan ucapan Naruto.
Naruto baru melihat koi putih pertama kali, ia baru melihat koi hitam belum lama ini. Sudah gitu tidak lebih dari empat hari ia melihatnya. Koi hitam baru dua kali, dan koi putih baru sekali. Sebenarnya Naruto sedikit heran dengan tingkah Hinata belum lama ini. Ia masih penasaran kenapa Hinata selalu pulang malam hanya untuk memberi koi hitam makan.
Naruto melihat ke atas, ia sedang melihat cuaca hari ini. Matahari masih terlihat, tapi ada awan hitam tidak jauh dari sana. Ia juga merasakan angin yang kurang enak. "Mungkin malam ini akan hujan besar," ucapnya dan berdiri.
"Benarkah?" Hinata pun ikutan berdiri setelah mendengar itu. Biasanya perkiraan cuaca Naruto selalu benar, dan Hinata tidak suka kalau itu memang benar. Untuk saat ini, ia tidak mau ada hujan jika sedang memberi ikan makan.
"Anginnya terasa tidak enak,"
Hinata diam, ia tidak tahu harus menanggapi apa ucapan Naruto tadi. Ia hanya bisa memandangi ikan dengan perasaan yang tidak enak. "Tapi masih bisa untuk berlatih," Naruto enak bisa mengucapkan itu dengan santai. "Mungkin jangan pulang malam-malam." seakan tidak tahu apa perasaan Hinata saat itu.
Tapi Naruto memang tidak tahu perasaan Hinata. Yang ingin diketahuinya hanya Hinata yang tidak pulang malam-malam agar tidak sakit.
"Tidak bisa begitu dong," Hinata meremas roknya. Walaupun hujan atau apa, ia tidak peduli. Ikan itu saja selalu bertugas walau dalam cuaca seperti apapun. Masa Hinata tidak bisa?
Naruto menghela nafasnya, "Semoga saja perkiraanku salah," ia memang tidak bisa menentang keinginan Hinata. Dirinya tidak mau melihat Hinata bersedih karena tidak bisa melakukan apa yang diinginkannya.
Kembali matahari bersinar dengan teriknya setelah sekian detik tertutup oleh awan. Silau~ Mereka berdua melindungi pandangan mereka dari matahari yang begitu menyengat. Tangan kanannya mereka gunakan untuk menutup mata yang mulai menyipit akibat sinar itu.
Sebentar melihat langit, Naruto kembali melihat ikan koi putih. "Si putih saat terkena cahaya matahari jadi menyilaukan mata," ucapnya dan itu membuat Hinata tertawa.
'Naruto yang terkena cahaya matahari malah terlihat lebih bersinar,' pikir Hinata.
"Hei~" sekali lagi Naruto memanggil Hinata, sekali lagi Hinata menengok pada Naruto. "Ya?" tanya Hinata.
"Mana bekalku?" tanya Naruto. Sebenarnya inilah tujuan kenapa Naruto menemui Hinata. Tadi saat istirahat Naruto ke toilet dulu sebelum meminta bekal pada Hinata. Tapi saat kembali, Hinata sudah tidak ada didalam kelas. Saat ia bertanya pada Ino, katanya Hinata ada di sebuah tempat yang ada ikannya. Jadi langsung Naruto bertemu Hinata untuk mengambil bekalnya itu.
"Ada di tas," jawab Hinata.
"Wah~ Benaran dibuatkan ya? Terima kasih~" dengan pancaran wajah yang bahagia, Naruto bagaikan anak kecil yang siap untuk memakan makanan kesukaannya. Sebenarnya, selain ramen. Makanan kesukaan lainnya adalah masakan buatan Hinata, apapun itu.
"Nanti aku kasih saat sekolah usai," pancaran kebahagiaan itu hilang seketika. Kenapa dikasihnya saat pulang sekolah? Kenapa tidak sekarang saat sedang istirahat?
"Kenapa begitu? Saat selesai makan langsung olahraga itu tidak bagus," padahal saat pulang sekolah hanya diberi waktu sekitar sepuluh menit, setelah itu langsung berlatih. Makan bisa mencapai delapan sampai sepuluh menit. Jadi tidak ada istirahat perut nanti.
"Iya ya, kalau gitu ambil saja sendiri di tas." Hinata kembali berjongkok untuk melihat koi putih itu.
"Ambil langsung nih?" tanya Naruto kegirangan. Lagi-lagi ekspresi Naruto berubah, ia senang karena dapat memakan bekal itu langsung. Karena dirinya udah merasa lapar, tidak sabar memakan bekal buatan Hinata yang enak.
"Iya," jawab Hinata, ia melihat Naruto yang mengepalkan tangannya. "Baiklah! Aku ke kelas dulu ya," Naruto langsung berlari setelah mendapatkan jawaban itu.
Hinata yang tertawa melihat tingkah Naruto, merasa senang karena bekalnya sangat ditunggu-tunggu oleh Naruto. Memang Naruto sangat menunggu bekal itu, karena Hinata hanya membuatkannya seminggu sekali.
"Apa aku buatkan bekal untuk Naruto setiap hari ya?" tanyanya pada dirinya sendiri. Pasti Naruto sangat senang jika itu benar-benar terjadi, bekal spesial setiap hari. Itu dapat membuat Naruto tambah bersemangat. Tapi itu dipikir-pikir dulu deh~ Lagian itu juga tidak mungkin.
"Naruto itu, benar-benar seperti cahaya yang menerangi hari-hariku ya." Ia tertawa singkat, kembali ia melihat ikan koi tersebut.
Apa di hari ke dua puluh enam benar-benar akan keluar secara bersamaan? Kalau tidak, itu berarti Hinata memang tidak mempunyai harapan ya? Kalau memang seperti itu, setidaknya ia sudah mencoba. Lalu, kapan Hinata akan jujur soal mitos itu? Sudah selama tiga hari ia tidak jujur padanya. Lagian kalau dikasih tahu, nanti Naruto menganggap Hinata seperti anak kecil yang percaya pada begituan.
"Haa~" Hinata menghela nafasnya, masalah itu dipikirkan nanti saja. Sekarang hanya perlu fokus pada koi putih ini, dan berharap semoga saja mitos itu benar. Kalau tidak, tidak apa-apa juga.
Setelah itu Hinata beranjak kembali dari tempat itu. Ia akan kembali ke kelas dan bertemu dengan Ino. Langkahnya terhenti saat melihat Naruto dan kawan-kawannya sedang bercengkrama didekat lapangan.
"Naruto! Masakannya Hinata ya? Bagi dong!" seru Kiba dan siap-siap mengambil bekal itu dengan sumpit yang ada dalam genggamannya.
Dengan kecepatan kilat, Naruto menahan sumpit Kiba dengan sumpitnya. "Ini milikku," ucapnya dengan ketus dan kembali melahap bekal tersebut. Kiba yang tidak mendapatkannya pun jadi merasa kecewa kerena kepelitan Naruto. Padahal ia mau mencoba masakan Hinata yang katanya terkenal enak itu.
"Kalau mau silakan cicipi punyaku," Kiba melihat Shino menyodorkan kotak bekalnya. Kiba melihat Shino dan beralih pada kotak bekal Shino.
"Makasih," ucapnya dan mengambil satu lauk dari kotak tersebut dan langsung melahapnya. Walau tidak mendapatkan bekal buatan Hinata, tapi setidaknya ia mendapatkan yang lainnya.
Naruto yang dikelilingi oleh teman-temannya, semuanya tertawa dengan senangnya. Walau ada yang berwajah datar dan jutek, tapi dapat terasa kebahagiaan mereka semua. Kembali Hinata tersenyum melihat tingkah Naruto, ia senang dapat bertemu dengan Naruto.
"Lain kali bagi ya," Hinata melihat Kiba yang ngotot ingin memakan masakan buatan Hinata. Ia jadi berpikir, apa lain kali ia buatkan juga buat Kiba? Lagian ia pernah berhutang budi sekali pada Kiba karena sudah membantunya saat ada festival budaya di sekolah.
Berpikir kembali, mungkin tidak untuk saat ini. Masih banyak urusan yang harus dilakukan olehnya. Lain waktu, mungkin bisa. Hinata kembali melangkah, sudah waktunya ia benar-benar kembali ke kelas. Hari ini pun tidak ada masalah yang menghampirinya.
'Benar-benar seperti cahaya yang berada ditengah-tengah ya?'
Ia melihat ke langit, jadi teringat kembali dengan ucapan Naruto tadi. Kira-kira perkiraan Naruto yang tadi benar tidak ya?
"Kuharap tidak,"
~ III ~
˚°◦ ◦°˚ ◐ Cahaya ◐ ˚°◦ ◦°˚
~ III ~
GLUDUK! GLUDUK! JDUAR! Hinata terpaku melihat hujan lebat disertai dengan petir yang menyambar. Ternyata perkiraan Naruto memang benar tentang cuaca malam ini. Kenapa bisa begini?
"Untungnya tidak mati lampu," yang Hinata takutkan saat ini jika mati lampu. Karena semuanya akan terasa gelap dan tidak kelihatan apa-apa.
Masalah yang lainnya, Hinata tidak membawa payung. Inilah alasan lain yang membuatnya jadi tidak bisa pulang. Ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Masih banyak murid yang terjebak hujan sih, jadi tidak terlalu masalah.
"Khe-khe-khe~"
Hinata tersentak kaget mendengar suara ketawa itu. Untungnya rasa kaget itu menghilang seketika, karena ia mengingat bahwa itu adalah dering ponselnya saat mendapatkan sms masuk. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas dan membaca sms itu.
-/-/-/-
From: Naruto Uzumaki
Subjeck: Tunggu aku!
Text
Hei~ Maaf baru kasih tahu. Tadi buru-buru pulang karena ada urusan mendadak. Benar 'kan perkiraanku? Hujan lebat dan petir menyambar. Tadi aku ke rumahmu, Hinata. Untuk memastikan kau sudah pulang atau belum. Kata Hanabi, kamu belum pulang. Sudah kuduga sih~ Aku lagi menuju ke sana. Hinata juga tidak bawa payung, 'kan? Tunggu disana, jangan kemana-mana.
-/-/-/-
Hinata tertawa membaca sms itu, sms yang panjang sekali. Naruto itu khawatir karena Hinata yang ceroboh tidak bawa payung. Sudah gitu, pasti Hinata akan selalu pulang malam. Jadi mana bisa Naruto membiarkan Hinata yang seperti itu.
Daripada tidak melakukan apa-apa, lebih baik Hinata ke tempat si hitam berada. Ia mau kasih makan dulu, hampir saja ia lupa karena hujan. Ia berjalan sendirian, benar-benar terasa sepi dan hening. Banyak anak-anak yang tidak peduli dengan kondisi tubuh juga, makanya menerobos hujan.
"Meski hujan, tetap bertugas ya." sekarang Hinata bingung mau bagaimana cara memberi makannya. Jarak antara atap dan kolam itu cukup jauh, apa main hujan-hujanan saja?
Mengingat kejadian waktu kecil, "Saat kecil suka main hujan, dan tidak sakit. Ya sudahlah!" lagian sudah lama juga tidak main hujan. Sesekali main hujan tidak apa, 'kan?
Hinata langsung meletakkan tas di lantai dan melepas sepatu serta kaos kakinya. Dasi yang dipakainya pun ditanggalkan olehnya, agar lebih leluasa bergerak. Hinata berlari mendekati kolam ikan itu dan langsung disebarkannya makanan ikan.
Walaupun sudah ada niat main hujan, tapi ia tidak tahu harus melakukan apa. Sudah gitu bulan tidak terlihat, tertutup oleh awan. Itu malah mempergelap suasana, tapi tidak dapat menakuti Hinata. Ia malah keasyikan melihat koi hitam yang sedang berenang.
Diam sementara, Naruto kok lama datangnya ya? Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya, memengnya Naruto itu baby sister Hinata apa? Yang perlu Hinata lakukan sekarang adalah menunggu kedatangan Naruto, itu saja.
Sedangkan di tempat Naruto berada, dirinya sedang risih sendiri karena tidak mendapatkan balasan dari Hinata. Bukannya apa-apa, takutnya terjadi sesuatu pada Hinata. Tidak membalas dan terjadi sesuatu, itu sama saja menurut Naruto. Karena itu, ia jadi mempercepat langkahnya. Tidak lebih dari lima detik, pikirannya sudah kacau. Ia jadi berlari, mungkin saja sudah melebihi rekornya belum lama ini.
Tiga menit ia sudah sampai di sekolah, ternyata masih ada anak-anak yang terdiam di sekolah. Karena hujan tidak berhenti dari tadi, dan itu sudah membuat sedikit resah. Tidak perlu lama mencari Hinata, ia sudah tahu mau menuju kemana. Kolam itu~
Sesampainya disana, Naruto langsung kaget melihat barang-barang Hinata yang berserakan di lantai. Matanya langsung mencari sosok Hinata disana. Hinata yang sedang asyik menari dan menyanyi, telah membuat Naruto syok di tempat. "Apa yang dilakukannya?" tanyanya tidak percaya.
Tapi karena melihat keasyikan itu, Naruto jadi mau ikutan. Naruto menanggalkan jaket dan pakaian atasnya. Juga melepaskan sepatu yang dipakainya, bahkan melempar payung yang dibawanya.
"Hinata~" mendengar itu, tarian serta nyanyian Hinata jadi terhenti. Ia melihat sosok Naruto yang mendekatinya, "Kyaaa!" Hinata menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Aku masih pakai pakaian dalam Hinata," Hinata menjauhkan kedua tangannya perlahan. Benar juga~
"Lagian kamu ini kenapa sih, Hinata? Waktu kecil saja kamu tidak teriak seperti itu saat melihat tubuhku setengah telanjang." Naruto memonyongkan bibirnya, ia jadi tidak bisa asal melepas baju.
"Sekarang kita 'kan sudah bukan anak kecil lagi," protes Hinata. Apalagi ditambah dengan rasa suka Hinata pada Naruto, makin tambah malu pula saat melihat tubuh itu.
Bermain-main selama lima menit, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Dengan basah-basahan? Ya memang harus begitu. Ini juga salah mereka sendiri main hujan-hujanan.
"Nah, karena ini sudah kejadian. Tidak akan sakit, 'kan?" tanya Naruto sambil mengecek-ngecek Hinata dengan tatapan tajam.
Hinata menggeleng, "Tidak, lagian 'kan Naruto sudah meminjamkan jaket." ucapnya. Lagian, Naruto meminjamkan jaket bukan hanya untuk menghangatkan Hinata. Tapi juga untuk menutupi tubuh Hinata. Kenapa? Karena Naruto tidak sengaja, melihat dalaman Hinata karena bajunya jadi transparan! Untungnya Hinata tidak menyadari hal itu.
Hujan juga sudah berhenti setelah mereka sampai didepan gerbang sekolah. Benar-benar sebuah keberuntungan. Jadinya tidak usah memakai payung~
Muka Naruto berubah jadi masam, "Aku harus menjelaskan apa ya pada mereka?" tanyanya. Mereka yang dimaksud tentu saja Hiashi dan Neji. "Nanti biar aku saja yang menjelaskannya," Naruto jadi sedikit lega karena mendengar itu.
Sampai di rumah, lagi-lagi ada hadangan dari Hiashi dan Neji. Mereka semua menampakkan wajah yang menyeramkan.
"Jadi, apa alasanmu kali ini?" tanya Hiashi, Naruto hanya tertawa cengengesan mendengar pertanyaan itu.
"Menunggu sampai hujan reda," ini adalah kebohongan yang mudah ketahuan oleh Hiashi. Ia jadi menatap Naruto dengan tatapan datar tapi memiliki arti yang begitu mendalam, "Begitu? Lalu kenapa kalian pada basah semua?" tanyanya.
JLEB! Naruto bingung mau menjawab apa. Hinata pun langsung menjawabnya dengan cepat, "Main hujan!" serunya tiba-tiba.
"Ha?" kini tatapan keduanya menajam. Apa Hinata salah bicara?
"Na-Ru-To~" melihat ayah dan kakaknya yang menggepalkan tangannya, Hinata jadi kewalahan sendiri.
"Maaf ayah, tapi aku yang mulai duluan." mendengar itu, Hiashi dan Neji kembali berwajah datar. Fyuh~ Hampir saja Naruto dalam bahaya.
"Kamu tahu 'kan kalau main hujan tidak bagus? Bisa sakit nanti," ayah sedang menasihati anaknya. Hiashi takut kalau Hinata sakit dan tidak bisa melakukan apa yang diinginkannya.
"Iya, tapi pasti tidak akan sakit kok." Hinata merasa tidak ada yang masalah, baik-baik saja. Pasti tidak akan sakit kalau hanya dengan guyuran hujan begitu saja.
"Baiklah, kau boleh pulang." inilah yang tidak disukai oleh Naruto, lagi-lagi dirinya diusir dari sana. Tapi tidak apa, memang seperti itulah sifat kedua orang itu. Naruto menghela nafasnya, "Baiklah, aku pamit ya." Naruto pun berlalu dari sana.
Setelah sosok itu telah hilang, Hiashi masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Setelah itu Neji mengajak Hinata untuk masuk karena Hinata malah bengong diluar rumah. Bukannya cepat-cepat ganti baju dan tidur.
Masuk ke kamar, Hinata langsung berganti baju dan membilas rambutnya dengan air bersih. Setelah ia ia mengeringkan rambutnya. Selesai semua, ia langsung menghempaskan tubuhnya ke ranjang.
"Benar-benar hari yang menyenangkan," guraunya sambil memeluk guling yang dipakainya. "Walaupun gelap, tapi terlihat seakan bercayaha. Aku senang," mengingat kejadian belum lama ini, ia malah jadi tertawa sendiri.
Tiba-tiba angin lewat, Hinata sadar kalau ia belum menutup gorden jendelanya. Jadinya angin masuk lewat sela-sela, bahkan sampai membuat Hinata merinding. Ditutupnya gorden itu, "Huachi!" tiba-tiba keluarlah suara yang tidak diinginkan olehnya. Suara bersin! Ia memegang hidungnya yang mulai terasa tidak enak.
"Gawat nih,"
::
::
◐ To Be Continue ◐
::
::
Chapter ini pun berakhir! Bagaimana? Kali ini temanya tentang Naruto yang seperti cahaya. Berikan pendapat kalian di kotak review ya~
Terima kasih sudah membaca chapter ini sampai akhir, dan sudah menunggunya sampai fic ini kembali update. Sampai bertemu di chapter berikutnya~
Thanks To:
rijalharits, Kaoru-Kagami Yoshida, Hasegawa, blackschool, Durara, burritown, oxcid, Iigong,
Mochachocholata
Jaa~
V
V
V
