MUSIM PANAS

.

.

Digimon Adventure Fanfiction Presented by InfiKiss

Digimon Adventure (c) Akiyoshi Hongo

.

Summary :

Kisah yang terjadi sepanjang musim panas. Tentang persahabatan tiga orang sedari kecil yang penuh rahasia manis yang tersimpan di dada hingga kini mereka kembali bertemu disaat dewasa.

Antara perasaan yang tumbuh; jatuh cinta, cemburu, kecewa, patah hati, bahagia juga tangis.

.

.

(MASIH) MUSIM PANAS KESEMBILAN

Sekalipun gadis Tachikawa itu belum pernah membayangkan untuk mendapat tawaran berkencan dari satu sahabat dekatnya. Dulu, selama menetap di Amerika, banyak lelaki yang tertarik akan kecantikan Mimi sebagai wanita Jepang dan mengajaknya pergi kencan—yang kebanyakan hanya berbuah penolakan. Tapi ketika seorang Yagami yang memintanya, Mimi malah tak tahu harus menjawab apa. Menolak hanya akan menjadi masalah, tapi menerima pun hanya akan menambah masalah. Satu-satunya yang terbenak oleh Mimi adalah pertanyaan sederhana; mengapa Taichi mengatakan ini sebuah kencan? Jikalau pemuda itu hanya bilang main bersama, Mimi pasti biasa-biasa saja.

Hari minggu jam sepuluh di halte bus yang berada paling dekat dengan apartemen tempat Mimi tinggal, disana mereka berjanji untuk bertemu.

Dengan mengenakan kemeja tipis warna putih dan rok satin selutut berwarna merah muda, Mimi berdiri. Dua jepit rambut berbentuk stroberi terpasang manis di kedua sisi kepala, menjaga bagian rambut agar tidak sampai menutupi wajah. Tas pundak merah dan sepatu tipis hitam pun turut menyempurnakan penampilannya.

Mimi tak pernah berharap ia harus menunggu Taichi pagi itu.

"Mimi!" teriakan kencang dari sebrang jalan membuat gadis yang sejak tadi sibuk memainkan ponsel pun mengangkat wajah. Dalam satu detik, dua pasang iris karamel mereka bersiborok. Mimi bisa melihat jelas pendaran semangat yang terpancar dari kedua mata Taichi.

Hanya bersama Mimi saja, kenapa ia jadi sebahagia itu? Mimi tidak bisa…atau mungkin sebenarnya tidak mau untuk menebaknya.

Buru-buru pemuda itu berlari menyebrang tepat pada zebra cross jalan. Sesampainya Taichi di hadapan Mimi, gadis itu meneliti baik-baik penampilan sang kapten kesebelasan tersebut. Simpel seperti biasa. Hanya bermodalkan kaus cokelat berlengan pendek dengan tambahan tudung putih dibalik pundak dan celana jeans hitam. Kalau dipikir baik-baik, Taichi memang beda level dengan Yamato—dalam penampilan—maksudnya. Apa karena jalan hidup yang berbeda? Olahragawan dan musisi.

"Maaf terlambat. Ada sedikit masalah di rumah tadi dan aku langsung kabur kesini begitu kau bilang sudah menunggu." Ia bicara panjang dalam satu tarikan nafas yang masih tersenggal-senggal. Sedang gadis dihadapannya masih enggan menyahut. Mimi masih memperhatikan Taichi seksama.

Keringat meleleh dari keningnya. Mimi sendiri baru mengirim pesan beberapa menit lalu dan juga bilang tak masalah kalau harus menunggu. Taichi tak harus berlari sampai kehabisan nafas begitu.

Kenapa?

"Ah, kamu marah—?" Seketika Taichi berdiri tegap untuk melihat Mimi, seketika itu juga bibirnya terkatup rapat.

Tatkala ketika kelima jemari Mimi kini menyentuh pipi Taichi perlahan. Pandangan karamel gadis itu jatuh lurus di wajah Taichi. Menatapnya kosong seolah begitu banyak pertanyaan yang tersirat disana.

Taichi gugup. Semburat merah muda muncul di kedua pipi berkulit coklat miliknya.

DEG—!

Sadar dari lemunan sejenak, Mimi langsung menarik tangannya dari wajah Taichi.

"Kau berkeringat banyak. Seharusnya tak perlu berlari begitu, Taichi-kun." Gadis itu kini merogoh ke dalam tas dan menarik keluar sapu tangan putih miliknya lalu disodorkan kepada Taichi.

"Ah, ini bukan apa-apa, kok.. Tak masalah—"

Tanpa bicara, Mimi menempelkan sapu tangan itu di wajah Taichi. "Sudah. Jangan banyak bicara. Seka dulu keringatmu…"

Akhirnya Taichi pun menurut tanpa protes lagi. Wajahnya merona semakin dalam dan jantungnya berdegup semakin kencang. Perlahan ia mengusap wajahnya hinga aroma stroberi dari sapu tangan itu mau tak mau menyusup iseng ke cuping hidungnya. Aroma parfum yang Mimi suka.

Diam-diam Taichi memperhatikan Mimi yang sejak tadi bicara mengenai beberapa pemuda yang menggodanya sepanjang ia berdiri menunggu Taichi. Sesungguhnya Taichi tak benar-benar mendengarkan. Saat itu pikirannya hanya penuh dengan Mimi seorang. Matanya hanya terpaku pada sosok mungil itu tanpa peduli dengan eksistansi sekitar.

Taichi benar-benar jatuh cinta.

"Taichi-kun! Kau dengar tidak apa yang aku bicarakan?!" Sadar Taichi hanya diam, Mimi kesal juga. Tapi sebelum Taichi buka suara, gadis itu kembali bicara, "Ah, itu bisnya! Ayo, Taichi-kun.." Lalu tersenyum semangat sambil menarik tangan Taichi dimana bagi Mimi itu merupakan hal biasa yang ia lakukan tanpa maksud apa-apa.

Tapi bagi Taichi… Setiap sentuhan yang Mimi berikan hanya menambahkan kadar cinta dalam dirinya. Hingga ia tak tahu lagi harus bagaimana menahan rasa itu.

~OoOoOoO~

Pantai Odaiba merupakan spot pertama yang dikunjungi Mimi dan Taichi siang itu. Dimana-mana, tema musim panas yang akan langsung terlintas memang laut. Tentu saja bukan hanya mereka yang memikirkan hal itu. Terlihat dari begitu banyaknya pengunjung yang tampak di pesisir pantai Odaiba, membuat tepi pantai seolah ditumbuhi jamur warna-warni dari payung pantai mereka.

Mimi dan Taichi sengaja hanya berdiri di pinggiran jalan masuk.

"Ramai sekali~" Gadis itu meletakkan tangan di atas pelipis. Menatap jauh ke tepi pantai. "Aku kira tak akan seramai ini."

"Musim panas. Pantai akan menjadi tujuan pertama selain onsen." Taichi balas bergumam.

Seiring dengan anggukkan Mimi, gadis itu berdiri tegap. "Kira-kira kalau kesana kita tetap tak akan bisa menikmati lautnya 'kan. Bagaimana kalau kita ke tempat lain?" usulnya kemudian.

"Mau ke Shiokaze Kouen?"

"Shiokaze Kouen?" Mimi membeo dengan wajah penasaran.

"Itu taman yang letaknya tak jauh dari sini. Mungkin disana juga akan ramai, tapi paling tidak kita bisa berjalan-jalan sejenak sambil makan siang. Setelahnya kita ke Aquacity Odaiba. Kurasa kau pasti ingin belanja sesuatu atau apalah." Sambil mengendikkan bahu, Taichi tersenyum penuh keyakinan. Gaya sok yang membuat Mimi terkekeh kecil melihatnya.

"Oke!"

Mimi menjadi yang pertama berjalan menjauhi tepian jalan masuk ke pantai, meninggalkan Taichi satu meter dibelakang. Gadis itu mungkin sama sekali tidak ada niat berpikir jauh mengenai acara jalan-jalan mereka. Ia hanya ingin menikmati hari libur musim panas bersama dengan Taichi kemanapun yang ia suka.

Tapi berbeda dengan Taichi. Setiap Mimi memunggunginya, tatapan mata pemuda itu akan berubah teduh seraya memandangi punggung kecil yang semakin menjauh meninggalkannya. Kadang akan terbesit keinginan untuk meraih tangan Mimi dan menggenggamnya erat, takut-takut ada lelaki hidung belang yang meliriknya. Tapi Taichi kembali menata ulang pikiran tersebut. Dikira siapa dirinya sehingga bisa semena-mena meraih tangan Mimi.

Jika gadis itu bisa dengan santai menggandeng Taichi, maka berbeda kasus dengan Taichi sendiri.

Apakah ia bisa memiliki gadis ini suatu hari nanti?

BRUKK—!

"Ah, maaf."

Taichi terlalu asyik melamun sampai tak sadar kalau ada dua pemuda yang berjalan berbalik arah ke tempat Mimi. Hingga tanpa sadar salah satu dari pemuda itu menyenggol pundak Mimi yang jelas sekali disengaja.

Mimi menatap mereka tak suka. Namun sebelum gadis itu buka suara untuk sekedar memarahi mereka, Taichi sudah dengan sigap menyusulnya dan menarik tangan Mimi. Memberanikan diri menggandeng erat tangan gadis itu dan membawanya menjauh dari dua pemuda yang langsung berdecak kecewa karena kehadiran Taichi.

"Anou…" Mimi menatap tangannya sendiri. "Taichi-kun?"

"Hati-hati. Banyak orang yang sejak tadi memperhatikanmu."

"E-eh?" Mimi sama sekali tidak sadar. "Kenapa? Apa ada yang aneh denganku, Taichi-kun?"

Kali ini Taichi membalikkan wajah untuk sekedar menatap Mimi yang memasang ekspresi cemas. Cengiran khas menghias pasti di wajah pemuda itu. Sambil melepas genggaman tangannya dan mengeluarkan tawa kecil, Taichi bicara, "Apa aku belum mengatakannya, tadi? Tentu saja karena hari ini Mimi manis sekali."

Sekarang sudah dikatakan. Persetan dengan reaksi yang akan Mimi tumbulkan… Apa dia akan marah dan ngambek lalu menuduh Taichi genit? Terserah saja~

BLUSH—! Rona merah meledak di wajah Mimi.

"H-huh?"

Mimi memalingkan wajah untuk menghindari tatapan Taichi. Tentu saja Taichi ikutan salah tingkah sendiri. Mana ia kira kalau kata-kata itu akan langsung membuat Mimi merasa malu sampai tersipu-sipu! Lagipula, Taichi sendiri 'kan memang bisa menyebutkan kata manis untuk memuji Mimi dulu ketika masih kecil.

"A-anou, Mimi… Maksudku… Itu…" Sial, deh. Salah duga ternyata!

Taichi garuk-garuk kepala. Mimi bungkam seribu bahasa. Masa ia harus meminta maaf? Apa memuji merupakan kesalahan? Kalau memang iya, maka Taichi janji ia tak akan memuji Mimi secara spontan lagi. Apalagi kalau hal ini bisa membuat acara kencan mereka berubah canggung.

"Ka-kamu tidak marah 'kan? Tadi itu…maksudku…" Tidak ada maksud apa-apa. Sumpah! Taichi ingin menerikan lanjutannya namun tertelan lagi saat ia perhatikan Mimi mengangkat wajah.

"Apa benar aku kelihatan manis?" Mimi melirik Taichi dari sudut matanya malu-malu.

Taichi mengangguk. "Manis…sekali." Menjawab pertanyaan itu dengan pasti namun perlahan. Seolah ia kembali terkesima dengan gestur malu yang ditunjukkan oleh Mimi.

Manis sekali sampai rasanya membuat aku ingin mati…

"Sungguh?"

Taichi mengangguk sekali lagi.

Berikutnya, senyum cerah terpatri di lekuk wajah Mimi. Kedua sudut bibirnya ditarik lebar. Ditambah dengan semburat merah muda yang masih menghias kedua pipi tirusnya. Mimi tersenyum bahagia bagai anak kecil yang baru saja mendapat hadiah. Entah bagaimana caranya, respon ini membuat dada Taichi tercekat sakit karena tak kuat menahan perasaan yang seketika bisa meledak itu.

"Kalau begitu, sebagai ganti karena Taichi-kun memujiku, akan kutraktir crepes di taman nanti!"

Pujian berbuah traktiran, ya?

Taichi hanya bisa memasang senyum sederhana. "Kalau begitu, aku akan lebih sering memujimu agar terus ditraktir, ya?" godanya sambil berjalan bersisian dengan Mimi di pinggir jalan dan semakin menjauhi perbatasan dengan jalan menuju pantai.

"Aku nanti bangkrut, dong…"

"Sekali-kali 'kan?"

Tawa Taichi yang terdengar lembut seolah tersapu angin musim panas dan menerbangkannya jauh ke langit lepas. Ketika pemuda itu hanya menatap lurus ke depan sambil membicarakan topik lain, untuk beberapa detik saja tatapan Mimi hanya terfokus ke sosoknya. Memandangi sahabat masa kecil yang hari ini tampak begitu dewasa baginya.

Ternyata… Taichi memang berubah. Dan Mimi tersenyum tulus ketika pikiran itu melintas di benaknya.

~OoOoOoOoO~

Aquacity Odaiba. Sebuah pusat perbelanjaan yang terdapat di wilayah Odaiba. Dalam kondisi di tengah musim panas dan mendekati jam tiga sore ternyata tidak menyurutkan semangat para pengunjung untuk terus menyusuri jalan-jalan di Odaiba. Mimi dan Taichi sudah bisa menebak betapa ramainya gedung yang terdiri dari beberapa lantai di hadapannya hanya dengan melihat berapa banyak kendaraan dan pengunjung yang keluar masuk di wilayah parkir dan pintu mall.

Aquacity Odaiba sendiri memang salah satu tujuan wisata yang banyak dicari para wisatawan dari dalam atau luar Tokyo. Selain posisinya yang strategis, juga fasilitas di dalam mall yang terhitung lengkap mulai dari game centre, gedung bisokop, pusat perbelanjaan dan pusat wisata kuliner masakan dari seluruh Jepang. Beruntung lokasinya merupakan pusat perbelanjaan di dalam ruangan. Jadi Mimi dan Taichi sama-sama bisa menghela nafas lega karena bisa bersembunyi dari teriknya serangan matahari di atas kepala.

Ice cream sundae rasa vanila menjadi menu keduanya sambil berjalan santai di pinggir setiap etalase toko atau lokasi bermain.

Sesekali memperhatikan dari kaca toko ke dalam karena tak ada keinginan masuk. Atau sesekali mencicip masakan yang boleh dicoba di salah satu stand makanan secara gratis. Yang keduanya lakukan murni hanya jalan-jalan menghabiskan waktu sambil mengobrol. Mimi banyak menceritakan kegiatannya selama tinggal di Amerika. Mulai dari kebiasaan remaja disana sampai kegiatan belajar yang dirasanya berbeda jauh dengan sistem di Jepang. Mimi bahkan menambahkan betapa rindunya ia mengenakan seragam yang sama dengan seluruh siswa di sekolah.

Taichi mendengarkan sepanjang Mimi bercerita. Ia tahu sahabat kecilnya itu memang terkadang agak cerewet dan Taichi rasa sifat itu tak memudar meski Mimi beranjak semakin dewasa. Sesekali ia menanggapi atau melontarkan pertanyaan sederhana untuk memberi jeda agar Mimi tak terlalu lelah bercerita. Atau kadang ia turut menimpali dengan menceritakan kegiatannya sepanjang Mimi tak ada mulai dari klub sepak bola sampai perkembangan teman-teman mereka.

Bahkan Taichi juga menceritakan betapa lucunya Jo ketika Mimi meninggalkan Jepang dulu. Senpai mereka yang satu itu memang terkenal sangat menjaga dan memanjakan teman-teman yang kebanyakan lebih kecil darinya—khususnya Mimi.

"Sampai hari ini, hampir setiap hari Jo-senpai meneleponku dan mengeluh karena belum bisa menemuiku. Jadwal kuliah dan tugas musim panas, ditambah jam kerja paruh waktu sungguh membunuh hidupnya." Mimi tertawa renyah.

"Yeah! Kau harusnya lihat betapa kasihannya dia kalau sudah mendekati akhir tahun. Ah, tapi hampir semua memang sibuk sih. Yamato juga semakin terkenal saja. Sepanjang musim panas dia sudah punya banyak jadwal acara."

"Sepertinya pilihan pulang ke Jepang memang pilihan terbaik."

Taichi tersenyum sambil menepuk-nepuk kepala Mimi. "Kau bisa rusak kalau kelamaan di Amerika nanti."

"Hei! Jangan sembarangan, ya~ Memang budaya barat itu terkenal agak bagaimana… Tapi aku masih bisa jaga pergaulan, kok. Mama dan Papa bisa bunuh diri kalau aku menjadi anak nakal, Taichi-kun."

Tawa Taichi meledak. "Tuan puteri mereka mendadak berubah berpenampilan gothic-metal dan menyukai musik rock. Aku tak bisa membayangkannya~ Sumpah!"

"Uggh! Tidak lucuuu~" Mimi merengek sambil memasang aksi ngambek.

"Hei, hei, jangan marah. Aku bercanda."

"Lagipula menurutku metal-gothic dan musik rock juga keren, kok…"

"Ahh! Tidak! Aku sungguh tidak bisa membayangkan kau berevolusi seperti itu, Mimi~" Lalu Taichi tertawa lagi. Namun kali ini Mimi ikut tertawa lepas bersamanya.

Hingga sesuatu yang tertangkap di pengelihatan mereka berdua sama-sama membungkam tawa satu sama lain. Tidak terlalu jauh—mungkin sekitar lima meter di depan, tepat di sebuah perempatan antara blok etalase toko di dalam mall, mereka melihat Yamato dan Sora yang jalan melintas.

Keduanya mematung. Tawa yang tadi pecah lenyap seketika.

Mimi yakin apa yang ia lihat tadi benar-benar Yamato dan Sora. Bahkan aksi bungkam Taichi turut membuatnya percaya bahwa pengelihatan mereka tidak salah. Tapi apa yang keduanya lakukan disini? Jalan-jalan 'kah? Atau…

"Tadi itu… Yamato dan Sora 'kan?" Untuk memastikan, Mimi bertanya kepada Taichi.

Pemuda itu menggangguk ragu. Ia tak mau menjawab, tapi berbohong dengan pura-pura tak melihat juga tak bisa ia lakukan. "Euhm~ Aku tak yakin. Tapi kelihatannya memang benar… Tapi bisa jadi—"

"Kenapa mereka ada disini? Aduh~ Jalan-jalan tak mengajakku…"

Taichi tahu ada nada yang berubah dari suara Mimi. Seolah berusaha meyakinkan atau menguatkan sesuatu di dalam dirinya sendiri. Meski dia tertawa kecil seolah menunjukkan aksi ngambek karena Yamato dan Sora tidak mengajaknya jalan-jalan, Taichi bisa merasakan tawa itu terdengar hambar.

Mimi menatap Taichi, "Ayo sapa mereka! Aku mau protes ah karena mereka tidak ajak aku—" Belum sempat Mimi mengambil satu langkah untuk mengejar Yamato dan Sora, tangan Taichi sudah menghentikan langkahnya.

Kini sepasang manik karamel itu saling bersitatap lurus. Taichi memasang wajah serius tanpa senyum sedangkan Mimi memandangi Taichi heran karena menghentikannya.

"Taichi-kun?"

"Tidak. Apa kau lupa apa tujuan kita kesini, Mimi?"

DEG—!

Mimi tidak lupa. Ia hanya sengaja tak mau mengingatnya.

"Jalan…" Dan sengaja mau menjawab sesuai ekspektasinya.

"Kencan." Tapi Taichi buru-buru menyela sebelum Mimi selesai menjawab. Suara Taichi kedengaran tidak terima. "Aku mengajakmu keluar hari ini dengan tujuan berkencan, Mimi." Cengkraman tangannya di pergelangan tangan Mimi perlahan semakin kuat namun tak cukup kencang untuk membuat Mimi merasa sakit. Taichi tentu tak mau melukai gadis itu barang sejengkalpun.

Buru-buru Mimi membuang pandangan. Wajahnya merona namun ia merasa takut, bukan malu. Belum lagi tatapan beberapa orang yang melintasi mereka juga kelihatan penasaran dengan apa yang terjadi. Dalam posisi seperti ini pastilah Mimi dan Taichi kelihatan seperti pasangan kekasih yang tengah berargumentasi.

"Tapi," Mimi harus mencari cara meloloskan diri dari suasana canggung ini, "kencan itu untuk dua orang yang…berpacaran. Kekasih. Sedangkan aku dan Taichi-kun 'kan—"

"Kalau begitu kita pacaran saja."

Mulut Mimi terbuka tak percaya dengan kalimat Taichi barusan. Ia kembali menatap sahabatnya kebingungan.

"H-hah?" Berharap apa yang ia dengar salah.

"Aku suka padamu." Mungkin bagi Taichi sekarang sudah terlambat mengambil jalan muncur dari hubungannya dengan Mimi. Ia sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan cinta tak berbalas selama belasan tahun ini. Mungkin ini memang saat yang tepat untuk mengatakan semuanya tanpa memikirkan apa yang terjadi kelak.

Taichi tahu ia cemburu karena Mimi pasti hanya ingin menyusul Yamato.

"Atau…" Ia lanjut bicara karena Mimi hanya tercengang, "kau masih belum bisa melepaskan perasaanmu kepada Yamato?"

DEG—!

Skak mat. Mimi melotot karena Taichi mengungkit hal itu.

"Ta-taichi-kun…"

Mimi kira tak satupun mampu menyadari bagaimana perasaannya kepada Yamato sampai hari ini. Mimi kira ia bisa menyembunyikannya dengan sempurna semenjak kecil bahwa ada bagian lain di hatinya dimana khusus ia tata sedemikian rapi untuk Yamato. Dan bagian itu sampai detik ini masih tersusun sempurna. Dan rapat. Agar tak seorangpun mampu masuk kesana untuk melihat isi hatinya.

Tapi Taichi…

Bagaimana ia bisa tahu?

Panik. Mimi berusaha menarik tangannya namun barulah Taichi menggenggam tangan itu lebih erat lagi.

"Lepaskan aku!" Ia malu sekali. Sampai tak tahu harus bagaimana selain kabur dari hadapan Taichi.

"Kau menyukainya sejak lama. Dan sampai sekarang kau masih terus menyukainya. Aku tahu, Mimi. Kau tak pernah bisa menyembunyikan apapun dariku. Semuanya terbaca jelas hanya dengan aku menatap matamu."

Tidak! Tidak boleh ketahuan! Mimi semakin panik. Ia tak mau mendengar Taichi mengatakan semuanya.

"Tapi, Mimi! Yamato—"

"Mimi-chan! Taichi-kun!"

Panggilan dari suara yang begitu familiar seolah menjadi saklar yang mematikan pertengkaran mereka. Spontan Taichi langsung melepas tangan Mimi dan keduanya menoleh serentak ke satu titik yang sama. Titik dimana dengan jelas terlihat Yamato dan Sora berjalan cepat menghampiri mereka dengan ekspresi tak percaya—namun tentu dihiasi senyum lebar di wajah Sora.

Mimi menelan ludah. Ia berharap Yamato (dan mungkin Sora) tidak melihat apa yang ia dan Taichi lakukan tadi. Apalagi kalau sampai dengar.

"Kalian disini?" Yamato menatap Mimi. Lalu melirik Taichi. Entah bagaimana ia merasa ada yang tidak beres diantara kedua sahabatnya

"Aku kaget. Tadi, aku seolah melihat kalian berdua. Untuk memastikan, aku dan Yamato berbalik arah dan ternyata memang kalian." Sora langsung bicara dengan semangat begitu berada dihadapan Mimi. "Kenapa tidak bilang mau ke Aquacity juga? Kita bisa pergi bersama-sama 'kan tadi?" Tak ada sedikitpun kecurigaan di wajah gadis itu.

Mimi tersenyum canggung. "A-aku…"

"Tentu saja." Taichi yang menyela, membuat Mimi menghadiahinya tatapan tajam. Dalam kondisi seperti ini, Mimi merasa Taichi akan mengatakan sesuatu yang merusak suasana mereka berempat.

Tatapan marah Taichi cukup membenarkan kekhawatiran Mimi.

"Tak ada yang mau mengganggu kencan seseorang 'kan, Sora? Kau kira aku dan Mimi akan mengganggu kalian berdua. Kedengarannya konyol sekali mengganggu sepasang kekasih yang sedang berkencan." Setiap kalimat Taichi ia katakan dengan penuh penekanan.

Tubuh Mimi membeku.

Apa kata Taichi barusan?

Wajah Sora seketika merona. Sedangkan siapa kira Yamato malah membulatkan mata tak percaya dan kelihatan begitu marah atas apa yang Taichi ucapkan tadi. Tapi tatapan Taichi tak kalah menyeramkannya juga. Ia memang menatap Yamato sekilas, seolah menyampaikan apa yang terjadi diantara mereka melalui mata. Lalu menatap Mimi yang menegang sambil memandangi Yamato dan Sora tak percaya.

"Mimi…kau belum tahu 'kan?" Taichi masih bicara. Ia tak tahu apa yang bisa menghentikannya

Hentikan aku! Sedangkan Taichi sendiri berharap seseorang menghentikan kemarahan yang menguasainya. Ia tahu ia akan menyakiti Mimi dengan mengatakan semuanya. Ia benar-benar berharap seseorang menghentikan cemburu yang meledak di kepalanya. Ia tak mau membuat Mimi menangis.

"Yamato dan Sora…"

Mimi tak mau dengar!

"Mereka sudah berpacaran semenjak SMP."

"Taichi!" Tanpa diduga, Yamato berteriak sambil menarik tangan sahabatnya. "Apa-apaan kau—" Ia memang tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi Yamato tahu mengatakan hal itu merupakan hal yang terlarang. Memang sampai saat ini Mimi masih belum diberitahu perihal hubungannya dengan Sora. Atau, bahkan ia sangat ingin memberi tahu, tapi ada hati dimana tak mengizinkan Yamato untuk berkata jujur.

Sora yang tak memahami situasi ikutan terkejut. Ini pertama kalinya ia lihat Yamato mendadak marah kepada Taichi.

Mimi menatap Yamato yang kini memandanginya cemas. Kenapa Yamato menatapnya cemas? Seolah seluruh yang terpancar dari sepasang manik biru itu hanyalah rasa kasihan. Jika Yamato menatapnya seperti itu… Mungkinkah Yamato juga sebenarnya selama ini tahu perasaan Mimi namun memilih diam dan pura-pura tak menyadarinya? Karena itu ia tak pernah mengatakan apapun soal hubungannya dengan Sora.

Semua asumi berputar di kepala Mimi. Semua fakta yang tersaji membuat sesuatu seolah kini tengah menusuk hatinya. Sampai tak ia sadari kalau air mata perlahan mengalir keluar. Sora yang pertama menyadarinya.

"Mimi-chan!" Direngkuhnya kedua lengan Mimi erat. "Kenapa? Kenapa kau menangis?"

Yamato dan Taichi diam menatap gadis itu dalam kebisuan. Bahkan lidah Taichi kelu untuk sekedar mengucapkan kata maaf.

"Hahaha~" Tertawa. Mimi tertawa. Membuat dada Taichi mendadak didera luka yang tak kasat mata. "Aku hanya kaget saja. Tadi aku dan Taichi agak sedikit bertengkar sebelum kalian datang." Mimi berkata jujur. "Lalu diberitahu kalau Yamato dan Sora selama ini berpacaran. Mendadak air mataku keluar begitu saja. Aku kaget sekali. Soalnya Yamato dan Sora tak pernah bilang apapun. Kau jahat sekali, Sora! Hal baik begitu seharusnya langsung dikabari kepadaku!" Nada protes dan tawa hambar itu mungkin tak langsung disadari Sora. Mimi menyeka air matanya yang sudah berhenti dan menatap Taichi juga Yamato bergantian.

Perasaannya campur aduk.

"Seharusnya aku mengucapkan selamat 'kan~"

Taichi ingin menghentikan racauan Mimi. Bahkan Yamato pun kehilangan kata-kata untuk membalas semua ucapan Mimi. Kedua pemuda itu sama-sama membisu tenggelam dalam kekecewaan terhadap diri masing-masing.

Mimi memeluk Sora. "Selamat, Sora! Aku harap hubunganmu dan Yamato bertahan terus."

"Terima kasih, Mimi-chan."

Yamato mengepalkan tangan kuat-kuat saat ia sadari tatapan mata Mimi jatuh kepadanya. Tatapan penuh rasa sakit entah karena apa. Sedangkan kini Taichi menunduk dalam karena sadar betapa kuatnya Mimi menahan gemetar di sekujur tubuhnya.

"Taichi-kun benar, aku tak boleh mengganggu kencan kalian. Ayo pergi, Taichi-kun…" Selepas dari Sora, Mimi langsung menggandeng tangan Taichi dan melambaikan tangan kearah kedua sahabatnya. Setelahnya segera ia menarik Taichi cepat-cepat meninggalkan Yamato dan Sora.

Taichi tak berkutik sama sekali ketika Mimi terus berjalan menarik tangannya. Terus berjalan sampai mereka menemukan pintu keluar dari Aquacity Odaiba. Terus berjalan hingga suara mesin kendaraan terdengar di jalan raya. Terus… Terus melangkah menyusuri jalan setapak sepinggir Odaiba. Keramaian disekitar tak mampu menyentuh dunia mereka yang kini sama-sama berubah.

Tapi Taichi tak sanggup terus diam. Ini karenanya. Dan ia tahu Mimi tak akan berhenti.

Taichi berhenti melangkah dan dalam waktu satu detik berbalik menarik tangan Mimi untuk memeluk tubuh gadis itu dari belakang. Mimi kembali menegang namun tidak berontak dan hanya membiarkan Taichi menenggelamkan wajah di puncak kepalanya. Lagi-lagi tatapan sekitar diabaikan keduanya. Mereka sama-sama tenggelam di dunia masing-masing.

"Maafkan aku… Maaf." Taichi tak menemukan kata-kata apapun selain itu.

Mimi mengangguk. Sesungguhnya ia tidak marah kepada Taichi ataupun Yamato—apalagi Sora. Hanya saja hatinya tetap merasakan sakit karena patah hati. Luka itu nyata. Air mata Mimi kembali menetes membasahi lengan Taichi. Gadis itu menutup wajah dengan kedua tangannya sambil menunduk dan tergugu pelan.

Taichi melepaskan pelukannya. Berjalan ke hadapan Mimi dan memeluk gadis itu lebih erat. Memeluknya untuk sekedar memberikan ketenangan kepada Mimi. Dan Taichi tak mengatakan apapun lagi selain mengusap kepala Mimi perlahan sambil berdoa bahwa gadis itu bisa menjadi lebih baik setelah menangis.

Masih di musim panas kesembilan… Semuanya akhirnya terbongkar.

.

To be continue~

.

A/N:

Ohisashiburi... Sebelumnya izinkan saya melotot kaget saat melihat jumlah reviews yang masuk. Jujur, saya syok. Karena sebelumnya jumlah reviews yang masuk untuk fic ini bahkan tidak menembus 20. Tapi setelah teaser Digimon Tri keluar mendadak menembus 50. Saya sangat kaget. Terima kasih kepada kalian yang membaca fic ini dan mohon maaf karena baru saya lanjutkan sekarang. Semoga chapter ini bisa diterima.

Sekedar informasi, ini memang berpairing Taichi x Mimi x Yamato (one side) namun akan tetap berakhir dengan Taichi x Mimi~ ^^

See you next chapter,

InfiKiss