Hohoho~ Chapter "E" ini pun update! Ada beberapa yang menebak apa itu "E", dan tebakan kalian tepat! Chapter kali ini bertemakan "Embun". Terima kasih sudah membaca dan memberikan review pada chapter kemarin.

Untuk Kibaa Inuzukaa, arigatou~ Tebakanmu tepat! Haha~ Akan kuusahakan untuk peng-update-an berikutnya, selamat membaca.

Untuk Soputan, arigatou~ Selamat membaca.

Untuk ryansaputra014, arigatou~ Tak apa, selamat membaca.

Untuk sincozaa, tepat! Iya nih, semoga saja berjalan lancar sampai akhir. Iya, setiap chapter itu satu hari. Selamat membaca~

Untuk Kagami Yoshida, tebakanmu tepat~ Itu dikarenakan tatapan yang Hinata keluarkan sama seperti tatapan Hinata. Jadi ia mengingat itu dan merasakannya. Begitulah, selamat membaca.

Untuk anna. fitry, iya~ Haha, selamat membaca.

Untuk burritown, itu cuma sementara kok. Kalau itu tentu saja, selamat membaca.

Oke, sekian dariku. Selamat membaca~

::

::

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

26 Days : Koi of Love © Hikaru-Ryuu Hitachiin

::

Pairing: Hinata Hyuuga & Naruto Uzumaki

::

Genre: Romance

::

Warning: Silahkan dibaca dan lihatlah kesalahan-kesalahan yang kapan saja bisa terjadi di fic ini. Yang pastinya Hinata agak sedikit OOC, itu menurutku.

::

Rated: T

::

~ Happy Reading ~

::

::

::

Kata Naruto, 'Embun' itu adalah 'sisa air mata Dewa'. Dewa hujan menangis, dan saat hatinya sudah membaik, maka air mata itu akan berhenti. Menyisakan sisa-sisa air mata itu di dunia ini. Kata Naruto juga, 'embun yang terkena sinar matahari' itu seperti 'batu permata'. Pemikiran Naruto itu sangat menarik buatku, aku menyukainya.

Apakah suatu hari, aku dapat menjadi embun? Sesuatu yang dianggap indah baginya, seperti batu permata.

::

::

26 Days : Koi of Love ◐

::

::

Pagi ini, Hinata membuka gorden jendela kamarnya sendiri. Apa yang salah? Hanabi yang baru masuk ke kamar Hinata jadi merasa aneh sendiri. Biasanya di hari libur, Hinata lebih memilih untuk bangun siang. Baru akan bangun setelah dibangunkan oleh Hanabi. Tapi kali ini apa? Ada apa gerangan yang terjadi pada kakaknya?

"Tumben hari libur kak Hina bangun pagi," Hinata melihat Hanabi di sebelah pintu kamarnya yang perlahan mendekatinya. Ia tersenyum, "Selamat pagi," sapanya sebelum ia membalas ucapan Hanabi. Ia berjalan mendekati Hanabi, "Kakak lagi bersemangat!" ia mendorong Hanabi keluar dari kamarnya.

"Hari ini kak Hinata yang jatah masak," awalnya Hanabi memang berniat membangunkan Hinata. Karena ini jatah Hinata yang memasak, jadi harus dibangunkan. Tapi ternyata orang yang mau dibangunkan sudah bangun terlebih dahulu.

"Kakak tahu, tapi kakak masih mau di kamar sebentar lagi." pintu pun ditutup setelah Hanabi sudah pas keluar dari kamar. Hanabi melihat pintu tertutup itu dengan tampang datar, "Sudahlah," ia pun turun ke bawah untuk mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan Hinata nanti.

Didalam kamar, Hinata kembali menuju ke jendela kamarnya. Dibuka jendela tersebut, dan langsung saja ia menghirup udara segar pagi hari. Benar-benar menyegarkan, belum ada debu-debu. Ia melihat sekitar halaman, melihat begitu banyak tetes-tetesan air yang menggantung pada dedaunan-embun. "Kemarin benaran hujan ya?" tanyanya pada diri sendiri. Ia tidak mendengar suara hujan sama sekali, itu berarti ia tertidur dengan sangat lelap. Mungkin karena proses penyembuhan, makanya jadi tidak sadar.

Apalagi saat kemarin, Naruto menceritakan semua yang terjadi pada keluarga Hinata. Hiashi langsung panik, Neji dan Hanabi pun begitu. Sampai-sampai kemarin malam Hanabi membuatkan bubur hangat untuk dimakan Hinata. Yah~ Kejadian lalu yang buruk sebaiknya dilupakan saja.

Sekarang, sesuatu yang membuatnya tertarik belum lama ini sudah muncul. Embun! Hinata memperhatikan embun itu secara terperinci, "Kalau dilihat dari bentuknya, memang menarik sih." lancip dibagian atas, dan bundar dibagian bawah. Kalau sedikit melengkung seperti tanda koma, pasti mirip batu magatama.

Setelah asyik memandangi embun itu, ia kembali pada aktifitasnya. Ia keluar dari kamarnya dan turun ke bawah, kemudian menuju dapur untuk memasak sarapan pagi ini. Kemarin ia berhutang pada Hanabi, karena jatah masak kemarin jadi Hanabi yang melakukannya. Saat Hinata bilang ia akan membalas hutang itu, Hanabi bilang tidak usah. Katanya anggap saja sebagai niat baik dari adik pada kakaknya.

"Bahan-bahannya sudah kusiapkan kak," Hanabi melihat kakaknya yang memakai celemek. Hinata yang baru selesai memakai celemek itu pun melihat bahan-bahan yang sudah tersiapkan dengan rapi.

"Makasih ya,"

Hinata pun mulai memasak, kalau Hanabi hanya melihat saja. Merasa ada pandangan yang mencekat, Hinata merasa tidak enak. Seperti ada yang mengawasi saja, seperti saat sedang ujian. Hinata akhirnya membuat keputusan, bukan karena malas atau apa ya.

"Mau bantu kakak?" tanya Hinata menawarkan. Memang kalau ada yang membantu pekerjaan akan lebih gampang dan cepat selesai.

"Iya," ternyata dari tadi Hanabi melihat seperti itu karena mau membantu Hinata. Karena melihat Hinata yang asyik sendiri, Hanabi jadi tidak enak kalau mengganggunya.

Lima menit memasak, tiba-tiba ada suara yang memanggil. "Permisi! Selamat pagi! Hinata? Kau ada di rumah?!" teriakkan itu menghentikan pekerjaan Hinata. Tanpa perlu berpikir, Hinata sudah tahu itu suara siapa.

'Naruto? Ngapain datang pagi-pagi?' tanyanya tidak percaya dalam hati. Untuk apa ya Naruto datang pagi-pagi di hari libur? Kalau teriak pagi-pagi seperti tadi, biasanya Hiashi akan marah. Karena masih banyak orang yang beristirahat pada jam segitu.

"Siapa sih pagi-pagi sudah berisik?!"

BRAK! Suara pintu terbanting dengan kerasnya. Hinata sudah tahu siapa yang berbuat seperti itu, pasti ayahnya-Hiashi.

"Selamat pagi om," sapa Naruto yang sedikit gugup karena melihat wajah sangar Hiashi.

"Mau apa kemari?" tanpa membalas sapaan Naruto, dan tanpa mengizinkan Naruto untuk masuk. Hiashi menanyakan alasan apa yang mendatangankan Naruto di pagi hari.

"Hinata om!" jawab Naruto langsung. "Hinata-nya ada, 'kan?" tanyanya kemudian. Naruto sangat penasaran dengan kesehatan Hinata sekarang. Makanya ia datang pagi-pagi sekali untuk memastikannya.

Hiashi berpikir sementara, dan Naruto tahu pasti ada sebuah rencana buruk yang dipikirkan oleh Hiashi. "Tidak ada," jawab Hiashi berbohong. Itu sudah pasti harus dilakukan, agar anaknya tidak dibuat repot oleh Naruto. Pasti ada niat terselubung yang mau dilakukan Naruto, itu perkiraannya.

"Tidak ada?" Naruto yang tidak percaya pun bertanya. Memang sudah sering sih Hiashi berbohong tentang keberadaan Hinata. Bilangnya tidak ada, tapi ternyata ada. Pertama dan kedua kali sih memang masih dapat tertipu. Tapi tidak untuk yang seterusnya, 'kan? Tidak ada yang mau terperangkap didalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.

"Kalau tidak percaya, silakan masuk dan cari sepuasnya." sebenarnya, Hiashi mengucapkan ini untuk menambah kepercayaan Naruto kalau Hinata tidak ada. Tapi Naruto malah menanggapinya dengan serius.

"Baiklah om," baru satu langkah Naruto beranjak, Hiashi langsung menahan Naruto. Sudah ketahuan kalau Hiashi berbohong, Naruto tertawa dalam hati setelah itu.

"Jangan seenaknya masuk rumah orang," ucap Hiashi setelah itu. Dari sana Naruto langsung mengambil tindakan, "Bukannya om sendiri yang mempersilakan masuk." kata-katanya itu seakan membuat Hiashi terpojok.

"Eh? Benar juga ya," Hiashi baru ingat dengan ucapannya sendiri. Benar-benar, sepertinya Hiashi perlu istirahat sebentar lagi. Gara-gara kemarin lembur untuk menyelesaikan pekerjaan yang sebentar lagi selesai. Lagian tanggung kalau dilanjutkan esok hari.

"Hinata-nya om?" tanya Naruto sekali lagi.

"Tidak ada," lagi-lagi Hiashi berbohong. Tapi yang kali ini, kebohongan itu akan langsung terbongkar. Dengan kedatangan orangnya sendiri, didepan matanya.

"Kenapa yah? Kok sudah ribut saja didepan rumah?"

~ V ~

˚°◦ ◦°˚ ◐ 5th Day ◐ ˚°◦ ◦°˚

~ V ~

"Sepertinya ayahmu memang membenciku," dengan lemasnya, Naruto mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya. Berjalan secara tidak wajar, ia berjalan sambil membungkukkan badannya. Kalau bungkuk benaran 'kan bisa gawat.

"Tidak kok," Hinata tertawa melihat tingkah Naruto. Umur sudah remaja, tapi tingkahnya masih saja seperti anak-anak. Mungkin bukan anak-anak sepenuhnya, dari tingkah sih memang anak-anak, tapi dari bentuk lebih ke kakek-kakek.

"Kenapa begitu? Ayahmu selalu menunjukkan ekspresi tidak suka seperti itu, padaku saja." Naruto melihat Hinata dengan tatapan tidak percaya. Sebenarnya berbicara sambil melihat arah lain itu tidak boleh, harusnya menatap wajah orang yang diajak bicara. Tapi kalau berjalan, ya harus melihat langkahnya.

"Tidak, wajah ayah memang seperti itu kok." Hinata tertawa singkat, hanya pada Naruto saja wajah Hiashi seperti itu. Makanya Hinata dapat bilang begitu.

"Hmm, benar juga ya." Naruto juga tidak pernah melihat ekspresi lain yang dikeluarkan Hiashi. Jadi dibenarkan saja, biar cepat selesai.

Saat ini keduanya sedang berjalan menuju sekolah, maksudnya hanya Hinata. Kalau Naruto sih hanya menemani Hinata sampai pembicaraan mereka selesai. Lagian Naruto juga tidak mau malas-malasan berada di rumah Hinata karena hari ini ada yang mau dikerjakannya.

"Lalu, kenapa pagi-pagi mau bertemu denganku?" tanya Hinata.

"Ah, itu." senyumannya hilang seketika, Hinata mulai merasa tidak enak dengan situasi seperti ini. "Manager klub atletik izin selama seminggu," raut sedih dipancarkan Naruto.

Sudah tahu kalau begitu, Hinata juga akan ikut-ikutan sedih. Ia melihat Naruto sebentar dan memalingkan wajahnya ke arah lain, agar ekspresi yang tidak enak dilihat itu tidak dilihat oleh Naruto. "Maksudnya Sakura ya?" tanyanya kemudian.

"Iya."

'Naruto? Suka sama Sakura ya?'

"Walaupun hanya seminggu, tapi sayang sekali kalau dia tidak ada. Padahal dia cukup berbakat menjadi manager dengan sifatnya itu. Pasti anak-anak bakalan sulit diatur nih," kembali Naruto mencoba menyemangati dirinya sendiri. Ia tidak boleh merasa sedih karena kehilangan manager.

Perasaan Hinata tidak enak.

"Jadi aku merekrutmu sebagai manager sementara! Mau tidak?!" ucapan Naruto membuat Hinata kaget. Yang tadinya memalingkan wajah ke arah lain, sekarang jadi melihat Naruto. Memandangnya, dengan perasaan tertekan, dengan wajah yang tertekuk.

Naruto heran melihatnya. Ada apa dengannya? "Haloo~" ia menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri tepat didepan wajah Hinata. "Ah, nanti kupikirkan. Tapi sepertinya tidak bisa, sebulan ini aku banyak kerjaan." kembali Hinata memalingkan wajahnya setelah menjawab pertanyaan Naruto.

"Hmm, oke! Kalau kamu banyak pekerjaan, akan kucari yang lain saja. Aku juga tidak mau merepotkanmu,"

Pembicaraan belum selesai sampai disini, "Mengingat ucapanku yang kemarin. Hujan benaran, 'kan?" Naruto mau memamerkan ketepatan dalam hal memperkirakan cuaca kemarin.

"Iya," Hinata mengangguk.

"Bagaimana? Sampai sekarang pun embun itu masih terlihat," ucap Naruto dengan semangat. Ia menunjuk dedaunan yang dipenuhi dengan embun-embun. Walaupun akan segera hilang karena panas dari matahari. Selagi masih ada, jadi dikasih tunjuk saja.

"Iya, benar-benar indah." balas Hinata. Hinata yang melihat Naruto sudah kembali bersemangat seperti semula pun tersenyum karenanya. Awalnya ia memang sedih karena Naruto membicarakan perempuan lain, padahal disebelahnya ada Hinata. Tapi Naruto saja sudah kembali seperti semula, oleh karena itu ia tidak boleh bersedih. Ia harus menghargai Naruto yang berada dekat dengannya.

Naruto bengong sementara, kemudian tersenyum karena ia sependapat dengan Hinata. "Wah~ Sependapat nih?" tanyanya. Baru kali ini ada yang sependapat dengannya.

"Iya, aku baru menyadarinya setelah Naruto menceritakannya." semoga wajah sedih seperti itu tidak terlihat, tidak keluar lagi. Berusahalah Hinata!

"Yah~ Memang begitu sih. Haha," Naruto tertawa dengan tingkah Hinata. Perubahannya itu memang sangat cepat, bahkan kalau tidak diperhatikan dengan jelas pun tidak akan terlihat.

Tapi tidak untuk orang yang sudah lama bersama dengannya. 'Tadi Hinata sedih karena apa ya?' sudah beberapa tahun mereka bersama? Tidak mungkin Naruto tidak menyadarinya sama sekali, 'kan? Sebenarnya apa yang membuatnya sedih? Naruto jadi bingung sendiri, berpikir keras. Sampai-sampai wajahnya jadi aneh sekali.

"Apakah ada perempuan yang seperti embun di mata Naruto?" Naruto berhenti berpikir karena pertanyaan itu. Tidak mengerti dengan pertanyaan Hinata, ia pun bertanya balik. "Maksudmu?" tanyanya meminta penjelasan.

"Seperti batu permata, perempuan yang begitu sangat berharga bagi Naruto." mata Naruto membulat, ia tidak menyangka Hinata akan menanyakan hal itu. Sudah cukup lama mereka bersama, mungkin sudah waktunya untuk terbuka.

Naruto menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan jari telunjuknya, "Aku tidak tahu kenapa kamu membicarakan ini, tapi yang jelas ada." dengan malu ia mengatakannya.

Tidak penasaran dengan reaksi Naruto, "Siapa?" Hinata malah lebih penasaran sama perempuan yang dimaksud itu. Siapa? Siapa yang berharga baginya? Apakah Hinata termaksud didalamnya?

"Mau tahu saja," melihat wajah Hinata yang tiba-tiba berubah menjadi tidak mengasyikan, membuat Naruto jadi tidak enak hati. "Baiklah~ Akan kuberitahu." ia tidak bisa melihat wajah Hinata yang seperti itu. Hanya ada dua ekspresi yang mau dilihatnya, tersenyum dan tertawa. Hanya itu, "Ada tiga!" tiga jari ia julurkan di mata Hinata.

"Siapa?" tanya Hinata kembali. Kalau dihitung memang cukup banyak orang yang dianggap berharga baginya. Tapi, hanya cukup satu orang saja yang disukainya. Satu orang yang juga berharga baginya~

"Pertama, Ibu. Karena dia yang melahirkan aku sehingga aku ada disini. Kalau laki-laki termaksud, sudah pasti aku akan memasukkan ayah juga." Hinata mengangguk, kalau itu sih sudah pasti. Ia sudah mengetahuinya dari awal, Kushina akan masuk ke dalamnya.

"Yang kedua, kamu!"

Blush~ Pipi Hinata merah seketika. Hinata katanya? Apakah dirinya tidak salah dengar? Masih belum percaya juga. Tapi kalau dibilang seperti itu, malah membuat Hinata tambah senang.

"Yah~ Karena kamu itu sudah lama bersama denganku. Tidak mungkin aku menganggapmu tidak berharga, kamu itu sudah seperti adikku sendiri." Naruto tidak tahu, bahwa ucapannya yang awalnya membuat hati Hinata senang, berubah menjadi sakit karena ucapannya yang selanjutnya.

'Adik ya? Dianggap berharga saja, sudah membuatku bahagia. Jadi, untuk saat ini, tidak apa.' untuk saat ini, Hinata bahagia mendengar ucapan itu. Ia tidak mau menghilangkan rasa bahagia itu hanya karena Naruto menganggap Hinata seperti adiknya.

"Satu lagi?" dan satu lagi yang membuatnya penasaran. Siapa satu lagi perempuan yang dianggap Naruto berharga?

"Satu lagi ya?" sekarang Naruto yang berwajah muram. Rasa sukanya itu bertepuk sebelah tangan ya? "Satu lagi, rahasia! Ngomong-ngomong ngapain hari libur gini ke sekolah? Pakai seragam lagi," dengan cepat Naruto mengalihkan pembicaraan, dengan cepat juga ia merubah ekspresinya.

Tidak ada balasan, Hinata memikirkan apa arti dari ekspresi Naruto yang tadi. Kenapa wajahnya mendadak berubah seperti itu? "Hinata?" kali ini Hinata sadar karena namanya dipanggil.

"Ada urusan," jawab Hinata langung. Ia tidak mau memberitahu urusan apa yang membuatnya datang ke sekolah. Kalau ia kasih tahu untuk memberi makan koi lagi, malah akan membuat Naruto tambah penasaran.

"Urusan? Aku baru tahu," Naruto terhenti, Hinata jadi ikut-ikutan berhenti juga. "Itu~ Tidak terlalu ribet kok. Naruto boleh langsung pulang," lagipula Hinata juga tidak mau membuat Naruto repot.

"Baiklah~ Setelah ini aku ada urusan juga. Bertemu lagi hari Senin ya!" Naruto berlari meninggalkan Hinata, tidak lupa melambaikan tangan sambil memberikan senyumannya.

Hinata membalas lambaian itu, dan menghentikannya setelah sosok Naruto tidak dapat dilihatnya. Diam sementara, "Sebenarnya aku ke sekolah buat kasih makan mereka sih." dan tersenyum setelahnya.

Di hari kelima ini pun, sudah banyak kejadian yang terjadi. Dua puluh satu hari lagi ya? Tiga minggu, waktu yang cukup lama.

"Aku tidak boleh menyerah,"

~ V ~

˚°◦ ◦°˚ ◐ Embun ◐ ˚°◦ ◦°˚

~ V ~

"Makan yang kenyang ya," ia menaburkan makanan ikan tersebut. Sebenarnya inilah urusannya, memberi makan sepasang ikan koi. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan pelajaran.

Sesudah itu, ia duduk di bangku terdekat. "Nunggu sampai gelap ya? Mungkin akan membosankan," ucapnya pada dirinya sendiri.

Kalau dihitung, sekarang masih jam sebelas pagi. Gelap baru akan terjadi jam enam lewat dikit, malam hari. Berarti masih ada sekitar tujuh jam-an lagi untuk menunggunya. Sebaiknya melakukan apa ya biar tidak bosan?

Berpikir selama dua menit, akhirnya ia menemukan apa yang mau dilakukannya. "Biasanya hari Sabtu Ino masuk dan mengerjakan tugasnya di perpustakaan. Aku kesana saja," inilah niatnya.

Ino memang suka datang ke sekolah kalau hari Sabtu. Sekalian saja melihatnya, jadi tidak akan bosan karena Hinata akan mendapatkan pekerjaan. Niatnya ia mau membantu Ino kalau ada yang perlu dibantu.

Sampai sudah Hinata di perpustakaan. Benar seperti dugaannya, Ino benaran ada disana. Sedang mengerjakan tugas yang entah itu apa dengan serius. Bahkan saat Hinata mendekati Ino, Ino tidak sadar keberadaan Hinata selama lima menit. Jadinya Hinata panggil saja Ino, baru deh Ino sadar.

"Sebenarnya ngerjain apa?" tanya Hinata. Ino tidak melihat Hinata sama sekali, ia masih terus menulis. Tapi ia menjawab pertanyaan Hinata, "Ini tugas dari ketua klub, sebentar lagi selesai kok." jawab Ino tetap terfokus pada tulisannya.

Mendengar itu, Hinata tidak bertanya lagi. Tadi katanya sebentar, tapi setelah dua jam, masih belum selesai juga. Jadi Hinata memilih untuk membaca buku saja, daripada bosan menunggu. Ia menuju rak ilmu pengetahuan umum, dilihatnya buku yang berjejer itu. Siklus, Hewan Masa Lampau, Mitologi Yunani dan Romawi, Ramalan Kartu Tarot, Yin dan Yang. Tangannya terhenti di judul yang satu ini.

Ia mengambil buku tersebut dan kembali ke tempat duduknya. Ino yang melihat Hinata datang sambil membawa buku bertanya apa yang mau dibaca Hinata. "Ini buku tentang Yin dan Yang," jawab Hinata.

Ino jadi ingat sesuatu, "Kamu baca ini karena ada kaitannya dengan mitos sepasang koi itu ya?" tanyanya lagi.

Hinata mengangguk, "Kalau begitu silakan membaca, aku mau melanjutkan pekerjaanku lagi." ucap Ino dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

Hinata membuka daftar isi buku tersebut, ada judul yang membuatnya tertarik. Simbolisme Yin dan Yang~ Itu ada di halaman 57, jadi ia membuka halaman tersebut.

Simbolisme Yin dan Yang

Yin adalah sisi hitam dengan titik putih pada bagian atasnya. Yang adalah sisi putih dengan titik hitam pada bagian atasnya. Hubungan antara Yin dan Yang sering digambarkan dengan bentuk sinar matahari yang berada di atas gunung dan di lembah. Yin (secara harafiah yaitu tempat yang teduh) adalah daerah gelap yang merupakan bayangan dari gunung. Sementara Yang (secara harafiah yaitu tempat yang terang atau cerah) adalah bagian yang tidak terhalang oleh gunung. Saat matahari bergerak, Yin dan Yang secara bertahap bertukar tempat satu sama lain, mengungkapkan apa yang tidak jelas dan menyembunyikan yang sudah terungkap. Yin ditandai dengan sesuatu yang lambat, lembut, menghasilkan, menyebar, dingin, basah, dan pasif. Berhubungan dengan air, bumi, bulan, feminitas dan malam hari. Yang sebaliknya ditandai dengan cepat, keras, padat, fokus, panas, kering, dan agresif. Berhubungan dengan api, langit, matahari, maskulinitas dan siang hari.

'Sama seperti yang Naruto ucapkan saat itu,' saat membaca itu, Hinata jadi ingat dengan ucapan Naruto. Ia tersenyum karena mengingat kembali kejadian belum lama itu.

'Lalu~ Yin dan Yang secara bertahap bertukar tempat satu sama lain. Kedua koi itu benaran seperti Yin dan Yang ya? Mengungkapkan apa yang tidak jelas. Maksudnya, mengungkapkan sebuah mitos yang tidak jelas kebenarannya ya? Tapi ada keberadaannya. Terus maksud kalimat "menyembunyikan sesuatu yang sudah terungkap" itu apa ya?' banyak pertanyaan dalam pikirannya. Tapi sepertinya belum ada yang dapat menjawab pertanyaan itu.

Hinata melihat jam, jam tiga sore. "Apa? Cepat sekali," Hinata membuka kotak bekalnya. Isinya roti selai, ia mau makan karena belum makan dari tadi. Ia juga menawarkan pada Ino, dan Ino memakannya juga.

Saat itu juga Ino sudah selesai mengerjakan tugasnya, mereka berdua akan keluar perpustakaan. Tapi sebelumnya, Hinata meminjam buku tadi terlebih dahulu. Tepat pukul setengah empat, mereka keluar dari perpustakaan.

Saat hampir mau sampai di kolam ikan, Ino terhenti karena melihat Naruto. "Eh? Itu Naruto, 'kan? Kok ada di sekolah?" tanya Ino. Hinata pun melihatnya, "Katanya ada urusan," balas Hinata.

Ino melihat ekspresi Naruto, ia kaget dengan ekspresi seperti itu. Ino langsung mengalihkan pandangan Hinata, "Sudahlah~ Ayo kita lanjut jalan," didorong-dorongnyalah Hinata.

Tapi Hinata penasaran apa yang dilakukan oleh Naruto. Ia menahan kakinya dan begitu kagetnya ia saat melihat itu. "Ekspresi itu?" Hinata terpaku melihatnya. Ino menepuk jidatnya karena gagal untuk membuat Hinata tidak melihatnya.

Ia melihat arah yang dilihat Naruto. Gadis berambut dengan warna seperti bunga sakura, sama seperti dengan namanya, sedang berbicara dengan gadis lainnya. Hinata berjalan sedih, "Ayo kita pergi," Ino mengikuti Hinata dengan sedih juga.

"Tidak usah dipikirkan Hinata," Ino mencoba menghibur Hinata, tapi itu sia-sia saja. Karena dirinya, sudah terlanjur melihatnya.

"Bahkan, Aku yang selalu berada dekat dan bersama dengannya sejak kecil, tidak pernah dipandang dengan tatapan seperti itu."

Ino terdiam, ia tidak dapat membalas kata-kata Hinata. Apakah setelah kejadian seperti ini, Hinata akan menyerah?

Malam tiba, Hinata menatap koi hitam dengan sedih. Ino sudah pulang sekitar jam lima-an setelah mendapat panggilan dari ibunya. Hinata tidak tahu apa yang akan dilakukannya setelah kejadian itu. Walaupun begitu, ia tidak akan mengakhiri kegiatannya yang sudah menjadi rutinitas ini. Walaupun cintanya tidak terbalas, tapi ia akan selalu memberi sepasang koi itu makan.

"Menyembunyikan sesuatu yang sudah terungkap. Maksudnya menyembunyikan perasaan Naruto yang sudah sangat terlihat jelas kalau dia menyukai Sakura, 'kan?" Hinata terdiam.

"Hinata?" mendengar itu, Hinata menengokkan kepalanya. "Eh? Naruto?" sosok Naruto lah yang dilihat olehnya. Tiga jam Naruto masih ada di sekolah? Apa yang dilakukannya? Apa meratapi nasibnya? Tidak mungkin.

"Kok ada disini?" tanya Naruto. "Itu. Bukannya harusnya aku yang tanya ya?" Hinata yang bilang kalau akan ke sekolah. Naruto tahu itu, tapi masih saja bertanya. Harusnya Hinata yang tanya, 'kan? Naruto tidak bilang sama sekali kalau akan sekolah.

"Eh? Benar juga ya. Belum lama ini aku ke sekolah buat menaruh perlengkapan yang baru kubeli," jawab Naruto.

'Bohong,' apanya yang belum lama ini? Naruto sudah ada di sekolah dari tadi. Kenapa Naruto tidak jujur saja? "Hinata sendiri? Dari pagi sampai malam disini?" Hinata mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Naruto. "Tidak lapar?" tanya Naruto lagi.

"Tidak, bawa bekal tadi." jawab Hinata. "Mumpung ke sekolah, sekalian saja kasih makan." lanjutnya.

"Besok kesini lagi?" kembali Naruto bertanya. Tapi untuk yang kali ini, Hinata bingung mau menjawabnya dengan jujur atau tidak. "Um..." kata-katanya tertahan.

"Kalau tidak mau jawab tidak apa. Sudah mau pulang?" Hinata mengangguk, "Ya sudah! Aku antar ya," Naruto menarik tas Hinata. "Biar aku yang bawa," ucapnya sambil menyengir.

"Terima kasih,"

"Ini tugasku, tidak usah bilang terima kasih. Perlu dikasih tahu berapa kali sih?" memangnya sudah dikasih tahu berapa kali ya? Hinata tidak dapat menghitungnya. Tapi, "Mana bisa begitu," itu tidak bisa dilakukannya. Sudah menjadi kewajiban mengatakan 'terima kasih' kalau ada yang membantunya.

"Oke-oke, ayo." sudah mengenal Hinata lama, Naruto jadi tahu sifat Hinata. Ya seperti itulah dirinya~

'Naruto itu sedang berusaha untuk tertawa ya?' Hinata jadi sedih sendiri melihat itu. Kenapa Naruto tidak menceritakan masalahnya pada Hinata?

Perjalanan terasa hampa karena tidak ada yang berbicara sama sekali.

'Mencurigakan, membuatku tambah penasaran saja.' inilah yang membuat Naruto diam. Naruto mempunyai firasat yang mengatakan, 'Hinata menyembunyikan suatu hal yang sangat besar'. Hanya saja Hinata tidak mau memberitahukan hal itu padanya.

Hinata melihat Naruto takut-takut, 'Apa yang dipikirkan Naruto? Firasatku mengatakan, Naruto mulai curiga dengan semua ini. Apa sebaiknya aku kasih tahu yang sebenarnya?' batin Hinata.

Yah~ Sesuatu yang disembunyikan, lama-lama pasti akan ketahuan. Tidak bisa menyembunyikan sebuah rahasia lama-lama, karena akan terbongkar juga. Kira-kira, besok akan terjadi hal apa ya? Hari ke lima pun berakhir dengan rasa penasaran.

Apakah Hinata akan menjadi embun selamanya? Berhaga bagi Naruto seperti batu permata. Tapi, embun itu tidak dapat bertahan lama, 'kan? Akan menghilang seiring berjalannya waktu. Kalau begitu, bisa saja sosok Hinata yang menjadi embun itu akan menghilang.

'Aku, apa selamanya akan dianggap embun oleh Naruto?'

::

::

To Be Continue ◐

::

::

Hohoho~ Chapter "E" ini pun telah selesai. Chapter ini tidak terlalu banyak membahas tentang embun, hanya dibahas lewat-lewat saja. Tapi seperti inilah hasilnya~ Bagaimana menurut pembaca semua? Berikan pendapatnya ya. Terima kasih sudah membaca chapter ini sampai selesai. Berikutnya adalah chapter "F", ada yang bisa menebaknya? Aku tidak memberikan ciri-ciri khususnya sih, tapi sedikit mirip lah. #jduk

Oke! Sekian dariku.

Thanks To :

Kibaa Inuzukaa, Soputan, ryansaputra014, sincozaa, Kagami Yoshida, , burritown.