Chapter "G" update! Terima kasih sudah membaca dan memberikan review pada chapter sebelumnya. Di chapter "G" ini kelas Hinata akan jalan ke tengah Gunung, hanya 1/3 cerita sih. Mudah-mudahan para pembaca sekalian menyukainya. Sekarang diriku akan membalas review kalian~

Kagami Yoshida : Oh, aku juga kurang memperhatikannya sih #jduk. Selamat membaca~

Guest : Ini sudah, selamat membaca.

ryansaputra014 : Iya~ Haha, itu tentu saja. Selamat membaca~

bala-san dewa hikikomori : Haha, iya nih. Selamat membaca~

anna. fitry : Iya, kalau penasaran silakan dibaca.

Kibaa Inuzukaa : Iya, memang seperti itu. Aku sependapat denganmu. Selamat membaca~

Ok! Sekian dariku, selamat membaca.

::

::

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

26 Days : Koi of Love © Hikaru-Ryuu Hitachiin

::

Pairing: Hinata Hyuuga & Naruto Uzumaki

::

Genre: Romance

::

Warning: Silahkan dibaca dan lihatlah kesalahan-kesalahan yang kapan saja bisa terjadi di fic ini. Yang pastinya Hinata agak sedikit OOC, itu menurutku.

::

Rated: T

::

~ Happy Reading ~

::

::

::

Sekolah kami yang berada di kaki gunung, membuatnya menjadi sekolah yang sejuk. Hari-hari menarik banyak terjadi ketika belajar di luar kelas dan luar sekolah. Gunung itu pun aman, tidak ada hewan buas yang berkeliaran. Sekolah kami berbeda dari sekolah kebanyakan.

Jalan-jalan menaiki gunung hari ini, akankah membuatku dan Naruto menjadi semakin dekat?

::

::

26 Days : Koi of Love ◐

::

::

"Untuk olahraga pagi ini, kita akan jalan-jalan pagi. Kelas kalian yang mendapatkan jatah kali ini, jadi kita akan menaiki gunung. Cukup sampai setengah gunung saja, jaraknya kira-kira dua kilo meter meter. Tidak terlalu jauh, 'kan? Jadi jangan lupa siapkan minuman dan makanan yang secukupnya. Ibu ke ruang guru sebentar,"

Semuanya menjadi ramai karena pengumuman dari guru olahraga itu. Guru olahraga sekolah mereka berbeda dari guru olahraga kebanyakan, karena dia berjenis kelamin perempuan. Namanya Anko, dia memutuskan untuk jalan-jalan pagi di gunung hari ini.

"Jalan-jalan ya? Merepotkan,"

"Apanya yang tidak terlalu jauh? Dua kilo meter kalau jalan kaki 'kan jauh!"

"Gimana dong? Aku tidak bawa bekal. Harus beli deh,"

"Asyik ya! Kak Anko memang hebat!"

"Harus siap-siap tenaga nih~"

Banyak komentar yang dikeluarkan anak-anak sekelas Hinata. Komentar yang baik dan juga kurang baik. Tapi kebanyakan murid perempuanlah yang mengoceh, tapi itu tipe yang tidak suka olahraga. Kalau para laki-laki, malahan sangat senang. Jalan-jalan kali ini cukup satu kelas saja, dan sekarang giliran kelas Hinata. Seminggu yang lalu, kelas sebelah yang jalan-jalan. Mereka akan jalan dan pulang sesuai dengan jam pelajaran. Tapi kalau misalkan waktunya lewat, sebelumnya Anko sudah bilang ke guru pelajaran yang berikutnya. Jadi aman-aman saja~ Tadi Anko mau ke ruang guru sebentar karena mau minta izin terlebih dahulu.

Selain itu, banyak yang memanggil Anko dengan panggilan 'Kak'. Padahal Anko adalah seorang guru, ia maunya dipanggil 'Bu guru', bukan 'Kak guru'. Tapi entah kenapa, anak zaman sekarang susah sekali buat dibilangin.

Ino mendengar komentar teman-teman kelasnya, tapi ia mengabaikan anak-anak yang tidak suka dengan kegiatan ini. "Sepertinya hari ini bakalan seru," ucapnya kemudian, dirinya sangat suka pelajaran di luar kelas, apalagi di luar sekolah. Ia melihat Hinata yang sepertinya sudah selesai menyiapkan persediaan makan dan minuman yang diletakan didalam tas kecil.

"Iya, untung sekolah kita berada di kaki gunung ya." Hinata juga suka sekali dengan kegiatan di luar kelas. Apalagi jalan pagi seperti ini, pasti akan sangat menyenangkan. Sudah gitu menyehatkan! Ini adalah awal untuk menyegarkan otak yang nantinya akan lelah karena pelajaran.

"Tapi bahaya kalau ada binatang buas. Haha," sudah tahu Ino menyebutkan hal yang tidak enak seperti itu, tapi malah tertawa. Memang bahaya sih kalau sampai ada binatang buas benaran. Tapi 'kan, "Disini mana ada binatang buas," seru Hinata kemudian.

Tempat tinggal mereka memang terkenal dengan kondisi alam yang terjaga dan aman. Banyak hutan, gunung, dan perbukitan. Tapi tidak ada binatang buas yang berkeliaran disana. Ada beberapa orang dari luar yang datang untuk berekreasi. Seperti panjat gunung, kemping, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Sudah lama para rakyat tinggal disana, belum ada kasus orang meninggal karena diterkam hewan buas. Jadi sudah ditetapkan, aman.

"Kau benar Hinata, dari zaman nenek moyang sampai sekarang juga, tidak ada yang pernah melihat hewan buas." padahal dari dulu Ino selalu membayangkan, dirinya jalan-jalan pagi dengan anjing besar alias hewan-hewan buas bertubuh besar. Seperti singa, macan, serigala dan sejenisnya. Oleh karena bayangan itu, ia sangat mau memelihara hewan buas. Jenisnya saja yang buas, tapi sifatnya jinak. Coba kalau ketemu bayi hewan buas, pasti sudah Ino ambil dan dirawat. Misalkan kalau ketemu serigala atau singa, Ino akan bilang bahwa ia hanya memelihara anjing besar.

Mengalihkan pembicaraan, sebenarnya Hinata kurang suka membicarakan hal yang berbahaya seperti itu. Kalau dibicarakan, takutnya nanti malah muncul benaran. Seperti singa yang lepas dari penangkaran gitu?

"Bawa bekal?" tanya Hinata. Karena ia tidak melihat Ino yang membawa apapun, tangannya kosong. Padahal sebentar lagi adalah waktu yang sudah ditentukan untuk memulai perjalanan.

"Iya," Ino langsung berlari menuju mejanya, membuka tas dan mengeluarkan bekal yang dibawanya. Bekal tersebut dibawanya menggunakan tas berukuran kecil, tidak berbeda jauh dengan Hinata.

Hanya untuk iseng saja, Ino menengok tas kecil Hinata. "Jatah bekalnya dua?" yang dilihatnya adalah dua buah kotak bekal yang tersusun dengan rapi. Ada dua botol minum juga disana, terisi penuh dengan air putih. Hinata tidak berniat memakan dan meminum keduanya, 'kan? Pikir Ino dalam hatinya.

"Iya,"

Ino berpikir seketika. Untuk apa orang seperti Hinata membawa jatah dua bekal? Perut Hinata tidak mungkin sanggup menghabiskan makanan yang begitu banyak. Bisa-bisa malah dibuang dan sayang nantinya.

"Hinata!" panggilan itu menghentikan pemikiran Ino. Ino yang awalnya berpikir, kini melihat sosok berkulit tan itu mendekat. Bukan mendekat padanya sih, tapi pada Hinata. Itulah tujuannya~

Kalau Hinata sih, tadinya fokus pada Ino. Ia penasaran kenapa tiba-tiba Ino berpikir seperti itu. Tapi sekarang wajahnya bersemu karena melihat sosok Naruto yang bercahaya karena pantulan matahari pagi.

"Aku tidak membawa bekal nih. Gimana dong? Padahal ada hal yang menarik begini, sayang juga kalau uangnya buat beli makanan." ternyata ini tujuan Naruto sebenarnya. Ia menemui Hinata untuk makanan! Siapa tahu Hinata akan memberikannya makanan, 'kan? Tapi kalau alasannya hanya makanan saja, menyedihkan juga sih.

"Kalau itu Naruto tenang saja, tadi aku masaknya kelebihan. Ini jatah untuk Naruto," dikeluarkannya satu kotak bekal dari dalam tas, dan diberikannya pada Naruto.

"Wah? Makasih ya. Tapi Hinata saja yang bawa, kita makannya bareng-bareng nanti." setelah mengucapkan itu, Naruto berniat untuk pergi. Tapi ditahan Ino dengan cara memegang pundak Naruto.

Dicengkramnya kuat pundak itu, "Kamu datang kesini cuma buat makanan ya?" tanya Ino kesal. Terlihat dahinya berkerut saat itu, ia benar-benar tidak suka dengan perbuatan Naruto yang satu ini.

"Tidak juga, aku juga mau mengecek keadaan Hinata kok." jawab Naruto dengan cengiran khas-nya. Ino melonggarkan cengkramannya, inilah kesempatan buat kabur bagi Naruto.

Dengan raut wajah yang gembira, "Sudah dulu ya!" ia langsung kabur setelah mengucapkan itu. Wajah gembiranya terpancar karena Naruto sudah disiapkan makanan oleh Hinata. Kalau Hinata, senang karena ia akan makan bareng dengan Naruto dan Ino.

Ino melihat Hinata dengan seksama, diperhatikannya Hinata lekat-lekat. Hinata yang dilihat seperti itu pun jadi merasa risih sendiri. "Itu memang kelebihan, atau memang sengaja membuatkannya?" Ino itu, memang pandai menebak ya. Insting perasaan perempuannya memang tajam, dapat membaca apa yang dilakukan Hinata.

"Hmm... Dua-duanya sih,"

~ VII ~

˚°◦ ◦°˚ ◐ 7th Day ◐ ˚°◦ ◦°˚

~ VII ~

"Sudah siap semuanya?!" tanya Anko memulai persiapan. Pertama, ia akan bertanya pada murid-murid apakah sudah siap atau belum.

"Siap!"

Mendapatkan jawaban yang baik, Anko kembali ke pertanyaan berikutnya. Kedua, dia akan mengecek setiap alat-alat yang dibawa oleh anak-anak.

"Tidak ada yang aneh-aneh jadinya ya?" Anko mengangguk-angguk melihat semuanya tidak membawa hal yang aneh.

Ketiga, absen. "Kita absen dulu ya," dan dimulailah pengabsenan murid-murid kelas. Setelah dipanggil dan mengangkat tangan, semuanya hadir, jadi sisa langkah terakhir. "Kalau begitu, kita langsung berangkat." semua murid langsung berseru kegirangan karena akhirnya perjalanan dimulai juga.

Baru saja Anko berjalan lima langkah, ia begitu tidak enak melihat apa yang ada dibelakangnya. "Tunggu dulu! Kenapa berantakan gini?" Ia melihat murid-muridnya tidak teratur. Segerombolan penuh menghalangi jalan, memenuhi jalan, dan mengganggu perjalanan.

"Terus gimana dong?" tanya salah satu murid.

"Jalan dua orang-dua orang," jawab Anko mengangkat satu jarinya, itulah tanda untuk langsung melaksanakan apa yang disuruh oleh Anko.

"Yah~" tapi anak-anak malah mengeluh, sudah gitu tidak melakukan apa yang dilakukan Anko. Sudahlah, Anko sedikit kesal dan akhirnya marah.

"Jangan mengeluh! Buruan baris!" mendengar Anko yang berteriak dengan nada marah seperti itu, semuanya langsung berbaris dengan rapi.

"Siap!" apalagi tadi Anko menunjukkan mata yang menakutkan.

Semuanya sudah rapi berbaris, jadi mereka langsung jalan. Barisan paling depan sudah pasti Anko, disusul dengan Ino dan Hinata. Entah kenapa, Hinata dan Ino mau jadi orang pertama yang berhasil setelah Anko.

"Kak Anko!" Ino memanggil Anko dengan semangatnya. Sedangkan Anko sedang berusaha menahan kesabarannya untuk tidak marah pada Ino.

Anko menghela nafasnya, menenangkan diri. "Bu Anko," katanya mengoreksi panggilan Ino. Ini sudah yang keberapa kalinya ya? Mungkin sudah lebih dari lima puluh kali Anko mengoreksi panggilan itu.

"Iya-iya," dengan malasnya, Ino membalas kata-kata Anko tadi. Tapi ia tidak punya niat untuk mengubah panggilan tersebut. Jadi percuma saja Anko melakukan pengoreksian~

"Kenapa manggil?" tanya Anko. Untuk apa Ino memanggil? Apa tujuannya? Kalau tidak ada tujuan sama sekali, lebih baik diam saja.

"Sepertinya bakalan lama sampainya," ini benar-benar membuat Anko kesal. Kalau hanya untuk mengeluh, lebih baik tidak perlu memanggil.

"Itu sudah pasti," balas Anko kesal, tapi tidak ditunjukkannya kekesalan itu. Yang harus dilakukannya hanyalah jalan, dan memimpin gerombolan anak muridnya dengan selamat.

Sedangkan dibagian belakang~

Naruto bingung melihat guru bermasker itu, sedang jalan dibelakangnya sambil membaca buku. "Kenapa guru Kakashi ada disini?" tanya Naruto penasaran.

"Hmm?" gara-gara Kakashi terlalu fokus membaca, ia jadi kurang menangkap apa yang ditanyakan Naruto.

Kesal sih ada, tapi Naruto harus bersabar. Ingat, dia guru. "Jangan baca terus dong," komentar Naruto. Harusnya Kakashi sebagai guru tahu hal seperti itu tidak baik. Ini malah murid yang menasihati gurunya.

"Iya," Kakashi menutup bukunya, dimasukannya buku itu ke dalam tas kecil. Kemudian melihat Naruto yang memasang wajah malas. "Alasannya?" tanya Naruto kembali.

"Karena pelajaran berikutnya aku, dan karena pasti tidak akan sempat kembali sebelum pelajaranku, jadi aku ikut saja. Daripada bosen," inilah guru yang tidak benar, jangan ditiru. Masa guru malah jalan-jalan? Bukannya periksa tugas yang dikumpulkan.

Bosan melihat Naruto, Kakashi memutuskan untuk melanjutkan acara membacanya. "Sudah, jangan ganggu. Jalan yang benar sana," keluh Kakashi, ia mengambil bukunya kembali dan kembali membaca buku yang sempat terhenti itu.

'Sendirinya jalan tidak benar, masa jalan sambil baca buku?'

Akhirnya sampai juga mereka di tempat tujuan, benar-benar lama jalannya. Dua jam, mereka baru sampai. Benar dugaan Anko, hanya menggunakan jam pelajarannya saja tidak cukup. Tapi karena sudah sampai di tempat, waktunya membuang kelelahan!

"Oke! Silakan minum dan makan secukupnya, sepuluh menit ya. Setelah itu kalian bebas selama satu jam," pemberitahuan ini membuat murid-murid bersorak-sorai lega. Akhirnya! Jatah makan muncul juga.

"Masakannya Hinata memang selalu enak ya," dengan lahapnya Naruto memakan bekal buatan Hinata. Rasa lelahnya langsung menghilang karena perutnya telah diisi dengan makanan enak.

Hinata hanya diam karena mendapatkan pujian itu, dirinya terlalu senang. Bisa jadi calon istri yang baik nih!

Ino memperhatikan Naruto lekat-lekat, 'Dia senang saat memakan masakan Hinata.' Kemudian melihat Hinata, 'Hinata juga.' sambil menyantap bekalnya. Mie panjang itu menggantung di mulut Ino, tidak dikunyah sama sekali olehnya. Pikirannya berkata lain, jadi ia tidak mengunyah mie tersebut.

"Kok menggantung?" tanya Hinata melihat Ino saat ia sudah selesai menenangkan hatinya.

Ino mengunyah mie yang menggantung di mulutnya dan menelannya."Bukan apa-apa kok," jawab Ino setelah ia berhasil menelan mie yang ditelantarkannya tadi. Hinata kembali melanjutkan makannya, begitu juga dengan yang lainnya.

'Hinata, sudah tahu saat ini posisinya berada di tengah-tengah. Tapi masih saja bisa tersenyum seperti itu. Naruto juga! Kenapa sih? Tidak pernah menyadari perasaan Hinata yang tulus dan murni seputih salju itu?! Selalu abadi, tidak pernah hilang. Huft!' Ino malah ngomel-ngomel didalam hatinya.

Selesai makan, semuanya langsung bersenang-senang selama satu jam. Foto-foto, bermain-main, dan bekerja. Semua hal menyenangkan dilakukan disana~

"Hinata! Hinata! Lihat! Ada burung biru!" seru Ino kegirangan. Langsung saja Ino mengambil ponselnya dan memotret burung itu. Tapi sayangnya, burungnya sudah kabur sebelum terpotret. Ino pundung disamping pohon, Hinata tertawa melihatnya.

"Hinata! Ayo kita foto berdua!" Naruto menarik tangan Hinata untuk mengambil foto mereka berdua. Potretan pertama, Hinata terlalu kaku, jadinya Naruto meminta ulang. Terus-terusan sampai ia mendapatkan foto yang diinginkannya.

Satu jam berlalu, semuanya sudah siap-siap untuk kembali. Sayang sekali waktunya hanya satu jam, coba kalau lebih. Jalannya empat jam ditambah sama jalan pulang, senang-senangnya hanya satu jam. Ini memang tidak adil!

Tiga tahap itu kembali dilakukan oleh Anko. Bertanya, memeriksa, dan mengabsen. Tidak ada yang kurang, langkah itu pun membawa semuanya menuju sekolah.

Kali ini cukup satu setengah jam saja mereka turun. Naik lama, tapi turunya terasa cepat. Entah kenapa sering sekali terjadi hal seperti itu. Hinata yang sudah menginjak sekolah, langsung berlari menuju kolam ikan. Ini sudah lewat dari jam yang biasanya! Jadinya Hinata buru-buru.

Sampai di kolam ikan, ia melihat koi putih yang selalu saja berenang kesana-kemari. Selalu saja melakukan itu, Hinata yang melihatnya setiap hari jadi merasa bosan. Tapi memang inilah yang harus dilakukannya~

"Maaf ya, kali ini lebih lama dari yang biasanya."

~ VII ~

˚°◦ ◦°˚ ◐ Gunung ◐ ˚°◦ ◦°˚

~ VII ~

"Mungkin ini pertanyaan yang aneh, tapi ada gak ya, yang pernah sampai puncak gunung ini." Naruto melihat ke atas, penasaran dengan apa yang berada di puncak sana.

Hinata jadi heran sendiri, "Kenapa Naruto bertanya seperti itu?" tanya Hinata. Padahal Naruto tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Apa karena Naruto yang sudah bertumbuh jadi lebih dewasa ya?

"Yah~ Aku penasaran saja sih. Tapi kalau pendaki, mungkin pernah mencapai puncak. Gunung ini memang tinggi, tapi aman. Aku jadi mau melihat, seperti apa puncak gunung ini." Naruto penasaran, ia hanya pernah mencapai tengah gunung saja. Itu juga kalau ada kegiatan sekolah saja, tidak pernah tuh yang namanya mendaki sesuai keinginan sendiri.

"Benar juga ya. Sudah belasan tahun tinggal disini, tapi ke puncak gunung ini saja belum pernah." Hinata juga berpikir yang sama. Ia baru tahu, kalau dirinya tidak pernah ke puncak sama sekali. Padahal sudah belasan tahun lho! Masa belum pernah sama sekali.

"Nah! Itu dia. Selama kita hidup, kita malah belum melakukan hal yang lebih seru." seru Naruto. Hal yang seru itu, adalah hal yang belum pernah dilakukan.

"Mungkin kalau liburan, aku akan mengajak kak Neji untuk mendaki bersamaku." pikir Hinata. Mungkin asyik juga mendaki bareng kakak laki-lakinya. Kalau ajak Hanabi, belum cukup umur. Kalau Hiashi, pasti tidak bisa karena sibuk.

"Ide bagus! Tapi ajak aku saja, jangan si Neji." Naruto malah protes dengan sebagian ide Hinata. Lebih baik ajak saja yang mau, daripada ajak keluarga yang belum tentu menginginkannya.

"Kenapa begitu?" kalau pemikiran Hinata sih, dua-duanya boleh ikut. Tambah banyak orang malah tambah seru. Tapi kenapa Naruto tidak menginginkan Neji ikut serta juga?

"Tahu 'kan sikap dia ke aku bagaimana?" ternyata inilah alasan Naruto yang membuatnya malas mengajak Neji.

Hinata tertawa, "itu memang sifatnya kok," balas Hinata. Siapa yang tidak tahu Neji? Wajahnya memang selalu seperti itu. Jadi tidak perlu dipikirkan, tapi masih saja Naruto memikirkannya.

Keheningan melanda mereka seketika, tapi Naruto yang melihat Hinata jadi mau memujinya. "Kamu hebat ya Hinata," sebuah pujian yang membuat Hinata bingung. Hebat apanya coba?

"Apanya?"

"Padahal tadi sudah melakukan perjalanan panjang, dan pastinya itu melelahkan, tapi tetap saja kamu melalukan ini. Setiap hari pulang malam, itu karena kebaikan hatimu. Memberi makan ikan, melihatnya agar memastikan ikan itu makan. Tidak peduli dengan kondisi dan keadaan, kamu tetap melakukan apa yang kamu inginkan." pujian-pujian ini membuat Hinata sedikit tersentuh.

"Itu.. Sebenarnya..." karena ada sebuah alasan yang membuat Hinata melakukan hal ini. Karena ia mau menemukan kebahagiaannya~

"Yah~ Walau aku sedikit penasaran dengan apa yang sebenernya terjadi. Tapi, inilah kamu. Dirimu yang seperti inilah yang kusukai, walau kadang buat kesal juga. Bikin orang khawatir lah, apalah." bagian buruknya juga ada, tapi tetap saja tidak ada yang tidak bisa memaafkannya. "Satu lagi, karena kebaikan hatimu inilah, makanya semua orang menyayangimu." banyak yang menyayangi Hinata, cukup membuat Naruto iri. Tapi, Naruto juga sayang pada Hinata. Jadi apa masalahnya?

"Tidak begitu juga," dapat pujian seperti itu dari orang yang disukainya, benar-benar membuat bahagia. Pipi Hinata jadi bersemu merah hanya karena ucapan Naruto.

"Haha, sedangkan aku. Yah~ Benar-benar berbeda,"

Naruto tertawa? Saat mengucapkan itu?

"Tidak! Bukan seperti itu." Hinata mengelak apa yang dibilang Naruto tadi. Tentang diri Naruto yang benar-benar berbeda dengan Hinata. Memang secara fisik berbeda, Naruto laki-laki dan Hinata perempuan. Tapi mereka memiliki kesamaan, kelebihan yang berbeda itulah kesamaannya.

"Maksudmu?"

"Aku tidak tahu orang menganggap Naruto itu sama sepertiku atau tidak. Tapi Naruto itu benar-benar seperti mentari, maksudku matahari! Semua orang jadi ikut-ikutan bahagia karena berada didekat Naruto. Cahaya dan kehangatan yang Naruto berikan membuat semuanya merasa nyaman. Termaksud aku," Naruto tersentuh mendengar itu. Baru kali ini ada yang memujinya secara berlebihan seperti itu. Apalagi disamakan dengan matahari, sumber kehidupan manusia.

"Haha, kau ini. Ok! Ok! Terima kasih atas pujian yang berlebihan itu." Naruto pun bersemangat kembali, pujian Hinata benar-benar telah membuatnya pulih.

Naruto berpikir, sepertinya sudah waktunya Naruto memberitahukan hal ini pada Hinata. Tentang perasaannya, tentang rasa sukanya pada seorang gadis. Rasa bahagia saat melihatnya senyum, rasa sedih saat melihatnya menangis. Warna-warna yang dilalui, menyisakan banyak kenangan.

"Hinata~ Sebenarnya aku lagi menyukai seseorang,"

DEG! Hinata tahu rasa ini, rasa sakit karena sudah mengetahui sebuah fakta. Pasti karena Naruto membicarakan orang yang lagi disukainya.

"Um.. Aku tahu," dengan berat hati, Hinata mengatakannya. Memalingkan wajahnya, tidak berani melihat Naruto dengan pandangannya yang seperti itu.

"Tahu? Dari mana?!" Naruto malah panik sendiri mendengar ucapan Hinata. Tidak mengetahui, apalagi memikirkan perasaan Hinata sekarang.

"Haruno Sakura ya?"

"Wakh! Hinata? Kenapa bisa!?" Naruto memegang pundak Hinata. Mau tidak mau Hinata harus melihat wajah Naruto. "Pokoknya, jangan kasih tahu siapa-siapa. Apalagi si kuda poni cerewet itu," Naruto benar-benar tidak menyadarinya. Malah asyik dengan dunia paniknya sendiri.

Naruto itu tidak tahu, kalau Hinata sangat terluka.

"Iya, Naruto tenang saja." Naruto jadi tenang, ia melepas genggamannya pada pundak Hinata. Ia kembali santai~ Kalau Hinata? Ia terpuruk, sakit yang dirasakannya ini benar-benar nyata.

"Kalau Hinata sendiri? Juga suka seseorang, 'kan? Aku penasaran," dan inilah yang lebih tidak disukai Hinata. Orang yang disukainya, menanyakan hal seperti itu pada dirinya.

Hinata mengangguk, "Siapa?" tanya Naruto. Siapa yang disukai Hinata? Karena Naruto sudah kasih tahu, sekarang giliran Hinata. Biar adil~

"Tidak akan kukasih tahu," jawab Hinata. Mana mungkin Hinata bilang kalau yang disukainya itu ada didepan matanya sendiri, 'kan? Kalau dibilang sekarang juga, itu akan membuat Naruto tidak enak hati. Karena Naruto akan menyadari, bahwa ia telah berbicara hal yang menyakitkan bagi teman masa kecilnya itu.

"Huh! Pelit nih. Kalau begitu, kasih tahu kalau sudah siap mental ya." lagian Naruto juga tidak ambil pusing. Ia juga tidak mau mengorek masalah pribadi milik orang lain.

Hinata mulai tenang disini, untungnya sifat kekanakan Naruto tidak keluar. Yah~ Untuk saat ini masih aman. Perasaan Hinata, sebaiknya ditahan terlebih dahulu. Perasaan sakit ini, biar Hinata yang merasakannya dulu. Ini baru awal lho~

"Oh ya, perasaanku padanya mungkin setinggi gunung itu. Yah~ Tinggi juga. Perasaan ini, akan terbalas tidak ya?"

Hinata terdiam. Kalau untuk jawaban pertanyaan Naruto, Hinata menginginkan jawaban 'tidak'. Mungkin Hinata sedikit naif, menginginkan kebahagiaan dibalik penderitaan orang lain. Tapi, untuk saat ini saja. Biarlah dirinya sendiri yang menyimpan perasaannya.

'Naruto~ Perasaanku padamu, lebih tinggi dari gunung lho.'

::

::

To Be Continue ◐

::

::

Woaaah~ Chapter "G" ini pun akhirnya selesai. Di chapter ini memang Naruto masih menyukai Sakura. Tapi tenang saja, di chapter "L" perasaan Naruto akan segera beralih pada Hinata. Mudah-mudahan para pembaca sekalian tetap setia menanti lanjutan fic ini ya. Oh ya, bagaimana dengan chapter ini? Mohon maaf apabila sangat banyak kesalahan didalamnya. Terima kasih sudah mau membaca fic ini sampai sini. Berikan pendapat kalian melalui kotak review ya.

Thanks To :

Kagami Yoshida, Guest, ryansaputra014, bala-san dewa hikikomori, anna. fitry, Kibaa Inuzukaa dan pembaca sekalian.

Jaa~

Sampai bertemu di chapter "H"!

V

V

V