Chapter "J" update~! Terima kasih sudah menunggu fic ini, dan terima kasih sudah membaca dan memberikan review pada chapter sebelumnya. Maaf kalau diriku lama meng-update fic ini, itu terjadi karena banyak kejadian di duta yang membuatku tidak sempat melakukannya. Semoga kalian semua menyukai chapter ini, dan sekarang sesinya pembalasan review.
Crow : Arigatou~ Iya, ini udah lanjut. Maaf kalau lama, selamat membaca.
Haruta Hajime : Haha~ Itu bisa terjadi kapan saja. Ha? Ada yang begitu ya? Aku tidak sadar. Iya, itu benar sekali. Haha~ Ini sudah, selamat membaca.
Firebolt2030 : Haha~ Sayangnya bukan itu. Fic ini tamat di chapter "Z", mudah-mudahan tidak membosankan. Selamat membaca~
DrunKenMist99 : ini sudah lanjut, selamat membaca.
bala-san dewa hikikomori : Haha, memang mungkin seperti itu. Iya, sebenarnya aku juga tidak mau selalu begitu. Tapi aku bingung, untuk membuatnya bagaimana. Tebakannaya salah semua, dan chapter "J" adalah "Jujur". Selamat membaca~
: Ini sudah di lanjut, tentu. Iya, selamat membaca.
::
::
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto-sensei
26 Days : Koi of Love © Hikaru-Ryuu Hitachiin
::
Pairing: Hinata Hyuuga & Naruto Uzumaki
::
Genre: Romance
::
Warning: Silahkan dibaca dan lihatlah kesalahan-kesalahan yang kapan saja bisa terjadi di fic ini. Yang pastinya Hinata agak sedikit OOC, itu menurutku.
::
Rated: T
::
~ Happy Reading ~
::
::
::
Setelah kejadian kemarin, aku jadi berpikir. Apakah aku harus jujur? Apakah sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengatakannya pada Naruto? Tentang mitos sepasang koi itu. Kalau aku berkata jujur, apakah Naruto akan marah? Atau malah sebaliknya?
Kalau aku jujur sekarang, apakah semuanya akan baik-baik saja?
::
::
◐ 26 Days : Koi of Love ◐
::
::
"Ano... Ino," panggilan Hinata sedikit membuyarkan fokus Ino. Ino memandang sebentar Hinata dan kembali melanjutkan gerakan lihai tangannya.
Saat ini mereka sedang dalam pelajaran kesenian, dan tugasnya adalah menggambar wajah teman. "Hmm?" tanya Ino tidak menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengarsir sketsa rambut Hinata.
"Aku berpikir, bagaimana kalau aku jujur saja pada Naruto." Hinata menundukkan kepalanya, ia tidak dapat menggambar dengan bagus karena banyak pemikiran di otaknya.
Yang tadinya terus melanjutkan gambar, kini Ino terhenti mendengarnya. "Jujur apa?" tanyanya kebingungan. Untuk saat ini, mungkin ada hal serius yang mau diceritakan oleh Hinata. Pakai jujur-jujur segala~
Tidak dapat jawaban dari Hinata, Ino malah seenaknya menyimpulkan sendiri. "Menyatakan perasaan ya!?" serunya semangat. Sudah tahu 'kan kalau suara Ino saat bersemangat itu sebesar apa? Yah~ Semua murid didalam kelas mendengarnya. Kelas yang tadinya heboh, kini terdiam karena teriakan Ino.
"Maaf," setelah Ino meminta maaf, semua murid langsung kembali melanjutkan tugasnya. Untungnya murid kelas mereka tidak terlalu pedulian, walau mungkin banyak yang penasaran.
Yah~ Bukan hanya anak kelas saja, Hinata juga sempat syok ditempat. Ia jadi diam seribu bahasa, tidak dapat bicara sama sekali. Untungnya yang mendengar tidak peduli, jadi Hinata dapat menarik nafas dengan lega setelahnya. "Jangan keras-keras dong," ucap Hinata secara perlahan pada Ino.
"Maaf," untuk yang kedua kalinya Ino meminta maaf. Tapi memang ia harus minta maaf, masalah menyatakan perasaan itu adalah hal yang pribadi.
"Lihat tuh Naruto, jadi penasaran." seru Hinata, takut-takutnya Naruto nanti malah bertanya hal menyatakan perasaan itu.
Ino melihat ke arah Naruto, dilihatnya wajah Naruto yang memang penasaran. "Tapi memangnya kenapa? 'Kan tidak enak menyembunyikan perasaan terus." ucapnya dan melihat ke Hinata kembali.
"Bukan itu," Hinata menggeleng.
"Lalu?"
"Tentang mitos sepasang koi tersebut." jawab Hinata. Ternyata Ino memang salah pemahaman, tapi kalau memang jujur tentang perasaan, pasti akan lebih seru.
"Hmm~ Itu sih terserah padamu saja," balas Ino. Kalau mau jujur atau tidak, itu sih terserah pada orangnya saja. Sebenarnya kita sebagai pihak ketiga, hanya bisa memberikan nasihat, semangat, dan dukungan.
"Begitu ya?"
"Aku hanya mau memberitahukannya nih. Kalau kau bicara jujur, pasti Naruto akan mengerti." sebenarnya ini juga salah Ino, karena memberitahukan tentang mitos itu. Tapi kalau mencoba peruntungan, tidak apa, 'kan? Sebenarnya Ino juga mau mencoba peruntungan yang diberitahukan oleh neneknya itu, tapi dirinya sudah punya pacar. Jadi tidak bisa dicoba deh~
Hinata bengong, jadinya Ino menganggap Hinata tidak mengerti. "Mengerti?" tanyanya. Hinata menggeleng, dan Ino menghela nafasnya. Untuk saat ini, masalah kejujuran yang tentang mitos saja dulu. "Pasti orang yang sedang jatuh cinta, malu untuk memberitahukan pada orang lain kalau dirinya sedang jatuh cinta. Begitu~" penjelas Ino kini lebih mudah dimengerti.
Karena ini mitos tentang peruntungan percintaan, pasti orang yang mencobanya adalah orang yang sedang jatuh cinta. Bahkan orang sebodoh Naruto pun, akan langsung tahu kalau Hinata sedang jatuh cinta, karena mencoba mitos tersebut, itu pemikiran Ino.
"Begitu ya?"
"Pasti Naruto juga begitu, makanya ia tidak pernah cerita tentang masalah rasa sukanya itu. Walau kelihatan jelas sekali kalau dirinya itu sedang jatuh cinta, sama sepertimu." jelas Ino panjang lebar, walau hanya dapat respon singkat dari sahabatnya ini.
"Begitu?"
"Iya, emangnya gimana lagi?"
"Terus, Ino yang kasih tahu kalau aku selalu pulang malam ya?" pertanyaan dari Hinata, membuat Ino terdiam.
Yang tadinya banyak bicara, kini hanya terdiam, tidak dapat berkata apa-apa selain pertanyaan singkat. "A-apa?" itu juga pertanyaan yang hurufnya paling sedikit.
"Kemarin Naruto menunjukkan sms-mu padaku," Ino syok di tempat. Jadi Naruto menunjukkan sms-nya?! 'Anak itu!' sungguh dalam hatinya Ino ingin marah sekali pada Naruto. Ini juga salahnya tidak memberitahukan pada Naruto kalau jangan kasih tunjuk sms-nya pada Hinata.
"Ah~ Yah~ Untuk perlindungan saja." tapi bagaimanapun ini harus dilakukan. Anak gadis semanis Hinata tidak boleh berkeliaran di sarang maut sendirian. Setidaknya harus ada yang menemani, walau hanya satu orang saja.
"Yah~ Sebenarnya aku mau berterima kasih. Karena hari jadi terasa lebih menyenangkan, walau banyak sekali duka yang datang. Tapi itu sudah cukup bagiku," dengan senyumannya, ia berterima kasih pada Ino. Oh Tuhan~ Betapa manisnya sahabatnya ini, pikir Ino kembali.
"Oh~ Ya bagus deh kalau begitu," untungnya semua berjalan lancar. 'Tapi aku 'kan baru sms dua kali, di hari pertama dan hari ke sembilan. Hari-hari lainnya kemana?' Ino berpikir, tanpa di sms juga, Naruto selalu menemani Hinata. Ini adalah kemajuan yang lumayan menurutnya.
"Tapi, haruskah aku jujur sekarang?" dan sekarang Hinata masih dibingungkan dengan hal tersebut. Jujur sekarang atau tidak ya? Sebenarnya Naruto sudah cukup lama penasaran dengan apa yang dilakukan Hinata. Sekitar semingguan lah~
"Kalau mau sekarang, boleh saja." kalau Ino sih, ya dukung-dukung saja untuk Hinata bicara jujur. Lagian repot juga kalau mereka bertengkar karena menutupi rahasia begitu mendalam. Padahal ikatan mereka lebih besar daripada sebuah rahasia, bisa-bisa nanti malah merenggang.
"Apa Naruto tak akan marah?" tanya Hinata. "Tadi 'kan udah dikasih tahu, dia tidak mungkin marah." ucap Ino sekali lagi, dan ini membuat Hinata lebih tenangan. "Yah~ Sisa mencari tempat dan waktu yang pas saja." Apa dengan ini, Ino bisa disebut sahabat yang baik? Pastinya dong~
Sebenarnya sih, dari tadi Naruto merasa sedang dibicarakan. Kupingnya bergerak-gerak sendiri, ada terasa hawa panasnya juga. Kalau boleh dikatakan, si Hinata mengucapkan nama Naruto itu, sampai pada telinganya. Walau yang lainnya tidak dapat mendengar, tapi pendengarannya jauh lebih bagus. Naruto benar-benar penasaran~ Mereka membicarakan apa tentang Naruto?
"Bagus deh. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan hasil gambarmu?" tanya Ino. Kini ia terfokus kembali untuk melanjutkan gambarnya. Tanggung sebentar lagi selesai~
"Ah~ Belum jadi seutuhnya." Hinata menutup gambarannya, yang dilihat oleh Ino hanyalah sisi kertas kosong.
"Kalau begitu lihat punyaku! Disini dirimu tampak berkilau, 'kan?" seru Ino puas dengan gambarnya sendiri.
"Iya~ Ino memang jago gambar." kalau dapat pujian seperti itu, tentu saja Ino jadi merasa senang. "Siapa dulu dong? Pacarku 'kan seorang pelukis! Jadi aku belajar darinya deh ilmu-ilmu yang penting dalam menggambar." tapi kesampingkan dulu rasa senang dan membanggakan pacar itu, "Wajahku bagaimana?" yang ia ingin tahu sekarang adalah tampak wajahnya pada gambar Hinata.
"Itu... Belum!" seruan Hinata malah membuat Ino makin penasaran. Senyuman licik terhias di sudut bibir Ino, "Aku penasaran! Tunjukkan padaku," langsung saja direbut gambar itu dari tangan Hinata.
Senyuman itu, memudar karena melihat gambar Hinata. Terlihat gambar dengan rambut yang lebat seperti kuda poni. "Ano... Hinata. Rambutku tidak seperti ini," ucapnya sambil menunjuk rambut yang sudah seperti sapu ijuk itu.
"Maaf, akan kuperbaiki." Hinata mengambil penghapus dan mulai memperbaikinya.
Ino hanya bisa menghela nafas melihat tingkah Hinata. Karena terlalu banyak pikiran, bahkan bisa berpengaruh pada gambar juga ya? "Yah~ Pokoknya kamu harus jujur hari ini ya." pokoknya dalam hal ini, hanya Ino lah yang dapat memberi semangat pada Hinata.
"Iya,"
~ X ~
˚°◦ ◦°˚ ◐ 10th Day ◐ ˚°◦ ◦°˚
~ X ~
"Aku mendengar pembicaraanmu saat pelajaran kesenian,"
DEG! Bulu kuduk Hinata berdiri. Bagaimana tidak berdiri? Naruto berkata itu tepat di sebelah telinganya dengan nada berbisik! Itu benar-benar terdengar... seksi!
Hinata yang tadi duduk di bangku taman sambil melamun kini melihat Naruto. Naruto melompati bangku taman dan duduk di sebelah Hinata, sambil menaruh tangannya di penyandar bangku.
"Bicarain apa sih memangnya?" tanya Naruto tersenyum yang penuh arti, mengharapkan akan diberitahukan oleh Hinata.
Memangnya siapa yang tidak penasaran kalau ada orang yang membicarakannya? Kalau bisa, kita tanyakan saja langsung pada si pembicara. Tapi kalau tidak bisa, secara paksa boleh tidak ya?
"Bukan masalah yang penting kok," jawab Hinata. Sebenarnya yang ia bicarakan dengan Ino adalah hal yang penting. Tapi tidak mungkin 'kan ia kasih tahu ke Naruto.
"Huft~ Hinata pelit nih," tidak bisa memaksa, Naruto hanya dapat kecewa. Ia tidak mau hubungannya dengan Hinata semakin memburuk karena hal begituan doang.
"Ok~ Baiklah. Aku juga tidak terlalu penasaran sih." untung saja hati Naruto lagi baik saat ini, kalau tidak pasti Naruto akan memaksanya. Kini matanya tertuju pada kotak bekal di sebelah Hinata, "Tidak dimakan?" tanyanya.
"Sebenatar lagi," jawaban Hinata, membuat Naruto beranggapan kalau Hinata tidak makan karena ada Naruto. Jadi, "Baiklah~ Kalau begitu aku ke kantin ya, mau beli makanan dulu." Naruto memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.
"Tunggu Naruto," baru saja Naruto berdiri dan bersiap-siap untuk melompati bangku taman itu kembali. Tapi Hinata malah memanggilnya, padahal ia sudah mempersiapkan ancang-ancang. "Kenapa?" tanyanya.
"Aku lumayan banyak bawa onigiri, kalau mau Naruto boleh mengambilnya." mata Naruto berbinar mendengarnya, "Woaah~ Benarkah?" tanyanya dan melompat duduk di sebelah Hinata kembali.
Hinata mengangguk, ia membuka kotak bekal berwarna ungu muda miliknya. Benar katanya, banyak onigiri disana. Tadi pagi Hinata membuatnya kebanyakan, jadinya ia bawa saja untuk dibagikan ke Naruto. Ia menyodorkan kotak bekal itu pada Naruto, dan Naruto mengambil satu onigiri. Langsung dilahapnya onigiri tersebut, "Makasih ya!" ucapnya setelah satu gigitan itu tertelan.
Onigiri itu habis dengan 3/4 porsi pada Naruto, dan 1/4 pada Hinata. Bisa dibilang, hampir semua onigiri Naruto yang habiskan. Setelah kenyang, Naruto langsung berdiri dan merenggangkan tubuhnya. Lalu ia mendekati kolam, ia heran karena tidak ada makanan di kolam itu.
"Ini sudah di kasih makan?" tanyanya ragu. Biasanya, Hinata memberi makan ikan dulu baru setelahnya dirinya makan. Tapi ini?
Hinata menggeleng, "Kalau gitu kasih makan dong," kata Naruto. Tumben-tumbenan sih memang, apa gara-gara ada Naruto ya? Tapi itu tidak mungkin.
"Iya," dikeluarkannya makanan ikan dari tas kecil Hinata, kemudian ia berjalan mendekati kolam. Membuka plastik dan menebar makanan ikan itu ke dekat koi putih.
Naruto yang melihatnya jadi mau ikutan. "Aku mau juga," Hinata memberi makanan ikan itu pada Naruto dan Naruto langsung menebarnya.
Sedang asyik menebar secara perlahan, Naruto jadi ingat dengan kata temannya tadi pagi. "Aku dengar sepasang koi ini ada mitosnya," ucapnya datar.
Hinata kaget, tambah lama Naruto tambah tahu apa misteri yang ada pada kolam ini. Awalnya sepasang koi yang tidak muncul bersamaan, sekarang mitos yang terdapat didalamnya.
"Aku tidak tahu mitos apa," cukup lega Hinata mendengar ini, ternyata Naruto tidak tahu mitos apa yang terdapat pada sepasang koi itu. "Tapi pasti mitos itu yang membuatmu datang kesini, 'kan?" apalagi tebakan Naruto yang tepat ini. Hinata jadi tidak dapat mengelaknya lagi, "Iya," balas Hinata.
Naruto melihat Hinata, "Sebelumnya aku minta maaf atas perbuatanku kemarin." jeda sementara. "Aku tidak akan mencaritahu mitos apa yang terdapat disini sampai kamu yang memberitahukannya. Jadi kalau sudah mau kasih tahu, beritahu saja ya." saat ini, Naruto mencoba untuk bersikap lebih dewasa.
Naruto tidak mau menjadi anak kecil terus yang dengan mudahnya merengek meminta apa yang diinginkannya. Kalau tidak diberikan, pasti akan menangis. Tapi itu bukan dirinya~ Jadi, sampai Hinata memberitahukannya, ia akan bersabar.
Teng~ Teng~ Bel masuk kembali berbunyi, waktunya kembali ke kelas karena waktu istirahat telah selesai.
"Sudah masuk, ayo kembali ke kelas." dengan perlahan, Naruto melangkahkan kakinya. Memang, kalau tidak ada masalah, mana bisa disebut kehidupan.
"Iya," dengan lesu Hinata berjalan, 'Sepertinya saat ini belum waktu yang pas, mungkin saat pulang saja.' padaha Hinata sudah siap untuk bicara jujur pada Naruto. Tapi belum juga ada waktu yang pas ya?
"Hei~ Jangan bengong," melihat Hinata yang benggong sambil berjalan, malah membuat Naruto khawatir. "Hei~ Nanti jatuh lho," peringatnya sekali lagi.
Untungnya peringatan yang kali ini masuk pada telinga Hinata, jadi Hinata memfokuskan jalannya kembali. "Iya," dan menyusul Naruto, berjalan di sebelahnya.
'Mungkin saat ini tidak bisa, tapi saat pulang nanti, pasti aku bisa bicara jujur padanya.'
~ X ~
˚°◦ ◦°˚ ◐ Jujur ◐ ˚°◦ ◦°˚
~ X ~
Teng~ Teng~ Teng~
Lagi-lagi waktu cepat berlalu, sekarang sudah waktunya untuk pulang saja. Disini, Ino malah bersemangat sekali membuat Hinata untuk jujur pada Naruto. Tentang mitos itu, dan tentang apa yang membuat Hinata selalu pulang malam. Kalau jujur tentang perasaan, mungkin itu urusan nanti.
"Pokoknya hari ini harus bisa ya!" serunya bersemangat. Ia menepuk kedua pundak Hinata, menyalurkan rasa semangat yang ada dalam dirinya. Untung-untungan, Hinata akan bersemangat juga.
Sebenarnya Ino mau menemani Hinata untuk berkata jujur, tapi tidak bisa. Karena sebentar lagi jatah keluar rumahnya sudah habis. Coba saja kalau jatah malamnya sampai jam delapan malam, ia pasti bisa menemani Hinata. Baik menemaninya setiap hari di kolam ikan koi, memberikan semangat, memberikan dukungan, kalau ada masalah, memberinya bantuan.
"Jangan menyerah ya," hanya dukungan ini yang dapat diberikannya pada Hinata. Coba kalau kedua orang tuanya mengerti, Ino ini bukan anak kecil lagi. Walaupun bukan anak kecil, tapi Ino tetaplah seorang gadis, jadi sama saja.
"Iya," untungnya ada Naruto yang selalu menemaninya, jadi ia tidak merasa takut kalau pulang malam-malam sendiri.
"Aku pulang dulu ya! Sampai bertemu besok," dan Ino pun menghilang dari pandangan Hinata.
Sekarang, waktunya Hinata untuk berjuang. Sebaiknya ia langsung menuju kolam itu, karena pasti koi hitam sudah keluar dari tempat peristirahatannya. Tinggal menunggu Naruto datang, dan jika sudah ada waktu yang pas, ia harus jujur.
'Hari ini Naruto ada latihan, untungnya aku bawa makanan lebih tadi.' batin Hinata. Pasti setiap Naruto ada latihan, Hinata selalu membuatkan bekal untuk Naruto. Tapi kali ini dia benar-benar lupa! Untuknya ada keberuntungan yang datang padanya, dengan cara jatah yang lebih.
Sesampainya di kolam, Hinata dikagetkan dengan keberadaan Naruto. Naruto datang lebih dulu daripada dirinya? Baru saja mau memanggil Naruto, Hinata malah terdiam karena pertanyaan Naruto pada koi hitam itu.
"Kalau diibaratkan, kau itu bagaikan Hinata. Pasti Hinata sering cerita padamu, 'kan? Apa sebenarnya yang terjadi ya? Kenapa dia menutupinya dan tidak berkata jujur padaku? Tentang mitos yang terdapat pada kalian berdua." Naruto memainkan jarinya di air kolam itu. Mungkin memang baunya amis, tapi itu tidak dipedulikan oleh Naruto.
"Aku bicara apa sih? Masa ngomong sama ikan? Ya mana mungkin dijawablah!" seru Naruto merasa seperti orang bodoh.
"Hihi~" mendengar suara ketawa itu, rutukan pada dirinya terhenti. Suara siapa itu? Jam segini memang sudah waktunya hantu keluar sih, tapi masa terdengar oleh pendengarannya?! Seru Naruto dalam hati.
"Siapa itu?" tanya Naruto was-was, takutnya malah hantu benaran. Kalau hantu baik yang cuma mau lewat sih, silakan saja. Tapi kalau hantu jahat yang mau merasuki tubuhnya bagaimana?!
"Aku, Hinata." kata Hinata dan mendekati Naruto. Tadi benar-benar kejadian yang membuat Naruto sempat ketakutan. Bahkan hawa Hinata yang biasanya terasa jadi tidak terasa seperti itu.
"Kau Hinata? Tadi kau yang ketawa, 'kan?" untuk memastikan, Naruto bertanya. Karena ia penasaran siapa yang tertawa tadi. Kalau Hinata bilang bukan, berarti memang hantu.
"Iya," jawab Hinata.
"Sejak kapan ada disini? Kamu mendengar semua yang kuucapkan ya?" Hinata menggangguk sebagai jawabannya. "Ooh~ Lupakan saja kejadian itu!" sungguh malu sudah Naruto. Ia jadi asyik dengan dirinya sendiri yang malu.
Tapi Hinata, dia jalan dan memberikan makan ikan koi hitam tersebut. "Aku akan menjawab semua pertanyaan yang Naruto tanyakan padaku," mendengar itu, tingkah kekanakan Naruto langsung menghilang.
"Serius?" tanya Naruto tidak percaya. Hinata mengangguk, "Kau akan jujur padaku?" kembali anggukan yang didapatkan olehnya. Naruto langsung mendekati Hinata, "Pertama, kamu selalu kesini karena mencoba peruntungan mitosnya, 'kan?" langsung saja pertanyaan itu ditanyakan tanpa jeda.
Hinata mengangguk, "Iya, aku hanya mencobanya saja. Siapa tahu mitos itu benar dan aku beruntung." jawab Hinata.
Naruto mengangguk, "Memangnya mitos tentang apa sih?" tanyanya penasaran. Baru dibilang hari ini, Hinata sudah mau jujur saja. Sungguh itu membuatnya senang, akhirnya Hinata sudah terbuka padanya.
"Kalau memberikan makan sepasang koi ini selama dua puluh enam hari," Naruto mengangguk-angguk mendengarnya, seakan sangat antusias sekali ingin mengetahuinya. "Dan melihat sepasang koi itu keluar secara bersamaan. Maka, cintamu akan terbalas." ucapnya memberitahu, rasanya senang sekali sudah memberitahukannya. Satu rahasia, sudah terbongkar sudah.
"Cinta akan terbalas ya? Hinata benar-benar sedang jatuh cinta ya?" pertanyaan Naruto membuat Hinata tersenyum, sungguh amat sangat bahagia perasaannya saat ini.
"Iya," senyuman orang yang sedang jatuh cinta itu bagaimana ya? Siapa sih yang tidak terpesona karenanya?
DOKIN~ Bahkan Naruto yang tidak memiliki perasaan apapun pada Hinata, terpesona akannya. Apalagi saat itu juga, hatinya seperti bergejolak. Entah karena apa, Naruto tidak tahu itu.
"Siapa?" memang benar apa yang dikatakan Ino, Naruto tidak marah. Malahan Naruto antusias sekali mau mengetahui siapa orang yang disukai oleh Hinata.
"Untuk yang ini, aku tidak bisa menjawabnya. Maaf," balas Hinata.
Naruto dapat mengerti hal ini, ia juga pernah bersikap yang sama. Tidak pernah memberitahukan siapa orang yang disukainya, sampai beberapa hari yang lalu Hinata yang menebaknya sendiri, dan akhirnya ketahuan. "Baiklah~" balas Naruto.
"Tadi katanya dua puluh enam hari? Ini sudah hari yang keberapa?" tanya Naruto. Ia melihat Hinata yang telah berdiri dan mengambil tasnya.
"Hari ke sepuluh!" serunya bersemangat dan kemudian jalan meninggalkan kolam itu. "Hee? Sudah mau pulang?" Naruto pun berdiri dan berlari menyusul Hinata.
"Tapi, rasa sukamu pada laki-laki itu, sungguh besar ya. Pasti laki-laki itu akan beruntung jika mendapatkanmu." perkataan Naruto telah menghentikan langkah Hinata.
Kalau Naruto tahu siapa laki-laki yang Hinata maksud, apa Naruto akan tetap berpikiran seperti itu? Apakah Naruto akan berpikir, kalau mendapatkan Hinata adalah sebuah keberuntungan?
"Tidak juga," balas Hinata merendahkan dirinya.
"Tidak juga? Bicara apa kau Hinata? Kamu manis, baik, pintar, kuat dalam artian perasaannya, jago masak juga. Calon istri yang banyak diidamankan oleh pria tuh! Bahkan Kiba juga sependapat denganku lho~" seru Naruto membanggakan kelebihan yang Hinata punya.
"Kalau menurut Naruto, apakah itu juga kriteria calon istri yang Naruto inginkan?" pertanyaan Hinata membuat Naruto kebingungan. Ia memiringkan kepalanya, dan berpikir sejenak. Kalau memang seperti itu, enak juga sih.
"Tentu saja! Apalagi yang bisa masak ramen!" seru Naruto kegirangan. Makanan kesukaannya memang ramen, dan Hinata sangat jago membuat itu. Saat tahu makanan favorit Naruto adalah ramen, dari kelas 1 SMP Hinata mulai mempelajarinya.
'Aku banget ya? Tapi hatinya tidak untuku.' batin Hinata sedih. Padahal semua kriteria yang Naruto inginkan ada padanya. Tapi walaupun semua ada padanya, hanya satu saja yang tidak ada. Hati Naruto, tidak ada padanya.
"Yah! Membicarakan masa depannya nanti saja. Ayo pulang," Naruto pun berjalan kembali setelah berbicara panjang lebar begitu.
Berhenti sesaat, Naruto melihat Hinata. Hinata yang kebingungan pun berhenti melihat Naruto. Ada apa? Tanyanya. Dikeluarkannya senyuman yang bagaikan mentari itu.
"Aku senang karena kamu sudah jujur padaku,"
WHUUUS~ Angin berhembus menerpa rambut-rambut pirang Naruto. Benar-benar pemandangan yang indah, sosok yang begitu bersinar ini, ada dihadapannya.
"Iya,"
Mulai sekarang, cobalah untuk jujur. Baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Jujur untuk sebuah kebaikan itu, bukan hal yang salah, 'kan?
::
::
◐ To Be Continue ◐
::
::
Hohoho~ Akhirnya Naruto sudah tahu apa yang dilakukan Hinata sebenarnya. Setidaknya Hinata sudah jujur soal mitos itu, dan sisa menunggu waktunya saja untuk sampai ke tahap berikutnya. Bagaimana? Berikutnya adalah chapter "K", di chapter "K" Naruto akan merasakan bagaimana ditolak itu. Yah~ Di chapter "K" Naruto patah hati, tapi di chapter "L" akan lahir perasaan baru yang lebih hangat dari sebelumnya. Ada yang mengerti? Nah~ Di chapter "L" itu akan mulai kisah-kisah NaruHina yang baru, jadi ditunggu ya. Tapi sebelum itu, bagaimana dengan chapter "J" ini? Terima kasih sudah membacanya sampai akhir.
Thanks To :
Crow, Haruta Hajime, Firebolt2030, DrunKenMist99, bala-san dewa hikikomori, , dan pembaca sekalian.
Jaa~
Sampai bertemu di chapter "K"
V
V
V
