Chapter "K" update! Terima kasih sudah menunggu fic ini sampai update, dan terima kasih sudah membaca dan memberikan review pada chapter sebelumnya. Kali ini diriku lebih cepat update karena nanti Senin bakalan UAS. Seperti yang diberitahukan pada chapter sebelumnya, Naruto akan patah hati di chapter ini. Mudah-mudahan chapter ini tidak mengecewakan dan memuaskan kalian semua. Sekarang waktunya sesi pembalasan review~!

rika : Iya, arigatou.

DrunKenMist99, nunu, & blackschool : arigatou, ini udah lanjut.

Crow : arigatou, makasih udah ditunggu.

Sena Ayuki : Haha, tak apa. Sudah dibaca aja sudah cukup untukku. Haha, makasih nih. Tebakannya salah semua, yang benar "Kalah". Ini udah berjumpa lagi~

diana. aztajim : Jejak?

: iya, tentu saja. Iya, dibaca saja. Tentu~

Haruta Hajime : Iya, itu benar. Lebih bagus emang seperti itu, jadinya begitu deh. Untuk Kiba, sesuai cerita yang berjalan saja.

bala-san dewa hikikomori : Iya, haha. Iya nih, memang. Kalau yang lebih menantang, dilihat saja nanti. Iya~

ranggagian67 : Iya nih~ Haha, soalnya masih belum bersatu(?) mereka. Kalau typo, bisa kapan saja terjadi. Padahal daku sudah membacanya berkali-kali lho. Arigatou~

Selamat membaca!

::

::

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

26 Days : Koi of Love © Hikaru-Ryuu Hitachiin

::

Pairing: Hinata Hyuuga & Naruto Uzumaki

::

Genre: Romance

::

Warning: Silahkan dibaca dan lihatlah kesalahan-kesalahan yang kapan saja bisa terjadi di fic ini. Yang pastinya Hinata agak sedikit OOC, itu menurutku.

::

Rated: T

::

~ Happy Reading ~

::

::

::

Aku tidak tahu apa yang merasuki diriku, tapi aku ingin Naruto kalah. Bukan artian kalah dalam perlombaan ataupun pelajaran, tapi kalah dalam perasaannya. Perasaan untuk mendapatkan Sakura, aku ingin sekali Naruto menghilangkan rasa itu padanya. Aku juga tahu, di mata Sakura, Naruto sudah kalah dari Sasuke. Aku tahu kalau aku ini memang jahat. Tapi, aku menginginkan Sakura yang mengatakannya.

Bahwa Naruto sudah kalah, tidak usah menaruh hati lagi padanya. Singkirkan perasaan itu, karena kekalahan sudah ada didepan mata.

::

::

26 Days : Koi of Love ◐

::

::

"Pagi-pagi sudah bengong," Hanabi yang tidak sengaja melihat kakaknya yang sedang bengong di ruang tamu, kini mendekati Hinata. Masa pagi-pagi seperti ini, sudah ada orang rumah yang bengong. Kebiasaan sih, ia menggoyang-goyangkan tangannya pelan tepat didepan wajah Hinata.

Niatnya sih untuk menyadarkan Hinata dari lamunannya, tapi tidak ada respon dari Hinata. Jadi Hanabi menuju dapur untuk melaksanakan taktik kedua, apa taktiknya? Ia mengambil wajan penggorengan dan sendok sayur yang terbuat dari stenlistil. Kemudian ia menuju pada Hinata kembali, ia akan memulai taktiknya. Tanpa ancang-ancang, langsung saja ia memulai atraksi marching band dengan alat seadanya.

PRANG! PRANG! PRANG!

"Kebakaran, kebakaran, kebakaran." dengan nada datarnya, Hanabi berkata sebuah hal yang palsu, kebakaran. Tidak lupa mengadu kekuatan antara wajan dengan sendok sayur tersebut sehingga terkesan benar-benar ada peringatan sedang terjadinya kebakaran.

Mungkin saja, kalau tadi cara Hanabi menyadarkan Hinata dengan teriakan, dan ada orang luar yang mendengarnya, pasti akan ada kejadian yang menghebohkan. Orang-orang yang berada didalam rumah akan lari berhamburan keluar rumah karena mendengar teriakan itu.

Sempat tidak respon dari Hinata, sampai-sampai Hanabi menghentikan gerakannya. Masa suara seperti tadi juga tidak didengar sih? Hanabi sampai bingung mau melakukan apa lagi untuk menyadarkan Hinata. Sepuluh detik menunggu, tik tok tik tok. Waktu terus berjalan dan akhirnya, "Apa? Kebakaran!?" teriak Hinata dengan kerasnya. Mungkin saja teriakan ini telah membangunkan warga-warga yang tertidur dengan lelapnya.

"Air! Air!?"

PRANG! Kali ini Hanabi tepat memukul wajan dan sendok sayur itu didepan mata Hinata. Bagi kalian para adik yang baik, jangan ikuti tingkah laku Hanabi yang tadi ya.

"Itu cuma lelucuan Kak Hina," kata Hanabi datar.

Hinata yang sudah mulai terkendali kini terduduk lemas di sofa. "Hanabi, lain kali jangan seperti itu lagi ya." katanya dan menghela nafasnya.

Hanabi hanya mengangguk dan kembali ke dapur untuk mengembalikan alat-alat memasak yang tadi digunakan olehnya. Lagian siapa suruh bengong di saat ada Hanabi, sudah pasti tidak bisa dibiarkan begitu saja. Hinata yang melihat Hanabi masuk ke dapur kini berpikir, "Aku bengong lagi ya?" tanyanya pada dirinya sendiri.

Mungkin saja kalau ada Naruto disana, ia akan langsung kasih tahu berapa lama Hinata bengong dan dimulailah candaan yang dibuat olehnya. Benar-benar ya~ Pikirannya sudah dipenuhi oleh sosok Naruto. Tapi, kenapa dirinya jadi sejahat ini? Menginginkan Naruto menyerah dalam masalah percintaannya. Menginginkan Naruto kalah, kalah dalam perlombaannya merebut hati Sakura. Hinata tahu kalau Naruto menyukai Sakura, dan Hinata juga tahu kalau Sakura itu sudah milik Sasuke. Naruto pun tahu itu, tapi kenapa Naruto tidak menyerah saja?

"Haa~" Hinata kembali menghela nafasnya, tanpa menyadari kalau Hanabi telah datang kembali.

Hanabi melompat dan duduk di samping Hinata, "Kak, dengar ya. Katanya, kalau orang jadi lebih sering menghela nafas, itu tandanya dia sedang jatuh cinta." jelas Hanabi sambil mengangkat jari telunjuk tangan kanannya. Pengetahuan ini baru saja didapat oleh Hanabi dari komik serial cantik yang kemarin baru ia beli.

"Aku memang seperti itu, Hanabi 'kan sudah tahu." balas Hinata pada ucapan Hanabi tadi.

Hanabi yang tadinya asyik mengangkat jarinya kini melihat Hinata. "Benar juga ya?" tanyanya. Hanabi memang tahu kalau Hinata sedang jatuh cinta. Ia juga tahu kalau Hinata suka sama Naruto. Tapi kenapa ya? Perjalanan cinta kakaknya begitu rumit?

Hanabi menyalakan TV, setidaknya sebelum melakukan kegiatan memasak, ia menenangkan diri dengan menonton dulu. Mumpung sekarang masih jam setengah enam pagi, masih banyak waktu sebelum berangkat ke sekolah.

"Hanabi~ Kakakmu ini begitu jahat." mendengar itu, remot yang tadi di tangan Hanabi kini berpindah di sofa.

"Apa?" tanyanya tidak mengerti. "Kakak telah melakukan apa? Membunuh? Mencuri? Atau hal jahat lainnya?" tanya Hanabi melebih-lebihkan kata 'jahat' yang dimaksud oleh Hinata. Ia khawatir, masa kakaknya menjadi penjahat?

Hinata menggeleng, "Kakak berpikir, kakak ingin Naruto kalah." tidak mengerti maksud kakaknya, Hanabi memiringkan kepalanya. "Kalah maksud kakak disini bukanlah kalah dalam pelajaran atau perlombaan lainnya. Tapi, kalah dalam perasaannya, kalah untuk mendapatkan Sakura." jelas Hinata.

Hanabi memutar otaknya, "Jadi yang disukai Naruto adalah manager klub atletik ya?" tanya Hanabi memegang dagunya dan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Menurutku itu bukan perbuatan jahat kok kak," lagi-lagi, disini Hanabi akan berperan sebagai penasehat Hinata. Walaupun Hanabi tidak terlalu mengerti tentang masalah percintaan, tapi setidaknya, ia mau memberitahukan hal yang benar pada kakaknya. Ia juga kurang mengerti mana yang benar dan yang salah, tapi inilah yang menurutnya paling benar.

"Tidak jahat bagaimana? Kalau membuat Naruto kalah dalam hal seperti itu, sama saja membuat Naruto bersedih. Kalau membuat Naruto yang biasanya tersenyum jadi murung karena kalah dalam masalah percintaannya, sama saja seperti orang jahat, 'kan? Orang yang membuat orang yang disukainya bersedih, memang orang jahat, 'kan?" sungguh pertanyaan yang panjang ini sulit diserap oleh Hanabi.

Maksudnya, orang yang membuat orang yang disukainya bersedih, bersedih karena kita, bukan dalam hal menyakiti seperti itu, tapi menyakiti dalam hal menginginkan orang tersebut kalah, itu orang jahat, 'kan?

Hanabi menggangguk-angguk setelah mengerti maksud dari pertanyaan itu. "Bukan," katanya. Ia tidak setuju dengan kata-kata Hinata yang mengatakan bahwa dirinya orang jahat. Memang tindakan seperti itu bisa dibilang seperti 'menusuk dari belakang', tapi itu bukanlah hal yang jahat dalam artian Hanabi. Disisi lain, Hinata mau Naruto kalah dalam masalah percintaannya. Disisi yang lainnya, Hinata tidak mau Naruto bersedih karena kalah. Jadi, kalau seperti itu, apa pantas disebut orang jahat? Mana mungkin orang jahat yang memikirkan perasaan orang lain. Bahkan, orang jahat sekalipun, dapat memikirkan perasaan orang lain walau itu hanya setitik saja.

"Apa maksudmu, Hanabi?" tanya Hinata.

Hanabi tersenyum, ia memang bisa menjadi motivator yang baik. Ia mematikan TV tersebut dan berdiri, bahkan TV itu tidak sempat dilihat olehnya. Menuju dapur dan berhenti sesaat, tentu sebelumnya Hinata bingung dengan Hanabi yang tiba-tiba meninggalkannya begitu saja. Tapi~ Hanabi benar-benar penasehat yang baik, ya?

"Karena menurutku, itu adalah hal yang wajar."

~ XI ~

˚°◦ ◦°˚ ◐ 11th Day ◐ ˚°◦ ◦°˚

~ XI ~

Akhirnya, Hinata kembali membawa bekal yang kelebihan. Sekarang bukan Hinata yang membuatnya dan lebih, tapi ini Hanabi yang membuatnya. Katanya, 'Kalau sedang bersedih seperti itu, lebih baik makan yang banyak. Supaya rasa sedih itu hilang karena akan muncul rasa kenyang.' memang itu pemikiran yang kekanakan menurut Hinata. Tapi, ia senang karena adiknya begitu sayang padanya.

"Tapi, bagaimana caranya aku menghabiskan makanan sebanyak ini?" tanyanya terperusuk.

Kalau Hanabi tahu kakaknya tidak menghabiskan makanan yang spesial dibuatkan untuk dirinya, apa yang akan terjadi? Tepat Hinata bersender pada dinding rumah orang lain, tepat juga Naruto lewat di sampingnya. Hinata yang melihatnya langsung kaget, bahkan Naruto yang sempat nengok ke samping pun sempat kaget juga. Dikiranya ia melihat sebuah penampakan, tapi masa pagi-pagi ada?!

"Hinata!?" tanyanya terjelungkan ke belakang. Hinata yang tadi bersandar pada dinding kini berjalan mendekati Naruto.

"Naruto kelihatan bersemangat sekali," kata Hinata melihat wajah Naruto yang benar-benar ceria.

"Gini ya, ehem..." Naruto mempersiapkan ancang-ancang, "Aku akan menyatakan perasaanku!" serunya dan mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf V.

Hinata yang mendengarnya langsung kaget, tapi ia tidak dapat berkata apa-apa. Hanya tertunduk, "Aku tidak mau kalah denganmu Hinata," kata Naruto sedikit malu. "Masa hanya kamu yang berjuang sih? Setelah mendengar pengakuanmu kemarin, keberanianku sedikit muncul." jelas Naruto asal mula dimana ia mau menyatakan perasaannya.

Mungkin saja Naruto sudah memikirkannya dari kemarin-kemarin, dan hari inilah hari yang pas untuk melakukannya. "Aku tahu, aku pasti akan ditolak. Tapi, aku tidak mau membebani pikiranku dengan hal seperti ini terus." Naruto juga tidak mau membebani pikirannya dengan perasaannya yang tidak pasti.

"Tapi, Sakura 'kan..." memberanikan diri untuk bicara, memberitahukan sebuah fakta yang menyakitkan.

"Sudah milik Sasuke?" disini, perasaan Hinata mulai tidak enak. Apa yang mau diberitahukan olehnya, telah diketahui Naruto.

Tidak dapat balasan dari Hinata, Naruto hanya tersenyum tipis. "Aku tahu itu. Tapi setidaknya," ia memegang kepala Hinata dan mengelusnya pelan. "Selama aku belum kalah, boleh 'kan tetap berjuang?" benar sudah, tidak ada yang dapat dilakukan oleh Hinata. Hanya pasrah, menerima kenyataan.

"Sampai bertemu ya!" langsung saja Naruto berlari dan menghilang dari padangan Hinata. Dalam hal seperti ini, Hinata tidak dapat berbuat apa-apa. Karena menurutnya, menyatakan perasaan itu adalah hal yang tidak mudah. Tidak bisa tidur karena memikirkannya terus, selalu bertanya dalam hati 'diterima atau tidak?', atau malah tidak bisa tidur karena memikirkan waktu kapan akan menyatakan perasaan. Oleh karena itu, ia tidak mau mengganggu kesiapan hati Naruto. Karena menurutnya, perasaan Naruto adalah yang lebih penting. Tidak peduli kalah atau menang, yang penting Naruto bahagia.

"Aku tidak dapat melakukan apa-apa ya?" Hinata hanya dapat tersenyum, dan berjalan secara perlahan.

Padahal mereka bertemu di persimpangan itu lho. Tapi kenapa sekarang Naruto tidak berkata 'bertemu disini lagi!' atau 'beruntung nih!'? Itu karena, Naruto sudah terfokus pada pernyataan cinta itu.

Sampai di sekolah, Hinata langsung disambut oleh Ino. "Se-la-mat pagi!" seru Ino bersemangat dan langsung memeluk Hinata. Hinata yang merasa risih langsung melepaskan pelukan itu.

"Kamu kenapa Hinata?" merasa ada yang berbeda pada Hinata, Ino langsung menanyakannya.

"Hari ini Naruto akan menyatakan perasaannya pada Sakura," mendengar itu, Ino langsung kaget setengah mati.

"APA!?" teriaknya. Sudah tahu 'kan kalau Ino teriak seperti apa? Bahkan suaranya pun bergema hingga luar sekolah. "Aku harus menyaksikannya!" seru Ino bersemangat.

"Itu perbuatan yang tidak baik," mencoba memperingatinya, Hinata menahan langkah Ino. Lagian, belum tahu 'kan kapan Naruto akan menyatakan perasaannya? Bisa saja istirahat, atau pulang sekolah, atau pas waktu luang.

"Saat Naruto keluar sendiri, aku akan mengikutinya secara diam-diam." katanya bersemangat, bahkan hawa panas begitu terasa di sebelah Hinata.

Tidak dapat berkata apa-apa lagi, Hinata hanya menghela nafasnya dan mengikuti Ino memasuki kelas. Sesampainya di kelas, Hinata dan Ino melihat Naruto yang bercanda dengan teman sekelas. Jadi sekarang masih aman ya? Bukan waktunya, 'kan? Kira-kira kapan ya Naruto akan menyatakan perasaannya?

"Woi! Pada duduk sana! Guru datang nih!" seru laki-laki dengan tato segitiga terbalik yang membuka pintu dengan cara mendobaknya, tidak lupa dengan cucuran keringat yang mengalir dari pelipisnya. Habis lari dari mana itu anak?

Skip time~ Tiba-tiba saja sudah waktu untuk istirahat. Disini, waktunya Ino dan Hinata berperan sebagai detektif. Sebenarnya Hinata tidak mau ikut-ikutan, tapi ia begitu penasaran. Bagaimana awal dan akhir kejadian menyatakan perasaan itu. Apakah menarik atau tidak? Apakah berjalan dengan lancar?

Naruto berjalan sendirian keluar dari kelas, dan Ino beserta Hinata jalan mengendap-ngendap. Langkah demi langkah dilakukannya, entah Naruto sadar atau tidak kalau dirinya sedang diikuti. Yang pasti, sampai saat ini semuanya berjalan dengan lancar.

Saat melewati kolam, Hinata berhenti sebentar melihat kolam. "Aku kasih makan koi dulu ya! Nanti Ino sms saja dimana keberadaannya." seru Hinata dan langsung berlari menuju kolam.

"Siap!" seru Ino dan kembali membuntuti Naruto.

Hinata jongkok di tepi kolam, dan menyebarkan makanan itu. "Kira-kira jawaban apa yang akan diberikan Sakura ya?" tanyanya. Berdiam diri selama lima menit, ada sms masuk dari Ino. Ini sangat cepat menurut Hinata.

-/-/-/-

From: Ino Yamanaka

Subjeck: Pemberitahuan!

Text

Hinata! Buruan kesini! Letaknya berada di taman belakang sekolah. Naruto sudah bertemu dengan Sakura!

-/-/-/-

Dengan cepat, Hinata langsung berlari menuju tempat yang sudah diberitahukan oleh Ino melalui sms tadi. Tidak perlu waktu yang lama untuk sampai disana, karena keberadaannya sangat dekat. Hanya saja, saat baru sampai, Hinata sudah mendengarnya, kata-kata yang selama ini tidak mau didengar olehnya.

"Aku menyukaimu!" kata-kata 'suka', yang dilontarkan Naruto, bukan kepadanya. Melainkan kepada orang lain~

Hinata kaku juga saat itu, tapi ada yang menarik tangannya, dan ia terjatuh ke semak-semak. "Aduh!" serunya, seruan tadi tidak terlalu besar. Hanya rintihan kecil saja, jadi tidak mungkin terdengar.

"Sstt!" seru Ino menyuruh Hinata untuk diam, "Kita lihat lanjutannya," kata Ino berbisik dan kembali melihat adegan menyatakan perasaan tersebut.

Tidak ada jawaban untuk beberapa detik, "Maaf~" Naruto hanya tersenyum mendengar ini. Dari awal, ia memang sudah tahu kalau dirinya akan ditolak. "Karena menurutku, Sasuke adalah pemenangnya. Maafkan aku~" dengan cepatnya Sakura meninggalkan tempat itu dengan berlari. Sakura yang sekarang, kini tidak seperti biasanya.

Saat melihat itu, Ino dan Hinata langsung bersembunyi lagi. "Lihat? Naruto ditolak?" tanyanya tidak percaya. Dilanjutlah dengan obrolan-obrolan yang tidak terduga.

Kalau Naruto, ia berjalan dengan biasa-biasa saja. Mendekati semak-semak secara perlahan. "Dari awal, aku memang sudah tahu kalau aku akan ditolak." Hinata yang mendengar itu, langsung benar-benar bersembunyi, perasaannya jadi tidak enak. Karena menurutnya, akan terjadi hal yang lumayan gawat.

"Tapi aku tidak pernah menyangka akan dilihat dalam keadaan seperti ini. Hei~ Sejak kapan kalian ada disana?"

DEG! Jantung rasanya seperti tertusuk karena ketahuan oleh Naruto. Bagaimana citra seorang Ino kalau mengintip orang yang sedang menyatakan perasaan? Ino langsung berdiri dan menghadap Naruto. Tidak takut karena ketahuan oleh Naruto karena dirinya telah mengintip. "Tadinya kami mau lewat kesana! Tapi karena ada kalian, tanpa sengaja kami jadi bersembunyi." kata Ino berbohong.

"Oh? Begitu ya?" kini ia melihat Hinata, tidak peduli dengan Ino. Naruto tidak tega melihat Hinata, ekspresi Hinata seperti mau menangis saja. Rasanya, melihat Naruto yang ditolak, dan benar senyumannya itu memudar, seakan melihat dirinya yang akan ditolak. Rasanya itu, benar-benar sakit. Kalau seperti itu, Hinata sudah menggantikan posisi Naruto untuk menangis ya?

Naruto memegang kepala Hinata, mengusapnya pelan. "Tidak apa," katanya dan berjalan meninggalkan keduanya.

Setelah Naruto menghilang, barulah Hinata menangis. Ino yang melihatnya pun langsung gelagapan sendiri, tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Hinata baru tahu, bagaimana rasanya ditolak. Bahkan senyum yang selalu mengembang bagaikan sinar mentari, bisa meredup juga ya?

"Aku baru tahu, kalau rasanya akan sesakit ini."

~ XI ~

˚°◦ ◦°˚ ◐ Kalah ◐ ˚°◦ ◦°˚

~ XI ~

"Eh?" baru saja Hinata sampai di kolam koi tersebut, lagi-lagi Hinata menemukan Naruto disana.

Naruto yang sedang tertidur, di bangku taman. Yah~ Tidur yang begitu pulas. Hinata jadi tidak mau membangunkannya, agar Naruto dapat tidur dengan tenang. Pasti habis ditolak seperti itu, perasaan jadi tidak enak, dan kita membutuhkan tempat untuk menenangkan diri. Jadi Hinata beranjak dengan perlahan, agar suara berjalannya tidak terdengar oleh Naruto. Sukses sudah Hinata sampai di tepi kolam, ia melihat kembali ke arah Naruto. Naruto masih saja tertidur pulas, berarti tidak sia-sia Hinata berjalan seperti itu. Ia langsung mengambil makanan ikan yang ada didalam tasnya. Setelah didapat, ia membuka ikatan pada kantung plastiknya dan langsung saja ia menebarkan makanan ikannya. Koi hitam tersebut, dengan cepat melahap makanan yang diberikan Hinata. Hinata melihat Naruto kembali, sekarang ia berjalan mendekati Naruto, dan duduk disebelahnya.

"Pasti rasanya sakit ya?" tanyanya pada Naruto yang tertidur itu. "Tentu saja," tanpa disadari ternyata mata Naruto terbuka dan menjawab pertanyaan Hinata.

Hinata yang kaget langsung berdiri dan melihat Naruto yang menyengir karena keisengannya tadi. "Se-sejak kapan Naruto bangun?" tanya Hinata sedikit gelagapan.

Naruto tersenyum melihat tingkah lucu Hinata, dan menyuruh Hinata duduk kembali dengan cara menepuk-nepuk bangku dengan tangannya. Hinata yang mengerti langsung duduk di sebelah Naruto tanpa sungkan. "Sejak ada suara plastik," jawab Naruto. Berarti belum lama ini dong!?

Sudah, lupakan saja masalah itu. Sekarang yang harus dilakukan adalah, menanyakan keadaan Naruto.

"Anoo.." Hinata mulai canggung.

Gimana ya? Naruto 'kan baru saja patah hati, jadi apa yang harus dilakukan dirinya agar Naruto kembali bersemangat? Bagaimana cara menghibur orang yang baru saja patah hati? Hinata benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan olehnya. Berhubung Hinata sangat tidak pandai dalam masalah percintaan, jadi agak sulit baginya untuk menghibur Naruto.

"Yah~ Aku tahu kamu mau membicarakan apa." Naruto berdiri kemudian merenggangkan badannya agar tidak kaku, dan menghirup udara segar. "Sebenarnya, melihatnya bahagia seperti itu, aku jadi tidak dapat berkata apa-apa lagi. Itu sudah cukup bagiku~" mendengar cerita ini, Hinata agak khawatir.

Hinata berdiri dan mendekati Naruto. "Naruto?" panggil Hinata. "Apa?" tanya Naruto melihat Hinata. Saat ini, angin bertiup begitu kencangnya. Mungkin nanti malam akan ada hujan besar, sejenis hujan badai lah.

"Itu... Bagaimana caranya agar bisa membuatmu tersenyum seperti biasanya?" tanya Hinata gugup, ia memadukan kedua jari telunjuknya.

Naruto menyipitkan sebelah matanya, senyuman yang seperti biasanya ya? "Kau bicara apa Hinata? Kau tidak melihatnya ya? Ini senyumanku yang biasanya lho!" kata Naruto sambil tersenyum dan menunjuk senyumannya itu dengan jari jempolnya.

Hinata melihat senyuman itu dengan sendu, 'Karena aku melihatnya, makanya aku tahu. Itu bukan senyuman yang biasanya lho,' katanya kecewa dalam hati. Karena sudah sangat lama Hinata mengenal Naruto, oleh sebab itu Hinata mengetahui semua tentang Naruto. Baik dalam berbagai jenis senyum yang pernah dikeluarkan oleh Naruto. Ternyata benar ya? Patah hati bisa membuat senyuman yang secerah mentari menjadi redup. Hinata tidak suka itu~

"Sudahlah~" Naruto memegang kepala Hinata, "Aku kalah, terima kasih sudah menggantikanku menangis." katanya. Naruto tahu kalau Hinata habis nangis, karena matanya lembab dan merah.

Sebenarnya Naruto tidak mau membuat Hinata menangis karena perbuatannya. Tapi karena Hinata baik hati, makanya Hinata dapat merasakan perasaan Naruto. Kebaikan hatinya itulah, yang disukai oleh Naruto.

"Tenang saja, besok aku akan kembali seperti biasanya." Hinata kurang percaya dengan kata-kata Naruto. Dalam satu hari, memangnya bisa melupakan cinta yang lama? Menurut Hinata, dalam satu hari itu tidak cukup untuk melupakannya. Karena perasaan suka yang telah dirasakan sangat lama, tidak mungkin hilang hanya dalam satu hari.

Hinata tidak bicara apa-apa, dan itu sedikit membuat Naruto risih. "Sudahlah! Jangan seperti itu terus dong!" serunya dan memegang kedua pundak Hinata. Tidak dapat respon kembali, ia memegang wajah Hinata dan mengangkatnya ke atas. Karena dari tadi Hinata menunduk terus, dan Naruto tidak tahu apa yang terjadi pada Hinata. Begitu kagetnya Naruto saat melihat pemandangan di depannya.

Air mata Hinata menetes, entah karena apa. Apakah lagi-lagi Naruto berkata hal yang membuat hati Hinata sedih? Naruto benar-benar tidak tahan! Kenapa sih? Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa air mata Hinata menetes seperti itu? Tidak suka, ia benar-benar tidak suka.

Greb~ Naruto memeluk Hinata. "Jangan menangis," katanya mendekap Hinata dengan lembut. "Jangan menggantikan aku menangis terus," katanya, ia benar-benar tidak tahan melihat air mata Hinata. "Aku.. Aku tidak mau melihatmu seperti ini." suara lembut yang dikeluarkan oleh Naruto, membuat Hinata sangat nyaman. Begitu juga dengan pelukannya, menenangkan hati.

Tapi, meski Hinata kaget dengan perlakuan Naruto, kenapa Naruto memberikan dadanya untuk Hinata menangis?

'Maaf ya, Hinata. Untuk saat ini, aku hanya bisa memberikan punggunggku. Aku hanya akan memberikan dadaku pada gadis yang kusukai saja,' tapi saat mengingat kembali kata-kata Naruto waktu itu. Malah membuat Hinata makin sakit, Hinata mendorong Naruto.

Naruto hanya memberikan dadanya pada orang yang disukainya, dan sekarang? Ia memberikan dadanya pada Hinata? Gadis yang bukan disukai oleh Naruto. Kalau seperti itu, sama saja Naruto memberikannya secara terpaksa, 'kan? Karena melihat Hinata yang menangis, Naruto terpaksa melakukan itu. Karena, tidak ada seorang pria, yang bisa membiarkan gadis menangis didepan matanya.

"Eh? Maafkan aku!" seru Naruto dengan gelagapan. Karena seenaknya saja memeluk Hinata, padahal belum minta izin terlebih dahulu pada orangnya. Ini sama saja seperti pelecehan seksual, 'kan?

Yah~ Kalau dipikirkan seperti itu, memang rasanya sakit. Tapi Hinata tidak boleh tenggelam dalam kesedihan terus. Ia menghapus air matanya, dan menggeleng.

"Daripada mengkhawatirkan aku, lebih baik Naruto mengkhawatirkan diri Naruto sendiri." Hinata menangis karena Naruto, oleh karena itu Naruto harus kembali seperti biasnya agar Hinata tidak menangis kembali.

"Eh? Aku ya?" Naruto memegang kepalanya, "Kalau boleh dibilang, aku sudah tidak terlalu memikirkan hal itu lagi kok." katanya dan tersenyum.

Lagi-lagi, melihat senyum paksa Naruto, Hinata jadi sedih. Apanya yang tidak memikirkannya lagi? Kalau senyumnya masih seperti itu, berarti masih memikirkannya, 'kan? Kenapa sih? Kenapa Hinata tidak dapat membuat Naruto tersenyum seperti biasanya?

"Yah~ Mungkin sudah waktunya aku menghilangkan perasaan ini dan mencari cinta yang baru." kata Naruto dan mengambil tasnya dengan tas Hinata yang berada di bangku taman.

Mencari cinta yang baru ya?

"Mungkin kau yang selanjutnya, hehe." hei Naruto~ Kau berbicara seperti itu, tapi dengan senyuman paksa begitu? Dengan tawa yang tidak tulus? Bagaimana Hinata akan menganggapnya serius? Mungkin saja Hinata akan bersemu merah karena perkataan Naruto. Tapi ini tidak, berarti Hinata menganggapnya tidak serius. Yah~ Memang rumit ya.

"Kita pulang ya?" tanya Naruto dan mulai berjalan meninggalkan kolam itu.

Hinata tidak tahu, ia berjalan pelan dan menunduk. 'Aku tidak tahu harus senang atau sedih. Aku memang senang karena Naruto sudah merasa kalah. Tapi, melihat senyumnya yang seperti itu, aku tidak suka.' hatinya mengatakan, kalau ia tidak suka dengan hal ini.

Kalau memang akan membuat Naruto bersedih, lebih baik kejadian hari ini harusnya tidak ada ya? Seharusnya Naruto sakit atau telat sehingga hari ini tidak masuk. Agar hari ini Naruto tidak menyatakan perasaannya pada Sakura. Tapi kalau hari ini tidak bisa, esok hari pasti bisa, 'kan? Jadi percuma saja mengharapkan kejadian itu tidak ada.

Karena, moto yang pernah diucapkan Naruto waktu kecil adalah... Kalau tidak bisa dilakukan hari ini, ya besok saja! Dan ia tidak pernah melupakan moto Naruto yang waktu itu. Pasti Naruto juga tidak pernah melupakan ucapannya sendiri.

"Hinata~ Jangan jalan sambil nunduk," peringat Naruto. Hinata hanya mengangkat kepalanya dan berjalan kembali tanpa membalas kata-kata Naruto. Hinata tidak berani melihat senyuman yang meredup seperti itu. Karena yang dilihatnya bukanlah Naruto yang biasanya.

Jadi, kalau Naruto sudah kalah seperti ini? Apa yang harus dilakukan agar senyuman itu kembali bersinar secerah mentari lagi?

'Jika semua akan indah pada akhirnya, kenapa diakhir perasaan ini. Aku tidak juga mendapatkan kebahagiaan?'

::

::

To Be Continue ◐

::

::

Chapter "K" selesai! Bagaimana dengan chapter ini? Apakah memuaskan? Ataukan masih ada yang kurang? Terima kasih sudah membaca chapter ini sampai akhir. Terima kasih sudah mengikuti fic ini sampai sini. Untuk chapter selanjutnya, chapter "L". Ditunggu ya~!

Thanks To :

rika, DrunKenMist99, nunu, blackschool, Crow, Sena Ayuki, diana. aztajim, rifalrifaldi7gmail. com, Haruta Hajime, bala-san dewa hikikomori, ranggagian67, dan pembaca sekalian.

Jaa~

Bertemu lagi di chapter "L"~

V

V

V