Chapter "L" update! Terima kasih sudah membaca dan memberikan review pada chapter sebelumnya. Mohon maaf apabila update-nya lebih lama, itu dikarenakan kouta sedang habis. Tapi sekarang udah diisi kembali, jadinya bisa update deh. Sekarang adalah chapter "L", disini akan mulai lahir perasaan baru pada diri Naruto. Semoga chapter ini tidak membosankan dan mengecewakan pembaca sekalian. Sekarang saatnya sesi pembalasan review~!

Sena Ayuki : Haha, itu bisa kapan saja terjadi. Iya, Hinata memang baik sekali. Tenang saja, di chapter ini, ujaran itu akan terjadi. Semangat sekali, tapi tebakannya salah semua. Chapter "L" kali ini adalah "Lahir". Iya~

rika : arigatou, ini udah lanjut kok. Makasih sudah ditunggu. Bukan "Luka", tapi "Lahir".

: Iya nih, makasih. Iya~

Haruta Hajime : Iya, itu benar. Yap, sudah pasti harus semangat. Ini udah update~

DrunKenMist99, blackschool, Crow, Ayuba : iya, ini udah dilanjut.

cah apik : Salam kenal juga, haha makasih. Memangnya percakapannya belum baku ya? Nanti akan kucoba buat lebih baku lagi. Untuk fellnya, nanti dicoba saja. Iya, benar akan sampai "Z".

Selamat membaca~

::

::

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

26 Days : Koi of Love © Hikaru-Ryuu Hitachiin

::

Pairing: Hinata Hyuuga & Naruto Uzumaki

::

Genre: Romance

::

Warning: Silahkan dibaca dan lihatlah kesalahan-kesalahan yang kapan saja bisa terjadi di fic ini. Yang pastinya Hinata agak sedikit OOC, itu menurutku.

::

Rated: T

::

~ Happy Reading ~

::

::

::

Setelah orang mengalami patah hati, pasti akan lahir perasaan yang baru, 'kan? Ibaratkan ada satu orang yang meninggal, pasti di hari itu juga ada satu bayi yang lahir ke dunia. Kalau siklus manusia seperti itu, berarti siklus perasaan juga seperti itu, 'kan? Kalau memang itu benar, aku mau Naruto mengalami lahir perasaan yang baru.

Dan perasaan itu, lahir hanya untukku.

::

::

26 Days : Koi of Love ◐

::

::

Matahari menyinari kamar Hinata, membuat mata Hinata berkedip karenanya. Perlahan demi perlahan mata itu terbuka, "Hoaaam~" uapan kecil yang keluar dari mulutnya.

Yah~ Hari ini Hinata bangun lebih siang dari biasanya. Karena hari ini adalah hari Sabtu, dan tidak ada pembelajaran di sekolah alias libur. Walaupun begitu, Hinata tetap harus datang ke sekolah untuk memberi makan sepasang ikan koi itu. Untuk kali ini, Hinata tidak mau terlalu lama berada di sekolah. Karena pasti akan merasa bosan, dan Hinata tidak tahu mau melakukan apa. Jadi saat kasih makan koi putih di siang hari, ia akan pulang dulu ke rumah. Setelah hari mulai menggelap, ia akan datang ke sekolah lagi untuk memberi makan koi hitam. Memang sama saja itu melakukan pekerjaan dua kali, tapi untuk saat ini tidak apa. Daripada bosan, 'kan?

Perlahan demi perlahan Hinata menggerakkan badannya, bunyi perenggangan terdengar disana. Otot-ototnya yang kaku kini mulai berkerja kembali, dan ia pun melipat selimutnya. Dilanjutkan dengan menata ranjang agar rapi kembali. Tidak lupa mencuci muka agar terlihat lebih segar.

"Hari ini aku akan melakukan apa ya?" pada hari ini, Hinata begitu bingung mau melakukan apa. Jatah masak hari ini, bukan dirinya yang dapat. Hari ini jatah Hanabi, dan untuk saat ini Hanabi mau masak sendiri. Semua pekerjaan rumah yang diberikan beberapa guru juga sudah semuanya dikerjakan. Ke sekolah pun, hanya untuk memberi makan sepasang koi. Lalu sisa waktunya, digunakan untuk apa? Kalau nonton, tidak ada acara TV yang menarik di matanya.

"Hinata~" terdengar dari lantai bawah, ada yang memanggil Hinata. Yang memanggilnya adalah sang ayah, Hiashi Hyuuga. Untungnya Hinata sudah bangun duluan sebelum dipanggil Hiashi. Jadi Hinata buru-buru turun untuk menemui ayahnya. Jarang sih Hiashi bangun pagi kalau hari libur, biasanya bangun sekitar jam sembilan. Tapi sekarang masih jam tujuh, jadi ada apa ya?

"Ada apa yah?" tanya Hinata saat sudah tepat berada didepan Hiashi.

"Bisa bantu ayah, 'kan?" Hinata mengangguk, mumpung dirinya lagi senggang dan tidak melakukan apa-apa. Lebih baik membantu ayahnya yang membutuhkan bantuan, menambah nilai baik. "Hari ini ayah dan Neji sibuk, Hanabi juga banyak tugas dari sekolahnya. Sedangkan, bahan-bahan makanan sudah mulai menipis. Bisa 'kan bantu ayah belanja?" tanya Hiashi mengeluarkan daftar apa saja yang harus dibeli.

"Tentu saja," balas Hinata dan mengambil daftar itu dari tangan ayahnya. "Nanti perginya sore saja," saran Hiashi. Kalau sekarang, masih kepagian. Jadi tidak bisa belanja karena toko belum ada yang buka. Kalau siang, panasnya begitu menyengat. Tidak bagus bagi kulit gadis yang sedang mengalami pertumbuhan. Kalau sore? Tidak ada masalahnya sama sekali.

"Tidak ayah, aku akan pergi jam sebelas nanti." jawab Hinata menolak perkataan ayahnya. Tidak mungkin ia pergi sore, karena ia akan memberi makan koi putih pada siang hari.

"Kenapa?" tanya Hiashi penasaran.

"Nanti siang aku mau ke sekolah, ada urusan sebentar." jawab Hinata dan memasukan daftar itu ke dalam kantung celananya.

"Oh~ Ya sudah. Tapi pulangnya jangan malam-malam ya." yang ini pun ditolak oleh Hinata, Hiashi jadi heran kembali. Apa yang dilakukan Hinata sampai malam hari?

"Aku minta izin untuk pulang malam juga hari ini. Ayah tidak usah khawatir, aku bisa melindungi diriku sendiri." katanya memberikan rasa percaya pada Hiashi, bahwa dirinya akan baik-baik saja. Jadi ia tidak perlu bolak-balik, untung ayahnya memberikan tugas yang oke.

Hinata juga akan memberi makan koi hitam pada saat malam hari. Jadi saat selesai belanja, ia akan kembali ke sekolah. Tidak peduli pada sekitar, dengan kekuatannya yang sekarang, masih cukup untuk melindungi diri sendiri kalau ada orang jahat. Yah~ Inilah alasan sebenarnya yang tidak bisa diberitahukannya pada Hiashi.

"Yah~ Baiklah. Apa perlu ayah panggil bocah pirang itu?" baru saja Hiashi mengambil telepon rumah untuk menelepon Naruto, tapi Hinata malah menahannya.

"Tidak usah!" katanya berseru. Lagian Hinata tidak mau merepotkan Naruto terus. Sudah sering Hinata membuat Naruto repot karena selalu mengantarnya ke rumah saat pulang malam. Untuk saat ini, ia tidak mau merepotkan Naruto kembali. Apalagi sekarang hari libur, pasti Naruto sedang beristirahat.

Hiashi menghela nafasnya, "Kalau sampai terjadi sesuatu padamu, tidak akan ayah maafkan ya." memang kata-kata ini tidak pantas diucapkan orang tua pada anaknya. Tapi Hiashi benaran khawatir pada Hinata, dan Hinata tahu itu. Makanya, pasti Hinata akan baik-baik saja.

"Iya!" seru Hinata bersemangat.

"Ini uang belanjanya, simpan yang benar ya. Jangan sampai kecurian," Hiashi menyodorkan amplop yang berisi uang didalamnya, tapi ini bukan amplop uang sogokan lho. Hinata tidak tahu berapa nominal yang ada didalam amplop itu, tapi yang jelas, pasti cukup untuk membeli kebutuhan.

"Iya," Hinata pun menerima amplop itu dan dipegangnya dengan benar, agar tidak terlepas dari tangannya. Yang satu ini harus dijaga benar-benar! Serunya dalam hati. Karena uang yang ada didalam amplop ini, adalah hasil jerih payah Hiashi untuk menghidupi anak-anaknya.

"Ayah lanjut kerja ya," setelah itu pun Hiashi masuk kembali ke ruang kerja untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.

Kalau Hinata? Tentu saja dia menyiapkan barang-barang untuk keberangkatannya nanti. Ia mengeluarkan tas jalan-jalan yang sudah lama tidak digunakannya. Memasukkan daftar belanja beserta dengan amplop berisi uang itu. Tidak lupa memasukkan makanan ikan, uang tambahan, ponsel, dan beberapa alat pendukung lainnya.

Jadi setelah semuanya beres, Hinata tinggal bersiap-siap dan berangkat. Tujuan pertama, koi putih. Tujuan kedua, belanja semua kebutuhan. Tujuan ketiga, koi hitam. Tujuan lainnya?

'Bagaimana dengan Naruto ya?' sebenarnya Hinata mau bertemu dengan Naruto. Setidaknya, mencoba untuk menghibur Naruto. Tapi kalau saat libur seperti ini, tidak mungkin ya? Hinata berbaring sebentar di ranjangnya, mengeluarkan kalung magatama yang tersimpan didalam lemari yang keberadaannya tidak jauh dari ranjangnya. "Hari ini aku akan pakai kalung magatama ini," diambilnya kalung itu dan diletakkan sementara waktu diatas meja belajar.

Sisa menunggu waktu saja sampai waktunya untuk kepergian. Kira-kira, akan ada pertemuan tidak sengaja di persimpangan lagi tidak ya? Tidak mungkin~ Daripada memikirkan hal itu, lebih baik melakukan hal lain yang lebih penting. Sampai saatnya tiba, lebih baik membantu Hanabi masak! Hinata berlari turun ke bawah dan menuju dapur. Dilihatnya Hanabi yang mulai bersiap untuk masak, masih pakai celemek sih.

"Kakak bantu ya?" tanya Hinata.

"Silakan saja," jawab Hanabi dan Hinata langsung menyambar celemek yang tergantung. Untungnya dengan mudah Hanabi menerima tawaran Hinata, jadi waktu senggang Hinata akan digunakan untuk memasak. Tentu saja Hinata suka masak, kalau tidak, mana mungkin ia mau membantu Hanabi. Kalau tidak suka masak, mana mungkin masakannya enak, 'kan?

"Oke!" dan dimulailah kolaborasi antara kakak dan adik dalam hal memasak. Sampai waktunya tiba, lebih baik melakukan hal yang disukai terlebih dahulu.

~ XII ~

˚°◦ ◦°˚ ◐ 12th Day ◐ ˚°◦ ◦°˚

~ XII ~

"Aku berangkat!" seru Hinata berpamitan.

Hiashi yang berada didalam rumah pun keluar menghampiri Hinata. "Hati-hati di jalan," katanya dan memberikan ponsel pada Hinata. "Ponsel jangan ditinggalkan," peringat Hiashi pada Hinata.

"Oh iya," Hinata mengambil ponsel itu dan dimasukkannya ke dalam tas.

Tadi sempat Hinata mengeluarkan ponsel dari dalam tas, dan ditaruhnya di atas meja. Mungkin karena siap-siap untuk berangkat, ia jadi lupa mengambil ponselnya kembali. Padahal ponselnya sangat penting untuk hari ini, buat mengabarkan ke Hiashi bahwa Hinata baik-baik saja.

"Aku berangkat," kembali Hinata berpamitan pada Hiashi. Hiashi pun membalasnya dengan kata-kata 'iya' dan masuk ke dalam rumah kembali.

Jalan tidak lebih dari setengah jam, Hinata sudah sampai di tempat tujuannya, sekolah. Kemudian ia melangkahkan kaki menuju kolam ikan koi itu, karena waktu memang sudah menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit. Jam segitu tentu saja ikan koi putih sudah keluar dari tempat istirahatnya.

Karena tidak bisa berlama-lama melihat koi putih, jadinya Hinata hanya bisa memberinya makan, tidak bisa menemaninya. Karena Hinata harus membeli bahan-bahan makanan. Jadinya Hinata langsung meninggalkan koi putih untuk berbelanja.

Dilihatnya daftar belanjaan,

1. Beras 5 liter

2. Sayur bayam 2 ikat

3. Gula dan Garam

4. Ayam 1 ekor

5. Ikan tuna 4 ekor

6. Minyak sayur 2 kg

7. Daging sapi 3 kg

8. Susu kotak 1

Hinata langsung syok di tempat, banyak!? Kalau dihitung-hitung, beratnya bisa mencapai sepuluh kg lebih! Bagaimana Hinata membawa pulangnya nanti? Diseret? Pakai taksi? Di tempat seperti ini mana ada taksi. Lalu bagaimana cara membawanya pulang!? Ini Hiashi lupa dengan daftar belanjaannya sendiri, atau memang sedang merencanakan sesuatu?

"Go juuichinichikan sono oka de hi ga ochiru sora tsuzukete mitodoketara, koi ga kanau." dering ponsel Hinata berbunyi, ia langsung kaget dan mengambil ponsel itu dari dalam tasnya. Tertulis bahwa Hiashi yang meneleponnya, langsung saja Hinata mengangkat telepon itu.

"Ha-Hallo?" jawabnya.

"Maafkan ayah Hinata! Ayah lupa kalau bahan yang harus dibeli banyak. Oleh karena itu, ayah tadi sudah menyuruh Naruto menemanimu. Kamu tunggu saja ya! Kasih tahu Naruto kamu ada dimana sekarang." celoteh Hiashi panjang lebar. Tentu saja Hinata yang mendengarnya pun jadi syok sendiri. Ini memang rencana yang sengaja dibuat ya?!

Apa katanya tadi? Menyuruh Naruto menemaninya? Apa!?

"Tapi ayah!" baru saja Hinata mau protes ke ayahnya, Hiashi malah menutup teleponnya dengan alasan mau melanjutkan pekerjaannya.

Hinata menghela nafas, kalau sudah begini, apa yang bisa dilakukan olehnya? Beberapa detik kemudian, Hinata malah mendapatkan sms yang tidak terduga.

-/-/-/-

From: Naruto Uzumaki

Subject: Dimana?

Text

Kamu dimana? Aku akan menyusulmu sekarang!

-/-/-/-

Hinata terpaku melihat ponselnya. Ini sms dari Naruto benaran, 'kan? Tapi kok rasanya seperti sedang berhalusinasi ya? Dengan tangan bergetar, Hinata mengetik balasannya.

To: Naruto Uzumaki

Subject: Aku disini.

Text

Aku di supermarket yang ada di pinggir kota, maaf kalau aku dan ayah membuat Naruto jadi repot.

Terkirim sudah sms itu, tinggal menunggu kedatangan Naruto. Selagi menunggu, lebih baik langsung berbelanja saja. Mungkin Naruto baru sampai di persimpangan tempat biasanya bertemu. Daripada menunggu Naruto yang kemungkinan bakal lama datangnya, mending keliling supermarket. Hinata masuk ke dalam supermarket itu dan mengambil troli. Kembali Hinata melihat daftar belanjaannya. Pertama beras, jadi ia berjalan menuju tempat dimana beras berada.

"Lima liter ya?" Hinata mengambil kantong plastik besar dan takaran. Ia menakarnya sendiri, agar pas menurut timbangannya. Sisa ditimbang oleh petugas dan diberikan label harga. Beras lima liter pun didapatkan~

Berikutnya sayur bayam dua ikat, untung saja tempat sayur-sayuran tidak jauh dari tempat yang dipijakinya sekarang. Cukup melangkah delapan kali, ia sudah sampai di rak sayur-sayuran. Menemukan bayam, Hinata mencari dua ikat bayam yang masih terlihat segar. Setelah ditemukan, dua ikat bayam itu dimasukkan ke dalam kantong plastik agar sayurnya tidak kotor. Karena sayuran dingin itu, bisa menjadi basah setelahnya.

Berikutnya gula dan garam, Hinata langsung saja menuju tempat bumbu-bumbu dapur. Disana banyak sekali jenis gula dan garam terpasang. Jenis yang bagus apa ya? Kalau gula, Hinata mengambil warna gula yang lebih kuningan. Katamya sih warna gula yang seperti itu biasanya lebih manis. Kalau garam, tidak usah dipikirkan deh. Hinata ambil garam yang terdekat saja, tapi tidak lupa memperhatikan tanggal kadaluarsanya.

Beras beres, sayur beres, gula dan garam oke. Sekarang langsung ke tempat daging-dagingan saja. Ayam 1 ekor, Hinata melihat ayam-ayam yang masih segar dan warnanya tidak pucat. Setelah didapat, Hinata memasukkan ayam itu ke dalam troli. Tepat didepan ikan tuna, Naruto datang memanggil namanya. "Hinata!" seru Naruto. Hinata yang mendengarnya langsung menghentikan aktivitasnya sementara.

"Ikan tuna ya?" tanya Naruto saat melihat Hinata yang berada didepan ikan-ikan tuna.

"Iya," balas Hinata dan kembali memilih empat ekor ikan tuna yang masih segar. Sudah didapat juga, Hinata meminta petugas menimbang dan membersihkan isi perutnya.

Naruto melihat barang belanjaan yang ada didalam troli. "Ayahmu menyuruhmu belanja tidak kira-kira ya." cetus Naruto, Hinata hanya tertawa mendengarnya. Apa Naruto sudah kembali seperti biasanya? Setelah kejadian kemarin, apa yang dilakukan Naruto?

Ikan selesai, sekarang menuju ke tembat daging sapi. Tiga kilo ya? Dipilihnya daging sapi yang tidak banyak minyaknya. Karena minyak seperti itu hanya akan membuat kolestrol saja. Jadi lebih baik memilih yang banyak dagingnya daripada minyaknya. Daging yang harus dipilih tentu saja daging yang masih terlihat segar dan yang warnanya merekah.

"Yang ini?" Naruto menyodorkan potongan daging sapi beku itu pada Hinata. Naruto juga mau membantu Hinata untuk memilih-milih daging sapi, agar lebih cepat. Hinata melihat daging sapi pilihan Naruto, ia menggeleng. "Kurang segar," balas Hinata. Cukup kecewa memang, tapi Naruto kembali bersemangat untuk mencari daging yang lebih bagus. Seorang Naruto memang tidak pandai masak, tapi kalau mencari bahan-bahan, ya harus bisalah.

"Pasangan muda yang serasi ya," mendengar itu, tangan Hinata langsung berhenti.

Apa kata ibu-ibu tadi? Pasangan yang serasi? Wajah Hinata langsung memerah seketika. Sedangkan Naruto, ia tidak mendengarnya karena terlalu sibuk memilih daging sapi yang bagus. Baginya untuk memilih daging sapi yang bagus itu memerlukan konsentrasi yang sangat besar. Kalau terjadi sedikit kesalahan saja, akan terjadi hal yang fatal.

Salah satu ibu mendekati Naruto dan mengajaknya berbicara. Sepertinya mereka tidak tahan melihat pasangan muda yang begitu imutnya. "Lagi pilih daging yang segar ya?" tanya ibu-ibu tersebut.

"Ah iya!" seru Naruto kaget. "Ternyata susah juga cari daging yang segar," lanjut Naruto. Naruto itu memang mudah akrab dengan seseorang, bahkan dengan orang yang lebih tua sekalipun. Sang ibu-ibu tersebut melihat Hinata, "Pasangan suami-istri baru ya?" pertanyaan yang membuat Naruto dan Hinata kaget tentunya.

"Ah.. Itu.. Bu," baru saja Hinata mau menjawabnya, tapi Naruto malah menutup mulut Hinata dengan tangannya.

"Iya! Baru seminggu lalu kami menikah," jawaban Naruto malah membuat Hinata tambah kaget.

Iya katanya? Sekolah saja belum lulus, masa bilang begitu sih?! "Kalau di mata mereka seperti itu, biarkan saja. Sesekali begini tidak apa, 'kan?" bisik Naruto tepat di telinga Hinata. Sungguh ini dapat membuat Hinata meleleh, bahkan di suhu yang dingin seperti ini.

"Kalau begitu selamat bersenang-senang ya!" ibu-ibu itu pun berlalu dari hadapan mereka berdua. Ditambah dengan cengiran Naruto pada ibu-ibu itu. Hinata melihatnya, itu cengiran Naruto yang biasanya. Naruto benar-benar sudah kembali seperti semula atau belum? Benaran sudah melupakan yang kemarin ya? Masa secepat itu sih? Kalau memang benar, apa yang dilakukan Naruto sampai-sampai bisa cepat seperti itu melupakan kejadian kemarin? Atau Naruto hanya berpura-pura saja?

"Bagaimana? Dengan begini beres, 'kan?" tanya Naruto dan melihat Hinata. Ia kaget melihat ekspresi Hinata. Ekspresinya itu, malu? "Hinata?" tanyanya tidak percaya. Baru kali ini ia melihat ekspresi seperti itu.

"Dagingnya sudah selesai! Ayo ke tempat lainnya," Hinata langsung kabur dengan sendirinya. Bagaimana tidak? Dikatakan seperti itu oleh orang yang disukainya, pasti malu, 'kan? Tapi apanya yang dagingnya sudah selesai coba? Belum ada satu pun daging yang didapatkan.

Tidak peduli dengan daging yang terlupakan, Naruto hanya terpana melihat pemandangan tadi. Melihat Hinata yang terdiam karena malu, ditambah dengan semu merah di pipinya, seperti ada yang bergejolak didalam dadanya. "Tadi, Hinata kok lebih manis dari biasanya ya?" tanyanya pada dirinya sendiri. Naruto tidak percaya dengan yang dilihatnya, Hinata benar-benar lebih manis dari biasanya. Ia mengucek-ngucek matanya, mungkin ada debu yang masuk ke dalam matanya. Tapi itu tidak mungkin~

Masa secepat ini sih Naruto berpindah hati? Naruto memegang dadanya, adakah yang salah pada prosesnya?

'Mungkinkah ini waktu yang pas untuk melahirkan perasaan baru dalam diriku?'

~ XII ~

˚°◦ ◦°˚ ◐ Lahir ◐ ˚°◦ ◦°˚

~ XII ~

"Naruto bawa sepeda?" tanya Hinata disaat mereka sudah berada di luar supermarket.

Naruto mengangguk, "Ya, soalnya 'kan nanti bawa belanjaan banyak dan berat. Jadi tidak perlu membebani tangan." jawab Naruto sekalian menjelaskan kenapa Naruto membawa sepeda.

"Terima kasih ya,"

Naruto dan Hinata terlalu asyik mutar-mutar supermarket, sampai-sampai didalam supermarket bisa sampai tiga jam. Jadi sekarang sudah jam tiga siang. Sedangkan, koi hitam itu munculnya saat waktu sudah gelap. Bagaimana ya? Apa yang harus dilakukan sekarang?

"Hari ini mau ke sekolah lagi, 'kan?" tanya Naruto sambil menggoes sepedanya. Naruto sudah tahu kebiasaan Hinata, dan Naruto mau mendukungnya.

"Iya, tapi nanti saat sudah menggelap." jawab Hinata. Tapi kalau ditemani Naruto sih, Hinata tidak akan merasa bosan. Tapi kalau Naruto yang merasa bosan gimana? Hinata tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat itu terjadi.

"Bagaimana kalau main ke rumahku dulu?" pertanyaan ini malah membuat Hinata berpikiran macam-macam. Cocok tidak sih seorang Hinata berpikiran macam-macam seperti ini? Itu semua karena Ino menceritakan hal-hal aneh.

"Eh?"

"Jangan pikir yang macam-macam dulu. Aku mengajakmu ke rumah bukan untuk niat seperti itu. Lagian hal begituan mana mungkin kulakukan padamu." jelas Naruto setenang-tenangnya, padahal didalam hati Naruto, paniknya malah melebihi Hinata. Hati Naruto berteriak seperti ini, apa yang kau bicarakan bodoh!?

"Yah~ Sebenarnya di rumah tidak ada siapa-siapa. Aku jadi sedikit kesepian," mendengar ini, Hinata jadi merasa tidak tega. Pasti di rumah Naruto memang tidak ada siapa-siapa, karena hanya dirinya sendiri yang tinggal disana. Tidak ada keluarga yang menemani~

"Baiklah, tiga jam aku akan main di rumah Naruto." kata-kata Hinata ini membuat Naruto senang, "Asyik!" teriak Naruto sampai-sampai kehilangan konsentrasi mengendarai sepedanya. Setir sepeda yang dipegang olehnya belok kemana-mana, untungnya dapat dikendalikan oleh Naruto lagi.

Sampai sudah Hinata pada tujuannya, rumah Naruto. "Permisi," salam Hinata dan memasuki rumah itu secara perlahan.

"Tidak usah permisi, lagian disini juga tidak ada siapa-siapa. Anggap saja rumah sendiri," kata Naruto dan mendorong-dorong Hinata masuk ke dalam rumahnya. "Maaf agak berantakan," koreksi kata-kata Naruto. Bukannya agak lagi, tapi ini namanya sudah super berantakan! Sepatu dimana, rak sepatunya disini. Baju kotor berserakan, tumpukan piring yang sudah menggunung, dan buku komik yang dibiarkan tergeletak begitu saja di lantai.

"Sebenarnya hari ini aku mau beres-beres," Naruto mengambil komik yang ada di lantai itu dan menaruhnya di rak buku. "Hinata duduk saja, aku akan bereskan ini dulu." Hinata duduk di kursi yang sudah disediakan oleh Naruto.

Sebenarnya, Naruto mengajak Hinata ke rumahnya itu, modus tidak sih? Melihat Naruto yang kurang becus dalam hal beres-beres, yah... Hinata juga tahu sih, makanya ia tidak bisa tinggal diam. Ia mengikat rambutnya dan datang pada Naruto. "Biar aku yang cuci, Naruto yang lap." Hinata langsung saja merebut spons dari tangan Naruto tanpa permisi.

Naruto hanya bengong dan membilas tangannya yang penuh dengan sabun, dimulailah aktifitas cuci dan lap itu. Mata Naruto menyerembet sebentar ke kalung yang digunakan Hinata. "Wah! Magatama!" serunya girang.

"Ah~ Ini. Setelah lama tidak dipakai, aku memutuskan untuk memakainya lagi." jawab Hinata membalas seruan Naruto. Padahal belum sampai seminggu Hinata tidak memakainya, tapi sudah terasa sangat lama.

"Hahaha! Manis kok," lagi-lagi, Naruto membuat Hinata malu. Tapi kali ini Hinata tidak mau pingsan, melainkan rasanya senang sekali.

"Terima kasih," jawab Hinata, dan lagi-lagi, Hinata mengeluarkan senyuman yang begitu amat manis di mata Naruto. Sampai Naruto bengong karenanya, begitu manis!

PRANG! Dan piring yang tidak bersalah itu pun tergelincir dari tangan Naruto.

"Huaaa!" seru Naruto. Apa yang dilakukannya!? "Maaf! Maaf!" Naruto meminta maaf akibat perbuatannya yang tidak disengaja olehnya. Naruto jadi ceroboh karena aura yang dipancarkan Hinata. Aura apa sebenarnya itu? Naruto benar-benar tidak mengerti.

"Biar aku yang bersihkan," Hinata langsung jongkok untuk mengambil pecahan piring itu. Tapi tangannya ditahan oleh Naruto, "Ini salahku, biar aku yang membereskannya." kata Naruto dan mengangkat pecahan itu perlahan.

Selesai semuanya beres, Hinata memasakkan makan malam untuk Naruto. "Asyik," seru Naruto gembira. Sudah lama Naruto tidak merasakan makan malam bersama dengan seseorang. Selalu saja sendirian~

"Sudah jadi," tambah semangat pula ketika telinga Naruto mendengar ini. Makanannya sudah jadi! Makanan itu pun dihidangkan oleh Hinata. Siap sudah untuk dimakan~

"Selamat makan!" seru Naruto. Itu membuat Hinata tertawa, karena begitu mirip dengan anak anjing yang kegirangan.

'Lucu,'

Habis sudah makanan itu, dan perut juga sudah terasa kenyang. Kembali mereka mencuci piring-piring yang kotor, dan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul lima sore.

"Wah! Sudah waktunya ya," seru Naruto. Ia buru-buru bergerak membawa jus dingin itu mendekati Hinata. Tapi karena kecerobohannya, Naruto tersandung kabel dan menyenggol Hinata yang sedang berdiri.

BRUAK! Hinata jatuh ditimpa oleh Naruto. "Sakit~" rintih Hinata pelan. Naruto yang mendengar itu langsung mengangkat tubuhnya. "Maaf," untuk kedua kalinya Naruto meminta maaf.

Tidak terasa, mata bertemu mata, malah membuat Naruto dan Hinata bersemu. Tanpa sadar ia memalingkan wajahnya dan melihat jus yang tadi ada didalam gelas, kini berada di baju Hinata.

"Maafkan aku!" seru Naruto dengan cepat, ia langsung berdiri dan sekali lagi meminta maaf. Dengan begini, sudah keempat kalinya Naruto meminta maaf pada Hinata.

"Tidak apa, tinggal dikasih air juga hilang." Hinata berdiri menuju dapur, sedangkan Naruto membersihkan tumpahan jus terlebih dahulu.

"Aku payah," rutuk Naruto sedih.

Lima menit Hinata tidak datang, Naruto jadi menghampiri Hinata. Sepertinya sisa jus tadi susah untuk dibersihkan~

"Bagaimana?" tanya Naruto.

"Ah, tidak apa-apa kok." balas Hinata.

Naruto melihat noda jus tersebut, "Bagaimana kalau ganti baju?" tawarnya. Dengan cepat Hinata menggelengkan kepalanya dan berkata tidak usah. "Kenapa?" Naruto yang masih belum mengerti malah bertanya kembali.

Memangnya Naruto punya baju yang seukuran dengan Hinata? Melihat wajah Naruto yang memerah, malah jadi tertular pada Hinata. "Itu.. Aku tidak bermaksud begitu!" akhirnya Naruto sadar dengan ucapannya sendiri, ia jadi gelagapan karenanya.

"Hmm.. Gimana ya? Kalau gitu aku ambilkan jaket saja!" seru Naruto dan berlari dengan terburu-buru, untuk mengambil jaket yang dimaksud olehnya. Tapi, lagi-lagi Naruto berbuat hal yang salah.

Pundaknya yang besar, mengenai Hinata. Hinata jatuh, dan menghantum lemari. "Maaf!" seru Naruto lagi. Tapi sebelum mau membantu Hinata, lagi-lagi ada kejadian tidak terduga menimpa Hinata.

DUK~ Tepung jatuh diatas kepala Hinata. Sekujur tubuh Hinata putih semua! Hinata hanya kaku di tempat karena tidak tahu harus melakukan apa. Sedangkan Naruto, "Itu.. Ano.." Ia tidak tahu harus berkata apa-apa.

Dengan begini, jangankan ganti baju, sekarang Hinata harus mandi!

"Haa~" Hinata menghela nafasnya. Kok rasanya seperti ada kejadian buruk yang bertubi-tubi datang padanya ya? Tapi ia tidak boleh berpikiran buruk, semuanya harus dipikirkan secara positif. Mungkin ada sesuatu yang indah di akhirnya.

"Bajunya aku taruh disini ya!" seru Naruto dan berlalu dari sana.

Selesai mandi, Hinata keluar dengan mengenakan baju yang kelonggaran itu. "Maaf sudah merepotkan," ucap Hinata merasa bersalah. Naruto menggoyangkan tangannya, "Seharusnya aku yang bilang itu," Naruto pun menyerahkan jaket tersebut untuk digunakan Hinata.

"Sekarang mau ke sekolah, 'kan?"

"Iya,"

Perjalanan ke sekolah, tidak ada yang bicara sama sekali. Bahkan sampai saat Hinata memberikan makan koi hitam. Tapi, hari ini benar-benar menyenangkan bagi Naruto dan Hinata. Walau banyak masalah yang datang, tapi oke-oke saja.

"Terima kasih untuk hari ini," ucap Hinata.

"Ah! Iya. Sama-sama," balas Naruto.

Dibawah sinar bulan yang begitu bersinar, disinilah lahir perasaan baru. 'Aku baru tahu, ternyata Hinata semanis ini.' Hembusan angin malam yang menemani keduanya. 'Kalau aku jadi suka sama Hinata, gimana ya?' batin Naruto, ia melihat Hinata, dan ternyata benar, jantungnya jadi tidak karuan karenanya. Hinata terlihat bersinar di matanya~ Malah lebih bersinar daripada melihat Sakura. Kok bisa ya?

'Selama ini aku selalu bersama dengannya, tapi kenapa aku tidak pernah menyadarinya. Bahwa ada seorang yang sangat berharga untukku, sedekat ini.' akhirnya Naruto menyadarinya, Naruto mengakuinya. Menyadari perasaan yang sebenarnya, perasaan yang baru lahir ini, akan terus dijaga olehnya.

'Perasaan ini, lahir karena Hinata, 'kan?'

::

::

To Be Continue ◐

::

::

Hohoho~ Akhirnya chapter ini pun telah selesai. Bagaimana? Maaf kalau detik-detik lahirnya perasaan baru Naruto ke Hinata biasa-biasa saja. Tapi setidaknya chapter ini tidak mengecewakan kalian semua. Berikutnya adalah chapter "M", makin mendekat pada akhirnya. Mudah-mudahan ada yang menantikan chapter berikutnya. Tapi mungkin akan lama update-nya, karena detik-detik menuju UN sudah semakin dekat.

Thanks To :

Sena Ayuki, rika, , Haruta Hajime, DrunKenMist99, cah apik, blackschool, Crow, Yasuna Katakushi, Ayuba, dan pembaca sekalian.

Jaa~

Bertemu lagi di chapter "M"

V

V

V