Chapter "P" update! Terima kasih sudah membaca dan memberikan review pada chapter sebelumnya. Terima kasih sudah menunggu sampai chapter "P" ini update. Sekarang waktunya sesi pembalasan review~

Haruta Hajime : Haha, memang begitu. Hohoho, itu tentu saja. Soalnya 'kan Naruto begitu, oke.

firmanuciha4 : Haha, iya tuh.

Hiramekarei : Iya nih, makasih udah ditunggu..

abiegael. sejathie : Eh? Begitu ya. Hohoho, sayangnya bukan 'perasaan' tapi 'pacar'. Makasih~

Yasuna Katakushi : Memang baru dimulai, tapi perkiraan dari no. 1-3 salah. Perkiraan no. 4 bener tuh, tapi yang no. 5 salah lagi. Haha, banyak sekali. Makasih udah ditunggu.

flame. arms : Yap, memang benar. Tentu saja di atas dong~ #jduak. Bukan 'P3K', tapi 'Pacar'. Hohoho~ Kami memang kakak adik, tapi lebih dari kakak adik. Kami saudara kembar~ #plakjduak #abaikan #iniaslilho

Jasmine DaisynoYuki & BerryPolkan : Arigatou, ini udah lanjut.

Yoona Ramdanii : Iya tuh, bagaimana kalau jadi menantu asli ya. Hohoho~

Sena Ayuki : Jarang soalnya ada obat yang manis, arigatou. Iya ya, banyakan benda. Tapi f tidak, chapter ini bukan benda. Tapi kata ganti orang sepertinya, chapter ini mungkin sebutan. Ini udah lanjut~

DrunKenMist99 : Arigatou, hohoho memang. Ini udah lanjut~

Crow : Arigatou, tapi bukan 'perasaan'. Ini udah lanjut~

Ayuba : Arigatou, ada yang bener tuh. Ini udah lanjut~

naomi811 :Arigatou~ Iya, udah lama banget. Arigatou~

Rifalrifaldi7gmail. com : Haha, apa aja boleh kok. Ini udah lanjut, tentu saja.

Selamat membaca~

::

::

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

26 Days : Koi of Love © Haruna Hajime

::

Pairing: Hinata Hyuuga & Naruto Uzumaki

::

Genre: Romance

::

Warning: Silahkan dibaca dan lihatlah kesalahan-kesalahan yang kapan saja bisa terjadi di fic ini. Yang pastinya Hinata agak sedikit OOC, itu menurutku.

::

Rated: T

::

~ Happy Reading ~

::

::

::

Pegangan tangan, pelukan, ciuman, itu adalah kegiatann yang dilakukan saat berpacaran. Itulah kata Ino, dan kemarin aku baru melakukan salah satu hal itu dengan Naruto. Meski tanpa sengaja, itu sedikit membuatku takut! Aku tidak pernah berpikir sejauh itu. Kalau perasaanku terbalas, aku tidak pernah terpikir bahwa kami akan pacaran.

Kalau kami pacaran, apakah semuanya akan baik-baik saja?

::

::

26 Days : Koi of Love ◐

::

::

"Aku berangkat~" kali ini, dikeberangkatannya menuju sekolah, Hinata diantar sampai persimpangan oleh Hiashi. Kenapa?

"Hati-hati dengan bocah pirang itu," untuk memperingati anaknya, supaya berhati-hati dengan Uzumaki Naruto. Setelah kejadian kemarin malam, Hiashi harus waspada pada bocah pirang itu. Kemarin Naruto telah melakukan hal yang gawat sehingga membuat Hinata pingsan bukan hanya posisinya saja, tapi ada sesuatu yang lebih dari sebuah posisi.

"Bocah pirang itu, seenaknya menyentuhmu. Seenaknya melakukan hal terlarang didepan mataku," bahkan Neji pun ikut-ikutan mengantarnya. Kejadian kemarin malam memang hal yang mengagetkan baginya. Bahkan dirinya dengan pacarnya sendiri pun, sangat jarang melakukannya. Sentuhan lembut itu, lupakan.

"Iya~"

Pagi-pagi sudah ada peringatan seperti itu, bagaimana kalau ada orangnya langsung ya? Pasti Hinata sudah dijaga ketat oleh Hiashi dan Neji. Untungnya sih saat ini Naruto belum ada, jadi tidak bertemu Hiashi dan Neji. Padahal biasanya ia bertemu dengan Naruto di persimpangan ini. Hinata melambaikan tangannya setelah Hiashi dan Neji pergi. Setelah Hinata sadar dari pingsan, Naruto sudah tidak ada. Mungkin sudah diusir oleh ayahnya, saat itu 'kan Hiashi sedikit marah.

Kembali mengingat kejadian kemarin, 'Terasa lembut,' Hinata memegang bibirnya. Beberapa detik kemudian, "Apa yang kupikirkan?!" teriaknya dan menggoyang-goyangkan kepalanya, untuk membuyarkan pikirannya. Inilah yang terjadi, meski tidak diberitahukan, sebenarnya bibir mereka sedikit bersentuhan saat jatuh kemarin. Tidak terlalu dalam, tapi dapat membuat semuanya marah. Itu benar-benar kejadian yang tidak pernah diduga olehnya. Yah~ Kalau sudah seperti itu pasti akan membuat Hiashi dan Neji marah besar. Jadi terjadilah jeritan Naruto di malam hari, tapi semua masalah itu sudah terselesaikan saat Hiashi mengusir Naruto untuk pulang. Kalau seperti itu, namanya belum selesai, 'kan?

"Hehe,"

"Eh?" Hinata mendengar suara tertawa, ia melihat sekelilingnya. Masa ada hantu di pagi hari? Saat ia menengokkan kepalanya, dilihatnya Naruto yang tepat ada dibelakangnya! "Na-Naruto?" tanyanya tidak percaya. Semburat merah muncul di pipinya, ia malu karena menunjukkan tingkah yang aneh. Sudah begitu, kemarin mereka melakukan hal yang tidak terduga dan secara tidak sengaja. Lalu, mereka bertemu di persimpangan ini lagi.

Inilah yang terjadi, kalau Hiashi dan Neji tidak mengantar Hinata sampai sekolah. Bocah pirang yang harus diwaspadai, sekarang malah ada di hadapan Hinata. Tapi percuma juga kalau diantar sampai sekolah, karena pada akhirnya mereka akan tetap bertemu di sana.

"Maaf ya, aku jadi melihat tingkah anehmu." ucap Naruto meminta maaf, ia berjalan sejajar dengan Hinata. "Maaf atas yang kemarin ya," lanjutnya.

Mereka pun berjalan kembali untuk menuju sekolah. Selama lima menit tidak ada yang bicara, hanya jalan saja. Mungkin situasi ini membuat perasaan Hinata tidak enak, begitu juga Naruto. Suasana hening di pagi hari, hanya terdengar suara angin yang berhembus dan gesekan dari ranting-ranting pohon.

'Apa yang harus dibicarakan?!' batin Naruto berteriak dalam hatinya. Setelah kejadian kemarin, Naruto jadi tidak bisa bercanda lagi. Kalau bercanda, takutnya nanti ada salah paham.

"Naruto~" Hinata memanggil Naruto, dan langsung saja direspon oleh Naruto. "Ya?!" tanyanya cepat. Mungkin karena terlalu antusias untuk pembicaraan yang dimulai oleh Hinata. Lebih baik daripada diam seribu bahasa, 'kan?

"Apakah Naruto pernah, ciuman?" mungkin karena teringat kejadian kemarin, Hinata jadi penasaran. Ciuman yang kemarin itu, adalah ciuman yang keberapa bagi Naruto. Mungkin tidak masuk hitungan karena itu terjadi karena sebuah kecelakaan. Tapi gimana ya? Yang namanya ciuman pertama itu.

Telak sudah, Naruto kaget setengah mati! Hampir saja ia jatuh dan menggelinding ke sawah di sampingnya! Tapi kenapa Hinata menanyakan hal itu padanya ya? Mencoba menenangkan diri, ia harus menjawab pertanyaan Hinata. "Sebenarnya, yang kemarin adalah yang pertama bagiku." jawab Naruto jujur, malu juga sih sebenarnya. Laki-laki yang umurnya sudah tujuh belas tahun, tapi tidak pernah ciuman sama sekali. Pernah sekali dengan Hinata, itu juga karena sebuah kecelakaan. Tapi, meski kecelakaan, itu sangat berarti bagi Naruto, begitu juga dengan Hinata.

"Sebenarnya, itu juga yang pertama kalinya bagiku." balas Hinata.

Di sini, Naruto kaget ditambah dengan rasa bersalah yang sangat besar. Seharusnya, ciuman pertama itu dilakukan dengan orang yang disukai. Sedangkan, Hinata malah berciuman dengan Naruto? Orang yang belum tentu disukai oleh Hinata. "Sekali lagi maafkan aku!" seru Naruto, ia menyatukan kedua tangannya dan menundukkan kepala sebagai permohonan maafnya.

Hinata menggeleng, "Tidak apa, itu terjadi juga karena kecerobohanku." ia tidak mau membuat Naruto beranggapan bahwa semua itu terjadi karena Naruto saja. Ini juga karena Hinata tidak berhati-hati dalam melangkah dan akhirnya jatuh menimpa Naruto.

"Selain itu, kata Ino, dalam hubungan pacaran, ciuman adalah hal yang wajar." mendengar ini, Naruto jadi syok di tempat.

Hal yang wajar? Eh, tapi 'kan Naruto dan Hinata tidak pacaran. Kenapa Hinata berbicara seperti itu? Bukan masalah pacarannya sih, tapi masa... Ciuman itu, adalah hal yang wajar? Sejak kapan Hinata-nya memiliki pemikiran seperti itu? Kapan Ino memberi pengetahuan konyol seperti itu?

"Tapi, walaupun seperti itu, aku tetap tidak menyukai hal itu." Naruto mendengar cerita Hinata, sambil berjalan sambil mendengarkannya. Mendengar keluh kesah Hinata, hal yang tidak disukai olehnya. Bisa dibilang, ciuman adalah hal yang menjijikkan baginya. Ya itu kalau bukan dengan orang yang disukai.

"Meski aku memiliki pacar sekalipun, kalau pacarku mau memintanya, karena itu adalah hal wajar. Tapi, aku tidak mau. Tapi katanya itu adalah hal yang wajar. Kalau tetap kulakukan, tapi secara terpaksa, itu bukan kebahagiaan 'kan namanya?" Naruto sudah mulai tidak betah mendengarnya. Ia menahan Hinata dan memegang kedua pundak Hinata.

"Itu tidak benar! Apanya yang ciuman terpaksa? Kalau tidak mau, katakan saja tidak mau! Itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan namanya wajar atau tidak!"

"Eh?"

"Yang namanya pacaran itu, tidak ada yang memutuskan kehendak orang. Kita mau apa, lakukan saja. Tapi kalau secara terpaksa, ya jangan lakukan. Kebahagiaan dalam pacaran itu, ketika kedua belah pihak menerima satu dengan yang lainnya. Dan yang terpenting, mereka memiliki perasaan yang sama." jelas Naruto menatap wajah Hinata dalam-dalam.

Melihat wajah serius Naruto, Hinata jadi tersedot ke dalam mata itu. Ia memalingkan wajahnya, "Aku mengerti," katanya. Hinata memalingkan wajahnya agar tidak terlihat oleh Naruto, bahwa wajahnya sedang memerah.

"Baguslah kalau Hinata sudah mengerti," ucap Naruto tersenyum, dan senyuman ini benar-benar keren di mata Hinata. Ia benar-benar menyukai orang yang bagaikan mentari ya?

Naruto melepaskan pegangannya pada pundak Hinata, "Eh, tapi kalau ciuman yang kemarin, Hinata merasa menyesal tidak?" tanya Naruto tiba-tiba, ia penasaran. Hinata 'kan orang yang tidak suka ciuman, dan kemarin tidak sengaja Hinata berciuman dengan Naruto.

"Eh?" Hinata jadi mengingat kejadian kemarin, dan itu benar-benar membuatnya malu. Rasanya mau pingsan! Rasanya pun masih terasa sampai sekarang. Memang ciuman adalah hal yang menjijikkan baginya, tapi itu kalau dilakukan dengan orang yang tidak kita sukai. Tapi kalau dengan orang yang disukai, gimana ya?

"Kalau aku sih, tidak menyesal!" seru Naruto kegirangan. Mungkin saat ini Naruto mau menjahili Hinata saja. Menghilangkan rasa canggung yang ada pada diri Naruto, dengan candaan yang mulai terngiang di dalam pikirannya.

"Eh?" mata Hinata sudah seperti obat bakar nyamuk sekarang, merasa bingung dengan apa yang didengarnya, ditambah dengan rasa malu yang berlebihan.

"Bibirmu lembut," lanjut Naruto sambil memegang bibirnya sendiri.

Hinata yang melihat itu, tidak dapat berkata apa-apa. Kepalanya berasap, rasanya begitu panas. Memang benar, Hinata juga beranggapan bahwa bibir Naruto lembut. Tapi kok, pembicaraannya jadi mengarah ke sini sih? Sebenarnya apa yang mau Naruto lakukan!? Bukannya ini pembicaraan yang tidak boleh dibicarakan oleh anak remaja?

"A-aku..." saking bingungnya, ia tidak tahu harus membalas ucapan Naruto seperti apa. Suhu tubuhnya makin memanas saja, sudah benar-benar tidak dapat dikontrol.

"Lain kali kita lakukan lagi ya?"

BRUK! Hinata tidak tahu apa niat Naruto sebenarnya, sampai mengatakan hal-hal yang tidak perlu itu. Menjahilinya? Menggodanya? Atau malah, itulah yang ada di hati Naruto sebenarnya? Yang jelas, itu semua telah membuat Hinata mencium tanah, dan pingsan.

"Eh? Hi-Hinata? Kok pingsan sih?"

Pagi hari ini, Hinata sudah mendapatkan godaan dari Naruto, teman masa kecilnya sekaligus orang yang sangat disukainya. Tentang hal yang benar-benar tidak disukai Hinata~

"Hinata? Kalau tidak bangun, aku cium lho!"

~ XVI ~

˚°◦ ◦°˚ ◐ 16th Day ◐ ˚°◦ ◦°˚

~ XVI ~

"Hinata? Kau sudah sadar?"

Hinata mengerjapkan matanya, ia terbangun karena mendengar suara yang begitu dikenal olehnya. "Naruto?" matanya terbuka seutuhnya, melihat langit pagi yang begitu cerah dari balik jendela. Ia memegang kepalanya, lagi-lagi Hinata pingsan. Padahal baru kemarin malam ia pingsan, pagi ini pun ia pingsan lagi. Pingsan karena malu, bukannya karena sakit.

"Syukurlah~"

Hinata bangun, sekarang ia duduk. Melihat keadaan sekitar, "Ini di UKS sekolah?" tanyanya kemudian. Dengan ruangan yang serba putih, ditambah dengan perlengkapan kesehatan dan obat-obatan. Sudah pasti UKS, tidak ada ruangan yang seperti ini lagi di sekolah.

"Iya," jawab Naruto.

Tapi kok, ada di sekolah sih? Bukannya tadi, Hinata ada di tempat yang lain. "Tapi 'kan, tadi..." Hinata tidak percaya dengan keberadaannya sekarang. Jangan bilang habis pingsan, Hinata teleportasi tiba-tiba? Sungguh tidak mungkin.

"Aku menggendongmu sampai sini~" ternyata, Naruto yang melakukannya. Tapi... Apa katanya tadi? Menggendong Hinata dari tempat Hinata pingsan sampai ke sekolah? Yang benar saja!? Itu jauh. Memangnya Naruto tidak lelah menggendong Hinata sejauh dan seberat itu? Sudah begitu, memangnya tidak malu dengan pandangan orang lain?

"Pasti berat," ucap Hinata bersalah. Lagian kenapa pakai pingsan segala sih? Padahal sudah biasa Hinata dibuat malu oleh Naruto, dan tidak pingsan. Tapi sekarang? Jangan-jangan penyakit lama Hinata kambuh lagi, gawat.

"Lumayan sih~ Tapi aku 'kan laki-laki," jawaban Naruto membuat Hinata syok. Lumayan berat ya? Mungkin Hinata harus mengurangi jatah makannya. Mana ada sih perempuan yang mau dibilang berat oleh orang yang disukainya. Padahal Naruto berbohong masalah berat badan Hinata.

"Anoo.. Maaf merepotkan," dan lagi-lagi, Hinata telah merepotkan Naruto. Mungkin sudah ratusan lebih kerepotan yang diberikan Hinata untuk Naruto. Dari kecil hingga besar, pasti sudah banyak Hinata menyusahkan Naruto.

"Tidak merepotkanku kok!" balas Naruto tersenyum. Aduh~ Kalau Naruto tersenyum seperti itu, benar-benar membuat Hinata luluh. Bisakah tidak menunjukkan senyuman yang sangat bahaya itu disaat seperti ini?

Teng~ Teng~ Teng~

Bel dimulainya sekolah pun telah berbunyi, Naruto membantu Hinata berdiri dan mereka pun berlari menuju kelas berdua. Sampai di kelas, Hinata langsung disambut Ino dari kejauhan.

"Hinata!" panggil Ino, ia menepuk-nepuk tempat duduk di sebelahnya seakan menyuruh Hinata untuk duduk di sana.

Hinata mendekati Ino, "Tapi, itu 'kan tempatnya Kiba." ucapnya sedikit menolak. 'Kan tidak enak kalau duduk di tempat yang sudah menjadi punya orang lain.

"Biarin saja! Kalau orangnya datang, akan kuusir. Ada hal penting yang mau keberitahukan padamu!" seru Ino menggeser bangku yang masih kosong itu, agar Hinata bisa duduk dengan lancar tanpa terhalangi benda apapun.

"Baiklah~" Hinata pun menerima permintaan dari Ino. Ia duduk di sebelah Ino dan menaruh tas-nya di samping meja. Hal penting ya? Hinata penasaran dengan hal penting itu.

Tepat dengan Hinata yang duduk, muncullah sosok pemilik bangku itu dari balik pintu. "Selamat pagi!" sapanya, Kiba Inuzuka.

Dengan semangatnya Kiba berjalan menuju tempat duduknya, tapi ia malah melihat Hinata yang mendudukinya. "Ini, apa ya?" tanya Kiba saat sampai di tempat tujuannya.

"Kamu tidak lihat? Ini Hinata~ Matamu dimana?" tanya Ino kesal, seakan mengajak Kiba untuk berantem.

Pagi-pagi sudah dibuat kesal, tangan Kiba sudah terangkat dan terkepal dengan sempura. Di kepalan itu juga, ada perempatan. "Bukan itu maksudku," bahkan suaranya terdengar sangat marah.

"Oh, hari ini Hinata akan duduk di sini sampai pulang! Jadi jangan usir Hinata dari tempat ini," seru Ino dengan tatapan mata yang tajam dan menginjak kursi dengan sebelah kakinya, bagaikan berandalan.

Ini benaran mau ngajak berantem ya? "Oh begitu ya?" tanya Kiba kesal, rasanya benar-benar mau memukul orang yang telah membuatnya kesal. Lagian kenapa bisa coba? Saat terjadi rotasi tempat duduk, ia malah sebelahan dengan Ino?!

"Maaf Kiba, aku tidak tahu kalau kamu begitu menyukai tempat ini. Aku akan pindah," ucap Hinata meminta maaf, ia berdiri dan bersiap-siap mengambil tasnya.

"Eh? Tunggu!" seru Kiba dan Ino secara bersamaan. Tangan Ino menahan pundak Hinata, sedangkan tangan Kiba menghentakkan meja.

"Kamu harus tetap sisini," kata Kiba meletakkan tas Hinata kembali. "Iya! Kamu di sebelahku saja." ucap Ino tidak mau kalah.

Hinata menatap Kiba dan Ino secara bergantian, kenapa keduanya ingin sekali Hinata duduk di kursi ini ya? Mungkin karena seperti yang dikatakan Ino, ada hal yang mau dibicarakan olehnya. Kalau Kiba, mungkin saja ia mau mencoba duduk di tempat Hinata. Kalau Naruto? Tentu saja ia heran melihat kejadian pagi ini.

"Baiklah~" akhirnya Hinata pun duduk kembali.

"Kalau begitu aku duduk di bangkumu ya," Kiba pun berlalu dari sana. Menuju bangku Hinata berada, "Hari ini aku disini ya," katanya pada orang sebelah dan duduk.

Hinata melihat Ino, "Jadi apa yang mau Ino bicarakan?" tanya Hinata langsung. Mumpung belum ada guru, jadi masih sempat untuk berbicara.

"Oh! Lihat nih~" Ino mengeluarkan buku petunjuk tentang cara berpacaran. Bagaimana cara menjadi pasangan yang serasi, bagaimana cara agar bisa mengerti satu sama lain, dan sebagainya. "Baca bagian ini deh," Ino membuka halaman yang disuruh baca oleh Hinata, ia menujuk judul topiknya.

"Arti ciuman bagi seorang pacar?" Hinata membaca tulisan di buku itu, dan ini yang membuat Hinata cukup tegang. Memangnya apa artinya?

Sebagai orang yang berpengalaman, seharusnya Ino kasih tahu langsung saja, bukannya kasih tunjuk melalui buku. Tapi hal ini memang hal yang membuat Hinata bingung sih, jadi Hinata baca saja.

'Kebanyakan orang berpikir, ciuman adalah hal yang wajar dalam pacaran. Tapi sebenarnya yang mereka pikirkan itu tidak benar. Mereka bilang, ciuman itu sebagai "bukti" perasaan mereka. Padahal ciuman itu hanyalah sebuah "tindakan" yang mungkin tidak penting bagi beberapa orang. Yang terpenting dalam hubungan bukanlah sentuhan dari luar, tapi dari dalam. Itu adalah, perasaan.' Hinata terdiam membaca buku itu, inti yang dibilang oleh buku dan inti yang dibilang oleh Naruto hampir sama. Apa Naruto juga membaca buku seperti ini?

"Ucapanku yang waktu itu salah," Hinata melihat Ino yang menopang dagunya. "Tapi sebenarnya, melakukan hal seperti itu menyenangkan juga. Sangat jarang aku mendapatkannya," ucap Ino dengan wajah datar. Meskipun itu adalah hal yang tidak penting dalam berpacaran, tapi rasanya ingin melakukannya. Mendapatkan ciuman dari orang yang disayangi itu, benar-benar sebuah keajaiban.

"Aku mengerti perasaanmu," Hinata menepuk-nepuk punggung Ino, mencoba menenangkannya. Bisa dibilang, hubungan Ino dan Sai memang kurang romantis. Tapi walaupun begitu, perasaan keduanya begitu besar. Jadi apapun masalahnya, selalu saja selesai dengan baik.

"Hinata juga tahu, 'kan? Itu adalah hal yang menyenangkan!" seru Ino dan mendengus kesal, ia jadi bercerita pada Hinata deh.

"Menyenangkan?" lagi-lagi Hinata kembali mengingat kejadian kemarin malam. Kejadian itu, benar-benar sangat cepat. Tapi, apa mungkin hal ini harus diceritakan pada Ino?

Blush~ Wajah Hinata memerah seketika, dan membuat Ino jadi kaget dan berseru senang. "Hayoo~ Pernah melakukannya sama siapa? Naruto ya?" tanya Ino dengan nada jahil.

"Bu-bukan kok!" elak Hinata menggerakkan kedua tangannya. Berusaha untuk menutupi semuanya, agar tidak menjadi bahan Ino untuk menjahili Hinata.

"Terus, kenapa wajahmu memerah seketika?" tanya Ino, kali ini ia bingung karena Hinata mengelaknya.

"Itu..." Hinata bingung mau menjawab apa sekarang, haruskah ia berbohong? Tapi, berbohong itu adalah hal yang tidak disukai oleh Hinata. Jadi, apa yang harus dilakukan olehnya!?

"Hayooo~" kembali Ino menjahili Hinata. Tapi~

"Woy! Guru datang~!" seruan itu mengurungkan niat Ino.

'Syukurlah~' batin Hinata lega. 'Tapi, kalau pacaran itu, mungkin memang hal yang menyenangkan.' pikir Hinata.

Setelah membaca buku, mendapat pencerahan dari Naruto, dan merasakan kebahagiaan yang Ino rasakan, Hinata jadi makin mantap dengan perasaannya. Kalau status Hinata yang tadinya hanya "teman masa kecil" menjadi "pacar" Naruto, pasti memiliki kebahagiaan tersendiri. Merasakannya saja sudah menyenangkan, apalagi kalau itu benar-benar terjadi.

"Lain kali cerita-cerita tentang perkembangan hubunganmu dengan Naruto ya," pinta Ino.

"Iya,"

Pelajaran pun dimulai seiring dengan perasaan Hinata yang lambat laun telah menenang.

~ XVI ~

˚°◦ ◦°˚ ◐ Pacar ◐ ˚°◦ ◦°˚

~ XVI ~

"Bosan~" Hinata mengeluh sambil melihat koi putih yang berenang. Apa koi putih dan hitam itu, tidak pernah merasa bosan? Berenang terus, tidak ada kerjaan lainnya.

Hinata menopang dagunya, ia sudah memberi makan pada koi putih. Sisa memberi makan koi hitam, dan akhirnya pulang. Tapi, apakah kehidupan seperti ini terus tidak membosankan? Bangun pagi, beres-beres sekolah, berangkat sekolah, belajar, istirahat, makan, kasih makan koi putih, masuk, belajar lagi, pulang sekolah, kasih makan koi hitam, pulang ke rumah, beres-beres, lalu tidur. Selalu saja seperti ini, selalu dan selalu terulang.

"Hinata, bekalku sudah habis." Ino menghampiri Hinata yang berjongkok itu, dan menyodorkan kotak bekal Hinata. "Ayo kembali ke kelas," ajak Ino.

Hinata berdiri dan mengambil kotak bekalnya, "Iya," akhirnya mereka pun berjalan kembali ke kelas. Walau belum ada bel istirahat selesai, setidaknya gunakan waktu yang tersisa untuk siap-siap pelajaran yang berikutnya.

Ino melihat Hinata sebenar, dan menatap lurus kembali. Sedikit menarik nafasnya, "Kalau kau dan Naruto sudah pacaran, apa saja yang akan kalian lakukan?" dan bertanya.

Lumayan kaget, Hinata yang mendengarkan jadi sedikit salah tingkah. Pacaran ya? Apa yang akan kami lakukan saat sudah pacaran? "Sebenarnya aku belum berpikiran sejauh itu." masih sambil terus berjalan, Hinata mengucapkan apa yang ada di dalam pemikirannya. "Mungkin akan menyenangkan kalau kami memiliki perasaan yang sama dan pacaran. Tapi, kehidupan yang sekarang, sudah cukup untukku." jelas Hinata. Bisa berama dengan Naruto seperti ini saja, sudah cukup membuatnya senang berada di dunia ini.

"Yah~ Untuk saat ini, dunia kecilmu memang menyenangkan." balas Ino tersenyum tipis, temannya ini, memang selalu bersyukur dengan apapun yang terjadi. Makanya, Ino tidak pernah bosan dengan Hinata.

Sampai di kelas, Ino memberikan buku itu pada Hinata. "Untukmu, agar Hinata bisa menjadi pacar yang baik. Harus dibaca~" ia sudah memikirkannya matang-matang. Hinata memang membutuhkan pembelajaran spesial dalam hal berpacaran. Ino sengaja membeli buku itu di toko buku karena mengingat Hinata.

"Terima kasih," buku itu pun dimasukkan Hinata ke dalam tas, bertepatan dengan guru yang masuk ke dalam kelas.

"Buka buku pelajaran halaman..."

Teng~ Nong~ Neng~

Waktu pun cepat berlalu, sekarang sudah waktunya pulang bagi murid-murid sekolah.

"Hari ini cukup sampai di sini saja, silakan pulang ke rumah masing-masing. Jangan main kemana-mana, karena besok masih hari sekolah." guru itu pun berlalu ditemani dengan Naruto yang membawa tumpukan buku.

Ino melihat Naruto sebentar, dan menutup tasnya. "Aku heran," katanya kemudian.

Hinata yang sudah selesai beres-beres pun menatap Ino. "Kenapa?" tanya Hinata penasaran dengan apa yang diherankan oleh Ino.

"Kenapa bel di sekolah kita bunyinya selalu beda ya?" tanya Ino langsung, memang bunyinya selalu berbeda-beda. Walau kadang ada yang bunyinya sama, tapi tidak terlalu sering.

"Mungkin biar kelihatan unik," jawab Hinata tersenyum. Ia dan Ino keluar kelas, dan berjalan secara perlahan.

"Tidak bosen juga sih dengerinnya. Habis ini langsung ke sana ya?" tanya Ino sambil menatap Hinata sebentar, kemudian ia mengambil ponselnya dari dalam tas.

"Si Naruto?" tanya Ino kembali, dan ia melihat ada satu pesan masuk di ponselnya. Ia mulai deg-degan karena melihat siapa pengirim pesan tersebut.

"Tadi 'kan Naruto disuruh ke ruang guru sebentar, mungkin sebentar lagi ia akan menyusul." jawab Hinata berpikir positif. Kalau Naruto ditinggal, pasti dengan sendirinya Naruto akan datang padanya. Tapi kalau tidak, ya apa boleh buat.

"Oh, kalau aku bertemu dengannya, nanti aku kasih tahu deh kalau kamu sudah duluan ke sana." balas Ino buru-buru langsung menutup ponselnya dan menaruhnya kembali ke dalam tas.

"Iya, makasih ya."

Dengan berlari di tempat, Ino siap-siap melesat dari sana. "Kalau begitu aku duluan ya." serunya dan berlari dengan kecepatan penuh. "Kyaaa!" diiringi dengan suara teriakkan yang terasa begitu menyenangkan.

"Sampai besok," balas Hinata dengan nada lembut, ia tahu apa yang membuat Ino sampai sesenang itu.

Pasti, gara-gara Sai. Sebenarnya apa yang terjadi? Sai sms Ino kalau sekarang ia ada di depan gerbang menunggu Ino. Siapa sih yang tidak senang dengan hal tersebut? Apalagi jarang-jarang Sai menunggu Ino seperti saat ini.

Sekarang Hinata sudah sampai pada tujuannya, ia menaruh tas di bangku taman dan mengambil makanan ikan. Kemudian ia berjalan mendekati kolam serta menyebar makanan itu di setiap kolam. Sebenarnya, sampai kapan ya kejadian ini akan terus berlangsung? Kapan kedua koi itu keluar secara bersamaan?

"Kapan semuanya berakhir dengan bahagia?" tanya Hinata dan berjongkok di sana, bertanya pada dirinya sendiri.

"Memangnya disaat-saat seperti ini, kurang membahagiakan untukmu, Hinata?"

Lagi-lagi, Naruto muncul di hadapan Hinata secara tiba-tiba, dan selalu saja bertanya hal yang sulit untuk dijawab olehnya. Apakah disaat-saat seperti ini kurang membahagiakan? Jawabannya tentu tidak.

"Aku sudah cukup bahagia hanya dengan seperti ini saja." jawab Hinata tersenyum, walau kebahagiaan itu belum sepenuhnya ada, tapi hanya ada Naruto disisinya, itu cukup membuatnya bahagia.

"Jadi, apa yang bisa membuatmu merasa sangat bahagia?"

"Eh?"

"Yah~ Menurutku, kebahagiaan yang didasari dari kata 'cukup' itu tidak pas. Kalau mau bahagia, langsung saja, jangan 'cukup bahagia', tapi 'sangat bahagia'! Dengan begitu, kamu pasti akan merasa bahwa hidupmu itu berarti." jelas Naruto, dan mengeluarkan senyuman yang bagaikan mentarinya. Benar-benar jurus maut bagi Hinata~

Tapi, Hinata tidak dapat berkata apa-apa. Soalnya, ia akan merasa sangat bahagia, jika Naruto membalas perasaannya, dan menjadi pacarnya. Dua orang dengan satu perasaan, itu yang membuat Hinata merasa sangat bahagia. Tapi masa hal seperti itu ia kasih tahu ke Naruto, tidak mungkin.

"Ah! Apakah hal yang membuatmu sangat bahagia itu, jika kita berdua lebih dari sekedar teman?!" tanya Naruto tiba-tiba. Tapi setelah mengatakan itu, dan membuat Hinata kaget setengah mati, Naruto malah memutar matanya, berpikir. "Tapi lebih dari teman itu 'kan ada banyak jenisnya. Kakak, adik, keluarga, atau..." Naruto menahan kata-katanya, itu membuat Hinata deg-degan.

Kalau tidak ketiga itu, berarti... "Pacar!" seru Naruto. "Ah! Benar tuh~" katanya lagi. Kemudian Naruto melihat Hinata, wajah Hinata sudah mulai memanas di sana. Ini sebenarnya apa yang sedang dilakukan Naruto sih?

"Yah~ Kalau perasaan kita sama, suatu saat pasti kita..." lagi-lagi Naruto menahan kata-katanya, ia tidak sanggup melanjutkannya. Memangnya kenapa kalau suatu saat perasaan mereka sama? Meraka akan apa? Memangnya perasaan apa yang dirasakan Naruto pada Hinata?

"Kita?" tanya Hinata penasaran. Hinata tidak mengerti dengan apa yang dimaksud dengan Naruto. Perasaan yang sama apanya? Maksudnya, sayang? Kalau sayang, sudah pasti. Siapa sih yang tidak sayang sama orang yang sudah dianggap keluarga sendiri. Tapi kali ini, bukan perasaan sayang yang dimaksud Naruto.

"Lupakan saja," jawab Naruto buru-buru. "Ayo pulang," katanya kemudian. Ia langsung berlari pelan menuju tas Hinata, diambilnya tas itu. "Ayo," ucapnya lagi. Hinata tersenyum, dan berjalan pelan menuju Naruto.

Meski tidak tahu lanjutan kata-kata Naruto, setidaknya ia merasa bahagia dengan keadaan yang seperti ini. Cukup, ia tidak meminta lebih. Hanya bersama dengan Naruto, tidak ada yang lain.

'Kalau perasaan kita sama, suatu saat kita pasti akan pacaran.'

::

::

To Be Continue ◐

::

::

Hohoho~ Chapter "P" pun berakhir! Bagaimana dengan chapter ini? Mohon maaf apabila masih banyak kekurangannya. Berikutnya adalah chapter "Q", ditunggu ya.

Thanks To :

Haruta Hajime, firmanuciha4, Hiramekarei, abiegael. sejathie, Yasuna Katakushi, flame. arms, Jasmine DaisynoYuki, Yoona Ramdanii, Sena Ayuki, DrunKenMist99, Crow, Ayuba, naomi811, Rifalrifaldi7gmail. com, BerryPolkan, dan pembaca sekalian.

Jaa~

Bertemu di chapter "Q"~

V

V

V