Chapter "Q" update! Ini adalah pertama kalinya bagiku pembuat judul chapter dengan menggunakan bahasa Inggris. Dari chapter A-P semuanya bahasa Indonesia, tapi Q bahasa Inggris. Aku tidak dapat menemukan kata bahasa Indonesia yang pas yang awalan katanya menggunakan huruf Q. Jadinya begitu deh~ Terima kasih sudah membaca dan memberikan review pada chapter sebelumnya. Terima kasih juga karena telah menunggu chapter ini sampai update. Sekarang waktunya pembalasan review~
Sena Ayuki : Arigatou~ Hahaha, itu memang benar. Iya, kita bertemu lagi di sini.
Haruta Hajime : Iya, itu memerlukan waktu. Yap, ini udah update.
Yoona Ramdanii : Hahaha, ini dia chapter Q-nya.
naomi811 : Itu tentu saja, mungkin karena Hinata itu polos. Iya, arigatou.
Yasuna Katakushi : Benar~ Haha, aku tidak seperti itu. Malah tidak terpikirkan sama sekali. Ya, untuk chapter ini aku pakai bahasa asing. Soalnya kalau bahasa indonesia tidak ada yang pas. Haha, selamat atas perjuangannya melewati UN ya.
Guest : Haha~
firmanuciha4 : ini udah lanjut~
Hiramekarei : Yap, itu tentu saja. Makasih, iya memang pakai bahasa asing.
razya & yudi : Arigatou~ Makasih udah ditunggu.
andy. cyanx. suthi : Terima kasih banyak, ini udah lanjut. Sama-sama~
Hami Namikaze : Arigatou~ Chapter "K" udah lama lewat, tapi judulnya bukan "Kiba".
Byakugan no Hime : Makasih banyak~ Iya, itu memang bagian yang mendebarkan. Haha~ Kadang diriku mendambakan orang seperti Naruto ada di dunia nyata, tapi itu tidak akan pernah terjadi. Di situ saya merasa sedih~ #jduk #abaikan.
Rifalrifaldi7gmil. com : Iya ini udah lanjut, makasih udah ditunggu.
Ayuba : Arigatou~ Iya, chapter "Q" judulnya "Queen". Ini udah lanjut~
abiegael. sejathie : Haha, makasih pujiannya. Hahaha, tebakan pertamanya sudah benar kok. Arigatou~
DrunKenMist99 : Kalau masalah itu mah, masih lumayan jauh. Ini sudah lanjut~
zan : Ini udah lanjut, makasih. Haha, tidak apa. Terima kasih sudah mau membacanya~
rika : Arigatou~ Ini udah lanjut, makasih.
Watashi wa Mai : Arigatou~ Haha, makasih. Yoroshiku~
Crow : Haha, iya ini udah lanjut. Makasih~
Selamat membaca~
::
::
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto-sensei
26 Days : Koi of Love © Haruna Hajime
::
Pairing: Hinata Hyuuga & Naruto Uzumaki
::
Genre: Romance
::
Warning: Silahkan dibaca dan lihatlah kesalahan-kesalahan yang kapan saja bisa terjadi di fic ini. Yang pastinya Hinata agak sedikit OOC, itu menurutku.
::
Rated: T
::
~ Happy Reading ~
::
::
::
Hari ini, adalah hari yang mengejutkan bagiku. Aku, menjadi Queen di sekolahku! Bahkan aku tidak pernah tahu kalau ada yang namanya begituan. Aku juga tidak tahu kapan proses pemilihannya, dan aku juga tidak pernah memilih. Tapi, kenapa aku!? Queen diperbolehkan melakukan apa saja selama satu hari. Aku tidak akan memerintah siapapun, aku tidak menginginkan apapun. Tapi hanya ada satu yang kuinginkan~
Hari ini, sebagai Queen, aku ingin Naruto selalu bersama denganku sampai pulang.
::
::
◐ 26 Days : Koi of Love ◐
::
::
"Hinata, kau lihat itu?" tanya Ino takut-takut melihat yang tidak jauh berada di depannya.
"Iya, kenapa pada berdiri di depan gerbang ya? Sepertinya akan ada orang penting yang datang." balas Hinata, sebenarnya ia juga sedikit takut dengan keadaan ini. Tidak biasanya begitu~
"Ya sudah, perlahan saja kita masuknya." Ino memegang tangan Hinata dengan erat, supaya kalau ada hal yang buruk, Ino juga akan terseret ke dalamnya. Ia tidak mau Hinata berada dalam keadaan gawat sendirian.
Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, dan tepat sudah mereka di depan gerbang. "Selamat datang, Queen!" tiba-tiba semua orang di depan gerbang berteriak hal yang tidak jelas. Itu membuat Hinata dan Ino jadi tambah takut.
"Biar saya bawakan tas-nya."
"Ini handuk untuk Queen."
"Ini minumannya."
Mata Hinata berputar-putar dengan kejadian ini, bahkan Ino yang melihatnya pun kaku di tempat. Padahal biasanya Ino berteriak dan marah kalau ada kejadian aneh yang menghampirinya. Sekarang, apa yang Hinata bawa ke sekolah? Hanya tubuhnya saja. Semua peralatan yang dibawa olehnya, telah dibawakan oleh orang lain.
"Kalau begitu, ayo ke kelas!" dua orang lainnya memegang tangan Hinata dan menariknya. Sedangkan orang yang tersisa berlari mengikuti dari belakang.
"Eh? Tunggu!" Ino hanya bisa pasrah dengan kejadian tadi. Ia menghela napasnya dan memegang jidatnya, "Masa sih? Kapan pemilihannya?" tanyanya tidak percaya. Ino memang tahu apa yang terjadi, kenapa Hinata diberlakukan seperti itu. Tapi kenapa ia tidak tahu proses lebih lanjutnya?!
Naruto yang barusan datang dan melihat kejadian itu pun bertanya pada Ino. Itu membuat Ino berhenti menyusul Hinata dan berjalan bersama Naruto. "Sepertinya Hinata yang terpilih menjadi Queen tahun ini." jawab Ino.
Naruto juga sama kagetnya dengan Ino, "Kapan pemilihannya?!" tanya Naruto tidak percaya. Tidak ada yang memberikan informasi sama sekali tentang hal ini. Bahkan teman dekatnya sekalipun, juga tidak memberitahukan hal itu atau memang tidak mengetahuinya. Padahal kalau ia tahu, ia akan memilih Hinata. Tapi tanpa dipilih juga, Hinata sudah terpilih.
"Aku juga tidak tahu," jawab Ino.
"Sekolah ini memang aneh," gerutu Naruto kesal.
Kalau hal seperti tadi terus berlanjut, kapan ia bisa bersama dengan Hinata? Hinata pasti akan selalu didekati oleh orang-orang aneh. Tidak bebas, dan selalu merasa diperhatikan. Apalagi dikelilingi oleh orang yang tidak dikenal Hinata, pasti akan risih. Terus kalau Naruto mau mendekati Hinata, pasti akan ditanya-tanya. Argh! Hari ini menyebalkan, padahal masih pagi.
"Ayo masuk," tidak mau memikirkannya panjang-panjang, Naruto memilih untuk masuk ke sekolah saja. Pasti nanti ada waktunya sendiri ia dapat bersama dengan Hinata.
Keberadaan Hinata sekarang, ada di dalam ruang kelas. Tidak lupa dengan kelas yang dipenuhi dengan orang-orang yang menjadi maid dan butler dadakan. Hinata diperhatikan dengan antusias, sampai-sampai Hinata mulai berkeringat dingin. Baru kali ini ia berhadapan dengan orang banyak yang tidak dikenal olehnya. Apalagi semua mata tertuju padanya, ia tidak suka itu.
"Queen mau apa?"
"Adakah yang bisa saya bantu?"
Hinata begitu banyak mendapatkan sebuah pertanyaan. Menjadi Queen itu, benar-benar merepotkan ya. Tapi, bukannya seorang Queen itu, kalau mau sesuatu akan minta dengan sendirinya. Bukannya maid atau butler-nya yang bertanya mau apa. Kalau seperti ini, sama saja Hinata yang diperintah untuk menjawab semua pertanyaan dong.
"Um... Begini. Sebenarnya ini apaan ya?" tanya Hinata memberanikan diri. Ia penasaran juga sih, kenapa menjadi Queen harus diperlakukan seperti ini? Apakah tidak bisa menjalani kehidupan sekolah biasa walau sudah menjadi Queen saat itu? Lalu, apa itu maksud Queen? Kenapa Hinata dipanggil seperti itu?
Seseorang yang menggunakan kacamata mendekati Hinata, dan membenarkan posisi kacamatanya. Kemudian ia membuka buku yang kelihatannya adalah buku tua. "Setelah dua tahun sekolah ini didirikan, dibuatlah keputusan baru oleh ketua OSIS yang pertama. Setiap satu tahun sekali, akan dipilih Queen. Seorang gadis yang tentunya menjadi pilihan sekolah, akan diperlakukan secara spesial. Semua keinginannya akan dikabulkan, meski itu adalah hal yang aneh sekalipun. Hal itu akan diperlakukan selama satu hari, tidak lebih. Jadi, apa yang Queen inginkan?" setelah selesai menjelaskannya panjang lebar, orang berkacamata itu menutup bukunya dan langsung saja bertanya. Tapi masih ada hal yang ingin ditanyakan oleh Hinata.
"Kapan pemilihannya?" tanya Hinata. Bahkan ia sendiri tidak tahu ada yang seperti ini di sekolah. Ia juga tidak tahu kapan pemilihannya, dan ia tidak mendengarkannya dari murid-murid lain.
"Sebulan yang lalu, pemilihan ini dilakukan secara tertutup dan bertahap. Kandidat ada lima orang, tentu saja gadis-gadis yang terpilihlah yang menjadi kandidat. Pertama, Sabaku Temari, dari kelas 3-A. Yah~ Queen pasti kenal sama Temari, dia adalah orang yang berjasa mengharumkan nama sekolah ini. Yang kedua adalah Tenten dari kelas 3-A juga. Tenten adalah perempuan terhebat dalam menggunakan senjata, bahkan bisa menggunakan berapapun senjata dalam genggamannya. Yang ketiga adalah Haruno Sakura, anak dari kelas 2-B. Kemampuannya dalam hal medis, sudah seperti medis yang ahli. Bakhan medis asli pun, belum tentu bisa mengalahkan kemampuannya. Sudah begitu ia merupakan manager dari olahraga atletik yang menjadi olahraga paling terkenal di sekolah ini. Yang keempat adalah Yamanaka Ino, teman Queen sendiri. Queen pasti sudah tahu kemampuannya, jadi tidak perlu saya kasih tahu lagi. Lalu, yang terakhir adalah Queen sendiri. Selama sebulan itu diproses, akhirnya terpilihlah siapa yang pantas menjadi Queen. Itu adalah anda sendiri, Hyuuga Hinata." jelas orang itu panjang lebar, tanpa memberikan kesempatan untuk Hinata bicara.
"Jadi, apa yang Queen inginkan?" lagi-lagi pertanyaan ini yang keluar. Apa sebegitu inginkahnya mereka untuk Hinata perintah!? Tapi Hinata tidak suka memerintah orang, karena ia tidak memiliki hak untuk itu.
"Anoo.. Maaf sebelumnya. Kalau boleh bertanya, siapa nama ketua OSIS yang menentukan hal seperti ini?" tanya Hinata penasaran. Ia mau tahu siapa yang membuat acara seperti ini.
"Kalau tidak salah namanya Jiraiya,"
Hinata mengingat nama ini, saat ia membaca buku sejarah sekolah. 'Kalau tidak salah ingat, itu teman seangkatannya kepala sekolah. Ia memiliki kemampuan yang hebat, pantaslah ia menjadi ketua OSIS. Katanya juga sifatnya memang seperti itu, ya pasti memang begitu.' akhirnya Hinata tahu semuanya. Tapi masalah ini harus diselesaikan, "Aku senang kalian memperlakukanku seperti ini, bagaikan seorang ratu benaran. Tapi yang kuinginkan sekarang adalah, kehidupan sekolah yang biasa-biasa saja. Jadi, bolehkah aku meminta, kalian menjalani sekolah seperti biasanya?" pertanyaan ini, membuat mereka semua tersadar, mata mereka membulat semua. Sebenarnya, saat itu juga mereka sedang terpukau melihat pesona Hinata. Baru kali ini ada seorang yang terpilih menjadi Queen, tapi menolak apapun yang dapat diberikan.
"Benar juga ya," orang berkacamata itu memegang lehernya, "Kalau begitu kembali ke kelas masing-masing." semua pun berlalu dengan perintahnya.
"Terima kasih," Hinata memberikan senyuman terbaiknya, siapa sih yang tidak terpukau melihatnya? Tapi ia bersyukur semua ini dapat terselesaikan dengan mudah.
Naruto dan Ino heran melihat banyak orang yang keluar kelas, apalagi semuanya menggunakan pakaian maid dan butler. Mereka melihat Hinata yang sendirian kembali, mereka merasa heran. Ino dan Naruto berlari pelan menghampiri Hinata.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ino sembari mengecek seluruh tubuh Hinata, memastikan tidak ada luka sedikitpun pada tubuhnya.
"Iya," jawab Hinata tersenyum.
"Apa yang kau lakukan pada mereka?" tanya Naruto penasaran setelah melihat banyak gerumbulan orang yang keluar.
"Aku hanya meminta mereka menjalani kehidupan sekolah seperti biasanya kok." jawab Hinata.
"Perintah Queen itu mutlak, ya." Hinata hanya tersenyum mendengar penuturan Naruto. Yang tadi itu, bukan perintah kok. Tapi ajakan untuk melakukan hal seperti biasanya. Hinata tidak suka memerintah, dan yang ia lakukan itu bukan perintah.
"Hmm, tapi sayang juga sih kalau kesempatan itu dilewatkan begitu saja. Memangnya tidak ada yang kamu mau?" tanya Ino menatap Hinata lekat-lekat.
"Yang aku mau ya? Sebenarnya ada, tapi itu tidak bisa didapatkan hanya dengan sebuah perintah." jawab Hinata. Sebenarnya ada satu hal yang sangat diinginkan oleh Hinata, tapi kalau diminta pun ia tidak akan mendapatkannya. Apa itu?
"Daripada sayang, untuk merayakan kamu menjadi Queen, aku akan selalu berada di sampingmu."
Apa?
"Apa yang anda inginkan, Queen?" layaknya seorang butler sejati, Naruto menanyakan apa yang diinginkan oleh Hinata. Ia membungkukkan badannya, dan tersenyum.
Tapi bukannya menjawab pertanyaan Naruto, Hinata malah terpesona sampai tidak bisa menjawab apa-apa. Sedangkan Ino, dia malah merasa jijik melihat Naruto. Ia menjauhkan dirinya dari sana, meninggalkan Naruto dan Hinata yang lagi memasuki dunianya sendiri. Bisa-bisa ia muntah kalau melihat Naruto lama-lama. Tapi kalau Hinata tidak ya?
"A-aku, tidak meminta apapun kok." jawab Hinata sebisa mungkin.
"Tidak meminta apapun ya? Kalau begitu, aku yang memutuskannya sendiri ya. Seharian ini, aku akan menjadi pengawal Queen, dan akan selalu berada disisimu. Bagaimana?" dengan senyuman khas-nya, Naruto benar-benar sudah membuat Hinata terbang ke langit.
"Seharian, bersamamu?"
~ XVII ~
˚°◦ ◦°˚ ◐ 17th Day ◐ ˚°◦ ◦°˚
~ XVII ~
"Maaf Hinata!" seru Naruto. "Sekali lagi aku maaf!" kembali Naruto meminta maaf. Dengan gaya berlebihannya, Naruto naik meja sambil berlutut. Tentu saja yang berada di dalam kelas jadi memperhatikan mereka berdua. Termaksud orang-orang yang di luar kelas, karena penasaran mereka sampai mengintip.
Hinata tersenyum, "Tidak apa-apa." katanya menenangkan Naruto. Tidak enak juga pada anak-anak dalam dan luar kelas karena mereka sudah berbuat keributan. "Lagian, rapat itu terjadi secara mendadak, 'kan?" ucapnya lagi.
Memangnya rapat apa sih yang didapatkan oleh Naruto?
"Iya, gara-gara ada rapat guru ekskul sih hari ini. Jadinya aku tidak bisa menemanimu deh~" ucap Naruto kecewa. Padahal Naruto mau berada disisi Hinata terus, karena ada alasannya. Alasannya karena Hinata menjadi Queen, jadinya itu modus Naruto agar bisa bersama dengan Hinata. Tapi, kenapa malah ada rapat?! Pada akhirnya, keinginan Naruto tidak dapat terpenuhi.
"Sudah, tadi 'kan aku bilang tidak apa. Naruto buruan ke ruang rapat, 'kan sudah lima menit berlalu setelah dimulainya rapat." mengingatkan kembali, Hinata memberitahukan apa yang harus dilakukan oleh Naruto seharusnya.
"Ya sudah, aku ke sana dulu ya." Naruto menuruni meja yang tadi dinaiki olehnya, dan dengan segera berlari menuju ruang rapat. Sebenarnya rapat memang sudah dimulai dari lima menit yang lalu. Tapi Naruto malah berani-beraninya datang telat, padahal ia adalah guru ekskul yang paling muda dari semuanya.
"Haa~" Hinata menghela napasnya, pada akhirnya ia sendiri lagi. Ino kembali mengerjakan tugasnya di perpustakaan, jadi tidak bisa menemani Hinata. Ke kolam sendirian deh~
Langkah demi langkah dipijakinya, berjalan menyusuri koridor yang lumayan sepi. Hinata melihat sekitarnya, ia heran dengan keadaan ini. Tapi tenang juga sih~ Kalau ada maid dan butler dadakan seperti tadi pagi, pasti Hinata tidak bisa menuju kolam. Akhirnya Hinata sampai pada belokan terakhir, tapi di sana ia bertemu dengan seseorang.
"Ah! Hinata," kata orang tersebut penuh semangat.
"Kiba? Sedang apa di sini?" tanya Hinata kaget.
Ternyata orang tersebut adalah Kiba, teman sekelas Hinata. Termaksud saingan Naruto dalam atletik, karena Kiba adalah pelari tercepat kedua yang ada di sekolah. Tapi apa yang sedang dilakukan Kiba di sana?
"Ah~ Aku hanya berkeliling saja, tidak ada kerjaan soalnya. Kalau Hinata sendiri?" setelah menjawab, ia pun menanyakan hal yang sama. Kiba memang belum tahu apa tujuan Hinata menuju taman pada saat ini.
"Ah, aku..." belum selesai menjawab, Kiba sudah menebaknya duluan. "Memberi makan ikan ya?!" tanyanya dengan semangat karena sudah yakin kalau tebakannya tepat.
Hinata mengangguk, "Kalau begitu aku temani ya?" tawar Kiba, sebenarnya Kiba hanya mau mencari pekerjaan yang tidak membosankan saja.
"Kalau itu, terserah Kiba saja." setelah menjawab pertanyaan Kiba, Hinata langsung berjalan mendekati kolam untuk memberi makan ikan.
Kalau Kiba? Tentu saja ia kegirangan. Karena, jarang-jarang 'kan bisa bersama dengan Hinata. Tidak ada yang tahu, kalau Kiba itu menyukai Hinata. Kecuali satu orang, Ino Yamanaka. Ino itu memang pandai menebak perasaan orang, itu salah satu alasan yang membuat Kiba tidak menyukai Ino. Untungnya Ino dapat menjaga mulut. Tapi setelah bertanya, kenapa bisa tahu perasaan Kiba, Ino hanya menjawabnya seperti ini. "Terbaca kali," itulah yang membuat Kiba bingung. Terbaca apanya?
Setelah asyik dengan dirinya sendiri, Kiba mendekati Hinata yang ternyata sudah memberi makan ikan. Waktu hari Minggu, Hinata juga memberi makan ikan. Sepertinya itu sudah menjadi rutinitas bagi seorang Hyuuga Hinata.
"Tumben Kiba tidak bersama dengan yang lainnya," Hinata memulai pembicaraan pada Kiba, ia juga penasaran dengan hal itu. Biasanya saat ada bel istirahat, Kiba menjadi orang yang pertama keluar kelas. Kalau bel masuk berbunyi, Kiba malah jadi orang terakhir yang masuk kelas. Selama istirahat Kiba tidak pernah terlihat olehnya sampai masuk. Tapi sekarang?
"Sebenarnya aku hanya mau mencoba sendiri saja." jawab Kiba seadanya, ia memegang kepalanya dan tersenyum singkat.
"Ada masalah ya?" tanya Hinata.
"Tidak, hanya saja, aku merasa iri pada Naruto." jawaban awalnya tidak, tapi disambung dengan masalah yang dihadapi Kiba. Kiba itu, memang tidak bisa berbohong dengan mudah. Karena kalau ia berbohong, beberapa detik kemudian ia akan berkata jujur.
"Kenapa begitu?" tanya Hinata lagi.
Kenapa Kiba bisa merasa iri pada Naruto? Padahal Kiba sudah memiliki banyak hal yang tidak dimiliki oleh Naruto. Salah satunya, keluarga. Kiba memiliki keluarga yang menyayanginya. Kalau Naruto? Tidak ada sosok keluarga sama sekali dalam rumahnya. Hinata mau bilang itu, tapi tidak mungkin ia menceritakan hal yang menyedihkan bagi Naruto. Tapi semua juga sudah tahu, bahwa Naruto tinggal sendiri dan sudah tidak memiliki orang tua.
"Entah pemikiranku ini benar atau salah, tapi Naruto itu seakan memiliki bakat dari lahir, larinya sangat cepat. Aku kagum padanya~ Sedangkan aku, seberapa pun aku berlatih, masih saja tidak bisa menyaingi Naruto." cerita Kiba.
Ternyata ini masalah yang sedang dihadapi oleh Kiba. Kiba itu, teman Hinata. Jadi Hinata harus menenangkan hati Kiba, agar Kiba bisa kembali bersemangat. Kalau dipikir-pikir, Kiba yang memisahkan diri dari yang lainnya adalah salah satu ciri Kiba yang sedang ada masalah.
"Tidak begitu~ Aku selalu bersama dengan Naruto dari kecil. Awalnya, kecepatan lari Naruto itu sangat tidak masuk akal. Bahkan, dulu saat aku dan Naruto tanding lari, aku yang lelet ini selalu menjadi pemenang. Setiap hari, aku melihat Naruto yang berlari mengelilingi perumahan. Pagi hari maupun malam hari, ia selalu berlari melewati rumahku. Seiring dengan berjalannya waktu, kecepatannya makin bertambah. Bahkan, aku yang biasanya selalu menang, jadi kalah terus. Jadi kebalikannya, 'kan? Dari sana, aku tahu kalau Naruto sudah berjuang sangat keras. Aku juga tahu, kalau Kiba sudah berjuang seperti apa yang dilakukan Naruto. Kalau Kiba terus berjuang, pasti Kiba akan melampaui sosok yang kau kagumi itu." nasihat Hinata, telah mencerahkan Kiba.
"Kau benar juga, tapi aku tidak mengaguminya kok." kata Kiba tersenyum, akhirnya saat ini juga semangat Kiba sudah kembali seperti semula. "Hasil karya kita sudah dikumpulin, 'kan?" tanya Kiba setelahnya.
"Iya, sudah lumayan lama." jawab Hinata. Prakarya itu, memang akan aman kalau bersama dengan Hinata.
"Ngomong-ngomong, kamu jadi Queen ya?" tanya Kiba melihat Hinata sambil senyum-senyum sendiri. Orang yang disukainya memang hebat~
"Ah, iya." jawab Hinata sedikit malu-malu.
"Selamat ya!" seru Kiba sambil menyengir. Melihat cengiran itu, Hinata jadi teringat dengan Naruto. Tapi kalau ia melihat seperti itu, namanya jahat. Orang yang berada didekat kita, malah kita lihat sebagai orang lain.
Sebagai Queen, Hinata memang mau bersama dengan Naruto. Tapi sebagai Queen sekalipun, ia tetap tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan ya?
Manusia tetaplah manusia~
~ XVII ~
˚°◦ ◦°˚ ◐ Queen ◐ ˚°◦ ◦°˚
~ XVII ~
Katanya, menjadi Queen di sekolah itu adalah hal yang menyenangkan. Kenapa? Karena bisa melakukan apa saja yang diinginkan olehnya. Bisa meminta sesuatu yang diinginkannya, bisa menyuruh siapa saja untuk melakukan sesuatu. Tapi, hal itu hanya akan membuat repot orang lain.
'Aku tidak akan melakukannya,' batin Hinata.
Meski ia sangat mau, sangat ingin meminta agar Naruto selalu berada di sampingnya, cukup Naruto. Tapi, katanya perintah Queen harus dikabulkan walau sedang ada keperluan penting sekalipun. Itu tidak bisa Hinata lakukan karena Naruto ada keperluan yang sangat penting. Kalau tidak ada keperluan, pasti Naruto akan bersama dengan Hinata tanpa diminta sekalipun.
"Rasanya sepi," Hinata menatap koi hitam dengan seksama. Pada akhirnya, Hinata tidak bisa bersama dengan Naruto sampai pulang. "Aku pulang saja," katanya berdiri dan mengambil tas. Ia langkahkan kakinya keluar sekolah, menuju gerbang.
Hinata menundukkan kepalanya, ia begitu sedih. Ia tidak bisa bertemu dengan Naruto seharian, kecuali saat di dalam kelas sebelum masuk tadi. Setelah itu, Naruto tidak pernah muncul lagi di hadapannya. Mungkin karena ada sesuatu hal yang penting dalam rapat tersebut. Apa itu tidak mengganggu pelajaran Naruto? Hinata terus saja melangkah sambil menundukkan kepalanya, tanpa memperhatikan sekitar. Melewati gerbang, tanpa menyadari ada orang di sana.
"Hee? Dia tidak sadar keberadaanku?" tanya orang itu tidak percaya, ia berjalan cepat agar bisa menyusul Hinata yang mulai agak jauh. Berlari pelan, dan akhirnya berdiri tepat di depan Hinata.
Hinata terus saja berjalan, dan masih menunduk juga. Ia tidak mengangkat kepalanya sama sekali, sampai-sampai tidak sadar kalau ada orang di depannya. Dengan akhiran~
DUK~ Hinata menghantup pelan orang itu.
"Ah!" dengan segera Hinata memundurkan langkahnya. "Maaf~!" serunya kemudian. Ia membungkukkan tubuhnya, Hinata tidak tahu siapa orang yang ditabrak olehnya. Pokoknya, sebelum melihat orang, harus meminta maaf terlebih dahulu.
Sesudah itu, Hinata mengangkat kepalanya. Ia begitu kaget mendapati sosok Naruto di sana. Naruto, ada di depan matanya? "Naruto?" tanya Hinata tidak percata. "Tapi, bukannya..." ia tidak dapat berkata apa-apa karena begitu kaget. Tapi kok Naruto ada di sini sih?
"Aku rapat? Memangnya rapat selama apa yang kau pikirkan?" tanya Naruto tertawa pelan. Hinata kira, rapat itu menghabiskan berjam-jam waktu ya?
"Tapi, saat pelajaran..." mencoba menjelaskan apa yang ada dipikirannya, selama berjam-jam Naruto memang tidak muncul dalam pelajaran. Sudah pasti rapat, 'kan?
"Saat jam pelajaran, aku mendapatkan tugas. Makanya aku tidak bisa ikut pelajaran, dan tidak mendapatkan ilmu hari ini. Jadinya, aku menunggumu untuk meminjam buku catatan!" seru Naruto, ia menyodorkan tangannya untuk meminjam buku catatan Hinata.
"Oh, begitu ya?" tanya Hinata kecewa. Dikiranya Naruto menunggu Hinata untuk menemani Hinata, tahunya hanya untuk keperluan diri Naruto sendiri.
Hinata membuka tas-nya dan mengambil buku catatan. Memang hari ini lumayan banyak catatan yang ditulis, jadi buku catatan itu memang harus dipinjamkan pada Naruto. Tapi, apa memang hanya untuk meminjam catatan? Hinata menyerahkan buku itu pada Naruto, dan diterima oleh Naruto.
"Sebenarnya, aku menunggumu bukan hanya untuk meminjam buku catatan sih." mendengar ini, Hinata yang awalnya kecewa jadi mulai bersemangat. Jadi, ada alasan lainnya? "Tadi pagi, 'kan aku sudah bilang kalau aku akan menemanimu seharian. Walau tidak bisa saat sekolah, tapi saat perjalanan pulang ke rumah tidak apa, 'kan?" tanya Naruto menyengir. Saat ini, Naruto mau menuntaskan ucapannya sendiri.
Hinata mengangguk, "Iya," katanya bahagia. Walaupun di sekolah tidak bisa bersama dengan Naruto, tapi saat pulang sekolah bisa. Walau sudah sering pulang bersama, tapi tetap saja, akan ada kisah yang berbeda-beda.
"Hei~ Kamu tahu tidak? Kiba sudah makin maju lho," cerita Naruto, ia mau menceritakan kisah tentang teman sekaligus rival-nya. Hinata mengangguk, "Selisih kecepatanku dengannya pun sudah mulai menipis. Padahal dulu selisihnya tiga detik, sekarang sudah dua detik." lanjut Naruto.
Hinata hanya menatap Naruto, mendengarkan ceritanya. Kalau diingat-ingat cerita Kiba saat istirahat, juga membicarakan tentang hal ini.
"Aku harus rajin berlatih agar tidak tersaingi olehnya," ucap Naruto, ia meletakkan tangannya di belakang kepala. Sambil menatap langit-langit gelap dipenuhi dengan bintang, dan memikirkan jika posisinya sebagai tercepat pertama di sekolah tergeser.
"Begitu?"
"Yah~ Kiba itu, rival-ku yang terhebat." seru Naruto tersenyum bangga. Naruto memang senang punya rival yang mungkin suatu saat bisa mengejarnya. Tapi, kalau terkejar, tidak lucu dong namanya?
"Rival?"
"Yah~ Sainganku. Baik dalam atletik, pelajaran, maupun masalah cinta."
DUG~ Masalah cinta?
"Maksudnya?"
"Belum lama ini, aku melihat Kiba bersama dengan orang yang kusukai. Mereka terlihat akrab sekali, sampai-sampai aku tidak berani mendekatinya. Kulihat matanya, sepertinya dia juga menyukai orang yang sama denganku." cerita Naruto.
Hinata tidak sanggup untuk mendengar kelanjutannya. Naruto dan Kiba, menyukai orang yang sama? Kalau dilihat dari kejadian sebelumnya, Hinata memang bersama dengan Kiba. Tapi, dirinya hanya sebentar saja bersama dengan Kiba. Jadi, siapa perempuan yang dimaksud oleh Naruto? Siapa orang yang disukai oleh keduanya? Karena memikirkan itu, Hinata jadi tidak dapat menanggapi cerita Naruto. Kalau dilanjutkan, mungkin ia akan sakit hati.
Naruto melihat Hinata, kemudian tersenyum. "Hari ini saja lho kau bisa memerintah sebagai Queen." kata Naruto dan menurunkan tangannya. Ia memegang pundak Hinata, "Mau apa?" tanyanya kemudian.
"Aku tidak mau apa-apa kok. Lagian, posisi sebagai Queen itu, tidak ada hubungannya sama sekali dengan sebuah perintah." jelas Hinata. Daripada memerintah, Hinata lebih suka dengan apa yang ingin dilakukan orang itu sendiri.
"Oh, salah ya? Kalau begitu, sebagai seorang Hinata, Hyuuga Hinata. Adakah yang mau kau minta dari Uzumaki Naruto ini?" tanya Naruto tersenyum, senyumannya itu benar-benar bagaikan mentari di mata Hinata. Hari ini banyak sekali Naruto memberikan senyuman padanya meski jarang bertemu.
"Aku tidak meminta apa-apa kok," jawab Hinata memalingkan wajahnya, malu karena melihat Naruto dengan ekspresi paling akurat.
Melihat Hinata yang memalingkan wajah, seakan malu-malu tentu membuat Naruto tersenyum tipis. Manis gitu pikirannya~ "Kalau Hinata tidak mau apa-apa, berarti boleh dong aku yang meminta sesuatu?" tanya Naruto dengan nada seperti mau meminta hal yang berlebihan.
"A-apa?" tanya Hinata sedikit takut.
Naruto melepaskan pegangannya pada pundak Hinata. "Selalu bersama denganku, ya?" dengan nada memohon, dan dengan senyuman mentari itu.
Hinata luluh melihatnya. Matanya membulat, tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Selalu bersama dengan Naruto? Kalau itu, tanpa diminta juga pasti akan Hinata lakukan. Karena, memang itu yang selalu diinginkan oleh Hinata dari dulu. Bersama dengan Naruto, selamanya. Hinata mengangguk, rasanya senang sekali. Seperti ingin menangis karena terlalu bahagia.
"Janji ya?" Naruto mengulurkan jari kelingkingnya, tanda bahwa mereka akan menepati janji itu.
"Iya,"
Paduan antara jari kelingking, telah membuka hati keduanya. Dengan bulan dan bintang yang menjadi saksi janji keduanya. Apakah janji itu akan tertepati sampai akhir hayat?
"Aku janji."
::
::
◐ To Be Continue ◐
::
::
Hohoho~ Chapter "Q" selesai! Terima kasih sudah membaca chapter ini sampai akhir. Di akhir cerita mereka membuat janji untuk selalu bersama. Meski mereka belum tahu perasaan satu dengan yang lainnya. Berikutnya chapter "R", ditunggu ya.
Thanks To:
Sena Ayuki, Haruta Hajime, Yoona Ramdanii, naomi811, Yasuna Katakushi, Guest, firmanuciha4, Hiramekarei, razya, yudi, andy. cyanx. suthi, Hami Namikaze, Byakugan no Hime, Rifalrifaldi7gmil. com, Ayuba, abiegael. sejathie, DrunKenMist99, zan, rika, Watashi wa Mai, Crow, dan pembaca sekalian.
Jaa~
Bertemu di chapter "R"~
V
V
V
