.
.
.
Disclaimer : Detective Conan © Aoyama Gosho
Warning : OOC, bahasa campur aduk, alur gak jelas, dan segala kekurangan lainnya
Perjalanan dari apartemen Kir menuju Miracle Land membutuhkan waktu sekitar 40 menit. Setelah sampai di sana, Amuro segera memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang masih kosong. Lalu ia dan Kir menuju ke tempat pembelian tiket masuk.
"Tidak ku sangka Miracle Land akan seramai ini," celetuk Kir begitu melihat antrian orang yang berada di bagian depan pintu masuk.
"Ya itu karena hari ini hari Minggu dan juga hari ini Miracle Land merayakan hari jadinya yang ke 10." Kata Amuro.
Setelah membeli tiket untuk 2 orang, mereka berdua masuk ke taman bermain Miracle Land. Suasana di Miracle Land begitu meriah. Ada banyak wahana dan stand-stand hiburan di sana. Benar seperti kata Kir, banyak orang-orang yang mengunjungi Miracle Land hari ini. Ada yang bersenang-senang dengan naik wahana, berfoto bersama, maupun bermain game di stand permainan yang ada. Kebanyakan dari mereka merupakan kalangan pelajar dan pekerja kantoran yang sedang menikmati hari liburnya.
Amuro dan Kir masih belum saling bicara sejak mereka masuk. Bisa dibilang hubungan keduanya masih canggung. Hingga akhirnya keadaan kaku tersebut dipecahkan oleh Amuro yang menggandeng tangan Kir dan dibalas oleh tatapan keheranan dari Kir.
"Kita kan sudah resmi menjadi pacar jadi tidak masalah kan?" kata Amuro seolah mengerti kebingungan yang sedang dialami Kir.
"Eum,… ya ti..dak apa-apa" balas Kir dengan sedikit gugup.
Amuro menghela nafas sebelum berkata, "Sejujurnya ini adalah kencan pertamaku. Aku belum pernah pacaran sebelumnya, jadi aku tidak tahu bagaimana caranya menjadi pacar yang baik. Jadinya aku hanya mengikuti saran-saran yang ada di internet. Maaf ya kalau itu malah membuatmu canggung dan merasa tertekan," ucap Amuro dengan nada penuh penyesalan.
Kir yang mendengar pengakuan dari Amuro tersebut tidak bisa menahan senyumnya. Ternyata Amuro mempunyai masalah yang sama dengannya.
"Tidak apa-apa kok. Sebenarnya aku juga sama sepertimu. Ini adalah kencan pertamaku. Karena ini baru kencan pertama mungkin kita bisa belajar menjalani hubungan ini dengan santai. Bagaimana menurutmu, Bourbon?" Tanya Kir.
"Sepertinya kau benar dan kita bisa memulainya sekarang dengan membuat hubungan ini tidak terlalu canggung. Bagaimana kalau kita mulai dengan nama panggilan akrab. Kau bisa memanggilku Amuro dan aku akan memanggilmu Rena. Tidak apa-apa kan? Lagipula kita tidak sedang dalam misi organisasi." Jawab Amuro.
"Tentu saja, Amuro," balas Kir
"Baiklah Rena," kata Amuro.
Amuro dan Rena sama-sama tertawa karena mereka tidak biasa memanggil dengan nama panggilan masing-masing yang membuat mereka mendapat tatapan aneh dari pengunjung yang lain.
"Hei, Amuro. Banyak yang memperhatikan kita." Kata Rena.
"Kau benar. Mungkin karena kita terlalu keras tertawanya." Balas Amuro sambil menggaruk bagian belakang tengkuknya yang tidak gatal.
"Karena kita sudah terlanjur masuk ke sini, ayo kita bersenang-senang dengan wahana yang ada di sini !" ajak Amuro.
"Ide bagus. Bagaimana dengan wahana yang itu?" tanya Rena sambil menunjuk wahana roller coaster berkecepatan tinggi.
"Memangnya kamu berani?" goda Amuro.
"Tentu saja aku berani. Kamu pikir aku penakut?" balas Kir tak ingin kalah.
"Baiklah. Ayo naik wahana itu dan kita lihat siapa yang akan ketakutan nantinya." kata Amuro sambil menggandeng tangan Rena untuk berlari menuju tempat pembelian tiket.
Setelah membeli tiket dan antri cukup lama akhirnya giliran mereka tiba. Amuro dan Rena duduk di kursi paling depan. Roller coaster pun mulai berjalan. Mula-mula kecepatannya biasa saja namun lama-kelamaan semakin cepat. Setelah sampai pada kecepatan maksimum, semua penumpang berteriak termasuk Amuro dan Kir. Mereka berteriak, campuran antara rasa deg-degan sekaligus senang. Roller coaster bergerak cepat melewati lintasan naik turun, zig-zag maupun melingkar. Roller coaster baru berhenti ketika sudah melakukan 3 kali putaran. Para penumpang turun dengan keadaan sedikit limbung karena memang kecepatan roller coaster itu di atas rata-rata.
"Sepertinya kita terlalu meremehkan roller coaster itu. Kecepatannya memang dahsyat." celetuk Rena begitu mereka turun dari wahana roller coaster.
"Ya kamu benar. Aku tidak menyangka ada roller coaster yang secepat itu." ucap Amuro tak habis pikir.
"Aku sedikit lelah, bisa kita istirahat sebentar ?" tanya Rena pada Amuro.
"Tentu. Kita duduk di bangku sebelah sana saja." balas Amuro sambil menunjuk sebuah bangku kosong yang terletak di bawah pohon.
Amuro dan Rena duduk di kursi tersebut sambil berusaha menghilangkan rasa pusing yang masih terasa. Pandangan Amuro tiba-tiba tertarik kepada penjual es krim yang ada di dekat tempat mereka duduk. Amuro mendapatkan sebuah ide.
"Hei Rena, tunggu di sini sebentar ya." kata Amuro.
"Kamu mau kemana?" tanya Rena.
"Aku mau ke situ sebentar," ucap Amuro sambil menunjuk ke arah penjual es krim.
"O ya."
Amuro segera membeli 2 es krim untuk dirinya sendiri dan Rena. Ia membeli es krim coklat dan vanilla. Setelah itu dia menuju ke tempat duduknya tadi. Amuro memberikan es krim vanilla kepada Rena.
"Ini es krim untukmu." kata Amuro.
"Terima kasih. Darimana kau tahu aku suka es krim rasa vanilla?" tanya Rena.
"Hanya tebakan yang beruntung kok." jawab Amuro sambil tersenyum penuh arti.
Rena menikmati es krimnya sambil melirik ke arah Amuro. Tanpa sadar Rena terus memandangi Amuro yang juga sedang menikmati es krimnya.
'Kalau dipikir-pikir lagi Amuro ternyata tampan ya. Wajahnya juga manis. Pantas saja, banyak wanita yang terpikat padanya dan mengaguminya,' batin Rena sambil menyadari suatu hal. Dirinya sudah terpikat pada pesona Amuro.
"Ada apa Rena, apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Amuro.
"Tidak, tidak ada apa-apa kok." jawab Rena sambil berusaha menahan malu karena ketahuan telah memandangi wajah Amuro.
~ooo~
Amuro mengajak Rena berkeliling stand-stand permainan yang ada di sana. Pilihannya jatuh pada stand permainan menembak bebek. Mereka mencoba memainkan permainan itu dan berhasil memenangkannya dengan mudah. Mereka mendapatkan hadiah sepasang boneka beruang dengan tulisan love di tengahnya. Sedangkan pemilik stand itu masih bingung, mungkin terkejut dengan kemampuan yang dimiliki Amuro dan Rena.
Setelah puas bermain, mereka berdua memutuskan untuk berfoto-foto sebagai kenang-kenangan. Yah, walaupun sebagian besar foto tersebut kurang begitu bagus, mulai dari ekspresi mereka yang belum siap, ada orang yang lewat, sampai wajah yang terpotong karena penempatan kamera yang tidak pas. Tapi ada satu foto yang paling menarik bagi Amuro. Foto dirinya dan Rena yang sedang duduk di bangku taman dengan posisi Rena bersandar di bahu kanan Amuro. Mereka berdua tersenyum sambil memasang pose peace.
"Hei Amuro, gimana kalau kita foto lagi, tapi dengan itu." kata Rena sambil menunjuk tulisan 'foto langsung jadi'
"Boleh juga idemu itu, ayo kita ke sana." ajak Amuro.
Amuro dan Rena berfoto dengan pose seperti waktu di taman tadi. Bedanya sekarang dalam posisi berdiri dan berlatar belakang wahana-wahana yang ada di Miracle Land. Jika dilihat sekilas mirip dengan foto liburan Shinichi dan Ran di Tropical Land. Amuro dan Rena masing-masing menyimpan foto tersebut.
Lalu mereka berdua menuju ke kafe terdekat dari situ untuk makan karena memang mereka berdua sudah kelaparan. Sambil menunggu pesanan datang, Rena melihat-lihat foto-foto yang ada di hp Amuro karena mereka berdua tadi berfoto menggunakan hp milik Amuro. Ia baru menghentikan aktivitasnya ketika pesanan sudah tiba. Mereka berdua langsung menyantap makanan yang sudah tersedia.
~ooo~
"Makanan disini memang enak-enak," kata Rena begitu selesai menyantap makanannya.
Amuro yang mendengar itu, menatap Rena sebentar dan malah terkikik geli.
"Ada apa denganmu?" tanya Rena heran.
"Aduh Rena. Apa kamu memang saking kelaparannya sampai-sampai makan belepotan seperti itu..." ujar Amuro lembut sambil -tanpa permisi- mengulurkan tangan kanannya untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang ada di dekat bibir Rena. Mendapat perlakuan seperti itu, wajah Rena memerah.
Dan apa yang terjadi berikutnya ... Amuro pun nyaris tidak sadar. Tiba-tiba ia sudah mendekatkan bibirnya ke bibir Rena yang tampak begitu lembut. Semakin dan semakin dekat, sementara Rena membeku di tempatnya.
Amuro mengabaikan detak jantungnya sendiri yang semakin cepat. Hidungnya sudah bisa menghirup wangi rambut Rena dan aroma parfum gadis itu yang seperti perpaduan vanila. Bibir Amuro sudah nyaris mencapai tujuannya.
5 cm...
3 cm...
2 cm...
"Kak Amuro"
Suara panggilan itu membuat Amuro terlonjak, sementara Rena yang wajahnya sudah merah padam langsung mendongak menatap langit-langit. Sambil menggerutu dalam hati, Amuro menoleh dan mendapati 5 anak yang sangat dikenalnya sedang menatapnya heran.
'Dasar anak-anak pengganggu!' batin Amuro kesal.
"Ada apa anak-anak?" tanya Amuro sambil memaksakan senyum pada anak-anak itu.
"Tidak ada apa-apa kok. Hanya penasaran saja apakah tadi itu memang Kak Amuro atau bukan," kata Conan, si anak berkacamata dengan santainya seolah tidak melakukan kesalahan apapun. Oke ingatkan Amuro untuk menjitak kepala Conan, seperti yang sudah sering dilakukan oleh Kogoro.
"Oh rupanya kalian di sini."
Suara lain menginterupsi percakapan mereka berdua. Lalu datanglah 3 orang yang juga di kenal Amuro, 2 orang gadis dan 1 orang pria yang merupakan guru dari Amuro (cuma sebagai penyamaran).
"Eh, ada kak Amuro juga," kata Ran, si gadis berambut panjang sambil menoleh ke arah Amuro.
"Siapa gadis yang ada di sampingmu itu ?" tanya Kogoro. Untuk urusan seperti ini, Kogoro yang paling cepat bereaksi.
"Oh iya, aku lupa belum memperkenalkannya. Semuanya, kenalkan dia ini pacarku...namanya Rena." kata Amuro blak-blakan.
Semua yang ada disitu kaget bukan kepalang. Rena berasa ingin mengubur dirinya hidup-hidup begitu mendengar pengakuan Amuro.
"Dan Rena kenalkan, anak-anak ini Detective Boys : Conan, Ayumi, Genta, Mitsuhiko, dan... Ai benar tidak namamu itu?" kata Amuro sambil bertanya pada anak yang bernama Ai itu.
"Ya itu benar," kata Ai sambil mengeratkan pegangannya pada bahu Conan. Sebenarnya Amuro bingung dengan sikap anak itu, karena setiap mereka bertemu, Ai selalu terlihat ketakutan saat melihatnya. Selain itu entah kenapa ia seperti familiar dengan wajah Ai. 'Sepertinya aku dulu pernah bertemu anak ini. Tapi dimana?' batin Amuro bingung.
Tapi Amuro tidak memikirkannya lebih lanjut dan melanjutkan perkenalannya.
"2 gadis ini adalah Sonoko dan Ran, sedangkan pria di sebelahnya adalah detektif Mouri Kogoro, guruku." kata Amuro sambil memperkenalkan semua orang yang ada disitu.
"Salam kenal, semuanya aku Rena," ucap Rena memperkenalkan dirinya sambil tersenyum ramah.
"Wah cantiknya," celetuk Kogoro yang langsung mendapat jitakan dari Ran.
"Maafkan ayahku ya. Dia ini memang begitu orangnya. O ya kami minta maaf karena telah mengganggu waktu kalian berdua," kata Ran.
"Tidak apa-apa kok." balas Amuro.
"Ayo semua, kita lanjutkan acara jalan-jalan kita. Sampai jumpa, kak Amuro." kata Ran pamit undur diri.
Semuanya berlalu pergi untuk memberikan Amuro dan Rena kesempatan. Tapi sebelum melangkah keluar, Conan sempat melirik ke arah Amuro dan Rena secara bergantian.
'Aku harus menyelidiki hal ini,' batin Conan.
To Be Continue
Chapter 4 sudah tiba, terima kasih untuk yang sudah review.
