.
.
.
Catatan : Ini adalah flashback masa lalu Amuro (lanjutan dari Chapter 2)
Disclaimer : Detective Conan © Aoyama Gosho
Warning : OOC, bahasa campur aduk, alur gak jelas dan segala kekurangan lainnya
Setelah lulus dari SMA, Amuro memutuskan masuk ke Akademi Kepolisian walaupun sempat ada pertentangan dengan orang tuanya. Mereka tidak mengizinkan Amuro untuk masuk ke Akademi Kepolisian karena sistem pengajarannya yang terlalu keras. Tetapi Amuro berhasil membujuk kedua orang tuanya untuk mengizinkannya.
~OOO~
Pada awalnya Amuro pikir akan mudah untuk menjadi polisi, namun realita yang ada tidak sesuai dengan yang di pikirkan oleh Amuro. Pengajaran yang ada di Akademi Kepolisian begitu keras, setiap hari selalu saja ada latihan fisik yang harus dilakukan. Belum lagi ditambah dengan teori-teori baru mengenai kepolisian dan tetek bengeknya yang harus dipahami oleh setiap murid baru.
Sempat terbersit keinginan untuk menyerah dan keluar dari akademi, namun Amuro segera mengenyahkan jauh-jauh keinginan tersebut. Jika ia menyerah sekarang, ia tidak akan mendapat apa-apa. Selain itu, Amuro juga pastinya akan malu terhadap orang tuanya, karena masuk ke akademi ini merupakan keinginan dari Amuro sendiri.
Akhirnya Amuro memutuskan untuk bertahan di Akademi. Ia mulai menyesuaikan diri dengan suasana pengajaran keras yang ada di sana. Meskipun pada awalnya, kemampuan Amuro masih tergolong rendah dibanding murid lain yang ada di sana, namun Amuro tidak putus asa. Ia terus belajar hingga lama-kelamaan kemampuan dan pengetahuannya meningkat bahkan mengungguli murid-murid lain yang ada di sana.
~OOO~
Amuro lulus dari Akademi Kepolisian sebagai salah satu lulusan terbaik yang mempunyai kemampuan mumpuni dalam berbagai bidang. Hal itu menyebabkan karir Amuro di kepolisian mulai merangkak naik. PSB (Kepolisian Rahasia Jepang) merekrut Amuro menjadi salah satu anggotanya ketika melihat potensi yang ada dalam diri Amuro. Amuro tentu saja senang setelah mendapat kabar ini.
'Semakin dekat ke tujuan' batin Amuro.
~OOO~
Jika ada yang bertanya kepada Amuro tentang motivasinya melakukan semua ini, mungkin Amuro akan menjawab dengan jawaban yang idealis, seperti : untuk memberantas kejahatan yang ada, untuk membanggakan kedua orang tua, untuk membela keadilan, dan lain sebagainya. Namun alasan sebenarnya adalah karena temannya itu, teman yang berharga baginya.
Akemi Miyano
Sebuah nama yang selalu terbayang dalam pikiran Amuro. 'Bagaimana kabar ia sekarang ? Apa ia baik-baik saja ?' Pertanyaan-pertanyaan seperti itu seringkali muncul dalam benak Amuro. Jujur saja setelah berpisah dengan Akemi, Amuro kesepian. Hidupnya menjadi hampa seperti saat sebelum ia mengenal Akemi. Amuro menutupi kekosongan dalam dirinya dengan terus berusaha untuk mencapai cita-citanya sebagai polisi. Ia mungkin bisa disebut workaholic mulai sekarang, tapi Amuro tidak peduli. Yang penting tujuannya untuk membebaskan Akemi dan adiknya bisa tercapai.
Kedengarannya menyedihkan? Memang.
Ingin sekali Amuro mengetahui kabar dari gadis itu, tetapi ia tidak bisa. Amuro sudah mencoba berbagai cara untuk menghubunginya, mulai dari telepon maupun surat dan hasilnya tetap sama saja. Nihil.
Lalu apa yang membuat Amuro bertahan sampai sekarang ?
Pemikiran positif dan rasa percaya pada Akemi lah yang membuat Amuro dapat bertahan sampai sekarang. Terdengar klise memang, tapi itulah kenyataannya. Amuro selalu yakin kalau Akemi baik-baik saja di sana dan suatu hari nanti, Amuro dapat bertemu kembali dengannya.
~OOO~
Pengabdian yang baik selama beberapa tahun belakangan membuat karir Amuro sebagai polisi menanjak. Ia sekarang sudah menjabat sebagai pimpinan investigasi kasus dan kasus yang ditanganinya adalah organisasi hitam. Kasus yang membuatnya mengingat janjinya pada Akemi.
Sudah sekitar 3 tahun Amuro beserta timnya menyelidiki tentang kasus ini dan perkembangan penyelidikannya cukup lambat. Hal itu terjadi karena cara kerja organisasi ini yang cukup rapi dalam melakukan kejahatan, tidak meninggalkan barang bukti sedikitpun. Amuro beserta timnya dibuat kewalahan olehnya.
Tepat saat umurnya sudah 28 tahun, Amuro harus mengambil cuti sejenak dari penyelidikan karena orang tuanya meninggal dalam kecelakaan mobil. Anehnya Amuro justru tidak terlalu bersedih dengan hal itu. Mungkin karena sejak kecil, ia memang jarang bertemu dan berinteraksi dengan kedua orang tuanya sehingga Amuro tidak merasakan kesedihan seperti yang dirasakan oleh seorang anak ketika kehilangan kedua orang tuanya.
Setelah pemakaman kedua orang tuanya, Amuro memutuskan untuk berkeliling kota sebentar. Ia berjalan-jalan di sekitar taman Haido yang banyak ditumbuhi pepohonan. Amuro duduk di salah satu bangku taman sambil menikmati indahnya langit sore. Hingga matanya tidak sengaja menangkap objek menarik, seorang wanita yang sedang duduk disalah satu bangku taman yang tidak jauh dari tempatnya duduk.
'Apakah mungkin?' Amuro sebenarnya tidak ingin berharap terlalu banyak, namun instingnya berkata lain. Wanita itu, mirip seperti Akemi.
Ia mendekati wanita itu dan ketika jaraknya sudah dekat, Amuro memanggilnya.
"Akemi..."
Wanita itu menoleh ke arah Amuro dan ketika mereka sudah saling berpandangan, Amuro membatin.
'Akhirnya'
"Ya. Kamu siapa ?" tanya wanita itu dengan raut muka bingung.
"Apa kamu lupa. Ini aku Rei." jawab Amuro.
"Rei ?" Wanita itu tampak sedang mengingat-ingat sesuatu. Lalu secara spontan ia bicara.
"Rei. Furuya Rei. Apa itu kau ?" tanya Akemi.
Amuro mengangguk sebagai pertanda jawaban ya.
"Maafkan aku. Aku tidak mengenalimu soalnya kamu tampak beda dari terakhir kita bertemu." kata Akemi.
"Kamu juga. Tampak lebih cantik dari waktu terakhir kita bertemu." puji Amuro.
"Ih, kamu bisa aja." Akemi tersipu malu mendengar pujian dari Amuro.
"Boleh aku duduk disini." tanya Amuro.
"Tentu,"
Dan waktu mereka hari itu dihabiskan dengan mengobrol dan bertanya mengenai kabar masing-masing. Mulai dari Akemi yang menceritakan pengalamannya di Amerika dan Amuro yang sekarang sudah mencapai cita-citanya dulu, menjadi anggota polisi. Mereka berdua baru berhenti mengobrol ketika sudah kehabisan bahan pembicaraan. Saat itulah Amuro berpikir mungkin ini saatnya ia melakukannya. Pernyataan cinta yang sempat tertunda dulu.
"Akemi, aku ingin bicara." nada bicara Amuro berubah menjadi serius.
"Bicara saja. Tidak usah malu-malu." Akemi memberikan kesempatan Amuro untuk bicara.
Amuro menghela nafas sebelum berbicara.
"Kita sudah saling mengenal lama, Akemi. Sewaktu aku pertama bertemu denganmu aku berpikir kamu hanyalah anak perempuan biasa yang membutuhkan pertolongan. Namun, aku salah tentang hal itu. Kau justru balik menolongku dengan sikapmu kepadaku. Kau membuatku mengenal dan merasakan kebahagiaaan. Kau juga yang membuatku merasakan hangatnya keharmonisan dalam sebuah keluarga. Untuk itu aku sangat berterima kasih padamu."
Amuro berhenti sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Sudah sejak dulu, aku mengagumimu, Akemi. Tawa dan senyummu selalu muncul di dalam pikiranku hingga membuatku semakin menyayangimu. Rasa sayang yang pada awalnya hanya sebatas teman. Tetapi, aku tidak bisa menahan rasa sayang itu yang semakin lama semakin besar hingga akhirnya aku sadar. Kalau aku sudah jatuh cinta kepadamu. Mungkin kata-kataku ini terdengar berlebihan bagimu, tapi itulah kenyataannya." kata Amuro mengakhiri pernyataan cintanya. Ia menggenggam telapak tangan Akemi sambil berkata.
"Maukah kau menjadi pacarku ?"
Akemi tampak bingung dengan hal yang diucapkan Amuro. Ia hanya menatap wajah Amuro, sambil berpikir jawaban seperti apa yang harus ia berikan.
"Maafkan aku, Rei. Aku tidak bisa." kata Akemi. Hanya jawaban seperti itulah yang terpikir olehnya. Ia melepaskan genggaman tangan Amuro
"Kenapa?" tanya Amuro dengan nada bicara sedikit tidak terima.
"Situasinya sulit dijelaskan. Aku sudah mencintai orang lain. Aku juga menyayangimu, tapi hanya sebatas sahabat. Maafkan aku, Rei." ucap Akemi sambil menggigit bibir bagian bawahnya. Ia merasakan sakit di hatinya ketika mengucapkan hal tersebut.
Amuro hanya diam di tempat, tidak merespon perkataan dari Akemi.
"Ternyata kau di sini" sebuah suara berat berhasil membuat Amuro dan Akemi mengalihkan perhatian ke arah suara. Amuro kaget begitu melihat wajah dari pemilik suara itu.
'Orang ini, orang yang sudah membunuh Scotch.' batin Amuro geram. Ia menggenggam erat kedua telapak tangannya, menahan amarah untuk tidak meninju wajah orang itu di hadapan Akemi.
"Maaf membuatmu menunggu lama. O ya kenalkan Rei, ini pacarku namanya.."
"Rye, Dai Moroboshi." perkataan Akemi diinterupsi oleh Amuro. Ia memandang Rye dengan sengit.
"Sebaiknya, aku pergi dari sini. Maaf sudah mengganggu kencan kalian berdua." lanjut Amuro dengan nada bicara yang belum pernah didengar oleh Akemi. Sangat datar dan dingin. Ia lalu berlari menjauh dari tempat tersebut.
"Tunggu dulu, Rei." panggil Akemi. Namun terlambat, Amuro sudah menjauh dan hilang dari pandangannya.
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan." hibur Rye. Ia lalu menggandeng tangan Akemi dan mereka berdua pergi meninggalkan taman tersebut.
'Maafkan aku, Rei.' batin Akemi.
~OOO~
Sudah 4 hari Amuro mengurung diri di dalam rumah sejak dirinya mendapat penolakan dari Akemi. Keadaannya begitu memprihatinkan. Mulai dari pakaiannya yang lusuh, wajahnya yang sudah seperti orang tidak punya harapan hidup, sampai matanya yang bengkak dan berair karena jarang tidur. Keadaan rumahnya tak jauh beda, sudah seperti kapal pecah.
Tiba-tiba telepon berdering keras. Dengan malas, Amuro mengangkat gagang telepon tersebut.
"Halo," kata Amuro.
"Halo, Furuya. Ini Kazami." jawab penelpon tersebut.
"Ada apa Kazami ? Bukankah sudah aku bilang, aku akan cuti untuk beberapa hari ini."
"Ini bukan tentang cuti. Cepat lihat berita di Nichiuri TV sekarang." kata Kazami sambil menutup telepon dengan seenaknya sendiri.
Amuro menyalakan televisi dan mencari berita yang dimaksud. Setelah melihat berita tersebut, ia menjadi semakin sedih karena berita itu adalah berita tentang kematian Akemi.
"Kemarin, seorang wanita pelaku perampokan bank ditemukan tewas di dekat hutan pinggir kota. Terdapat luka tembakan di dadanya. Tidak ditemukan petunjuk atau barang bukti dari kejadian ini. Pihak polisi masih melakukan investigasi lebih lanjut. Mereka menduga kalau pembunuhan ini dilakukan oleh pembunuh professional. Sementara itu, identitas dari korban sudah diketahui, korban bernama Akemi Miyano..."
~OOO~
Di sinilah Amuro sekarang, di depan sebuah makam yang terlihat masih baru.
Makam dari Akemi.
Ia menaruh bunga anggrek putih di atas makam itu dan mulai memanjatkan doa untuk Akemi. Setelah selesai ia mulai bermonolog sebentar dengan makam itu.
"Maafkan aku ya. Aku belum bisa memenuhi janjiku padamu," kata Amuro dengan penuh penyesalan.
Kemudian Amuro bangkit berdiri dan meninggalkan makam tersebut. Ia tidak boleh terus-terusan berada dalam kesedihan.
Sesampainya di rumah, Amuro baru menyadari kalau ada sebuah amplop di kotak suratnya. Ia tidak pernah mengecek kotak suratnya selama beberapa hari ini karena selalu mengurung diri di dalam rumah. Amuro membuka amplop itu dan menemukan surat. Ia membaca isinya dan Amuro kembali merasakan sakit di hatinya.
~OOO~
Untuk sahabat terbaikku,
Rei.
Aku minta maaf atas sikapku kemarin. Aku sebenarnya tidak ingin menyakitimu, Rei. Tetapi memang itulah kenyataannya, aku sudah terlanjur mencintai Rye. Aku harap kamu bisa menerima keputusanku ini. Aku yakin suatu saat nanti kamu pasti bisa menemukan pengganti diriku. Seorang wanita baik yang bisa menerimamu apa adanya.
Aku juga minta maaf atas kesalahanku yang pernah aku perbuat padamu. Hahaha. Apa kata-kataku tadi seperti orang yang akan meninggalkan dunia ini ? Tapi kalau memang ini terakhir kalinya aku hidup, aku ingin mengajukan permintaan padamu, Rei.
Jika aku meninggal, tolong jangan menyalahkan siapapun atas hal itu. Itu sudah takdir dari Yang Maha Kuasa. Dan setelah aku pergi, tolong jaga Shiho ya. Aku tidak ingin dia segera menyusulku.
Apa kau tahu, Rei ? Aku bersyukur bisa mengenalmu. Kau memberikan banyak kebahagiaan dalam hidupku. Kau adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki.
Mungkin itu saja yang dapat ku ucapkan.
O ya, selamat atas keberhasilanmu menjadi polisi, aku kemarin lupa mengucapkannya. Hehehe
Ps : kamu orang baik Rei, yakinlah akan hal itu.
Salam hangat
Akemi
To be continue
Balasan review (untuk guest)
lady of rain : Ini udah lanjut. Terima kasih sudah review.
Aku kehilangan ide cerita saat menulis chapter ini, jadi harap maklum kalau kata-katanya agak sedikit aneh.
Akhir kata
Mind to review?
