Chapter "T" update! Terima kasih sudah membaca dan memberikan review pada chapter sebelumnya. Terima kasih juga sudah menunggu chapter ini sampai update. Tidak terasa sebentar lagi fic ini akan selesai. Tersisa tujuh chapter lagi, termaksud chapter ini. Mudah-mudahan fic ini tidak mengecewakan hingga akhir nanti. Bisa dibilang, mungkin chapter ini sedang menuju konfliknya. Sekarang waktunya membalas review~

Yoona Ramdanii : Haha, Kiba ditolak di chapter "U". Itu tidak mungkin, "T" itu "Tragedi". Disini aku mencoba membuat konfliknya.

Guest : Iya, arigatou. Ini udah lanjut~

Haruta Hajime : Iya, tentu saja. Itu pasti, sama sepertiku. Kau benar, ini udah update.

BerryPolkan : Iya nih~

zan : Iya, arigatou.

abiegael. sejathie : Haha, terima kasih. Haha, banyak sekali tebakannya. Tapi kali ini "Tragedi", aku mencoba untuk membuat suatu permasalahan.

Yasuna Katakushi : Eh? Nggak ada ya? Haha, bukan itu. Ini udah update.

yudi : Arigatou, ini udah lanjut.

anna. fitry : Kesingkatan ya? Gomenasai~ Haha, tapi gak ada tarung-tarungnya kok.

Hiramekarei : Iya, aku juga merasa seperti itu. Haha, makasih udah ditunggu.

Watashi wa Mai : Terima kasih udah memberi semangat pada Kiba, meski dia memang bakalan kalah. Tapi nanti ada ceritanya sendiri saat ia akan menang, hohoho.

RifalRifaldigmail. com : Iya, ini udah lanjut.

aviola. aulia : Terima kasih~ Haha, itu hanya sederhana saja. Kalau itu tentu saja sudah ada waktunya, makasih udah ditunggu.

Uzumaki-Hime : Makasih udah ditunggu. Haha, chapter kali ini "Tragedi". Ini udah lanjut~

Name yui-chan : Iya, ini udah diterusin. Arigatou~ Makasih udah ditunggu.

Rafki D'namikaze : Arigatou, gak bakalan ngegantung kok. Ini udah update~

key-kun : tidak akan selamanya kok, nanti mereka juga tidak akan ada di zone itu.

Selamat membaca~

::

::

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

26 Days : Koi of Love © Haruna Hajime

::

Pairing: Hinata Hyuuga & Naruto Uzumaki

::

Genre: Romance

::

Warning: Silahkan dibaca dan lihatlah kesalahan-kesalahan yang kapan saja bisa terjadi di fic ini. Yang pastinya Hinata agak sedikit OOC, itu menurutku.

::

Rated: T

::

~ Happy Reading ~

::

::

::

Hari ini, adalah hari yang paling tidak pernah kuinginkan. Naruto~ Kenapa engkau melakukan hal itu padaku? Dirimu yang mementingkan dirinya, dibandingkan denganku. Dirimu yang bersenang-senang dengannya, melakukan hal yang dilakukan layaknya seorang pacar. Tragedi cinta yang terjadi pada hari ini, membuatku takut untuk melanjutkan perasaan ini. Naruto, sudah memiliki pacar, dan aku tidak tahu itu.

Kejadian yang kulihat hari ini, membuatku beranggapan. Bahwa perasaanku padanya, harus segera kuakhiri.

::

::

26 Days : Koi of Love ◐

::

::

-/-/-

From: Naruto Uzumaki

Subjeck: Maaf!

Text

Hari ini aku tidak bisa menemanimu karena ada urusan penting Hinata. Maafkan aku ya~

-/-/-

Hinata membaca sms itu dengan sedih, karena ia tidak bisa bersama dengan Naruto hari ini. Naruto memiliki urusan penting, Hinata tidak tahu urusan apa itu. Tapi Hinata memang harus menghargai privasi Naruto. Memang Naruto tidak mungkin memiliki banyak waktu untuk menemaninya selalu. Naruto juga memiliki banyak pekerjaan yang menggunakan waktu. Tapi rasanya sepi juga kalau tidak ada Naruto disisinya.

"Jangan seperti itu Hinata, kamu tetap harus bersemangat!" serunya menepuk-nepuk kedua wajahnya dengan kedua tangannya, memberikan semangat pada dirinya sendiri. Meski tidak ada Naruto, ia tetap harus bersemangat. Ia tidak boleh selalu bergantung pada Naruto, ia harus bergantung pada dirinya sendiri. Karena kalau orang yang kita butuhkan sudah tidak ada, kita tidak punya pegangan lain selain diri sendiri.

Hinata melihat jam dinding, ternyata sudah pukul sebelas siang. Waktu sudah menunjukkan pukul keberangkatan Hinata, jadi Hinata langsung bersiap-siap dan mengenakan sepatu sendalnya. Tidak lupa membawa makanan ikan yang ada di sebelah rak sepatu. Dimasukkannya makanan itu ke dalam tas kecil sembari jalan keluar rumah.

Jalan sampai menuju tempat tujuan. Sebenarnya Hinata memiliki sepeda, tapi ia lebih suka jalan kaki daripada naik sepeda. Katanya, kalau jalan cepat selama lima belas menit, maka kekuatan otak akan meningkat lima belas persen. Hinata mana mungkin menyia-nyiakan kesempatan emas yang selalu datang padanya.

"Kira-kira urusan penting yang dimaksud oleh Naruto apa ya?" tanya Hinata penasaran.

Sampai sudah Hinata di sekolah, langsung ia berjalan menuju kolam untuk memberi makan si putih. Kemudian ia berjalan menuju bangku taman untuk duduk dan membaca komik berjenis humor yang ia bawa untuk menghilangkan rasa bosan. Mengingat kejadian kemarin, tidak ada kerjaan yang hanya membuatnya bosan. Jadi ia mencari jalan pintas untuk menghilangkan rasa bosan.

Satu jam berlalu, akhirnya komik itu pun selesai Hinata baca. Sekarang ia tidak tahu mau melakukan apa lagi. Merasa haus, ia segera bergerak keluar sekolah untuk mencari mesin otomatis yang menyediakan minuman. Hinata lupa membawa minuman dari rumah, karena ia sendiri juga jarang minum. Kata Naruto, didekat sekolah memang sudah ada mesin otomatis. Tapi Hinata belum pernah menemukannya, jadinya sekalian mencarinya.

"Katanya dekat taman di sebelah sekolah ya?" Hinata berjalan dan berbelok ke kiri, jalan lima menit ia akan sampai di taman itu.

"Itu dia," Hinata berlari pelan mendekati mesin penjual minuman otomatis itu, kemudian mengeluarkan uang logam dari dalam tasnya. Mamasukkan uangnya, dan memilih minuman yang menyegarkan.

KLENTANG~ Suara jatuh minuman kaleng terdengar, Hinata langsung mengambil minuman kaleng itu. Ia berjalan menuju bangku terdekat, untuk dapat menghayati segarnya minuman kaleng yang baru saja didapatkannya. Sebelumnya Hinata akan membuka penutupnya, tapi setelah dicoba, ternyata keras juga. Dicoba lagi, tetap tidak terbuka.

"Haduuh~ Gimana ini ya bukanya? Kok keras sekali?" tanyanya kesal, masalahnya sudah dicoba lima kali tetap tidak terbuka. Akhirnya Hinata mencoba untuk melakukannya sekali lagi, tapi apa yang kali ini terjadi?

"Ah!"

Hyuuuung~ Kaleng itu malah terbang dan terjatuh di semak-semak tepat di belakang bangku taman yang diduduki Hinata. Langsung saja Hinata berdiri dan bergegas mencari kaleng minuman itu. Sayang kalau dibiarkan begitu saja, untungnya kaleng minuman itu belum terbuka. Kalau tidak, isi dari minuman itu akan habis tumpah.

Tidak butuh waktu yang lama untuk mencari, Hinata langsung dapat menemukannya. "Ini dia," katanya dan mengambil minuman kaleng itu. Ia berniat untuk kembali duduk di bangku taman, dan minum minuman yang belum sempat diminumnya. Ia yakin kali ini bisa membuka kaleng tersebut, tapi langkahnya terhenti karena ada suara yang membuatnya terhenti.

"Ahaha~ Naruto ini gimana sih," suara perempuan yang didengar oleh Hinata, telah memanggil nama Naruto, orang yang begitu disukainya.

Secara spontan Hinata bersembunyi di balik semak-semak, matanya terbelalak melihat Naruto bersama dengan seorang gadis. Gadis berambut merah panjang yang diurai dengan indah dan mengenakan kacamata, sedang mengaitkan tangan pada tangan Naruto begitu erat.

"Lepas~ Kamu duduk di sana, aku belikan minuman." perintah Naruto pada gadis itu, ia menunjuk bangku taman untuk diduduki oleh gadis tersebut.

"Siap!" mematuhi perintah Naruto, gadis berambut merah itu langsung duduk di bangku taman yang ditunjuk oleh Naruto yang ternyata adalah bangku yang belum lama ini diduduki oleh Hinata.

'Itu, Naruto? Sama siapa? Tapi, katanya. Jadi, ini yang dimaksud urusan penting itu? Kencan, dengan pacarnya?' batin Hinata syok melihat sesuatu yang benar-benar membuat hatinya sakit.

Gadis berambut merah itu duduk di bangku yang tadi Hinata duduk. Hinata tidak mau melihat kelanjutan keduanya, tapi ia tidak punya jalan untuk pergi. Jalan keluar dari taman hanya ada satu, dan kalau keluar dari situ pasti akan ketahuan oleh Naruto. Jadi terpaksa Hinata harus bersembunyi, sampai kedua orang itu pergi.

"Nih~" Naruto melempar minuman kalengnya, dan ditangkap oleh gadis itu.

"Makasih, bangku ini terasa hangat. Mungkin tadi ada orang yang duduk di sini," ucap gadis itu dan melihat Naruto yang duduk di sampingnya. Ia membuka kaleng minuman dengan gampang dan langsung meminumnya, Hinata yang melihat itu jadi tambah syok. Kok bisa membuka kaleng minuman dengan sekali coba? Padahal Hinata sudah mencobanya berkali-kali, tapi tetap saja tidak terbuka.

"Cuma perasaanmu kali," balas Naruto cuek.

"Cuek sekali dirimu~" protes gadis tersebut meletakkan kaleng minumannya di bangku dan menarik kedua pipi Naruto dengan jari-jari tangannya.

"Aw! Sakit tahu!" seru Naruto menepis tangan gadis itu dan mengusap pipinya pelan.

"Lagian, masa bersikap seperti itu pada seorang gadis sih."

Hinata hanya terdiam melihat kejadian itu, ia tidak bisa melakukan pergerakan. Kalau seperti ini, Hinata bagaikan penguntit saja. Tidak suka dengan kejadian ini lama-lama, ia jadi tidak betah. Melihat Naruto yang berduaan dengan gadis lain, sungguh membuat hatinya sakit. Meski ia tidak tahu kalau gadis itu benaran pacarnya Naruto atau bukan.

"Ah~ Bosan di sini. Ayo kita pulang saja," gadis itu berdiri dan membuang sampah ke belakangnya dengan cara melemparnya.

JDUK~

"Aduh~"

"Lho? Suara apa tuh?"

"Hei~ Buang sampah jangan sembarangan dong!" omel Naruto, sepertinya Naruto tidak mendengar suara rintihan tadi. Ia hanya terfokus pada sampah yang telah dilempar sembarangan.

Baru saja Naruto mau menuju dan mengambil sampah yang asal dibuang itu, terdengar bunyi sebuah alarm.

Ctik-ctik-ctik~

Itu adalah bunyi alarm yang berasal dari jam tangan gadis itu. Sepertinya itu adalah alarm yang sengaja dibuat olehnya untuk sebuah pengingat waktu untuk pulang.

"Yah~ Waktuku di desa ini habis deh," katanya lesu. "Hei~ Naruto," panggilnya kemudian.

"Apa?" tanya Naruto malas. Kalau dipanggil, pasti ia harus datang menghampirinya. Memangnya apa sih yang mau dilakukan olehnya?

"Salam perpisahan~"

Chu~

Klontang~ GLungdung-glundung~(?)

Hinata begitu kaget dengan kejadian tadi. Sudah membuat hati Hinata sakit melihat Naruto dengan gadis lain, kepala Hinata sakit gara-gara dilempar kaleng, sekarang gadis itu malah mencium Naruto? Itu membuat kaleng minuman yang dipegang oleh Hinata terjatuh, dan menggelinding ke arah Naruto.

"Yah~ Gagal."

"Ngapain sih?! Sudah kuperingatkan, 'kan? Perlu kuperingatkan berapa kali sih supaya kau mengerti?"

"Lho? Ada kaleng menghampiri kita." tidak peduli dengan ocehan Naruto, gadis yang penasaran ini langsung melihat asal kaleng itu, dan dilihatnya Hinata di sana. "Siapa dia? Tidak baik 'kan mengintip seperti itu." ucapannya itu membuat Hinata kaget.

Naruto yang penasaran pun melihatnya, ia begitu kaget melihat sosok Hinata di sana. Sejak kapan Hinata di sana? Itu pertanyaannya dalam hati. Kalau sejak dari tadi, berarti Hinata juga melihat kejadian ini dan itu yang dilakukan oleh Naruto. Tapi, Hinata melihat yang sebenarnya tidak ya?

"Hinata?"

"Ah, itu. Maafkan aku!" langsung saja Hinata berlari dan meninggalkan taman itu, melewati Naruto dan gadis yang sedang bingung.

"Hee~ Dia pasti salah paham." cetus Naruto kesal, Naruto tahu kalau Hinata tidak melihat kejadian yang sebenarnya. Karena Hinata melihatnya dari belakang, pasti ia jadi salah paham.

Naruto mau mengejar Hinata, tapi tangannya malah ditahan oleh gadis yang masih saja bingung itu. "Sebelum pergi, hilangkan rasa penasaranku dulu. Siapa sih?" tanyanya kemudian.

"Dia gadis yang kusukai tahu!" seru Naruto padanya, itu membuat mata gadis yang mendengarnya terbelalak.

Gadis itu melepas pegangannya pada Naruto, kemudian memegang kedua pipinya. "Wooaah~ Benarkah?! Kau punya gadis yang kau sukai? Ajaib~ Kalau gitu ayo dikejar! Dikejar!" serunya kemudian. Ia memberikan pergerakan seakan mengusir Naruto untuk mengejar dan menangkap pujaan hatinya itu.

"Ugh~ Sialan kau Karin,"

"Hehe,"

~ XX ~

˚°◦ ◦°˚ ◐ 20th Day ◐ ˚°◦ ◦°˚

~ XX ~

Di pinggir kolam ikan, terdapat seorang gadis yang sedang termenung. Merenungkan apa yang dilihatnya barusan, yang telah membuat hatinya sakit. Sedikit menitikkan air mata, sebagai bukti bahwa hatinya sedang bersedih. Orang yang sangat disukainya, sedang berpacaran dan berciuman dengan gadis lain. Itu dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri, dan ia tidak dapat mencari alasan untuk mempungkirinya. Karena memang itu kenyataannya, itulah fakta.

"Kenapa selama ini Naruto tidak pernah kasih tahu kalau dia sudah memiliki seorang pacar?" tanya gadis itu disela isakannya.

Hyuuga Hinata, baru saja mendapatkan sebuah fakta yang mengejutkan.

"Kalau aku tahu itu, pasti aku tidak akan melanjutkan perasaan ini lebih dalam lagi." ia mengusap matanya yang basah, rasanya begitu menyakitkan.

"Apa harus kuakhiri perasaan ini?" di tengah kebimbangan, antara mempertahankan dan mengakhiri perasaan yang sudah lama melekat padanya.

"Apa yang harus kulakukan?" pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan olehnya, tapi tidak ada satu pun jawaban yang tersedia.

"Hinata~" mendengar seruan Naruto, Hinata langsung kaget. Untuk saat ini, ia tidak mau bertemu dengan Naruto.

Hinata berlari secepatnya untuk bersembunyi, menuju pohon besar yang dapat menutupi seluruh tubuhnya. Untuk saat ini ia benar-benar tidak mau bertatapan wajah dengan Naruto, nanti ia malah nangis mengingat kejadian tadi. Fakta itu, memang tidak mengenakkan. Kalau saja Hinata dapat memutarbalikkan waktu, ia pasti tidak akan ke taman untuk membeli minuman. Meski ia sudah tahu apa yang bakalan terjadi di taman itu antara Naruto dan gadis berambut merah tersebut.

"Hinata?" Naruto melihat sekelilingnya, ia tidak mendapatkan sosok Hinata di sana. Tapi ia tahu, tujuan Hinata pasti di sini. "Aku tahu kalau kamu ada di sini, komohon dengarkan aku." katanya, kemudian ia berjalan mendekati kolam ikan dan berdiri di pinggirnya.

"Aku tahu kalau untuk saat ini kamu tidak mau bertemu denganku, tapi dengarkan aku dulu." Naruto menarik napasnya, dan menghelanya secara perlahan. Kemudian ia mempersiapkan untuk menjelaskan semuanya pada Hinata.

"Memang, ini adalah hari penting bagiku. Makanya pagi-pagi aku sms kamu kalau aku tidak dapat menemanimu. Kenapa? Karena pada akhirnya, orang yang kurindukan telah datang padaku hari ini." jeda sementara, sekalian matanya mencari-cari keberadaan Hinata.

"Dia itu, gadis yang kau lihat itu, dia adalah gadis yang tidak dapat diatur, nakal, dan ceria. Memang, kebalikannya darimu Hinata. Tapi, aku juga menyayanginya, sama seperti aku menyayangimu." kembali terdiam, ia ingin tahu apakah akan ada respon dari Hinata atau tidak. Tapi setelah beberapa detik terlewatkan, tidak ada respon sama sekali.

"Harusnya seperti biasa aku menemanimu untuk datang ke sekolah, untuk memberi makan sepasang koi itu. Tapi karena bertemu dengannya adalah kejadian yang sangat jarang terjadi, aku lebih memilih dia."

Dari sini sudah terbukti, bahwa gadis itu lebih penting daripada Hinata. Gadis itu benaran pacarnya Naruto, 'kan? Makanya gadis itu lebih diutamakan daripada Hinata. Rasanya mau telinga itu tidak mendengarnya, tapi seberapa usaha yang dikeluarkan untuk tidak mendengarnya, akan tetap dapat mendengar ucapan Naruto. Ia tahu bahwa dirinya memang egois, tidak menginginkan Naruto dekat dengan gadis lain. Tapi ia tidak memiliki hak untuk melarang Naruto, sama sekali tidak punya. Ia bukanlah seorang Ratu yang dapat meminta apa saja yang diinginkan olehnya.

"Hanya satu hari dia akan berada di sisiku, satu hari saja. Setelah itu, dia akan pergi kembali. Entah kapan aku akan bertemu dengannya lagi. Oleh karena itu, aku menggunakan kesempatan satu hari ini untuk menambah kenangan bersama dengannya." Naruto mulai gelisah, ia mulai tidak yakin Hinata ada di sana. Tapi kalau bukan di kolam ikan ini, kemana lagi Hinata merenung?

"Kuharap kau bisa mengerti Hinata," Naruto tertunduk, ia juga mencoba merenungkan kejadian tadi. Ia harap, ia bisa menjelaskannya dengan benar pada Hinata. Agar tidak akan ada lagi kesalapahaman, dan agar ia bisa dekat dengan Hinata kembali.

"Sebentar lagi sudah minggu ketiga, 'kan? Sisa seminggu lagi orang yang kau sukai akan berpaling padamu. Maka sebentar lagi, aku tidak bisa berada dekat denganmu." selain masalah tadi, ini adalah hal lain yang diresahkan oleh Naruto. Seminggu lagi, Naruto tidak bisa dekat-dekat dengan Hinata.

"Tapi entah kenapa, rasanya aku tidak rela." karena Naruto tahu, akan ada lelaki lain yang menggantikannya untuk melindungi Hinata setelah itu.

Naruto tidak tahu, Naruto tidak mengerti kebenarannya.

"Untuk masalah ciuman itu, sebenarnya kau hanya..." Naruto menghentikan ucapannya, bukan karena tidak tahu mau berbicara apa setelahnya.

'Hanya?' Hinata penasaran dengan lanjutannya, ia menunggu kata-kata apa yang berikutnya terucap.

Tapi~

"Ugh~ Sial!" tidak melanjutkannya, malahan Naruto berlari pergi meninggalkan tempat itu. Hanya kata-kata kasar yang dilontarkan olehnya. Naruto menganggap bahwa Hinata tidak ada di sana, karena setelah beberapa menit, ia tidak merasakan keberadaan Hinata sama sekali.

"Naruto pergi ya? Ternyata dia memang tidak merasakan kehadiranku." disisi Hinata, ia hanya termenung mendengarnya. Tidak ada rasa penasaran sama sekali dengan kata-kata apa yang akan dilanjutkan oleh Naruto. Karena ia tahu, itu adalah hal yang wajar.

Beberapa detik terlewat, tiba-tiba Naruto kembali. Ia menundukkan kepalanya dan membungkukan badannya, "Maafkan aku! Tadi aku memang sempat tidak merasakan kehadiranmu. Tapi aku tahu, kamu memang benar-benar ada di sini Hinata. Tapi untuk saat ini, aku harus kembali padanya. Maafkan aku~" setelah itu, Naruto kembali menghilang bagaikan ditelan bumi.

Hinata yakin, setelah ini Naruto tidak akan pernah kembali lagi padanya. Naruto tidak akan kembali ke sekolah untuk menemani Hinata. Karena, Naruto ada orang lain yang harus ditemaninya. Orang yang lebih penting daripada dirinya.

"Ternyata gadis itu memang lebih penting ya? Apa hak aku untuk menginginkan keberadaan Naruto disisiku selalu?" Hinata keluar dari pohon besar itu, berjalan mendekati kolam ikan yang masih berisikan koi putih.

Hati yang hancur berkeping-keping, ditemani dengan air mata yang mengalir. Membuat Hinata beranggapan, inilah tragedi cinta yang dialaminya untuk kesekian kalinya. Tapi inilah yang terparah~

"Apa masih pantas aku menyukainya?"

Isak tangis, yang terdengar setelahnya.

~ XX ~

˚°◦ ◦°˚ ◐ Tragedi ◐ ˚°◦ ◦°˚

~ XX ~

"Hmm~ Sebentar lagi, aku akan pergi. Perlu pamit tidak ya?" gadis yang diketahui bernama Karin ini sedang duduk di bangku taman sambil melihat jam tangannya.

"Sebentar lagi gelap," ia melihat langit yang masih lumayan cerah, tapi pasti satu jam lagi akan gelap.

Mengingat kejadian tadi, itu memang membuatnya kaget. "Bagaimana dia dengan gadis itu ya?" tanyanya senyum-senyum sendiri. "Tapi tipe-nya boleh juga," dan tertawa setelahnya.

"Karin!"

Karin melihat kedatangan Naruto, berlari menghampirinya. "Hei~ Naruto?" tanyanya tidak percaya.

"Maaf lama!"

Bukan, bukan ini harusnya yang dilakukan oleh Naruto. "Urusanmu dengan orang yang kau sukai itu sudah selesai?" tanya Karin. Harusnya sekarang Naruto bersama dengan Hinata untuk menyelesaikan masalah dengannya.

"Belum, itu nanti saja." mendengar ini, Karin merasa kesal. Dengan perlahan, ia mendekati Naruto.

Tersenyum sinis dan, "Hei~ Kau ini bodoh ya!?" menjitak Naruto karena kebodohannya. Karin benar-benar merasa kesal dengan kebodohan Naruto. Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Naruto, sih?!

"Adu-duh~ Kau ini apaan sih!?" tanya Naruto kesal, ia memegang kepalanya yang sakit akibat pukulan dari Karin.

DUG~ Kali ini pukulan di perut yang diterima oleh Naruto. Sekarang, Naruto terjatuh ke tanah. Ia benar-benar tidak mengerti sebenarnya apa yang dilakukan oleh Karin. Kenapa dia tega-teganya memukul Naruto sampai dua kali!?

"Hei~!"

"Kau yang apa-apaan? Aku juga seorang perempuan! Aku tahu apa yang dia rasakan sekarang. Seharusnya dia yang lebih kau utamakan, bodoh!" amukan demi amukan dilontarkan oleh Karin, benar rasanya mau menendang Naruto. Memberikan pukulan beruntun karena kebodohan Naruto.

"Tapi, aku harus mengantarkan kepergianmu." dengan suara yang memelan, Naruto menundukan kepalanya. Memang ini 'kan yang harus dilakukannya sekarang?

"Memangnya aku bakalan pergi jauh apa?! Sampai diantar segala!" tapi Karin tetap tidak mengerti perasaan Naruto, yang ingin mengantarkan kepergiannya, sebelum tidak dapat bertemu lagi.

"Iya,"

Karin menghela napasnya, "Aku memang akan pergi jauh, tapi suatu saat kita pasti akan bertemu lagi kok. Makanya, harusnya kau selesaikan masalahmu dulu!" kembali ocehan yang didapat oleh Naruto. Memang pasti ia akan mendapatkannya, Karin memang seperti itu.

"Tidak," Naruto berdiri, ia melihat Karin dengan tatapan serius.

"Ha? Tidak katamu? Bagaimana kalau kalian tidak akan pernah baikan?!" serunya kemudian, Karin benar-benar tidak pernah berpikir, Naruto akan berbuat sejauh ini.

"Kalau perasaan kami sama, pasti dengan sendirinya kami akan berbaikan." hanya dengan satu kalimat dari Naruto, itu sudah membuat Karin merinding.

'Sejak kapan Naruto jadi sedewasa ini?' batin Karin tidak percaya. Kalau dilihat, Naruto memang sudah lebih tinggi darinya. Padahal dulu Naruto lebih pendek, tapi sekarang malah lebih tinggi. Selain itu, ada sedikit sisi dewasanya yang sudah mulai tumbuh.

Itu membuat Karin tersenyum tipis, "Kau ini bodoh atau apa sih," katanya kemudian. Entah ini meledek atau apa, yang jelas ini adalah sebuah pujian di telinga Naruto.

"Kamu adalah saudaraku, Karin. Hanya kamu satu-satunya keluarga yang kupunya saat ini. Jadi, tidak masalah 'kan kalau diakhir kepergianmu, aku dapat melihatmu?" Naruto menyeringai, inilah hal yang sudah lama sekali tidak dilihat oleh Karin. Seringaian Naruto~

"Yah~ Sifatmu ini memang harus dikagumi. Tapi, kau ini memang benar-benar bodoh ya. Lebih bodoh dari keledai~"

"Eh? Kok gitu sih?"

Ctik~ Ctik~ Ctik~

Kembali alarm itu berbunyi, menandakan bahwa Karin benar-benar sudah harus pergi dari tempat ini.

"Pokoknya aku tidak mau tanggung jawab dengan kejadian tadi ya." katanya malas, urusan beginian doang pasti dapat diselesaikan oleh Naruto tanpa bantuannya.

"Sip~"

"Untuk kebiasaan itu, sebenarnya sudah hilang dari lama." Karin menatap wajah Naruto dengan serius, ia melihat wajah penasaran Naruto.

"Lalu?"

"Aku hanya mau melihat wajah malumu sih, sudah lama aku tidak melihat wajah imutmu karena malu." kemudian Karin mencolek wajah Naruto, dan kemudian berlari menjauhinya.

"Hei~ Apa-apaan tuh?!" Naruto yang merasa kesal karena dibilang imut. Mana pantas seorang pria sejadi dikatakan imut!?

"Lagian aku sudah punya pacar, mana mungkin aku menciummu. Week~" ledekan diakhir ini benar-benar membuat Naruto kesal. Sudah ada perempatan di kepalan tangan Naruto.

"Sudah ya~"

Melihat Karin yang mulai serius, "Iya," dia juga harus ikutan serius.

"Semoga kita dapat bertemu lagi,"

Akhirnya, Naruto berpisah dengan saudara jauh yang disayanginya.

Malam hari telah tiba, Hinata masih berada di kolam ikan itu. Ia telah memberikan makan si koi hitam. Niatnya, ia mau melihat bagaimana cara mereka berganti tempat. Tapi hanya sekali kedipan, koi yang tadinya putih sudah berubah menjadi koi hitam. Sepertinya Hinata memang tidak diizinkan untuk melihat cara pergantiannya.

"Bagaimana dengan Naruto dan gadis itu sekarang ya?" sekarang di pikirannya masih banyak pertanyaan yang melekat. Bagaimana keadaan Naruto? Siapa gadis yang bersama dengan Naruto sebenarnya? Dan masih banyak lagi.

"Dia sudah pulang ke tempat asalnya," mendengar itu, Hinata jadi kaget.

Naruto sekarang, tepat ada di belakangnya! Kenapa bisa begitu? Seharusnya Naruto tidak akan datang ke tempat ini lagi. Tapi kenapa?! Suaranya begitu terdengar jelas, itu membuat Hinata takut. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Hati Hinata masih belum siap untuk bertemu dengan Naruto.

"Hinata~ Sebenarnya..." awalnya Naruto ingin memegang pundak Hinata, tapi ia melihat Hinata yang begitu takut padanya, ia hentikan niatnya. "Sepertinya keberadaanku membuatmu takut." katanya sedih, ia melihat tangannya sendiri.

"Aku akan pergi," tidak ada respon dari Hinata, itu benar-benar membuat hati Naruto sakit. Akhirnya, Naruto benar-benar pergi dari tempat itu.

Hinata yang merasakan sepi, mencoba memberanikan diri untuk menengokan kepalanya ke belakang. Ternyata benar, Naruto sudah tidak ada di sana. Hinata tidak tahu, apa yang harus dilakukannya sekarang. Apa dengan begini, hubungan keduanya akan mulai merenggang? Apa yang akan terjadi, jika besok mereka bertemu? Apa yang harus dilakukan oleh Hinata?

"Aku yang bagaimana yang harus kutunjukan untuk hari esok? Bagaimana kalau Ino mengetahuinya?" pikiran buruk mulai melayang dibenak Hinata. Ia tahu banget sifat Ino, pasti akan ada kejadian buruk yang menimpa Naruto.

'Apa yang kau lakukan padanya, HA!?'

JDUK~

Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya, jangan sampai kejadian itu terjadi. Masa di depan umum Ino menonjok dagu Naruto hingga Naruto terjatuh dan pingsan? Itu tidak mungkin. Ia harus merahasiakan hal ini dari Ino. Semoga saja, Ino tidak menyadarinya nanti.

"Padahal besok adalah hari ke dua puluh satu, tapi kok malah muncul masalah ya?"

::

::

To Be Continue ◐

::

::

Chapter "T" pun berakhir! Bagaimana dengan kisahnya? Di chapter sebelumnya aku belum pernah buat yang seperti ini, jadi kubuat saja. Tentang Karin, dia saudara jauh Naruto yang jarang sekali bertemu dengan Naruto. Jadi kalau disuruh pilih antara Hinata dan Karin, Naruto pilih Karin karena hanya bisa sehari saja. Kalau Hinata, ia akan selalu merasakan kesenangannya setiap hari. Jadi inilah konflik yang terpikirkan olehku~ Sampai saat ini Hinata menganggap bahwa Karin adalah pacar Naruto, karena Naruto tidak memberitahukan hal yang sebenarnya. Begitulah~ Terima kasih sudah membaca chapter ini sampai akhir. Berikutnya chapter "U", ditunggu ya.

Thanks To :

Yoona Ramdanii, Guest, Haruta Hajime, BerryPolkan, zan, abiegael. sejathie, Yasuna Katakushi, yudi, anna. fitry, Hiramekarei, Watashi wa Mai, RifalRifaldigmail. com, aviola. aulia, Uzumaki-Hime, Name yui-chan, Rafki D'namikaze, key-kun, dan pembaca semuanya.

Jaa~

Bertemu di chapter "U"~

V

V

V