.
.
.
Disclaimer : Detective Conan © Aoyama Gosho
Warning : OOC, maybe AU, Humor gagal, alur gak jelas, bahasa campur aduk dan segala kekurangan lainnya.
Catatan : Jangan terlalu serius dalam menanggapi chapter ini karena saya sendiri juga tidak terlalu serius dalam membuatnya. :v
Ok, tanpa basa-basi lagi saya ucapkan
Selamat membaca
Conan mulai menjalankan langkah pertama dari rencananya. Setelah mendengar cerita dari Amuro kemarin, perlahan Conan mulai memahami masalah antara Amuro dan Akai. Dia pun mulai mengambil kesimpulan dari informasi-informasi yang telah didapatkannya.
'Jika mendengar cerita dari kak Amuro kemarin, dapat disimpulkan Amuro sempat bertemu dengan Akemi sebelum ia meninggal. Dan kemungkinan besar Amuro juga bertemu dengan Akai yang waktu itu berstatus sebagai pacar Akemi. Serta menurut cerita Haibara, kak Amuro dan Akemi adalah teman akrab sejak SMP dan menurutku Akemi bukan hanya sebagai sahabat biasa bagi Amuro. Mungkin saja Amuro menyimpan perasaannya pada Akemi dan sewaktu ia akan menyatakannya semua sudah terlambat karena Akemi terlanjur mencintai Akai. Itu menjelaskan kenapa Amuro membenci Akai, tetapi apa hanya itu alasannya ?' Conan berpikir dengan keras. Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya pada Akai tentang hal itu.
~OOO~
Conan pergi ke rumah tempat Akai alias Subaru tinggal, rumah kediaman Kudo. Ia lalu mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk karena teringat dengan perkataan Haibara kemarin.
"Setidaknya kalau mau masuk rumah orang lain, ketuk pintu dulu, Kudo"
Seorang pria bertubuh tinggi dan berkacamata menyambut kedatangan Conan. Dia adalah Subaru Okiya yang sebenarnya adalah Akai yang menyamar.
"Oh, Conan rupanya. Ada perlu apa ?" Tanya Akai ramah.
"Ah,.. aku mau mengobrol sebentar dengan Akai-san bisa?"
"Tentu saja. Silahkan masuk." Akai mempersilahkan Conan masuk. Ia dan Conan mengobrol di ruang tamu.
"Apa yang ingin kau bicarakan ?" Akai langsung membuka pembicaraan.
"Itu…" Conan memikirkan kata-kata yang ingin ia ucapkan.
'Kalau aku menceritakan rencanaku sesungguhnya mungkin Akai-san tidak akan mau bicara jujur. Aku harus memancingnya terlebih dahulu.' Pikir Conan.
"Aku sering khawatir dengan keberadaan Bourbon di sekitarku. Mungkin ia memang memiliki tujuan yang sama dengan kita, tetapi ia tidak pernah mau bekerja sama dengan kita. Dan setelah aku pikir-pikir sepertinya alasan ia tidak mau bekerja sama dengan kita adalah karena ia membencimu. Hal itu terbukti dengan perkelahian kalian di Aquarium Touto. Apa kalian saling punya dendam atau masalah masa lalu yang belum terselesaikan ?" lanjut Conan.
"Kenapa tidak langsung ke intinya saja, bocah detektif ?" kata Akai sambil menyeringai sedikit.
"Apa kau khawatir aku tidak akan menjawab pertanyaanmu dengan jujur?" lanjut Akai sehingga membuat Conan terkejut karena Akai bisa menebak apa yang dipikirkannya. Conan hanya mengangguk sebagai jawaban iya.
"Masalahku dengan Bourbon itu sudah menjadi sangat rumit. Dimulai dari kesalahpahaman yang terjadi antara kami. Bourbon menganggapku sebagai orang yang membunuh Scotch, teman baiknya. Pada kenyataanya, Scotch lah yang membunuh dirinya sendiri dengan pistolku. Letak kesalahanku karena pada waktu itu, aku tidak mau berbicara jujur padanya dan mengelak tuduhan darinya…"
"Kenapa kau tidak berbicara jujur padanya ?" Conan memotong cerita dari Akai.
"Aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku tidak mau berbicara jujur waktu itu, mungkin karena aku sudah mempunyai perasaan benci pada Bourbon sebelumnya. Kau tahu kenapa ?" Akai bertanya pada Conan dan hanya disambut oleh gelengan kepala dari Conan.
"Karena ia adalah orang yang sangat disayangi oleh Akemi, walaupun pada akhirnya Akemi lebih memilih aku daripada dia. Kau tahu, hampir setiap hari Akemi menceritakan tentang Rei. Rei inilah, Rei itulah hingga membuat aku menjadi kesal sendiri. Sebenarnya yang jadi aku pacarnya itu Rei atau aku ?" Jelas Akai dengan nada marah yang belum pernah dilihat Conan dan membuat Conan sedikit takut.
"Lalu kenapa kalian tidak berdamai saja dan melupakan masa lalu itu ?" saran Conan setelah ia mendapatkan keberaniannya kembali.
"Tidak semudah itu. Aku belum siap bertemu dengannya karena aku selalu merasa bersalah padanya. Lagipula aku tidak tahu kekacauan apa yang akan terjadi bila kami bertemu," jawab Akai. Jawaban yang sama dengan jawaban Bourbon kemarin.
'Sebenarnya mereka berdua kompak, hanya saja mereka tidak mau saling memahami keadaan antar satu sama lain.' batin Conan meringis.
"Kau tidak akan tahu hasilnya kalau belum mencoba. Lagipula Bourbon juga sudah memaafkanmu." ujar Conan sambil tersenyum.
"Darimana kau tahu ?" tanya Akai bingung.
"Rahasia. Aku mau pulang dulu ya Akai-san, sudah ditunggu Kak Ran soalnya. Sampai jumpa." Bukannya menjawab, Conan malah langsung izin pulang dan menambah kebingungan bagi Akai.
'Sebenarnya apa yang ingin dilakukan oleh anak itu?' Akai bertanya-tanya dalam hati.
Setelah keluar dari rumah itu, Conan tersenyum lega.
'Langkah pertama sudah selesai, lanjut ke langkah kedua.'
~OOO~
Conan memulai langkah kedua dari rencananya. Ia pergi ke apartemen Kir untuk meminta bantuan darinya.
Sesampainya di sana, Conan langsung bertemu dengan Kir yang hendak membuka pintu apartemennya.
"Hai kak Rena." sapa Conan.
"Hai Conan. Tumben ke sini. Ada perlu apa ?" Tanya Rena.
"Aku ke sini cuma mau memberitahu kalau aku sudah punya rencana untuk mendamaikan kak Amuro dengan Akai-san." jelas Conan.
"Benarkah ?" tanya Rena takjub. Ia sendiri belum menemukan rencana untuk mendamaikan Amuro dan Akai. Rena diam-diam agak cemburu dengan kepintaran yang dimiliki Conan.
"Itu benar dan aku akan menjalankan rencana itu besok, tapi aku butuh bantuan dari kak Rena untuk melaksanakannya. Tidak apa-apa kan ?" tanya Conan.
"Tidak apa-apa kok. Aku dengan senang hati akan membantu. Bantuan seperti apa yang kau perlukan?" jawab Rena.
"Aku ingin kak Rena membujuk kak Amuro untuk pergi ke taman Haido besok sore. Setelah itu tolong beritahu juga pada kak Amuro kalau Akai-san tidak sengaja membunuh Scotch dan alasannya membenci kak Amuro hanyalah karena cemburu. Untuk langkah selanjutnya dan lokasi tempat kita bertemu akan ku kabari nanti." kata Conan.
"Baiklah. Aku mengerti." balas Rena.
"Oh ya, sebelum aku lupa. Tolong siapkan juga peralatan P3K ya?" tambah Conan.
Kir mengernyitkan dahi tanda ia bingung.
'Untuk apa perlengkapan P3K ?'
Namun Kir tidak bertanya lebih lanjut dan memilih mengiyakan permintaan aneh dari Conan.
"Terima kasih, kak Rena sudah mau membantu. Aku pamit dulu ya, sudah mau sore soalnya." ucap Conan berpamitan pada Kir.
"Iya. Hati-hati di jalan ya."
'Langkah kedua selesai, tinggal langkah terakhir.' batin Conan.
~OOO~
Keesokan harinya, Conan memulai langkah terakhir, yaitu eksekusi. Ia dan Rena sekarang sedang berada di salah satu bangku taman yang ada di Taman Haido.
"Apa kau sudah melakukan apa yang ku minta kemarin, kak Rena ?" tanya Conan pada Rena.
"Sudah. Tadi pagi, aku mengirim pesan singkat ke Amuro untuk membujuknya datang ke sini dan ia langsung menyetujuinya. Aku juga sudah membawa kotak perlengkapan P3K." jawab Rena.
"Baguslah kalau begitu. Ngomong-omong pesan seperti apa yang kau kirimkan, kak Rena ?" tanya Conan penasaran.
"Pesan seperti ini." kata Rena sambil menunjukkan sebuah pesan di layar handphonenya.
Pesan dari Rena untuk Amuro :
Nanti sore, Pukul 17.00, bisa temui aku di Taman Haido? Aku ingin mengajakmu pergi kencan untuk yang kedua kalinya. Aku menunggu di bangku taman paling ujung barat.
Ps : Jangan terlambat ya ^_^
'Gubrakkk'
Conan sweatdrop dengan tidak elitnya begitu selesai membaca pesan dari Rena.
'Pantas saja, kak Amuro langsung menyetujuinya. Ternyata pesanmu seperti itu.' batin Conan tidak percaya.
"Lalu apa langkah kita selanjutnya ?" tanya Rena.
"Cukup tunggu dan lihat saja." ucap Conan.
Ngomong-omong soal membujuk, Conan juga berhasil meyakinkan Akai untuk datang. Sama seperti Rena, ia mengirimkan sebuah pesan singkat yang berisi seperti ini.
Pesan dari Conan untuk Akai :
Aku telah mendapatkan data terbaru tentang perkembangan Black Organization. Nanti sore tepatnya pukul 16.45, temui aku di bangku paling barat Taman Haido.
NB : Jangan pakai penyamaranmu. Berpenampilanlah seperti biasa.
Yah, setidaknya pesan dari Conan tidak terlalu PHP lah daripada pesan dari Rena. Soal waktu, Conan memang menargetkan Akai untuk datang lebih awal daripada Amuro.
~OOO~
Pukul 16.45
Conan dan Rena sudah berpindah tempat ke belakang pohon yang berhadapan sejajar dengan bangku yang dijadikan sebagai tempat pertemuan. Tujuannya agar lebih mudah dalam mengawasi gerak-gerik Amuro dan Akai.
Seperti yang sudah direncanakan, Akai tiba di taman tersebut. Ia langsung duduk di tempat duduk yang sudah dipersiapkan. Tampaknya Akai tidak mengetahui rencana dari Conan ini, karena Akai memenuhi setiap syarat yang dituliskan Conan dalam pesan. Pertama, ia tidak memakai penyamaran sehingga wajahnya benar-benar wajah Akai asli. Kedua, ia memakai pakaian yang biasa dikenakan olehnya yaitu celana jeans hitam dengan atasan kaos hitam dan jaket kulit hitam. Tidak lupa ia juga mengenakan topi rajut hitam yang sering digunakannya. Benar-benar style khas dari Akai.
Sementara itu, di tempat Akai...
Akai tidak henti-hentinya menggerutu karena ia tidak kunjung menemukan orang yang ia cari.
"Dimana bocah detektif itu ? Ini sudah jam 16.45 lewat tapi ia belum terlihat di sini. Apa ia memang sengaja mempermainkanku?" gerutu Akai. Tapi untungnya Akai sempat membawa koran tadi sehingga bisa menggunakan waktu menunggunya dengan baca berita.
~OOO~
Pukul 17.00
Amuro sudah sampai di taman. Ia melangkah menuju bangku yang sudah direncanakan sebelumnya. Melihat penampilan Amuro yang baru sampai, membuat Conan menjadi kasihan padanya. Bagaimana tidak ? Sepertinya Amuro sangat mempercayai kata-kata dari Rena yang mengajaknya untuk pergi kencan berdua, tanpa tahu kalau itu hanyalah omong kosong belaka. Buktinya, Amuro sekarang memakai pakaian yang terbilang sangat rapi untuk pertemuan kali ini. Ia mengenakan setelan jas warna hitam dengan dalaman kemeja putih berlengan panjang. Setelan pakaian yang cukup modis.
Sementara itu, di tempat Amuro...
'Bukankah itu, tempat yang digunakan untuk pertemuannya ya? Bangku paling barat di taman ini. Tapi kok yang duduk di situ laki-laki ya? Dimana Rena ?' Amuro bertanya-tanya dalam hati. Orang yang duduk di situ adalah seorang laki-laki yang sedang membaca koran dengan cara dilebarkan menjadi 2 bagian sehingga wajahnya tertutup oleh koran.
Amuro berjalan mendekat ke arah orang itu, ia bertanya dengan sopan.
"Permisi, maaf mengganggu. Apa anda tahu..."
Perkataan Amuro terputus begitu melihat wajah dari orang itu. Ia dan orang itu sama-sama terkejut begitu mereka saling bertatapan.
"Kau..." teriak kedua orang itu bersamaan.
Orang itu adalah Shuichi Akai, rival abadi Amuro. Ia tidak menyangka akan bertemu Akai di tempat ini. Hal yang sama juga berlaku untuk Akai. Keadaan menjadi begitu hening. Akai sudah berada pada posisi berdiri berhadapan dengan Amuro. Koran yang dibacanya tadi sudah diletakkan sembarangan di bangku.
Setelah sesi hening yang cukup lama, Akai akhirnya maju mendekati Amuro dan tanpa basa-basi langsung memukul Amuro sampai Amuro jatuh ke tanah. Sementara Amuro hanya menatapnya dengan terpana.
"Akai, apa yang kau lakukan? Kenapa kau tiba-tiba memukulku?" seru Amuro yang sudah bisa berdiri kembali.
"Itu karena aku kesal padamu. Kau selalu ada di pikiran Akemi, walaupun kau hanya berstatus sebagai teman baiknya. Aku iri padamu, kau tahu. Ia selalu menceritakan hal-hal yang berhubungan dengan dirimu" ucap Akai sehingga Amuro kembali memandangnya dengan terpana.
"Akai, itu...," ucapan Amuro dipotong oleh Akai.
"Apa kau tidak ingin memukulku juga?" tanya Akai.
"Apa maksud...," ucapan Amuro lagi-lagi dipotong oleh Akai.
"Bukankah aku sudah merebut Akemi, wanita yang kau sukai itu dan secara tidak langsung aku juga yang telah membunuh teman baikmu ?" tanya Akai lagi.
Amuro terdiam dan menunduk sehingga matanya tersembunyi di balik poninya lalu tiba-tiba dia memukul Akai sehingga Akai jatuh ke tanah seperti yang dialaminya tadi.
"Tentu saja aku ingin melakukannya. Aku ingin sekali membunuhmu, kau tahu?" seru Amuro.
"Kalau begitu mari kita selesaikan urusan kita sekarang," ucap Akai yang sudah berdiri kembali.
"Terserah kau saja," kata Amuro.
Dan mereka pun berkelahi sampai mereka terbaring di tanah dengan nafas terengah-engah dan wajah babak belur. Mereka lalu berganti posisi menjadi duduk dengan bersender pada bangku taman.
"Bagaimana Akai, apakah urusan kita sudah selesai ?" ucap Amuro.
"Sepertinya begitu. Aku juga sudah lelah dengan semua ini." balas Akai.
"Baguslah. Jadi sekarang kita berteman ?" kata Amuro sambil mengulurkan tangan untuk mengajak Akai bersalaman.
"Berteman," jawab Akai singkat sambil menyambut uluran tangan Amuro. Peristiwa ini menandai berakhirnya permusuhan di antara mereka berdua.
Kemudian mereka berdua mendengar suara langkah kaki mendekat sehingga mereka menoleh ke arah sumber suara dan melihat Rena serta Conan menghampiri mereka.
"Kalian ini memang benar-benar bodoh ya?" kata Rena sambil berkacak pinggang.
"Yah, apa boleh buat," ucap mereka berdua sambil nyengir.
"Untungnya aku membawa peralatan P3K sehingga aku bisa mengobati luka-luka kalian itu," ucap Rena kepada Akai dan Amuro.
'Jadi itu sebabnya Conan menyuruhku membawa perlengkapan P3K.' batin Rena dalam hati. Ia akhirnya mengerti maksud dari ucapan Conan kemarin.
Rena dibantu oleh Conan mengobati luka-luka yang dimiliki oleh Amuro dan Akai. Setelah selesai, Amuro dan Akai berterima kasih kepada Conan dan Rena.
"Tunggu sebentar. Sepertinya ada yang aneh di sini. Kau darimana saja Conan? Aku sudah menunggumu dari tadi dan kenapa kau bisa datang bersama dengan Kir? Apakah pertemuanku dengan Amuro di tempat ini adalah rencana kalian berdua ?" tanya Akai yang sudah mulai menyadari keanehan yang terjadi.
"Bisa dibilang begitu, Akai-san." jawab Conan dengan santai.
"Jadi, pesan yang kamu kirimkan ke aku dan berisi ajakan untuk kencan itu palsu ya, Rena?" Tanya Amuro pada Rena.
"Yap, benar. Maafkan aku ya, aku tidak bermaksud untuk membohongimu, tapi itu sendiri demi kebaikanmu. Kalau aku mengatakan dengan jujur tentang rencana Conan ini, mungkin kamu tidak akan datang dan beralasan yang macam-macam." jelas Rena.
Mendengar penjelasan itu, membuat Amuro menjadi kecewa berat. Padahal sudah capek- capek ia berdandan rapi seperti ini demi kencan dengan Rena, tapi apa daya ternyata semua itu hanya kebohongan belaka. Melihat keadaan Amuro yang terlihat begitu kecewa, Akai berusaha menghiburnya dengan tepukan pelan di bahu Amuro seolah-olah mengatakan :
"Sabar ya bro. I know what you feel."
"By the way, pertarungan kalian berdua tadi benar-benar epik. Mirip seperti film-film action Hollywood. Benar tidak, Conan?" ucap Rena yang mulai membahas tentang perkelahian yang terjadi tadi.
"Benar. Apalagi adegan damai antara kalian tadi. Bagus sekali." kata Conan menambahkan.
"Jadi kalian mengawasi kita dari tadi?" Tanya Amuro.
"Ya. Dari pohon di sebelah sana. Tidak hanya mengawasi tetapi aku juga merekamnya dengan kamera ini." jawab Conan sambil menunjukkan kamera yang ada di dalam tasnya.
"Kalau aku boleh jujur, aku dan Conan sangat ingin tertawa begitu melihat ekspresi kalian di video itu. Ekspresi kaget ketika saling bertatap muka dan ekspresi serius kalian saat bertarung benar-benar menggemaskan." Pada akhirnya Rena dan Conan tidak bisa menahannya lagi. Mereka berdua tertawa begitu melihat ulang video tadi dan mengingat momen yang menurut mereka lucu.
"Sial. Mereka berdua malah tertawa disaat kita menderita seperti ini." keluh Amuro.
"Kau benar, mereka benar-benar kurang ajar." balas Akai dengan suara yang tidak bisa di dengar oleh Conan dan Rena karena mereka berdua masih sibuk tertawa.
Amuro dan Akai menatap lurus ke depan, mengalihkan pandangan dari 2 orang yang sibuk tertawa di samping mereka. Pandangan mereka tertuju pada sebuah dermaga kecil, tempat orang biasa memancing ikan yang ada di pinggir danau. Kebetulan jaraknya juga tidak terlalu jauh dari tempat mereka duduk sekarang. Sebuah ide melintas di pikiran Amuro dan Akai sekarang.
"Apa kau memiliki pemikiran yang sama denganku, Akai ?" tanya Amuro dengan sedikit seringaian di wajahnya.
"Sepertinya begitu. Dan aku pikir ide itu tidak terlalu buruk." jawab Akai sambil tersenyum tipis.
"Hei kalian berdua. Bagaimana kalau kita pulang, hari sudah mulai gelap. Tapi sebelum itu, ayo kita foto bersama dulu di dermaga itu, mumpung pemandangannya indah." ajak Amuro kepada Rena dan Conan.
"Ide bagus. Ayo kita ke sana." ucap Rena yang langsung menyetujui ajakan dari Amuro.
"Tunggu sebentar. Aku siapkan kameranya dulu." kata Conan sambil mengeluarkan hp dan tongsis dari dalam tasnya.
"Ok sudah siap. Ayo kita ke sana."
~OOO~
Sesampainya di dermaga, mereka langsung mengambil posisi untuk berfoto. Amuro dan Akai berada di ujung kiri dan kanan. Sementara Rena dan Conan berada di tengah.
"Baiklah semua sudah siap, ayo kita hitung mundur." kata Amuro.
"1..."
"2..." Tanpa disadari oleh Conan dan Rena, Amuro dan Akai sudah sedikit melangkah ke depan.
"3..."
"Byuuurrr"
Rena dan Conan tercebur ke dalam danau karena didorong oleh Amuro dan Akai. Mengetahui rencana mereka berdua sudah berhasil, Amuro dan Akai saling ber-tos ria. Mereka berdua balik menertawakan Conan dan Rena yang badannya sudah basah kuyup.
Setidaknya sedikit balas dendam, tidak apa-apa kan?
To be Continue
Balasan review (untuk guest)
Guest : Adegannya rada aneh ya? Maklum soalnya aku kehabisan ide untuk chapter kemarin. Jadinya ya gitu, romance maksa. Hehehe
Terima kasih untuk para reader yang sudah memberikan review.
Akhir kata,
Sampai jumpa di chapter berikutnya.
