Chapter "U" update! Terima kasih sudah menunggu sampai chapter ini update. Terima kasih juga bagi yang sudah membaca dan memberikan review pada chapter sebelumnya. Di sini Hinata masih sedikit berkonflik dengan Naruto, dibaca ya. Sekarang waktunya membalas review~

Hiramekarei : Arigatou~ Iya, tapi konfliknya hanya sebentar saja. Haha~

zan ver : Jangan galau gitu dong, terus jangan meluk juga, karena Hinata itu hanya milik Naruto seorang. Iya, ini udah lanjut.

Haruta Hajime : Namanya juga lagi ada konflik, begitu ya? Iya, itu tentu saja. Ini udah update~

abiegael. sejathie : Terima kasih, iya nih. Terima kasih~ Haha, iya. Untuk chapter ini, judulnya "Usai". Ini udah lanjut~

yudi : Untuk chapter ini Naruto belum jelasin siapa Karin sebenarnya, tapi itu akan dijelasin di chapter berikutnya. Aku juga~ Ini udah lanjut.

durarawr : Haha, bukan itu. Terima kasih~ Haha, karena saya sendiri tidak berpengalaman soal yang begituan, jadi kurang tahu bagaimana rasanya. Mungkin kalau kurasakan, penulisanku dalam deskripsi akan semakin bagus bagus kali ya? Seperti yang ada di komik-komik gitu #jduak. Terima kasih~

Yasuna Katakushi : Haha, bukan semua. Kali ini berjudul "Usai".

isabellastefani64 : Haha, bukan orang yang sama kok. Untuk penjelasannya, aku jelaskan lewat PM ya.

key-kun : Arigatou~ Mungkin seperti itu.

Byakugan no Hime : Iya, makasih udah ditunggu.

Azarya senju : Itu benar, makanya harus diselesaikan dengan cepat. Ini udah lanjut~

Uzumaki-Hime : Bukan "Ungkapan", tapi "Usai". Bukan di chapter ini, tapi di chapter depan. Iya, meski tidak diutarakan secara langsung. Tapi Kiba tahu bahwa ia sudah tertolak. Hohoho~ Dibaca saja ya, makasih udah ditunggu.

Rafki D'Namikaze : Haha, aku tak tahu harus gimana ngomongnya. Ini udah lanjut, makasih. Tapi sampai review tiga kali gitu?

Watashi wa Mai : Haha, itu benar. Hinatanya lagi masa pertumbuhan(?). Arigatou, iya nih.

Nara arise : Arigatou~

anna. fitry : Iya, ada sedikit salah paham. Iya~

Rifalrifaldi7gmail. com : Arigatou, ini udah lanjut. Iya~

Crow : Iya, ini udah lanjut.

Ayuba : Iya, itu benar. Haha, itu belum. Makasih udah ditunggu~

bala-san dewa hikikomori : Iya, arigatou. Haha, aku sudah membuatnya kok. Makasih udah ditunggu~

Selamat membaca~

::

::

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

26 Days : Koi of Love © Haruna Hajime

::

Pairing: Hinata Hyuuga & Naruto Uzumaki

::

Genre: Romance

::

Warning: Silahkan dibaca dan lihatlah kesalahan-kesalahan yang kapan saja bisa terjadi di fic ini. Yang pastinya Hinata agak sedikit OOC, itu menurutku.

::

Rated: T

::

~ Happy Reading ~

::

::

::

Setelah apa yang kualami kemarin, aku jadi semakin takut untuk melanjutkan perasaanku. Apa aku masih pantas untuk melanjutkan perasaan ini? Tapi, apakah aku dapat melakukan hal itu? Menghilangkan perasaan sukaku pada Naruto. Aku tahu kalau Naruto sudah memiliki orang yang spesial baginya, pasti aku tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkannya. Aku jadi beranggapan, bahwa perasaan ini, akan segera usai. Harus segera kuakhiri, sebelum perasaan ini, tidak bisa hilang selamanya.

::

::

26 Days : Koi of Love ◐

::

::

"Ugh~" Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya yang silau karena terkena sinar mentari yang masuk memalui sela-sela jendela kamarnya.

"Pagi kak Hinata," sapa Hanabi, dialah orang yang membuka gorden jendela. Sehingga membuat Hinata terbangun, dari tidur yang tidak lelap menurutnya.

"Rasanya malas ke sekolah," ucapan dari Hinata, membuat Hanabi bingung sekaligus kaget. Seorang Hinata Hyuuga, malas ke sekolah!? Ini baru pertama kali didengar oleh Hanabi.

Hanabi merasa khawatir dengan kakaknya, jarang-jarang Hinata seperti ini. Ia berjalan mendekati Hinata dan duduk di sebelahnya. "Kak Hinata punya masalah apa dengan kak Naruto?" tanya Hanabi. Ia langsung tahu apa yang terjadi pada Hinata, karena ia sangat mengenal kakaknya. Setiap Hinata tidak bersemangat, pasti selalu ada hubungannya dengan Naruto.

"Hanabi~"

Langsung saja Hinata menceritakan masalah yang dialaminya kemarin pada Hanabi, tentang masalah Naruto dan gadis berambut merah yang tidak pernah diketahuinya. Hanabi adalah satu-satunya orang yang ada di rumah yang dapat ia ceritakan semua masalahnya tentang Naruto. Kalau ke Hiashi maupun Neji, pasti Naruto akan terkena hal buruk dari mereka. Hinata tidak mau Naruto terluka hanya karena masalah ini diceritakan kepada ayah dan kakaknya. Selama sepuluh menit Hinata bercerita, sampai-sampai air matanya mengalir kembali. Tapi apa yang harus dilakukan oleh Hinata? Hanya ini yang dapat dilakukan olehnya. Ia tidak berhak mengatur kehidupan Naruto, apa yang mau dilakukan Naruto sudah pasti Naruto yang mengaturnya sendiri. Sudah begitu, Hinata bersama dengan Naruto tidak setiap saat. Sudah pasti ada kegiatan Naruto yang tidak diketahui Hinata, salah satunya ya kejadian kemarin.

"Tenang kak," Hanabi memeluk Hinata, mengusap-usap punggung Hinata agar lebih tenangan. "Hari ini adalah hari pertama di minggu ini, setidaknya kakak harus mengawali hari dengan ceria." ia melepas pelukannya, mengusap air mata Hinata.

"Hanya kakak yang tahu perasaan kakak sendiri. Masalah perasaan yang mau dilanjutkan ataupun diakhiri, hanya kakak yang dapat memutuskannya." hanya ini yang dapat dilakukan oleh Hanabi, sedikit memberikan semangat pada Hinata. Ia tidak tahu apa yang dilakukannya pada Hinata benar atau tidak, karena ia sendiri tidak pernah merasakan perasaan itu. Tapi setidaknya ia mau menghibur kakaknya, meski dengan pengalaman yang tidak ada sama sekali.

"Yah~ Kau benar." karena masih ada orang yang menyayanginya, ia tidak boleh terus bersedih. Karena masih ada orang yang selalu menunggu kedatangannya, ia tidak boleh jatuh. Ia harus bangkit, untuk menuju ke masa depan yang lebih baik.

"Kalau begitu siap-siap ke sekolah kak, sesuai dengan jam keberangkatan kakak, ditambah dengan waktu sisa, kakak hanya memiliki waktu tiga puluh lima menit untuk siap-siap." ucap Hanabi mengingatkan Hinata setelah ia melihat jam dinding di kamar Hinata.

"Itu benar," Hinata langsung bersiap-siap dengan kecepatan super. Memakai seragam, menyiapkan alat-alat sekolah, dan menerima bekal yang sudah disiapkan oleh Hanabi.

"Aku pergi ya~"

"Hati-hati di jalan~"

Hari ini, Hinata harus terlihat ceria seperti biasanya. Lupakan masalah yang kemarin, lakukan saja hal yang menyenangkan. Jangan lupa untuk selalu tersenyum, meski hati sedang sesedih apapun.

"Aku harus tersenyum,"

Sampai di dalam kelas, Hinata melihat Ino yang sedang serius menulis. Tapi ia tidak mendapatkan sosok Naruto di kelas. Sampai saat ini, Hinata merasa aman. Kemudian ia menaruh tasnya di atas meja dan menghampiri Ino yang sedang sibuk sendiri. "Selamat pagi Ino," sapa Hinata.

"Pagi Hinata," balas Ino.

"Naruto kok belum datang?" tanya Hinata penasaran, padahal sebentar lagi bel akan berbunyi. Meski lagi tidak mau bertemu dengan Naruto, ia tetap harus tahu keadaannya. Untuk saat ini, urusan sekolah yang lebih utama. Kalau urusan pribadi, lupakan saja dulu.

"Kamu tidak tahu Hinata? 'Kan Naruto beserta Kiba sedang mengikuti olimpiade atletik se-Jepang yang dilaksanakan pada hari ini. Paling mereka datang ke sekolah nanti siang ," jawaban dari Ino telah menjawab pertanyaan Hinata.

Jadi Naruto dan Kiba sedang berlomba untuk meraih kemengangan dan membawa nama baik sekolahnya. Apa sekolah Hinata akan dikenal kalau Naruto atau Kiba dapat menjuarai olimpiade itu? Yah~ Pokoknya Naruto atau Kiba harus berjuang. Meski Hinata tidak tahu itu sama sekali, karena tidak ada yang mengabarinya. Bahkan Naruto sendiri, tidak memberitahukan Hinata. Ia baru tahu dari Ino belum lama ini. Ia juga tahu kalau dirinya sedang ada masalah dengan Naruto, tapi ia tidak menyangka bahwa Naruto akan jadi tertutup kepadanya.

"Ino sedang menulis apa?" tanya Hinata penasaran, karena dari tadi Ino tidak berhenti menulis. Menjawab pertanyaan Hinata pun, tidak melihat wajah Hinata. Hanya mulutnya saja yang bergerak, tapi matanya tidak. Itu adalah cara yang salah saat berbicara dengan seseorang, tapi Hinata dapat memakluminya.

"Oh~ Aku sedang menulis sesuatu yang sangat penting. Harus selesai siang ini, jadi aku tidak punya banyak waktu." jawab Ino setengah-setengah, tanpa memberitahukan apa yang sedang ditulisnya. Kalau Ino menjawab seperti ini, biasanya Ino tidak mau memberitahukannya lebih dalam. Apa yang sedang ditulisnya, atau untuk apa ia menulisnya. Hinata juga tidak dapat memaksa untuk mengetahuinya, jadi biarkanlah saja.

Untuk tidak mengganggu tugas Ino, sebaiknya Hinata pergi saja ke suatu tempat yang dapat menenangkan dirinya. "Kalau gitu aku pergi ke suatu tempat dulu ya," pamit Hinata.

"Eh, jangan. Sebentar lagi bel berbunyi," peringat Ino, barulah saat ini ia melihat wajah Hinata, dan itu membuatnya kaget. Wajah itu, padahal sudah lama Hinata tidak menunjukkan padanya.

"Hanya sebentar kok,"

Ino menghela napasnya, Hinata memang harus pergi ke suatu tempat yang dapat lebih menenangkan dirinya. "Baiklah~ Silahkan menenangkan dirimu." kata Ino dan tersenyum tipis.

"Terima kasih~"

Hinata pun berlalu dari sana, ia mengingat apa yang diucapkan Ino terakhir kali. 'Apa ketahuan?' tanyanya dalam hati. Apa memang wajahnya tidak terlihat seperti biasanya? Padahal 'kan Hinata sudah tersenyum.

'Kok Hinata memaksa untuk tersenyum ya? Sebenarnya apa yang terjadi?'

Hanya dengan senyuman, tidak mungkin dapat menutupi masalah. Itulah yang diketahui oleh Ino~

Keberadaan Hinata sekarang berada di atap, sudah lama sekali rasanya tidak berbaring di atap sekolah. Padahal belum lama ini ia bersama dengan Naruto bolos pelajaran dan berada di sini, meski pada akhirnya ia tertidur dengan pulasnya selama berjam-jam. Sebelum mengetahui mitos itu juga, Hinata selalu datang ke atap untuk makan siang dan bersantai. Karena angin yang berhembus di atas sekolah lebih terasa, dan dari atap pun dapat melihat pemandangan yang indah yang tidak dapat dilihat dari sisi bawah.

"Aku harus berpikir,"

Hinata bersandar pada dinding di sana, melihat awan yang begitu cerah. Belum ada sinar matahari yang mencekat mata. Pemandangan langit itu memang pemandangan yang paling indah. Seindah mata Naruto~

Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya, bukan saatnya untuk memikirkan Naruto. Yang harus dipikirkannya sekarang adalah, masalah melanjutkan atau mengakhiri perasaannya. Mungkin di sini Hinata akan mendapatkan pencerahan yang dapat memberikan jawaban, dan akan mengembalikan Hinata seperti biasanya.

"Kuakhiri, atau kulanjutkan saja?" masih bergelut dengan masalah ini, Hinata tidak tahu yang pasti bagaimana. Ia hanya mau mencari jalan yang terbaik, yang tidak membuat pihak lain rugi.

Mengetahui Naruto yang sudah memiliki pacar, ia jadi tidak dapat berpikir dengan baik. Perasaannya jadi tidak beraturan, ia jadi tidak bisa melakukan hal yang biasanya ia lakukan. Meski Hinata salah paham, dan itu belum diketahui olehnya. Itu membuatnya berpikir dengan keras, harus mengakhiri perasaannya, atau melanjutkannya.

"Kalau kuakhiri, perasaan yang selama ini kujaga, akan menjadi sia-sia. Tapi kalau kulanjutkan, pasti... tetap tidak akan terbalaskan." dari semua sisi, semuanya sama-sama merugikan Hinata. Jadi apa yang harus dilakukan olehnya? Pilihan mana yang terbaik?

"Aku harus memilih yang mana?"

~ XXI ~

˚°◦ ◦°˚ ◐ 21st Day ◐ ˚°◦ ◦°˚

~ XXI ~

"Hinata~ Maafkan aku ya, untuk saat ini aku kalah. Tapi untuk yang berikutnya, aku tidak akan menyerah. Akan kumenangkan peperangan ini,"

Suhu panas yang mengenai tubuh Hinata membuatnya terbangun dari tidur lelapnya. Ia menutup dan membuka matanya secara berulang-ulang sebelum akhirnya ia bangun seutuhnya.

"Lho? Kok?"

Akhirnya Hinata sudah bangun, seluruh jiwa raganya sudah kembali pada tubuhnya. "Aku ketiduran ya? Kenapa ini terjadi lagi?" tanyanya tidak percaya. Lagi-lagi ia ketiduran dalam waktu yang sangat lama, ia benar-benar tidak menyangkanya.

Matahari sudah berada tepat di atas kepalanya, jadi Hinata sudah tertidur sangat lama. Tapi setidaknya, dengan tidur tadi, bisa menggantikan jatah tidur Hinata kemarin malam. Kemarin Hinata tidak dapat tidur, hanya tertidur di satu jam sebelum bangun. Jadi Hinata sudah sedikit merasa lebih segar dari yang sebelumnya.

"Aku tidak mengikuti pelajaran lagi deh,"

Karena sekarang sudah siang, sudah waktunya untuk memberi makan ikan. Tidak masalah ketinggalan satu atau dua pelajaran, karena hari ini masih membahas pelajaran yang sama. Untungnya Hinata selalu mengulang pelajaran, jadi dia sudah bisa pelajaran hari ini.

"Ke kelas untuk mengambil tas deh, istirahat saja di UKS. Tidak apa, untuk hari ini saja." ia menuruni tangga dengan perlahan, dan berjalan secara pelan menuju kelasnya. Kalau dari awal sudah malas, pasti kesana-sananya tidak akan mendapatkan apa-apa. Jadi lebih baik istirahat saja di UKS, setidaknya untuk menghindari Naruto juga.

Sampai di kelas, tidak ada siapa-siapa. Hinata benar-benar heran dengan keadaan ini, di kelas tidak ada orang sama sekali. Memangnya saat ini ada pelajaran yang belajarnya di luar kelas ya? Bukannya pelajaran olahraga sudah berakhir dari tadi? Tapi ini mengamankan dirinya yang saat ini belum mau bertemu dengan Naruto. Ia juga tidak tahu sih olimpiade yang diikuti Naruto sudah selesai atau belum. Ia juga penasaran siapa yang menjuari olimpiade itu, pelari tercepat di dunia ini yang diketahuinya hanya Naruto saja, baru disusul dengan Kiba. Lupakan, langsung saja Hinata menuju bangkunya, kemudian mengambil tasnya yang masih ada pada posisi yang sama. Tidak ada yang berubah pada posisinya sejak ia meninggalkan tasnya tadi pagi.

Tidak membuang-buang waktu, "Waktunya ke si putih," Hinata langsung keluar kelas untuk menuju tempat berikutnya. Tapi ada yang membuatnya penasaran setelah meninggalkan kelas, "Kenapa semuanya tidak ada di kelas ya?" tanya Hinata penasaran dengan hal tadi. Sayang sekali kalau ada hal seru tapi Hinata tidak dapat mengikutinya karena ketiduran. Tapi salah juga sih melakukan hal itu, apalagi bolosnya dilanjutkan. Yang makin tidak masuk akal, bolos tapi di sekolah.

Sampai sudah Hinata pada kolam tujuannya, seperti biasa si putih selalu saja berenang. Memang hal apa lagi yang dapat dilakukan seekor ikan selain berenang, makan, dan bereproduksi? Lupakan yang terakhir, itu berbeda dengan sepasang koi ini. Hinata mengambil makanan ikan yang ada di dalam tasnya, dan langsung menyebarkannya. Dengan begini, si putih sudah diberi makan.

Hari ini adalah hari ke dua puluh satu, sudah tiga minggu Hinata memberi makan sepasang koi itu. Tinggal seminggu lagi, tapi kok malah ada masalah ya? Padahal tinggal seminggu lagi, tapi Hinata mengetahui kenyataan yang pahit. Naruto sudah memiliki pacar, itu yang diketahui Hinata saat ini. Padahal itu hanyalah sebuah kesalapahaman belaka.

"Aku tidak peduli dengan perasaanku lagi, sampai saat ini aku masih tidak tahu mau melanjutkannya atau mengakhirinya. Aku benar-benar payah, sudah begitu aku juga lemah."

Setelah ini, Hinata akan langsung beristirahat di UKS. Masalah pelajaran hari ini, catatan, ataupun pekerjaan rumah yang diberikan guru, bisa ditanyakan saja pada Ino. Tapi saat Hinata tidak ada, informasi apa yang diberikan kepada guru saat Hinata tidak ada di kelas ya? Lupakan, inilah risiko murid yang membolos.

Hinata mengirim pesan ke Ino untuk minta izin pada hari ini, jadi nanti ada alasannya. Tapi kalau ditanya izin untuk apa, bilang saja Hinata sedang tidak enak badan dan lagi beristirahat di UKS. Itu sudah cukup untuk sebagai alasan pada hari ini. Tapi untuk besok-besok, Hinata tidak dapat kabur lagi.

Keberadaan Hinata pun sudah ada di UKS, tidak lama setelah memberikan makan pada koi putih, ia langsung jalan menuju UKS. Tidak ada siapa-siapa di sana selain Hinata, hadi Hinata langung memilih tempat tidur yang paling disukai olehnya. Diletakannya tas sekolah di meja kecil yang ada di sebelah tempat tidur itu. Lalu, apa yang akan dilakukannya sekarang? Hinata melepas sepatunya dan naik ke atas tempat tidur. Duduk sementara, dan tiduran setelahnya.

"Tidak mungkin aku tidur lagi, 'kan?" tanya Hinata memikirkan kegiatan apa lagi yang akan dilakukan berikutnya.

Hinata menutupi tubuhnya dengan selimut, kemudian mengambil ponselnya dari dalam tas. Ia membuka internet untuk mendapatkan sebuah informasi tentang olahraga atletik. Karena Naruto sangat menyukai lari, setidaknya Hinata mengetahui hal-hal terbaru tentang atletik. Agar saat mereka berbicara nanti, akan nyambung dan terasa menyenangkan. Dicarinya informasi terbaru tentang atletik, dan didapatkan olehnya. Informasi yang belum pernah dibaca olehnya, langsung saja ia masuk ke halaman tersebut.

"Dalam atletik, hal-hal yang harus..." Hinata terus membaca informasi itu dengan cara tiduran. Walau ini adalah cara yang salah dalam membaca, tapi membaca sambil tiduran itu enak. Yah~ Yang enak selalu saja tidak baik.

"Apapun yang terjadi..." kali ini Hinata berhenti membaca, karena ia mengingat suatu hal. "Untuk apa aku melakukan ini?" tanyanya dan keluar dari informasi itu secara paksa dan melemparkan ponselnya ke sisi lain tempat tidur.

Hinata menutup seluruh tubuhnya bahkan sampai ke wajah-wajahnya menggunakan selimut. "Padahal ada pilihan untuk mengakhiri perasaan ini, itu sama saja kalau aku tidak perlu mengetahui hal yang disukainya, 'kan?" kemudian menutup matanya agar pandangan matanya gelap dan terlihat lebih nyaman. Tutup mata selama lima menit, akhirnya Hinata pun terlelap kembali. Ini sudah parah~

Dalam keadaan sepi di ruang UKS, dengan pintu yang sedikit terbuka. Membuat seorang penasaran dengan apa yang ada di dalamnya. Ia membuka pintu UKS secara perlahan, dan melihat seorang gadis yang tertidur dengan lelapnya. Ia tersenyum tipis, meski ia tahu kalau saat ini ia tidak bisa menampakkan wajahnya langsung di depan gadis itu. Terasa berat memang karena tidak bisa bersama dengan gadis yang disayanginya. Tapi, hanya inilah yang dapat dilakukannya untuk saat ini. Sampai semuanya kembali seperti keadaan semula.

"Aku yakin, semuanya pasti akan kembali seperti semula. Kita pasti akan selalu bersama, seperti surat yang kutulis, dan belum kamu baca, sepuluh tahun lalu. Di dalam time capsule, berbentuk vas itu. Haha, dulu kami sangat aneh. Apa Hinata mengingatnya ya? Tapi dimana tepatnya kami mengubur itu ya?"

~ XXI ~

˚°◦ ◦°˚ ◐ Usai ◐ ˚°◦ ◦°˚

~ XXI ~

Kembali Hinata terbangun, bukan hanya satu-dua jam saja Hinata tidur. Tapi kali ini, Hinata tidur sampai malam! Ini adalah rekor terpanjang yang dimiliki Hinata dalam kategori tidur dalam satu hari. Mungkin saja ini akan masuk buku rekor dunia. Pagi sampai siang Hinata sudah tidur, sekarang siang sampai malam pun ia tertidur. Bisa melewati rekor orang yang tidur sangat lama di luar negara nih. Benar-benar bisa dibilang kerbau Hinata, tapi inilah kenyataannya. Sampai-sampai Hinata kaget melihat keadaan luar yang sudah gelap.

"Parah sekali aku~" katanya mengomentari dirinya sendiri yang sudah keterlaluan. Sudah begitu Hinata merasa pulas sekali tidurnya, tidak merasakan ada orang yang masuk.

Tidak mau merasakan syok terlalu lama, Hinata langsung bergerak untuk menuju kolam dan memberi makan si hitam. Ia melihat jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Cepat-cepat ia mengambil tas dan berlari menuju kolam.

Saat membuka pintu UKS, di depan pintu itu ternyata ada seseorang. Sontak itu membuatnya kaget dan membuatnya mundur ke belakang. "Hinata~" panggil orang tersebut sambil mengangkat tangannya sebagai pergerakannya.

"Kiba?" ternyata orang tersebut adalah Kiba. Sebenarnya Hinata cukup berharap di depannya sekarang adalah Naruto. Tapi 'kan saat ini mereka lagi tidak akrab, jadi tidak mungkin, 'kan?

"Aku tahu kalau kamu belum pulang dari Ino, jadi sekalian saja aku menengokmu. Lagi pula bahaya kalau nanti perempuan pulang sendirian malam-malam." itulah yang dikatakan Kiba, tanpa perlu ditanya Kiba sudah menjawab pertanyaan Hinata.

"Tapi..."

"Mau ke si hitam dulu, 'kan? Tenang saja, aku tidak keberatan untuk menemanimu kok." dengan cepat Kiba mengambil tas bawaan Hinata, "Biar aku yang bawa," katanya. Sebagai seorang pria sejati, sudah tentu harus membawakan barang berat yang dibawa oleh wanita. Meski Hinata tidak merasakan berat sama sekali~

"Terima kasih," tidak bisa menolak niat baik Kiba, Hinata jadi membiarkan tasnya dibawakan oleh Kiba. Tapi biasanya, disaat seperti ini, pasti Naruto yang melakukannya.

Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya, disaat seperti ini masih saja memikirkan Naruto yang belum tentu memikirkannya. Kalau seperti ini terus, bisa-bisa keberadaan Kiba akan tidak dianggap oleh Hinata. Itu namanya tidak sopan menganggap orang di hadapan sebagai orang lain. Pasti kalau orang yang mengetahuinya akan tidak suka karena keberadaannya tidak dianggap. Lebih baik tidak ada, daripada ada tapi keberadaannya dianggap tidak ada.

Sampai sudah mereka di kolam, rasanya berbeda jika bersama dengan Kiba. Mungkin kebersamaan dengan orang yang disukai dan dengan seorang teman kelas memang berbeda. Langsung Hinata menebarkan makanan ikan itu dan memandangnya. Biasanya Hinata jongkok, tapi kali ini Hinata memilih untuk tetap berdiri saja.

Tidak ada yang berbicara selama sepuluh menit, sungguh ini membuat Kiba tidak betah. Kalau Hinata sih, biasa-biasa saja. Karena Hinata lagi keasyikan melihat si hitam berenang, sampai-sampai tidak peduli dengan keadaan sekitarnya.

Teringat dengan kejadian tadi siang, itu benar-benar membuat Kiba penasaran. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Naruto dan Hinata sampai-sampai Ino marah pada Naruto. "Sebenarnya, apa yang terjadi padamu?" tanya Kiba langsung.

"Tidak terjadi apa-apa kok," jawab Hinata, mana mungkin ia menceritakan masalahnya pada Kiba yang merupakan teman dekat Naruto.

"Hari ini kau sekolah, tapi tidak masuk kelas sama sekali." lanjut Kiba, dari sini perasaan Hinata mulai tidak enak. Apa Kiba mau mengetahui semuanya? Apa tidak ada cara agar pembicaraan ini tidak berlanjut? Membicarakan hal lain gitu.

"Bintangnya bagus ya," mencoba mengalihkan pembicaraan, Hinata berusaha mencari topik yang pas.

Tapi Kiba-nya yang tidak peduli dengan kata-kata Hinata, tetap saja pada apa yang mau diketahui olehnya. "Tadi di kelas, belum lama saat kami sampai di sekolah. Ino marah-marah ke Naruto, entah apa yang terjadi diantara mereka berdua. Yang jelas, katanya Ino mewakili kamu untuk marah. Dia membentak Naruto hingga banyak orang yang melihat mereka." cerita Kiba, membuat Hinata kaget. Memang masalah ini harus diketahui oleh Kiba, ia harus tahu masalah apa yang terjadi pada orang yang disukainya. Supaya ia dapat membantunya, untuk menghilangi beban pikiran yang ada.

"Apa?" Hinata kaget mendengarnya, Ino memarahi Naruto di depan umum? Apa itu yang membuat semua orang kelas tidak ada di dalam kelas tadi siang? Ya, itu memang benar. Karena kejadian itu, Ino dan Naruto dipanggil ke ruang guru. Semua murid kelas jadi pada ke sana untuk mengetahui kelanjutannya. Itulah yang membuat kelas tidak ada orang saat Hinata berada di dalam kelas.

"Yah~ Aku tidak tahu masalah apa yang ada pada kalian berdua. Tapi kumohon, jangan sampai kamu tidak mau bertemu dengan Naruto. Jangan melibatkan orang lain ke dalam masalah kalian berdua." Hinata terdiam mendengar ucapan Kiba, tidak tahu mau membalasnya seperti apa. Memangnya Kiba tahu apa? Sampai-sampai melarang Hinata untuk tidak menjauhi Naruto. Memang, Hinata tahu kalau perbuatannya ini salah. Tapi apa yang harus diperbuat setelahnya?

"Itu, hanya untuk hari ini saja kok." Hinata menundukkan kepalanya, ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Sudah pasti Kiba akan membela Naruto, soalnya mereka adalah sahabat. Sedangkan Hinata, hanya seorang teman kelas biasa saja.

"Walaupun begitu, tetap saja..." niat Kiba awalnya hanya untuk memberitahukan yang mana yang benar dan yang salah. Tapi ternyata~

"Aku hanya belum siap bertemu dengannya!" mendengar suara bentakan itu, membuat Kiba kaget. Ia melihat Hinata yang perlahan meneteskan air matanya, sungguh diluar dugaan Kiba bahwa Hinata akan menangis.

Yah~ Sekarang ada gadis yang disukai Kiba sedang menangis. Apa yang harus dilakukannya? Apalagi Hinata menangis gara-gara ucapan yang dikeluarkan oleh Kiba. Ia benar-benar tidak tahu bahwa kejadian ini akan terjadi, sebenarnya ia tidak mau membuat Hinata sampai menangis. Kalau tahu Hinata akan menangis, lebih baik dari tadi ia diam saja. Tapi tetap saja, Kiba tidak suka melihat kejadian yang ada di depan matanya, kesal juga rasanya. "Jangan seperti itu hanya karenanya!" seru Kiba memegang kedua pundak Hinata, ia tidak suka melihat Hinata menangisi orang lain di depan matanya. Inilah ttindakan awal yang dilakukan Kiba agar Hinata berhenti meneteskan air mata.

"Yah~ Aku tahu. Harusnya aku tidak boleh seperti ini. Sudah sewajarnya Naruto lebih mementingkan pacarnya dibanding denganku yang hanya teman masa kecilnya. Aku..."

"Apa? Pacar?" Kiba melihat Hinata dengan tatapan bingung, ia tidak mengerti dengan yang Hinata ucapkan. Memangnya sejak kapan Naruto memiliki seorang pacar?

"Memang sudah seharusnya aku segera mengakhiri perasaan ini. Tapi, setelah kucoba, hiks."

Oke, Kiba mulai kesal. Kesal karena melihat orang yang disukainya menangis, dan kesal karena hal sebesar itu tidak diberitahukan padanya. Padahal ia adalah sahabat dan saingan Naruto nomor satu, masa hal seperti ini saja tidak diberitahukan? Di dunia ini, hanya pria bodoh saja yang tidak bisa menghentikan tangisan wanita yang disukainya. Yah~ "Jangan menangis!" sontak Hinata kaget mendengar teriakkan itu. Apalagi dengan perlakuan Kiba terhadapnya, ia memeluk Hinata.

Naruto yang baru saja datang ke sana untuk memastikan keadaan Hinata, langkahnya jadi terhenti karena melihat kejadian tersebut.

"Daripada bersama dengannya yang tidak punya perasaan itu, lebih baik bersamaku." Kiba melepaskan pelukannya, kemudian kembali memegang pundak Hinata.

"Jatuh cintalah padaku!"

"Eh?"

Mata Naruto membulat karena pernyataan Kiba pada Hinata. 'Kalau aku menjadi juara pertama dalam olimpiade ini, aku akan menyatakan perasaanku pada Hinata." Naruto jadi ingat dengan ucapan Kiba sebelum dimulainya olimpiade.

"A-aku.. Suka kamu!"

'Ini dia juara pertama kita, Kiba Inuzuka! Selamat atas kemenangannya~' Naruto kesal melihatnya, dengan mudahnya Kiba dapat menyatakan perasaannya setelah Kiba berhasil menjadi juara. Tapi dirinya? Ia menghantamkan tangannya ke tembok yang ada di sebelahnya, dan pergi meninggalkan kedua insan yang sedang berbicara serius itu. Naruto, menjadi juara kedua dalam olimpiade atletik tersebut.

Hinata tidak dapat berpikir. Jadi, Kiba menyukainya? Kalau sudah tahu Kiba menyukainya, memangnya apa yang akan dilakukan olehnya? Terbayang Naruto dibenaknya, "Ah! Maaf~ Maafkan aku. Aku... Maaf!" dengan cepat Hinata mendorong tubuh Kiba dan berlari pergi menjauh.

Hinata benar-benar tidak tahu, ia baru tahu kalau Kiba suka padanya. Sampai-sampai ia meninggalkan tasnya karena pernyataan Kiba.

"Aku harus bagaimana? Mungkinkah ini pertanda, bahwa aku harus benar-benar berhenti menyukai Naruto?"

Yah~ Masalah makin banyak yang terjadi pada dirinya. Makin lama, perasaannya mulai diotak-atik oleh berbagai kejadian. Jadi, apa yang akan terjadi berikutnya? Melanjutkan, atau mengakhirinya saja? Anggap saja semuanya terlah berakhir, semuanya telah usai.

"Haruskah aku mengakhiri perasaan ini?"

::

::

To Be Continue ◐

::

::

Chapter "U" selesai! Bagaimana? Terima kasih sudah membaca chapter ini sampai akhir. Di chapter ini aku juga sedikit membocorkan untuk chapter "V" yang akan datang. Ada yang dapat menebaknya? Hohoho~ Kembali Hinata dibingungkan dengan dua pilihan, mengakhiri atau melanjutkan perasaannya. Di chapter "V", ada sebuah benda yang membuat hubungan keduanya baikan. Benda tersebut juga merupakan judul untuk chapter berikutnya. Lalu, di chapter ini Kiba sudah tertolak. Meski Hinata tidak mengatakannya secara jelas, tapi Kiba tahu bahwa ia benar-benar sudah kalah. Jadi berikutnya, akan berlanjut pada NaruHina kembali. Untuk kisah lanjut tentang Kiba, nanti ada ceritanya sendiri. Tentu saja KibaTama, aku sudah membuatnya. Judulnya "Win", akan publish bersamaan dengan update-nya chapter "X". Bagi yang penasaran dan tertarik dengan kisah Kiba selanjutannya, ditunggu ya. Berikutnya chapter "V", ditunggu juga ya.

Thanks To :

Hiramekarei, zan ver, Haruta Hajime, abiegael. sejathie, yudi, durarawr, Yasuna, Katakushi, isabellastefani64, key-kun, Byakugan no Hime, Azarya senju, Uzumaki-Hime, Rafki D'Namikaze, Watashi wa Mai, Nara arise, anna. fitry, Rifalrifaldi7gmail. com, Crow, Ayuba, bala-san dewa hikikomori, dan pembaca sekalian.

Jaa~

Bertemu di chapter "V"~

V

V

V