Chapter "V" update! Terima kasih sudah menunggu sampai chapter ini update. Terima kasih sudah membaca dan memberikan review pada chapter sebelumnya. Waktunya membalas review~

Haruta Hajime : Itu benar, ini juga benar. Haha, itu benar. Hoho, salah. Ini udah update~

zan ver : Haha, bentar lagi mau tamat kok. Tamat di chapter "Z"~

Namikaze Otorie & HeloPillager : Haha, itu benar.

Byakugan no Hime : Iya, itu benar. Untungnya bentar lagi keegoisan itu akan berakhir~

abiegael. sejathie : Arigatou~ Itu benar, hanya itu yang langsung terpikirkan olehku dengan huruf "V".

Hiramekarei : Itu benar, itu tak dapat ditulis. Bukan "Voucher", tapi "Vas".

kirigaya muu : Kalimat yang mana? Iya, sama-sama.

Yasuna Katakushi : Aku lupa kalau "V" itu ada "Valentine" juga. Tak terpikirkan sama sekali olehku~

andy. cyanx. suthi : Ini udah lanjut~

yudi : Arigatou~ Iya, tapi bukan dicari kok. Itu juga benar, ini udah lanjut.

Ayuba : Arigatou~ Iya, udah gak tahan soalnya. Iya, itu benar. Makasih udah ditunggu~

Watashi wa Mai : Iya, soalnya lagi ada sedikit masalah. Itu benar~

DrunKenMist99 : Terima kasih~

anna. fitry : Itu benar~ Kadang begini, kadang begitu. Arigatou~

intan. sept : Voldemort? Bukan itu~

Rifalrifaldi7gmail. com : Arigatou, ini udah lanjut.

Rafki D'Namikaze : Arigatou~ Haha, ini udah lanjut. Masalah jenis kelamin, terserah mau dianggap apa saja. Daku terima~

Uzumaki-Hime : Iya, nanti ada kebahagiaan tersendiri untuk Kiba kok. Yang kedua, makasih udah ditunggu.

key-kun : Arigatou~ Itu benar. Ganti apanya ya?

Guest : Iya, itu benar. Ini udah update~

Crow : di chapter ini, kesalahpahaman itu sudah tidak ada lagi kok.

Selamat membaca~

::

::

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

26 Days : Koi of Love © Haruna Hajime

::

Pairing: Hinata Hyuuga & Naruto Uzumaki

::

Genre: Romance

::

Warning: Silahkan dibaca dan lihatlah kesalahan-kesalahan yang kapan saja bisa terjadi di fic ini. Yang pastinya Hinata agak sedikit OOC, itu menurutku.

::

Rated: T

::

~ Happy Reading ~

::

::

::

Apa kalian tahu time capsule? Iya, yang itu. Aku dan Naruto, pernah membuatnya sepuluh tahun yang lalu. Biasanya 'kan time capsule memakai kotak, tapi kami berbeda. Memang sedikit aneh, tapi kami meletakan semua benda kenangan kami, sepuluh tahun yang lalu, dalam sebuah vas.

Sepuluh tahun pun berlalu, dan sudah waktunya vas itu dibuka. Kenangan apa saja yang ada di sana ya?

::

::

26 Days : Koi of Love ◐

::

::

Dengan perlahan, Neji membuka pintu kamar Hinata. Dilihatnya Hinata yang masih tertidur dengan pulas, ia pun masuk ke dalam kamar itu. Lagi-lagi, Neji tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk. Padahal Hinata sudah sering mengingatkannya, tapi tetap saja Neji tidak peduli. Ia melihat Hinata datar, kemudian ia berniat membangunkan Hinata. Tapi pertama-tama yang harus dilakukan, tentu saja membuka jendela kamar. Agar sinar matahari yang masuk, dapat membunuh kuman-kuman yang bersarang di kamar.

"Hinata, bangun." dengan nada yang datar pula, Neji membangunkan Hinata. Tapi setelah beberapa detik berlalu, tidak ada respon dari Hinata. Menggunakan mulut tidak bisa, jadi harus ada penambahan dengan menggunakan tangan.

"Bangun," kali ini Neji menggoyang-goyangkan tubuh Hinata menggunakan tangannya. Itu dilakukannya agar Hinata cepat sadar, dan dapat melakukan aktivitas pagi hari.

"Eh? Kak Neji," katanya setelah membuka matanya, kemudian ia merenggangkan tubuhnya yang kaku. "Selamat pagi," sapa Hinata kemudian, tidak lupa tersenyum. Ia tidak mau orang rumah tahu kalau kemarin dirinya habis nangis.

Kemarin Hinata pulang dengan wajah yang lembab, matanya merah akibat menangis. Untungnya saat pulang tidak ada orang di rumah, dan saat makan malam tidak ada yang menyadari kondisi aneh Hinata.

"Hmm, kalau begitu bersiap-siaplah." setelah mengucapkan ini, Neji pun berbalik untuk keluar dari kamar Hinata. "Oh ya, ada yang kelupaan." Neji berbalik kembali menghadap Hinata, kemudian melemparkan sebuah benda.

"Eh? Eh? Hup~" akhirnya benda yang dilempar oleh Neji tepat mendarat di tangan Hinata. "Ini apa?" tanya Hinata kemudian.

"Entah, aku tidak sengaja menemukannya di dalam tanah saat menggali lubang." jawab Neji, "Kupikir itu milikmu dan bocah pirang itu, soalnya ada tulisan NaruHina's Memories di vas itu. Mungkin itu time capsule kalian berdua." lanjut Neji.

Mata Hinata berbinar, kalau diingat-ingat, itu memang time capsule Hinata dan Naruto. Walau agak aneh karena membuatnya di sebuah vas, tapi di dalamnya tetap ada benda kenangan mereka berdua. Kalau diingat-ingat juga, sudah sepuluh tahun vas itu terkubur. Berarti, memang sudah waktunya benda tersebut untuk dibuka kembali.

"Waaah~ Terima kasih kak Neji!" Hinata langsung melompat turun dari kasurnya, dan bersorak kegirangan. Benda kenangan yang terkubur selama sepuluh tahun, akhirnya kembali dikeluarkan.

"Ya," Neji pun berbalik, tanpa disadari oleh Hinata, Neji tersenyum tipis melihat aura senang yang keluar dari diri Hinata.

Setelah Neji keluar dari kamar Hinata, ia duduk di pinggiran kasurnya. Melihat vas tersebut dengan antusias, "Ternyata, vas ini tidak sebesar yang kubayangkan." katanya tersenyum.

Selama sepuluh tahun, memang tubuh mereka bertumbuh dan berkembang, karena Hinata adalah makhluk hidup. Sedangkan, sebuah vas hanyalah sebuah benda mati. Sudah pasti, tidak akan bertumbuh apalagi berkembang.

"Aku penasaran sama benda-benda yang ada di dalamnya." Hinata menatap vas itu sesaat, ia lupa benda apa saja yang dimasukan olehnya maupun Naruto. Tapi diurungkannya niat untuk melakukan hal tersebut. Ia memasukan vas itu ke dalam tasnya, karena sudah waktunya Hinata bersiap-siap untuk ke sekolah. Benda apa saja yang ada di dalamnya, bisa dilihat saat ada waktu bebas di sekolah.

Memangnya, ukuran vas itu berapa besar? Kenapa muat di tas Hinata? Yah~ Barang-barang yang mereka masukan ke dalam vas itu memang benda-benda berukuran kecil. Tapi meski benda berukuran kecil, terdapat kenangan yang besar di sana. Kalau diukur, mungkin vas itu hanya berukuran 10x20 cm. Sedangkan tas Hinata, besarnya hampir seukuran badannya. Sudah pasti vas itu muat di dalamnya~

Lalu, ada satu rahasia yang Neji pegang, dan Hinata tidak tahu itu. Sebenarnya Neji bukannya tidak sengaja menemukannya, tapi memang sengaja menggali untuk mengambilnya. Sepuluh tahun yang lalu, tanpa sengaja Neji melihat Naruto dan Hinata yang sedang menggali lubang. Karena penasaran, ia mengintipnya dari kejauhan. Lalu ada sebuah benda yang dimasukkan oleh Naruto ke dalam lubang tersebut, 'Kita buka sepuluh tahun mendatang ya~' dari sanalah Neji mengetahuinya. Yah~ Neji tahu kalau Naruto dan Hinata pasti akan melupakannya. Jadi, di sinilah peran Neji sangat dibutuhkan. Kalau tidak ada Neji, sudah pasti vas itu akan terkubur di dalam tanah dan dilupakan, selamanya.

Walau Naruto ingat tentang itu, tapi dia sendiri malah lupa menguburnya dimana. Bahkan Hinata sendiri, ia tidak mengingatnya sama sekali. Saat dilempar vas itu pun, pakai tanya segala itu benda apa. Baru tahu setelah mendapatkan penjelasan dari Neji.

Selesai Hinata beberes, ia langsung turun menuju ruang makan. Di sana sudah ada makanan enak yang menanti untuk dimakan. Hinata duduk dan acara sarapan pagi pun dimulai.

"Hari ini, aku tidak sengaja menemukan time capsule Naruto dan Hinata." ucap Neji disela-sela acara makan mereka. Hinata dan Hiashi yang tadinya makan dengan tenang, sekarang tangannya terhenti. Sendok sudah tepat di depan mulut mereka, tapi entah kenapa, mereka tidak dapat melanjutkan makan.

"Kak Neji," berusaha untuk tidak meneruskannya, Hinata tidak mau hal ini ketahuan oleh Hiashi. Tapi itu pasti akan percuma saja~

"Time capsule?" Hiashi sudah penasaran.

"Bukan apa-apa kok!" jawab Hinata menggoyang-goyangkan kedua tangannya. Berusaha meyakinkan Hiashi, bahwa itu bukanlah hal yang penting.

Hiashi tidak pernah tahu dengan hal itu, ia tidak pernah melihatnya secara langsung. "Ayah tidak akan melakukan hal yang aneh, hanya ingin tahu saja." tapi meski begitu, tetap saja rasa penasaran ini menjalar.

"Itu..."

"Time capsule ya? Biasanya dibuka kembali saat sepuluh tahun berlalu. Berarti, kurang lebih sudah sepuluh tahun kalian bersama ya?"

Hinata termenung mendengarkan ucapan Hiashi, sebenarnya apa yang sedang dilakukan Hiashi? Hiashi hanya mengenang saat-saat pertemuannya pertama kali dengan Naruto. Datang-datang, membawa Hinata yang terluka. Itu benar-benar membuatnya khawatir sekaligus sangat marah pada Naruto. Tapi saat diberitahukan hal yang sebenarnya, barulah Hiashi mengerti.

"Ayah~"

"Lanjutkan makan,"

Mendengar itu, Hinata melanjutkan kembali makannya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Hiashi. Tapi ucapan Hiashi ada bagusnya juga, jadi tidak perlu melanjutkan pembicaraan. Hal yang sudah jelasnya, Naruto dan Hinata memang sudah sepuluh tahun bersama, lebih malah. Karena sebelum pembuatan time capsule itu, mereka sudah bersama beberapa bulan.

Selesai makan, langsung Hinata membereskan piring-piring kotor dibantu oleh Hanabi. Hanabi yang sifatnya kadang tenang kadang ribut, sungguh membuatnya iri. Bahkan saat ada hal yang tidak mau diketahui oleh Hiashi, tapi Hiashi mengetahuinya, Hanabi dapat menghadapinya dengan tenang. Kalau Hinata? Seperti kejadian tadi, ia malah takut dan tidak tenang.

"Haa~" Hinata menghela napasnya, itu membuat Hanabi melihat Hinata secara fokus. Kalau begini nih, pasti ada apa-apanya. Padahal kemarin ia sudah memberikan semangat pada Hinata, tapi tetap saja kakaknya tidak bersemangat.

"Kenapa kak?" tanya Hanabi.

"Bukan apa-apa kok," jawab Hinata sambil tersenyum paksa.

Hanabi melihat Hinata secara datar. Kalau Hinata tersenyum seperti itu, berarti memang tidak mau dibahas oleh Hinata. Kalau begitu, Hanabi tidak dapat melakukan apa-apa selain berkata 'Oh'. Itu dilakukannya agar tidak menambah masalah pada Hinata. Lagian Hanabi sudah tahu apa yang sedang ada dalam pikiran Hinata. Ia sudah memberikan saran yang baik, sisanya tergantung kakaknya sendiri.

"Oh ya kak, time capsule buatan kakak sama kak Naruto unik ya."

Hinata berhenti bergerak saat Hanabi mengucapkan itu, kemudian tertawa singkat. "Haha, memang agak aneh sih. Tapi di sana 'kan ada benda kenangan kakak dengan Naruto. Jadi, tidak peduli dimana atau tempatnya seperti apa, vas itu tetap berisi benda kenangan kami berdua. Menuruku, itu sangat berharga." cerita Hinata panjang lebar. Walau Hinata lupa apa isi vas itu, tapi kenangan ya tetap kenangan.

"Kalau gitu lain kali aku juga mau membuatnya,"

Mata Hinata menyernyit, "Hanabi juga mau membuatnya?" tanyanya tidak percaya. Tumben-tumbenan Hanabi mau melakukan hal merepotkan itu. Kalau mau membuat begituan, membutuhkan wadah untuk diisi dengan benda-benda kenangan. Sudah begitu harus menggali lubang dan menutupnya kembali.

"Sama siapa?" walau ribet begitu, tapi masih ada saja yang membuatnya. Tapi mau membuatnya bersama dengan siapa? Itulah yang membuat Hinata penasaran. Tidak mungkin 'kan membuatnya sendiri? Sama saja bukan kenangan namanya kalau sendirian.

"Sama seperti kak Hinata," jawab Hanabi. Tapi jawaban ini, malah tidak dimengerti oleh Hinata.

"Maksudnya?" tanya Hinata.

"Membuatnya bersama dengan orang yang disukai."

Mata Hinata berbinar mendengar kata-kata Hanabi. Maksudnya, Hanabi lagi menyukai seseorang gitu? "Wah~ Ada yang lagi Hanabi suka?" tanya Hinata tidak percaya. Kalau Hanabi sedang jatuh cinta, itu sungguh sangat membuatnya senang. Tapi~

"Tidak." jawaban ini, membuat kesenangannya, pupus seketika.

"Kakak tidak usah pikirkan tentangku, coba pikirkanlah urusan kakak sendiri. Kakak masih ada masalah dengan kak Naruto, 'kan?"

Menanggapi kata-kata Hanabi, mungkin dengan ditemukannya vas itu, akan mengubah semuanya. Itu juga, tergantung pada Hinata sendiri.

~ XXII ~

˚°◦ ◦°˚ ◐ 22nd Day ◐ ˚°◦ ◦°˚

~ XXII ~

"Makin dekat ke hari yang ke dua puluh enam ya." Hinata menebarkan makanan ikan yang persediaannya sudah mulai menipis. "Tidak terasa tersisa empat hari lagi." katanya, ia melihat koi putih yang mulai melahap makanan yang ditebarkan oleh Hinata.

Mengingat bahwa ada yang harus dilakukannya sebelum istirahat selesai, Hinata bangkit meninggalkan kolam. Ia akan ke perpustakaan untuk membuka isi vas, ia sudah sangat ingin tahu dengan isinya. Walau tidak ada Naruto, dan tidak dapat membukanya secara bersama, tetap akan Hinata buka. Tentu saja, karena saat ini mereka sedang bermusuhan. Hinata masih belum mau bertatap muka dengan Naruto, sedangkan Naruto juga begitu. Di kelas, Naruto tidak menyapa Hinata. Padahal biasanya dengan wajah senangnya Naruto datang dan menyapa Hinata. Ini benar-benar membuat Hinata tidak percaya diri bisa mendapatkan Naruto.

Masalah tentang Kiba juga, sepertinya sudah terselesaikan. Saat Kiba sampai di kelas, ia langsung menghampiri Hinata dan berkata "Selamat berjuang,". Setelah itu Kiba langsung keluar kelas, entah kemana. Hinata tidak tahu apa yang terjadi pada Kiba, tapi Kiba sedikit aneh. Saat guru kewarganegaraan sedang menjelaskan sesuatu, tiba-tiba Kiba menggebrak meja. Katanya dia mau ke toilet, tapi setelah itu Kiba tidak balik-balik. Bahkan sampai sekarang, Hinata tidak melihat keberadaan Kiba dimana.

Sampai di perpustakaan, Hinata duduk di tempat yang tidak ada orangnya. Memang perpustakaan sekolah mereka tidak terlalu besar, tapi dapat dikatakan sepi. Suasana seperti inilah yang Hinata sukai, tenang. Langsung saja Hinata mengeluarkan vas dari dalam tas kecilnya. Tadi saat sampai di sekolah, Hinata memindahkan vas itu ke dalam tas kecil.

Sudah tidak sabar, Hinata langsung melepas ikatan tali yang mengikat penutup vas yang terbuat dari plastik pada vasnya. Setelah terbuka, ia mengeluarkan isi yang ada di dalamnya. "I..ni? Apa ya? Kok ada kancing didalamnya?" benda yang keluar pertama kali adalah sebuah kancing. Kancing apa ya? Hinata bingung melihatnya. Kancing itu ada di dalam vas, berarti itu termasuk ke dalam benda kenangan. Tapi kenangan apa yang terdapat di dalam kancing itu?

"Emas kah? Lho?"

'Ini kancing emas asli, lho! Aku menemukannya di sana,'

'Emas? Waaah~ Naruto hebat bisa menemukannya.'

'Hei~ Hei~ Dimana-mana itu hanya cat-nya yang berwarna emas.'

"Ternyata itu," Hinata terenyum tipis saat mengingatnya. Itu adalah kenangan yang begitu lucu menurutnya. Mengira cat emas sebagai emas asli, itu mengerikan. Kalau tidak bisa membedakannya, bisa ditipu dengan mudah. Tapi 'kan saat itu mereka masih kecil, pantaslah mereka tidak dapat membedakannya.

Disingkirkannya kancing tersebut, sekarang ke benda yang berikutnya. Yang keluar berikutnya adalah, sebuah tusuk gigi. Hah? Kok tusuk gigi sih? Perasaan benda yang keluar dari tadi adalah benda-benda yang aneh. Kenapa ya? "Sekarang apa?" tanya Hinata sedikit frustasi. Mau bagaimana lagi, benda kenangan mereka adalah benda yang aneh. Seharusnya 'kan seperti cincin gitu, atau origami dan sebagainya.

Hinata mengingat-ingat kembali, kenangan apa yang ada dalam tusuk gigi tersebut? Kesunyian perpustakaan, menemani Hinata yang sedang berusaha mengingat. "Hmm," guraunya pusing.

'Tusuk gigi!'

'Ha?'

'Tusuk gigi yang adalah jawabannya!'

'Apa?'

'Kita akan bisa keluar dari sini, Hinata! Kita selamat!'

'Tapi, kita bisa mendapatkan tusuk gigi dimana?'

'Aku punya! Tusuk gigi bekas kupakai tapi siang saat selesai makan.'

Ini adalah kejadian dimana Naruto dan Hinata terjebak dalam sebuah ruangan di dalam rumah Hinata. Karena kecerobohan keduanya, mereka jadi terjebak di ruangan itu. Untungnya Naruto memiliki benda yang dapat membuka pintu itu kembali. Kalau tidak, pasti mereka tidak akan bisa keluar dari ruangan itu dan mati kelaparan serta kedinginan.

Hinata melihat jam dinding yang ada di perpustakaan. Tersisa lima menit lagi bel akan berbunyi, jadi Hinata menyudahi dulu acaranya mengenang kenangan lama. Ia bersiap-siap, kemudian bersiap untuk melangkah pergi. Tapi saat langkah pertama, kakinya menyenggol sesuatu dari bawah meja. Penasaran, Hinata melihat apa yang ada di bawah meja. Ternyata, buku yang pernah dipinjam Hinata dari perpustakaan, tergeletak sembarangan di sana.

"Astaga, buku ini." dengan cepat Hinata mengambil buku itu. Masa buku tidak ada pada tempatnya? Siapa yang melakukan perbuatan tidak benar seperti itu ya? Kalau meminjam barang, seharusnya dikembalikan ke tempat asalnya.

"Haa, jadi berdebu." Hinata mengepak-ngepak untuk membersihkan debu-debu yang melekat pada buku itu. Tapi karena tangannya kurang seimbang, buku tersebut jatuh dan menimbulkan suara yang lumayan keras.

"Huaaa~" merasa bersalah, Hinata langsung mengambil buku yang telah jatuh olehnya sendiri. Sampai-sampai buku itu terbuka, "Halaman ini..." Hinata mengingat, bahwa ia pernah membaca halaman yang terbuka itu.

"Ini dia! Menyembunyikan sesuatu yang sudah terungkap ya?" diingat-ingat oleh Hinata kembali. Kalimat yang familiar ini, "Ini 'kan," kembali Hinata teringat pada kejadian saat ia meminjam buku itu untuk yang pertama kali. 'Terus maksud kalimat "menyembunyikan sesuatu yang sudah terungkap" itu apa ya?".' Hinata mengira bahwa maksud dari kalimat itu adalah, Naruto yang menyembunyikan perasaannya. Padahal sudah sangat terlihat jelas sekali kalau Naruto menyukai Sakura.

"Ah~"

Tapi pikirannya sekarang berpikir lain, "Ternyata ini maksudnya. Perkiraanku yang waktu itu salah. Setelah aku menganggap cintaku berakhir, dan menembunyikan perasaan tersebut. Percuma saja aku melakukannya~ Walau aku mencoba menyembunyikannya, tapi tetap saja akan terungkap. Perasaan ini, bahwa aku menyukainya." Hinata sudah tidak dapat mengungikirinya lagi. Perasaan itu, memang tidak bisa diakiri begitu saja.

"Aku..."

Glundung~ Glundung~ PRANG! Vas yang belum sempat Hinata simpan menggelinding dan jatuh dari atas meja. Itu menyebabkan vas yang terbuat dari kaca itu pecah, dan menumpahkan semua isi di dalamnya. Benang, lilin, balon, pin, dan yang lainnya. Itu benar-benar membuat kenangan Hinata meluap semuanya. Ini benar-benar, telah membuat Hinata sedih. Banyak benda kenangan, banyak waktu yang mereka lalui bersama. Tapi karena masalah kecil, sampai-sampai Hinata berpikir untuk mengakhiri perasaannya yang sudah dijaga selama bertahun-tahun?

"Sebenarnya, apa yang kupikirkan saat itu?"

Tetes demi tetes air mata Hinata mulai keluar, ini benar-benar diluar dugaannya. Perasaan abadi itu, memang tidak bisa dihilangkan dengan mudah. Perasaan yang tulus itu, meskipun tidak terbalas, tapi sangat berharga. Mata Hinata beralih pada sebuah kertas, kertas yang asing di matanya.

"Kertas apa ini?" Hinata mengambil kertas itu, dan melihat tulisan 'Untuk Hinata sepuluh tahun mendatang'. Ini, surat yang itu ya?

'Ini surat yang kubuat untuk Tuhan, Hinata tidak boleh membacanya ya. Boleh dibaca saat sepuluh tahun kemudian, isinya tentang permohonanku. Kuharap setelah kau membacanya, kamu akan menyadari perasaanku yang sebenarnya, Hinata.'

Perasaan yang sebenarnya~

Karena surat itu ditujukan untuk Hinata, jadi Hinata membukanya. Kira-kira surat seperti apa yang dibuat oleh Naruto untuk Hinata sepuluh tahun yang lalu ya? Apa yang diminta Naruto pada Tuhan?

Ya Tuhan~ Naruto di sini, tidak meminta lebih, hanya mau membuat sebuah permintaan. Jika sepuluh tahun kemudian Hinata menemukan time capsule yang kami buat bersama, dan menemukan surat ini. Kemudian membaca surat ini, aku hanya ingin Hinata mengetahuinya. Meski ada masalah yang menghampiri kami berdua, bahkan membuat kami jauh. Aku hanya ingin Hinata tahu, bahwa aku, ingin selalu bersama dengannya, selamanya.

Mata Hinata terbelalak, tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya, supaya suara isak tangisnya tidak terdengar.

"A..aku, sebenarnya apa yang aku lakukan?"

~ XXII ~

˚°◦ ◦°˚ ◐ Vas ◐ ˚°◦ ◦°˚

~ XXII ~

"Satu pelet... Dua pelet... Tiga pelet..." di sini, Naruto Uzumaki sedang tidak ada kerjaan. Ia menghitung makanan ikan yang telah dimakan oleh koi hitam.

Saat ini hari sudah gelap, tapi Naruto tidak mendapatkan sosok Hinata di sana. Ia tidak habis pikir, sosoknya yang seperti ini, melakukan hal yang benar-benar tidak jantan. Kalau memang terjadi kesalapahaman, harusnya diselesaikan dengan baik-baik. Ini malah, menjauh dari Hinata!

"Arrgh!" ia menggeram kesal sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya. "Aku ini payah," katanya terpuruk lesu. "Haa~" menghela napasnya dan kembali melihat koi hitam dengan seksama.

Bruk~ Mendengar suara itu, Naruto kaget. Ia melihat ke arah asal suara tersebut. Matanya terbelalak melihat sosok Hinata di sana, begitu pula dengan Hinata yang kaget melihat sosok Naruto.

"Ah.. Itu.. Maafkan aku!" tanpa mempedulikan barangnya yang jatuh, Hinata berniat untuk berlari menjauh dari tempat itu.

Apa yang Naruto lakukan? Apakah ia akan terus diam? Akankah hubungannya dengan Hinata akan terus-terusan seperti ini? Tidak mau! Naruto mau hubungan dirinya dengan Hinata, berjalan seperti dulu. Ia mengejar Hinata, memegang pergelangan tangannya, dan menahannya untuk tidak pergi.

Berusaha berontak, Hinata ingin kabur. Tapi, tenaganya tidak bisa mengalahkan Naruto. "Kumohon, dengarkan aku dulu." Naruto berusaha menenangkan Hinata, ia mau menceritakan yang sebenarnya. Tapi tetap saja, Hinata tidak mau diam.

"Lepaskan," malah Hinata mencoba untuk kabur kembali.

"Hinata.." sungguh Naruto mau berbicara yang sebenarnya, tapi kenapa Hinata tidak mau mengerti?

"Lepaskan aku!"

JDUK! Kembali Naruto mendapatkan jurus pamungkas dari Hinata. Benar sudah, Naruto kesakitan. Sehingga pegangannya merenggang dan berhasil membuat Hinata lari darinya.

"Ugh~" menahan rasa sakit, Naruto tidak mau melihat Hinata yang jauh berlari darinya. Ia bangkit, menganggap rasa sakit itu tidak ada. Rasa sakit yang dirasakannya sekarang, tidak lebih sakit dari rasa sakit karena tidak dekat dengan Hinata.

"Hinata! Kumohon, dengarkan aku dulu!"

Mendengar Naruto yang berteriak marah seperti itu, membuat Hinata takut. Langkahnya terhenti saking takutnya, apakah Naruto akan memarahinya? Sungguh Hinata tidak dapat bergerak. Mendengar langkah Naruto yang mendekat, membuatnya ingin menangis. Rasa takut ada, sedih pun ada. Jadi apa yang harus dilakukannya sekarang?

"Kamu, hanya salah paham."

"Ha? Apa?"

"Yang kamu lihat waktu itu, ya.. kamu hanya salah lihat."

Plup-plup, Hinata menebar makanan ikan yang belum sempat ditebarnya karena kejadian beberapa menit yang lalu. Hati Hinata sudah mulai tenangan, karena ia sudah mengetahui yang sebenarnya. Naruto menceritakannya dari awal dan akhir, dan itu benar-benar membuat Hinata senang. Untung Hinata tidak mengakhiri perasaannya saat itu~

"Dia saudaraku, sifatnya memang seperti itu." dengan malu-malu, Naruto menceritakan hal yang sebenarnya pada Hinata. "Namanya Karin Uzumaki," mengenai perempuan itu, dan siapa dia. "Hari itu, dia datang ke rumahku untuk berlibur di sini. Hanya satu hari saja, makanya dia memintaku untuk mengantarnya berkeliling." Hinata mendengarkan semuanya secara seksama. "Kamu tahu, 'kan? Keluargaku sudah tidak ada. Hanya dia, satu-satunya keluargaku, yang menganggap aku ada." di sini, Hinata mengetahui satu hal. Kalau Naruto, benar-benar menyayangi keluarganya.

Tapi.. Kok mereka.? "Lalu, itu.. Kalian berci-ci-ci..." dengan terbata-bata Hinata mau mengucapkan apa yang dilihatnya. Tapi kok sangat susah untuk disebutkan ya?

"Ciuman?"

Dengan lega Hinata menganguk, akhirnya apa yang harus diucapkan olehnya tidak keluar dari mulutnya.

"Itu kebiasaan kami waktu kecil, saat berpisah pasti kami ciuman." jawab Naruto dengan jujur, dan itu membuat Hinata sangat syok. Dirinya dengan Neji saja, tidak pernah melakukan itu.

Naruto tertawa singkat melihat ekspresi Hinata, "Tapi kutahan, kok. Kebiasaan itu sudah kuakhiri saat kelas 3 SD, tapi dianya yang belum terbiasa. Tapi kemarin dia berkata, dia sudah mengakhiri kebiasaan itu karena dia sudah punya pacar. Hanya saja, dia iseng. Berkata ingin melihat wajah imutku saat malu." Naruto menggaruk-garuk pipi yang tidak gatal dengan jari telunjuk. Wajah memerah Naruto saat itu, benar-benar membuat Hinata meleleh. "Padahal aku laki-laki, sudah pasti aku tidak suka dibilang imut." tapi yang dikatakan Karin memang benar, Hinata tidak dapat mempungkirinya.

'Ya Tuhan~ Wajahnya benar-benar imut,' kalau terlalu lama melihat Naruto, pasti Hinata sudah mimisan.

"Oh iya," Hinata mengingat satu hal, "Ada yang mau kutunjukan pada Naruto." Hinata mengeluarkan apa yang mau ditunjukan olehnya. "Maaf kalau aku sudah membukanya duluan, dan maaf telah membuat vas-nya pecah." mata Naruto berbinar melihat apa yang telah dikeluarkan oleh Hinata.

"Ini..." wajah Naruto berseri-seri melihat benda-benda yang berjejer di sana. "Hinata! Kamu menggalinya sendiri?!" tanya Naruto tidak percaya. Hinata menggeleng, "Kak Neji tidak sengaja menemukannya," jawab Hinata.

Tidak peduli siapa yang menemukannya atau menggalinya, yang terpenting adalah sudah ditemukannya vas itu.

"Ini tusuk gigi yang itu ya? Tusuk gigi yang mengeluarkan kita dari ruang serem itu, 'kan?!" dengan semangatnya Naruto mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.

Hinata mengangguk, ternyata Naruto masih mengingat kenangan itu ya? Itu benar-benar membuat Hinata sangat senang. Kenangan yang berharga itu, tidak dapat dilupakan dengan mudah, 'kan?

"Lalu... Ah! Balon yang kuberikan padamu saat itu," Naruto mengenang saat-saat itu, "Sudah tidak sedih karena tidak mendapatkan balon, 'kan?" Hinata mengusap rambut Hinata, ia gemas mengingat kenangan saat itu. Hinata hanya tertunduk malu mendapatkan perlakuan spesial dari Naruto.

"Kancing... Pin... Haha, kalau diingat-ingat, kenangan kita berdua sangat banyak ya." Naruto berganti-gantian melihat barang-barang yang berjejer di sana.

Sampai matanya tertuju pada benda terakhir, "Lalu... Ah, surat ini.." Naruto tidak dapat berkata-kata. Ia melihat Hinata, "Iya," dengan begini, Naruto yakin bahwa ini adalah surat yang pernah ditulis olehnya sepuluh tahun yang lalu.

"Kamu... sudah membacanya?" Hinata mengangguk, Naruto terdiam. Naruto mengingat apa yang ditulis olehnya saat itu, ia memalingkan wajah seketika karena sudah pasti wajahnya berubah menjadi merah.

"Baguslah kalau begitu,"

Dua orang teman masa kecil yang sudah menyadari perasaannya yang sebenarnya. Ditemani dengan koi hitam dan sinar bulan yang bercahaya. Tidak ada yang tahu, bahwa mereka memiliki perasaan yang sama.

'Kuharap, setelah kamu membacanya, kamu akan tahu perasaanku, Hinata.'

Sepuluh tahun berlalu, perasaan yang terus ada padanya. Serta, seseorang yang telah menyadari perasaannya yang telah hilang sangat lama. Perasaan yang sebenarnya~

'Dan jika perasaan kita sama, aku mau kamu memakai cincin di jari manismu ya.'

Perasaan yang telah bersatu kembali~

::

::

To Be Continue ◐

::

::

Chapter "V" selesai! Terima kasih sudah membaca chapter ini sampai akhir. Maaf kalau akhirnya sedikit aneh, tapi itulah hasil akhirnya. Naruto dan Hinata sudah baikan, hubungan Kiba dan Hinata pun sepertinya sudah seperti semula. Berikutnya chapter "W", ditunggu ya.

Thanks To :

Haruta Hajime, zan ver, Namikaze Otorie, HeloPillager, Byakugan no Hime, abiegael. sejathie, Hiramekarei, kirigaya muu, Yasuna Katakushi, andy. cyanx. suthi, yudi, Ayuba, Watashi wa Mai, DrunKenMist99, anna. fitry, intan. sept, Rifalrifaldi7gmail. com, Rafki D'Namikaze, Uzumaki-Hime, key-kun, Guest, Crow, dan pembaca sekalian.

Jaa~

Bertemu di chapter "W"~

V

V

V