.
.
.
Disclaimer : Detective Conan © Aoyama Gosho
Warning : OOC, sedikit inspirasi dari DC Movie 5, kata berbelit-belit, Analisis amatiran, dan segala kekurangan lainnya.
Amuro duduk berhadapan dengan Ran yang membuat Ran bingung dengan perilaku Amuro.
"Loh, kak Amuro tidak kembali bekerja?" tanya Ran.
"Aku istirahat sebentar. Lagipula kafe sedang tidak banyak pelanggan." kata Amuro. Ran melihat keadaan kafe dan mengangguk paham dengan ucapan Amuro. Keadaan Poirot kali ini memang sepi, hanya ada Ran dan 2 orang lainnya yang sedang makan.
"Kamu kelihatannya lagi sedih. Apa kamu sedang punya masalah, Ran ?" tanya Amuro. Ran hanya diam, tidak menjawab pertanyaan dari Amuro.
"Jika kamu mau cerita, aku dengan senang hati akan mendengarkannya kok." kata Amuro lagi. Ran tampak sedang berpikir sebentar. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk bercerita tentang masalahnya.
"Sebenarnya aku memang punya masalah dengan salah satu temanku. Aku menyukainya tapi ia seperti tidak pernah peduli padaku." ucap Ran memulai cerita.
"Siapa nama temanmu itu ?" tanya Amuro.
"Shinichi. Namanya Shinichi Kudo." kata Ran.
'Shinichi Kudo? Oh detektif SMA yang terkenal itu. Kalau dipikir-pikir lagi, beberapa waktu belakangan ini ia jarang muncul di koran atau televisi seperti dulu. Apakah mungkin...' pikir Amuro mulai berdeduksi.
"Shinichi Kudo, yang seorang detektif SMA terkenal itu ?" tanya Amuro memastikan.
"Iya. Dia selalu saja menyibukkan dirinya dengan kasus sampai-sampai melupakan kewajibannya untuk sekolah. Aku khawatir padanya sehingga aku sering menanyakan kabarnya dan berusaha untuk membujuknya kembali ke sekolah. Tapi dia selalu saja beralasan sedang menyelidiki kasus sulit. Aku sampai penasaran kasus seperti apa yang ditanganinya." jelas Ran dengan nada bicara yang sedikit meninggi.
"Sudah berapa lama dia bersikap seperti itu ?" tanya Amuro lagi.
"Sudah hampir satu tahun." jawab Ran. Jawaban yang membuat Amuro yakin deduksinya tadi tidak salah.
"Apa mungkin dia mulai bersikap seperti itu sejak kamu mulai mengenal Conan ?" tanya Amuro.
"Iya kak. Kalau dipikir-pikir lagi, setelah Conan muncul di kehidupanku, aku jadi jarang bertemu dengan Shinichi. Conan sudah seperti pengganti Shinichi. Di saat Shinichi tidak ada, Conan ada untuk menghiburku begitu juga sebaliknya. Sampai-sampai aku berpikir kalau Conan dan Shinichi itu adalah orang yang sama." ucap Ran
"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu ?"
"Karena mereka berdua memang mirip kak. Wajahnya, kebiasaannya, hobinya, bahkan tanggal ulang tahunnya sama. Aku tahu ini memang terdengar konyol kan, kak Amuro?" tanya Ran.
"Tidak. Itu tidak konyol kok. Aku yakin kamu pasti merindukan sosok Shinichi itu, kan?" kata Amuro sambil tersenyum tulus.
"Benar. Aku memang merindukannya, kak. Aku mencintainya tapi aku belum berani mengungkapkannya. Aku selalu menunggunya kembali agar aku bisa mengungkapkan perasaanku ini karena aku yakin dia juga mencintaiku. Apakah hal yang ku lakukan ini salah kak?" tanya Ran meminta pendapat dari Amuro. Dari nada bicara Ran barusan, Amuro bisa tahu kalau gadis di hadapannya ini berusaha menahan tangisnya.
"Menurutku caramu tadi tidak salah, hanya saja mungkin kamu harus belajar mengungkapkannya mulai sekarang, karena terkadang perasaan seseorang bisa berubah seiring berjalannya waktu." jawab Amuro.
Mendengar jawaban dari Amuro membuat Ran menjadi sedikit tenang karena cara yang dilakukannya sudah benar. Namun di sisi lain jawaban itu juga menimbulkan kekhawatiran bagi Ran.
'Bagaimana perasaanku nantinya jika Shinichi telah kembali, tetapi ia sudah terlanjur mencintai orang lain ?'
"Oh ya, Ran. Bolehkah aku pinjam hpmu sebentar? Aku ingin mengirim pesan pada temanku tapi aku kehabisan pulsa." tanya Amuro yang membuat Ran tersadar dari lamunannya.
"Tentu saja" jawab Ran memperbolehkan.
Tanpa disadari oleh Ran, diam-diam Amuro mencari kontak dari Shinichi dan mencatat nomornya di hp milik Amuro.
"Terima kasih ya, Ran." ucap Amuro sambil mengembalikan hp milik Ran.
"Sama-sama."
'Sekarang aku sudah mendapatkan semua informasi yang ku perlukan. Inilah waktunya pertunjukan.'batin Amuro senang.
~OOO~
Malam harinya, Conan pergi ke apartemen Amuro untuk memenuhi ajakan makan malam bersama dari Amuro. Awalnya Conan curiga karena tidak biasanya Amuro bersikap seperti ini. Namun, pada akhirnya ia tidak memikirkannya lebih jauh. Sesampainya di sana, Conan langsung disambut oleh Amuro dan mereka berdua menuju ke ruang makan.
Di ruang makan
"Apa yang ingin kak Amuro bicarakan ?" tanya Conan di sela-sela waktu makannya.
"Tidak ada apa-apa kok. Aku hanya ingin tanya, kau ini sebenarnya siapa ?" tanya Amuro.
"Apa maksud kak Amuro ? Aku benar-benar tidak tahu." ucap Conan. Ia mulai khawatir dengan arah pembicaraan ini.
"Jangan pura-pura tidak tahu Conan. Oh atau mungkin bisa ku panggil Shinichi Kudo." kata Amuro dengan sedikit seringaian di wajahnya.
Conan benar-benar menghentikan acara makannya begitu mendengar kata-kata dari Amuro. Ia tentu terkejut, tapi ia berusaha menutupinya.
"Apa maksudmu kak Amuro ? Aku ini Conan bukan kak Shinichi." ucap Conan berusaha mengelak.
"Aku yakin kau tahu maksudku. Aku juga yakin kalau kau barusan bohong. Kau adalah Shinichi Kudo dan temanmu yang bernama Haibara itu adalah Shiho Miyano." kata Amuro dengan percaya diri. Conan tentu merasa kaget sekarang karena ketakutannya menjadi nyata.
Tapi bukan namanya Conan jika menyerah begitu saja. Ia menantang Amuro untuk menjelaskan alasannya mengatakan hal seperti itu.
"Kalau memang seperti itu, bisa kak Amuro jelaskan bagaimana caranya aku dan Haibara berubah menjadi anak kecil seperti sekarang ?" ucap Conan.
"Aku belum tahu pastinya dan hal itu juga yang ingin aku tanyakan padamu. Mungkin karena racun atau obat tertentu." kata Amuro dengan santainya.
"Mungkin ? Kak Amuro dasarkan semuanya pada kata mungkin ? Benar-benar tidak bisa dipercaya," balas Conan dengan sengit.
Amuro menghela nafas sebentar. Ia sudah menduga kalau Conan tidak akan mengalah dan mengakui identitas aslinya. Tapi tidak apa-apa karena Amuro sudah menyiapkan semuanya. Ia bahkan sudah mempunyai kartu as dalam permainan ini.
"Aku tidak hanya mendasarkan semua ini pada kata mungkin tetapi juga fakta-fakta yang ada. Fakta pertama, kau dan Haibara sering menolak bermain dengan teman-temanmu yang lain. Kau dan Haibara juga sering mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya dipahami oleh anak seusia kalian. Fakta itu menjelaskan kalau umur kalian yang sebenarnya lebih dewasa dari kelihatannya." jelas Amuro
"Biar ku jelaskan kak Amuro. Aku dan Haibara menolak bermain dengan teman-teman kami karena menurutku permainan yang mereka lakukan tidak menarik dan terlalu membosankan. Sedangkan hal-hal yang tidak seharusnya diketahui olehku itu, aku pelajari dari buku dan acara televisi. Jadi penjelasan dari Kak Amuro tadi tidak bisa dijadikan alasan untuk menuduhku dan Haibara bahwa kami memalsukan umur kami yang sebenarnya." ucap Conan membela diri
"Jawaban yang bagus, Kudo. Baiklah, memang fakta pertama tadi tidak bisa dijadikan alasan untuk menjelaskan umur kalian. Jadi bagaimana kalau aku bertanya sebentar padamu, Kudo?" kata Amuro.
"Tanya apa?"
"Aku dengar kamu, Haibara, dan teman-temanmu pernah mengunjungi Gedung Tower Nishitamashi dan mencoba sebuah mesin yang bisa menampilkan wajah seseorang pada 10 tahun ke depan. Pada awalnya, kau dan Haibara tidak mau mencoba mesin itu. Hingga akhirnya kalian berdua terpaksa mencoba mesin itu karena paksaan dari teman-teman kalian. Yang ingin aku tanyakan, mengapa kamu dan Haibara tidak mau mencoba mesin itu ?" tanya Amuro
Sekali lagi, Amuro memuat Conan tercengang.
'Darimana dia dapat informasi itu, sih.' batin Conan mulai kesal.
"Aku tidak ingin mencobanya karena aku tidak mau melihat wajahku di masa depan." kata Conan ketus.
"O benarkah ? Bukannya alasannya karena takut identitas aslimu sebagai Shinichi kudo terbongkar." goda Amuro.
"Sudah ku bilang. Alasannya bukan itu." Conan mulai marah.
"Wo...wo. Santai bro. Jadi, apakah kamu sudah mengakui kalau identitas aslimu itu Shinichi Kudo ?" tanya Amuro. Ia sedari tadi menahan tawa karena melihat ekspresi Conan yang begitu lucu.
"Tidak akan. Sebelum kau memberikan penjelasan dan bukti yang jelas, kalau aku itu memang Shinichi Kudo." balas Conan.
"Kau ingin penjelasan? Baiklah aku akan memberikannya. Setelah kau dan Haibara mencoba mesin untuk melihat wajah 10 tahun ke depan itu, mesin itu malah error dan tidak bisa mengeluarkan hasil foto seperti seharusnya. Menurutmu apa yang membuat mesin itu error? tanya Amuro pada Conan.
"Aku tidak tahu. Mungkin memang ada yang salah dengan programnya." jawab Conan seadanya.
"Begitukah menurutmu? Kalau menurutku yang membuatnya error adalah karena wajahmu dan Haibara yang tidak sesuai dengan umur kalian sebenarnya. Mesin itu bisa menghasilkan foto seseorang pada 10 tahun ke depan yang artinya mesin itu bekerja dengan cara mendeteksi umur seseorang saat ini dan menyesuaikannya dengan wajah. Karena ketidaksesuaian wajah dan umur yang kalian miliki, mesin itu tidak bisa memprosesnya. Lalu pertanyaannya berapa umurmu dan Haibara sesungguhnya ? Jawaban yang pasti tentu saja lebih tua dari umur kalian sekarang. Namun untuk kemungkinan terbesarnya adalah sesuai dengan batas kerja mesin itu dalam menganalisa wajah yaitu 10 tahun ke depan. Jadi identitas asli kalian saat ini adalah seorang remaja yang berumur sekitar 17 tahunan. Hal itulah yang membuatku yakin kau adalah Shinichi Kudo," jelas Amuro. Ia meniru deduksi dari Genta kemarin.
Conan memandang Amuro dengan terpana. Ia tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya.
"Ok memang ku akui analisamu tadi masuk akal. Lalu darimana kau menyimpulkan kalau identitas asliku itu Shinichi Kudo ? Remaja berumur 17 tahunan yang ada di Jepang itu banyak." balas Conan.
"Pertanyaan darimu itu sudah ku tunggu-tunggu dari tadi. Jawabannya mudah saja, dari Ran." kata Amuro.
"Dari Ran?" Conan benar-benar kaget mendengar perkataan Amuro tadi. Amuro sontak tertawa begitu melihat reaksi berlebihan dari Conan itu.
"Hahaha... Kau tahu ekspresi kagetmu tadi justru membuktikan kalau dugaanku tentang identitasmu itu benar adanya" ucap Amuro sambil berusaha menahan tawanya.
"Itu. Cuma kebetulan." ujar Conan.
"Lihatlah kamu berusaha mengelak lagi. Tapi aku yakin kau tidak akan bisa mengelak lagi setelah mendengar penjelasanku yang satu ini. Hal yang membuatku yakin jika kau adalah Shinichi Kudo ialah penjelasan dari Ran kemarin. Ia bilang Shinichi jarang menemuinya lagi setelah kau muncul dalam kehidupannya. Setiap Shinichi muncul, kau selalu menghilang dan sebaliknya ketika kau ada, Shinichi menghilang. Itu membuktikan..."
"Aku dan Shinichi itu orang yang berbeda. Buktinya kak Ran selalu mendapat telepon dari Shinichi setiap malam" Conan memotong ucapan dari Amuro.
"Itu karena kau yang menelponnya. Kau menggunakan dasi kupu-kupu milikmu itu untuk merubah suaramu. Trik yang sama kau gunakan untuk membuat analisis 'Kogoro Tidur'.Apa aku salah ?" tanya Amuro.
Conan hanya diam dan tidak menyahut omongan dari Amuro.
"Kuanggap itu sebagai jawaban 'tidak'. Baiklah aku akan melanjutkannya. Aku telah menyelidiki silsilah keluarga Kudo dan tidak menemukan hubungan darah antara kau dan Keluarga Kudo. Lalu bagaimana kau bisa menjelaskan kemiripan antara kau dan Shinichi kudo. Mulai dari wajah, karakter, hobi bahkan tanggal ulang tahun yang sama. Bagaimana kau menjelaskannya ?" tantang Amuro pada Conan.
Conan kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan dari Amuro.
"Ok kalau kau tidak ingin mengelak lagi. Sekarang waktunya pembuktian. Kau bawa hp kan?" ucap Amuro senang.
"Ya aku bawa. Memangnya kenapa ?" tanya Conan balik.
"Nyalakan hpmu dan taruh di meja sini," perintah Amuro.
Conan melakukan apa yang disuruh oleh Amuro. Setelah Conan selesai, Amuro menyalakan hpnya dan menghubungi sebuah nomor. Nomor Shinichi yang didapatkannya dari hp Ran kemarin.
Selang beberapa detik setelah Amuro menelpon hp Conan bergetar menandakan ada panggilan masuk. Setelah dibuka yang muncul ternyata nomor dari Amuro.
"Itu adalah bukti otentik kalau kau adalah Shinichi Kudo. Aku tadi menelpon nomor Shinichi, tetapi kenapa malah panggilannya masuk ke hpmu. Bisa kau jelaskan itu, Conan?" Amuro tersenyum dengan rasa penuh kemenangan.
"Baiklah aku mengakuinya. Aku memang Shinichi Kudo." ucap Conan pasrah. Ia harus mengakui keunggulan Amuro untuk saat ini.
"Akhirnya kamu mau mengaku juga. Ngomong-omong bagaimana caranya kamu bisa menyusut menjadi seperti ini ?" tanya Amuro
"Dengan racun APTX 4869 yang dibuat oleh Haibara. Organisasi memberiku racun tersebut, karena aku melihat transaksi yang mereka lakukan." terang Conan.
"Itu sebabnya kamu selalu terobsesi untuk mengejar anggota Black Organization ya?" kata Amuro.
"Begitulah..." ucap Conan.
"Apa Shiho sampai sekarang belum menemukan penawar untuk racun itu ?" tanya Amuro.
"Dia sudah menemukan penawar sementaranya. Tetapi penawar tersebut hanya mempan untuk 24 jam saja. Haibara selalu berusaha keras selama ini untuk membuat penawar permanen, namun hingga sekarang belum berhasil juga. Mungkin dia kekurangan data untuk riset. O ya, kak Amuro tidak akan memberi tahu siapapun tentang hal ini kan ?" tanya Conan sambil memicing curiga ke arah Amuro.
"Tenang saja. Percakapan tadi akan menjadi rahasia kita berdua." jawab Amuro.
"Syukurlah." Conan menghela nafas lega.
To be Continue
