Chapter "Y" update! Terima kasih sudah menunggu sampai chapter ini update. Terima kasih juga sudah membaca dan memberikan review pada chapter sebelumnya. Terima kasih sudah membacanya hingga sejauh ini. Sekarang waktunya membalas review~
YMD : Iya~ Kalau di chapter ini sih bukan, soalnya untuk cerita. Tapi untuk masa depan, tentu saja iya.
Haruta Hajime : Hohoho~ Mungkin aku sedang memikirkannya disaat membuatnya. Iya~
durarawr : Eh? Begitu ya? Aku kepikirannya itu sih~
yudi : Haha, kalau diakhir-akhir ini aku tidak dapat membuat konflik lagi. Terima kasih, makasih udah ditunggu.
aviola. aulia : Iya, ini udah lanjut. Kemungkinan besar memang hari Sabtu, tapi kali ini hari Jumat.
key-kun : Makasih, itu benar. Iya, setiap hari Sabtu daku update-nya, tapi kali ini hari Jumat.
Name Unknown : Hahaha, aku tak bisa menyebarkannya di dunia ini. Bagaimana dengan PM dan kita berbincang di sana? Isinya hanya otak biasa kok, tapi mungkin gara-gara otak kiriku yang lebih bekerja. Arigatou~ Ya, memang begitu. Makasih, iya, lagi proses untuk yang berikutnya. Iya, akan kulupakan.
ryansaputra014 : Iya, tinggal chapter ini dan chapter akhir. Arigatou~
Watashi wa Mai : Haha, aku juga baru sadar setelah dikasih tahu.
Guest, IndigoRasengan23 & Namezuris : Ini udah lanjut~
Hiramekarei : Makasih, iya. Iya, makasih.
Yoona Ramdanii : Haha, makasih. Iya, sebentar lagi akan tamat. Iya, ini udah dilanjut.
DrunKenMist99 : Itu tentu saja, mungkin sudah mendarah daging #dihajar. Ini udah lanjut~
dhany kun : Iya, haha, bukan begitu juga sih. Iya, ini udah lanjut.
abiegael. sejathie : Kau benar! Chapter kali ini memang "Yakin".
IA : Iya, itu benar. Chapter kali ini memang "Yakin".
Guest II : Umm... Baiklah~
Rafki D'Namikaze : Haha, itu berubah secara mendadak. Iya, itu sudah pasti. Karena Hinata hanya milik Naruto seorang. Haha, nggak juga. Iya, ini udah lanjut.
Rifalrifaldi07gmail. com : Iya, udah mau tamat. Ini udah lanjut, makasih.
Ndul-chan Namikaze : Bukan itu kok, meski asal mulanya dari sana sih. Makasih, itu sudah menjadi salah satu sifatnya. Lebih romantis ya? Gak tau sih di sini romantis atau tidak, maaf kalau tidak terlalu romantis deh.
Byakugan no Hime : Haha, untuk fic ini aku tak membuat saquelnya. Mohon maaf~ Tapi anti ada sedikit cerita tambahan di akhirnya. Haha~
Ayuba : Iya, makasih.
agintalavegr : Bukan, ini udah lanjut.
Selamat membaca~
::
::
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto-sensei
26 Days : Koi of Love © Haruna Hajime
::
Pairing: Hinata Hyuuga & Naruto Uzumaki
::
Genre: Romance
::
Warning: Silahkan dibaca dan lihatlah kesalahan-kesalahan yang kapan saja bisa terjadi di fic ini. Yang pastinya Hinata agak sedikit OOC, itu menurutku.
::
Rated: T
::
~ Happy Reading ~
::
::
::
Selama waktu berjalan, membuatku tambah yakin, bahwa ini memang pilihanku. Aku sudah berjalan sampai sini, dan aku tidak boleh membiarkannya kalah begitu saja. Perasaan yang tumbuh sejak lama ini, tidak boleh menjadi perasaan yang sia-sia. Karena aku yakin, perasaan ini akan terbalas jika aku berusaha.
::
::
◐ 26 Days : Koi of Love ◐
::
::
"Berita pagi ini~ Setelah diteliti lebih lanjut, gerhana matahari itu akan terjadi tepatnya hari Sabtu. Diharapkan bagi yang berada di luar rumah esok hari untuk berhati-hati, karena kami tidak tahu kapan tepatnya gerhana matahari itu akan datang."
Naruto menatap layar TV dengan datar, ia tidak menyangka bahwa perkiraannya kali ini sangat tepat. Memang perkiraannya selalu tepat, tapi setidaknya ia mau sekali saja salah dalam memperkirakan cuasa. Saat apa ia mau salah? Saat gerhana matahari itu akan terjadi. Karena penasaran dengan berita gerhana matahari yang dibilang oleh Hinata, bahkan Naruto yang jarang nonton TV jadi menontonnya karena penasaran dengan perkembangan lebih lanjutnya. "Perkiraanku, ternyata benar ya?" tanyanya sedih. Padahal saat ia tepat memperkirakan cuaca, ia akan melompat kegirangan dan berkata bahwa kemampuannya itu harus lebih diasah. Tapi, sekarang?
"Sekian berita pagi ini, bertemu lagi di kesempatan yang akan datang."
Ya, di saat seperti inilah Naruto menginginkan salah memperkirakan cuaca. Karena, meski itu tidak mungkin, ia tidak ingin gerhana matahari itu menjadi pendukung mitos yang dijalankan Hinata. Kalau bisa, kebenaran mitos itu tidak pernah ada. Karena ia tidak mau, cinta Hinata terbalas bukan padanya, tetapi pada lelaki lain. Ia sedih kalau sampai itu terjadi. Bukannya sedih karena pada akhirnya Hinata akan bahagia karena cintanya terbalas, kalau masalah itu tentu saja ia akan ikut senang atas kebahagiaan Hinata, meski hati sangat berat untuk menerimanya. Tapi ia sedih karena sebentar lagi perasaannya akan hancur untuk yang kedua kalinya. Kalah dua kali ya? Benar-benar bukan pria sejati, tapi memang ini yang harus dilakukan olehnya. Demi melihat kebahagiaan orang yang disukainya~ Untuk saat ini, Naruto tidak mau berbuat egois. Naruto tahu bagaimana rasanya ditolak oleh orang yang disukai, dan ia tidak mau Hinata merasakan sakit yang sama.
Tapi tanpa Naruto sadari, ia sudah pernah membuat Hinata merasakan sakit itu.
Sedangkan di rumah keluarga Yamanaka, Ino lompat-lompatan kegirangan di atas sofa. Sambil teriak "Yei!" berulang kali dan dapat peringatan dari ibunya. Karena mendengar berita pagi yang menggembirakan ini, "Sebentar lagi akan happy ending ya? Tidak sabar~" karena Ino lah yang mengetahui semuanya. Naruto dan Hinata, saling menyukai. Walau Naruto sendiri tidak tahu, bahwa dirinya adalah orang yang disukai Hinata. Begitu pula Hinata, Hinata juga tidak tahu kalau sebenarnya sekarang Naruto sudah menyukai Hinata.
Bagaimana dengan Hinata? Saat mempersiapkan piring-piring untuk sarapan pagi, langkahnya tiba-tiba terhenti karena mendengar berita pagi ini. Ia kaku di tempat, memegang piring yang belum sempat diletakan olehnya. "Perkiraan Naruto, benar ya?" tanyanya tidak percaya. Memang keahlian Naruto dalam memperkirakan cuaca tidak boleh diremehkan, tapi kenapa bisa sangat tepat seperti ini? Cukup kaget memang, tapi inilah kenyataannya.
Selesai berberes-beres, sarapan siap untuk di makan. Keluarga Hyuuga makan dengan tenang, tidak lupa Hiashi mengingatkan anak-anaknya untuk berhati-hati. Karena memang, besok akan terjadi gerhana matahari. Menurut perkiraan Naruto, maupun hasil penelitian para astonomi yang diberitakan di berita pagi. Selesai sarapan, Hinata siap-siap untuk berangkat sekolah.
"Hari Sabtu maupun esok hari adalah hari ke dua puluh enam, bagaimana akhirnya ya?" suatu hal yang sudah lama ditunggu, akhirnya sudah di depan mata. Tapi, bagaimanakah akhirnya?
"Aku pergi dulu~"
Hari Jumat, dimana banyak murid-murid yang mulai merasakan malas ke sekolah dikarenakan esok hari libur. Berbeda dengan Hinata, ia malah merasa semangat untuk ke sekolah. Kenapa? Sekarang adalah sehari sebelum waktu yang ditentukan. Hari ke dua puluh lima, dan ini sungguh membuatnya deg-deg-an.
"Besok bagaimana ya?" gumamnya pelan, kemudian ia berjalan pelan menuju sekolahnya.
Sampai di persimpangan, ia dikagetkan dengan sosok Naruto yang tiba-tiba saja melewatinya. Dengan wajah yang ditekuk, Naruto tidak menyadari keberadaan Hinata. Terus saja jalan, tanpa memperhatikan sekitarnya. Hinata yang heran hanya berjalan di belakang Naruto tanpa menghiraukannya sama sekali. Biarlah Naruto seperti ini dulu, sampai kesadarannya kembali utuh.
'Sampai kapan Naruto akan seperti itu?' batin Hinata bertanya. Sudah setengah perjalanan Naruto seperti itu, tidak memperdulikan sekitarnya. Bahkan Hinata yang mencoba membuat pergerakan agar disadari pun, tidak berhasil melakukannya. Sepertinya ada hal penting yang sedang Naruto pikirkan. Tapi apa ya?
"Besok ya?"
Setelah sekian lama berdiam diri, akhirnya Naruto angkat bicara. Tapi saat ini Naruto berbicara pada dirinya sendiri, ia benar-benar sedang memikirkan satu hal yang penting.
"Besok kenapa?" karena penasaran dengan apa yang Naruto ucapkan, akhirnya Hinata bertanya.
Naruto yang mendengar ini jadi diam di tempat. Dalam hatinya, ia berpikir bahwa telah berhalusinasi mendengar suara Hinata. Mungkin karena terlalu memikirkan Hinata, jadi suara Hinata sampai di telinganya. Tapi, kok ada yang aneh ya? Hmm~ Naruto melihat samping kanannya, tidak ada orang. Kenapa suara Hinata terdengar sangat jelas ya? Seperti nyata saja. Kemudian ia menengok ke samping kirinya, kosong juga. Kembali Naruto berpikir, kanan dan kiri tidak ada. Apalagi depan, sudah pasti kalau ada orangnya akan langsung terlihat. Kemungkinan besar ada di belakang, jadi ia memutar balik tubuhnya. Aha!
"Benar ada Hinata, 'kan!?" seruan ini membuat Hinata sedikit kaget, sampai-sampai Hinata mundur beberapa senti.
"I-iya?"
Naruto menatap Hinata heran, "Sejak kapan ada di sini? Kok tidak bilang-bilang sih?" tanyanya.
Melihat wajah Naruto yang begitu penasarannya, Hinata tidak dapat berbuat apa-apa selain memberitahukannya. "Sejak di persimpangan itu, aku tidak bilang ke Naruto karena wajah Naruto tampak serius sekali memikirkan sesuatu. Jadi, karena tidak mau mengganggu, ya aku diamkan saja." jelas Hinata menceritakan hal yang sebenarnya.
"Begitu ya?" tanyanya acuh dan kembali memikirkan hal yang tadi dipikirkan olehnya. Hinata makin penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh Naruto. Jarang-jarang Naruto yang tidak mau ambil susah, malah memikirkan hal yang merepotkan baginya.
"Kau nonton berita pagi ini?" tanya Naruto tiba-tiba, Hinata diam sementara dan menjawab pertanyaan Naruto dengan mengangguk. "Apa reaksimu saat itu?" kembali Naruto bertanya, dan kembali melanjutkan perjalanannya. Jangan lupa, mereka sedang perjalanan menuju sekolah.
"Biasa saja," mendengar ini, Naruto syok di tempat. Hinata mendengar berita pagi ini, hanya biasa-biasa saja. Tapi kok, 'Aku malah sangat memikirkannya ya!?' tanyanya tidak percaya dalam hati. Mau bagaimana lagi? Memangnya gerhana matahari itu adalah hal yang harus dipikirkan secara berlebihan? Tapi yang sekarang dipertanyakan bukanlah gerhana matahari, tapi mitos sepasang koi itu.
"Kalau mitos itu benar, perasaan seperti apa yang akan kau rasakan?" inilah pertanyaan berikutnya, meski sudah mengetahui jawaban apa yang akan dikeluarkan oleh Hinata. Meski jawaban Hinata, akan membuat perasaannya sakit. Tidak apa, semua demi kebahagiaan Hinata.
"Sudah tentu aku akan senang sekali,"
Yah~ Memang inilah yang harus dilakukan olehnya. Meski perasaannya sakit, yang penting melihat kebahagiaan Hinata. Ia harus menerima semuanya, perputaran dari roda takdir yang sudah ditentukan. Walau kisah keduanya akan berakhir bahagia, tanpa mereka sadari.
Tersenyum tipis, "Aku yakin, apa yang kau inginkan akan tercapai." memegang kepala Hinata dan mengelusnya pelan. "Jadi sebelum semuanya berakhir, tetaplah berjuang." sebuah kalimat semangat, yang dapat membuat Hinata tetap berjuang.
Seharusnya kata-kata itu kau ucapkan untuk dirimu sendiri, Naruto.
~ XXV ~
˚°◦ ◦°˚ ◐ 25th Day ◐ ˚°◦ ◦°˚
~ XXV ~
"Hahaha~! Ino Yamanaka adalah orang paling bahagia di dunia~!"
Naruto dan Hinata diam di luar kelas, mereka berdua sudah dibuat syok oleh Ino karena tingkah lakunya. Masa pagi-pagi berteriak begitu kencangnya, di atas meja!? Memangnya apa sih yang membuat Ino berteriak seperti itu?
Hinata tidak betah melihatnya, ia berjalan cepat mendekati Ino. "Berdiri di atas meja itu tidak baik," langsung saja ia memperingati Ino, ia menarik-narik rok Ino pelan sebagai tanda untuk segera turun.
Ino yang sadar dengan tingkah Hinata hanya tersenyum singkat, "Selamat pagi," sapanya kemudian. Tidak peduli dengan peringatan Hinata, tetap saja Ino berdiri di atas meja. Tidak peduli dengan sekitar juga, teman-teman kelas malah mentertawakan Ino. "Pokokya Ino Yamanaka adalah orang paling bahagia di dunia! Dengar tidak!?" malah Ino mengulang teriakannya, sungguh Hinata tidak tahu harus berbuat apa pada Ino.
"Ino, ayo turun. Kalau guru melihat bagaimana?" tanya Hinata khawatir. Apalagi sekarang jam pelajaran guru yang paling galak, bisa-bisa Ino dapat hajaran darinya.
"Siapa peduli? Yang penting Ino Yamanaka adalah orang yang paling bahagia di dunia!" ketiga kalinya Ino mengulang kata-katanya, dan itu membuat orang yang mendengarnya bosan. Kalau sudah seperti ini, sangat sulit bagi Hinata untuk menghentikannya.
"Ehem! Sudah cukup bahagia-bahagiaannya, kembali ke bangku masing-masing." mendengar ini, Ino merinding. Tanpa basa-basi, ia melompat dari atas meja dan langsung duduk dengan rapi di tempatnya.
Anak-anak kelas melihat ekspresi dan tingkah Ino yang lucu, kembali tertawa. Bukannya senang seperti tadi, sekarang Ino kesal karena ditertawakan dengan alasan yang berbeda.
"Bagus semuanya sudah tenang," guru ini, Kakashi Hatake, wali kelas Naruto dan yang lainnya.
"Guru Kakashi! Kok anda yang masuk?" tanya Naruto mengangkat tangannya.
Memang aneh, seharusnya sekarang itu bukan pelajaran Kakashi. Tapi ada urusan apa masuk ke kelas? Padahal tugas Kakashi sekarang adalah mengajar di kelas bawah. Mungkinkah ada pemberitahuan mengenai esok hari?
"Kalian pasti sudah mendengar berita pagi ini, 'kan?" tanya Kakashi. Menanggapi pertanyaan Kakashi, ada yang mengangguk dan ada juga yang menggeleng. Jadi, agar anak-anaknya tidak bingung, ia sekalian menceritakannya. "Besok tepat dimana gerhana matahari akan terjadi. Jadi, kepala sekolah memutuskan untuk libur esok hari." dengan serius Kakashi memberitakan informasi dari kepala sekolah.
"Guru Kakashi~ Besok memang libur kali," dengan malasnya Kiba membalas ucapan Kakashi, karena informasi itu tidak ada gunanya untuk diberitahukan. Karena pada awalnya, hari Sabtu memang libur.
"Yah, memang begitu. Oleh karena itu, hari ini sekolah dibebaskan. Kalian baru boleh pulang sekitar jam sepuluh."
Hening sementara, seisi kelas pada diam. Pahadal kalau mendengar berita seperti ini, pasti semuanya akan langsung berteriak dan berjingkrak-jingkrak. Tapi ini apa? Kakashi jadi heran sendiri melihat anak didiknya. Lima detik berlalu, tetap saja tidak ada yang bereaksi.
"Hei~ Kalian dengar ucapanku tadi?" tanya Kakashi bosan, tapi tetap saja tidak ada tanggapan. Merasa diabaikan, ia mengeluarkan buku kesukaannya dan berjalan keluar kelas. "Yang penting aku sudah memberitahukannya," lalu menghilang dari pandangan.
"Hei~ Sekarang sekolah bebas lho!? Yeeii! Ino Yamanaka adalah orang yang paling bahagia di dunia!" dengan sangat bersemangat, Ino kembali berteriak. Tidak lupa naik ke atas meja lagi untuk mendukung kebahagiaannya, tapi tindakan seperti ini sebaiknya jangan ditiru.
"Yoo!" anak-anak kelas pun ikut bersorak-sorai mendukung Ino.
Melihat Ino yang bersemangat seperti itu, sungguh membuat Hinata senang. Ino adalah orang yang sangat bersemangat, sangat berbeda dengan dirinya. Kadang, Hinata selalu iri terhadap orang yang seperti itu.
"Hinata! Mau kemana?" melihat Hinata yang sudah beres-beres dan siap pergi dengan membawa tas, membuat Naruto penasaran.
Masa Hinata mau pulang sekarang? Padahal waktu yang sudah ditentukan itu jam sepuluh. Tentu saja kalau kurang dari waktu itu, tidak akan boleh pulang. Apalagi sekarang masih jam delapan lewat dikit, masih banyak waktu di sekolah.
"Aku mau ke kolam," jawab Hinata, menunggu di sana lebih tenang daripada di kelas.
Naruto berpikir sebentar, "Oh, dikirain mau pulang." soalnya Hinata pakai bawa tas segala sih. Tapi tidak apa, 'kan? Mau bawa tas atau tidak, yang penting masih dalam lingkungan sekolah.
"Tidak, 'kan waktu yang ditentukan jam sepuluh." begini-begini Hinata adalah orang yang menaati peraturan, tidak mungkin Hinata melanggar peraturan yang ada. Bisa-bisa nama baik Hinata sebagai murid yang teladan tercoret hanya karena melanggar satu peraturan saja. Ya, walau Hinata pernah membolos pelajaran. Tapi jarang lho, itu jarang.
"Kiba! Idiot banget sih kau!"
Naruto dan Hinata kaget mendengar teriakan itu, lagi-lagi Ino berteriak. Tapi sekarang bukan karena 'Ino Yamanaka adalah orang yang paling bahagia di dunia', tapi karena Ino sedang marah. Ia berlari mengejar Kiba yang sedang tertawa dengan puasnya.
"Kabuur~! Hahaha~!"
Entah apa yang dilakukan oleh mereka berdua, tidak ada yang tahu. Tahu-tahu sudah begitu, benar-benar tidak jelas. Bahkan Naruto dan Hinata yang merupakan sahabat dekat Kiba dan Ino, juga tidak mengetahuinya.
"Kenapa tuh?" tanya Naruto heran melihat aksi kejar-kejaran Ino dan Kiba.
"Aku tidak tahu," jawab Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tidak peduli, lagian Kiba dan Ino sudah pergi jauh. Jadi Naruto dan Hinata langsung saja beranjak dari kelas untuk menuju kolam koi. Tidak lupa Naruto juga membawa tasnya, agar nanti tidak perlu bolak-balik lagi. Jadi saat waktu yang sudah ditentukan tiba, mereka bisa langsng pulang bersama.
Diperjalanan, secara terus menerus Naruto melihat Hinata. Sepertinya ada yang mau dibicarakan oleh Naruto, tapi tidak dikatakan olehnya. Karena seperti itu terus, Hinata menjadi risih. Apa yang kalian rasakan jika seorang yang kalian sukai, melihat kalian dengan maksud tertentu? Entah maksudnya apa, tapi tatapannya itu lho. Nah, itulah yang dirasakan Hinata sekarang. Merasa tidak enak, akhirnya Hinata saja yang memulainya duluan. Karena ia yakin Naruto tidak akan mengungkapkan apa yang dipikirkannya jika tidak Hinata yang memulainya.
"Apa yang mau Naruto bicarakan?"
"Eh?" perasaan Naruto jadi gugup, sepertinya gerak-gerik yang dilakukan oleh Naruto ketahuan. Tapi ia tidak boleh jadi orang yang pengecut, ia harus berani mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya. Dengan persiapan yang sangat matang, "Hinata~ Kamu yakin kalau gerhana matahari itu benar-benar akan terjadi?" tanya Naruto langsung.
Berpikir sementara, kemudian tersenyum. "Sangat," kata Hinata dengan mantap.
Naruto heran mendengar jawaban Hinata, "Kenapa bisa begitu?" tanyanya. Padahal belum tentu penelitian para peneliti itu benar seratus persen. Bisa saja gerhana matahari tidak akan terjadi, dan hanya membuat sedih Hinata saja.
Hinata melihat Naruto, apa Naruto lupa dengan ucapannya sendiri ya? "Karena Naruto yang bilang sendiri, ditambah saat mendengar berita pagi ini." jawab Hinata. Kenapa Hinata sangat yakin? Ya karena ada penelitian para peneliti, dan juga perkiraan cuaca Naruto. Kalau keduannya digabungkan, sudah pasti akan tepat seratus persen, 'kan?
Tidak dapat berkata apa-apa, keyakinan Hinata memang sudah bulat. Kalau mencoba untuk membuatnya tidak percaya pun, pasti akan sia-sia. Lagian, Naruto ngapain sih? Naruto sendiri 'kan yang bilang kalau mau melihat Hinata bahagia walau dirinya sendiri terluka? Hinata sudah mendekati kebahagiaannya lho, masa mau dihilangkan begitu saja.
"Kamu juga sudah yakin dengan perasaanmu sendiri?" kembali Naruto bertanya, kali ini pertanyaannya membuat Hinata bingung.
"Maksudnya?" akhirnya Hinata bertanya kembali karena tidak mengerti.
"Begini lho, umm... Maksudku, suka dan kagum itu tidak terlalu berbeda, 'kan?" ternyata inilah yang dimaksud oleh Naruto. Memang, perasaan suka dan kagum itu tidak terlalu berbeda. Bisa-bisa salah mengartikan kedua rasa itu, nanti malah salah ambil jalan.
Hinata berpikir, "Iya." jawab Hinata menyetujui pertanyaan Naruto tadi. "Kamu yakin itu suka?" untuk pertanyaan yang sekarang, Hinata hanya mengangguk sebagai jawabannya.
Mendapatkan jawaban seperti itu, Naruto menjadi lesu. Ia menghela napasnya, dengan begini sudah dipastikan bahwa Naruto akan kalah untuk yang kedua kalinya. Itu menurutnya sih~
Sampai kolam, Hinata langsung melakukan aktivitas biasanya. Naruto yang hanya bosan melihat pun, ikutan menebar makanan. Kalau ia beruntung, mungkin besok ia akan mendapatkan kebagiaannya juga. Tapi gimana ya? Itu tidak akan pernah terjadi, 'kan?
"Hinata," lagi-lagi Naruto memanggil Hinata, seperti tidak ada bosannya untuk memanggil nama Hinata.
"Ya?" sebenarnya cukup bosan juga dipanggil-panggil terus. Tapi lebih baik daripada tidak dipanggil, karena itu sama saja tidak dianggap.
"Kamu yakin besok koi putih dan hitam akan keluar bersamaan?" lagi-lagi Naruto menanyakan hal yang sama. Meski cara bertanyanya berbeda, tapi pasti jawabannya tetap sama. Melihat Hinata yang tersenyum, Naruto dapat mengetahui apa yang akan dijawab oleh Hinata.
"Hmm~" Naruto berpikir, memang sudah waktunya untuk melepas semuanya. Tidak usah dipikirkan, biarkanlah waktu berjalan. Semuanya akan baik-baik saja jika dijalani dengan pikiran positif.
"Naruto," sekarang Hinata yang memanggil Naruto, dan Naruto langsung melihat Hinata. Jarang 'kan Hinata memanggilnya hari ini, jadi harus cepat ditanggapi.
"Ya?"
"Tentang gerhana matahari dan mitos itu, kita lihat besok ya?"
Senyum yang mengembang di wajahnya, dengan pancaran wajah yang berseri. Memang, kita jalani saja hidup ini. Tidak perlu khawatir, karena semuanya akan berjalan lancar, sesuai dengan keinginan yang ada.
"Yah~ Kita lihat saja,"
~ XXV ~
˚°◦ ◦°˚ ◐ Yakin ◐ ˚°◦ ◦°˚
~ XXV ~
Matahari yang lama kelamaan menghilang, membuat yang awalnya cerah menjadi gelap. Semua lampu yang awalnya mati, jadi dinyalakan sebagai alat penerangan. Tidak lupa dengan cahaya bulan, yang selalu menemani malam hari. Hinata juga sudah memberi makan koi hitam, dan menunggu di sana selama tiga puluh menit. Jadi sekarang sudah waktunya bagi Hinata untuk pulang.
Mengingat besok bukan hari biasa, Naruto jadi punya pemikiran. "Umm... Hinata. Berhubung sekarang sudah malam, mau tidak kamu main ke rumahku?" entah keberanian dari mana Naruto dapat untuk menanyakan pertanyaan di atas. Tapi, bukannya itu pertanyaan yang sangat menantang ya!? Itu-nya lho~
Apa yang kalian pikirkan? Seorang wanita main ke rumah seorang pria pada malam hari!? Kalau ada tetangga yang melihatnya, pasti akan langsung berpikiran buruk. Lalu terjadilah gosip heboh yang melekat di telinga-telinga warga setempat. Tapi jangan berpikiran buruk dulu, sebenarnya ada tujuan yang mau dilakukan oleh Naruto.
"Maksudku, menginap di rumahku ya?" dan, pertanyaan lebih menantang dari sebelumnya. Sudah cukup, pikiran buruknya dibuang jauh-jauh dulu. Kalian belum tahu apa yang mau dilakukan oleh Naruto, 'kan?
Hinata diam, meresap pertanyaan atau lebih tepatnya ajakan dari Naruto. Sekarang Hinata harus bagaimana ya? Apa yang harus dilakukan olehnya? Kalau diajak menginap oleh Naruto, haruskan ia menjawab 'iya' atau 'tidak'? Sebaiknya ditanyakan dulu pada Hiashi, dibolehkan atau tidak. Karena Hinata harus minta izin dulu kalau mau menginap di rumah teman. Tapi, temannya ini 'kan laki-laki!? Eh, tapi 'kan bukan teman laki-laki biasa, tapi teman laki-laki masa kecil.
"Bagaimana Hinata?" tanya Naruto waspada, takutnya Hinata berpikiran buruk. Kalau memang itu terjadi, dengan cepat Naruto akan menjelaskan yang sebenarnya.
"Aku telepon ayah dulu," karena Hinata bingung, akhirnya ia memutuskan untuk menelepon Hiashi. Mau sih menginap di rumah Naruto, sudah sangat lama ia tidak menginap di sana. Tapi ia harus minta izin ke orang tua, 'kan?
Menunggu diangkat, "Hallo~" dan akhirnya terdengarlah suara dari seberang. "Ada apa nak? Kenapa jam sekarang belum sampai di rumah?" tanya Hiashi. Jarang-jarang Hinata meneleponnya, jadi Hiashi sedikit bingung.
"Hari ini, bolehkah Hinata menginap di rumah teman?" tanyanya mulai proses meminta izin, dengan perasaan deg-deg-an ia menunggu jawaban dari Hiashi.
"Rumah Ino ya? Tentu saja boleh," jawab Hiashi. Masa tidak mengizinkan anaknya untuk menginap di rumah temannya sendiri? Mumpung besok hari libur, ya dipakai untuk bersenang-senang bersama dengan teman.
"Bukan Ino yah," mendengar ini, Hiashi diam sementara. "Lalu?" tanya Hiashi heran. Kalau bukan Ino, lalu siapa? Setahu Hiashi, teman akrab Hinata hanya Ino.
"Naruto,"
Mendengar ini, Hiashi tidak berkata apa-apa. Ia diam selama lima detik, dan itu membuat perasaan Hinata jadi tidak enak. Di seberang sana, Hiashi juga sedikit syok. Sejak kapan anaknya berubah menjadi tipe yang berani!? Malam-malam seperti ini, datang ke rumah laki-laki? Menginap lagi!? Tapi kalau Naruto, bagaimana ya?
"Ayah?"
"Tidak," jawab Hiashi langsung setelah mendengar Hinata memanggilnya. Keputusannya sudah bulat, ia tidak akan mengizinkan Hinata untuk menginap. Kenapa? Karena Hinata seorang gadis yang masih dalam pertumbuhan.
"Tapi yah?" suara memelas Hinata terdengar di telinga Hiashi, sungguh ia tidak tega mendengarnya. Tapi apa yang harus dilakukannya? Apa keputusannya salah?
"Pokoknya tidak," tidak salah, 'kan? Jadi Hiashi tidak boleh bimbang dengan keputusannya sendiri. Karena keputusan orang tua, adalah keputusan yang paling benar untuk kehidupan anaknya.
"Tapi sepertinya ada hal penting yang mau dibicarakan Naruto," mendengar penjelasan dari Hinata, membuat Hiashi berpikir kembali. Diam sementara, Hiashi sedang memikirkan kata-kata Hinata tadi. Hal penting yang mau dibicarakan ya? Memangnya hal penting apa sih yang mau dibicarakan Naruto ke anaknya? Apa masalah sekolah?
"Berikan ponselnya pada Naruto," perintah Hiashi, Hinata melihat Naruto sementara. Untuk apa ya Hiashi menyuruhnya memberikan ponselnya pada Naruto? Mungkinkah ada yang mau dibicarakan Hiashi ke Naruto.
"Naruto," panggil Hinata, ia melihat Naruto yang tatapannya sedang bingung. "Ayah mau bicara," mendengar ini, perasaan Naruto jadi tidak enak. Naruto mengambil ponsel Hinata dengan sedikit bergetar dan dimulailah aksi perbincangan antara calon menantu dan calon mertua.
"Ha-Hallo~" dengan sedikit terbata Naruto memulai pembicaraan, bisa saja Naruto akan langsung dapat omelan besar dari Hiashi.
"Kalau kau berani menyentuh Hinata, akan kukuliti kau." bulu kuduk Naruto merinding seketika, memangnya Naruto ular yang bisa dikuliti? Tapi berarti, Hinata boleh menginap di rumahnya, 'kan? "Awas kalau macam-macam," belum sempat Naruto bicara, kembali Hiashi mengancamnya.
"Iya.. Tapi..."
Tut~tut~tut~
Naruto syok, ia tidak diberikan kesempatan bicara sama sekali oleh Hiashi. Tapi ini tandanya kalau Hiashi mengizinkan Hinata untuk menginap, 'kan? Ia tertawa singkat, beruntung sekali Hinata memiliki ayah yang sangat menyayanginya. Kalau Naruto, sudah lama ia tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah. Yah~ Kalau dirinya sudah menikah dengan Hinata, nanti ia juga akan merasakannya kembali.
"Kenapa?" Hinata yang melihat Naruto tertawa sendiri jadi bertanya.
"Tidak, ayahmu sangat sayang padamu ya? Dia memberikan izin untuk menginap," jelas Naruto, tidak lupa memberitahukan hal yang sudah diberikan pada Hiashi.
"Iya," Hinata menerima ponsel dari Naruto, dan ponsel itu dimasukan kembali ke dalam tas. Dengan begini, Hinata dapat menginap tanpa ada rasa beban sama sekali.
Sampai di rumah Naruto, Hinata langsung ditawarkan minuman oleh Naruto. "Mau minum apa?" tanya Naruto. Karena dari beberapa jam yang lalu mereka belum sempat minum. Sudah pasti tenggorokan mereka kering dan sangat membutuhkan minuman untuk menyegarkannya.
"Tidak usah, nanti merepotkan." tapi Hinata malah menolaknya, dengan alasan merepotkan. Sudah tahu minum itu adalah salah satu aktivitas yang sangat penting.
"Haha, apanya yang merepotkan? Teh hangat saja ya?" dengan seenaknya Naruto memutuskan apa yang akan diminum oleh Hinata. Kemudian berlalu dari sana dan masuk ke dalam dapur.
Beberapa menit menunggu, akhirnya Naruto datang dengan membawa secangkir teh hangat. "Ini teh-nya," Naruto berjalan dengan hati-hati, karena baru kedua kalinya ia membawa sebuah nampan yang berisikan gelas yang ada isinya untuk menyuguhkan minuman pada tamu yang datang. "Maaf ya kalau berantakan." sekarang Naruto meminta maaf karena kondisi rumahnya yang sangat berantakan.
"Haha, terima ka..."
BRUAK! BYUUR~
Sebuah kejadian tidak terduga telah terjadi. Naruto kesandung buku komik yang berantakan di lantai, dan teh yang dibawanya sudah mendarat tepat di seragam Hinata. Bahkan, Hinata belum sempat untuk menyelesaikan ucapan terima kasihnya.
"Huaaa~!" Naruto sangat panik sekarang, untungnya yang tumpah itu bukan teh panas. "Maafkan aku!" tapi tetap saja Naruto harus meminta maaf atas perbuatannya. Dengan kejadian ini, Naruto kapok tidak merapikan rumahnya yang mulai berantakan.
"Tidak apa-apa," Hinata juga terlalu baik. Kalau posisi Hinata sekarang adalah Ino, pasti Naruto sudah mendapatkan ocehan.
"Tunggu di sana! Aku carikan baju ganti dulu~" kembali Naruto meninggalkan Hinata sendirian, Naruto terlalu sibuk untuk mencari baju yang seukuran dengan Hinata. Walau sepertinya tidak ada, yang penting baju ukuran yang paling terkecil. Setelah didapat, Naruto kembali pada Hinata, "Hanya ada ini, ini bajuku yang paling terkecil." katanya dan menyerahkan baju itu pada Hinata.
Hinata menggambil baju tersebut, "Maaf merepotkan," katanya. Hinata memang tidak suka merepotkan orang-orang di sekitarnya.
"Ini gara-gara aku kok, lagian masa tidur pakai seragam?"
Akhirnya Hinata mandi, dan Naruto bersantai di ruang tamu. Tapi karena mengingat kejadian tadi, Naruto memilih untuk merapikan ruangan. Ia tidak mau kejadian seperti itu terulang kembali, tapi kok rasanya kejadian ini sepertinya pernah terjadi di dalam kehidupannya. 'Kok rasanya seperti de javu ya?' batin keduanya.
Hinata akhirnya selesai mandi, ia keluar dan melihat ruangan yang sudah sedikit rapi. Ia tidak mendengar suara berisik, berarti Naruto merapikan ruangan dengan sangat tenang sampai-sampai tidak ada suara. Tapi ini sudah merupakan kemajuan, Naruto merapikan ruangan dengan niatnya sendiri, bukan disuruh oleh orang lain. Tapi tetap saja, saat melihat Hinata perasaan Naruto jadi tidak enak. Kenapa? Baju yang dikenakan Hinata tetap saja kebesaran, ukuran tubuh wanita dan pria itu memang berbeda.
Mengingat Naruto yang mengajak Hinata menginap ke rumahnya, Hinata jadi bertanya apa tujuan Naruto sebenarnya. "Apa sebenarnya yang mau Naruto lakukan?" tanya Hinata.
"Ha?" spontan Naruto kaget, takut terlintas pikiran buruk setelah mendapat pertanyaan itu. Yah~ Kalau ditanya seperti itu, Naruto sebagai seorang pria pasti mau melakukan ini dan itu. Tapi karena ia terlalu sayang pada Hinata, sampai-sampai ia tidak mau melakukannya. Karena Naruto mau menjaga Hinata baik-baik~
"Sampai-sampai menyuruhku untuk nginap?" tanya Hinata melanjutkan pertanyaan sebelumnya. Sempat Naruto berpikir, Hinata itu sangat polos. Memang mereka sudah bersama sejak kecil, jadi tidak perlu ada yang ditakutkan. Tapi saat waktu itu Hinata ke sini, sempat Hinata berpikiran buruk. Mungkin pemikiran itu sudah jatuh ke laut sejak Hinata mulai merasa aman dan nyaman berada dekat Naruto.
"Yah~ Sebaiknya duduk dulu, mungkin ini memerlukan waktu yang cukup lama."
Mendengar ucapan Naruto, Hinata duduk di sebelah Naruto. Setelah posisi enak didapat, langsung saja Naruto menjelaskan apa tujuan yang sebenarnya. "Karena besok adalah hari ke dua puluh enam, aku hanya ingin berbicara saja. Sebagai teman semasa kecil, ada yang mau kutanyakan padamu." Hinata menatap Naruto seksama, saat Naruto bilang "teman masa kecil" itu memang menyakitkan hati Hinata. Tapi mau diapakan lagi? Bahkan Naruto yang bilang itu pun, merasakan sakit yang dirasakan Hinata. Apakah status "teman masa kecil" itu yang akan menghalangi perasaan ini?
"Apa suka duka yang selama ini kau alami? Dua puluh lima hari yang telah kau lalui, pasti banyak kejadian yang tidak terduga." Naruto menatap Hinata serius, bukan saatnya Hinata merasa malu ditatap seperti itu. Hinata juga harus serius, demi masa depan yang akan datang.
"Suka banyak, duka juga banyak." jawab Hinata seadanya. Memang, setiap kejadian pasti hanya ada itu saja. Kalau tidak yang suka, pasti yang duka. Tapi apa saja yang termaksud di dalamnya? Itulah yang membuat Naruto penasaran. "Banyak kejadian yang membuatku tertawa, banyak juga kejadian yang membuatku menangis." Naruto mengangguk-angguk mendengarnya, ia melihat Hinata yang tertunduk.
"Seperti itu? Kalau begitu, kita terbuka saja ya. Apa sih yang kamu sukai dari laki-laki itu? Seperti apa laki-laki itu?" inilah yang membuat Naruto penasaran. Apa sih kelebihan laki-laki yang disukai Hinata? Yah~ Sebenarnya Hinata mau menyawabnya seperti ini, 'Seperti Naruto.' tapi itu tidak dapat diucapkan olehnya langsung.
"Yang kusukai ya?" mengenang kejadian yang sudah lama terjadi, "Sejak pertama kali bertemu saja, sudah ada kesan positif dari dirinya. Dia orang yang begitu baik hati, tidak membiarkanku begitu saja. Padahal awalnya ragu-ragu, tapi tetap saja melakukannya. Dia selalu menemaniku, disaat duka maupun suka. Dia yang memiliki senyum bagaikan mentari, sangat kusukai. Dia itu, cinta pertamaku." senyuman yang dipancarkan Hinata saat menceritakan orang yang disukainya, benar-benar begitu manis. Seperti inikah seorang gadis kalau jatuh cinta? Akan terlihat lebih manis dari biasanya.
Naruto mengangguk-angguk kembali, "Sejak kapan kamu menyukainya?" ia sangat ingin tahu semua tentang perasaan Hinata. Takutnya Hinata salah memilih orang, dan jika saat itu benar-benar terjadi, Naruto siap menolong Hinata. Karena inilah perasaannya, tidak ada yang dapat mengelaknya.
"Sudah sangat lama, sejak aku masih SD." Naruto terkejut mendengarnya, berarti sudah sangat lama Hinata menyukainya. Sedangkan Naruto? Ia benar-benar tidak dapat mengalahkan Hinata. Tapi sudah sejak SD Naruto bersama dengan Hinata, seharusnya ia mengetahuinya. Siapa selama ini laki-laki yang dekat dengan mereka dari SD? "Makanya, kalau perasaanku ini terbalas, aku akan sangat bahagia." tutur Hinata.
Naruto tersenyum, lupakan orang itu. "Sekarang dia dimana?" sudah saatnya ia membantu untuk mendapatkan kebahagiaan Hinata. Peran Naruto akan berakhir, jika Hinata sudah mendapatkan kebahagiaannya.
"Dekat denganku kok," Hinata tersenyum, Naruto memegang dagunya. "Begitu ya?" Naruto tidak mengerti, bahwa Hinata dan Naruto sedang membicarakan dirinya sendiri. Tapi mau diapakan lagi? Naruto 'kan tidak tahu siapa orang yang disukai Hinata. Naruto itu termaksud orang yang tidak peka, jadi hal seperti itu saja tidak dimengerti olehnya.
Diam lima belas menit, cukup bingung mau berbicara apa setelah itu. Tapi tidak mungkin Naruto terus membiarkan kejadian seperti ini terus. Ia harus mencari topik pembicaraan, tapi sebelumnya ia harus memanggil Hinata. "Hinata," tanpa melihat ke arah Hinata, ia memanggilnya. Tapi tidak ada respon dari Hinata, "Hinata?" kembali ia memanggil namanya. Sampai akhirnya Naruto melihat ke arah Hinata, sosok gadis yang tertidur dengan pulasnya.
"Sudah tidur ya?" Naruto melihat jam, waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam. Memang sudah waktunya seorang gadis untuk tidur sih, tidak bagus untuk kulit kalau tidur malam-malam. Tapi masa tidur di sini? "Kalau tidur di sini bisa masuk angin lho. Hinata?" Naruto menoel-noel pipi Hinata menggunakan jari telunjuknya. Tapi tetap saja Hinata tidur dengan pulas, kelelahan mungkin.
"Haa~" Naruto menghela napasnya, ia menggendong Hinata secara perlahan. Dibawanya Hinata ke kamar Naruto, ia berniat baik. Ia meletakan Hinata di kasurnya, dan melihat Hinata sementara. "Mimpi yang indah," mencium kening Hinata dan keluar kamar.
Kalau berlama-lama di sana, takutnya Naruto akan menyerang Hinata. Naruto juga tidak ada niat untuk tidur saat ini, ia hanya kepikiran esok hari. Kebahagiaan Hinata, apakah benar-benar akan datang besok? Bosan di dalam rumah, ia keluar rumah dan melihat langit. Bintang lebih sedikit dari biasanya, apa ini pertanda gerhana matahari yang akan segera datang?
"Besok ya?"
Apa yang akan terjadi di hari ke dua puluh enam ya?
::
::
◐ To Be Continue ◐
::
::
Chapter "Y" selesai! Terima kasih sudah membacanya sampai akhir. Berikutnya chapter "Z" yang merupakan chapter akhir, ditunggu ya.
Thanks To :
YMD, Haruta Hajime, durarawr, yudi, aviola. aulia, key-kun, Name Unknown, ryansaputra014, Watashi wa Mai, Guest, IndigoRasengan23, Namezuris, Hiramekarei, Yoona Ramdanii, DrunKenMist99, dhany kun, abiegael. sejathie, IA, Guest II, Rafki D'Namikaze, Rifalrifaldi07gmail. com, Ndul-chan Namikaze, Byakugan no Hime, Ayuba, agintalavegr, dan pembaca sekalian.
Jaa~
Bertemu di chapter "Z"~
V
V
V
