.
.
.
Disclaimer
Detective Conan milik Aoyama Gosho
Warning
OOC, bahasa campur aduk, alur gak jelas dan segala kekurangan lainnya
Sementara itu…
Shinichi dan Shiho pulang bersama dari acara rapat dengan menggunakan taksi. Di dalam taksi, Shinichi tidak henti-hentinya menguap menahan kantuk. Ia bahkan sudah dalam posisi badan miring dan mulai menutup mata. Shiho yang melihat hal itu pun bertanya pada Shinichi.
"Kau kenapa Kudo kun ? Kau kelihatannya sangat mengantuk. Hmm, padahal biasanya kau yang sering memanggilku putri pengantuk. Mungkin, sekarang giliranku memanggilmu dengan pangeran pengantuk." Goda Shiho.
"Hentikan omonganmu itu, Miyano. Aku memang mengantuk karena kesulitan tidur semalam, jadi jangan ganggu aku. Aku hanya ingin istirahat." balas Shinichi.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu," kata Shiho.
Ia pun membiarkan Shinichi tertidur. Setelah 10 menit berlalu, Shiho merasa bosan. Tidak ada orang yang bisa diajaknya untuk mengobrol, sementara jarak menuju rumahnya masih jauh. Ia pun mencoba mencari kesibukan sendiri. Mulai dari bermain hp hingga melihat keadaan kota dari kaca mobil. Ketika Shiho sedang melihat ke arah luar, ia jadi teringat akan hal yang ingin ditanyakannya pada Shinichi. Shiho mulai membangunkan Shinichi walaupun tadi ia sempat berkata bahwa ia tidak akan mengganggu waktu istirahat dari Shinichi.
"Hei, Kudo kun..."
"Ada apa lagi, Miyano ? Bukankah sudah ku bilang untuk tidak menggangguku ?" Ucap Shinichi dengan ketus.
"Aku ingin bertanya tentang penjahat yang kau ajak kerja sama untuk penghancuran organisasi. Dia bukan Vermouth kan ?" Tanya Shiho dengan agak cemas.
"Bukan. Dia bukan Vermouth. Dia hanyalah kenalanku, bisa disebut rival juga. Sebagai tambahan, dia pernah menyelamatkanmu di Kereta Bell Tree Express dengan cara berpura-pura menyamar menjadi dirimu..." Penjelasan Shinichi dipotong oleh Shiho.
"Kaito Kid. Apa orang itu yang kau maksud ? Darimana kau tahu nomor hp miliknya ?" Tanya Shiho.
Shinichi menghela nafas panjang. Daripada terus tanya jawab seperti ini, lebih baik ia menceritakan kejadiannya secara lengkap.
"Jadi begini..."
Flashback, waktu hari ulang tahun Ai.
Pagi ini, seperti biasa Conan sarapan bersama dengan Kogoro dan Ran. Selesai sarapan, Kogoro membicarakan tentang kasus yang akan ditanganinya hari ini yaitu kasus pencurian berlian yang akan dilakukan oleh Kid di Museum Seni Tokyo. Pihak kurator museum meminta Kogoro untuk ikut mengamankan berlian yang akan dipamerkan di museum tersebut.
Tentu saja Conan atau Shinichi tertarik dengan cerita yang dibicarakan Kogoro. Sudah lama, ia tidak mengejar pencuri itu. Conan pun meminta izin kepada Kogoro untuk ikut menangani kasus itu yang tentu saja langsung ditolak oleh Kogoro. Namun, bukan namanya Conan jika ia mudah menyerah. Conan langsung mengeluarkan jurus andalannya yaitu wajah memohon dan memelas agar Kogoro mau mengizinkannya untuk ikut dan usahanya pun berhasil.
~OOO~
Malam harinya, Kaito Kid memulai aksi pencuriannya. Dengan mudah ia melewati sistem keamanan museum, mengelabui Kogoro dan para petugas polisi yang menjaga berlian itu. Setelah itu, ia menuju ke atap yang dijadikan rute pelariannya.
Sesampainya di atap, Kaito memeriksa berlian curiannya dengan menerawangnya menggunakan sinar bulan.
"Haahh, ini juga bukan." Keluh Kaito.
Sudah tak terhitung lagi banyak berlian yang telah dicuri Kaito dan ia belum juga menemukan berlian yang dicarinya. Berlian Pandora yang berhubungan dengan pembunuh ayahnya. Kadang Kaito berpikir apakah tidak ada cara lain yang dapat ia lakukan untuk menemukan pembunuh ayahnya.
"Rupanya acara mencurimu sudah selesai ya, Kaito Kid ?" sebuah suara menyadarkan Kaito yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia segera menoleh ke arah suara dan menemukan Conan yang sedang berkacak pinggang.
'Ini dia si pengganggu sudah datang' batin Kaito.
"Ada perlu apa, Detektif. Mau berusaha menangkapku lagi ?" tanya Kaito dengan malas.
"Tentu saja itu yang akan ku lakukan." jawab Conan.
"Dasar kau ini. Apa kau tidak lelah selalu mengejar-ngejarku. Lebih baik kau gunakan kemampuan detektif milikmu untuk membantu orang yang sedang kesusahan atau memecahkan kasus lain. Seperti pencurian, pembunuhan..." Kaito berhenti berbicara karena sebuah ide cemerlang tiba-tiba muncul di dalam kepalanya.
"Baiklah, aku akan menuruti saranmu. Setelah aku selesai menangkapmu." kata Conan sambil bersiap-siap menembakkan peluru bius dari jam tangannya.
"Tunggu dulu, Detektif. Aku akan bicara serius mulai sekarang." ucap Kaito yang ajaibnya segera membuat Conan membatalkan niatnya untuk menggunakan jam pembiusnya. Melihat hal itu, Kaito segera melanjutkan ucapannya.
"Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan damai ? Aku akan berhenti mencuri mulai sekarang. Tapi sebagai balasannya, kau harus membantuku dan juga berhenti berusaha menangkapku." lanjut Kaito.
"Kesepakatan macam apa itu ? Apa untungnya bagiku ?" balas Conan sinis.
"Keuntungannya, aku akan membantumu menghadapi orang-orang yang membuatmu mengecil seperti ini. Selain itu, keuntungan lainnya aku juga tidak akan membocorkan identitas aslimu kepada publik. Jadi bagaimana menurutmu Detektif, apa kau mau membantuku ?" tanya Kaito sambil tersenyum penuh arti.
Conan berpikir sebentar. Kesepakatan ini sebenarnya cukup menguntungkan bagi Conan karena dengan begitu ia tidak perlu melibatkan ibunya ataupun Vermouth setiap kali ia membutuhkan seseorang untuk menyamar. Terutama ketika menghadapi kasus-kasus yang berhubungan dengan BO seperti kasus di Kereta Bell Tree Express.
"Baiklah aku setuju dengan kesepakatannya. Jadi bantuan apa yang kau perlukan ?" jawab Conan pada akhirnya.
"Aku ingin kau membantuku menemukan pembunuh ayahku. Ayahku adalah Kaito Kid yang asli. Namanya Toichi Kuroba." kata Kaito.
"Toichi Kuroba ?" Conan kaget mendengar nama itu disebut. Tentu saja Conan tidak asing dengan nama itu. Ia adalah seorang pesulap terkenal bahkan ibu dari Conan atau Shinichi belajar teknik penyamaran darinya. Menurut kabar yang Conan dengar, Toichi Kuroba meninggal karena kecelakaan saat pertunjukan sulap.
"Jadi kau adalah..."
"Aku anaknya, namaku Kaito Kuroba. Aku meneruskan jejak ayahku sebagai Kaito Kid untuk memancing pembunuhnya keluar namun hingga sekarang belum ada perkembangan yang berarti. Mungkin saja kemampuan analisa dari detektif hebat sepertimu bisa membantuku." jelas Kaito. Conan hanya diam mendengar penjelasan dari Kaito.
"Baiklah, karena urusanku di sini sudah selesai aku harus pergi sekarang." kata Kaito sambil melemparkan berlian curiannya kepada Conan yang langsung ditangkap oleh anak itu.
"Sampai jumpa, Detektif." Ucap Kaito sambil membuka hang glidernya lalu terbang di kegelapan malam.
Conan menatap kepergian Kaito dan berlian curiannya tadi secara bergantian. Ia menajamkan penglihatannya begitu melihat secarik kertas kecil menempel pada berlian itu. Setelah Conan melihat dengan seksama, di kertas tersebut ternyata tertulis nomor hp.
'Dasar. Dia itu selalu saja..' batin Conan sambil tersenyum tipis.
Flashback off
"Begitulah ceritanya, Miyano." Kata Shinichi begitu ia selesai menceritakan secara lengkap. Namun anehnya, Shiho tidak membalas perkataannya sama sekali. Ia menoleh ke arah Shiho dan mendapati gadis itu telah tertidur dengan pulas.
'Dasar Miyano sialan !' Batin Shinichi geram.
~OOO~
Hari berikutnya
Di sebuah ruangan di dalam gedung tua, terdapat 2 orang yang sedang duduk dan mengobrol. Salah satunya memakai kacamata hitam, topi hitam dan pakaian dengan warna senada. Sementara satunya memiliki style pakaian yang sama, hanya perbedaannya dia tidak memakai kacamata. Mereka berdua adalah Gin dan Vodka.
"Bagaimana persiapan untuk acara pertemuan besok, Vodka ?" Tanya Gin sambil menyebulkan asap rokok.
"Semuanya berjalan lancar, Aniki. Semua ruangan, kebutuhan makanan, dan petugas keamanan telah diperiksa dan tidak ada masalah." Jawab Vodka.
"Baguslah kalau begitu," balas Gin.
Ketika mereka berdua akan melanjutkan obrolan, pintu ruangan tersebut terbuka dan masuklah seorang wanita berambut pirang platinum.
"Ada perlu apa kau ke sini, Vermouth ?" Tanya Gin dengan nada datar.
"Aku datang ke sini untuk memberitahu kabar buruk. Sepertinya dugaan kita kalau Bourbon dan Kir adalah pengkhianat memang benar adanya." Kata Vermouth dengan sedikit kesal.
"Apa maksudmu bicara seperti itu, Vermouth ?" Tanya Vodka.
"Kemarin aku melihat Kir dan Bourbon mengobrol dengan akrab di Taman Haido bahkan sampai berpelukan segala. Itu memperkuat dugaanku kalau mereka sedang berdiskusi untuk mengumpulkan informasi yang mereka dapatkan dan membahas rencana penghancuran organisasi ini." Ucap Vermouth.
"Bourbon dan Kir tidak akan pernah bisa menghancurkan organisasi ini karena sebelum mereka melakukannya, aku akan menghancurkan mereka lebih dulu." Balas Gin dengan seringaian khas miliknya.
"Jadi bagaimana langkah kita selanjutnya ?" Tanya Vermouth.
"Kita tunggu hingga pertemuan besok. Kita akan menghabisi kedua pengkhianat itu setelah pertemuan selesai." Jawab Gin.
"Besok ? Tapi itu terlalu lama, Gin. Bagaimana kalau besok, mereka tidak datang ke pertemuan ?" Protes Vermouth.
"Justru kalau mereka tidak datang ke pertemuan, maka itu akan membuktikan kalau mereka pengkhianat dan kita bisa mengambil tindak lanjutnya. Jika hanya mengandalkan informasi kurang jelas seperti yang kau sampaikan tadi kita bisa saja salah." Kata Gin.
"Cih. Baiklah kalau begitu aku pergi dulu." Ujar Vermouth sambil berlalu pergi. Ia tidak terima ketika Gin mengatakan kalau informasinya tidak jelas.
'Mulai saat ini, aku akan mengambil tindakanku sendiri.' Batin Vermouth.
Setelah Vermouth keluar, Vodka mulai mengajak Gin untuk mengobrol.
"Aniki, apa kau akan membiarkan wanita itu ? Sepertinya ia akan bertindak sesukanya lagi." Tanya Vodka.
"Tidak usah dipikirkan, biarkan saja dia." Ucap Gin. Ia sudah bisa menduga kalau Vermouth akan bertindak di luar perintahnya lagi.
Di lain tempat, Amuro yang sedang bekerja di Poirot merasakan firasat tidak enak. Entah kenapa ia merasa kejadian yang buruk akan terjadi. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir firasat buruk itu. Padahal ia sendiri yang menghibur Rena kemarin untuk tidak terlalu memikirkan firasat seperti itu.
'Mungkin aku memang lagi punya banyak pikiran' Batin Amuro.
~OOO~
Malam harinya, Rena pulang menuju apartemennya setelah selesai bekerja. Ia melewati daerah-daerah yang cukup sepi. Hingga akhirnya ia dihadang oleh 3 orang pria berpakaian serba hitam di sebuah gang.
"Rena Mizunashi, kami diperintahkan ke sini untuk membawamu menuju markas BO." Kata salah satu orang yang mempunyai badan paling besar.
"Apa yang kau bicarakan ? Aku sama sekali tidak mendapatkan pesan untuk pergi ke markas. Jadi jangan berusaha membohongiku." Seru Rena.
"Sudah jangan banyak bicara. Ikuti saja perintahnya." Kata salah satu pria yang berbadan kurus sambil menarik tangan Rena.
"Lepaskan aku ! Kalau tidak..."
"Kalau tidak apa ? Kau ingin menghajar kami ? Hahaha." Ucap pria berbadan kurus itu.
BUGHH
Pria berbadan kurus itu jatuh terduduk sambil menahan sakit karena mendapat tendangan dari Rena yang mengenai bagian alat vitalnya.
"Beraninya kau," Dua pria lainnya berusaha menyerang Rena. Dengan lihai, Rena menghindari pukulan dari dua orang itu dan balik menyerang kedua orang itu. Sebenarnya, sudah lama Rena tidak mengeluarkan kemampuan bela dirinya seperti sekarang. Ia cenderung akan lari jika terjadi masalah seperti ini.
Butuh waktu 5 menit hingga akhirnya Rena berhasil mengalahkan ketiga pria itu. Semuanya terbaring dengan lemas di tanah.
'Dilihat dari penampilannya, sepertinya mereka adalah anggota BO. Tapi mungkin yang kelas bawah karena kemampuan bela diri mereka tidak terlalu bagus dan tindakan mereka ini cenderung ceroboh.' Pikir Rena.
Rena mendekati salah satu pria yang masih terbaring lemas. Ia memaksa pria itu untuk memberitahunya siapa orang yang telah menyuruh mereka melakukan semua ini. Pada akhirnya, pria itu mau mengaku juga.
"Kami disuruh oleh Vermouth..." Rena kaget setelah mendengar hal itu.
'Apa alasan Vermouth melakukan semua ini ?' Batin Rena.
Tetapi sebelum Rena sempat menemukan jawaban dari pertanyaan itu, mulutnya sudah lebih dulu dibekap dari belakang oleh seseorang. Rena mulai merasakan lemas dan kantuk yang luar biasa hingga akhirnya ia kehilangan kesadarannya.
"Cepat, bantu aku membawanya ke mobil !" Perintah Vermouth kepada ketiga orang pria yang ada di sana.
~OOO~
Rena terbangun dalam posisi terduduk dengan tangan dan kaki terikat. Kaki-kaki kursi yang didudukinya juga sudah terpaku ke lantai sehingga tidak dapat diangkat atau dipindahkan dengan mudah. Rena melihat keadaan dari tempatnya berada sekarang. Sebuah ruangan yang cukup luas dan tidak ada barang-barang lain kecuali kursi yang didudukinya sekarang serta sebuah meja dan kursi yang berada tidak jauh darinya. Jika dilihat sekilas mirip seperti ruang interogasi.
"Rupanya kau sudah bangun, Kir." Kata Vermouth sambil berjalan mendekat ke arah Rena.
"Apa yang kau inginkan, Vermouth ?" Balas Rena.
"Aku hanya ingin memastikan, apakah dugaanku benar atau tidak. Sekarang aku tanya, apa yang kau lakukan dengan Bourbon kemarin ?" Tanya Vermouth
"Apa maksudmu, aku benar-benar tidak tahu." Jawab Rena berbohong.
"Jangan pura-pura bodoh, Kir. Aku sudah melihat semuanya. Kemarin, kau dan Bourbon mengobrol dengan akrab bahkan bisa dibilang kalian mirip sepasang kekasih. Kau bahkan sempat memeluk Bourbon." sahut Vermouth.
"Aku..." perkataan Rena dipotong oleh Vermouth.
"Sebenarnya, bukan itu yang menjadi masalah. Aku tidak peduli kau mau berpacaran dengan Bourbon atau tidak, itu sama sekali bukan urusanku. Yang menjadi masalahnya, tindakanmu kemarin justru membuat kepercayaanku padamu menjadi berkurang atau bahkan hilang." jelas Vermouth.
Rena hanya diam sambil meneguk ludah secara kasar. Ia benar-benar khawatir Vermouth sudah tahu semuanya.
"Aku mulai mempertimbangkan opsi jika kau dan Bourbon memang benar-benar agen rahasia yang menyusup ke organisasi. Sama seperti informasi yang diberikan oleh Curacao pada awalnya, sebelum ia meralat kembali informasinya. Kalau dipikir-pikir lagi, agak aneh jika Curacao meralat informasi yang telah ditelah dikirimkannya kepada kami. Aku mengenalnya dengan baik. Aku tahu dia akan berusaha sebaik-baiknya agar misinya dapat terselesaikan, apalagi setelah dia mendapat kepercayaan dari Rum jadi tidak mungkin dia akan mengecewakan Rum dengan memberikan informasi yang salah. Jadi ada kemungkinannya, informasi ralat yang dikirimkan Curacao itu dipalsukan. Bagaimana menurutmu, Kir ?" Tanya Vermouth.
"Aku tidak tahu akan hal itu. Bisa saja kan, ia memang yang mengirim informasi itu. Dan mengenai dugaanmu tadi, itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menuduhku dan Bourbon selama kau belum menemukan penjelasan dan bukti yang kuat yang mendukung." jawab Rena.
"Kau salah, Kir. Aku mempunyai bukti yang kuat." ucap Vermouth. Ia mengeluarkan sebuah benda dari saku celana dan menunjukkannya pada Kir. Benda itu adalah hp milik Rena.
"Ini adalah buktinya. Di dalam hp milikmu ini, tersimpan beberapa kontak yang membuatku bisa menyimpulkan dugaan seperti tadi. Kontak-kontak tersebut adalah milik agen-agen CIA dan juga salah satunya milik Rye atau Akai Shuichi. Jadi bisa kau jelaskan bagaimana kontak-kontak itu bisa tersimpan di hpmu ?" tantang Vermouth.
Rena benar-benar sudah terpojok. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Kenapa diam Kir ? Dugaanku benar kan ?" tanya Vermouth.
~OOO~
Di lain tempat, Amuro benar-benar merasa sangat gelisah. Sejak tadi, ia sudah berusaha untuk tidur namun tidak bisa.
Lalu apa yang membuat Amuro menjadi seperti ini ?
Jawaban dari pertanyaan itu adalah seorang wanita berambut poni kuda yang selalu memenuhi pikiran Amuro. Siapa lagi kalau bukan Kir atau Rena Mizunashi.
Sejak tadi sore, Amuro berusaha menghubungi wanita itu namun tidak bisa. Ia menjadi takut telah terjadi sesuatu yang buruk pada Rena.
'Apa aku coba sekali lagi ya ?' pikir Amuro.
Amuro pun mencoba menelpon Rena lagi. Untuk kali ini, panggilannya diangkat oleh seseorang.
"Halo Rena, darimana saja kamu ? Kok dari tadi tidak bisa dihubungi ?" tanya Amuro begitu panggilannya dijawab.
"Halo Bourbon. Ini aku, Vermouth. Kir ada bersamaku sekarang." kata sebuah suara yang Amuro yakini itu adalah suara Vermouth.
"Apa yang telah kau lakukan padanya, Vermouth ?" tanya Amuro dengan nada bicara sedikit dingin.
"Santai saja, Bourbon. Kir baik-baik saja sekarang dan akan tetap seperti itu selama kau menuruti semua ketentuan yang aku tetapkan. Bagaimana, apa kau setuju ?" ucap Vermouth.
"Apa ketentuannya ?"
"Ketentuannya mudah. Kau cuma harus hadir pada saat pertemuan besok. Itu saja, setelah itu kau ku beri kesempatan untuk bertemu dengan Kir. Jika kau tidak datang maka akan ku pastikan kau akan melihat Kir berakhir di kantong mayat. Bagaimana Bourbon, kau setuju ?" tanya Vermouth sambil menyeringai.
Amuro menghela nafas sebentar, ini sama saja pilihan yang tidak menguntungkan baginya. Jika ia tidak datang, maka rencana yang sudah disusun tetap berjalan dan ada kemungkinan BO akan segera hancur. Namun konsekuensinya dia akan kehilangan Rena. Jika ia datang, kemungkinannya juga tidak pasti. Bisa saja ini merupakan jebakan dari Vermouth yang memang berencana membunuh dirinya dan Rena. Amuro berada dalam dilema sekarang.
Setelah berpikir selama beberapa saat, pada akhirnya ia memantapkan pilihannya.
"Baiklah, aku akan datang. Tapi sebelumnya, bisakah aku berbicara dengan Kir sebentar. Aku ingin memastikan kalau dia benar-benar selamat," kata Amuro.
"Tentu saja." Vermouth mengaktifkan loud speaker kemudian mendekatkan hpnya ke Rena dan menyuruh dia untuk bicara.
"Halo Amuro" ucap Rena.
"Akhirnya aku bisa mendengar suaramu. Bagaimana keadaanmu di sana, Rena ?" tanya Amuro.
"Tidak begitu baik, tapi lumayan lah. Setidaknya aku masih hidup," jawab Rena.
"Hahaha. Kau ini bisa saja. Dalam keadaan seperti ini masih sempat-sempatnya bercanda," ucap Amuro sambil tertawa sedikit.
"Yah mau bagaimana lagi."
"Tunggu aku ya. Besok aku akan segera ke sana," kata Amuro.
"Ya. Tenang saja aku akan menunggumu," balas Rena.
"Baiklah Rena. Sampai jumpa besok. I love you" ucap Amuro.
Sebelum Rena sempat membalas ucapan Amuro, panggilannya sudah ditutup oleh Vermouth.
"Aku pikir itu sudah cukup," kata Vermouth.
Setelah panggilan ditutup oleh Vermouth, Amuro mulai memikirkan langkah yang akan diambilnya besok.
'Aku harus berdiskusi dengan para peserta rapat kemarin' pikir Amuro.
~OOO~
Di tempat Vermouth
"Ngomong-omong, Kir. Apa kau tahu alasan kenapa aku tidak langsung membunuhmu setelah aku mengetahui fakta bahwa kau adalah seorang agen rahasia dari CIA ?" tanya Vermouth.
"Aku tidak tahu dan tidak peduli akan hal itu," jawab Rena dengan ketus.
"Alasannya, karena aku berbeda dengan Gin dan anggota BO yang lain. Yang hanya membunuh dalam waktu singkat dan tidak benar-benar menikmati sensasinya. Itu semua, sama sekali bukan gayaku. Kau tahu aku lebih senang melihat orang yang merasakan penderitaan sebelum ia meninggal. Melihat wajah yang penuh kesedihan dan keputusasaan menjadi hiburan tersendiri bagiku..." Vermouth berhenti bicara sebentar. Ia mengangkat dagu Rena, membuatnya bisa menatap matanya secara langsung.
"Dan sekarang aku ingin melihat wajahmu yang seperti itu. Wajah yang penuh ekspresi kesedihan dan keputusasaan karena kehilangan orang yang kau sayangi. Jadi persiapkan dirimu untuk kejutan yang aku berikan besok. Akan ku pastikan kau berada di barisan pertama orang yang melihat kematian Bourbon. Good night, Kir. Have a nice dream," kata Vermouth sambil berlalu pergi. Meninggalkan Rena yang masih diam dan menundukkan kepalanya.
'Ini semua salahku,' rutuk Rena dalam hati.
To be Continue
Author Note
Halo aku kembali. Apa ada yang masih menantikan fic ini ? Kalau ada, aku ucapkan terima kasih karena bersedia menunggu updatenya.
Tak terasa sudah 9 hari aku tidak update fic ini karena beberapa alasan yang tidak akan aku ceritakan di sini.
Kembali lagi ke cerita...
Kayaknya Vermouth di sini terlalu kejam ya? Maafkan saya karena telah membuat Vermouth seperti itu. Kalau dipikir-pikir lagi, aku memang lebih suka karakter Vermouth yang kejam sih :v
-*digebukinfansvermouth-
Oke daripada saya makin ngaco bicaranya, saya tutup saja.
Sekian...
Mind to review ?
