.

.

.

Disclaimer

Detective Conan © Aoyama Gosho

Warning

OOC, bahasa campur aduk, alur gak jelas, dan segala kekurangan lainnya

Shinichi, Shiho, Jodie dan Camel sampai di salah satu lorong yang ada di lantai 7. Suasana di tempat ini sepi karena para penjaga sudah turun untuk membantu menghadang pasukan yang datang. Mereka berempat menyusuri lorong dengan hati-hati.

"Suasana di sini sunyi sekali. Kemana perginya orang-orang organisasi ?" Tanya Jodie.

"Mungkin mereka ada di lantai bawah. Aku tadi mendapat info dari Akai san kalau mereka sedang berhadapan dengan Gin dan rombongan penjaga." Jelas Shinichi.

"Jika memang benar, maka hal itu akan mempermudah langkah kita dalam mencari keberadaan Big Boss dan Rum." Kata Camel.

" Meskipun begitu, kita jangan lengah karena bisa saja masih ada penjaga lain di lantai selanjutnya." Ucap Shiho.

Mereka berempat melanjutkan berjalan ke lantai selanjutnya yaitu lantai 8.

Di tempat ini, Shiho merasakan hawa keberadaan anggota organisasi yang cukup kuat. Shiho mengeratkan pegangannya pada pistol untuk meredakan rasa takut yang selalu timbul apabila dirinya merasakan hawa keberadaan organisasi seperti saat ini.

'Ayolah, Shiho. Sekarang bukan saatnya kau takut. Tidakkah kau juga menginginkan kehancuran organisasi ini. Organisasi yang telah merebut kebahagiaan hidupmu dan orang-orang yang berharga bagimu.' Kata Shiho kepada dirinya sendiri.

Usaha Shiho itu terbukti berhasil ketika ia menemukan kembali keberaniannya dan menembak seorang anggota BO yang bersembunyi di balik tumpukan kardus. Anggota BO tersebut langsung roboh seketika. Shinichi, Jodie, dan Camel terpana melihat aksi dari Shiho.

"Nice shot, Miyano." Puji Jodie.

"It's nothing. Ini baru perawalan. Cepat siapkan pistol kalian karena anggota-anggota BO yang lain sedang menuju ke sini. Jumlah mereka sepertinya cukup banyak." Perintah Shiho.

Jodie dan Camel bingung dengan sikap Shiho sekarang yang sudah seperti peramal. Sementara Shinichi yang sudah mengetahui maksud Shiho, segera membisikkan sesuatu kepada mereka berdua.

"Sudah ikuti saja perintahnya. Dia punya insting yang bagus jika menyangkut masalah seperti itu." Kata Shinichi. Jodie dan Camel akhirnya menurut dan segera menyiapkan pistol mereka dalam keadaan siap menembak.

Seperti yang sudah dikatakan Shiho tadi, beberapa anggota BO mulai menyerbu mereka. Tidak hanya lewat jalan di depan mereka tetapi para anggota BO tersebut ada juga yang datang dari arah belakang.

Jodie, Camel, Shiho, dan Shinichi mulai menggunakan taktik lain untuk mengatasi serangan yang datang dari dua arah tersebut. Mereka menggunakan teknik back to back sehingga memungkinkan mereka untuk menyerang sekaligus bertahan. Jodie dan Camel mengatasi musuh yang datang dari depan sedangkan Shinichi dan Shiho berada di belakang mereka untuk mengatasi serangan yang datang dari arah berlawanan. Tidak sampai 10 menit para anggota BO sudah berhasil dikalahkan.

~OOO~

Sementara itu, Kaito menuju ke lantai 3 untuk membantu pasukan dari Kepolisian dan PSB yang sedang kesulitan menghadapi pasukan keamanan yang dibantu oleh Chianti dan Korn. Kaito mencoba rute yang berbeda dari yang digunakannya tadi dan hasilnya ia berada tepat di belakang pasukan penjaga yang tengah serius menembaki pasukan dari kepolisian. Kaito memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang pasukan yang ada di depannya dengan gas tidur (gas yang sama dengan yang ia gunakan untuk melumpuhkan para penjaga yang ada di lantai 4 dan 5). Efek dari gas tidur itu cukup kuat hingga menyebabkan para penjaga langsung tertidur pulas termasuk Chianti dan Korn. Setelah selesai, Kaito memberitahu pasukan gabungan dari kepolisian dan PSB tentang lokasi keberadaan pasukan Akai yang juga mengalami kesulitan menghadapi Gin dan bawahannya.

~OOO~

Akai sedang mencari akal untuk mengalahkan Gin. Dia memerintahkan pasukannya untuk melemparkan bom asap ke arah Gin dan bawahannya. Setelah bom asap bekerja, Akai dan pasukannya serempak menembak ke arah bom asap tadi. Usaha tersebut cukup berhasil karena anak buah Gin sekarang tinggal lima. Gin juga tidak mau kalah, ia melemparkan granat ke arah pasukan Akai yang menyebabkan banyak orang mendapat luka serius.

Ketika suasana pertempuran semakin memanas, datanglah bantuan dari pasukan kepolisian dan PSB yang dibantu oleh Kaito. Keadaan Gin dan anak buahnya semakin terdesak hingga akhirnya mereka memilih bunuh diri dengan cara menembak kepala mereka sendiri.

~OOO~

Di lantai 6

Vodka dan Amuro saling terlibat baku tembak. Lorong yang tidak terlalu luas dan jumlah ruangan yang banyak menjadi keuntungan sekaligus tantangan tersendiri bagi mereka berdua. Layaknya sebuah permainan pertempuran online yang banyak digemari anak-anak muda sekarang. Vodka dan Amuro baru menghentikan duel menembak ketika mereka berdua sama-sama kehabisan peluru.

"Sekarang waktunya bertarung," gumam Vodka sambil berlari dan mulai menyerang Amuro.

Amuro berusaha menghindar dari serangan Vodka yang bertubi-tubi, namun ia terlambat mengantisipasi beberapa pukulan Vodka yang datang belakangan sehingga menyebabkan Amuro terkena pukulan tersebut yang ternyata cukup kuat.

"Bagaimana Bourbon ? Apa kau mau menyerah sekarang ?" Tanya Vodka.

Amuro tidak membalas perkataan Vodka. Ia hanya diam dan mengambil nafas dalam-dalam. Mencoba berkonsentrasi dan memikirkan cara efektif untuk melawan Vodka yang notabene memiliki badan lebih besar darinya.

Amuro mendapatkan ide begitu melihat jendela yang berada di belakang Vodka. Jendela itu berukuran besar (lebih besar dari badan Vodka).

'Mungkin aku bisa memanfaatkan itu,' batin Amuro.

Amuro kemudian melakukan serangan balik kepada Vodka. Sesuai dugaannya, Vodka berjalan mundur sambil menghindari serangan darinya. Ketika posisi Vodka sudah sangat dekat dengan jendela, Amuro melakukan serangan terakhir dengan jumping back kick. Vodka yang belum sempat menghindarinya terkena tendangan dari Amuro tersebut. Tubuhnya terpental keluar jendela.

'Akhirnya selesai juga. Ini saatnya aku ke tempat Rena,' pikir Amuro.

~OOO~

Di lantai 4

Rena dan Vermouth masih bertarung sengit meskipun tubuh mereka sudah dipenuhi luka. Vermouth mulai melancarkan pukulannya dan kali ini Rena tidak sempat menghindar. Pukulan Vermouth mengenai pipinya yang langsung mengeluarkan darah.

Belum sempat Rena membalas, Vermouth sudah melakukan serangan lagi yang tentunya tidak bisa dibendung oleh Rena. Ia jatuh tersungkur sambil berusaha menahan rasa sakit yang semakin kuat.

"Bagaimana rasanya Kir ? Sakitkah ?" Tanya Vermouth dengan nada meremehkan yang terlalu kentara. Rena tidak menanggapi omongan dari Vermouth. Ia sibuk mengatur nafasnya yang semakin memburu.

"Sepertinya keinginanku akan terkabul sekarang. Tapi sebelumnya izinkan aku mengucapkan kata perpisahan untukmu, Kir" kata Vermouth sambil tersenyum.

"Tidak akan ku biarkan..." Ucap Rena. Ia menjegal kaki Vermouth hingga wanita itu ambruk dengan tidak elitnya. Rena lalu bangkit berdiri lagi dengan susah payah.

"Masih sanggup berdiri rupanya. Hebat juga untuk seorang agen CIA sepertimu, Kir. Atau mungkin bisa ku panggil Hidemi saja." Ucap Vermouth begitu ia sudah bisa berdiri lagi.

Rena terdiam melihat sikap Vermouth yang sedari tadi banyak bicara.

'Apa ini adalah strateginya ?' Pikir Rena dalam hati.

"Hidemi, aku ingin bertanya sesuatu padamu. Apa kau pernah merasakan kesedihan yang sangat mendalam ?" Tanya Vermouth.

"Belum. Aku belum pernah merasakannya karena bagiku kesedihan yang mendalam tetap tidak akan mengubah kenyataan yang telah terjadi." Jawab Rena. Ia masih berusaha memahami maksud dari Vermouth yang tiba-tiba mengubah topik pembicaraan.

"Kau terlalu naif, Hidemi. Lalu bagaimana perasaanmu dulu ketika melihat ayahmu mati di hadapanmu sendiri. Apa kau tidak merasa bersedih ?" Kata Vermouth.

"Jangan ungkit-ungkit masalah itu !" Seru Rena yang mulai emosi.

'Kir sudah mulai terpancing dengan perkataanku. Tinggal membuatnya emosi sedikit lagi dan rencanaku akan sukses.' Batin Vermouth senang.

"Aku tahu banyak tentang kau, Hidemi. Ayahmu adalah seorang agen CIA yang bernama Ethan Hondo. Ia tewas karena bunuh diri yang dibuat seolah-olah ia dibunuh olehmu. Itu semua dilakukan agar kau tidak mendapatkan kecurigaan dari anggota BO yang lain. Benar-benar seorang ayah sejati..." Ucapan Vermouth dipotong oleh Rena.

"Cukup Vermouth." Kata Rena. Ia sudah tidak tahan lagi dengan perkataan Vermouth yang menyinggung tentang ayahnya. Perkataan Vermouth itu membuat Rena mengingat kembali kenangan buruk yang selama ini selalu berusaha ia hilangkan dari pikirannya. Kenangan terakhir Rena bersama sang ayah yang dipenuhi oleh warna merah darah.

"Kenapa Kir ? Apa kau takut kalau omonganku malah mengingatkanmu tentang kematian ayahmu yang disebabkan oleh kau sendiri ? Kau memang orang yang menyedihkan, Kir." Ucap Vermouth.

Rena mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Ia benar-benar sudah emosi sekarang. Rena berlari menuju ke Vermouth.

Vermouth yang melihat hal itu menyeringai senang. 'Bagus, Kir. Mendekatlah kemari dan temui ajalmu,' batin Vermouth. Ia menyiapkan pisau kecil yang disimpannya di saku celana.

Vermouth mengarahkan pisaunya ke depan ketika Rena sudah berada dalam jarak dekat dengannya. Dan apa yang terjadi ?

Rena berhasil menghindar dari serangan Vermouth. Ia bahkan bisa menepis tangan Vermouth yang memegang pisau sampai benda tersebut jatuh. Setelah itu, Rena menghajar Vermouth secara bertubi-tubi hingga wanita itu terbaring tak sadarkan diri di lantai.

"Apa kau tahu hal yang membuat kau kalah, Vermouth ? Hal yang membuat kau kalah adalah kesombonganmu sendiri. Kau terlalu meremehkan lawanmu." Kata Rena pada Vermouth.

Kemudian, Rena mencari kunci yang dibuang oleh Vermouth di pinggir ruangan. Setelah ketemu, ia membuka pintu ruangan itu dan pergi keluar.

~OOO~

Shinichi, Shiho, Jodie, dan Camel sampai di rooftop gedung. Di sana mereka menemukan dua orang pria berdiri menatap kedatangan mereka dengan intens.

"Selamat datang untuk kalian semua para agen FBI, Sherry, dan tentu saja detektif Kudo Shinichi. Perkenalkan saya adalah Bos Organisasi ini." Kata Big Boss menyambut kedatangan mereka. Jodie, Camel, dan Shiho hanya menatap dia dengan tatapan heran sementara Shinichi menunjukkan respon kaget. Ia mengenal orang itu.

"Bukankah anda...Moriya Teiji ?" Tanya Shinichi memastikan.

"Benar sekali. Tak ku sangka kau masih mengenaliku, Kudo kun. Atau mungkin lebih baik ku panggil Conan." Ucap Moriya sambil menatap Shinichi.

"Bagaimana kau bisa keluar dari penjara, hah ?" Tanya Shinichi geram. Ia ingat pernah memasukkan Moriya ke penjara dalam kasus teror pengeboman sewaktu Shinichi masih menjadi Conan.

"Penjara tidak akan mempan untuk orang sepertiku, Kudo kun. Aku dapat dengan mudah mengatur organisasi ini meskipun dari dalam penjara. Aku juga bisa keluar masuk penjara dengan mudah. Di zaman seperti sekarang apapun bisa dibeli, termasuk hukum. Kau mengerti, Kudo kun ?" Jelas Moriya.

Shinichi menggertakkan giginya, tanda ia kesal.

"Tidak pernah ku duga kalian akan menyerang markas ini disaat kami tengah merayakan pesta perayaan keberhasilan. Benar-benar sebuah ironi." Kata Rum. Identitas asli dari Rum adalah Inspektur Kuroda yang sudah dikenal oleh Shinichi dan Shiho.

"Sudah cukup bicaranya, sekarang letakkan pistol dan angkat tangan kalian berdua." Perintah Jodie.

"Tidak semudah itu... " kata Moriya. Ia mengeluarkan sebuah detonator dari saku jasnya.

"Semua lantai di bangunan ini telah ku pasangi dengan bom. Jika kalian berani mendekat, akan aku ledakkan bom tersebut dengan detonator ini. Jadi, saya harap kalian tidak berbuat macam-macam. Tidak perlu ada korban di sini. Apa kalian mengerti ?" Tanya Moriya.

Shinichi, Shiho, Jodie , dan Camel tidak menyahut omongan dari Moriya.

"Kalian sudah dengar dari Bos sendiri. Ia tidak ingin kalian berbuat macam-macam, jadi untuk semuanya taruh senjata kalian di bawah. Cepat !" Perintah Rum sambil menodongkan pistol.

Pada awalnya semua berjalan sesuai rencana Moriya dan Rum hingga salah satu dari keempat orang yang ada di depan mereka tidak meletakkan pistolnya di bawah. Orang itu adalah Shiho. Ia tetap memegang pistolnya dengan erat. Shinichi menatap ke arah Shiho seolah berkata, 'Apa yang kau lakukan Miyano ?!'

Shiho hanya membalas tatapan Shinichi dengan sedikit senyuman.

"Jangan pernah lari dari takdirmu. Itu perkataan yang selalu kau ucapkan padaku, Kudo kun. Dan seperti yang kau lihat sekarang, aku tidak akan lari lagi dari takdirku." Kata Shiho.

Entah mendapat keberanian dari mana, Shiho menembak ke arah detonator yang sedang di pegang oleh Moriya. Detonator itu pun terlepas dari pegangan Moriya.

Rum yang melihat hal itu berniat menembak ke arah Shiho namun rencananya terbaca oleh Camel yang dengan cepat mengambil kembali pistolnya dan menembak ke arah Rum.

Tidak hanya sampai di situ, Shiho pun menembak lagi Moriya yang berusaha mengambil detonator yang telah terjatuh. Pada akhirnya, Moriya dan Rum dapat diringkus oleh Shinichi, Shiho, Jodie dan Camel tanpa perlawanan lagi.

Jodie segera memanggil helikopter untuk menjemput mereka. Setelah 5 menit menunggu, helikopter yang dipanggil akhirnya datang. Mereka segera membawa Moriya dan Rum ke dalam helikopter. Karena ukuran helikopter yang kecil, maka yang ikut masuk ke helikopter untuk menjaga Rum dan Moriya hanya 2 orang yaitu Jodie dan Camel.

Sementara Shinichi dan Shiho tetap berada di rooftop dan akan turun menggunakan tangga. Tidak ada percakapan di antara mereka berdua. Shinichi yang tidak tahan dengan suasana hening lebih memilih menyibukkan diri dengan melihat-lihat detonator milik Moriya Teiji.

Detonator itu memiliki bentuk yang berbeda dengan detonator-detonator lain yang pernah dilihat oleh Shinichi. Benda itu berbentuk kecil seperti remote AC. Ada indikator waktu di bagian atas, tombol berwarna merah di bawahnya dan tombol lain yang lebih kecil berada di paling bawah berjumlah 10. Di bagian samping setiap tombol terdapat lampu indikator yang menyala berwarna hijau kecuali untuk tombol nomor 4 dan 5 berwarna merah.

Tunggu dulu ? Warna merah ?

Shinichi mulai menyadari ada hal yang aneh di sini.

'Apa mungkin tombolnya tertekan ketika detonator itu jatuh ?' Pikir Shinichi mulai berspekulasi.

Selain itu keanehan lainnya adalah indikator waktu yang berkurang. Mulanya indikator itu menunjukkan angka 5:00 namun sekarang berubah menjadi 4:00. Setelah melihat perubahan angka tersebut barulah Shinichi menyadari hal yang terjadi. Ia harus segera menghubungi yang lainnya.

~OOO~

Di lantai 5

Amuro berjalan menyusuri lorong dengan perlahan. Pertarungan dengan Vodka tadi benar-benar menguras energi dan waktunya. Di saat Amuro mencapai pertengahan lorong, ia melihat siluet seseorang yang sedang berjalan tertatih di ujung lorong. Amuro mendekat ke arah sosok itu dan dugaannya benar. Sosok itu adalah Rena.

"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu," ucap Amuro.

"Apa yang terjadi padamu, Rena ?" Tanya Amuro begitu melihat kondisi Rena yang berantakan. Mulai dari pakaiannya yang lusuh hingga luka memar di beberapa bagian wajah.

"Ini semua karena aku tadi berduel dengan Vermouth." Jawab Rena seadanya.

"Syukurlah kau tidak apa-apa. Aku benar-benar khawatir, Amuro." Lanjut Rena

"Bicara apa kau ini ? Harusnya kau mengutamakan keselematanmu sendiri. Kau tahu ?" kata Amuro sedikit kesal sekaligus geli dengan sikap Rena yang lebih memikirkan keselamatan orang lain daripada keselamatannya sendiri.

Percakapan antara Amuro dan Rena terhenti ketika Amuro mendapat panggilan dari earphone yang diberikan oleh Kaito.

"Amuro san, sekarang kau berada di mana ?" Tanya Shinichi.

"Aku berada di lantai 4 bersama Rena. Memangnya ada apa Kudo ?" balas Amuro.

"Segera pergi dari tempat itu ! Di lantai 4 dan 5 ada bom yang akan meledak. Waktu meledaknya tinggal 4 menit." Jelas Shinichi.

"Apa kau bilang ? Bom ?" seru Amuro kaget. Rena yang berada di dekat Amuro juga kaget mendengar kata bom.

"Ya, bom. Cepat pergi ke tempat yang aman !" perintah Shinichi.

"Baiklah. Aku mengerti." Balas Amuro.

Amuro menjelaskan situasi yang sedang dihadapi kepada Rena. Mereka berdua kemudian memikirkan cara yang efektif agar mereka dapat selamat dari ledakan bom. Amuro dan Rena akhirnya memutuskan untuk mengambil jalan lewat bawah. Mereka berdua segera berjalan menuruni tangga dengan Amuro memapah Rena karena ia kesulitan berjalan setelah berduel dengan Vermouth.

~OOO~

Amuro mempercepat langkahnya ketika ia dan Rena sampai di pertengahan lorong yang ada di lantai 4. Mereka tadi sempat mendengar suara gemuruh dari lantai 5 yang menunjukkan tanda kalau bom di lantai tersebut sudah meledak. Selama berjalan di lorong ini, Amuro berusaha mengabaikan jantungnya yang berdegup kencang karena rasa takut yang dialaminya.

Senyum Amuro mengembang begitu tangga yang berada di ujung lorong mulai terlihat. Tinggal sedikit lagi dan mereka akan selamat.

Namun bom di tempat tersebut meledak sebelum Amuro dan Rena sempat menuruni tangga. Amuro terkena efek dari ledakan yang menyebabkan tubuhnya terpental dan jatuh dari tangga. Ia berguling-guling menuruni tangga sambil berusaha melindungi Rena dalam dekapannya. Amuro sampai di dasar tangga dengan kepala membentur lantai. Kesadaran Amuro perlahan mulai menghilang. Hal terakhir yang diingatnya adalah suara panggilan dari Rena yang memanggil namanya hingga akhirnya semua menjadi terasa begitu gelap bagi Amuro.

To be Continue

Author Note :

Akhirnya ada kesempatan juga untuk melanjutkan fanfic ini.

Sepertinya setelah membaca chapter ini, para pembaca sudah mulai bisa menebak jalan cerita dari fic ini. Atau mungkin ada yang belum bisa menebaknya ?

Pendapat, kritik, ataupun saran dari pembaca cukup saya harapkan untuk kelanjutan fic ini jadi jangan sungkan-sungkan untuk memberikan review

Btw, fandom DC kayaknya akhir-akhir ini sepi ya ? Tapi ga papa lah mungkin kebanyakan penghuninya pada sibuk mikirin ujian sekolah. Sama seperti saya :v

NB : fic ini akan segera tamat, so stay tune on this fanfic, ok ?

Akhir kata

Berkenan untuk Review