.

.

.

Disclaimer

Detective Conan © Aoyama Gosho

Warning

OOC, bahasa campur aduk, alur gak jelas, dan segala kekurangan lainnya

Rena memanggil-manggil nama Amuro berkali-kali dan tetap tidak mendapatkan respon dari si pemilik nama. Keadaan Amuro saat ini tampak mengkhawatirkan dengan luka di bagian kepala. Cairan merah kental mengalir dari sisi belakang kepala Amuro. Andai saja badan dan kaki Rena tidak sakit, maka ia bisa mencoba memapah badan Amuro ataupun pergi ke tempat lain untuk meminta bantuan. Namun, dengan keadaannya saat ini, Rena tidak dapat melakukan hal tersebut.

Gelombang perasaan bersalah dan takut akan kehilangan bermunculan di pikiran Rena. Ia menggeleng kuat-kuat untuk mengusir pikiran tersebut.

'Daripada berpikiran negatif seperti itu, sebaiknya aku melakukan sesuatu.' Pikir Rena.

Rena terdiam sebentar dan mencoba berpikir tenang. Ia menyobek sedikit bagian bajunya dan mengikatnya dengan hati-hati di sekeliling kepala Amuro untuk menghentikan pendarahan yang terjadi. Setelah selesai, Rena mencoba mencari alat komunikasi yang bisa ia gunakan untuk menghubungi orang lain dan meminta bantuan. Hp miliknya tidak bisa Rena andalkan karena memang baterainya sudah habis. Begitu juga dengan hp milik Amuro yang Rena temukan di saku jas milik Amuro, keadaannya tidak begitu beda dengan hp miliknya. Pada akhirnya Rena menemukan sebuah alat yang mirip earphone di saku jas Amuro bagian bawah.

'Mungkin alat ini bisa digunakan.' Pikir Rena.

Rena mencoba memperbaiki alat tersebut dengan teliti. Ia pernah mendapatkan pelatihan perbaikan alat komunikasi sewaktu di CIA jadi hal seperti ini bukan masalah baginya. Ketika alatnya sudah selesai diperbaiki, Rena mencoba melakukan panggilan.

~OOO~

"Halo. Apa ada orang di sana ?" Kata Rena begitu terdengar nada tunggu dari earphone yang dikenakannya.

"Halo. Di sini Shinichi. Ada apa Rena san ?" Tanya Shinichi begitu mengetahui kalau orang yang memanggilnya adalah Rena.

"Tolong aku, Kudo kun. Aku terjebak di lantai 3 bersama Amuro yang sekarang sedang terluka parah dan memerlukan pertolongan segera. Tolong kirim bantuan ke sini" Jelas Rena.

"Baiklah Rena san. Aku akan memberitahu Akai san dan yang lainnya untuk segera menuju ke situ." Balas Shinichi.

"Terima kasih, Kudo kun." Rena menutup panggilan. Setelah itu ia menunggu kedatangan Akai dan pasukannya.

5 menit kemudian

Akai dan pasukannya sampai di tempat Rena berada. Mereka segera bersama-sama mengangkat tubuh Amuro dan meletakkannya di atas tandu yang telah dipersiapkan sebelumnya untuk keadaan darurat seperti ini. Sesampainya di bawah, Amuro segera dilarikan ke rumah sakit dengan menggunakan ambulance.

~OOO~

Di dalam ambulance, Rena dan Akai saling duduk berhadapan dengan tubuh Amuro sebagai pembatas. Tidak ada percakapan yang terjadi di antara dua orang itu. Mereka sibuk dengan pikiran melirik ke arah Rena yang sedang menundukkan kepalanya untuk melihat keadaan Amuro. Ekspresi sendu jelas tergambar di wajah Rena.

Akai sadar ia bukanlah tipe orang yang bisa mengekspresikan perasaannya lewat kata-kata jadi ia hanya diam melihat kejadian itu dan mengurungkan niatnya untuk menghibur Rena. Dalam hati, Akai merutuk dirinya sendiri yang bisa-bisanya melakukan tindakan pengecut seperti ini.

Kematian Akemi memiliki pengaruh besar terhadap perubahan sikap Akai menjadi seperti ini. Ia menjadi seseorang yang lebih tertutup terhadap perasaan orang lain terutama wanita. Diam-diam Akai menaruh rasa salut pada Amuro yang sudah bisa lepas dari bayang-bayang kematian Akemi. Tidak hanya sampai di situ, Amuro bahkan sudah bisa menemukan pengganti Akemi dan sosok pengganti tersebut adalah wanita yang ada di hadapannya sekarang ini.

'Benar-benar pria yang tangguh,' batin Akai.

Lalu bagaimana dengan Akai sendiri ?

Akai masih saja terjebak dengan kenangan masa lalunya bersama Akemi. Ia menyibukkan diri dengan berbagai pekerjaan di FBI untuk bisa melupakan kenangan tersebut. Kadang Akai berpikir apakah cara yang dilakukannya ini benar atau salah dan sekarang ia mulai menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Mungkin sudah saatnya ia memulai langkah baru dalam hidupnya dengan merelakan kepergian Akemi seperti yang sudah dilakukan oleh Amuro.

Akai larut dalam pikirannya sendiri hingga akhirnya suara dari Rena berhasil membawanya kembali ke dunia nyata. "Ada apa, Akai ? Sepertinya kau sedang ada masalah." Kata Rena sambil menatap Akai dengan heran.

"Tidak. Aku tidak apa-apa."Jawab Akai singkat.

Setelah beberapa menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Petugas ambulan beserta Akai dan Rena segera membawa Amuro menuju ke ruang gawat darurat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Tentu saja, hanya dokter dan perawat saja yang diperbolehkan masuk ruangan sedangkan Rena dan Akai terpaksa harus menunggu di ruang tunggu.

~OOO~

Di saat menunggu inilah Akai baru menyadari kalau Rena juga memiliki sifat keras kepala. Rena masih belum mengobati luka-luka yang didapatkannya padahal Akai sudah menyuruhnya untuk pergi ke ruang perawatan sejak tadi. Luka-luka tersebut termasuk luka memar ringan di sekujur tubuhnya serta yang cukup serius di bagian kaki karena Akai sempat melihat Rena kesulitan berjalan ketika masuk ke rumah sakit ini.

Akhirnya dengan diliputi rasa peduli yang tiba-tiba muncul, Akai mulai mengobrol dengan Rena lagi.

"Darimana kau dapat luka yang banyak seperti itu ?" Tanya Akai.

"Dari Vermouth. Lebih tepatnya kami berduel dan hasilnya ya seperti ini." Balas Rena.

"Kenapa kau tidak pergi ke ruang perawatan untuk mengobati lukamu itu, bukankah tadi sudah ku bilang untuk pergi ?" Ucap Akai.

"Itu, karena..." Rena tidak melanjutkan perkataannya karena ia sendiri juga tidak yakin kenapa ia masih berada di sini. Rena hanya mengikuti keinginan hatinya untuk tetap menunggu kabar dari keadaan Amuro yang sedang berada di dalam ruang UGD. Ketika Rena baru akan melanjutkannya, Akai sudah lebih dulu berbicara.

"Ayo, aku bantu berdiri..." Kata Akai sambil mengulurkan tangannya di depan wajah Rena yang tengah duduk.

"Tapi..." Perkataan Rena dipotong oleh Akai.

"Aku tidak menerima penolakan." ucap Akai datar sambil menatap Rena dengan tajam *pura-pura marah*.

"Baiklah." kata Rena sambil menelan ludah secara kasar. Ia agak sedikit takut dengan ekspresi wajah Akai.

Setelah membantu Rena berdiri, Akai menaruh tangan kanan Rena di pergelangan lehernya dan memapahnya. Menerima perlakuan seperti itu, membuat Rena menjadi bingung. Ia tidak pernah melihat sikap Akai yang peduli pada orang lain seperti saat ini.

"Kau tidak perlu repot-repot melakukan ini, Akai." Kata Rena ketika ia dan Akai sudah mulai berjalan menjauhi ruang tunggu tadi.

"Aku lihat kau kesulitan berjalan waktu masuk rumah sakit. Jadi aku pikir, aku perlu melakukan ini." balas Akai cepat tanpa menatap ke arah lawan beberapa saat, tidak ada percakapan antara dua orang tersebut hingga akhirnya Akai kembali berbicara.

"Apa kau tahu ? Sikapmu benar-benar mirip orang yang sangat ku kenal. Keras kepala dan berpura-pura terlihat kuat di hadapan orang lain. Tapi sayangnya, aku sudah berpisah dengan orang itu. Ia sudah pergi dan tak akan pernah kembali." lanjut Akai. Ia memandang ke depan sambil menerawang jauh.

Rena merasakan deja vu dari perkataan Akai tersebut. 'Perkataan itu..., mirip dengan yang diucapkan Amuro ketika aku dan dia bertemu di dermaga. Apakah mungkin...?' pikir Rena. Ia sebenarnya tidak terlalu suka ikut campur urusan orang lain, tetapi Rena sudah terlanjur penasaran. Akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya pada Akai mengenai hal yang dipikirkannya.

"Apakah kau dan Amuro pernah menyukai orang yang sama ?" tanya Rena to the point.

Akai sempat sedikit tersentak mendengar pertanyaan dari Rena ini, namun ia berusaha untuk tidak terlalu menampakkan ekspresi kagetnya.

"Ya kau benar. Aku dan Amuro memang pernah mencintai orang yang sama. Tapi maaf, aku tidak bisa memberitahumu nama orang itu. Kau akan mengetahuinya sendiri ketika waktunya sudah tiba, Hidemi." jelas Akai.

Rena langsung menoleh ke arah Akai dan menatapnya intens begitu ia selesai mengucapkan kata-katanya itu.

"Kenapa kau melihatku seperti itu ? Apa ada sesuatu di wajahku ?" kata Akai.

"Tidak. Bukan apa-apa. Hanya saja, baru kali ini kau memanggilku Hidemi." ucap Rena.

"Itu bukan masalah kan ? Kau juga memanggilku Akai sedari tadi." balas Akai.

"Benar juga ya.."

Setelah berjalan sekitar 5 menit, akhirnya mereka sampai di salah satu ruang perawatan yang kosong. Rumah sakit ini memang sudah dipersiapkan untuk menampung korban-korban dari penyerangan ke markas BO jadi di setiap ruang sudah ada dokter maupun perawat yang bersiaga.

~OOO~

"Terima kasih ya.., Akai." ucap Rena ketika ia sudah berbaring di ranjang yang ada di ruang tersebut. Dokter yang mengobatinya tadi mengatakan bahwa cedera di kaki Rena termasuk cedera serius dan membutuhkan beberapa hari istirahat agar bisa sembuh. Untuk itu Rena tetap menghuni ruangan ini untuk beberapa hari ke depan.

"Sama-sama. Istirahatlah yang cukup dan jangan terlalu memikirkan masalah Amuro. Aku akan langsung memberitahumu ketika ada perkembangan lebih lanjut mengenai kondisinya." balas Akai.

"Maaf ya. Aku jadi merepotkanmu." kata Rena.

"Tidak apa-apa. Aku pergi dulu, Hidemi. Sampai jumpa besok." ucap Akai. Ia kemudian melangkah keluar dari ruangan tersebut.

"Sampai jumpa."

~OOO~

Ketika urusannya dengan Rena sudah selesai, Akai kembali lagi ke ruang tunggu di depan UGD. Di tempat itu sudah ada beberapa orang yang Akai kenal. Mereka adalah Shinichi, Shiho, Jodie, Camel dan James. Sepertinya mereka ingin mengetahui keadaan Amuro dan Rena.

"Bagaimana kondisi mereka, Shu ?" Tanya Jodie.

"Hidemi mengalami cedera serius di bagian kakinya dan sekarang sedang beristirahat di ruang inap. Kalau Amuro, aku sendiri belum tahu kondisinya saat ini." Jawab Akai.

"Apa sedari tadi belum ada dokter atau perawat yang keluar ?" lanjut Akai.

"Belum. Sejak tadi belum ada yang keluar dari ruangan itu." Sahut Shiho.

Tak lama berselang, seorang dokter keluar dari ruang UGD, tempat Amuro dirawat. Dokter tersebut segera bertanya kepada orang-orang yang ada di situ.

"Apa ada di antara kalian semua, ada yang merupakan anggota keluarga dari pasien ?" Tanya Dokter itu.

Semua orang yang ada disitu menjadi terdiam mendengar pertanyaan dari sang dokter karena di antara mereka semua, tidak ada satu pun orang yang merupakan anggota keluarga dari Amuro. Selain itu, mereka juga tidak tahu nomor kontak dari anggota keluarga Amuro.

Ketika sang dokter hendak bertanya lagi, seseorang sudah berbicara terlebih dahulu.

"Saya dokter. Saya adalah adik dari pasien yang dirawat di dalam," kata Shiho sambil bangkit dari duduknya. Ia terpaksa berbohong untuk mempercepat prosedur.

"Baiklah, kalau begitu ikut saya ke ruangan." Ucap sang dokter sambil berjalan lebih dulu dan diikuti oleh Shiho.

~OOO~

Di ruang dokter

"Bagaimana kondisi kakak saya, dok ?" Tanya Shiho begitu ia dipersilahkan duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan tersebut.

"Kakak anda mengalami pendarahan di bagian kepalanya. Pendarahan tersebut terjadi karena benturan yang keras dan berulang-ulang. Awalnya kami kira pendarahan hanya terjadi di bagian luar kepala. Namun, setelah kami melakukan CT Scan pada pasien, kami menemukan ada gumpalan darah di bagian dalam kepalanya. Untuk mengeluarkan gumpalan darah tersebut diperlukan tindakan operasi." Jelas Dokter.

"Kalau begitu, lakukan saja operasinya, dok. Yang penting kakak saya bisa terselamatkan." Ucap Shiho.

Sang dokter menghela nafas sebentar begitu mendengar jawaban dari Shiho. "Baiklah, operasi akan segera kami lakukan. Namun, saya hanya memperingatkan, jika operasi ini cukup berisiko dan kemungkinan pasien selamat adalah sekitar 50%, untuk itu saya mohon anda siap untuk kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi pada keadaan pasien nantinya." Jelas Dokter tersebut kepada Shiho.

"Ya, saya mengerti." Balas Shiho singkat.

Setelah menjelaskan keadaan Amuro kepada Shiho, dokter itu melangkah keluar dari ruangan meninggalkan Shiho yang masih bergeming di tempat duduknya. Ia menunduk dan menelungkupkan kedua telapak tangannya untuk berdoa.

'Semoga kau diberi keselamatan Rei.' Batin Shiho.

Selesai berdoa, Shiho berdiri dan beranjak pergi dari ruangan tersebut.

~OOO~

Sesampainya di ruang tunggu, Shiho langsung disambut dengan wajah penasaran orang-orang yang ada di sana. Ia pun menjelaskan kondisi Amuro seperti yang sudah disampaikan oleh dokter tadi kepada mereka. Tentu saja setelah mendengar cerita dari Shiho, mereka kaget dan tidak percaya. Shiho yang melihat reaksi mereka tidak berkomentar banyak.

Beberapa saat kemudian, hp milik James berbunyi menandakan ada panggilan yang masuk. Ia mengangkat panggilan tersebut dan terlibat pembicaraan yang cukup serius dengan lawan bicaranya. Setelah selesai, ia menutup telepon itu.

"Panggilan dari siapa, James ?" tanya Jodie.

"Dari pimpinan. Mereka bilang akan menginterogasi Rum dan Anokata sekarang. Semua anggota FBI diperintahkan datang ke markas." jawab James.

"Sekarang ? Tapi..." perkataan Akai dipotong oleh Shiho.

"Tidak apa-apa. Pergilah, aku akan menunggu mereka di sini." sahut Shiho seperti paham dengan kebimbangan yang dialami Akai.

Akai masih tampak ragu dengan perkataan Shiho. Ia melirik ke arah Shiho sebentar sebelum berkata.

"Ya sudahlah kalau begitu. Yang penting kau harus memberi kabar ke Hidemi tentang kondisi Amuro saat ini. Dia berhak untuk tahu." kata Akai tegas.

"Huh,...tanpa kau perintah pun, aku akan melakukan hal itu." balas Shiho dengan gaya bicara khasnya.

"Kami pamit pergi dulu ya, Cool Guy, Sherry. Selamat malam." ucap Jodie berpamitan kepada Shinichi dan Shiho.

"Selamat malam." ucap Shinichi yang sedari tadi diam.

Jodie, Akai, Camel, dan James melangkah pergi menjauhi ruang tunggu tersebut untuk melanjutkan perjalanan ke markas FBI.

~OOO~

Waktu terasa berjalan lambat di ruang tunggu ini. Padahal, baru 15 menit berlalu setelah para FBI meninggalkan ruangan ini, namun Shinichi merasa sudah berada di sini dalam waktu yang lama. Ia jenuh dengan keadaan yang begitu hening ini. Matanya mulai terasa berat karena menahan rasa kantuk yang mulai menyerang. Jika saja keadaan tidak seperti ini, Shinichi pasti sudah pulang ke rumahnya dan berbaring di tempat tidurnya yang sangat empuk. Tetapi, Shinichi tahu ia tidak bisa melakukan hal tersebut. Ia tetap menunggu di sini karena Shinichi pernah berjanji pada Amuro untuk menjamin keselamatan dari Rena, walaupun untuk sekarang sepertinya keadaannya terbalik.

Shinichi berdiri dari tempat duduknya dan meregangkan badannya yang terasa kaku. Secangkir kopi sepertinya cocok untuk mengobati dirinya yang sudah terasa berat ini. Shinichi menoleh sebentar ke arah Shiho yang sedang serius mengamati pintu ruang UGD dan tidak punya niatan sedikitpun untuk mengalihkan perhatiannya.

"Hei Miyano, aku mau beli kopi sebentar. Kau ikut ?" Ajak Shinichi.

"Tidak. Aku di sini saja." Jawab Shiho singkat.

"Ya sudah kalau kau tidak mau. Aku pergi dulu ya." Ucap Shinichi.

"Hmm.." Shiho hanya membalas ucapan Shinichi dengan gumaman yang tidak jelas.

Shinichi berjalan lambat menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang nampak lengang hingga akhirnya ia sampai di vending machine. Shinichi membeli 2 kopi kalengan. Setelah itu, ia duduk di kursi yang kosong dan meminum kopinya secara perlahan. Terlihat jelas dari raut muka Shinichi, ia tengah memikirkan sesuatu dengan sangat serius. Entah kenapa, pikirannya malah melayang ke kejadian yang menyebabkan dirinya berubah menjadi Conan dulu.

APTX 4869

Sebuah nama yang akan selalu diingat Shinichi. Nama obat yang membuat Shinichi berubah menjadi Conan sehingga ia harus menjalani kesehariannya seperti anak kecil pada umumnya. Diperlukan 1 tahun lebih bagi Shinichi, hingga akhirnya Shiho menemukan penawar dari obat tersebut dengan bantuan data riset dari Amuro. Hal itulah yang membuat Shinichi merasa berhutang budi pada Shiho dan Amuro. Maka dari itu, ketika salah satu dari mereka mengalami kesulitan seperti saat ini, ia tidak bisa pergi begitu saja.

Cukup lama Shinichi berada di posisi duduk seperti itu. Ia baru tersadar ketika hp miliknya berbunyi menandakan ada pesan yang masuk. Shinichi segera membuka pesan tersebut yang ternyata dari Ran. Isinya cukup singkat, namun membuat Shinichi cukup gusar.

Dari : Ran

Shinichi, bagaimana kabarmu saat ini ? Aku benar-benar merindukanmu Shinichi. Apa kita tidak bisa bersama lagi seperti dulu ?

Shinichi segera membalas pesan dari Ran tersebut. Sejak kembali ke tubuh aslinya, ia memang belum memberitahu Ran dan teman-temannya yang lain. Setelah pesan balasannya terkirim, Shinichi segera bangkit dari tempat duduknya dan segera kembali ke ruang tunggu.

Untuk : Ran

Aku baik-baik saja di sini. Kau jangan khawatir, aku akan segera kembali.

~OOO~

Sesampainya di ruang tunggu, Shinichi segera memberikan kopi kalengan yang tadi dibelinya kepada Shiho.

"Ini, untukmu." Ucap Shinichi.

"Terima kasih." Balas Shiho sambil menerima kopi kalengan yang diberikan Shinichi. Shinichi mengamati gerakan Shiho yang sedang minum kopi dalam diam. Setelah 1 tahun lebih mengenal Shiho, ia baru menyadari sekarang kalau ternyata Shiho cantik juga. Wajahnya yang nampak dewasa serta perawakannya yang anggun benar-benar menambah nilai positif Shiho di mata Shinichi.

Harus Shinichi akui, pengalaman menjadi Conan benar-benar sudah merubah sikapnya menjadi seperti ini. Sebelum dirinya mengecil menjadi Conan, Ran adalah satu-satunya wanita yang menjadi focus of interest darinya. Namun sekarang, hal itu tidak berlaku lagi karena Shiho Miyano telah berhasil menambah daftar wanita yang menjadi focus of interest dari seorang Shinichi Kudo.

'Mungkin inilah saat yang tepat bagimu untuk mempelajari definisi perasaan suka yang sebenarnya.'

Kata-kata Yusaku kembali terngiang di pikiran Shinichi seolah menjadi solusi untuk kebingungan yang dialaminya. Shinichi tahu ayahnya benar dan mulai sekarang Shinichi akan melakukan sarannya.

~OOO~

Setelah menunggu hingga hampir 1 jam, seorang dokter akhirnya keluar dari ruang UGD. Shiho segera menghampiri dokter tersebut.

"Bagaimana operasi kakak saya dok ?" Tanya Shiho.

"Operasi kakak anda berjalan lancar dan kondisi sekarang stabil. Namun ia masih belum siuman, mungkin beberapa hari lagi kakak anda baru siuman. Selain itu, untuk saat ini pasien masih belum boleh mendapat kunjungan dari orang luar." Jelas dokter tersebut.

"Syukurlah. Terima kasih banyak, dok." Ucap Shiho.

Shiho menghela nafas lega mendengar penjelasan dari dokter tersebut. Ini merupakan kabar baik untuk semuanya dan ia tak sabar untuk segera memberitahu orang-orang terdekat Amuro mengenai hal ini, terutama Hidemi.

To be Continue