.

.

.

Disclaimer : Detective Conan © Aoyama Gosho

Warning : OOC, kata berbelit-belit, bahasa campur aduk, alur gak jelas, dan segala kekurangan lainnya

Hidemi duduk di bangku dalam diam. Matanya tak berhenti melihat ke depan, menatap sosok pria yang terbaring di ranjang rumah sakit. Pria itu adalah Furuya Rei, orang yang beberapa waktu belakangan ini selalu memenuhi pikiran Hidemi.

Flashback On

Dua minggu lalu, ia begitu senang mendengar kabar dari Shiho tentang operasi Rei yang telah berhasil dilakukan. Hidemi ingat betul, Shiho memberitahu prediksi dari dokter yang mengatakan jika Rei mungkin akan sadar dalam 1-2 hari. Namun, seperti kata pepatah, 'Tiada gading yang tak retak.' prediksi dari dokter sekalipun bisa meleset dan hal tersebut benar-benar terjadi.

~oOo~

Ketika cedera yang dialami Hidemi telah pulih, ia segera menjenguk Rei. Waktu itu sudah terhitung 5 hari sejak Hidemi dan Rei dirawat di rumah sakit ini, akan tetapi keadaan dari Rei tetap sama. Ia masih belum sadar dari keadaan komanya. Dokter yang merawatnya juga tidak dapat menjelaskan dengan pasti penyebab hal ini kepada Hidemi.

Setelah kejadian itu, Hidemi rutin meluangkan waktunya di sore hari untuk menjenguk Rei. Sedangkan dari pagi sampai siang hari, Hidemi mengerjakan laporan pertanggungjawaban untuk misi penyusupannya di Black Organization. Pengecualian untuk hari Minggu, Hidemi menjenguk Rei pada pagi hari karena ia tidak mengerjakan laporan pada hari itu.

~oOo~

Satu minggu yang lalu, Hidemi menemukan fakta baru bahwa ada orang lain yang juga rutin mengunjungi Rei selain dirinya. Orang itu adalah Shiho. Hidemi bertemu dengannya di dalam ruang rawat.

"Selamat pagi, Miyano." Sapa Hidemi.

'Selamat pagi Hidemi-san. Apa kau juga mau menjenguk Rei ?" Tanya Shiho.

"Ya, mumpung aku juga ada waktu luang." Jawab Hidemi.

Selama beberapa saat tidak ada percakapan yang terjadi hingga akhirnya Shiho kembali berbicara.

"Maafkan aku..." Ucap Shiho. Hidemi menatap bingung ke arah Shiho.

"Ini semua salahku. Jika saja, waktu itu aku tidak menembak detonatornya pasti Rei dan Hidemi-san tidak akan menderita seperti ini." Kata Shiho yang dilanjutkan dengan cerita waktu penyergapan Big Boss dan Rum. Selesai bercerita, Shiho menundukkan kepala dan menghindari tatapan dari Hidemi. Ia sudah pasrah terhadap reaksi Hidemi nantinya.

Hidemi melangkah mendekati Shiho. Untuk sesaat, Shiho pikir Hidemi akan menamparnya tetapi ternyata ia tidak melakukannya. Hidemi malah menepuk-nepuk pundak Shiho perlahan.

"Itu semua bukan kesalahanmu, Shiho." Satu kalimat dari Hidemi yang berhasil membuat Shiho mendongak.

"Menurutku, langkah yang kau ambil waktu itu sudah tepat. Jika kau tidak melakukannya, mungkin Big Boss akan melakukan hal yang lebih nekat seperti meledakkan seluruh gedung. Jadi, jangan terlalu menyalahkan dirimu seperti ini." Lanjut Hidemi.

Ia sedikit kaget ketika Shiho memeluknya. Namun Hidemi membiarkan hal tersebut karena untuk saat ini, Shiho mungkin masih risau dengan kondisi Rei sama seperti dirinya. Hal itu dapat dimaklumi mengingat Rei sudah banyak membantu Shiho dalam membuat penawar APTX. Selain itu, Rei adalah salah satu orang yang akrab dengan keluarga Miyano sehingga Shiho sudah menganggapnya seperti kakaknya sendiri.

"Terima kasih Hidemi-san. Sekarang aku pamit pulang dulu..." Kata-kata Shiho dipotong oleh Hidemi.

"Tunggu dulu, Miyano. Bisakah kau menemaniku di sini sebentar ?" Ucap Hidemi.

"Baiklah kalau itu maumu. Tidak apa-apa." Balas Shiho.

Hidemi pun duduk di bangku dekat ranjang. Ia berdoa sebentar dan bermonolog dengan Rei. Setelah selesai, ia mengajak Shiho untuk mengobrol.

"Apa menurutmu Rei bisa segera sadar ?" Tanya Hidemi tanpa menoleh pada lawan bicaranya.

"Entahlah, aku tidak tahu. Kita sendiri sudah mendengar penjelasan dari dokter kalau kondisi koma yang dialami Rei cukup langka. Keadaan koma biasanya disebabkan karena adanya kerusakan pada jaringan otak. Namun, dokter sudah memastikan jika kondisi jaringan otak milik Rei dalam keadaan normal dan sudah mengalami pemulihan setelah operasi seminggu yang lalu. Untuk itu, dapat disimpulkan jika ada faktor di luar dunia medis yang membuat Rei tidak kunjung sadar hingga saat ini." Jelas Shiho.

"Mungkin kau benar..." Sahut Hidemi. Ia memberi jeda sebentar sebelum berbicara.

"Aku jadi merasa tak enak pada Rei. Aku sering merepotkannya. Bahkan ia menjadi seperti ini karena mencoba menyelamatkanku. Aku memang orang yang payah." Lanjut Hidemi dengan nada penuh penyesalan.

"Jangan bicara seperti itu, Hidemi-san. Kau justru sudah melakukan banyak hal untuk Rei. Kau lah yang membuat sifatnya berubah menjadi lebih baik." Kata Shiho coba memberikan dukungan kepada Hidemi.

"Apa maksudmu dengan mengubah sifat ?"

"Kudo-kun pernah bercerita padaku tentang penyelidikannya terhadap Rei sewaktu ia dan Akai belum berdamai. Waktu itu Kudo-kun bertanya, apa tujuan Rei berpacaran denganmu ?" Ujar Shiho.

"Apa jawaban dari Rei ?" Tanya Hidemi

"Rei menjawab, karena aku mencintainya. Lagipula ia sudah menyadarkanku untuk tidak menyia-nyiakan waktu dalam hidup ini. Dia juga sudah membuatku melupakan sedikit demi sedikit dendamku pada Akai dan dia juga yang berhasil membuatku melupakan orang itu. Orang yang dulu selalu berbuat baik padaku." Jawab Shiho.

Senyuman tersungging di bibir Hidemi begitu ia mendengar cerita dari Shiho. Hatinya menjadi lebih lega sekarang meskipun ia masih tetap penasaran dengan yang dimaksud 'orang itu' tapi ia memilih diam hingga akhirnya Shiho mulai berbicara lagi.

"Yang dimaksud 'orang itu' adalah kakakku sendiri. Namanya Akemi Miyano, sering dipanggil dengan nama Masami Hirota." Lanjut Shiho seperti mengetahui hal yang dipikirkan Hidemi.

Hidemi langsung mengalihkan pandangannya ke arah Shiho begitu mendengar kata-kata itu. Sebuah pemahaman muncul di kepalanya.

"Jadi begitu, kau mengenal Rei pertama kali dari kakakmu yang bernama Akemi itu. Rei dan Akemi adalah teman akrab. Melalui hubungan akrab itu, Rei mempunyai rasa suka pada Akemi. Namun, ia tidak mempunyai kesempatan untuk mengungkapkannya. Ketika Rei bertemu lagi dengan Akemi, semuanya sudah terlambat karena Akemi sudah terlanjur mencintai Akai. Itu sebabnya Rei sangat membenci Akai." Ucap Hidemi menyimpulkan.

"Itu versi lengkapnya. Ternyata kau hebat juga ya, Hidemi-san. Bisa menyimpulkan seperti itu hanya dari ceritaku yang singkat tadi." Kata Shiho.

"Ah, tidak juga. Aku hanya menggabungkan informasi yang ku dapat dari beberapa cerita mengenai masa lalu Rei termasuk cerita darimu tadi. Ngomong-omong, kenapa kau mau menceritakannya kepadaku, Miyano ?" Tanya Hidemi.

Ia bertanya seperti itu bukan bermaksud menyinggung tetapi karena tidak biasanya Shiho mau menceritakan tentang keluarganya kepada orang lain. Shiho adalah tipe orang yang menjaga privasinya.

"Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya mengikuti kata hati dan melakukan apa yang ingin ku lalukan. Tidak ada alasan khusus untuk itu." Ucap Shiho.

"Baiklah, aku mengerti." Kata Hidemi pada akhirnya. Jalan pikiran wanita di depannya ini memang sulit untuk ditebak.

Flashback Off

~oOo~

"Selamat pagi, Rei. Hari ini aku datang lagi." Hidemi memulai kegiatan rutinnya ketika menjenguk Rei yaitu mengajak Rei untuk mengobrol walaupun ia sendiri tahu, Rei tidak akan membalas ucapan darinya.

"Bagaimana kabarmu di sana Rei ? Keadaan aku di sini sih masih seperti biasa, tapi mulai agak sedikit sibuk. Aku sedang mempersiapkan laporan pertanggungjawaban untuk misiku. Setiap hari aku harus menyusun kata-kata yang tepat dan mengetiknya, benar-benar deh," ujar Hidemi sambil tertawa kecil. Ia kemudian terdiam dan menghembuskan nafas pelan.

"Tidak terasa ya, sudah hampir 2 minggu sejak kau dirawat di sini, Rei. Tapi aku masih saja berharap menemukan pesan darimu di hpku maupun mendengarkan suaramu lewat telepon. Sama seperti yang biasa kau lakukan." Hidemi tersenyum sedih dan mendesah perlahan.

"Kapan kau akan bangun, Rei ? Aku benar-benar merindukanmu." Pertahanan Hidemi perlahan runtuh. Ia menelungkupkan kedua tangannya di tepi ranjang dan membiarkan bulir-bulir air mata itu turun dengan sendirinya.

~oOo~

Sementara itu...

Rei terbangun di tempat yang asing baginya. Warna putih mendominasi seluruh sisi. Di tempat tersebut tidak ada seseorang atau benda apapun. Hanya ada dirinya sendiri.

'Di mana ini ? Apakah aku sudah mati ?' Pikir Amuro.

Rei berjalan menyusuri tempat itu tanpa tahu arah. Sudah cukup lama ia berjalan hingga akhirnya Rei melihat siluet 2 orang yang sedang menuju ke arahnya. Rei berusaha mendekat untuk bisa melihat wajah kedua orang tersebut. Ia kaget setelah melihat wajah mereka. Mereka adalah...

"Ayah...Ibu. Kenapa kalian bisa ada di sini ? Apakah aku sudah mati ?" Tanya Rei pada kedua orang itu.

"Tidak Rei. Kau masih hidup dan tempat ini adalah alam bawah sadar." Jelas ayah Rei.

Rei mengangguk paham mendengar perkataan dari ayahnya meskipun penjelasannya sulit untuk dipercaya.

"Kami datang ke sini untuk mengunjungi putra kami satu-satunya." Ucap ibu dari Rei sambil mengacak-acak rambut dari Rei.

"Sudahlah, Bu. Hentikan itu." Kata Rei sambil berusaha menepis tangan ibunya yang disambut kekehan geli dari ibunya. Sang ayah yang melihat hal tersebut hanya tersenyum samar. Waktu masih hidup dulu, jarang sekali ia dan istrinya bisa berinteraksi dengan Rei seperti ini.

"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Rei ? Misimu di organisasi hitam itu, sudah selesai kan ?" Tanya Ayah Rei.

"Dari mana ayah tahu ?" Ucap Rei bingung. Setahunya dia tidak pernah memberitahukan misinya kepada orang tuanya.

"Kami bisa melihat semua kegiatan yang kau lakukan." Ujar ayah Rei. Ia hanya diam melihat Rei yang tak menjawab pertanyaan darinya. Seakan mengerti, ia segera meneruskan kata-katanya.

"Tidak apa-apa kalau kau tidak ingin menjawabnya. Mungkin kau masih bimbang atau ragu dengan rencanamu selanjutnya. Meskipun begitu, kau telah membuatku kagum. Sampai sejauh ini kau telah membuktikan bahwa kau mampu menghadapi semua masalah dalam hidupmu. Aku dan ibumu bangga memiliki anak sepertimu, Rei." Lanjutnya sambil menatap ke arah Rei dengan tatapan yang hangat.

"Ayah...Ibu. Aku sayang kalian." Kata Rei sambil memeluk erat kedua orang tuanya. Ia sangat senang mendengar pengakuan yang keluar dari mulut orang tuanya. Selama ini, ia memang jarang mendapat pujian seperti itu dari orang tuanya.

"Kami juga sayang kamu, Rei. Maafkan ibu dan ayah ya, karena selama hidup dulu, kami jarang ada waktu untukmu. Kami sangat menyesal." Kata ibu Rei.

"Sudahlah, Bu. Hal itu tidak perlu diungkit-ungkit lagi. Aku sudah memaafkan kalian sejak dulu, kok." Ucap Rei jujur. Ia memang sudah memaklumi kondisi kedua orang tuanya yang sibuk berkerja. Lagipula hal itu juga untuk kebaikannya sendiri.

"Terima kasih, Rei. Itu sangat berarti buat kami. O ya ngomong-omong, kapan kau akan menikah, Rei ? Ibu sudah tidak sabar melihat cucu ibu. Yah walaupun kami sudah tiada, setidaknya kami bisa melihatnya dari sini." Ujar Ibu Rei panjang lebar.

Rei yang mendengar pertanyaan itu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Entahlah, Bu. Aku juga belum memikirkannya." Kata Rei sambil tertawa hambar.

"Jawaban macam apa itu ? Kau sudah berumur 29 tahun, Rei. Umur yang lebih dari cukup untuk menikah dan kau juga sudah mempunyai perkerjaan tetap. Tunggu apa lagi ?" Protes Ibu Rei.

"Sudahlah. Jangan terlalu memaksa Rei untuk menikah. Biarlah dia yang menentukan sendiri." Sela ayah Rei.

"Ya. Ayah benar Bu. Aku memang belum memikirkannya tapi bukan berarti aku tidak ingin menikah. Aku akan melakukannya jika sudah siap dan sudah menemukan waktu yang tepat." Jelas Rei. Selain itu, ia ingin menguji seseorang terlebih dulu.

"Terserah apa katamu, Rei. Yang penting aku sudah mengingatkanmu." Ucap Ibu Rei pada akhirnya.

Sedikit demi sedikit tubuh kedua orang tua Rei berubah menjadi bintik-bintik kristal bening. Ayah Rei yang menyadari hal ini segera berbicara.

"Sepertinya sudah waktunya kami pergi, Rei. Senang rasanya bisa punya kesempatan berbicara denganmu walaupun cuma sebentar. Selamat tinggal, Rei." Kata ayah Rei.

"Selamat tinggal, Ayah...Ibu." Balas Rei. Bersamaan dengan ucapan Rei, tubuh kedua orang tuanya menghilang dari hadapannya.

Rei yang baru saja di tinggalkan kedua orang tuanya merasa kesepian dan bingung. Jika ini memang alam bawah sadar berarti untuk kembali ke tempatnya Rei harus bangun.

Sekarang bagaimana cara ia membuat dirinya sendiri terbangun ?

Di saat Rei tengah bingung memikirkan solusi untuk masalahnya, sosok siluet lain menghampiri dirinya. Rei tidak menghampiri sosok tersebut melainkan dirinya hanya diam di tempat. Rei hanya tersenyum samar begitu sosok itu sudah berdiri di depannya.

"Lama tak jumpa, Rei." Sapa sosok tersebut.

Rei memandang Akemi yang berdiri di depannya. Wajahnya tidak berubah, masih sama seperti terakhir kali mereka bertemu.

"Ada perlu apa kau ke sini, Akemi ?" Tanya Rei.

"Sama seperti orang tuamu, aku ingin mengunjungimu sekaligus berterima kasih kepadamu." Jawab Akemi.

"Terima kasih untuk apa ?

"Terima kasih karena kau sudah menepati janjimu dulu dan melakukan permohonan terakhirku." Kata Akemi.

"Itu bukan masalah. Lagipula kan janji dibuat untuk ditepati, jadi kau tidak perlu berterimakasih untuk hal itu. Sedangkan soal permohonanmu, aku hanya membantu Shiho menemukan obat penawarnya kok. Tidak lebih dari itu." Ucap Rei merendah.

"Tidak. Kau melakukan lebih dari itu. Kau mau berteman dengan Akai walaupun kalian sempat bermusuhan, kau menghancurkan organisasi hitam yang dulu selalu membelenggu kedua orang tuaku, dan yang paling terpenting dari semuanya, kau telah menemukan wanita yang benar-benar sayang padamu." Ujar Akemi.

"Sepertinya kau benar. Aku memang merasa lega karena telah berhasil melakukan semua itu." Kata Rei.

Akemi tersenyum mendengar perkataan yang keluar dari mulut Rei.

"By the way, bagaimana hubunganmu dengan Hidemi ? Apa sudah ada peningkatan ?" Tanya Akemi pada Rei.

"Hidemi ? Siapa itu Hidemi ?" Ujar Rei.

Sekarang Akemi malah dibuat bingung dengan sikap Rei. Namun, sejurus kemudian sebuah pemahaman muncul di pikiran Akemi dan pada akhirnya ia malah tertawa.

"Kenapa kau tertawa ? Apa ada sesuatu yang lucu ?" Tanya Rei dengan nada sebal.

Akemi masih berusaha meredakan tawanya sebelum bicara lagi.

"Jangan bilang, kalau kau dan Rena belum pernah saling memanggil dengan nama asli kalian." Ucap Akemi masih sambil menahan tawanya.

"Kalau iya memangnya kenapa ? Itu resiko perkerjaan, kau tahu." Kata Rei berusaha membela diri. Ia memalingkan muka ke arah samping guna menyembunyikan rona merah di wajahnya. Malu karena tidak tahu nama asli pacarnya sendiri.

"Oke - oke aku mengerti. Untuk seorang double agent seperti kalian kerahasiaan identitas memang menjadi yang utama. Tapi sepertinya, mulai saat ini kalian bisa lebih bebas, mengingat organisasi hitam sudah tidak ada. Jadi, ini kesempatan bagus untukmu Rei. Waktunya bagimu untuk lebih mengenal siapa Rena Mizunashi yang sebenarnya." Jelas Akemi.

"Aku sudah tahu hal itu, Akemi." Ucap Rei bosan.

"Oh, seperti itu. Kalau begitu aku tidak jadi memberitahumu hal lainnya tentang Hidemi." Ujar Akemi sambil berjalan menjauh.

"Tunggu dulu, Akemi. Aku hanya bercanda tadi. Jadi apa yang kau ketahui tentang Hidemi ?" Tanya Rei dengan nada penasaran yang begitu terlihat. Ia menahan tangan Akemi yang hendak pergi.

"Nama panjangnya, Hidemi Hondo. Dan untuk info selanjutnya bisa kau cari sendiri. Nanti tidak seru kalau aku beritahu semuanya." Ucap Akemi.

"Dasar kau ini. Kau mengerjaiku." Seru Rei tidak terima.

Akemi hanya tertawa melihat tingkah Rei yang sudah berhasil ia kerjai. Rei yang melihat Akemi juga ikut-ikutan tertawa mengingat tingkah konyolnya tadi.

Sementara itu, tempat dimana Rei berada sekarang, perlahan tapi pasti, berubah warna menjadi hitam.

"Apa yang sebenarnya terjadi ?" Tanya Rei yang masih bingung dengan perubahan warna tempat itu.

"Ini sudah saatnya kau bangun Rei. Selamat tinggal dan semoga kau hidup bahagia." Kata Akemi kepada Rei.

Setelah perkataan dari Akemi itu, Rei merasa dirinya seperti terjatuh dari tempat yang tinggi dan kemudian semuanya menjadi gelap.

~oOo~

Rei membuka kedua kelopak matanya yang terasa berat. Hal pertama yang menyambutnya adalah langit-langit berwarna putih dan bau obat-obatan. Sepertinya ia berhasil kembali ke dunianya lagi.

Rei berusaha untuk bangun dan bersandar di ujung ranjang. Ketika ia meluruskan kedua kakinya, ia melihat Hidemi yang sedang tertidur di dekat tangan kanannya. Wajahnya begitu damai ketika tidur.

Rei menggunakan tangan kanannya untuk mengusap wajah Hidemi perlahan. Gerakan tersebut membuat Hidemi sedikit terusik dan ia pun akhirnya bangun dari tidurnya.

"Rei ? Kau sudah siuman ?" Tanya Hidemi masih dalam keadaan setengah mengantuk.

"Iya." Jawab Rei singkat. Hal yang tidak diduga terjadi berikutnya. Hidemi bangkit dari duduknya dan kemudian memeluk Rei dengan sangat erat.

"Syukurlah, kau sudah sadar. Kau benar-benar membuatku khawatir." Kata Hidemi masih sambil memeluk Rei.

Sementara, Rei sendiri masih berusaha melepaskan diri dari pelukan maut tersebut. Mungkin jika ia sehat, ia tidak akan menolaknya namun untuk saat ini keadaannya lain. Dengan susah payah, Rei mencoba untuk berbicara.

"Le...pas. Se...sak." Ucap Rei patah-patah.

Hidemi yang mendengarnya segera melepaskan pelukan. Ia tampak gelagapan setelah melakukan tindakan tadi.

"Ah, maaf. Aku terbawa suasana jadinya terlalu bersemangat." Ujar Hidemi.

Rei membalasnya dengan isyarat tangan yang seolah mengatakan bahwa ia baik-baik saja.

"Kau mau minum ? Aku ambilkan kalau kau ingin minum." Rei mengangguk sebagai jawaban ya.

Hidemi segera mengambil segelas air putih yang tersedia di meja samping ranjang. Ia mendekat ke arah Rei dan membantunya minum karena tangan Rei masih sulit untuk digerakkan. Di saat itulah, Rei melihat beberapa bekas air mata yang ada di wajah Hidemi.

"Apa sudah baikan ?" Tanya Hidemi begitu ia menaruh gelas ke tempatnya semula.

"Ya. Terima kasih." Jawab Rei. Ia berpikir sesaat sebelum bertanya.

"Kau tadi...menangis ?" Tanya Rei.

Hidemi sempat tersentak mendengar pertanyaan dari Rei. Ia baru menyadari kalau ia belum membersihkan mukanya tadi.

"Jujur, aku tadi memang menangis. Habisnya, kau sudah tidak sadarkan diri sejak 2 minggu lalu. Bahkan dokter pun tidak tahu penyebab kau bisa seperti itu. Aku mengkhawatirkanmu, Rei." Jawab Hidemi. Rei cukup senang mendengar jawaban dari Hidemi, namun ia ingin mendengar lebih. Ia ingin membuktikan kalau teorinya selama ini benar.

"Kenapa kau mengkhawatirkanku ?" Kata Rei.

"Karena aku mencintaimu. Aku tidak ingin kehilangan lagi orang yang aku cintai." Sahut Hidemi.

Sudah sejak lama ia ingin mengatakan ini pada Rei, namun selalu gagal. Entah itu karena faktor keadaan ataupun dirinya sendiri yang terlalu malu. Yah, setidaknya Hidemi sudah merasa lega sekarang.

"Sudah lama sekali, aku ingin mendengar kata itu terucap darimu dan sekarang harapanku terkabul. Terima kasih, Hidemi." Ucap Rei sambil tersenyum.

Hari ini adalah langkah baru untuk hubungan mereka berdua.

To be Continue

Author Note :

Sepertinya terlalu banyak kata maaf untuk chapter kali ini, terutama untuk para pembaca sekalian karena updatenya yang lama (1 bulan lebih).

Yah, itu karena memang akhir-akhir ini saya lagi kena writer block dan rasanya malas banget buat ngetik -jujur- Baru kali ini saya ada kemauan buat ngetik lagi.

Bagaimana untuk chapter kali ini. Aneh atau kurang ngefeel kah ?

Ok, apapun itu, terima kasih buat yang sudah memberikan semangat melalui review.

See you in the next chapter