.

.

.

Disclaimer : Detective Conan © Aoyama Gosho

Warning : OOC, kata berbelit-belit, bahasa campur aduk, alur gak jelas, dan segala kekurangan lainnya


Hidemi menata berkas-berkas laporan miliknya ke dalam sebuah map. Hari ini ia akan mengadakan pertemuan dengan pimpinannya dan menyerahkan laporan tersebut. Hidemi berhasil menyelesaikannya kemarin, tepat lewat 3 hari sejak ia mengunjungi Rei di rumah sakit. Setelah memastikan tidak ada barang yang ketinggalan, ia segera berangkat dan tak lupa mengunci pintunya kembali.

~oOo~

Hidemi pergi ke tempat pertemuan dengan menggunakan taksi. Ia sampai di tujuan sekitar 30 menit kemudian. Tempat pertemuan tersebut adalah sebuah apartemen sederhana yang hanya mempunyai 3 tingkat. Hidemi mengetuk pintu begitu ia sampai di depan tempat pertemuan.

Selang beberapa detik, seorang pria paruh baya membukakan pintu dan menyambut kedatangan Hidemi.

"Oh, Hidemi rupanya. Silahkan masuk." Ucap orang itu. Ia adalah pimpinan dari Hidemi dalam misinya di BO yang bernama Matthew.

Hidemi masuk ke ruang tamu dan dipersilakan duduk oleh Matthew.

"Ini dia laporannya, Matt-san. Maaf kalau lama, saya mengalami kendala saat menyusunnya." Kata Hidemi.

"Tidak perlu minta maaf. Aku tahu kalau kau mengalami masa-masa sulit belakangan ini jadi hal itu tidak jadi masalah." Ucap Matthew.

Ia lalu membaca laporan dengan teliti sementara Hidemi terlihat tertarik dengan album foto yang tergeletak di meja yang ada di depannya.

"Buka saja, jika kau ingin melihatnya. Album itu berisi foto-fotoku bersama ayahmu ketika kami muda." Ujar Matthew begitu ia menyadari tatapan Hidemi terhadap album tersebut.

Hidemi membuka satu per satu halaman pada album itu. Benar seperti kata Matthew tadi, banyak sekali foto-foto ayahnya yang ada di dalamnya. Ekspresi Hidemi tampak serius dalam memperhatikan foto-foto itu dan kadang ia terlihat melamun karena teringat dengan kenangan bersama ayahnya.

Tak terasa sudah 1 jam, Hidemi melakukan kegiatan tersebut hingga akhirnya Matthew memanggilnya karena dia sudah selesai membaca laporan.

"Hidemi..." Suara panggilan itu membuat Hidemi menoleh dan menemukan Matthew yang sedang menatapnya.

"Ya. Ada apa Matt-san ?" Tanya Hidemi.

"Kelihatannya kau sangat menikmatinya." Ucap Matthew.

"Begitulah. Sudah lama aku tidak melihat foto-foto ayah seperti ini." Jawab Hidemi seadanya. Ia lalu meminum secangkir teh yang entah sejak kapan sudah tersaji di depannya. Mungkin Matthew membuatnya ketika Hidemi sedang sibuk melihat album foto tadi.

Matthew memperhatikan wanita di depannya ini dengan saksama. Setelah melihat isi dari laporan Hidemi tadi dan reaksi darinya ketika melihat foto dari ayahnya, Matthew dapat menyimpulkan satu hal. Banyak hal yang telah dikorbankan Hidemi untuk pelaksanaan misinya di Black Organization. Mulai dari waktunya, identitas diri hingga anggota keluarga yang disayanginya.

Matthew tahu jika hal tersebut adalah risiko dari sebuah misi penyusupan karena dulu ia juga pernah mengalaminya. Sewaktu masih menjadi agen muda, ia juga banyak menerima misi sejenis. Namun, tetap saja Matthew tidak bisa membandingkannya dengan misi yang telah diselesaikan oleh Hidemi. Atas pertimbangan itulah, petinggi CIA memberikan perintah kepadanya untuk menawarkan kontrak kerja baru untuk Hidemi.

"Baiklah, sepertinya ini saat yang tepat untuk membicarakan hal itu." Ucap Matthew yang membuat Hidemi mengalihkan perhatiannya dari teh yang sedang diminumnya.

"Apa ini menyangkut kontrak kerja ?" Tanya Hidemi to the point. Ia mulai bisa menebak alur pembicaraan ini. Hidemi memang sudah tahu jika kontrak kerjanya akan berakhir ketika misi yang dilakukannya telah selesai.

"Ya. Langsung saja. Kau mempunyai tiga pilihan untuk hal itu, Hidemi. Pertama, kau bisa menerima tawaran kontrak baru yang ditawarkan dari atasan. Posisinya sebagai pembimbing / instruktur agen-agen baru." Jelas Matthew. Hidemi mengangguk tanda ia mengerti.

"Pilihan kedua, kau bisa memperbarui kontrak lama milikmu. Tentu saja, posisinya masih tetap sebagai agen lapangan biasa." Lanjut Matthew.

"Untuk pilihan terakhir, kau sudah tahu kan ?" Tanya Matthew.

"Berhenti sebagai agen CIA." Jawab Hidemi. Pilihan terakhir ini akan berlaku jika seorang agen yang kontrak kerjanya sudah habis tidak memperbarui kontraknya lagi.

Hidemi mengurut pelipisnya perlahan. Pilihan-pilihan itu benar-benar membuatnya bimbang.

"Kau tidak harus menjawabnya sekarang, kok. Aku beri waktu hingga acara pesta perayaan untuk membuat keputusan." Kata Matthew seolah paham dengan kebimbangan yang dialami Hidemi.

"Pesta perayaan ?"

"Tunggu sebentar ya," Matthew bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menuju almari kecil yang ada di pinggir ruangan. Ia membuka salah satu laci dan mencoba mencari sebuah benda. Setelah benda tersebut ditemukan, Matthew segera memberikannya kepada Hidemi.

"Ini undangan pestanya. Pesta tersebut digelar untuk merayakan kemenangan atas Black Organization. Semua orang yang terlibat langsung dalam penyerangan ke markas besar BO diundang, termasuk kau." Jelas Matthew.

Hidemi menerima undangan itu dan mulai membacanya. Acaranya akan diadakan 8 hari dari sekarang dan bertempat di ballroom Hotel Haido City.

~oOo~

Hidemi pamit pulang ketika waktu sudah menunjukkan pukul 18.00. Sebenarnya ia mendapat tawaran makan malam di rumah Matthew tadi namun tawaran tersebut ditolak oleh Hidemi. Sepanjang perjalanan, ia terus memikirkan masalah kontrak kerjanya hingga tak terasa ia sudah sampai di depan apartemennya.

Hidemi membuka pintu apartemennya dan mendapati pintu tersebut tidak terkunci.

'Bukannya tadi aku sudah mengunci pintunya ?' Batin Hidemi heran.

Dengan hati-hati, Hidemi melangkah memasuki apartemennya. Ia mendapati sepasang sepatu tergeletak rapi di lantai, menunjukkan fakta bahwa ada orang lain yang masuk ke apartemennya. Dengan segera, Hidemi mengambil sapu ijuk yang terletak di dekat pintu dan berencana menggunakan gagangnya sebagai pemukul. Ia berjalan perlahan hingga telinganya mendengar bunyi kran dari arah dapur.

Hidemi bersandar di samping pintu dapur sambil menunggu orang tersebut keluar. Sesuai dugaannya, beberapa saat kemudian, seseorang keluar dari pintu dapur dan tanpa basa-basi Hidemi langsung memukulinya.

"Rasakan ini. Berani-beraninya masuk rumah orang lain tanpa izin." Ucap Hidemi geram.

"Hentikan Hidemi. Ini aku Rei." Kata-kata tersebut berhasil membuat Hidemi berhenti. Ia pun mencoba melihat wajah orang itu dan ternyata memang benar. Orang itu adalah Rei.

"Bagaimana kau bisa masuk ke sini, Rei ? Bukankah kau seharusnya masih di rumah sakit ?" Tanya Hidemi.

"Aku sudah diperbolehkan pulang kemarin. Soal bagaimana caranya masuk, aku pinjam kunci cadangan dari penjaga apartemen dan berencana membuat kejutan untukmu. Tapi ternyata malah aku yang mendapat kejutan berupa pukulan dari gagang sapu ijuk." Ucap Rei panjang lebar disertai penekanan pada kata pukulan.

"Habisnya kau juga sih, datang ke sini nggak bilang-bilang." Ujar Hidemi dengan entengnya.

"Aku sudah memberitahumu lewat email dan SMS tadi." Sahut Rei malas.

"Oh benarkah ?" Hidemi mengeluarkan hpnya yang sedari tadi berada dalam tas dan ternyata...

"Maafkan aku ya. Sejak siang, aku mematikan hpku dan lupa menghidupkannya kembali." Kata Hidemi yang berhasil membuat Rei sweatdrop.

'Aduh, terbaik lah.' Batin Rei.

"Ngomong-omong, apa yang kau lakukan di dapur tadi ?" Tanya Hidemi.

"Aku baru saja selesai memasak kari karena ku lihat tidak ada makanan di dapurmu." Jawab Rei yang langsung dibalas anggukan oleh Hidemi.

"Baiklah, kau bisa makan duluan atau menunggu di ruang tamu sebelah sana. Aku mau mandi dulu." Jelas Hidemi.

"Aku menunggu di ruang tamu saja." Balas Rei. Ia segera berjalan menuju ruang yang ditunjukkan oleh Hidemi.

~oOo~

Pukul 19:00

Rei duduk di sofa sambil membaca majalah dengan malas. Sudah 15 menit, ia menunggu Hidemi mandi. Namun, hingga kini wanita itu belum juga selesai. Setelah bosan dengan kegiatan membacanya, Rei menaruh majalah tadi ke tempatnya semula. Ia memutuskan untuk menjelajah dan melihat-lihat ruang tamu ini. Toh Hidemi tadi juga tidak melarangnya.

Perhatian Rei tertuju pada figura foto yang ada di dekat televisi. Jumlah figuranya ada 3 buah dan Rei mengenal 2 diantaranya. Foto Hidemi yang sedang duduk dan foto kencan pertama Rei bersama Hidemi di Miracle Land. Rei tersenyum ketika melihat foto yang kedua. Sedangkan foto yang tidak Rei kenal menampilkan sosok gadis remaja yang tengah tersenyum bersama anak laki-laki berumur 7 tahunan.

'Tunggu dulu. Kalau diperhatikan lagi, gadis di foto ini mirip Hidemi.' Pikir Rei begitu melihat foto tersebut dengan lebih teliti. Pola mata dan warna kulitnya sama dengan milik Hidemi meskipun wajahnya terlihat berbeda. Jika dugaan Rei benar, maka foto ini adalah foto Hidemi ketika ia masih SMA dan anak laki-laki di sampingnya kemungkinan besar adalah adiknya.

'Nanti saja, akan aku tanyakan hal ini padanya.' Batin Rei. Ia menata kembali figura foto tersebut seperti semula.

Rei kemudian melihat-lihat isi dari lemari pajangan yang ada di samping figura foto tadi. Di dalamnya terdapat benda-benda koleksi milik Hidemi. Mulai dari piagam penghargaan, cangkir-cangkir antik hingga boneka beruang yang pernah di dapatkannya bersama Rei. Semua terlihat biasa saja sampai akhirnya Rei tak sengaja menemukan sebuah kotak kecil. Kotak tersebut terlihat aneh karena kondisinya yang kotor dan tak terawat. Padahal benda-benda di sekitar kotak tersebut terlihat bersih. Selain itu, keberadaan kotak itu terkesan disembunyikan karena terletak di belakang dari cangkir-cangkir.

Rei yang penasaran, mengambil kotak itu dan menimangnya sebentar. Kemudian, ia membuka tutup kotak itu dan ternyata isinya adalah sebuah yoyo. Ia heran, kenapa ada yoyo di apartemen Hidemi ? Bukankah di sini tidak ada anak kecil ?

Ini menjadi keanehan kedua bagi Rei, setelah foto tadi tentunya. Namun Rei tidak terlalu ambil pusing untuk keanehan kali ini. Ia pergi ke bagian ruangan yang cukup lengang dan tidak terdapat banyak barang. Lalu ia pun mencoba memainkan yoyo tadi untuk mengisi waktu menunggunya.

"Sudah lama aku tidak main benda seperti ini. Apa masih bisa ya ?" Tanya Rei pada dirinya sendiri.

Ia mulai bermain yoyo dari teknik dasar yaitu sleeper (membuat yoyo berputar pada ujung tali). Percobaan pertama, Rei hanya mampu membuat yoyo berputar selama 5 detik. Ia lalu mencoba lagi dan lagi hingga akhirnya ia bisa melakukan sleeper selama 20 detik lebih. Setelah mahir melakukan sleeper, Rei mencoba melakukan teknik lain seperti : walk the dog, forward pass, elevator, dan rock the baby.

Semua trik tersebut berhasil dilakukan oleh Rei dengan baik. Namun satu hal yang tidak diperhatikan oleh Rei adalah kondisi tali dari yoyo yang ia mainkan sejak tadi. Tali itu sudah kendur dan semakin kendur ketika digunakan terus menerus. Ketika Rei mencoba teknik breakaway, tali yoyo itu putus dan menyebabkan yoyo terlempar hingga keluar ruang tamu.

"Oh, sial." Rei segera pergi ke lorong antara dapur dan ruang tamu. Apartemen Hidemi ini memiliki 4 ruang utama yaitu dapur sekaligus ruang makan, ruang tamu, kamar tidur, dan kamar mandi. Kamar mandi dan kamar tidur terletak di ujung lorong. Sedangkan dapur dan ruang tamu terletak di sebelah kanan dan kiri dari lorong.

Untungnya Rei tadi sempat melihat ke arah mana yoyo terlempar sehingga memudahkannya untuk mencari. Rei menemukan yoyo tersebut di rak sepatu bagian bawah. Posisi rak yang rendah membuatnya harus berjongkok untuk mengambilnya.

"Kau sedang mencari apa, Rei ?" Tanya sebuah suara yang Rei yakini itu Hidemi.

"Tidak. Aku tidak sedang..." Perkataan Rei terputus begitu ia menoleh.

Mata Rei terpaku pada sepasang kaki indah yang berada di hadapannya. Menyebabkan Rei meneguk ludahnya kasar. Rei lalu mengalihkan pandangan ke atas dan malah membuatnya melihat tubuh Hidemi yang hanya ditutupi selembar handuk dari dada sampai paha. Hormon prianya pun langsung bereaksi, menyebabkan jantungnya berdetak tidak karuan, nafas terasa berat, dan wajah menjadi merah.

Hidemi yang menyadari tatapan dan gelagat aneh dari Rei pun segera bereaksi.

"Dasar mesum !" Seru Hidemi sambil berlalu menuju kamarnya dengan pipi bersemu merah karena malu.

Ucapan Hidemi langsung membuyarkan fantasi-fantasi liar yang sempat tercipta di benak Rei. Wajahnya berubah menjadi kesal. Namun belum sempat ia melontarkan pembelaan diri, Hidemi sudah menghilang ke kamarnya sehingga Rei hanya bisa menghela nafas.

~oOo~

Pukul 19.10

Hidemi dan Rei makan malam bersama dalam diam. Tidak ada yang berbicara satu sama lain. Hingga akhirnya, Rei yang tidak tahan dengan keadaan canggung ini mulai berbicara.

"Hidemi, aku..." Perkataan Rei dipotong oleh Hidemi.

"Stop. Jangan bahas hal itu lagi." Ucap Hidemi dengan nada memerintah. Ia tidak ingin mengingat lagi kejadian di depan pintu kamar mandi tadi.

"Baiklah..."

Setelah berkata seperti itu, baik Rei maupun Hidemi tidak ada yang berbicara lagi. Mereka berdua pun melanjutkan acara makan malam hingga selesai.

"Masakanmu enak. Terima kasih sudah membuatkannya untukku." Puji Hidemi ketika ia sedang membereskan piring dan gelas kotor miliknya.

"Tidak masalah."

Hidemi terdiam sebentar sebelum bicara. Mungkin ini saat yang tepat untuk membicarakan masalah kontrak kerjanya. Ia pun mengumpulkan kata-kata yang tepat untuk diucapkan.

"Rei.." Panggil Hidemi.

"Ya, ada apa Hidemi ?"

"Hari ini aku baru saja mendapat tawaran kontrak kerja baru dari pimpinan."Jelas Hidemi.

"Bukankah bagus kalau begitu ? Lalu apa masalahnya ?" Tanya Rei heran.

Hidemi menghela nafas perlahan. Ia kemudian menceritakan semuanya pada Rei. Tentang tiga pilihan yang didapatkannya dan konsekuensi yang akan diambil jika memilih pilihan tersebut. Setelah Hidemi selesai menceritakan hal itu, ekspresi Rei langsung berubah. Meskipun begitu, ia tetap bersikap santai.

"Ikutilah kata hatimu dan pilih pilihan yang paling kau inginkan." Kata Rei.

Hidemi yang mendengar itu langsung menatap Rei. Mencoba mencari tanda-tanda keraguan dalam wajahnya yang mana hal itu tidak ditemukannya di wajah Rei. Ia benar-benar serius dengan ucapannya.

"Aku tidak punya hak untuk melarangmu memilih salah satu pilihan. Walaupun aku berstatus sebagai pacarmu, aku tetap tidak bisa melakukannya." Lanjut Rei.

"Rei..." Hidemi merasa bersyukur memiliki pacar yang pengertian seperti Rei. Walaupun sikapnya kadang menyebalkan, kekanak-kanakan, dan agak mesum namun ia tetap bisa membuat hati Hidemi merasa nyaman. Membuat ia merasa membutuhkannya. Tanpa sadar, Hidemi tersenyum karena membayangkan hal itu.

Sementara itu, Rei yang melihat Hidemi tersenyum hanya bisa tertawa miris dalam hatinya. Mungkin ia dapat menjadi nominasi aktor terbaik untuk perkataannya tadi.

'Kenapa kau berkata seperti itu ? Kenapa kau tidak mengatakan perasaanmu sebenarnya ? Jika sebenarnya kau tidak rela dia menerima kontrak itu dan pergi ke Amerika, sama seperti yang dilalukan Akemi dulu.' Salah satu sisi dalam hatinya mempertanyakan hal itu dan Rei hanya memiliki satu jawaban yang pasti. Karena ia bukan orang egois yang hanya mementingkan perasaannya sendiri. Rei tidak ingin Hidemi tetap tinggal di Jepang namun hatinya tidak bahagia berada di sini.

~oOo~

Pukul 19:45

Setelah selesai membereskan sisa-sisa makan malam tadi, Rei dan Hidemi pergi ke ruang tamu untuk menonton CD film yang sempat dibawa oleh Rei sebelum pergi ke sini. Di saat itulah, Rei teringat akan hal yang ingin ditanyakannya sejak tadi.

"Hidemi, boleh aku bertanya sesuatu ?" Ucap Rei ketika film sudah mau diputar.

"Tanya apa ?"

"Apa kau mempunyai adik laki-laki ?" Tanya Rei.

"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu ?" Hidemi malah balik bertanya.

"Hanya ingin tahu saja. Soalnya aku tadi sempat melihat keadaan ruang tamu ini dan menemukan foto gadis yang sedang bersama anak kecil. Entah kenapa aku merasa gadis itu mirip denganmu, jadinya aku pikir itu adalah fotomu dengan adikmu dulu." Jelas Rei.

"Tebakanmu akurat seperti biasa, Rei. Itu memang fotoku dulu dan anak laki-laki di foto tersebut adalah Eisuke Hondo, adikku sendiri." kata Hidemi.

Ia pun mulai menceritakan masa lalunya secara lengkap kepada Rei.

To be Continue


~Istilah~

walk the dog = Pengembangan dari teknik sleeper. Trik ini akan membuat yoyo menggelinding di lantai dan membuat pemain yoyo merasa seperti sedang menuntun anjing.

forward pass Teknik dasar melempar yoyo. Trik ini membuat yoyo seolah-olah terlempar ke depan.

elevator Pengembangan dari teknik sleeper. Membuat yoyo seolah-olah sedang melakukan gerakan menanjak, seperti ketika naik lift.

rock the baby Hasil akhir dari teknik ini adalah bentuk segitiga dengan yoyo berputar dan berada dalam segitiga tersebut.

Breakaway = Sama seperti forward pass, hanya saja kali ini yoyo akan terlempar ke arah samping.


~Author Note~

*nataplayar* Ini aku nulis apaan ?! Malah ada scene yang begituan...

Ceritanya jadi tambah panjang ketika aku tulis. Jadinya ya begini, maaf untuk endingnya kayaknya masih 3 chapter lagi dan author sedang sibuk belajar buat ujian dalam waktu dekat jadi harap bersabar ya...

Terima kasih untuk yang udah review dan menjadi pembaca setia fic ini, aku ucapkan banyak terima kasih :)